Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Khutbah Jum'at : Ushul Tsalatsah (Tiga Dasar Utama)

Rabu, 01 Juli 2026

 

بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Ushul Tsalatsah (Tiga Dasar Utama)

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam dan nikmat taufiq, sehingga kita dapat melangkahkan kaki kita menuju rumah-Nya melaksanakan salah satu perintah-Nya yaitu shalat Jumat berjamaah.

Shalawat dan salam tidak lupa kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Ada tiga dasar utama yang seharusnya diketahui seorang muslim, yaitu dia hendaknya mengenal Allah Tuhannya, mengenal agamanya, dan mengenal Nabinya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Tiga dasar inilah yang akan ditanya kepada kita nanti di alam kubur yang dikenal dengan istilah fitnah kubur, dimana jika seorang hamba dapat menjawabnya, maka dia akan memperoleh nikmat kubur, tetapi jika tidak bisa menjawab, maka bukan nikmat yang dia peroleh, bahkan azab, wal ‘iyadz billah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ» مَرَّتَيْنِ، أَوْ ثَلَاثًا، وَقَالَ: " وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ حِينَ يُقَالُ لَهُ: يَا هَذَا، مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ؟

“Mintalah perlindungan kepada Allah dari azab kubur.” (Beliau mengucapkan dua atau tiga kali), selanjutnya Beliau bersabda, “Si mayit benar-benar mendengar gerakan sandal para hadirin ketika mereka beranjak pulang saat dikatakan kepadanya, “Wahai fulan, siapa Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu?” (Hr. Abu Dawud dari Barra bin Azib, dishahihkan oleh Al Albani)

Maka pada kesempatan khutbah Jumat kali ini, khatib ingin mengenalkan lebih lanjut kepada para jamaah tentang Allah Azza wa Jalla, agama Islam, dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dengan harapan kita semua dapat menjawab pertanyaan yang diajukan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur tentunya dengan kita mengimaninya ketika di dunia.

Perlu diketahui, bahwa dalam mengenal Allah Azza wa Jalla tentu harus didasari dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Mengenal Allah Azza wa Jalla

Allah Azza wa Jalla adalah Rabbul ‘alamin, yakni Pencipta, Penguasa, Pemilik, dan Pengatur alam semesta. Tidak ada Tuhan di samping-Nya, tidak ada Pencipta di samping-Nya, tidak ada Penguasa alam semesta di samping-Nya, Dia berfirman,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 “Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin.” (Qs. Al Fatihah: 2)

Oleh karena Dia Pencipta dan Pengatur  alam semesta, maka Dia saja yang berhak disembah; tidak selain-Nya, Dia berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22)

“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,--Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Qs. Al Baqarah: 21-22)

Dengan demikian, hanya Allah yang berhak disembah dan ditujukan berbagai macam ibadah. Oleh karena itu, kita tidak berdoa selain kepada-Nya, tidak berkurban selain kepada-Nya, tidak melakukan ruku dan sujud selain kepada-Nya, tidak berharap selain kepada-Nya, tidak bertawakkal selain kepada-Nya, dan tidak mengarahkan berbagai ibadah selain kepada-Nya. Inilah maksud Laailaahaillallah (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah).

Di samping itu, kita juga harus mengimani bahwa Allah memiliki nama dan sifat seperti yang Dia tetapkan dalam kitab-Nya dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam tetapkan dalam As Sunnah. Allah Azza wa Jalla berfirman,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)

“Dialah Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.--Dialah Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Raja, yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, yang Mengaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, yang Mahakuasa, yang memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.--Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai Asmaaul Husna. bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Qs. Al Hasyr: 22-24)

Dalam beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla kita tidak boleh mentakwilnya (mengartikan lain), menta’thil (meniadakan), mentamtsil (menyerupakan dengan makhluk), dan mentakyif (menanyakan hakikatnya bagaimana), Dia berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (Qs. Asy Syuuraa: 11)

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا (65)

“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Qs. Maryam: 65)

Dalam ayat ini terdapat tauhid Rububiyyah (meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla satu-satunya Rabbul ‘alamin), tauhid Uluhiyyah (meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla satu-satunya yang berhak disembah), dan tauhid Asma wa Sifat (menetapkan nama dan sifat Allah Azza wa Jalla) sama seperti di surah Al Fatihah ayat 2-4.

Kita juga mengimani semua berita yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya tentang Diri-Nya seperti di surah Al Ikhlas dan ayat kursi berikut:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

Katakanlah, "Dia-lah Allah Yang Maha Esa.--Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.---Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,--Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (Qs. Al Ikhlas: 1-4)

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255)

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Qs. Al Baqarah: 255)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15)

“Wahai manusia! kalian semua butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Qs. Faathir: 15)

Dan ayat-ayat lainnya. Demikianlah konsep ketuhanan dalam Islam, sebagai konsep yang benar, jelas, gamblang, sejalan dengan fitrah dan akal manusia.

Mengenal agama Islam

Seorang muslim juga hendaknya mengenal agama Islam, yaitu dengan ia yakini bahwa Islam satu-satunya agama yang benar, satu-satunya agama yang diridhai Allah, satu-satunya jalan menuju surga-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali Imran: 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imran: 85)

Arti Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan meenaati-Nya, dan berlepas diri dari syirik dan para pelakunya.

Mengapa Allah hanya ridha dengan agama Islam dan tidak ridha dengan agama selain Islam? Jawabnya karena dalam agama Islam Allah diesakan, sedangkan dalam agama-agama selain Islam Dia disekutukan, sedangkan Dia tidak ridha disekutukan. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

“Dia tidak ridha kekafiran pada hamba-hamba-Nya.” (Qs. Az Zumar : 7)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Aku adalah Tuhan yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa yang mengerjakan amalan yang ia sekutukan yang lain bersama-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan syiriknya.” (Hr. Muslim dan Ibnu Majah)

Mengapa hanya Islam yang bisa mengantarkan pemeluknya ke surga? Jawabnya adalah karena Allah pemilk surga telah mengharamkan surga bagi orang-orang yang tidak beragama Islam atau orang-orang kafir, Dia berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ (40)

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (Qs. Al A’raaf: 40)

Jika seseorang berkata, “Bukankah di dunia saja, jika kita ingin ke sebuah tempat, maka kita bisa melalui jalan mana saja yang bisa mengantarkan ke tempat tersebut demikian juga untuk menuju surga Allah, banyak jalan kepadanya?” Jawab, “Ya. Itu jalan-jalan di dunia, karena semua jalan itu tidak ditutup. Akan tetapi untuk menuju Allah dan surga-Nya, Dia telah menutup semua jalan, dan hanya membuka satu jalan, yaitu Islam saja. Lebih jelasnya adalah apabila seseorang hendak pergi ke sebuah pusat pemerintahan, dimana sebelumnya jalan dan pintu masuknya banyak, namun untuk keamanan pihak pemerintah menutup semua jalan dan pintu kecuali satu saja, maka kita tidak bisa melewati jalan dan pintu yang lain selain jalan dan pintu yang dibukanya saja.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ»

“Demi Allah yang nyawa Muhammad di Tangan-Nya, tidaklah mendengar tentang diriku seorang pun dari umat ini, baik orang Yahudi maupun Nasrani, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa melaikan ia termasuk penghuni neraka.” (Hr. Muslim)

Maka bersyukurlah kita sebagai seorang muslim, dan kita minta kepada Allah agar Dia tidak mewafatkan kita kecuali di atas agama Islam, aamiin.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Agama Islam memiliki lima rukun, yaitu:

Pertama, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah.

Kedua, mendirikan shalat lima kali sehari.

Ketiga, menunaikan zakat.

Keempat, berpuasa Ramadhan.

Kelima, naik haji ke Baitullah bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana[i].

Ajaran-ajaran Islam begitu mulia. Islam memerintahkan kita memiliki sifat pemaaf, namun tetap memperhatikan agar kejahatan tetap diberikan hukuman yang setimpal agar tidak memunculkan kejahatan yang baru. Islam memerintahkan agar manusia selalu berbuat baik, sekalipun terhadap orang yang pernah berbuat jahat kepadanya. Islam mengajarkan manusia agar mereka banyak beribadah kepada Allah, tetapi jangan menjadi rahib yang melupakan hak diri dan orang lain. Islam memerintahkan manusia berendah hati, namun jangan melupakan harga diri.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

َالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي مَنَّ بِظَاهِرِ النِّعَمِ وَبَاطِنِهَا، وَفُرُوعِهَا وَأُصُولِهَا، فَأَعْطَى النُّفُوسَ مِنْ سَوَابِغِ نِعْمَائِهِ، غَايَةَ مُنْيَتِهَا وَمُنْتَهَى سُؤْلِهَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الَّذِي تَفَرَّدَ بِإِيصَالِ الْخَيْرَاتِ وَالْمَسَارِّ، وَدَفْعِ الْعُقُوبَاتِ وَالْمَكْرُوهَاتِ وَالْمَضَارِّ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ، بِالْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ وَالْإِقْرَارِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Termasuk hal yang seharusnya diketahui seorang muslim adalah mengenal Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Mengenal Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam

Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim, dimana Hasyim merupakan keturunan Quraisy, dan Quraisy termasuk bangsa Arab, sedangkan bangsa Arab adalah keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim Al Khalil alaihis salam.

Usia beliau 63 tahun, dimana 40 tahun sebelumnya ketika belum diangkat menjadi nabi dan rasul, dan 23 tahun setelahnya ketika menjadi nabi dan rasul.

Allah mengutus Beliau untuk memperingatkan manusia terhadap syirik dan mengajak mereka kepada tauhid (mengesakan Allah Azza wa Jalla) dan mengajarkan jalan hidup yang benar.

Kita selaku umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam wajib mengimani bahwa Beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.

Pengakuan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai hamba Allah menghendaki kita untuk tidak bersikap ifrath (berlebihan) terhadap Beliau; tidak seperti orang-orang Nasrani yang berlebihan terhadap nabi mereka sampai menuhankannya. Sedangkan pengakuan bahwa Beliau sebagai Rasul menghendaki kita untuk tidak bersikap tafrith (meremehkan) Beliau seperti orang-orang Yahudi yang meremehkan Nabi mereka. Oleh karena Beliau adalah utusan Allah, maka sikap kita seharusnya adalah memiliki adab yang tinggi terhadap Beliau, seperti menaati perintahnya, menjauhi larangannya, membenarkan sabdanya, beribadah kepada Allah sesuai contohnya, mencintainya di atas kecintaan kepada manusia seluruhnya, mengedepan sabda Beliau di atas semua perkataan manusia, menjadikan Beliau sebagai hakim terhadap semua masalah yang diperselisihkan, bershalawat dan salam kepadanya, dsb.

Dalil-dalil terhadap apa yang khatib sampaikan sangat banyak dalam Al Qur’an dan As Sunnah, di antaranya sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

«لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ»

“Janganlah kalian berlebihan terhadapku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan terhadap Isa putera Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (Hr. Bukhari)

semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang mengikuti Beliau, dikumpulkan bersamanya, dan dekat dengan Beliau di surga, aamiin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I


[i] Siapa saja yang memperhatikan urutan rukun Islam ini, maka ia akan menemukan kesesuain dan tepatnya urutan tersebut serta mengetahui kebijaksanaan syariat.

Dalam rukun yang pertama terdapat pernyataan tauhid (beribadah kepada Allah Ta'ala saja), dimana untuk itulah Allah menciptakan semua manusia, kemudian tatacaranya diterangkan oleh Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dalam rukun yang kedua, terdapat perwujudan mereka dalam mentauhidkan Allah Subhaanahu wa Ta'ala pada keseharian hidup mereka. Dengan shalat, mereka mengarahkan doa, ruku dan sujud mereka kepada Allah Ta'ala. Dengan shalat hubungan mereka dengan Tuhannya menjadi baik.

Setelah hubungan hamba dengan Tuhannya menjadi baik dengan ibadah shalat, maka  ia memperbaiki hubungannya dengan manusia dengan ibadah zakat. Sungguh sangat tepat sekali, yakni hendaknya ia perbaiki hubungan dulu dengan Tuhannya, baru kemudian ia perbaiki hubungannya dengan manusia yang lain.

Selanjutnya ada ibadah puasa, dimana dengan adanya ibadah tersebut, manusia semakin dapat bersabar di atas ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan karena telah dilatih dengan menahan diri dari hal-hal yang disukainya pada bulan ramadhan.

Setelah seorang muslim mentauhidkan Allah, beriman kepada Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan berpuasa Ramadhan, maka pantaslah ia mendapat undangan Allah Azza wa Jalla menuju rumah-Nya, dan yang mengundangnya adalah Tuhan alam semesta. Akan tetapi, karena rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, maka Dia memberikan udzur kepada hamba-Nya yang tidak sanggup mendatangi undangan-Nya.

Mengenal Aswaja (Ahlussunnah wal Jama'ah) Yang Sesunggguhnya

Selasa, 24 Maret 2026

بسم الله الرحمن الرحيم

 


Mengenal Aswaja (Ahlussunnah wal Jama'ah) Yang Sesunggguhnya

Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah akidah yang dianut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Siapa saja yang menyelisihi akidah mereka, sama saja menyiapkan dirinya untuk menerima sanksi dari Allah Azza wa Jalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang perpecahan yang akan terjadi di tengah-tengah umatnya, dimana umatnya akan terpecah belah menjadi 73 golongan, lalu Beliau bersabda,

كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

 “Semuanya di neraka kecuali satu golongan saja, yaitu Al Jama’ah.” (Hr. Ahmad dan Abu Dawud dari hadits Mu’awiyah, dan diriwayatkan pula oleh Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Abi Ashim dari hadits Anas. Hadits ini dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 204)

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati Al Jama’ah ini dengan sabdanya,

«مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي»

“Yaitu orang-orang yang berada di atas (jalan) aku hari ini dan (jalan) para sahabatku.” (Hr. Al Ajurriy dalam Asy Syari’ah dari Abdullah bin Amr, Thabrani dalam Ash Shaghir dan Al Awsath dari hadits Anas bin Malik. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5343).

Inilah batasan Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu berpegang dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah para khulafaur rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum). Hal ini ditunjukkan oleh hadits Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Aku wasiatkan kamu untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kamu meskipun yang memimpin adalah seorang budak. Karena barang siapa yang hidup di antara kamu (setelah ini), maka ia akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Hendaklah kamu berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham, dan jauhilah perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat.“ (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi, dia berkata, "Hasan shahih.")

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Pokok-pokok sunnah menurut kami adalah berpegang dengan keadaan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mengikuti mereka dan meninggalkan bid’ah.” Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah (1/156)

Ketahuilah, sumber pengambilan Akidah Islam adalah kitab Allah, Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Ijma' salafush shaalih[1].

Ringkasan Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah

Berikut ini ringkasan Akidah Ahlussunnnah wal Jama’ah yang kami ringkas dari kitab Al Mu’taqad Ash Shahih karya Dr. Abdussalam bin Barjas Al Abdul Karim rahimahullah:

1.     Ahlussunnah wal Jamaah meyakini bahwa Allah Rabbul alamin (yang sendiri menciptakan, menguasai, memberi rezeki, mengurus, dan mengatur alam semesta). Allah Azza wa Jalla berfirman,

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.” (Qs. Al Fatihah: 2)

Oleh karena Dia sebagai Rabbul alamin, maka Dia sajalah yang berhak untuk disembah dan ditujukan berbagai macam bentuk ibadah seperti doa, tawakkal, ruku dan sujud, nadzar, berkurban, dan lain-lain. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,” (Qs. Al Baqarah: 21)

Barang siapa yang mengarahkan ibadah kepada selain-Nya, maka berarti dia telah berbuat syirk dan melakukan dosa yang paling besar yang menyebabkannya berhak mendapatkan azab. Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ

“Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diazab.” (Qs. Asy Syu’ara: 213).

2.     Ahlussunnah wal Jama’ah menetapkan nama-nama dan sifat bagi Allah Ta’ala mengikuti penetapan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa meniadakan, dan tanpa menambah atau mengurangi, tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya, tanpa menakwil maknanya kepada makna lain, dan tanpa menanyakan hakikatnya bagaimana. Di antara sifat Allah adalah bersemayam di atas Arsyi-Nya (lihat QS. Thaahaa: 5), kita mengetahui maknanya dan kita serahkan kaifiyat bersemayamnya kepada Allah Ta’ala. Demikian pula di antara sifat-Nya adalah mendengar dan melihat, kita tetapkan sifat itu, kita ketahui maknanya, dan kita serahkan kaifiyat mendengar dan melihat kepada Allah Ta’ala. Allah Azza wa Jalla berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha mendengar dan melihat.” (Qs. Asy Syura: 11).

3.     Ahlussunnah wal Jama’ah beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan beriman kepada takdir.

Beriman kepada Allah mencakup beriman kepada wujud-Nya, beriman bahwa Dia Rabbul alamin dan bahwa Dia saja yang berhak disembah, serta beriman kepada nama-nama dan sifat-Nya.

Beriman kepada malaikat mencakup beriman kepada wujud mereka dan beriman kepada hal-hal lain yang disampaikan kepada kita, seperti nama-nama mereka, sifat-sifat mereka, dan tugas-tugas mereka. Jika tidak disebutkan secara rinci, maka kita beriman kepada mereka secara ijmal (garis besar).

Beriman kepada kitab-kitab mencakup beriman bahwa kitab-kitab itu turun dari sisi Allah Azza wa Jalla dan bahwa kitab-kitab itu adalah firman Allah bukan makhluk, demikian pula mengimani isinya, dan bahwa setiap umat wajib tunduk mengikuti kitab yang diturunkan kepada mereka, dan bahwa kita-kitab itu satu sama lain saling membenarkan. Demikian pula mengimani, bahwa penasakhan (penghapusan) sebagian kitab dengan kitab yang lain adalah hak (benar), sebagaimana dimansukh sebagian syariat yang ada dalam Taurat dengan Injil, dan sebagaimana kitab-kitab samawi sebelum Al Qur’an telah dimansukh oleh Al Qur’an. Beriman kepada kitab-kitab Allah bisa secara rinci, yakni jika disebutkan rinci, bisa secara ijmal, jika disebutkan secara garis besar. Demikian pula kita meyakini bahwa Al Qur’an adalah kitab samawi terakhir yang menasakh (menghapus) kitab-kitab sebelumnya, diturunkan untuk jin dan manusia, mencakup semua yang dibutuhkan manusia dalam masalah agama maupun dunia, dan terpelihara dari adanya perubahan.

Beriman kepada rasul mencakup beriman bahwa setiap umat telah diutus oleh Allah rasul untuk mengajak kepada tauhid (mengesakan Allah) dan melarang syirk, dan bahwa semua rasul adalah orang-orang yang jujur; tidak berdusta, dan bahwa mereka telah menyampaikan risalahnya. Di antara nabi dan rasul ada yang disebutkan secara rinci, maka kita imani secara rinci, dan jika disebutkan secara ijmal (garis besar), maka kita imani secara ijmal. Kita juga wajib mengimani, bahwa para rasul adalah manusia dan sebagai hamba, dan kita juga meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi dan rasul; tidak ada lagi nabi setelahnya. Barang siapa yang kafir kepada seorang rasul, maka sama saja kafir kepada semua rasul. Beriman kepada rasul juga menghendaki kita untuk mengikuti rasul yang diutus kepada kita.

Beriman kepada hari Akhir mencakup beriman kepada adanya kebangkitan setelah mati, beriman kepada pengumpulan manusia di padang mahsyar, beriman kepada syafat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beriman kepada penghisaban amal manusia, penimbangan amal mereka, beriman kepada adanya shirat (jembatan yang dibentangkan di atas neraka Jahannam), dan beriman kepada surga dan neraka.

Beriman kepada takdir mencakup beriman bahwa Allah Azza wa Jalla telah menetapkan takdir semua makhluk, dan bahwa apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Dan bahwa semua yang terjadi telah diketahui Allah, dicatat-Nya, dikehendaki-Nya, dan diciptakan-Nya. Kita juga harus meyakini, bahwa hamba memiliki kemampuan dan kehendak terhadap amal mereka, Allah yang menciptakan mereka dan menciptakan kemampuan, kehendak, ucapan, dan amal mereka. Ucapan dan perbuatan yang muncul dari mereka disandarkan kepada mereka secara hakiki, dan di sanalah letak pembalasan. Kita juga meyakini, bahwa takdir tidaklah menghalangi untuk beramal dan tidak pula mengharuskan seseorang untuk bersandar. Takdir juga punya sebab yang mengantarkan kepadanya, sebagaimana nikah sebab seorang punya anak, demikian pula amal saleh sebab seseorang masuk surga.

4.     Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa iman itu ucapan di lisan (seperti mengucapkan dua kalimat syahadat), keyakinan di hati (seperti membenarkan kalimat syahadat), dan pengamalan dengan anggota badan. Iman dapat bertambah dengan ketaatan dan dapat berkurang dengan kemaksiatan.

5.     Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah, bahwa tidak ada amalan yang jika ditinggalkan mengakibatkan kufur selain shalat. Oleh karena itu, barang siapa yang meninggalkan shalat secara mutlak (keseluruhan), maka dia kafir. Abdullah bin Syaqiq berkata, “Para sahabat tidaklah memandang suatu amal yang jika ditinggalkan kafir selain shalat.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi).

6.     Mengkafirkan seeorang adalah hak Allah. Oleh karena itu, tidak boleh seseorang dikafirkan kecuali jika dikafirkan Allah dan Rasul-Nya, atau kaum muslim sepakat mengkafirkannya. Oleh karena itu, barang siapa yang mengkafirkan seseorang bukan karena kekafiran yang disebutkan dalam Al Qur’an, As Sunnah, atau ijma’, maka dia berhak mendapatkan sanksi berat karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa menuduh kafir kepada seorang mukmin seperti membunuhnya (Sebagaimana dalam Shahih Bukhari).

Kekafiran bisa terjadi karena ucapan kufur, perbuatan kufur, atau keyakinan kufur, dan tidak termasuk syarat kufur istihlal (meyakini halal).

7.     Ada perbedaan antara takfir (pengkafiran) secara umum dan takfir mu’ayyan (perorangan). Takfir yang umum seperti ancaman yang umum, maka harus dimutlakkan dan diberlakukan secara umum. Adapun takfir mu’ayyan harus terpenuhi syarat dan hilangnya penghalang.

8.     Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa semua dosa selain syirk tidaklah mengeluarkan seseorang dari Islam kecuali jika dia meyakini halalnya. Dan bahwa semua dosa selain syirk tidaklah mengekalkan pelakunya di neraka. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar.” (Qs. An Nisaa’: 48)

Berdasarkan ayat ini, maka keadaan pelaku dosa di bawah kehendak Allah, jika Dia menghendaki, maka Dia memaafkan, dan jika Dia menghendaki, maka Dia mengazabnya di neraka, kemudian Dia mengeluarkannya karena tauhidnya.

9.     Lafaz kufur, syirk, zhalim, fasik, dan nifak dalam nash-nash syara’ terbagi dua: Pertama, akbar (besar) yang dapat mengeluarkan dari Islam karena menafikan dasar agama secara keseluruhan. Kedua, ashghar (kecil) yang menafikan kesempurnaan iman dan tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.

10. Ahlusunnah wal Jama’ah mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berwala (setia) kepada mereka, mendoakan radhiyallahu ‘anhu untuk mereka, memintakan ampunan untuk mereka, dan memuji mereka.

11. Ahlusunnah wal Jama’ah menyatakan, bahwa orang yang terbaik dari umat ini adalah Abu Bakar, lalu Umar, kemudian Utsman, lalu Ali –semoga Allah meridhai mereka-.

12. Ahlusunnah wal Jama’ah mencintai Ahlul bait (keluarga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengakui keutamaan dan kelebihan mereka. Dan termasuk Ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah istri-istri Beliau. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Qs. Al Ahzab: 33)

Dalam ayat ini Allah menyebut istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Ahlul Bait.

13. Ahlusunnah wal Jama’ah meyakini adanya karamah bagi para wali. Wali Allah menurut mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa; mereka mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Allah berfirman,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ-- الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.--(yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Qs. Yunus: 62-63)

14. Ahlusunnah wal Jama’ah meyakini bahwa Allah mewajibkan kaum mukmin menaati waliyyul amri (penguasa/pemerintah) dalam hal yang bukan maksiat. Mereka juga meyakini haramnya keluar dan mengadakan pemberontakan terhadap penguasa meskipun mereka zalim selama mereka tidak melakukan kekafiran yang jelas dalilnya.

15. Ahlusunnah wal Jama’ah meyakini bahwa mendoakan kebaikan bagi waliyyul amri termasuk perkara yang dipuji dan ditekankan. Al Fudhail bin Iyadh berkata, “Kalau sekiranya aku memiliki doa (yang mustajab), maka aku tidak jadikan kecuali untuk penguasa.” Yang demikian, karena jika mereka baik, maka hal itu buat kebaikan mereka dan kaum muslimin.

16. Ahlusunnah wal Jama’ah melarang berdebat dalam masalah agama, yakni berdebat dalam hal yang batil, memperdebatkan kebenaran setelah jelas, memperdebatkan masalah yang tidak diketahui oleh pendebat, berdebat dalam ayat-ayat mutasyabihat, atau berdebat tanpa ada niat baik, dsb.

Imam Ahmad berkata, “Pokok-pokok As Sunnah menurut kami adalah berpegang dengan apa yang dipegang para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti mereka, dan meninggalkan bid’ah, dan bahwa setiap bid’ah adalah sesat. Demikian pula meninggalkan pertikaian dan duduk-duduk dengan Ahli Hawa (Ahli Bid’ah), serta meninggalkan berbantah-bantahan dan berdebat serta bertikai dalam hal agama.”

Adapun jika berdebat dilakukan untuk menampakkan kebenaran, seperti yang dilakukan seorang ulama dan niatnya baik serta memperhatikan adab-adabnya, maka hal tersebut termasuk hal yang terpuji, Allah berfirman,

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. An Nahl: 125)

17. Ahlusunnah wal Jama’ah memperingatkan untuk tidak duduk bersama Ahlul bid’ah.

Ibnu Taimiyah berkata, “Bid’ah yang seseorang termasuk Ahlul Ahwa’ adalah yang masyhur menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah menurut orang yang mengerti Sunnah, seperti bid’ahnya Khawarij, Rafidhah, Qadariyyah, dan Murji’ah.”

Ibnu Abbas berkata, “Janganlah duduk-duduk bersama Ahli Hawa (Bid’ah), karena duduk bersama mereka dapat membuat hati menjadi sakit.”
 
(Dinukil dari kitab Tafsir Al Qur'an Minnaturr Rahman bagian mukadimah)


[1] Di antara manhaj (metode) yang perlu dipegang dalam masalah akidah adalah:

a. Membatasi dalam talaqqi (mengambil dan menerima ilmu) dalam masalah akidah kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam sambil memahami nash-nash yang ada dengan pemahaman salafush shalih.

b. Berhujjah dengan Sunnah yang shahih dalam masalah akidah dan lain-lain, baik mutawatir atau ahad.

c. Menerima semua yang disebutkan oleh wahyu dan tidak membantahnya dengan akal serta tidak mendalami masalah-masalah gaib yang tidak ada peluang bagi akal di sana.

d. Tidak mendalami ilmu kalam dan filsafat.

e. Menolak takwil yang batil.

f. Menggabung antara nash-nash yang ada dalam masalah yang sama (Lihat pula kitab Kun Salafiyyan ‘alal Jaaddah hal. 87)..

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger