Terjemah Bulughul Maram (25)

Selasa, 29 September 2026

 بسم  الله الرحمن الرحيم



Terjemah Bulughul Maram (25)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut lanjutan terjemah Bulughul Maram karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan buku ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Dalam menyebutkan takhrijnya, kami banyak merujuk kepada dua kitab; Takhrij dari cetakan Darul ‘Aqidah yang banyak merujuk kepada kitab-kitab karya Syaikh M. Nashiruddin Al Albani rahimahullah, dan Buluughul Maram takhrij Syaikh Sumair Az Zuhairiy –hafizhahullah- yang kami singkat dengan ‘TSZ’.

بَابُ اَللِّبَاسِ

Bab Pakaian

548- عَنْ أَبِي عَامِرٍ اَلْأَشْعَرِيِّ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r , لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ اَلْحِرَ وَالْحَرِيرَ -  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَأَصْلُهُ فِي اَلْبُخَارِيِّ

548. Dari Abu Amir Al Asy’ari radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya akan ada pada umatku beberapa orang yang menganggap halal zina dan sutera.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan asalnya di Bukhari)[i]

549-وَعَنْ حُذَيْفَةَ t قَالَ: , نَهَى اَلنَّبِيُّ r أَنْ نَشْرَبَ فِي آنِيَةِ اَلذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ, وَأَنْ نَأْكُلَ فِيهَا, وَعَنْ لُبْسِ اَلْحَرِيرِ وَالدِّيبَاجِ, وَأَنْ نَجْلِسَ عَلَيْهِ -  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

549. Dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kami minum dengan bejana emas dan perak, dan melarang kami makan dengannya, serta melarang memakai sutera tipis dan tebal, dan melarang kami duduk di atasnya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)[ii]

550- وَعَنْ عُمَرَ t قَالَ: , نَهَى اَلنَّبِيُّ r عَنْ لُبْسِ اَلْحَرِيرِ إِلَّا مَوْضِعَ إِصْبَعَيْنِ, أَوْ ثَلَاثٍ, أَوْ أَرْبَعٍ -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

550. Dari Umar radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kami memakai sutera melainkan sekedar lebar dua jari atau tiga atau empat.” (Muttafaq 'alaih, lafadz ini lafaz Muslim)[iii]

551- وَعَنْ أَنَسٍ t , أَنَّ اَلنَّبِيَّ r رَخَّصَ لِعَبْدِ اَلرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ, وَالزُّبَيْرِ فِي قَمِيصِ اَلْحَرِيرِ, فِي سَفَرٍ, مِنْ حَكَّةٍ كَانَتْ بِهِمَا -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

551. Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan keringanan kepada Abdurrahman bin Auf dan Zubair memakai baju sutera dalam safar, karena ada penyakit gatal pada mereka.” (Muttafaq 'alaih)[iv]

552- وَعَنْ عَلِيٍّ t قَالَ: , كَسَانِي اَلنَّبِيُّ r حُلَّةً سِيَرَاءَ, فَخَرَجْتُ فِيهَا, فَرَأَيْتُ اَلْغَضَبَ فِي وَجْهِهِ, فَشَقَقْتُهَا بَيْنَ نِسَائِي -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ

552. Dari Ali radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memberikan pakaian kepada saya yaitu kain sutera genggang (bergaris), saya keluar dengan memakainya tetapi saya melihat sikap marah tampak di mukanya, maka saya bagi-bagikan kepada perempuan-perempuan (di rumah) saya.” (Muttafaq 'alaih, lafaz ini adalah lafadz Muslim)[v]

553- وَعَنْ أَبِي مُوسَى t أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ r قَالَ: , أُحِلَّ اَلذَّهَبُ وَالْحَرِيرُ لِإِنَاثِ أُمَّتِي, وَحُرِّمَ عَلَى ذُكُورِهِمْ. - رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَالنَّسَائِيُّ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ

553. Dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Dihalalkan emas dan sutera untuk perempuan-perempuan dari umatku dan diharamkan bagi laki-lakinya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Nasa’i dan Tirmidzi serta ia shahihkan)[vi]

554-وَعَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ r قَالَ: , إِنَّ اَللَّهَ يُحِبُّ إِذَا أَنْعَمَ عَلَى عَبْدٍ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَيْهِ -  رَوَاهُ اَلْبَيْهَقِيُّ

554. Dari Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah suka apabila memberikan nikmat kepada hamba-Nya dilihatnya bekas nikmat itu tampak padanya.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi)[vii]

555- وَعَنْ عَلِيٍّ t , أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ r نَهَى عَنْ لُبْسِ الْقَسِيِّ وَالْمُعَصْفَرِ -  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

555. Dari Ali radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang memakai pakaian yang ada sutera dan kain yang dicelup kuning. (Diriwayatkan oleh Muslim)[viii]

556- وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا, قَالَ: , رَأَى عَلَيَّ اَلنَّبِيُّ r ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ, فَقَالَ: "أُمُّكَ أَمَرَتْكَ بِهَذَا?" -  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

556. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat dua kain yang dicelup dengan warna kuning pada diri saya.” Maka sabdanya, “Apakah ibumu menyuruhmu memakai ini?” (Diriwayatkan oleh Muslim)[ix]

557- وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا , أَنَّهَا أَخْرَجَتْ جُبَّةَ رَسُولِ اَللَّهِ r مَكْفُوفَةَ اَلْجَيْبِ وَالْكُمَّيْنِ وَالْفَرْجَيْنِ, بِالدِّيبَاجِ -  رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَأَصْلُهُ فِي "مُسْلِمٍ", وَزَادَ: , كَانَتْ عِنْدَ عَائِشَةَ حَتَّى قُبِضَتْ, فَقَبَضْتُهَا, وَكَانَ اَلنَّبِيُّ r يَلْبَسُهَا, فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرْضَى نَسْتَشْفِي بِهَا - وَزَادَ اَلْبُخَارِيُّ فِي "اَلْأَدَبِ اَلْمُفْرَدِ". , وَكَانَ يَلْبَسُهَا لِلْوَفْدِ وَالْجُمُعَةِ -

557. Dari Asma binti Abu Bakr radhiyallahu 'anhuma, bahwa ia mengeluarkan jubah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang leher dan lengan bajunya serta dua belahanya bersulam sutera. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan asalnya di Muslim. Dan ia (Muslim) menambahkan: “Sebelumnya ada pada Aisyah, setelah ia wafat, maka aku mengambilnya, jubah itu adalah jubah yang dipakai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kami basuh jubah itu buat orang-orang yang sakit agar dipakai buat pengobatan.” Bukhari menambahkan dalam Al Adabul Mufrad, “Beliau biasanya memakai jubah itu untuk menemui para utusan dan untuk shalat Jum’at.”[x]

Bersambung….

Wa shallallahu 'alaa Nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Alih Bahasa:

Marwan bin Musa


[i] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (4039) bab Maa jaa’a fil khazz, hadits tersebut dalam Bukhari secara mu’allaq (tanpa sanad) dan dijazmkannya/dianggapnya shahih (10/51/5590), dari jalan Abdurrahaman bin Ghanam Al Asy’ariy ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu ‘Amir atau Abu Malik Al Asy’ariy –demi Allah, dia tidak berdusta kepadaku- ia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون‏ الخز (الحر -ذكره أبو موسى في باب الحاء والراء المهملتين وهو الفرج) والحرير والخمر والمعازف، ولينزلن أقوام إلى جنب علم يروح عليهم بسارحة لهم، يأتيهم -يعني: الفقير- لحاجة، فيقولوا: ارجع إلينا غدا، فيبيتهم الله، ويضع العلم، ويمسخ آخرين قردة وخنازير إلى يوم القيامة

“Sungguh, akan ada di kalangan umatku orang-orang yang akan menganggap halal khaz (baju yang ditenun dengan woll dan sutera mahal, sedangkan Abu Musa menyebutkannya dalam bab haa dan raa’ tanpa titik yang artinya (menganggap halal) zina-), sutera, khamr dan alat musik dan akan ada orang-orang yang singgah ke samping gunung lalu didatangi sore hari oleh pengembala yang membawa ternak mereka, datang kepada mereka –yakni orang fakir- untuk suatu keperluan, namun mereka mengatakan, “Kembalilah kepada kami besok”, lalu di malam harinya Allah membinasakan mereka dan menjatuhkan gunung serta merubah bentuk mereka sehingga seperti monyet dan babi sampai hari kiamat.”

Hadits ini dishahihkan oleh lebih dari seorang dan tidak benar yang mendha’ifkannya –TSZ-.

Sedangkan lafaz Bukhari adalah sbb,

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الخز والحرير والخمر والمعازف... الحديث

“Akan ada di kalangan ummatku orang-orang yang akan menganggap halal khazz, sutera, khamr (arak) dan alat musik…dst.

Hadits di atas juga dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud dan Ash Shahihah (91).

[ii] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (5837) dalam Al Libaas bab iftiraasyil hariir. Al Misykaat (4321) .

[iii] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (5828) dalam Al Libaas bab lubsul hariir lir rijaal wa nadzru maa yajuuzu minh, Muslim (2069) bab Tahriim isti’maali inaa’idz dzahab wal fidhdhah. Al Misykaat (4324) .

[iv] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (2919) dalam Al Jihaad was sair, (5839) dalam Al Libaas, Muslim (2076) bab Ibaahatu lubsil hariir lir rajul. Al Misykaat (4326) .

[v] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (5840) bab lubsil hariir lin nisaa’, Muslim (2071) dalam Al Libaas waz Ziinah. Al Misykaat (4322) .

Dalam TSZ dijelaskan bahwa lafaz ini sama-sama dimiliki oleh Bukhari dan Muslim.

[vi] Shahih, diriwayatkan oleh Tirmidzi (1720) bab Maa jaa’a fil hariir wadz dzahab, ia mengatakan, “Hadits hasan shahih”, Nasa’i (5148) dalam Az Ziinah, Ath Thayaalisiy (506), Ahmad (19009), Baihaqi (3/275), Thahaawiy (2/346) dalam Syarhul Ma’aaniy dari beberapa jalan dari Naafi’ dari Sa’id bin Abi Hind dari Abu Musa. Para perawinya adalah tsiqah, yaitu perawi Bukhari-Muslim namun terputus, karena Ibnu Abi Hind tidak mendengar dari Abu Musa sama sekali sebagaimana kata Daruquthni, juga diikuti oleh Al Haafizh dalam Ad Diraayah (hal. 328) dan lainnya. Hadits ini memiliki beberapa jalan yang saling menguatkan, banyaknya kelemahannya dapat tertutupi meski masing-masingnya tidak lepas dari kelemahan. Al Irwaa’ (277), Al Misykaat (4341) dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi (1720).

[vii] Shahih, diriwayatkan oleh Baihaqi (3/271), lihat Shahihul Jaami’ (17120) –TCDA-, dalam TSZ dijelaskan bahwa hadits tersebut meskipun dha’if sanadnya, tetapi memiliki syahid-syahid yang menjadikannya shahih.

[viii] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (2078) bab An Nahyu ‘an lubsir rajulits tsaub al mu’ashfar, Al Misykaat (8443).

Dalam TSZ disebutkan lengkap hadits tersebut sbb.:

وعن تختم الذهب. وعن قراءة القرآن في الركوع

“Juga melarang memakai cincin dari emas dan melarang membaca Al Qur’an ketika ruku.”

[ix] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (2077) bab An Nahyu ‘an lubsir rajulits tsaub al mu’ashfar, Al Misykaat (4327).

Dalam TSZ disebutkan lengkap hadits tersebut sbb,

قال عبد الله بن عمرو: قلت: أغسلهما. قال: "بل أحرقهما

Abdullah bin ‘Amr berkata: Akupun bertanya, “Apa perlu saya cuci.” Beliau menjawab, “Bahkan bakarlah.”

[x] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (4054) bab Ar Rukhshah fil ‘alam wa khaitil hariir, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud (4054), hadits Muslim (2069) dalam Al Libaas waz ziinah, Bukhari dalam Al Adabul Mufrad (348), hadits ini ada pada Shahih Al Adabul Mufrad karya Al Albani, ia mengatakan di sana “Hasan”, sedangkan dalam Al Misykaat di no. 4325.

Syair Al Baidha, Syair Akidah Ahlussunnah wal Jamaah

Selasa, 22 September 2026

 

بسم الله الرحمن الرحيم




Manzhumah Al Baidha Fii ‘Aqidatis Salaf wa Najatil Khalaf

(Syair Al Baidha, Syair Akidah Ahlussunnah wal Jamaah)


Oleh:

Prof. Dr. Sulaiman bin Abdul Aziz Al ‘Uyuniy (Dosen Nahwu-Sharaf dan Fiqhul Lughah, Univ. M. bin Su’ud, Saudi Arabia)

Alih Bahasa:

Marwan Hadidi, M.Pd.I

 

Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:

Berikut nazham (syair) Al Baidha (Yang Putih Bersinar) tentang akidah kaum salaf (terdahulu) yang menjadi keselamatan bagi kaum khalaf (mutaakhirin) karya Syaikh Prof. Dr. Sulaiman bin Abdul Aziz Al ‘Uyuniy (Dosen Nahwu-Sharaf dan Fiqhul Lughah fakultas Bahasa Arab di Universitas Islam M. Bin Su’ud, KSA) semoga Allah menjadikan penerjemahan syair ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.

 

Mukadimah

الْحَمْدُ لِلْعَظِيْمِ      الْوَاحِدِ الْكَرِيْمِ

مُصَلِّيًا مُسَلِّمَا      عَلَى الرَّسُوْلِ مُكْرِمَا

وَالْآلِ وَالْأَصْحَابِ  وَبَعْدُ يَاأَحْبَابِيْ

فَهَذِهِ الْبَيْضَاءُ       مَنْظُوْمَةٌ حَسْنَاءُ

عَلَى عَقِيْدَةِ السَّلَفْ وَهِيَ النَّجَاةُ لِلْخَلَفْ

Segala puji bagi Allah Yang Maha Agung

Yang Mahaesa lagi Mahamulia

Seraya bershalawat, mengucapkan salam

Dan memuliakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

Demikian pula semoga shalawat dan salam terlimpah kepada keluarga dan para sahabat

Adapun setelah itu, wahai kawan-kawan yang kucintai

Berikut ini adalah nazham Al Baidha yang merupakan syair yang indah tentang akidah kaum salaf yang merupakan keselamatan bagi kaum khalaf.

 

Sumber Rujukan Akidah Islam

قُرْآنُنَا وَالسُّنّهْ       بِفَهْمِ خَيْرِ الْأُمَّهْ

أَكْرِمْ بِهِمْ مِنْ سَلَفِ فََاعْضُضْ عَلَيْهِمْ وَاقْتَفِ

وَكُنْ لَهُمْ مُتَّبِعَا    لاَزَائِغً مُبْتَدِعَا

Rujukannya adalah Al Qur’an dan As Sunnah[i]

Dengan pemahaman sebaik-baik umat (para sahabat, tabiin, dan tabi’ut tabiin)

Sungguh mulianya kaum salaf itu

Maka gigitlah dengan kuat dan ikutilah

Jadilah pengikut mereka

Bukan sebagai orang yang menyimpang[ii] lagi mengada—ada

 

Tiga Dasar Utama

مَنْ رَبُّنَا ؟ الرَّحْمَنُ مَعْبُوْدُنَا الْمَنَّانُ

اللهُ رَبُّ الْخَلْقِ     يُمِدُّنَا بِالرِّزْقِ

وَدِيْنُنَا الْإِسْلاَمُ     مَعْنَاهُ الْإِسْتِسْلاَمُ

ِللهِ طَائِعِيْنَا                   حَقَّا مُوَحِّدِيْنَا

ثُمَّ مَنِ النَّبِيُّ؟      مُحَمَّدُ الزَّكِيُّ

مُرْشِدُنَا ِللهِ         أَبُوْهُ عَبْدُ اللهِ

صَلِّ وَسَلِّمْ رَبِّيْ    عَلَى حَبِيْبِ الْقَلْبِ

Jika engkau ditanya ‘Siapa Tuhan kita?” Jawablah Allah Ar Rahman (Yang Maha Pengasih)

Tuhan yang kita sembah Dia Sang Pemberi nikmat

Karena Allah adalah Tuhan semua makhluk

Dialah yang memberikan kita rezeki

Di samping itu, agama kami adalah Islam

Yang artinya menyerahkan diri

Kepada Allah sambil menaati

Seraya mentauhidkan-Nya dengan sesungguhnya (sambil berlepas diri dari syirik dan para pelakunya)

Jika engkau ditanya, “Siapa Nabimu?”

Jawablah Nabiku Muhammad shallallahu alaihi wa sallam seorang yang bersih (hati, akhlak, dan nasab)

Beliaulah yang menuntun kita kepada Allah

Ayahnya bernama Abdullah

Maka berilah shalawat dan salam ya Rabbi

Kepada kekasih hati (Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam)

 

Tauhid dan Pembagiannya

خُلِقْتُ لِلتَّوْحِيْدِ    وَطَاعَةِ الْمَجِيْدِ

فَاللهُ رَبِّيى الْأَحَدُ    فِي فِعْلِهِ وَالصَّمَدُ

مُصَرِّفٌ وَخَالِقُ    مُشَرِّعٌ وَرَازِقُ

مُعْتَقِدًا إِفْرَادَهْ      بِالْقَصْدِ وَالْعِبَادَهْ

كَالذَّبْحِ وَالصَّلاَةِ   وَالْحَجِّ وَالزَّكَاةِ

وَالنَّذْرِ وَالدُّعَاءِ     وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ

وَصَرْفُهَا لِغَيْرِهِ      شِرْكٌ خِلاَفُ أَمْرِهِ

لَهُ صِفَاتُهُ الْعُلاَ     وَأَسْمَاؤُهُ الْحُسْنَى بِلاَ

تَحْرِيْفِ أَوْ تَعْطِيْلِ  تَكْيِيْفِ أَوْ تَمْثِيْلِ

فَرَبُّنَا عَظِيْمُ         وَوَجْهُهُ كَرِيْمُ

فَوْقَ السَّمَاءِ قَدْ عَلاَ          حَقًّا عَلَى اْلعَرْشِ اسْتَوَى

وَيَنْزِلُ الْغَفََّارُ       إِذَا تَجِي الْأَسْحَارُ

ذُو الدَّرَجَاتِ الْعُلْيَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا

قُرْآنُهُ الْمُرَتَّلُ       كَلاَمُهُ الْمُنَزَّلُ

وَلَيْسَ بِالْمَخْلُوْقِ   أَوْ نَاِقِصٍ مَلْحُوْقِ

Aku diciptakan untuk mentauhidkan (mengesakan) Allah

Serta menaati-Nya Yang Mahamulia

 Allah adalah Tuhanku Yang Mahaesa

Dalam perbuatan-Nya (Seperti Mencipta dan Mengatur alam semesta), Dia adalah Ash Shamad (tempat bergantung semua makhluk)

Dia juga yang mengatur alam semesta dan yang menciptakannya

Juga yang menetapkan syariat dan yang memberikan rezeki

Kita meyakini keesaan-Nya

dalam perbuatan hamba yaitu ibadah (dengan hanya menyembah dan beribadah kepada-Nya)

Seperti berkurban, shalat, haji, dan zakat

Nadzar, doa, rasa takut dan  berharap

Sedangkan mengarahkan ibadah itu kepada selain-Nya adalah perbuatan syirik yang menyelisihi perintah-Nya

Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi

Nama-nama-Nya juga indah

Semua itu tanpa kita menakwilkan dan meniadakan,

Juga tanpa menanyakan kaifiyatnya dan atau menyerupakan dengan makhluk-Nya

Oleh karenya Tuhan kita Mahaagung

 Wajah-Nya Mahamulia

Dia benar-benar di atas langit

Bersemayam di atas Arsyi-Nya

Dia Yang Maha Pengampun juga turun

Saat tiba waktu sahur

ke langit dunia

Dan Dia pemilik derajat yang tinggi

Kitab-Nya Al Qur’an yang dibaca secara tartil

Adalah firman-Nya yanag diturunkan

Ia bukanlah makhluk

Atau yang berkurang daripada-Nya atau yang baru menyertai-Nya

 

Tingkatan Agama dan Penjelasannya

إِسْلاَمُنَا السَّعَادَةْ    أَوََلُهُ الشَّهَادَهْ

لاَرَبَّ لاَ إِلَهُ        بِالْحَقِّ إِلاَّ اللهُ

أَعْبُدُهُ بِمَا شَرَعَ    رَسُوْلُهُ وَمَا مَنَعَ

أَتْرُكُهُ جَمِيْعَا       مُصَدِّقًا مُطِيْعَا

وَخَمْسََنَا نُصَلِّيْ    وَمَالَنَا نُزَكِّيْ

فِي رَمََضَانَ صََوْمُنَا لِِبَيْتِ رَبِّيْ حَجُّنَا

إِيْمَانُنَا بِاللهِ         الْوَاحِدِ اْلِإلَهِ

وَبَعْدُ بِالْمَلاَئِكََهْ    وَكُتْبِهِ الْمُبَارَكَهْ

وَرُسْلِهِ وَالْقَدَرِ      وَيَوْمِهِ الْمُؤَخَّرِ

مَلاَئِكٌ مِنْ نُوْرِ    تَعْمَلُ بِالْمَأْمُوْرِ

كَخَازِنِ الْجِنَانِ    وَمَالِكِ النِّيْرَانِ

مِيْكَالُ إِسْرَافِيْلُ     وَخَيْرُهُمْ جِبْرِيْلُ

وَكُتْبُهُ الدُّسْتُوْرُ     الصُّحُفُ وَالزَّبُوْرُ

تَوْرَاةُ وَالْإِنْجِيْلُ     وَخَتْمُهَا التَّنْزِيْلُ

وَرُسْلُهُ بِالْحَتْمِ      أَفْضَلُهُمْ ذُو الْعَزْمِ

نُوْحٌ فَإِبْرَاهِيْمُ      وَبَعْدَهُ الْكَلِيْمُ

وَبَعْدَ عِيْسَى أَحْمَدُ الْخَاتَمُ الْمُؤَيَّدُ

وَقَدَرُ الْوَهَّابِ      بِالْعِلْمِ فَالْكِتَابِ

فَشَاءَهُ ثُمَّ بَرَا       فَكَوَّنَ الْمُقَدَّرَا

نُؤْْمِنُ بِالْمُفَصَّلِ     فِيْمَا مَضَى وَالْمُجْمَلِ

وَالدِّيْنُ يَاإِخْوَانُ    قِمَّتُهُ الْإِحْسَانُ

أَنْ يُعْبَدَ الْإِلَهُ       كَأَنَّنَا نَرَاهُ

أَوْ نُوْقِنَ الْإِيْقَانَا    بِأَنَّهُ يَرَانَا

إِيْمَانِ بِاللِّسَانِ      وَاْلقَلْبِ وَالْأَرْكَانِ

يَزِيْدُ بِالطَّاعَاتِ     يَقِِلُّ بِالزَّلاَّتِِ

وَلاَ تُكَفِّرْ مُسْلِمَا   بِالذَّنْبِ مَهْمَا عَظُمَا

مَالَمْ يُصِبْ مُكَفِّرَا  وَانْصَحْ لَهُ وَحذِّرَا

وَلْتَحْذَرِ الْإِرْجَاءَ    وَالشِّرْكَ وَالرِّيَاءَا

Agama Islam yang membawa kepada kebahagiaan

Diawali dengan syahadat

Tidak ada Rabb (Penguasa dan Pengatur alam semesta) dan tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah

Aku beribadah kepada-Nya sesuai syariat Rasul-Nya

Sedangkan yang Beliau larang, maka aku tinggalkan semua

Sambil membenarkan apa yang Beliau sabdakan serta menaati perintahnya

Setiap hari kita shalat yang lima waktu

Dan harta (yang telah mencapai nishab) kita keluarkan zakatnya

Di bulan Ramadhan kita berpuasa

Dan ke Baitullah kita berhaji

Dalam beriman, maka kita beriman kepada Allah

Yang Mahaesa lagi Yang berhak disembah satu-satunya

Setelah itu beriman kepada para malaikat

 dan beriman kepada kitab-kitab yang diberkahi

serta beriman kepada para rasul-Nya juga beriman kepada takdir

demikian juga beriman kepada hari Akhir

Malaikat diciptakan dari cahaya

Mengerjakan semua perintah

Ada malaikat penjaga surga (Ridwan)

Ada juga malaikat Malik penjaga neraka

Ada malaikat Mikail dan Israfil

Yang terbaiknya adalah malaikat Jibril

Kitab-kitab-Nya adalah pedoman hidup

Termasuk di dalamnya lembaran-lembaran wahyu dan kitab Zabur

Demikian juga Taurat dan Injil

Penutupnya adalah At Tanzil (Al Qur’an)

Para rasul-Nya yang paling utama adalah pemilik kesabaran yang tinggi

Yaitu Nabi Nuh, Ibrahim,

Dan Nabi yang diajak bicara oleh Allah (Nabi Musa alaihis salam)

Selanjutnya Nabi Isa dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam

Sebagai penutup para nabi yang dikuatkan

Adapun takdir Allah Al Wahhab, maka itu telah diketahui-Nya, telah dicatat-Nya,

Demikian juga telah dikehendaki-Nya, dan diciptakan-Nya

Dia mewujudkan apa yang ditakdirkan-Nya

Kita juga beriman kepada semua yang dirincikan Al Qur’an dan As Sunnah terhadap semua itu

Demikian juga beriman secara garis besarnya (yang tidak disebutkan secara rinci)

Agama ini wahai saudara

Puncaknya adalah ihsan

Yaitu kita menyembah Allah Azza wa Jalla

seakan-akan kita melihat-Nya

atau kita meyakini bahwa Dia melihat kita

Iman itu pengakuan di lisan, pembenaran di hati dan perbuatan dengan anggota badan

Ia bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan

Engkau juga jangan mengkafirkan orang muslim

Karena dosa yang dilakukannya betapa pun besarnya

Selama ia tidak melakukan dosa yang membuatnya kafir,

Meskipun begitu nasihatilah dia dan berilah peringatan

Dan jauhilah pemikiran Murji’ah (yang tidak memasukkan amal ke dalam iman dan bahwa iman menurut mereka tidak bertambah dan tidak berkurang)

Demikian pula berhati-hatilah terhadap syirik dan riya (beramal agar dipuji manusia)

 

Peristiwa di Akhirat

نُؤْمِنُ بِالْقِيَامَةِ      وَالْقَبْرِ فِى الْبِدَايَةِ

سُؤَالِهِ وَضَمَّتِهْ      عَذَابِهِ وَنِعْمَتِهْ

فَالْبَعْثِ ثُمَّ الْحَشْرِ  عَلَى اخْتِلاَفِ الْقَدْرِ

فَيَشْفَعُ النَّبِيُّ       مَقَامُهُ الْعَلِيُّ

فَيُنْشَرُ الْكِتَابُ     وَيَبْدَأُ الْحِسَابُ

بِالْعَدْلِ وَالْمِيْزَانِ    وَالْفَضْلِ وَالْغُفْرَانِ

نُؤْمِنُ بِالظِّلاَلِ      وَالْحََوْضِ وَالْأَهْوَالِ

وَالْجِسْرِوَالنِّيْرَانِ    واَلْخُلْدِ وَالْجِنَانِ

وَرُؤْيَةِ الْأَبْرَارِ       بِالْعَيْنِ لِلْجَبَّارِ

Kita juga beriman kepada hari Kiamat

Diawali dengan peristiwa di alam kubur

Berupa pertanyaan (Munkar dan Nakir tentang siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa nabinya) dan himpitan kubur

Selanjutnya azab kubur atau nikmatnya

Kemudian kebangkitan dan dikumpulkannya manusia

Dengan keadaan mereka yang berbeda-beda

Lalu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam memberikan syafaat

Dimana kedudukannya ketika itu sangatlah tinggi

Catatan amal pun dibuka

Dan mulailah terjadi hisab

Yang berjalan dengan adil dan disiapkan pula timbangan

Dan ada pula hisab yang hanya ditunjukkan amal perbuatannya, kemudian mendapatkan karunia dan ampunan-Nya

Kita juga beriman kepada naungan yang Allah adakan,

Juga kepada telaga yang disiapkan serta beriman terhadap berbagai peristiwa yang mengerikan

Termasuk jembatan yang dibentangkan di atas neraka, dan neraka (yang berada di bawahnya)

Serta beriman terhadap kekekalan yang terjadi setelahnya, dan beriman juga terhadap surga-Nya

Orang-orang yang berbakti nanti akan melihat Allah Yang Mahaperkasa

Dengan mata kepala mereka

 

Hak-Hak Yang Harus Ditunaikan dan Akhlak Mulia

نُوَحِّدُ الْقَهَّارَا      وَنَتْبَعُ الْمُخْتَارَا

تَعْظِيْمُنَا لِلْمُصْطَفَى بِلاَ غُلُوٍّ أَوْ جَفَا

نُؤْمِنُ بِالتَّكْرِيْمِ     وَالْحُبِّ وَالتَّسْلِيْمِ

لِآلِهِ وَصَحْبِهِ        وَزَوْجِهِ وَحِزْبِهِ

سُبْحَانَهُ فَضَّلَهُمْ    رَبِّي كَمَا اسْتَخْلَفَهُمْ

نَبَرُّ وَالِدِيْنَا                   وَالْعُلَمَا لَدَيْنَا

وَنُكْرِمُ اْلإِخْوَانَا    وَالْأَهْلَ وَالْجِيْرَانَا

وَنَلْزَمُ الْجَمَاعَهْ     باِلنُّصْحِ وَالْإِطَاعَهْ

لِأَوْلِيَاءِ اْلأَمْرِ       فِي مَنْشَطٍ أَوْ عُسْرِ

فِي غَيْرِمَا عِصْيَانِ  وَلْنَدْعُ لِلسُّلْطَانِ

وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالِهِمْ  وَالْكَافِرِيْنَ عَادِهِمْ

بِالْحُبِّ وَالْإِسْعَافِ وَالْبُغْضِ وَالْإِنْصَافِ

وَلْتَحْفَظِ اللِّسَانَا    وَطَهِّرِالْجَنَانَا

وَاصْبِرْ لِأَجْلِ الْحَقِّ وَكُنْ جَمِيْلَ الْخَلْقِ

سَهْلاً حَلِيْمًا رَاحِمَا          جَلْدًا كَرِيْمًا حَازِمَا

مَكَارِمُ الْأَخْلاَقِ    مَفَاتِحُ الْأَرْزَاقِ

وَتَرْفَعُ الْإِنْسَانَا     وَتُثْقِلُ الْمِيْزَانَا

Kami mengesakan Allah Yang Mahaperkasa

Serta mengikuti Nabi pilihan (Muhammad shallallahu alaihi wa sallam)

Kami memuliakan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam[iii]

Namun tanpa berlebihan[iv] atau meremehkan[v]

Kami juga memuliakan, mencintai, dan mengucapkan salam

kepada keluarga Nabi, para sahabatnya, istri-istrinya, dan para pengikutnya

Allah Subhanahu wwa Ta’ala memuliakan mereka sebagaimana mengangkat mereka sebagai khalifah

Kami juga berbakti kepada kedua orang tua  kami

dan menghormati para ulama yang ada di sekitar kami

Kami juga memuliakan saudara kami,

Demikian juga kepada keluarga dan tetangga

Kami juga tetap bersama jamaah (kaum muslimin) seraya memberikan nasihat dan menaati

Para pemimpin kami

baik ketika semangat atau pun ketika sulit

Tentunya dalam hal yang bukan maksiat

Dan kami juga mendoakan kebaikan untuk pemimpin

Sedangkan terhadap kaum muslimin berikanlah sikap wala (loyalitas) kepada mereka

dan kepada orang-orang kafir berikanlah sikap bara (berlepas diri)

Wala adalah dengan mencintai dan menolong,

Sedangkan bara adalah dengan membenci dan berlaku adil

Demikian juga hendaknya engkau menjaga lisan

Serta membersihkan hati

Bersabar di atas kebenaran

Dan memiliki akhlak yang mulia

Ramah, santun, dan penyayang

tangguh, dermawan, dan teguh pendirian

Hal itu karena akhlak yang mulia

adalah kunci rezeki

Juga meninggikan derajat seseorang

Dan memberatkan timbangan

 

Penutup

تَمَّتْ بِحَمْدِ رَبِّيْ   حَبِيْبَةً لِقَلْبِيْ

حَاوِيَةَ الْأُصُوْلِ     مَأْمُوْلَةَ الْقَبُوْلِ

أَحْيَا بِهَا حَيَاتِيْ    أَرْجُوْ بِهَا نَجَاتِيْ

يَارَبِّ يَسِّرْ عِلْمَهَا  وَشَرْحَهَا وَفَهْمَهَا

وَالْحَمْدُ لِلْحَمِيْدِ    خَاتِمَةُ الْقَصِيْدِ

Selesai syair ini sambil memuji Tuhanku

syair yang sangat kucintai

Karena memuat berbagai pokok akidah

Dan semoga diterima oleh Allah Yang kuasa

Di atas akidah itu aku hidup sambil berharap memperoleh keselamatan

Ya Rabbi, permudahlah mengetahuinya, menjelaskannya, dan memahaminya

Dan segala puji bagi Allah Al Hamid

Yang menjadi akhir tujuanku.

 

Selesai wal hamdulillahi rabbil ‘alamin.

Wallahu a’lam wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alaa alihi wa shahbihi wa sallam

Alih Bahasa:

Marwan Hadidi, M.PdI

Maraji’: Al Baidha fii ‘Aqidatis Salaf wa Najatil Khalaf, dll.



[i] Oleh karenanya rujukan akidah Islam bukanlah filsafat, ilmu kalam, teologi, mimpi, kasyf (tersingkap tabir ghaib), ra’yu, pendapat manusia, dsb. Tetapi rujukannya adalah Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma Salaful Ummah (generasi pertama Islam).

[ii] Seperti mereka yang menolak Al Qur’an dan As Sunnah, atau membatasi diri dengan Al Qur’an saja, atau mengutamakan akal di atas Al Qur’an dan As Sunnah, atau mengutamakan pendapat pribadi di atas pemahaman kaum salaf.

[iii] Seperti dengan menaati perintahnya, menjauhi larangannya, membenarkan sabdanya, dan beribadah sesuai contohnya.

[iv] Seperti halnya orang-orang Nasrani yang berlebihan terhadap nabi mereka sampai menuhankan.

[v] Seperti halnya orang-orang Yahudi yang meremehkan nabi mereka sampai meenyakiti, mendustakan, bahkan sampai ada nabi yang mereka bunuh.

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger