Kaedah Penting Asma'ul Husna (2)

بسم الله الرحمن الرحيم
Kaedah Penting Asma'ul Husna
 (bag. 2)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:
Berikut ini pembahasan lanjutan tentang Asma'ul Husna, semoga Allah menjadikannya ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamiin.
**********
3- أَسْمَاءُ اللهِ تَعَالَى إِنْ دَلَّتْ عَلَى وَصْفٍ مُتَعَدٍّ, تَضَمَّنَتْ ثَلاَثَةَ أُمُوْرٍ :
أَحَدَهَا : - ثُبُوْتُ ذَلِكَ الْإِسْمِ ِللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
الثَّانِي : ثُبُوْتُ الصِّفَةِ الَّتِي تَضَمَّنَهَا ِللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
الثَّالِثَ : ثُبُوْتُ حُكْمِهَا وَمُقْتَضَاهَا.
"Nama-nama Allah Ta'ala jika menunjukkan sifat yang muta'addiy (ada objek yang terkena), maka ada tiga yang dicakupnya:
Pertama, tetapnya nama tersebut bagi Allah Azza wa Jalla.
Kedua, tetapnya sifat yang dikandung dari nama itu bagi Allah Azza wa Jalla
Ketiga, tetapnya hukum dan konsekwensinya.
Berdasarkan kaedah ini, maka ahli ilmu berdalih dengan ayat:
žwÎ) šúïÏ%©!$# (#qç/$s? `ÏB È@ö6s% br& (#râÏø)s? öNÍköŽn=tã ( (#þqßJn=÷æ$$sù žcr& ©!$# Öqàÿxî ÒOÏm§ ÇÌÍÈ  
"Kecuali orang-orang yang bertobat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Terj. QS. Al Maa'idah: 34)
untuk menunjukkan gugurnya had terhadap quththaa'uth thariiq (para pengacau keamanan dan pembajak) ketika mereka bertobat. Hal itu, karena nama-Nya Al Ghafuur dan Ar Rahiim konsekwensinya menghendaki bahwa Allah Ta'ala telah mengampuni dosa mereka dan menyayangi mereka dengan menggugurkan had terhadap mereka. Ini hanyalah contoh untuk cakupan yang ketiga.
Contoh lainnya adalah nama-Nya As Samii' (Allah Maha Mendengar). Nama ini berdasarkan kaedah di atas mencakup:
1.    Menetapkan nama tersebut untuk Allah Azza wa Jalla.
2.    Menetapkan sifat mendengar bagi Allah Azza wa Jalla.
3.    Menetapkan hukum dan konsekwensinya, yaitu bahwa Dia mendengar semua suara, baik yang rahasia maupun yang terang-terangan dsb.
**********
4-أَسْمَاءُ اللهِ تَعَالَى إِنْ دَلَّتْ عَلَى وَصْفٍ غَيْرِ مُتَعَدٍّ تَضَمَّنَتْ أَمْرَيْنِ :
أَحَدَهُمَا : ثُبُوْتُ ذَلِكَ الْإِسْمِ ِللهِ عَزَّ وَجَلَّ
الثَّانِي : ثُبُوْتُ الصِّفَةِ الَّتِي تَضَمَّنَتْهَا ِللهِ عَزَّ وَجَلَّ
"Nama-nama Allah Ta'ala jika menunjukkan sifat yang tidak muta'addiy (tidak ada objek), maka mengandung dua hal:
Pertama, menetapkan nama tersebut bagi Allah Azza wa Jalla.
Kedua, menetapkan sifat yang dikandung dari nama itu untuk Allah Azzza wa Jalla.
Contoh kaedah ini adalah nama-Nya Al Hayyyu (Allah Maha Hidup), nama ini mengandung dua hal; ,menetapkan nama tersebut bagi Allah Azza wa jalla dan menetapkan sifat hidup bagi Allah Ta'ala.
5-دِلاَلَةُ أَسْمَاءِ اللهِ تَعَالَى عَلَى ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ تَكُوْنُ بِالْمُطَابَقَةِ وَبِالتَّضَمُّنِ وَبِالْإِلْتِزَامِ
"Dilalah (kandungan) nama-nama Allah Ta'ala terhadap dzat dan sifat-Nya ada yang berupa muthaabaqah, tadhammun dan iltizaam."
Contoh: nama-Nya Al Khaaliq (Allah Maha Pencipta), menunjukkan kepada dzat Allah, demikian juga menunjukkan sifat mencipta, ini disebut muthaabaqah (artinya: menunjukkan secara bersamaan), yakni nama tersebut menunjukkan kedua-duanya secara bersamaan.
Nama-Nya Al Khaaliq juga menunjukkan kepada masing-masingnya; dzat dan sifat mencipta, yakni nama Al Khaaliq ini sudah mengandung dzat dan mengandung sifat, inilah yang disebut tadhammun (artinya: terkandung dan sudah termasuk di dalamnya).
Demikian juga bahwa nama-Nya Al Khaaliq menunjukkan adanya sifat ilmu (mengetahui) dan sifat qudrah (memiliki kemampuan), inilah yang disebjut iltizam (artinya: menghendaki demikian). Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ yìö6y ;Nºuq»oÿxœ z`ÏBur ÇÚöF{$# £`ßgn=÷WÏB ãA¨t\tGtƒ âöDF{$# £`åks]÷t/ (#þqçHs>÷ètFÏ9 ¨br& ©!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏs% ¨br&ur ©!$# ôs% xÞ%tnr& Èe@ä3Î/ >äóÓx« $RHø>Ïã ÇÊËÈ  
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah Berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." (Ath Thalaaq: 12)
Dilalah iltizam (kandungan yang menghendaki memasukkan bagian lain ke dalamnya), jika dipelajari sangat bermanfaat bagi penuntut ilmu, yakni apabila ia mencoba memahami suatu makna dan diberi taufiq oleh Allah Ta'ala berupa pemahaman adanya iltizam (yang lain ikut terikat), maka dengan memahami iltizam dia dapat mengeluarkan banyak faedah dari satu dalil.
Faedah:
Ketahuilah, bahwa laazim (sesuatu yang ikut dan menjadi bagian) dari firman Allah Ta'ala dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila betul lazim adalah memang hak (benar). Hal itu, karena firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hak, menempel dengan yang hak memang betul suatu hak (kebenaran). Yang demikian karena Allah Ta'ala mengetahui hal yang lazim dari firman-Nya dan sabda Rasul-Nya sehingga memang itulah maksudnya.
**********
6-أَسْمَاءُ اللهِ تَعَالَى تَوْقِيْفِيَّةٌ لاَ مَجَالَ لِلْعَقْلِ فِيْهَا
Nama-nama Allah Ta'ala adalah Tauqifiyyah (diam menunggu dalil), tidak ada ruang bagi akal di sana.
Oleh karena itu, kita wajib membatasi diri dalam masalah nama-nama dan sifat menurut apa yang disebutkan dalam Al Qur'an dan As Sunnah saja. Tidak boleh menambah maupun mengurangi. Karena akal tidak mungkin dapat menjangkau nama-nama-Nya. Dalil kaedah di atas adalah firman Allah Ta'ala:
Ÿwur ß#ø)s? $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 ¨bÎ) yìôJ¡¡9$# uŽ|Çt7ø9$#ur yŠ#xsàÿø9$#ur @ä. y7Í´¯»s9'ré& tb%x. çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB ÇÌÏÈ  
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Terj. QS. Al Israa': 36)
7- أَسْمَاءُ اللهِ تَعَالَى غَيْرُ مَحْصُوْرَةٌ بِعَدَدٍ مُعَيَّنٍ
"Nama-nama Allah Ta'ala tidak dibatasi dalam jumlah tertentu."
Dalil kaedah ini adalah doa ketika sedih yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي
“Ya Allah, sesungguhnya aku hamba-Mu, anak hamba-Mu yang laki-laki, anak hamba-Mu yang perempuan, ubun-ubunku berada di Tangan-Mu, berlaku kepadaku hukum-Mu, adil sekali keputusan-Mu. Aku meminta kepada-Mu dengan seluruh nama-Mu yang Engkau namai Diri-Mu dengan nama-nama itu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu, atau yang telah Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau hanya Engkau sendiri saja yang mengetahuinya dalam ilmu gaib yang ada pada sisi-Mu. Jadikanlah Al Qur’an penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang sedihku dan keresahanku.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahiihah no. 199)
Adapun hadits:
« إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ » .
"Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama; seratus dikurang satu. Barangsiapa yang mengihsha'nya[1], maka ia akan masuk surga." (HR. Bukhari dan Muslim)
Tidaklah menunjukkan bahwa nama-nama Allah hanya terbatas sampai 99. Karena jika sampai 99, tentu kata-katanya:
إِنَّ  أَسْمَاءَ اللهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُوْنَ اسْماً
"Sesungguhnya nama-nama Allah Ta'ala ada 99 nama,..dst."
Atau yang sama seperti itu. Oleh karena itu, lafaz hadits di atas itu sama seperti pada kata-kata, "Saya memiliki seratus dirham yang saya siapkan untuk sedekah." Hal ini tidaklah menutup kemungkinan, bahwa ia memiliki beberapa dirham lagi yang disiapkan untuk selain sedekah.
Demikian juga tidak shahih riwayat yang di sana disebutkan nama-nama Allah Ta'ala, bahkan nama-nama tersebut merupakan idraaj (selipan) dari perawi.
Bersambung…
Marwan bin Musa
Maraji': Al Qawaa'idul Mutsla fi Asmaa'illahi wa shifaatihil 'Ula karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin.


[1] Yakni mengetahui lafaz dan makna serta beribadah kepada Allah sesuai konsekwensinya. Ada pula yang mengartikan dengan menghapalnya.

0 komentar:

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger