Pemimpin Wanita Dunia dan Akhirat (1)

Sabtu, 11 Januari 2014
بسم الله الرحمن الرحيم

Ringkasan Kisah
Pemimpin Wanita Dunia dan Akhirat (1)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini kisah singkat 4 pemimpin wanita dunia dan akhirat, semoga Allah menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.
Siapakah 4 pemimpin wanita dunia?
Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
" حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ ابْنَةُ مُحَمَّدٍ، وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ "
“Cukup bagimu (mengenali keutamaan) di antara wanita dunia, yaitu Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, dan Asiyah istri Fir’aun.” (Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3143)
Imam Ahmad dan Thabrani dalam Al Kabir meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ نِسَاءِ الْعَالَمِيْنَ أَرْبَعٌ  :  مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَ خَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ وَ فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَ آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ
 “Sebaik-baik wanita dunia ada empat; Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, dan Asiyah istri Fir’aun.” (Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3328)
Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ: إِلَّا آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ
“Laki-laki yang sempurna banyak, dan dari kalangan wanita tidak ada yang sempurna kecuali Asiyah istri Fir’aun dan Maryam binti Imran, dan sesungguhnya keutamaan Aisyah di antara wanita lainnya adalah seperti keutamaan Tsarid di atas makanan lainnya.”
Siapakah yang paling utama di antara keempat wanita ini?
Sebagian ulama berpendapat, bahwa Maryam dan Fatimah lebih utama daripada Khadijah dan Asiyah. Namun antara Maryam dengan Fathimah ada perbedaan pendapat, sebagian ulama ada yang mengedepankan Fathimah, dan ada pula yang mengedepankan Maryam. Menurut Al Qurthubi, zhahir Al Qur’an dan hadits-hadits menunjukkan bahwa Maryam lebih utama dari semua wanita dunia dari sejak Hawa’ sampai wanita terakhir.
Ibnu Abdil Bar meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang ia marfu’kan, bahwa pemimpin wanita dunia adalah Maryam, kemudian Fatimah, selanjutnya Khadijah, kemudian Asiyah. (Ibnu Abdil Bar berkata, “Hadits ini hasan, dan ia menghilangkan adanya kemusykilan (siapa yang lebih utama).”)
Hakim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ
“Pemimpin wanita penghuni surga ada empat; Maryam binti Imran, Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.” (Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3678)
Kedua hadits di atas menjelaskan urutan wanita pemimpin dunia dan akhirat yang paling utama. Dan wanita paling utama setelah keempat wanita itu adalah Aisyah binti Abi Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anha.
Maryam binti Imran
Maryam adalah wanita shiddiqah (wanita yang sangat jujur), mulia, suci, dan menjaga diri. Allah Azza wa Jalla memilihnya di antara sekian wanita untuk menjadi ibu bagi Nabi-Nya Isa ‘alaihis salam. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَإِذْ قَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاء الْعَالَمِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, "Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu, dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (QS. Ali Imran: 42)
Ibu Maryam bernama Hanah, sedangkan ayahnya bernama Imran. Istri Imran sebelumnya tidak melahirkan, pada saat ia melihat seekor burung yang memberikan makan kepada anaknya, maka tergeraklah rasa keibuan padanya, lalu ia meminta kepada Allah Azza wa Jalla agar dikaruniakan anak yang saleh. Hanah juga bernadzar, bahwa kalau nanti anaknya lahir, maka ia akan menjadikan anaknya sebagai pelayan Baitulmaqdis, di mana sebelumnya ia mengira bahwa anaknya adalah laki-laki. Di samping itu, biasanya hanya laki-laki yang cocok berkhidmat di Baitulmaqdis dan karena ia tidak ada halangan. Akan tetapi Allah berkehendak lain, Dia menghendaki untuk menjadikan anak Hanah perempuan agar menjadi pemimpin wanita dunia serta sebagai ibu bagi salah seorang nabi ulul azmi. Setelah Hanah melahirkan dan ternyata perempuan, maka Hanah menamainya Maryam, kemudian Maryam diasuh oleh Nabi Zakariya ‘alaihissalam. Dan Nabi zakariya adalah suami dari saudari maryam.
Selanjutnya Nabi Zakariya mengajarkan ajaran Islam kepadanya dan akhlak yang mulia, sehingga Maryam tumbuh dalam keadaan salihah, menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat, dan mengenal Allah Tuhannya. Ia senantiasa taat kepada Allah Azza wa Jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya di malam dan siang hari di mihrab(tempat ibadah)nya, sehingga Allah mengaruniakan kepadanya beberapa karamah, dimana setiap kali Nabi Zakariya masuk menemuinya di mihrabnya, ternyata ada buah-buahan musim panas di waktu dingin dan buah-buahan musim dingin di waktu panas. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ إنَّ اللّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
 “Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata, "Wahai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab, "Makanan itu dari sisi Allah." Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS. Ali Imran: 37)
Allah Azza wa Jalla menakdirkan, bahwa akan lahir daripadanya seorang anak yang menjadi nabi tanpa ayah. Dan hal ini adalah mudah bagi Allah Azza wa Jalla, karena Dia jika berkehendak sesuatu cukup mengatakan, “Jadilah,” maka jadilah sesuatu itu (lihat QS. Ali Imran: 59). Bahkan ada yang lebih aneh lagi dari itu, yaitu terciptanya Adam tanpa ada laki-laki dan perempuan, dan terciptanya Hawa dari laki-laki.
Pada suatu ketika, Maryam mengasingkan diri dari manusia untuk melakukan suatu keperluan, lalu ia pergi ke arah timur mihrabnya sehingga berada di tempat yang dekat dengan bagian timur. Dan di saat itu, tidak ada seorang pun manusia yang melihatnya. Di sanalah Allah mengutus malaikat Jibril dalam bentuk manusia, lalu Maryam merasa takut kalau ia akan disakiti olehnya, maka Maryam berkata, “Aku berlindung darimu kepada Ar Rahman jika engkau bertakwa.” Lalu malaikat Jibril menenangkannya dan memberitahukan, bahwa Allah mengutusnya kepadanya untuk memberikan kepadanya seorang anak yang saleh dan suci. Ketika itulah Maryam merasa heran terhadapnya dan mengatakan, “Bagaimana aku punya anak, sedangkan belum ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku, dan aku bukanlah seorang pezina.” Maka malaikat Jibril memberitahukan, "Demikianlah." Tuhanmu berfirman, "Hal itu adalah mudah bagiku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (Terj. QS. Maryam: 21)
Ketika itu malaikat Jibril datang kepada Maryam membawa ruh nabi Isa ‘alaihissalam, lalu ia meniup dari leher bajunya, kemudian masuk ke dalam dadanya, maka Maryam pun hamil dengan izin Allah Azza wa Jalla.
Setelah berlalu masa kehamilan, maka tibalah saatnya Maryam untuk melahirkan, kemudian ia mencari tempat yang jauh dari manusia karena khawatir dicela oleh mereka, dimana ia melahirkan anak tanpa ada suami. Dan sebelum itu, kaumnya telah mencacatkan kehormatan dirinya dan kehormatan Nabi Zakariya ‘alaihissalam yang mengasuhnya, namun Maryam bersabar terhadap tuduhan-tuduhan itu. Ketika rasa sakit hendak melahirkan telah Maryam rasakan, maka ia bersandar ke batang pohon kurma dan berkata sambil bersedih, “Alangkah baiknya, sekiranya aku sekarang mati sebelum anak dalam perutku ini lahir, lalu aku menjadi orang yang tidak dikenal dan dilupakan orang.” Kemudian malaikat Jibril menenangkannya dan memberikan kabar gembira, bahwa Allah telah mengalirkan di bawahnya sungai kecil. Maryam juga diminta menggoyangkan batang kurma agar kurma-kurma berjatuhan sehingga dapat dipungut oleh Maryam. Maryam juga diperintahkan ketika ditanya tentang anaknya untuk menyatakan, bahwa dirinya bernadzar demi Ar Rahman untuk diam; tidak berbicara kepada seorang pun.
selanjutnya Maryam menggendong anaknya dan membawanya ke kaumnya, sedangkan kaumnya dalam keadaan mencari dirinya. Ketika kaumnya melihat Maryam menggendong seorang bayi, maka mereka menuduhnya sebagai pezina, lalu Maryam menunjuk kepada bayinya, agar mereka bertanya kepadanya, lalu mereka berkata, “Bagaimana mungkin kami berbicara dengan bayi yang masih dalam buaian?” Ketika itulah Nabi Isa ‘alaihis salam yang masih dalam buaian menjawab tuduhan itu dengan berkata, "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia akan menjadikanku seorang Nabi,--Dan Dia menjadikanku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;--Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka.--Dan Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Terj. QS. Maryam: 30-33)
Allah menjadikan Nabi Isa dapat berbicara pada masa buaian untuk meringankan beban yang dialami ibunya dan untuk membelanya.
Maryam adalah figur wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan taat beribadah kepada Allah. Ia rela mengorbankan masa remajanya untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.
Bersambung...
Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Maktabah Syamilah versi 3.45, Media Informasi Lentera Ummat (PPDI PT JICT), Khairu Nisa’il Alamin (Majdi Fathi As Sayyid), Khutbah Jum’at Khairu Nisa’il Alamin (situs Majlis Ulama Iraq),  dll.

Kisah 10 Orang Yang Dijamin Masuk Surga (2)

Sabtu, 04 Januari 2014
بسم الله الرحمن الرحيم
Ringkasan Kisah 10 Orang Yang Dijamin Masuk Surga (2)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini lanjutan kisah singkat 10 orang yang dijamin masuk surga, semoga Allah menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.
Abu Ubaidah Ibnul Jarrah
Ia adalah Amir bin Abdullah bin Jarrah. Pangggilannya Abu Ubaidah. Ia termasuk As Sabiqunal Awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam), dan orang terpercaya umat ini serta salah seorang di antara 10 orang yang dijamin masuk surga. Ia berhijrah ke Habasyah lalu kembali lagi ke Mekkah, kemudian berhijrah ke Madinah. Ia hadir dalam perang Badar dan semua peperangan lainnya. Pada perang Badar, Abu Ubaidah terpaksa membunuh ayahnya saat ayahnya hendak membunuhnya. Umar pernah mengangkatnya sebagai komandan pasukan, dan Abu Ubaidah wafat terkena wabah Tha’un Amwas pada tahun 18 H.
Thalhah bin Ubaidillah
Ia termasuk As Sabiqunal Awwalun dan termasuk mereka yang disiksa di jalan Allah. Ia tidak hadir dalam perang Badar karena ditugaskan mencari berita kaum musyrik di Syam. Pada perang Uhud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menamainya Thalhah Al Khair, sedangkan pada perang Hunain, Beliau menamainya dengan Thalhah Al Juud, dan para perang Al Usrah, Beliau menamainya dengan Thalhah Al Fayyadh. Ia memberikan jasa yang besar pada perang Uhud, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggendongnya di atas pundaknya, dan ia terkena tujuh puluh lebih serangan kaum musyrik, bahkan di antara jarinya ada yang putus. Ia adalah orang yang kaya dan banyak berinfak. Ia termasuk enam orang yang dipilih Umar bin Khaththab menjelang wafatnya dalam dewan syura agar mereka memilih khalifah setelahnya. Ia ikut dalam perang Jamal melawan Ali, namun Ali berdialog dengannya dan dengan Zubair, lalu keduanya pulang, akan tetapi keduanya dibunuh. Orang yang membunuhnya adalah Marwan bin Hakam.
Abdurrahman bin Auf
Abdurrahman bin Auf termasuk As Sabiqunal Awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam). Ketika Abu Bakar mengajaknya masuk Islam, maka ia segera memasukinya. Ia termasuk orang yang ditindas kaum musyrik. Ia berhijrah ke Habasyah dua kali, kemudian berhijrah ke Madinah, dan hadir dalam semua peperangan. Ia terkena 20 luka dalam perang Uhud. Abdurrahman bin Auf seorang yang kaya, ia berdagang dengan tujuan agar hidupnya mulia. Hal ini tampak sekali, yaitu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar; Beliau mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Ar Rabi’. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah shallalllahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, Beliau mempersaudarakan antara Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Ar Rabi’. Lalu Sa’ad bin Ar Rabi’ berkata kepada Abdurrahman bin ‘Auf, “Sesungguhnya saya orang Anshar yang paling banyak hartanya, marilah kita bagi menjadi dua bagian. Saya pun memiliki dua istri, maka silahkan siapa wanita yang kamu sukai agar aku ceraikan. Jika telah selesai ‘iddahnya maka nikahilah.” Lalu Abdurrahman berkata, “Semoga Allah memberkahi keluargamu dan hartamu, di manakah pasar?” Maka Sa’ad pun menunjukkan pasar Bani Qainuqa’. Setiap kali Abdurrahman pulang dari pasar, ia membawa kelebihan makanan aqith dan samin, dst. Sehingga pada suatu ketika Abdurrahman bin ‘Auf datang dengan tampak bekas kuning di dahinya, lalu Nabi shallalllahu 'alaihi wa sallam bertanya, “Bagaimanakah keadaanmu sekarang?” Abdurrahman menjawab, “Saya sudah menikah.” Beliau bertanya lagi, “Berapa mahar yang kamu berikan?” Abdurrahman menjawab, “Emas sebesar biji.”
Abdurrahman bin Auf di samping sebagai orang yang kaya, tetapi ia juga termasuk orang yang paling banyak berinfak. Pernah suatu ketika, ia menjual tanah seharga 40.000 dinar, lalu membagikan uang itu ke keluarganya dari Bani Zuhrah, kepada Ummahatul Mu’minin (istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan kepada kaum fakir dari kalangan kaum muslimin. Ia juga pernah mengeluarkan 500 kuda untuk pasukan Islam, dan pada waktu yang lain ia mengeluarkan 1500 unta. Saat menjelang wafatnya, ia berwasiat untuk menyedekahkan 50.000 dinar di jalan Allah, dan 400 dinar untuk orang yang masih hidup di antara mereka yang hadir dalam perang Badar, bahkan Utsman memperoleh bagian daripadanya lalu mengambilnya dan berkata, “Sesungguhnya harta Abdurrahman adalah halal lagi suci, satu suapan darinya adalah afiyat dan berkah.” Bahkan disebutkan, bahwa penduduk Madinah semuanya bersekutu terhadap harta Abdurrahman; sepertiga ia pinjamkan kepada mereka, sepertiga ia bayarkan hutang mereka, dan sepertiga lagi ia sambung tali silaturrahim dan ia berikan kepada mereka. 
Abdurrahman juga seorang yang sangat takut kepada Allah Azza wa Jalla. Suatu ketika, ia dihidangkan makanan untuk berbuka puasa, ketika melihatnya ia menangis sambil berkata, “Mush’ab bin Umair syahid dan ia lebih baik dariku, ia dikafankan dengan sebuah burdah yang jika kepalanya ditutup, maka akan tampak kedua kakinya, dan jika kedua kakinya ditutup, maka akan tampak kepalanya. Demikian pula Hamzah syahid dan ia lebih baik dariku, namun tidak ada sesuatu untuk mengkafaninya selain sebuah burdah, kemudian dilapangkan kepada kita dunia dan diberikan kepada kita daripadanya. Saya khawatir kalau kita termasuk orang yang disegerakan kebaikannya.” Pernah juga dihidangkan makanan kepadanya saat ia sedang duduk bersama kawan-kawannya, lalu ia menangis, kemudian mereka bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Rasulullah shallallau ‘alaihi wa sallam wafat, namun Beliau dan keluarganya tidak pernah kenyang karena roti sya’ir (semacam gandum). Aku tidak berpandangan, kita ditangguhkan kepada yang lebih baik bagi kita.”
Bahkan rasa takutnya yang tinggi kepada Allah membuat rasa sombong tidak mampu memasuki dirinya. Disebutkan, bahwa kalau orang asing melihat Abdurrahman, maka ia tidak mampu mengenalinya saat ia duduk bersama para pelayannya. Orang asing tidak akan sanggup membedakannya di antara mereka.
Abdurrahman adalah salah seorang di antara enam orang yang dipilih Umar untuk mengurus khilafah setelahnya, dimana Umar pernah berkata tentang enam orang ini, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan ridha kepada mereka.” Ketika itu yang hadir menunjuk Abdurrahman sebagai khalifah setelah Umar, namun ia berkata, “Demi Allah, diambilnya pisau lalu diletakkan di tenggorokanku lalu diputuskan lebih aku sukai daripada hal itu.” Lalu Abdurrahman memilih Utsman bin Affan dan yang lain pun setuju terhadap pilihannya.
Abdurrahman bin Auf wafat pada tahun ke-32 H, lalu Aisyah menawarkan kepadanya untuk dimakamkan di kamarnya di samping kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar radhiyallahu ‘anhum, namun ia merasa malu mengangkat dirinya sampai ke situ. Ia meminta agar dikuburkan di samping kuburan Utsman bin Mazh’un karena suatu hari pernah berjanji, bahwa siapa di antara keduanya yang meninggal setelahnya, maka akan dikubur di sampingnya. Sebelum wafatnya ia berkata sambil menangis, “Aku khawatir dihalangi dari para sahabatku karena banyaknya hartaku,“ namun ia segera diliputi oleh ketenangan dan wajahnya pun berseri, sepertinya ia ingat janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dirinya dittempatkan di surga.
Sa’id bin Zaid
Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail adalah putera paman Umar bin Khaththab dan istri saudarinya, Fatimah binti Khaththab. Lahir di Mekkah 22 tahun sebelum Hijrah dan berhijrah ke Madinah. Ia termasuk As Sabiqunal Awwalun. Ia hadir dalam semua peperangan selain Badr karena ditugaskan bersama Thalhah mencari berita kafilah. Ia bersama istrinya memisahkan diri dari kaum Jahiliyyah dan keadaan mereka. Suatu ketika Sa’id bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku Zaid bin Amr bin Nufail adalah seperti yang engkau lihat dan engkau dengar, kalau seandainya ia menjumpaimu tentu ia akan beriman kepadamu, maka mohonkanlah ampunan buatnya.” Maka Beliau bersabda, “Ya,” lalu Beliau mendoakan ampunan buatnya dan berkata, “Sesungguhnya ia pada hari Kiamat akan datang seorang diri.”
Sa’id bin Zaid adalah seorang yang doanya dikabulkan. Dikisahkan, bahwa  ia pernah bersengketa dengan Arwa binti Aus, maka Arwa mengadu kepada Marwan bin Hakam dan menyatakan, bahwa Sa’id merampas sedikit tanahnya, maka Sa’id berdoa, “Ya Allah, jika dia dusta, maka butakanlah matanya dan bunuhnya ia di rumahnya.” Kemudia wanita itu pun buta dan terjatuh di sumur rumahnya lalu meninggal dunia.
Sa’id bin Zaid bersifat zuhud dan dihormati di kalangan penguasa. Saat Abu Ubaidah menaklukkan Damaskus, maka ia mengangkat Sa’id sebagai gubernurnya, lalu ia bangkit berjihad bersama orang-orang yang bersamanya, kemudian Sa’id menuliskan surat kepadanya, “Amma ba’du, sesungguhnya aku tidak mengutamakan dirimu dan para sahabatmu untuk berjihad di atas diriku dan di atas segala yang mendekatkan diriku dengan keridhaan Tuhanku. Apabila datang suratku kepadamu, maka berikanlah kepada orang yang lebih suka kepadanya daripada diriku, karena aku akan datang segera kepadamu insya Allah, wassalam.”
Suatu ketika Mu’awiyah memerintahkan Marwan di Madinah agar membaiat anaknya Yazid, lalu salah seorang yang berasal dari Syam berkata, “Apa yang membuatmu diam?” Marwan menjawab, “Sampai Sa’id bin Zaid membaiat, karena dia adalah pemimpin negeri ini. Jika dia membaiat, maka orang-orang akan ikut membaiat.” Orang Syam itu berkata, “Perlukan saya pergi untuk membawa Sa’id?” Lalu orang ini pergi mendatangi Sa’id, sedangkan Sa’id bersama Ubay berada di rumah, kemudian orang Syam ini berkata, “Pergi dan baiatlah.” Sa’id menjawab, “Saya akan pergi dan datang untuk membaiat.” Orang Syam ini berkata, “Kamu harus segera berangkat atau aku penggal lehermu.” Sa’id berkata, “Kamu hendak memenggal leherku? Demi Allah, sesungguhnya engkau mengajakku kepada kaum yang aku memerangi mereka di atas Islam.” Maka orang Syam ini kembali ke Marwan dan menyampaikan beritanya, lalu Marwan berkata, “Diamlah.”
Ketika Ummul Mu’minin wafat, sepertinya ia adalah Zainab radhiyallahu ‘anha. Ia berwasiat agar dishalatkan oleh Sa’id bin Zaid, maka orang Syam itu berkata kepada Marwan, “Apa yang membuatmu diam belum menyalatkan Ummul Mu’minin?” Marwan berkata, “Aku menunggu orang yang hendak engkau penggal lehernya, karena Ummul Mu’minin berpesan agar dishalatkan olehnya.” Maka orang Syam itu berkata, “Aku minta ampun kepada Allah.”
Sa’id bin Zaid wafat di Madinah pada tahun 51 H. Yang memasukkannya ke kuburan adalah Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhum ajma’in
Selesai dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, dan semoga Allah mengumpulkan kita semua bersama mereka di surga Firdaus-Nya, Allahumma amin.
Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Al Asyarah Al Mubasysyaruuna bil jannah (www.alislamy.com), dll.

Kisah 10 Orang Yang Dijamin Masuk Surga (1)

بسم الله الرحمن الرحيم
Ringkasan Kisah 10 Orang Yang Dijamin Masuk Surga (1)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini kisah singkat 10 orang yang dijamin masuk surga, semoga Allah menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.
Siapakah 10 orang yang dijamin masuk surga?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«أَبُو بَكْرٍ فِي الجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ فِي الجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الجَنَّةِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الجَنَّةِ، وَسَعْدٌ فِي الجَنَّةِ، وَسَعِيدٌ فِي الجَنَّةِ، وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الجَرَّاحِ فِي الجَنَّةِ»
"Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman bin 'Auf di surga, Sa'ad di surga, Sa'id di surga, dan Abu Ubaidah bin Al Jarrah di surga." (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani).
Abu Bakar Ash Shiddiq
Namanya adalah Abdullah bin Abi Quhafah. Awalnya bernama Abdul Ka’bah, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamainya dengan Abdullah. Ia juga disebut Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagi ‘atiq (orang yang dibebaskan dari neraka), dan disebut Ash Shiddiq (sangat membenarkan), karena membenarkan peristiwa isra’ dan mi’raj ketika orang-orang mendustakan. Ia selalu hadir dalam semua peperangan yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tetap tegar pada perang Uhud dan perang Hunain ketika orang-orang melarikan diri. Melalui Abu Bakar, masuk ke dalam Islam Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair, Thalhah dan lain-lain. Ia adalah orang terbaik umat ini setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah seorang dermawan yang menyedekahkan semua hartanya di jalan Allah. Ia adalah kawan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa Jahhiliyyah maupun di masa Islam. Demikian pula orang yang menemani Beliau ketika berhijrah. Di masa khilafahnya, ia memerangi orang-orang yang murtad, orang-orang yang enggan membayar zakat, dan orang yang mengaku nabi. Banyak hadits-hadits yang datang yang menyebutkan keutamaan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.
Umar bin Khaththab Al Faruq
Panggilan Umar adalah Abu Hafsh, dan digelari dengan Al Faruq (karena dengannya Allah memisahkan antara yang hak dan yang batil). Sebelumnya, Ia termasuk pemuka Quraisy dan juru bicara mereka antar beberapa kabilah. Ketika Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Umar memusuhi Beliau dan para pengikutnya, kemudian Allah memberikan kepadanya hidayah kepada Islam, lalu ia masuk Islam di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah Al Arqam pada bulan Dzulhijjah tahun ke-6 setelah kenabian; kira-kira tiga hari setelah masuk Islamnya Hamzah. Umar masuk Islam setelah membaca surat Thaha dari lembaran yang dipegang saudarinya Fathimah binti Khaththab radhiyallahu ‘anha. Dengan masuk Islamnya Umar, maka kaum muslimin semakin kuat. Ibnu Ishaq meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Umar, ia berkata, “Ketika aku masuk Islam, maka penduduk Mekkah membicarakan orang yang paling keras memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abu Jahal, maka aku mendatanginya dan memukul pintunya, kemudian ia keluar menemuiku, lalu ia berkata, “Selamat datang! Apa yang membuatmu datang?” Aku menjawab, “Aku datang untuk memberitahukan dirimu, bahwa aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad serta membenarkan apa yang Beliau bawa,” maka Abu Jahal menutup pintunya di hadapanku dan berkata, “Semoga Allah menburukkanmu dan memburukkan alasan kamu datang.” Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Keislaman Umar adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah rahmat. Sebelumnya kami tidak sanggup shalat di Baitullah sampai Umar masuk Islam. Setelah ia masuk Islam, maka Umar melawan mereka sehingga kami dapat shalat (di sana).” Pada saat ada perintah hijrah, maka Umar berhijrah secara terang-terangan. Umar selalu hadir dalam semua peperangan yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak ayat Al Qur’an yang turun sejalan dengan pandangan Umar. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kalau ada nabi setelahku, maka dia adalah Umar bin Khaththab.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim dari Uqbah bin Amir, dan diriwayatkan oleh Thabrani dari Ishmah bin Malik, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 5284).
Umar dikenal sebagai orang yang zuhud, luas ilmunya, berani dalam menampakkan kebenaran, dan setelah diangkat sebagai khalifah, ia menjadi contoh keadilan pada zamannya dan contoh keadilan sampai sekarang. Pada masa khilafahnya, wilayah Islam semakin luas, dua negara adidaya dunia (Persia dan Romawi) berhasil dipatahkan kekuatannya, bahkan kekuasaan Persia lenyap pada zamannya. Pada zamannya, Irak, Syam, Mesir, Al Jazirah, wilayah Bakr, Armenia, Araniyah, berbagai wilayah Al Jibal, berbagai wilayah Persia, Khuzstan, dan lainnya berhasil ditaklukkan. Ia adalah orang yang pertama menyebut Amirul Mu’minin (pemimpin kaum mukmin) untuk dirinya, orang yang pertama menetapkan kalender Hijriah, dan orang yang pertama membentuk dewan dalam pemerintahannya. Ia wafat sebagai syahid tiga hari setelah ditikam oleh Abu Lu’luah Al Majusi saat mengimami shalat. Saat diketahui pembunuhnya, Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan orang yang mengaku muslim.” Ia dimakamkan di samping kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kawannya Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
Utsman bin Affan Dzunnurain
Utsman masuk Islam melalui ajakan Abu Bakar Ash Shiddiq. Disebut Dzunnurain (pemilik dua cahaya), karena ia menikahi puteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bernama Ruqayyah. Setelah Ruqayyah wafat, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkannya dengan puterinya, yaitu Ummu Kultsum. Ia berhijrah dua kali; ke Habasyah dan ke Madinah. Utsman adalah orang yang kaya dan banyak berinfak, ia yang menyiapkan separuh perlengkapan Jaisyul ‘Usrah untuk melawan Romawi, yang membeli sumur Rumah untuk kaum muslimin, dan sebagai seorang pemalu sehingga para malaikat malu kepadanya. Di akhir kehidupannya, Utsman difitnah sehingga orang-orang Mesir, Basrah, Kufah, dan Madinah yang termakan fitnah mengepung rumahnya. Utsman tidak mau melawan mereka padahal ia mampu, untuk menjaga darah kaum muslimin, hingga akhirnya sebagian mereka menaiki rumahnya dan membunuhnya saat ia sedang membaca Al Qur’an.
Ali bin Abi Thalib
Ali adalah putera paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan puterinya, Fatimah –pemimpin wanita surga- kepadanya, dan ia adalah ayah dari dua pemimpin pemuda surga, yaitu Al Hasan dan Al Husain. Ia adalah orang yang pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Ia pernah tidur di kasur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Beliau berhijrah dan mengenakan burdahnya untuk mengelabui kaum musyrikin yang mengepung rumah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu, ia diperintahkan juga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengembalikan semua barang titipan kepada pemiliknya. Setelahnya, ia menyusul berhijrah dengan berjalan kaki sehingga kakinya bengkak. Ia hadir dalam perang Badar dan memberikan jasa besar dalam peperangan itu, ia juga hadir dalam perang Uhud dan mendapat beberapa luka, serta yang memegang panji perang Uhud saat Mush’ab bin Umair syahid. Ia hadir dalam semua perangan yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selain perang Tabuk, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memintanya untuk mengurus keluarganya di Madinah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadanya, “Tidak ridhakah engkau, bahwa kedudukanmu denganku seperti kedudukan Harun dengan Musa. Hanyasaja tidak ada lagi nabi setelahku.” Pada perang Khaibar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan panji kepadanya setelah sebelumnya menyerahkan kepada Abu Bakar dan Umar namun belum berhasil menaklukkannya, hingga kemudian diserahkan kepadanya, dan akhirnya ia berhasil menaklukkannya. Ali berhasil membunuh tokoh kaum musyrik ksatria bangsa Arab, yaitu Amr bin Abdi Wud dalam perang Khandaq. Setelah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam wafat, maka ia membaiat Abu Bakar, demikian pula membaiat Umar, dan membaiat Utsman radhiyallahu ‘anhum. Di akhir masa khilafah Utsman, saat rumahnya dikepung, maka Ali menawarkan Utsman untuk memberikan perlindungan kepadanya dengan membawa anak-anaknya, tetapi Utsman menolaknya untuk menjaga darah kaum muslimin. Saat Utsman dibunuh, maka sebagian besar orang sepakat untuk membaiatnya, namun sebagian lagi menolak untuk membaiatnya. Mu’awiyah sempat memeranginya karena menuntut agar pembunuh Utsman segera diqishas, sedangkan Ali memandang untuk pembaiatan harus lebih dahulu dilakukan agar kaum muslim bersatu, kemudian dicari pembunuh Utsman sehingga terjadilah perang Shiffin. Setelah itu, Ali dan Mu’awiyah berdamai kembali, namun sebagian pengikuti Ali menolak damai dan malah memerangi Ali karena mau berdamai dengan Mu’awiyah. Mereka ini adalah orang-orang Khawarij yang kemudian diperangi oleh Ali. Kemudian ada tiga orang Khawarij yang membuat makar untuk membunuh Ali, Mu’awiyah, dan Amr bin Ash, namun mereka tidak berhasil membunuh selain Ali bin Abi Thalib, ia berhasil dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljim saat Ali sedang berjalan ke masjid untuk shalat Subuh. Ali radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang cerdas dan banyak orang yang bertanya kepadanya tentang masalah agama.

Zubair bin Awam
Zubair bin Awam bin Khuwailid, panggilannya Abu Abdillah. Ia adalah pembela (hawariy) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan putera bibi Beliau, yaitu Shafiyyah. Ia masuk Islam saat berusia 12 atau 15 tahun, dan termasuk As Sabiqunal Awwalun. Istrinya bernama Asma’ binti Abi Bakar yang membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Beliau berhijrah. Zubair adalah orang yang pertama menghunus pedangnya dalam Islam, yaitu ketika di Mekkah saat ada berita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibunuh, maka Zubair segera menghunus pedangnya dan mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di area atas Mekkah, kemudian Beliau bertanya kepadanya, “Ada apa denganmu wahai Zubair?” Zubair menjawab, “Aku diberitahukan, bahwa engkau ditangkap.” Maka Beliau mendoakannya dan mendoakan pedangnya. Zubair berhijrah dua kali; ke Habasyah dan ke Mekkah. Ia hadir dalam semua peperangan dan termasuk ksatria Islam serta orang yang paling berani di antara mereka. Tentang Zubair, Umar berkata, “Zubair termasuk rukun di antara rukun-rukun agama.” Zubair dikenal sebagai orang yang dermawan dan mulia. Ia termasuk salah seorang di antara mereka yang dijamin masuk surga dan termasuk di antara enam orang yang dipilih Umar untuk menjadi khalifah setelahnya. Ia menamai anak-anaknya dengan nama para sahabat yang gugur sebagai syahid. Ia hadir dalam perang Jamal melawan Ali, lalu Ali berdialog dengannya, kemudian ia mengerti dan meninggalkan peperangan itu. Tetapi Abdullah bin Jurmudz membuntutinya dan membunuhnya diam-diam, kemudian membawa kepalanya kepada Ali, maka Ali menangis karenanya dan tidak mengizinkan pembunuhnya masuk menemuinya serta menyampaikan kabar neraka kepadanya. Hal ini terjadi pada tahun ke-36 H, sedangkan usia Zubair ketika itu 67 tahun.
Sa’ad bin Abi Waqqash
Sa’ad bin Malik bin Wuhaib Al Qurasyi Az Zuhri. Ia termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam. Ia masuk Islam saat berusia 17 tahun, dan termasuk salah seorang yang dijamin masuk surga, dan termasuk orang-orang yang dipilih Umar dalam dewan syura untuk memilih khalifah setelahnya. Ia adalah orang yang pertama menumpahkan darah di jalan Allah, yaitu ketika kaum musyrik menghalangi jalan kaum muslim saat mereka hendak shalat di salah satu perbukitan Mekkah, lalu Sa’ad memukul salah seorang musyrik dengan tulang unta serta melukainya. Ia juga orang pertama yang melempar panahnya di jalan Allah. Ia didoakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya, “Ya Allah, kabulkanlah Sa’ad apabila ia berdoa kepada-Mu.” Oleh karena itu, Sa’ad tidaklah berdoa kecuali dikabulkan. Ia hadir dalam semua peperangan yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memberikan jasa dalam perang Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Lepaslah panahmu, biarkanlah bapak dan ibuku sebagai tebusanmu.” Diriwayatkan, bahwa pada perang itu, ia berhasil melepaskan 1000 panah. Umar pernah mengangkatnya sebagai pemimpin pasukan untuk memerangi Persia. Ia adalah komandan pasukan yang berhasil mengalahkan orang-orang Persia di Qadisiyah. Ia juga yang menaklukkan kota-kota Kisra, dan yang membangun kota Kufah. Umar mengangkatnya sebagai gubernur Irak, Utsman juga sama mengangkatnya sebagai gubernur Kufah. Pada zaman fitnah, Sa’ad memisahkan diri dari kedua kelompok yang bertikai itu. Sa’ad radhiyallau ‘anhu wafat kira-kira pada tahun 55 H dan dimakamkan di Madinah. Ia adalah orang Muhajirin yang terakhir wafat.
Bersambung...
Marwan bin Musa
Maraji’: Al Asyarah Al Mubasysyaruuna bil jannah (www.alislamy.com), dll.

Ringkasan Sirah Rasulullah

Rabu, 01 Januari 2014
بسم الله الرحمن الرحيم
Ringkasan Sirah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini perjalanan singkat kehidupan pemimpin para nabi dan rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.
Nasab dan kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Beliau adalah Muhammad bin (putera) Abdullah bin Abdul Muththalib bin Haasyim. Haasyim berasal dari Quraisy, Quraisy berasal dari bangsa Arab, dan bangsa Arab adalah keturunan Isma’il putera Ibrahim Al Khalil –semoga shalawat dan salam terlimpah kepadanya dan kepada Nabi kita-. Sedangkan ibu Beliau bernama Aminah binti Wahb.
Beliau lahir di Mekkah dalam keadaan yatim pada bulan Rabi’ul Awwal tahun gajah. Ayahnya wafat saat Beliau masih dalam kandungan ibunya. Setelah Beliau lahir, Beliau ditanggung oleh kakeknya Abdul Muththalib. Kemudian ibunya wafat pada saat Beliau berusia enam tahun. Dan pada saat usia Beliau delapan tahun, kakeknya, yaitu Abdul Muththalib wafat. Kemudian Beliau diasuh oleh pamannya Abu Thalib.
Perjalanan Beliau ke negeri Syam
Pada saat usia Beliau 12 tahun, Beliau diajak bersafar ke negeri Syam bersama pamannya untuk berdagang. Di tengah perjalanan ke sana, pamannya bertemu dengan seorang pendeta bernama Buhaira di kota Basrah, lalu pendeta itu mengenali tanda kenabian Beliau yang telah dipelajarinya dari kitab-kitab samawi. Ketika itu, Buhaira berkata, “Orang ini adalah utusan Rabbul alamin. Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi alam semesta.” Lalu ia ditanya, “Dari mana kamu tahu?” Ia menjawab, “Sesungguhnya ketika kamu datang dari bukit, maka tidak ada sebuah pohon maupun batu kecuali bersujud, dan mereka tidaklah bersujud kecuali kepada seorang nabi, dan aku mengetahui kenabiannya dari cap kenabian yang berada di bawah tulang rawan bahunya.” Kemudian pendeta itu memperingatkan Abu Thalib agar tidak membawanya ke negeri Syam karena dikhawatirkan tindakan jahat orang-orang Yahudi kepadanya, maka pamannya mengembalikannya ke Mekkah.
Pernikahan dengan Khadijah
Setelah usia Beliau semakin dewasa, Beliau pergi ke Syam untuk berdagang membawa barang dagangan milik Khadijah didampingi budaknya Maisarah, lalu Maisarah melihat hal-hal yang menakjubkan dari keadaan Beliau. Sepulang dari perjalanan itu, Maisarah memberitahukan hal yang disaksikan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga Khadijah tertarik untuk menikah dengan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau diangkat menjadi Nabi
Ketika usia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam 40 tahun, Beliau diangkat menjadi seorang nabi. Hal ini terjadi pada bulan Ramadhan saat Beliau bertahannuts (mengasingkan diri beribadah) di gua Hira. Ketika itu, malaikat Jibril datang membawa wahyu surat Al Alaq kepada Beliau, lalu Beliau memutuskan tahannutsnya dan pulang dalam keadaan takut mendatangi istrinya Khadijah, kemudian Khadijah menguatkan diri Beliau dan memberikan kabar gembira kepadanya serta membawanya ke kerabatnya yang beragama Nasrani, yaitu Waqarah bin Naufal. Maka Waraqah memberikan kabar gembira kepadanya, bahwa ia akan menjadi nabi umat ini, dan ia ingin kalau seandainya ia masih muda, ia dapat menolongnya ketika kaumnya memusuhinya. Selanjutnya wahyu terputus sebentar, kemudian turun lagi surat Al Muddatstsir. Dengan turunnya surat itu, Beliau menjadi nabi dan Rasul serta diperintahkan mendakwahi kaumnya kepada Islam. Setelah itu, wahyu pun turun berurut-turut. Dari kalangan laki-laki yang pertama menyambut dakwahnya adalah kawan Beliau Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, sedangkan wanita yang pertama menyambut dakwahnya adalah istrinya Khadijah radhiyallahu ‘anha. Sedangkan anak-anak yang pertama kali menyambut dakwahnya adalah putera pamannya, yaitu Ali bin Abi Thalib, dan dari kalangan budak, yang pertama menyambut dakwahnya adalah budak yang dimerdekakan Beliau, yaitu Zaid bin Haritsah.
Melalui ajakan Abu Bakar, masuk ke dalam Islam beberapa orang, di antaranya Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un, Abu Salamah bin Abdul Asad, dan Al Arqam bin Abil Arqam. Ketika itu, Beliau bertemu para sahabatnya di rumah Al Arqam bin Abil Arqam dan berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Hal ini berlangsung selama tiga tahun lamanya. Selanjutnya, Beliau diperintahkan berdakwah secara terang-terangan, yaitu dengan turunnya surat Al Hijr ayat 94,
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al Hijr: 94)
Gangguan kaum Quraisy kepada Beliau dan para sahabatnya, serta hijrahnya sebagian sahabat ke Habasyah
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah di Mekkah secara terang-terangan sehingga kaum kafir Quraisy menyakiti Beliau dan para sahabatnya serta menuduhnya dengan berbagai tuduhan, seperti sebagai pesihir, penyair, dukun, orang gila, dsb. Mereka juga menaruh duri di jalan Beliau, menyakiti Beliau ketika sedang shalat, serta menindas orang yang beriman kepadanya dari kalangan budak dan dhu’afa, seperti Bilal bin Rabaah, Khabbab bin Art, Ammar bin Yasir, ayahnya Yasir, dan ibunya Sumayyah, sebagian di antara mereka wafat sebagai syahid karena penindasan dan penyiksaan itu. Ketika gangguan kaum kafir Quraisy semakin dahsyat, maka Beliau menyuruh para sahabatnya berhijrah ke Habasyah, kemudian mereka yang berhijrah dimuliakan oleh raja di sana yaitu An Najasyi yang kemudian ia memeluk Islam. Beliau berdakwah di Mekkah selama 13 tahun lamanya. Selanjutnya Beliau pergi ke Tha’if dengan harapan di sana Beliau mendapatkan orang-orang yang mau membantunya, tetapi penduduknya malah mendustakan Beliau dan menyakitinya. Bahkan Beliau dilempari batu di sana.
Peristiwa Isra dan Mi’raj
Setelah paman Beliau dan istrinya meninggal, serta setelah Beliau disakiti di Tha’if, maka Allah Subhaanahu wa Ta’ala Yang Mahakuasa memperjalankan Beliau pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsha, kemudian menaikkannya ke langit sampai ke Sidratul Muntaha untuk meneguhkan Beliau dan menyabarkannya serta menghiburnya. Beliau diisra’-mi’rajkan dengan ruh dan jasadnya.
Bai’at Aqabah dan tersebarnya Dakwah
Saat musim haji tiba, dan ketika orang-orang banyak yang berkunjung ke Mekkah, maka Beliau memanfaatkan kesempatan itu untuk mendakwahi mereka yang datang. Ketika itu datang enam orang dari suku Khazraj (Madinah) dan beriman kepadanya. Hal ini terjadi pada tahun ke-11 dari kenabian. Pada tahun setelahnya datang kepada Beliau 12 orang dari Madinah dan membaiat (berjanji setia) Beliau. Baiat ini dikenal dengan nama baiat Aqabah ke-1. Dan pada tahun ke-13 dari kenabian, Beliau didatangi oleh 73 orang laki-laki dan dan 2 wanita untuk membaiat Beliau dan menyatakan kesiapan membela dan menolong Beliau. Baiat ini dikenal dengan nama Baiat Aqabah ke-2. Setelah baiat ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat hijrah ke Madinah.
Hijrah ke Madinah
Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat hijrah ke Madinah. Maka mereka berangkat ke sana secara diam-diam, baik perorangan maupun berkelompok. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah pula dan sebelumnya telah melakukan perencanaan yang matang agar tidak diketahui oleh orang-orang kafir yang telah sepakat untuk membunuhnya. Di antara siasat Beliau adalah berhijrah bersama Abu bakar ke arah selatan dan tinggal di gua Tsur selama tiga hari agar tidak diketahui. Ketika itu, Asma’ binti Abi Bakar yang membawakan makanan untuk keduanya, sedangkan Abdullah bin Abi Bakar berusaha mencari kabar di Mekkah yang kemudian akan disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar. Di samping itu, budak yang dimerdekakan Abu Bakar, yaitu Amir bin Fuhairah membawa kambing untuk menghilangkan jejak mereka berdua dan memberikan minum susu kambing kepada keduanya. Kemudian orang-orang kafir terus mencari Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menangkap dan membunuhnya hingga mereka tiba di gua Tsur, namun Allah menjadikan mereka tidak melihatnya, padahal kalau seandainya mereka melihat ke bawah kakinya tentu mereka akan melihat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar. Saat itu, kaum Quraisy menjanjikan hadiah 200 ekor unta bagi yang menemukan mereka berdua. Akan tetapi Allah melindungi Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Dia melindungi Nabi-Nya dari pengejaran Suraqah bin Malik, dimana kaki-kaki kudanya terperosok ke dalam bumi.
Saat tiba di Madinah
Setiba di Quba’, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun masjid di sana dan tinggal di sana selama tiga hari, kemudian Beliau melanjutkan perjalanan ke Madinah. Ketika sampai di sana, Beliau disambut gembira oleh kaum Anshar. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di tempat Abu Ayyub Al Anshari. Selanjutnya, penduduk Madinah disebut dengan kaum Anshar, sedangkan para sahabat yang hijrah ke sana disebut kaum Muhajirin. Di antara tindakan yang Beliau lakukan di sana adalah membangun masjid, mendamaikan kabilah Aus dan Khazraj, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, dan membuat perjanjian damai dengan orang-orang Yahudi yang tinggal di sana yang terdiri dari Bani Quraizhah, Bani Qainuqa’, dan Bani Nadhir.
Jihad Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
Setelah kaum muslimin berhijrah ke Madinah dan kedudukan mereka semakin kuat, maka Allah mengizinkan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam berjihad dan menjadikanya sebagai sarana membela diri dan menjaga dakwah ketika dihalangi. Telah terjadi beberapa peperangan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang-orang kafir, di antaranya:
1.   Perang Badar Kubra, terjadi pada tahun ke-2 H. Ketika itu, kaum muslimin memperoleh kemenangan, dan kaum musyrik mengalami kekalahan. Jumlah kaum muslimin hanya 300 orang lebih, sedangkan kaum musyrik berjumlah kurang lebih 1.000 orang.
2.   Perang Uhud, terjadi pada tahun ke-3 H. Ketika itu, kaum muslimin berjumlah 700 orang, sedangkan kaum musyrik berjumlah 3000 orang. Pada awal pertempuran, kaum muslimin mengalami kemenangan, namun ketika regu pemanah menyelisihi perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan turun dari bukit, maka kaum musyrik kembali menyerang, sehingga kaum muslimin kalah.
3.   Perang Ahzab, terjadi pada tahun ke-5 H. Ketika itu, kaum Quraisy bersatu dengan berbagai kabilah mengepung Madinah, jumlah mereka kira-kira 10.000 orang. Akhirnya kaum muslimin membuat parit untuk mencegah penyerbuan musuh, kemudian Allah Azza wa Jalla Allah pun menurunkan hujan lebat di malam hari dan angin yang kencang kepada pasukan Ahzab itu yang menyapu bersih kemah-kemah dan perbekaan mereka serta mengkocar-kacirkan pasukan musuh. 
4.   Perang Bani Quraizhah, terjadi setelah perang Ahzab, yaitu ketika Yahudi Bani Quraizhah membatalkan perjanjiannya dan ikut bergabung dengan pasukan Ahzab.
5.   Perjanjian Hudaibiyah, terjadi pada tahun ke-6 H. Yaitu, ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya ingin berumrah, namun mereka dicegah, kemudian dibuat perjanjian, dimana di antara isinya adalah peperangan dihentikan selama 10 tahun dan kaum muslim boeh berumrah pada tahun depan.
6.   Fathu (penaklukkan) Mekkah, terjadi pada tahun ke-8 H. Hal ini terjadi ketika kaum musyrik membatalkan perjanjian. Setelah Fathu Mekkah, Islam semakin tersebar di Jazirah Arab dan berdatangan para utusan untuk menyatakan keislamannya.
Wafat Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam   
Setelah tugas Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai, Islam tersebar dan ajaran agamanya telah sempurna, sehingga tidak boleh dikurangi dan ditambahkan, maka Allah Subhaanahu wa Ta’ala mewafatkan Beliau. Beliau wafat pada waktu Dhuha di hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal dalam usia 63 tahun. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya.
Marwan bin Musa
Maraji’: Al Arabiyyah baina Yadaik jilid 3 hal. 17-19, Ar Rahiqul Makhtum (Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri), Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger