Khutbah Jum'at: Hikmah di Balik Musibah

Minggu, 26 Juli 2026

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Hikmah di Balik Musibah

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَي مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama adalah nikmat Islam, Iman, Hidayah, Taufiq, Sehat wa Afiyat, dan nikmat-nikmat lainnya yang tidak terhitung oleh kita jumlahnya.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Musibah atau cobaan merupakan salah satu Sunnatullah (ketetapan Allah) yang bersifat kauniyyah qadariyyah (qadar Allah terhadap alam semesta). Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami memberikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Qs. Al Baqarah: 155)

Sungguh keliru orang yang beranggapan, bahwa hamba Allah yang paling saleh adalah orang yang paling jauh dari cobaan, bahkan cobaan merupakan tanda keimanan. Di dalam hadits disebutkan,

Dari Mush’ab bin Sa’ad, dari bapaknya, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab,

«الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صُلْبًا، اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ، ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ، حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ، وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ»

“Para nabi, kemudian yang setelahnya dan setelahnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar keimanannya. Siapa yang imannya kuat, maka ujiannya pun berat, dan siapa yang imannya lemah maka ujiannya disesuaikan dengan kadar imannya. Ujian ini akan tetap menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di bumi tanpa membawa dosa.” (Hr. Tirmidzi, dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani)

Di samping itu, cobaan adalah salah satu tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْماً ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَي، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya cobaan, dan Allah apabila mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha, maka ia akan mendapatkan keridhaan-Nya, dan barang siapa yang marah, maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya.” (Hr. Ahmad dan Tirmidzi, Tirmidzi menghasankannya).

Demikian juga cobaan merupakan salah satu tanda diberikan kebaikan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِىَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, maka Allah akan mempercepat hukuman di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan bagi hamba-Nya maka ditahan hukuman itu karena dosa-dosanya sehingga ia mendapatkan balasan sempurna pada hari kiamat.” (Hr. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani)

Demikian juga sebagai penebus dosanya, meskipun bentuknya kecil. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا 

“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim, melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya, meskipun hanya terkena duri.” (HR. Bukhari)

Sebaliknya, jika seseorang diberikan dunia ini namun tetap bergelimang di atas kemaksiatan, maka ketahuilah bahwa yang demikian merupakan istidraj (penangguhan azab dari Allah). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلىَ مَعَاصِيْهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ثُمَّ تَلاَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم "فَلَمَّا نَسُوا ....الاية.

“Apabila kamu melihat Allah memberikan kenikmatan dunia yang disenangi kepada seorang hamba padahal ia berada di atas maksiat, maka sebenarnya hal itu adalah istidraj”, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam  membacakan ayat,
”Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Qs. Al An’aam: 44). (HR. Ahmad dengan isnad yang jayyid, Shahihul Jami' no. 561).

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ الْبَرِّ الرَّحِيْمِ، الْجَوَّادِ اْلكَرِيْمِ، ذِي الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ. وَالْإِحْسَانِ الْمُتَوَاتِرِ الْعَمِيْمِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الْمُتَفَرِّدُ بِالْْكَمَالِ وَحُسْنِ الْأَفْعَالِ، وَالْبِرِّ الْجَسِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ هُوَ بِالْمُؤْمِنِيْنََ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ فَسَلَكَ الصِّرَاطَ الْمُسْْتَقِيْمَ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Seorang muslim yang tertimpa musibah, jika ia seorang yang saleh, maka cobaan itu menghapuskan kesalahan-kesalahan yang lalu dan mengangkat derajatnya. Namun jika ia seorang pelaku maksiat, maka cobaan itu akan menghapuskan dosa-dosanya dan sebagai peringatan terhadap bahaya dosa-dosa itu. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada Allah)." (Qs. Al A'raaf: 168)

Yakni agar kembali beribadah kepada Allah, mengingat-Nya dan bersyukur terhadap nikmat-Nya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Kalau tidak karena cobaan dan musibah dunia, niscaya manusia terkena penyakit kesombongan, ujub (bangga diri) dan kerasnya hati. Padahal sifat-sifat ini merupakan kehancuran baginya di dunia maupun akhirat. Di antara rahmat Allah, kadang-kadang manusia tertimpa musibah yang menjadi pelindung baginya dari penyakit-penyakit hati dan menjaga kebersihan ibadahnya. Mahasuci Allah Yang merahmati manusia dengan musibah dan ujian."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Musibah yang diterima karena Allah semata, lebih baik bagimu daripada nikmat yang membuat lupa mengingat-Nya."

Di samping yang disebutkan di atas, hikmah musibah lainnya adalah:

-      Sebagai jalan menuju surga.

Surga adalah tempat yang penuh kenikmatan, tidak mungkin mencapainya dengan santai dan berleha-leha, bahkan untuk mencapainya dibutuhkan kerja keras, penderitaan, kesabaran dan kesungguhan.

Athaa' pernah berkata, “Ibnu Abbas berkata kepadaku, "Maukah kamu aku perlihatkan seorang wanita penghuni surga?" Aku (Athaa') menjawab, "Ya." Ia berkata, "Yaitu wanita hitam ini. Ia pernah datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Saya terkena penyakit ayan, dan jika sedang kambuh, auratku terbuka, maka berdoalah kepada Allah untukku!" Beliau bersabda, "Jika kamu mau bersabar, maka kamu akan masuk surga. Namun jika kamu mau, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu." Wanita itu berkata, "Aku siap bersabar. Hanya saja jika sedang kambuh auratku terbuka. Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah agar auratku tidak terbuka." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah wanita yang terkena musibah ayan ini, ia siap bersabar terhadap musibah sehingga membuatnya akan masuk surga.

Di dalam hadits lain disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah akan berkata kepada para malaikat-Nya, "Apakah kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?" Para malaikat menjawab, "Ya." Allah berfirman, "Apakah kalian telah mengambil buah hatinya?" Mereka menjawab, "Ya." Allah berfirman, "Lalu apa yang diucapkan hamba-Ku?" Mereka menjawab, "Dia memuji-Mu dan beristirja' (mengucapkan "Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun)." Allah berfirman, "Bangunkanlah untuk hamba-Ku istana di surga dan namailah dengan Baitul hamd (istana penuh dengan pujian)." (Hasan, Hr. Tirmidzi)

Dalam hadits qudsi disebutkan, bahwa Allah Ta’alaberfirman,

إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِى بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ

"Apabila Aku memberi cobaan kepada hamba-Ku dengan (dijadikan buta) kedua mata yang dicintainya, ia pun bersabar, maka Aku akan menggantinya dengan surga." (Hr. Bukhari dan Muslim)

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya sikap kesal dan keluh kesah, tidak dapat menghilangkan musibahmu, bahkan hanya menambah derita dan dosa.

Hikmah lain dari musibah adalah:

-      Membawa keselamatan dari api neraka dan membersihkan dosa-dosa.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang penyakit demam,

اَلْحُمَّى حَظُّ كُلِّ مُؤْمِنٍ مِنَ النَّارِ

"Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka." (HR. Al Bazzar, Silsilah Ash Shahiihah no. 1821)

Di dalam hadits lain juga disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila menjenguk orang sakit berkata kepadanya, "Laa ba'sa thahuur insya Allah." Artinya: Tidak apa-apa, penyakit itu akan membersihkan (dosa-dosamu) insya Allah. (Hr. Bukhari)

-      Menyadari betapa besarnya nikmat sehat.

Seseorang akan merasakan besarnya nikmat sehat ketika sakit. Ketika seseorang sakit gigi misalnya, ia akan merasakan begitu besar nikmat gigi yang sehat. Ketika telinganya tersumbat sesuatu sehingga tidak dapat mendengar secara jelas, ia akan merasakan besarnya nikmat bisa mendengar dengan baik, dsb. Dengan demikian, ia pun dapat bersyukur dan merasakan begitu besarnya nikmat yang diberikan Allah kepada dirinya.

Kita meminta kepada Allah Azza wa Jalla agar menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang bersabar ketika mendapatkan musibah, dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ -- وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ – وَ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Khutbah Jum'at : Di Mana Letak Kepedulian Kita?

Jumat, 17 Juli 2026

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Di Mana Letak Kepedulian Kita?

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam dan nikmat taufiq, sehingga kita dapat melangkahkan kaki kita menuju rumah-Nya melaksanakan salah satu perintah-Nya yaitu shalat Jumat berjamaah.

Shalawat dan salam tidak lupa kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا» ، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ» ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»

“Hampir saja tiba saatnya bangsa-bangsa mengerumunimu sebagaimana para undangan mengerumuni makanan yang ada di atas piring,” lalu ada seorang yang bertanya, “Apakah karena jumlah kita sedikit ketika itu?” Beliau menjawab, “Bahkan ketika itu jumlah kalian banyak. Akan tetapi kalian seperti buih, yaitu buih di aliran air. Allah akan mencabut dari dada-dada musuh kalian rasa takut kepada kalian dan menanamkan ke dalam hati kalian Al Wahn.” Kemudian ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu wahn?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (Hr. Ahmad dan Abu Dawud dari Tsauban, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 8183)

Benar sekali apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umat Islam saat ini menjadi santapan musuh-musuhnya, mereka diserang, ditindas, dijajah, dizalimi, dan bahkan diusir dari kampung halamannya. Jika kita bertanya kepada diri kita; apakah jumlah kita umat Islam saat ini sedikit? jawabnya “Tidak,” bahkan jumlah kita banyak, tetapi keadaan kita seperti buih di aliran air yang tidak berkualitas sama sekali karena jauh dari nilai-nilai Islam dan tidak diperhitungkan lagi oleh musuh-musuh Islam.

Sekarang mari kita tengok keadaan kaum muslimin di belahan dunia:

Kaum muslimin di Palestina

Dari sejak Oktober 2023 hingga saat ini (Juli 2026 atau 1447/1448 H) telah lebih dari 73.000 kaum muslimin gugur  dibantai dan digenosida oleh penjajah Zionis, rumah-rumah, masjid-masjid, sekolah-sekolah, bahkan rumah sakit pun dihancurkan oleh mereka, padahal umat Islam dan negara-negara Islam banyak jumlahnya, tetapi entah di mana mereka dan mengapa banyak yang diam terhadap saudaranya? Apakah mereka mengira dengan bersikap diam, mereka tidak akan ditanya di hadapan Allah Azza wa Jalla? Dan apakah demikian sikap yang benar? Tidakkah mereka mendengar sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بالْحُمَّى والسَّهَرِ

“Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi dan mengasihi adalah seperti sebuah jasad; jika salah satunya sakit, maka yang lain ikut merasakannya dengan demam dan tidak bisa tidur.” (Hr. Muslim dari Nu’man bin Basyir)

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

"Orang mukmin bagi orang mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, yang satu dengan yang lain saling menguatkan." (Hr. Bukhari dan Muslim)

«الْمُسْلِمُونَ كَرَجُلٍ وَاحِدٍ، إِنِ اشْتَكَى عَيْنُهُ، اشْتَكَى كُلُّهُ، وَإِنِ اشْتَكَى، رَأْسُهُ اشْتَكَى كُلُّهُ»

“Kaum muslim seperti satu orang, jika matanya sakit, maka akan merasa sakit semua badannya. Jika kepalanya sakit, maka semua badannya juga ikut merasakan sakit.” (Hr. Muslim)

Tidakkah mereka takut teguran Allah Subhaanahu wa Ta'ala pada hari Kiamat kepada seorang hamba karena tidak peduli dengan saudaranya, Dia berfirman dalam hadits Qudsi,

يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِى . قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ . قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِى فُلاَنًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِى عِنْدَهُ يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِى . قَالَ يَا رَبِّ وَكَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ . قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِى فُلاَنٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِى . قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ اسْتَسْقَاكَ عَبْدِى فُلاَنٌ فَلَمْ تَسْقِهِ أَمَا إِنَّكَ لَوْ سَقَيْتَهُ وَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى » .  

"Wahai anak Adam! Aku sakit, namun kamu tidak menjengukku." Ia (anak Adam) berkata, "Wahai Tuhanku, bagaimana aku menjengukmu, sedangkan Engkau Rabbul 'alamin?" Allah berfirman, "Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Kalau sekiranya kamu mau menjenguk, tentu kamu akan mendapati-Ku di sisinya. Wahai anak Adam! Aku meminta makan kepadamu, namun kamu tidak memberi-Ku makan." Ia berkata, "Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu makan, padahal Engkau Rabbul 'alamin?" Allah berfirman, "Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya. Kalau sekiranya kamu mau memberi, tentu kamu akan mendapatkan yang demikian di sisi-Ku. Wahai anak Adam! aku meminta minum kepadamu, namun kamu tidak memberi-Ku minuman." Ia berkata, "Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Rabbul 'alamin?" Allah berfirman, "Hamba-Ku si fulan telah meminta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya. Kalau sekiranya kamu mau memberinya, tentu kamu akan mendapatkan yang demikian itu di sisi-Ku." (Hr. Muslim)

Di samping itu ada 9.000 lebih saudara kita warga Palestina yang mendekam di penjara Zionis, mereka disiksa, dibuat kelaparan, dibunuh, dan lain-lain. Di antara tawanan itu ada wanita dan anak-anak. Di manakah kaum muslimin? Di mana negara-negara Islam yang banyak jumlahnya? Di mana letak kepedulian kita?”

Tidakkah mereka menginginkan keselamatan di akhirat, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Barang siapa yang menghilangkan satu derita (kesulitan) dari derita-derita dunia yang menimpa seorang mukmin, maka Allah akan menghilangkan satu derita dari derita-derita hari kiamat, dan barang siapa yang memudahkan orang yang susah, niscaya Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat, dan barang siapa menutupi aib seorang muslim niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat, dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya apabila hamba tersebut mau menolong saudaranya.” (Hr. Muslim)

Kaum muslimin di Uighur

Demikian pula yang dialami saudara kita di Uighur, dimana bangsa Cina telah menjajah mereka, menindas mereka, mengusir mereka, merobohkan masjid-masjid Allah, memisahkan anak-anak mereka dengan orang tuanya, memenjarakan kaum muslimin, dan merendahkan syiar-syiar Islam. Di manakah kaum muslimin? Di mana negara-negara Islam yang banyak jumlahnya? Apakah mereka tetap diam saja melihat saudaranya ditindas? Di mana letak kepedulian kita?”

Kaum muslimin di Sudan

Demikian pula yang dialami saudara kita di Sudan, sejak April 2023 hingga saat ini telah mencapai 150.000 lebih kaum muslimin yang tewas, dan lebih dari 552 ribu anak-anak meninggal karena kekurangan gizi. Sekali lagi kami bertanya, “Di manakah kaum muslimin? Di mana Negara-negara Islam yang banyak jumlahnya? Di mana letak kepedulian kita?”

Sesungguhnya pada cobaan dan ujian tersebut menghendaki kita bangun dari tidur kita, sadar dari kelalaian kita, dan bahwa kita sedang dijauhkan dari agama kita oleh musuh-musuh kita. Demikian pula agar semakin jelas siapa yang membela agama Allah dan menolong hamba-hamba-Nya, dan siapa yang menelantarkannya, Dia berfirman,

وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

Dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal dia tidak melihat-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Qs. Al Hadid: 25)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ ِللهِ نَاصِرِ الْمَظْلُوْمِيْنَ وَمُنْجِي الْمُسْتَضْعَفِيْنَ وَقَاصِمِ الْجَبَابِرَةِ وَالْمُتَكَبِّرِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَوَأَشْهد أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ أَرْسَلَهُ اللهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ  اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنََ . أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Jika kita ingin memperoleh pertolongan dan perlindungan Allah  serta keselamatan dari-Nya di dunia dan di akhirat, caranya adalah dengan menolong dan membantu saudara kita kaum muslimin yang terzalimi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ القِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ»

“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan membiarkannya terzalimi. Barang siiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa yang menghilangkan satu penderitaan yang menimpa seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan penderitaannya nanti di hari Kiamat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Menolong orang yang terzalimi adalah fardhu kifayah bagi kaum mukmin. Siapa yang sudah melakukannya, maka gugur kewajiban itu bagi yang lain. Hal ini menjadi wajib bagi pemimpin, kemudian bagi orang yang memiliki kemampuan menolong jika tidak ada yang mau menolong selainnya, baik ia sebagai pemimpin maupun yang lain.” (Umdatul Qari 6/573)

Terkait Palestina, para ulama yang tergabung dalam Al Ittihad Al ‘Alami Li Ulama’il Muslimin (Persatuan Ulama Muslim Dunia) berkata,

وَاجِبٌ شَرْعًا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ بَالِغٍ اَنْ يُقَدِّمَ الدَّعْمَ الْعَسْكَرِيَّ وَالْمَالِيَّ وَالسِّيَاسِيَّ وَالْحُقُوْقِيَّ لِلْمُقَاوَمَةِ اْلفِلِسْطِيْنِيَّةِ فِي غَزَّةَ فَوْرًا دُوْنَ أَيِّ تَأْخِيْرِ

"Merupakan kewajiban agama bagi setiap Muslim dewasa untuk memberikan dukungan militer, keuangan, politik, dan hukum kepada Perlawanan Pembelaan Palestina di Gaza dengan segera dan tanpa menunda.”

Terkait Uighur, perwakilan mereka telah mendatangi sebagian negeri kaum muslimin untuk meminta bantuannya sebagaimana kami sebutkan dalam channel kami ini:

https://t.me/wawasan_muslim/3368

Terkait Sudan, Persatuan Ulama Muslim Dunia menyerukan kepada Organisasi Kerja Sama Islam dan Uni Afrika untuk menjalankan tanggung jawab historis mereka terhadap Sudan dan pemerintah yang sah, serta bekerja untuk menghentikan pertempuran dan menyelamatkan warga sipil. Persatuan Ulama Muslim Dunia juga menyerukan kepada para pemimpin agama, ulama, dan Dai di Sudan untuk menjalankan peran mereka dalam perbaikan, menghentikan pertumpahan darah, dan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Allah Ta'ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu." (QS Al-Hujurat: 10)

Hal ini sebagaimana yang kami liris fatwanya di link ini: https://t.me/wawasan_muslim/25670

Dengan demikian, hendaknya kaum muslimin bersatu membantu saudaranya yang tertindas. Negeri-negeri Islam seperti yang tergabung dalam OKI jika memungkinkan perlu membentuk pasukan seperti halnya Nato dalam PBB, demikian pula baik pemerintah maupun rakyat peduli dengan saudaranya tertindas. Bagi seorang yang memiliki kedekatan dengan pemerintah bisa menyampaikan kepada pemerintah akan kewajiban menolong saudaranya yang tertindas, bagi kaum muslimin hendaknya membantu baik dengan doa, harta, maupun tenaga. Demikian pula para khatib hendaknya mendorong kaum muslimin untuk membantu mereka dengan apa yang bisa mereka bantu.

Khatimah

Sebagai penutup, kami sampaikan kisah menarik bagaimana Ibnu Taimiyah datang langsung ke hadapan pemerintah untuk membela kaum muslimin yang tertindas sebagaimana dalam kitab Dzail Thabaqat Al Hanabilah sebagai berikut:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah bersafar memakan perjalanan satu barid (kurang lebih 20 km lebih) ke Mesir guna meminta pemerintah (Sultan Bani Mamalik An Nashir Muhammad Qalawun) menghadapi pasukan Tartar yang datang pada tahun tertentu, lalu beliau membacakan ayat-ayat tentang jihad, ia berkata,  “Jika kalian biarkan Syam dan tidak menolong penduduknya serta tidak membela mereka, maka Allah Ta’ala akan menampilkan orang-orang yang menolong mereka; bukan kalian, dan mengganti dengan selain kalian.” Kemudian beliau membacakan ayat,

وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

“Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” (Terj. Qs. Muhammad ayat 38) dan ayat,

إِلَّا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا

“Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat merugikan-Nya sedikit pun.” (Qs. At Taubah: 39)

Berita ini pun sampai ke telinga Syaikh Taqiyyuddin ibnu Daqiqil ‘Ied yang ketika itu menjabat sebagai hakim, maka ia menganggap baik hal itu dan membuatnya kagum terhadap istinbath (kesimpulan fiqih) dari ayat tersebut, ia juga kagum dengan sikap Syaikhul Islam yang menghadap Sultan menyampaikan kalimat tersebut.” (Adz Dzail ‘ala Thabaqatil Hanabilah hal. 510)

Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla, agar Dia memunculkan kembali orang-orang yang membela agama-Nya semisal Umar bin Khaththab yang berhasil melumpuhkan dua negara adidaya dunia; Romawi dan Persia, Shalahuddin Al Ayyubi yang berhasil mengembalikan izzah Islam dalam perang salib, dan Saifuddin Al Qutz yang berhasil menaklukkan Mongol dalam perang ‘Ain Jalut. Kita meminta kepada Allah Azza wa jalla agar Dia memunculkan kembali orang-orang yang semisal dengan mereka; yang memuliakan agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, dan membela hamba-hamba-Nya. Yaa Dzal Jalaali wal Ikram.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Terjemah Bulughul Maram (21)

Minggu, 12 Juli 2026

 

بسم  الله الرحمن الرحيم



Terjemah Bulughul Maram (21)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut lanjutan terjemah Bulughul Maram karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan buku ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Dalam menyebutkan takhrijnya, kami banyak merujuk kepada dua kitab; Takhrij dari cetakan Darul ‘Aqidah yang banyak merujuk kepada kitab-kitab karya Syaikh M. Nashiruddin Al Albani rahimahullah, dan Buluughul Maram takhrij Syaikh Sumair Az Zuhairiy –hafizhahullah- yang kami singkat dengan ‘TSZ’.

كِتَابُ اَلصَّلَاةِ

Kitab Shalat

بَابُ صَلَاةِ اَلْخَوْفِ

Bab shalat khauf

501- عَنْ صَالِحِ بْنِ خَوَّاتٍ, , عَمَّنْ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ r يَوْمَ ذَاتِ اَلرِّقَاعِ صَلَاةَ اَلْخَوْفِ: أَنَّ طَائِفَةً صَلَّتْ مَعَهُ وَطَائِفَةٌ وِجَاهَ اَلْعَدُوِّ, فَصَلَّى بِاَلَّذِينَ مَعَهُ رَكْعَةً, ثُمَّ ثَبَتَ قَائِمًا وَأَتَمُّوا لِأَنْفُسِهِمْ, ثُمَّ اِنْصَرَفُوا فَصَفُّوا وِجَاهَ اَلْعَدُوِّ, وَجَاءَتِ اَلطَّائِفَةُ اَلْأُخْرَى, فَصَلَّى بِهِمْ اَلرَّكْعَةَ اَلَّتِي بَقِيَتْ, ثُمَّ ثَبَتَ جَالِسًا وَأَتَمُّوا لِأَنْفُسِهِمْ, ثُمَّ سَلَّمَ بِهِمْ -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ . وَوَقَعَ فِي "اَلْمَعْرِفَةِ" لِابْنِ مَنْدَهْ, عَنْ صَالِحِ بْنِ خَوَّاتٍ, عَنْ أَبِيهِ

501. Dari Shalih bin Khawwat radhiyallahu 'anhu dari para sahabat yang ikut shalat khauf bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada peperangan Dzaatur riqaaa’: “Bahwa segolongan para sahabat Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam ikut shalat bersama Beliau, sedangkan segolongan yang lain bersiaga menghadap musuh, maka Beliau pun shalat dengan segolongan yang bersama Beliau satu rakaat, lalu Beliau tetap berdiri dan para sahabat menyempurnakan shalatnya masing-masing, setelah itu mereka semua pergi dan berbaris menghadang musuh. Kemudian datanglah segolongan yang sebelumnya menghadang musuh lalu Beliau shalat dengan mereka satu rakaat kurangnya, Beliau pun tetap dalam keadaan duduk dan para sahabat pun masing-masing menyempurnakan yang kurangnya, setelah itu Beliau salam bersama mereka.” (Muttafaq 'alaih, lafaz ini adalah lafaz Muslim, sedangkan dalam Al Ma’rifah karya Ibnu Mandah disebutkan dari Shalih bin Khawwat dari bapaknya)[i]

502- وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: , غَزَوْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ r قِبَلَ نَجْدٍ, فَوَازَيْنَا اَلْعَدُوَّ, فَصَافَفْنَاهُمْ, فَقَامَ رَسُولُ اَللَّهِ r يُصَلِّي بِنَا, فَقَامَتْ طَائِفَةٌ مَعَهُ, وَأَقْبَلَتْ طَائِفَةٌ عَلَى اَلْعَدُوِّ, وَرَكَعَ بِمَنْ مَعَهُ, وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ, ثُمَّ انْصَرَفُوا مَكَانَ اَلطَّائِفَةِ الَّتِي لَمْ تُصَلِّ فَجَاءُوا, فَرَكَعَ بِهِمْ رَكْعَةً, وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ, ثُمَّ سَلَّمَ, فَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ, فَرَكَعَ لِنَفْسِهِ رَكْعَةً, وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَهَذَا لَفْظُ اَلْبُخَارِيِّ

502. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma ia berkata, “Aku pernah ikut berperang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ke bagian arah Nejd, kami berhadapan dengan musuh, kami pun kemudian membuat barisan, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri shalat mengimami kami, sekelompok ikut shalat bersama Beliau sedangkan sekelompok yang lain bersiaga menghadang musuh. Sekelompok yang bersama Beliau melakukan ruku dan sujud dua kali lalu mereka pergi ke tempat sekelompok yang belum shalat. Mereka pun datang, lalu Beliau melakukan ruku bersama mereka dan sujud dua kali kemudian salam, maka masing-masing dari kelompok itu berdiri lalu melakukan ruku sendiri-sendiri dan sujud dua kali.” (Muttafaq ‘alaih, lafaz ini adalah lafaz Bukhari)[ii]

503- وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ: , شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ r صَلَاةَ اَلْخَوْفِ، فَصَفَّنَا صَفَّيْنِ: صَفٌّ خَلْفَ رَسُولِ اَللَّهِ r وَالْعَدُوُّ بَيْنَنَا وَبَيْنَ اَلْقِبْلَةِ, فَكَبَّرَ اَلنَّبِيُّ r وَكَبَّرْنَا جَمِيعًا, ثُمَّ رَكَعَ وَرَكَعْنَا جَمِيعًا, ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ اَلرُّكُوعِ وَرَفَعْنَا جَمِيعًا, ثُمَّ اِنْحَدَرَ بِالسُّجُودِ وَالصَّفُّ اَلَّذِي يَلِيهِ, وَقَامَ اَلصَّفُّ اَلْمُؤَخَّرُ فِي نَحْرِ اَلْعَدُوِّ, فَلَمَّا قَضَى اَلسُّجُودَ, قَامَ اَلصَّفُّ اَلَّذِي يَلِيهِ... -  فَذَكَرَ اَلْحَدِيثَ. وَفِي رِوَايَةٍ: , ثُمَّ سَجَدَ وَسَجَدَ مَعَهُ اَلصَّفُّ اَلْأَوَّلُ, فَلَمَّا قَامُوا سَجَدَ اَلصَّفُّ اَلثَّانِي, ثُمَّ تَأَخَّرَ اَلصَّفُّ اَلْأَوَّلِ وَتَقَدَّمَ اَلصَّفُّ اَلثَّانِي... -  فَذَكَرَ مِثْلَهُ. وَفِي آخِرِهِ: , ثُمَّ سَلَّمَ اَلنَّبِيُّ r وَسَلَّمْنَا جَمِيعًا -  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

503. Dari Jabir radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Aku pernah ikut shalat khauf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kami pun berbaris dua shaf, satu shaf di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan musuh berada di antara kami dan kiblat, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir, kami pun semua bertakbir, Beliau ruku maka kami pun ikut ruku’, Beliau mengangkat kepalanya dari ruku’ maka kami pun mengangkat kepala semuanya, lalu Beliau turun sujud bersama shaf yang dekat dengan Beliau dan shaf terakhir tetap berdiri menghadap musuh, ketika Beliau telah sujud maka  bangunlah shaf yang dekat dengan Beliau…dst. Sedangkan dalam sebuah riwayat disebutkan, “Kemudian Beliau sujud dan sujud bersama Beliau shaf pertama, ketika mereka semua bangun maka sujudlah shaf kedua, lalu shaf bertama mundur dan shaf kedua maju…dst. Sama seperti di atas. Di bagian akhirnya disebutkan, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian salam dan kami pun semua salam.” (Diriwayatkan oleh Muslim)[iii]

504- وَلِأَبِي دَاوُدَ: عَنْ أَبِي عَيَّاشٍ الزُّرَقِيِّ مِثْلُهُ, وَزَادَ: , أَنَّهَا كَانَتْ بِعُسْفَانَ -

504. Dan dalam riwayat Abu Dawud dari Abu ‘Ayyasy Az Zuraqiy sama seperti itu namun ada tambahan, “Hal itu terjadi ketika di ‘Usfan”.[iv]

505- وَلِلنَّسَائِيِّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْ جَابِرٍ , أَنَّ اَلنَّبِيَّ r صَلَّى بِطَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ رَكْعَتَيْنِ, ثُمَّ سَلَّمَ, ثُمَّ صَلَّى بِآخَرِينَ أَيْضًا رَكْعَتَيْنِ, ثُمَّ سَلَّمَ -

505. Sedangkan dalam riwayat Nasa’i dari jalur yang lain dari Jabir bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat dengan segolongan para shahabat dua rakaat lalu salam, kemudian shalat dengan yang lain juga dua rak’at lalu salam.”[v]

506- وَمِثْلُهُ لِأَبِي دَاوُدَ, عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

506. Demikian juga dalam riwayat Abu Dawud dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu.[vi]

507- وَعَنْ حُذَيْفَةَ: , أَنَّ اَلنَّبِيَّ r صَلَّى صَلَاةَ اَلْخَوْفِ بِهَؤُلَاءِ رَكْعَةً, وَبِهَؤُلَاءِ رَكْعَةً, وَلَمْ يَقْضُوا -  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

507. Dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat khauf dengan sebagian sahabat satu rakaat dan dengan sebagian sahabat yang lain satu rakaat, mereka semua tidak mengqadhanya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan Nasa’i, serta dishahihkan oleh Ibnu Hibban)[vii]

508- وَمِثْلُهُ عِنْدَ ابْنِ خُزَيْمَةَ: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ

508. Sama juga seperti itu dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.[viii]

509- وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r , صَلَاةُ اَلْخَوْفِ رَكْعَةٌ عَلَى أَيِّ وَجْهٍ كَانَ -  رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

509. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Shalat khauf itu satu rakaat bagaimana pun keadaannya.” (Diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan isnad yang dha’if)[ix]

510- وَعَنْهُ مَرْفُوعًا: , لَيْسَ فِي صَلَاةِ اَلْخَوْفِ سَهْوٌ -  أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

510. Darinya (Ibnu Umar) secara marfu’, “Dalam shalat khauf tidak ada (sujud) sahwi.” (Diriwayatkan oleh Daruquthni dengan isnad yang dha’if)[x]

 

Bersambung….

Wa shallallahu 'alaa Nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Alih Bahasa:

Marwan bin Musa



[i] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (4130) dalam Al Maghaaziy, Muslim (842) bab Shalatul khauf, sedangkan Muslim di nomor 841 dari Shalih bin Khawwat dari Sahl bin Abi Hatsmah. Lihat Al Misykaat (1421). Dalam Fathul Bariy disebutkan, “Ini adalah zhahirnya riwayat Bukhari, namun yang rajih (kuat) bahwa bahwa bapaknya adalah Khawwat bin Jubair, Karena Abu Uwais meriwayatkan hadits ini dari Yazid bin Rumaan guru Malik, ia berkata, “Dari Shaalih bin Khawwat dari bapaknya,” diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dalam Ma’rifatush Shahaabah dari jalurnya, juga diriwayatkan oleh Baihaqi dari jalan Ubaidullah bin Umar, dari Al Qaasim bin Muhammad, dari Shalih bin Khawwat dari bapaknya. Imam Nawawiy memastikan dalam Tahdzibnya bahwa ia adalah Khawwat bin Jubair, ia katakan, “Ini sudah benar berdasarkan riwayat Muslim dan lainnya.” [lihat Fathul Baariy (7/487)].

Dalam TSZ dijelaskan bahwa dalam Bukhari-Muslim lafaznya adalah “Shaffat (membuat shaf)” sebagai ganti dari “shallat”.

[ii] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (942) dalam Al Khauf, Muslim (839) bab Shalaatul Khauf .

[iii] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (840) dalam Shalaatul musaafiriin wa qashruhaa, bab Shalaatul Khauf. Al Misykaat (1423) .

[iv] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (1236) bab Shalatul Khauf, dan dalam Shahih Abu Dawud karya Al Albani (1236) .

Dalam TSZ disebutkan lafaznya sbb,

عن أبي عياش الزرقي قال: كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بعسفان، وعلى المشركين خالد بن الوليد، فصلينا الظهر، فقال المشركون: لقد أصبنا غرة. لقد أصبنا غفلة، لو كنا حملنا عليهم وهم في الصلاة، فنزلت آية القصر بين الظهر والعصر، فلما حضرت العصر، قام رسول الله صلى الله عليه وسلم، مستقبل القبلة والمشركون أمامه، فصف خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم صف، وصف بعد ذلك الصف صف آخر، فركع رسول الله صلى الله عليه وسلم وركعوا جميعا، ثم سجد وسجد الصف الذين يلونه، وقام الآخرون يحرسونهم، فلما صلى هؤلاء السجدتين وقاموا سجد الآخرين الذين كانوا خلفهم، ثم تأخر الصف الذي يليه إلى مقام الآخرين، وتقدم الصف الأخير إلى مقام الصف الأول، ثم ركع رسول الله صلى الله عليه وسلم وركعوا جميعا، ثم سجد وسجد الصف الذي يليه، وقام الآخرون يحرسونهم فلما جلس رسول الله صلى الله عليه وسلم والصف الذي يليه الآخرون، ثم جلسوا جميعا، فسلم عليهم جميعا، فصلاها بعسفان، وصلاها يوم بني سليم

Dari Abu ‘Ayyaasy Az Zuraqiy ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di Usfaan, ketika itu pemimpin kaum musyrikin adalah Khalid bin Al Walid, lalu kami shalat Zhuhur, kaum musyrikin berkata, “Kita lalai, kita lupa, alangkah baiknya kalau kita serang mereka ketika mereka sedang shalat, maka turunlah ayat perintah mengqashar shalat Zhuhur dan ‘Ashar, ketika tiba waktu ‘Ashar, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri menghadap kiblat, sedangkan kaum musyrikin di hadapannya, maka Satu shaf berbaris di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, setelah shaf itu ada shaf lagi yang lain, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ruku’, yang lain pun ruku’ semua, kemudian Beliau sujud dan ikut sujud juga shaf yang di dekat Beliau, sedangkan shaf yang lain berdiri menjaga mereka, ketika shaf (yang dekat dengan Beliau) telah menyelesaikan dua kali sujud, merekapun berdiri, sedangkan shaf yang lain yang berada di belakang mereka sujud, kemudian shaf yang berada di dekat Beliau menggantikan posisi shaf yang berada di belakangnya, sedangkan shaf yang di belakang menggantikan posisi shaf pertama, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ruku dan ikut ruku juga semuanya, kemudian Beliau sujud dan ikut sujud dengan Beliau shaf yang di dekatnya, sedangkan shaf yang lain berdiri menjaga mereka, ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk, demikian juga shaf yang berada di dekatnya, maka yang lain pun ikut duduk, lalu Beliau melakukan salam bersama mereka, hal itu Beliau lakukan ketika di Usfan dan ketika hari Bani Salim.”

[v] Shahih, diriwayatkan oleh Nasa’i (1552) dalam Shalaatul Khauf, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih An Nasaa’i dengan no. 1551, dan ia menisbatkan kepada Muslim (2/215) .

[vi] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (1248) bab man qaala yushalliy bikulli thaa’ifatin rak’atain, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud (1248).

[vii] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (1246), Nasa’i no. (1529-1530) dalam Shalatul Khauf, Ibnu Abi Syaibah (2/115/1), Thahawiy (1/183), Hakim (1/335) dan Ahmad (5/385, 399) dari jalan Sufyan dari Asy’ats bin Abisy Sya’tsaa’, dari Al Aswad bin Hilal dari Tsa’labah bin Zuhdam Al Hanzhaliy ia berkata,”Kami pernah bersama Sa’id di Thibristan ia pun berdiri dan berkata,”Siapa di antara kalian yang pernah shalat khauf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?” Maka Hudzaifah berkata, “Saya”, ia pun kemudian shalat dengan sebagian golongan satu rakaat dan dengan yang lain satu rakaat, dan mereka tidak mengqadhanya.” Al Albani berkata: “Dan ini isnad yang shahih sebagaimana dikatakan Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabiy serta dishahihkan juga oleh Ibnu Hibban seperti dalam Bulughul Maram, para perawinya adalah tsiqah dan ia adalah perawi Muslim selain Al Aswad, Ibnu Hazm (5/35) berkata, ”Ia adalah seorang shahabiy Hanzhaliy, dan jamaah (ahli hadits) memastikan keshahihannya di antaranya Ibnu Hibban dan Ibnus Sakan, namun Bukhari dan lainnya menafikannya. [lihat Shahih Abu Dawud (1246), Al Irwaa’ (3/44)] .

[viii] Isnadnya shahih, Shahih Ibnu Khuzaimah (1344) ta’liq Al Albani, dan isnadnya shahih.

[ix] Al Haitsami berkata dalam Majma’uz Zawaa’id (2/196), “Diriwayatkan oleh Al Bazzar, dan dalam sanadnya ada Muhammad bin Abdurrahman bin Al Baylamaaniy, Bukhari dan Abu Haatim mengatakan, “Munkar haditsnya.” Sedangkan Daruquthni dan lainnya berkata, “Dha’if” .

[x] Diriwayatkan oleh Daruquthni dalam Sunannya (2/58) ia berkata, ”Abdul Hamid bin As Sirriy menyendiri dalam meriwayatkan, ia adalah orang yang dha’if.”

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger