Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Khutbah Jumat: Jagalah Dirimu dan Keluargamu Dari Api Neraka!

Sabtu, 02 Mei 2026

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Jagalah Dirimu dan Keluargamu Dari Api Neraka!

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam, nikmat iman, nikmat hidayah, nikmat taufiq, nikmat sehat wal afiyat dan nikmat-nikmat lainnya yang sama-sama kita rasakan yang semuanya patut untuk kita syukuri.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Tidak ada ciita-cita yang lebih baik bagi keluarga muslim daripada dapat berkumpul lagi di akhirat (di surga Allah Azza wa Jalla) sebagaimana mereka berkumpul di dunia. Hal itu dapat terwujud jika mereka di atas keimanan dan ketakwaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ

“Orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak akan mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (Qs. Ath Thur: 21)

Tetapi jika berbeda akidah dalam sebuah keeluarga, maka akan dipisahkan untuk selamanya sebagaimana dipisahkan antara Nabi Ibrahim dengan ayahnya Azar, Nabi Nuh dan Nabi Luth dengan istri mereka berdua, Nabi Nuh dengan anaknya padahal mereka adalah keluarga para nabi, lalu bagaimana dengan keluarga selain mereka, keluarga habib, kyai, ust dsb. Maka janganlah seseorang mengandalkan kesalehan ayahnya, kesalehan anaknya, kesalehan suaminya, kesalehan saudaranya, bahkan masing-masing harus beramal.

Tentang Nabi Ibrahim alaihis salam dan Azar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يَلْقَى إِبْرَاهِيمُ أَبَاهُ آزَرَ يَوْمَ القِيَامَةِ، وَعَلَى وَجْهِ آزَرَ قَتَرَةٌ وَغَبَرَةٌ، فَيَقُولُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ: أَلَمْ أَقُلْ لَكَ لاَ تَعْصِنِي، فَيَقُولُ أَبُوهُ: فَاليَوْمَ لاَ أَعْصِيكَ، فَيَقُولُ إِبْرَاهِيمُ: يَا رَبِّ إِنَّكَ وَعَدْتَنِي أَنْ لاَ تُخْزِيَنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ، فَأَيُّ خِزْيٍ أَخْزَى مِنْ أَبِي الأَبْعَدِ؟ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: " إِنِّي حَرَّمْتُ الجَنَّةَ عَلَى الكَافِرِينَ، ثُمَّ يُقَالُ: يَا إِبْرَاهِيمُ، مَا تَحْتَ رِجْلَيْكَ؟ فَيَنْظُرُ، فَإِذَا هُوَ بِذِيخٍ مُلْتَطِخٍ، فَيُؤْخَذُ بِقَوَائِمِهِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ

Nabi Ibrahim alaihis salam bertemu dengan ayahnya, Azar, pada hari kiamat. Ketika itu wajah Azar ada debu hitam lalu Ibrahim berkata kepada bapaknya, "Bukankah aku sudah katakan kepada ayah agar ayah tidak menentang aku?" Bapaknya berkata, "Hari ini aku tidak akan menentangmu?" Kemudian Ibrahim berkata, "Ya Rabbi, Engkau sudah berjanji kepadaku untuk tidak menghinakan aku pada hari berbangkit. Lalu kehinaan apalagi yang lebih hina dari pada keberadaan bapakku yang jauh (dariku)?". Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Aku mengharamkan surga bagi orang-orang kafir." Lalu dikatakan kepada Ibrahim, "Wahai Ibrahim, apa yang ada di kedua telapak kakimu?". Maka Ibrahim melihatnya yang ternyata ada seekor anjing hutan yang kotor. Maka anjing itu diambil kakinya lalu dibuang ke neraka.” (Hr. Bukhari)

Tentang Nabi Nuh dan Luth dengan istri mereka berdua, Allah Ta’ala berfirman,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu ttidak dapat menolong mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)." (Qs. At Tahrim: 10)

Tentang Nabi Nuh dengan anaknya, Allah Ta’ala berfirman,

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ (42) قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ (43)

“Bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, "Wahai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."--Anaknya menjawab, "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata, "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; Maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Qs. Huud: 42-43)

Allah Ta’ala juga berfirman saat Nabi Nuh mengadu kepada-Nya bahwa anaknya itu termasuk keluarganya yakni agar diselamatkan,

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Allah berfirman, "Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya aku memperingatkan kepadamu agar kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (Qs. Huud: 46)

Maka jika kita betul-betul ingin berkumpul bersama keluarga, jagalah akidah mereka, jagalah keislaman, jagalah keimanan mereka. Jangan sampai mereka pindah agama atau keyakinan. Lalu bagaimana cara menjaga akidah mereka? Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan membimbing dan mendidik mereka. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At Tahrim: 6)

Tentang ayat di atas, seorang mufassir bernama Qatadah berkata, “Suruh mereka menaati Allah, larang mereka bermaksiat kepada Allah, jalankan perintah Allah terhadap mereka, suruh mereka melaksanakan perintah Allah, dan bantu mereka terhadapnya. Jika engkau melihat mereka bermaksiat kepada Allah, maka peringatkan dan cegahlah mereka.”

Gambaran umum pendidikan Islami tertera di surah Luqman ayat 13-19. Dimana Luqman mengajarkan anaknya tauhid dan akidah Islam, mengajarkan ibadah, mengajarkan adab dan akhlak Islami, mengajarkan muraqabatullah (merasa diawasi Allah Azza wa Jalla), dsb.

Sebagian orang bijak berkata, “Berhati-hatilah! Jika engkau tidak memiliki waktu mendidik anak-anakmu, maka ketahuilah bahwa lingkungan memiliki waktu untuk merusak mereka."

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ نَوَّرَ بِهِدَايَتِهِ قُلُوْبَ الْعَارِفِيْنَ، وَأَقَامَ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ أَقْدَامَ السَّالِكِيْنَ.

وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، فَإِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وََرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْمُرْسَلِيْنَ، وَإِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ، وَقَائِدُ الْمُهْتَدِيْنَ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Setelah kita mengetahui bahwa cara agar tetap berkumpul bersama di akhirat adalah dengan menjaga keimanan dan keislaman mereka yang caranya adalah dengan mendidik mereka di atas pendidikan Islam, mengingatkan mereka melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Demikian juga mendorong mereka untuk menjalankan kewajiban agama seperti menyuruh mereka mendirikan shalat, berpuasa Ramadhan, memakai jilbab, dan sebagainya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ فَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا»

“Suruhlah anak melaksanakan shalat apabila telah berusia tujuh tahun. Jika sampai sepuluh tahun, maka pukullah mereka (jika enggan melaksanakannya).” (Hr. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi. Ini adalah lafaz Abu Dawud, Tirmidzi berkata, “Hadits ini hadits hasan.”)

Para Ahli Fiqh berkata, “Demikian pula disuruh mereka (anak-anak kita) menjalankan puasa untuk melatih mereka beribadah, agar jika baligh nanti ia biasa beribadah, menjalankan ketaatan, menjauhi kemaksiatan, dan meninggalkan kemungkaran, wallahul muwaffiq.”

Dari Rubayyi binti Mu’awwidz ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mengirim orang pada pagi hari Asyura untuk mengumumkan ke kampung-kampung kaum Anshar,

«مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا، فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا، فَليَصُمْ»

“Barang siapa yang pagi hari ini dalam keadaan berbuka, maka tahanlah dari berbuka pada sisa harinya, dan barang siapa yang pagi hari ini berpuasa, maka berpuasalah.”

Rubayyi berkata, “Maka setelah itu kami berpuasa Asyura dan menyuruh anak-anak kami berpuasa. Kami juga membuatkan mainan dari bulu untuk mereka, dimana ketika salah seorang di antara mereka menangis meminta makan, lalu kami berikan mainan itu hingga mereka sampai waktu berbuka.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Demikian juga hendaknya seorang ayah tanggap dan tidak membiarkan perbuatan buruk terjadi pada anak.

Jika dilihatnya anak susah mendirikan shalat, segera ingatkan. Saat anaknya masih bermain hp atau bermain bersama teman-temannya sedangkan azan telah berkumandang, maka ingatkan agar berhenti dan melaksanakan shalat.

Jika anaknya berat dibangunkan shalat, maka bayangkan jika rumah kita kebakaran, sedangkan anak kita masih tertidur di dalamnya, tentu kita akan paksa bangun, maka demikianlah yang perlu dilakukan orang tua terhadap anaknya jika sulit dibangunkan daripada membiarkannya masuk ke jurang neraka.

Jika dilihat anaknya melepas jilbab dan memamerkan aurat ke luar rumah, maka segera ingatkan dan suruh mereka menutup aurat dan beritahukan bahwa membuka aurat adalah dosa besar yang menyebabkan masuk neraka. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ، مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا»

“Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat. Pertama, orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang mereka pergunakan untuk memukul orang lain. Kedua, wanita-wanita yang berpakaian tetapi tembus pandang, tidak menutup aurat, memperlihatkan bentuk tubuhnya hingga seperti telanjang. Mereka menggoda laki-laki, berjalan dengan berlenggak-lenggok, dan rambut mereka seperti punuk unta yang miring Wanita-wanita tersebut tidak masuk surga — dan bahkan tidak akan dapat mencium wangi surga. Padahal wangi surga itu dapat tercium dari jarak yang ditempuh sekian dan sekian.'' (Hr. Muslim dari Abu Hurairah)

Jika kita lihat anak kita pacaran segera ingatkan bahwa tidaklah berduaan laki-laki dengan wanita yang bukan mahramnya melainkan yang ketiganya adalah setan, dan bahwa yang demikian hukumnya haram serta dapat mengantarkan kepada perzinaan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Ingatlah, tidaklah berduaan seorang laki-laki dengan wanita, kecuali yang ketiganya adalah setan.” (Hr. Muslim dari Umar)

Mengingatkan mereka merupakan bentuk peduli dan sayang kepada mereka.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Janganlah salah seorang di antara kamu menjadi orang hilang di tengah keluarganya, yaitu ketika ia tidak menyuruh mereka berbuat baik dan tidak mengarahkan mereka, serta tidak melarang mereka dari perbuatan buruk dan kerusakan." (Adh Dhiyaul Lami, 156)

Kita meminta kepada Allah agar Dia selalu membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya dan memberikan kita taufiq untuk dapat mengamalkannya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Khutbah Jum'at: Syukur dan Sabar, dua sikap orang mukmin dalam menjalani kehidupan di dunia

Sabtu, 01 Februari 2025

 

بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Syukur dan Sabar, dua sikap orang mukmin dalam menjalani kehidupan di dunia

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

(Dosen Kampus Islam Daarul Qur’an wa Sunnah)

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama adalah nikmat Islam, Iman, Hidayah, Taufiq, Sehat wa Afiyat, dan nikmat-nikmat lainnya yang tidak terhitung oleh kita jumlahnya.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Keadaan seseorang di dunia antara dua hal; mendapatkan nikmat –dan ini lebih sering dan lebih banyak- serta mendapatkan musibah.

Al Manawi dalam Fathul Qadir berkata, “Seorang hamba selama beban (agama) masih berlaku padanya, maka jalur-jalur kebaikan terbuka di hadapannya, karena ia berada di antara nikmat yang wajib disyukuri pemberinya dan di antara musibah yang wajib disikapi dengan sabar. Demikian pula ia berada di antara perintah yang harus ia laksanakan, dan berada pula di antara larangan yang harus ia jauhi, dan hal itu wajib sampai akhir hayat.”

Nikmat yang Allah berikan begitu banyak, sampai kita tidak sanggup menjumlahkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.” (Qs. Ibrahim: 34)

Semua itu berasal dari Allah Azza wa Jalla sebagaimana firman-Nya,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya),” (Qs. An Nahl: 53)

Akan tetapi ketika seseorang mendapatkan musibah, seringnya lupa terhadap nikmat-nikmat yang sebelumnya dirasakan. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

“Sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak berterima kasih) kepada Tuhannya.” (Qs. Al ‘Aadiyat: 6)

Menurut Al Hasan, maksud “sangat ingkar/kanuud” adalah orang yang menghitung-hitung musibah dan melupakan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya.

Kita akan mengetahui besarnya nikmat Allah Azza wa Jalla ketika nikmat itu dicabut dari kita. Kita akan mengetahui besarnya nikmat melihat, ketika kita tidak bisa melihat. Kita akan mengetahui besarnya nikmat mendengar, ketika kita tidak bisa mendengar, dan Kita akan mengetahui besarnya nikmat sehat, ketika kita sakit.

Sikap seorang mukmin ketika mendapatkan nikmat atau kebalikannya; mendapatkan musibah telah diterangkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin. Semua urusannya baik baginya, dan hal itu hanya ada pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur, maka hal itu baik baginya dan apabila dia mendapatkan musibah, ia bersabar; itu pun baik baginya.”

 

(Hr. Muslim)

Dengan demikian, sikap seorang mukmin ketika mendapatkan nikmat adalah bersyukur, dan hal ini baik baginya. Bagaimana tidak? Bukankah dengan syukur Allah jaga nikmat itu dan Dia berikan tambahan, bukankah dengan syukur Allah ridha kepadanya, dan bukankah dengan syukur Allah akan berikan pahala yang besar dan surga-Nya?

Ya, Allah Azza wa Jalla berfirman,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Sungguh, jika kamu bersyukur, maka akan Aku tambahkan (nikmat-Ku) kepadamu.” (Terj. QS. Ibrahim: 7)

وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu syukurmu itu.” (Qs. Az Zumar: 7)

وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Qs. Ali Imran: 144)

Banyaknya nikmat yang Allah Azza wa Jalla berikan

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Kalau kita perhatikan kenikmatan yang Allah berikan kepada kita saat ini, ternyata jauh melebihi kenikmatan yang dirasakan oleh generasi terdahulu, bahkan keadaan kita sekarang seperti raja di zaman dahulu.

1. Jika merasakan panas,  kita tidak perlu menggunakan kipas tangan yang melelahkan, cukup menggunakan kipas angin listrik,  bahkan bisa lebih sejuk lagi,  yaitu menggunakan AC.

2. Jika kita membutuhkan air yang sejuk atau air hangat,  kita tidak perlu mencarinya jauh-jauh, cukup mengambilnya dari kulkas atau menggunakan dispenser untuk mengambil air hangat.

3. Jika kita hendak berpesan kepada teman atau memberi kabar,  tidak harus datang langsung menemui yang bersangkutan,  bahkan cukup mengirimkan pesan lewat sms,  whatsapp, dsb. Kita juga tidak lagi menggunakan pos surat. Bahkan ada video call yang memudahkan bertatap langsung dengan yang bersangkutan. Demikian juga kita dapat mengadakan rapat bersama dengan aplikasi meeting tanpa harus bertemu fisik.

4. Perjalanan jauh yang dulu ditempuh berhari-hari bahkan berbulan-bulan, kini hanya ditempuh dalam beberapa jam menggunakan pesawat.

5. Dan lain-lain

Nikmat-nikmat itu bisa saja dicabut dari kita jika kita tidak bersyukur, maka ikatlah nikmat itu dengan syukur.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata, "Ikatlah nikmat-nikmat yang Allah berikan dengan syukur."

Lalu bagaimanakah praktek syukur itu?

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Prakteknya adalah dengan mengakui semua nikmat itu berasal dari Allah Azza wa Jalla,  memuji dan menyebut nama-Nya,  melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, serta menggunakan nikmat yang Dia berikan untuk ketaatan kepada-Nya; bukan untuk kemaksiatan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ مَنَّ بِظَاهِرِ النِّعَمِ وَبَاطِنِهَا، وَفُرُوْعِهَا وَأُصُوْلِهَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الَّذِيْ تَفَرَّدِ بِإيْصَالِ الْخَيْرَاتِ وَالْمَسَارِّ، وَدَفْعِ الْعُقُوْبَاتِ وَالْمَكْرُوْهَاتِ وَالْمَضَارِّ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى الْمُخْتاَرُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى محمد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ، وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ، بِالْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ وَالْإِقْرَارِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Setelah kita mengetahui sikap seorang mukmin ketika mendapatkan nikmat, lalu apa sikapnya ketika mendapatkan musibah?

Sikapnya adalah sabar dan itu pun baik baginya. Hal itu adalah karena musibah adalah sunnatullah di alam semesta, Dia berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Qs. Al Baqarah: 155)

Sabar inilah sikap yang terbaik yang dimiliki seorang mukmin. Bagaimana tidak? Bukankah dengan sabar penderitaannya menjadi ringan? Bukankah dengan sabar  dosa-dosanya akan diampuni? Bukankah dengan sabar dia mendapatkan pahala yang besar? Bukankah dengan sabar Allah menggantinya dengan yang lebih baik? Dan bukankah dengan sabar Allah memberinya surga?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (Qs. At Taghaabun: 11)

Al A’masy berkata dari ‘Alqamah tentang ayat, “Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan tunjuki hatinya,

maksudnya adalah seorang yang terkena musibah, ia pun mengetahui bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah sehingga ia pun ridha dan menerima.“

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Terj. QS. Az Zumar: 10)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim sebuah penyakit, kegundahan, kesedihan, gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya kecuali Allah subhaanahu wa Ta’ala akan menghapuskan dengannya kesalahannya.” (Muttafaq ‘alaihi)

Allah Azza wa Jalla berfirman,

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ (23) سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (24)

“(yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari kalangan bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedangkan malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;--(sambil mengucapkan), "Salamun 'alaikum bima shabartum"( keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Qs. Ar Ra’d: 23-24)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُصِيبُ أَحَدًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ مُصِيبَةٌ فَيَسْتَرْجِعَ عِنْدَ مُصِيبَتِهِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا فُعِلَ ذَلِكَ بِهِ

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa kepada seorang dari kaum muslimin, lalu ia beristirja’ (mengucapkan “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”) ketika mendapat musibah itu, lalu ia berkata (menambahkan), “Allahumma’jurnii fii mushibati wakhluf lii khairam minhaa.” (artinya: Ya Allah, berilah pahala terhadap musibahku dan gantilah dengan yang lebih baik), kecuali akan diberlakukan kepadanya (diganti dengan yang lebih baik)). (Hr. Ahmad dan Muslim)

Hakikat Sabar

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Sabar artinya menahan diri, yakni dia tahan hatinya dari keluh kesah, marah-marah dan dari sikap tidak menerima musibah yang terjadi, dia juga tahan lisannya dari menyatakan tidak menerima, protes, dan meratap, serta menahan anggota badannya dari sikap yang menunjukkan tidak menerima seperti menampar pipi, menjedotkan kepala, guling-guling di tanah, menyakiti diri, dsb.

Tingkatan Sabar

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Sabar memiliki beberapa tingkatan, yaitu:

1. Sabar, dalam arti menahan hati, lisan, dan tindakan dari hal yang menunjukkan tidak menerima.

2. Ridha, dalam arti dia sejuk pandangannya menerima keadaan atau musibah yang terjadi.

Ridha adalah perhiasan para wali Allah. Perhiasan mereka bukanlah gelang, kalung dan cincin, bahkan perhiasan mereka adalah ridha terhadap takdir Allah Azza wa Jalla, mereka faham bahwa musibah yang menimpa ada hikmah di balik itu, seperti untuk menghapuskan dosa-dosanya, mengangkat derajatnya, dan membuatnya memperoleh pahala yang besar.

3. Syukur, dalam arti ia berterima kasih kepada Allah Azza wa Jalla atas musibah yang menimpanya dan memuji-Nya, ia yakin bahwa itu tanda cinta Allah kepadanya, dan bahwa Dia ingin menghapuskan dosa-dosanya, meninggikan derajatnya, dan membesarkan pahalanya, serta memasukkannya ke dalam surga, sehingga ia pun bersyukur atas hal itu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْماً ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَي، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya cobaan, dan Allah apabila mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha, maka ia akan mendapatkan keridhaan-Nya dan barang siapa yang kesal terhadapnya, maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya.” (Hr. Ahmad dan Tirmidzi, Tirmidzi menghasankannya)

مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا » 

“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim, melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya, meskipun hanya terkena duri.” (Hr. Bukhari)

" إِذَا مَاتَ وَلَدُ العَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ: قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي، فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيَقُولُ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ، فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيَقُولُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ، فَيَقُولُ اللَّهُ: ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الجَنَّةِ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الحَمْدِ

 

“Apabila anak seorang hamba wafat, maka Allah berfirman kepada para malaikat-Nya, “Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?”

Mereka menjawab, “Ya.” Allah berfirman lagi, “Apakah kalian mencabut buah hatinya?” Mereka menjawab, “Ya.” Allah berfirman, “Apa yang diucapkannya?” Mereka menjawab, “Dia memuji-Mu dan mengucapkan istirja (innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un, artinya: sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali kepada-Nya),” Allah berfirman, “Buatkanlah untuk hamba-Ku istana di surga dan berilah nama dengan istana penuh pujian.” (Hr. Tirmidzi, dan dihasankan oleh Tirmidzi dan Al Albani[i])

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita sikap syukur ketika mendapatkan kenikmatan, sikap sabar ketika mendapatkan musibah, dan memberikan kepada kita istiqamah di atas agama-Nya sampai akhir hayat, aamiin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ -- وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ – وَ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


[i] Al Albani berkata dalam Ash Shahihah no. 1408, “Diriwayatkan oleh Ats Tsaqafi dalam Ats Tsaqafiyyat (3/15/2) dari Abdul Hakam bin Maisarah Al Haritsi Abu Yahya, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Alqamah bin Martsad, dari Abu Bardah dari Abu Musa Al Asy’ariy secara marfu (sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam), ia berkata, “Hadits gharib dari hadits Ats Tsauriy, aku tidak mengetahui kecuali dari jalan ini,” Adh Dhahhak bin Abdurrahman bin Arzab dan lainnya juga meriwayatkan dari Abu Musa.”

Al Albani berkata, “Hadits ini dimaushulkan oleh Tirmidzi (1/190) dan Nu’aim bin Hammad dalam Zawaid Az Zuhd (108), Ibnu Hibban (726) dari jalan Hammad bin Salamah dari Abu Sinan ia berkata, “Aku mengubur anakku Sinan, sedangkan Abu Thalhah Al Khaulani duduk di samping kubur, ketika aku hendak keluar, ia pegang tanganku dan berkata, “Maukah aku berikan kepadamu kabar gembira wahai Abu Sinan?” Aku menjawab, “Ya.” Ia menjawab, “Telah menceritakan kepadaku Adh Dhahhak bin Abdurrahman dari Abu Musa Al Asy’ariy, secara marfu -dengan menyebutkan hadits  tersebut-.” Tirmidzi berkata, “Hadits Hassan gharib.”

Al Albani berkata, “Para perawinya adalah tsiqah selain Ibnu Arzab seorang yang majhul (tidak diketahui). Mungkin penghasanan Tirmidzi adalah karena ia tahu bahwa hadits ini dimutabaahkan (diperkuat dari sahabat yang sama) sebagaimana diisyaratkan oleh ucapan Ats Tsaqafi sebelumnya, yaitu diriwayatkan oleh Adh Dhahhak bin Abdurrahman bin ‘Arzab dan lainnya,” Abu Bardah juga memutabaahkan dari Abu Musa sebagaimana pada jalan yang pertama, dan para perawinya adalah tsiqah selain Al Haritsi Abu Yahya, ia adalah dhaif sebagaimana yang dikatakan Daruquthni, namun hadits ini dengan semua jalurnya adalah hasan dalam keadaan yang paling ringan.”

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger