Terjemah Bulughul Maram (23)

Selasa, 11 Agustus 2026

 

بسم  الله الرحمن الرحيم



Terjemah Bulughul Maram (23)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut lanjutan terjemah Bulughul Maram karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan buku ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Dalam menyebutkan takhrijnya, kami banyak merujuk kepada dua kitab; Takhrij dari cetakan Darul ‘Aqidah yang banyak merujuk kepada kitab-kitab karya Syaikh M. Nashiruddin Al Albani rahimahullah, dan Buluughul Maram takhrij Syaikh Sumair Az Zuhairiy –hafizhahullah- yang kami singkat dengan ‘TSZ’.

كِتَابُ اَلصَّلَاةِ

Kitab Shalat

بَابُ صَلَاةِ اَلْكُسُوفِ

Bab Shalat Kusuf (Gerhana)

528- عَنِ اَلْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ t قَالَ: , اِنْكَسَفَتِ اَلشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اَللَّهِ r يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ, فَقَالَ اَلنَّاسُ: اِنْكَسَفَتِ اَلشَّمْسُ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ, فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r "إِنَّ اَلشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اَللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ, فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا, فَادْعُوا اَللَّهَ وَصَلُّوا, حَتَّى تَنْكَشِفَ" -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ: , -

528. Dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Telah terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari wafatnya Ibrahim (putra Rasulullah), lalu orang-orang berkata, “Telah terjadi gerhana matahari karena wafatnya Ibrahim,” maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidaklah terjadi gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena hidupnya seseorang. Apabila kamu melihatnya berdoalah kepada Allah dan lakukanlah shalatlah sampai gerhana menghilang.” (Muttafaq 'alaih, sedangkan dalam sebuah riwayat Bukhari disebutkan, “Hingga ia terang”)[1]

529- وَلِلْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ t , فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ -

529. Dalam riwayat Bukhari juga dari hadits Abi Bakrah disebutkan, “Maka shalatlah dan berdoalah hingga hilang apa yang telah terjadi pada kamu.”[2]

530- وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا: , أَنَّ اَلنَّبِيَّ r جَهَرَ فِي صَلَاةِ اَلْكُسُوفِ   بِقِرَاءَتِهِ, فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ, وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: فَبَعَثَ مُنَادِيًا يُنَادِي: اَلصَّلَاةُ جَامِعَةٌ

530. Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, “Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjaharkan bacaan pada shalat Kusuf, Beliau shalat dengan empat ruku di dalam dua rakat dan empat sujud.” (Muttafaq 'alaih, lafaz ini adalah lafadz Muslim. Dan dalam sebuah riwayat Muslim disebutkan, “Maka Beliau mengutus seorang penyeru yang memanggil ‘Ash Shalaatu jami’ah’ (shalat ini dilakukan dengan berjama’ah)).”[3]

531- وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : , اِنْخَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ اَلنَّبِيِّ r فَصَلَّى, فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا, نَحْوًا مِنْ قِرَاءَةِ سُورَةِ اَلْبَقَرَةِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا, ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ اَلْقِيَامِ اَلْأَوَّلِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا, وَهُوَ دُونَ اَلرُّكُوعِ اَلْأَوَّلِ, ] ثُمَّ سَجَدَ, ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلاً, وَهُوَ دُونَ اَلْقِيَامِ اَلْأَوَّلِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا, وَهُوَ دُونَ اَلرُّكُوعِ اَلْأَوَّلِ], ثُمَّ رَفَعَ, فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا, وَهُوَ دُونَ اَلْقِيَامِ اَلْأَوَّلِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً, وَهُوَ دُونَ اَلرُّكُوعِ اَلْأَوَّلِ, ثُمَّ سَجَدَ, ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ تَجَلَّتِ اَلشَّمْسُ. فَخَطَبَ اَلنَّاسَ -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: , صَلَّى حِينَ كَسَفَتِ اَلشَّمْسُ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ فِي أَرْبَعِ سَجَدَاتٍ -

531. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ia berkata, “Telah terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu Beliau shalat, Beliau berdiri lama kira-kira seperti lamanya membaca surat Al Baqarah, lalu ruku dengan ruku yang lama, kemudian bangkit, dan Beliau berdiri lama namun tidak seperti lamanya ketika pertama berdiri, kemudian ruku’ lama, namun tidak lama seperti pada ruku’ yang pertama, lalu sujud, setelah itu bangkit berdiri lama namun tidak lama seperti berdiri yang pertama, kemudian ruku dengan lama namun tidak lama seperti lamanya pada ruku’ yang pertama, lalu bangkit dan berdiri lama, namun tidak seperti lamanya pada berdiri yang pertama, lalu ruku dengan ruku’ yang lama, namun tidak seperti ruku’ yang pertama, kemudian mengangkat kepalanya lalu sujud kemudian salam, sedangkan matahari sudah terang kembali, lalu Beliau berkhutbah kepada orang-orang.” (Muttafaq 'alaih[4], lafaz ini adalah lafaz Bukhari, sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan, “Beliau shalat ketika terjadi gerhana matahari dengan delapan kali ruku’ dan empat kali sujud.”)

532- وَعَنْ عَلِيٍّ مِثْلُ ذَلِكَ

532. Dan dari Ali radhiyallahu 'anhu sama juga seperti itu.[5]

533- وَلَهُ: عَنْ جَابِرٍ t , صَلَّى سِتَّ رَكَعَاتٍ بِأَرْبَعِ سَجَدَاتٍ - 

533. Dalam riwayat Muslim dari Jabir radhiyallahu 'anhu disebutkan, “Beliau shalat dengan enam kali ruku’ dan empat kali sujud.”[6]

534- وَلِأَبِي دَاوُدَ: عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: , صَلَّى, فَرَكَعَ خَمْسَ رَكَعَاتٍ وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ, وَفَعَلَ فِي اَلثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ - 

534. Dan dalam riwayat Abu Dawud dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu 'anhu disebutkan, “Beliau ruku lima kali ruku’ dan sujud dua kali sujud, dan melakukan pada rakaat kedua sama seperti itu.”[7]

535- وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: , مَا هَبَّتْ رِيحٌ قَطُّ إِلَّا جَثَا اَلنَّبِيُّ r عَلَى رُكْبَتَيْهِ, وَقَالَ: "اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رَحْمَةً, وَلَا تَجْعَلَهَا عَذَابًا" -  رَوَاهُ اَلشَّافِعِيُّ وَالطَّبَرَانِيُّ

535. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ia berkata, “Tidaklah angin bertiup melainkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berlutut dan berkata, “Ya Allah jadikanlah dia rahmat dan janganlah menjadikannya adzab.” (Diriwayatkan oleh Syafi’i dan Thabrani)[8]

536- وَعَنْهُ: , أَنَّهُ صَلَّى فِي زَلْزَلَةٍ سِتَّ رَكَعَاتٍ, وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ, وَقَالَ: هَكَذَا صَلَاةُ اَلْآيَاتِ -  رَوَاهُ اَلْبَيْهَقِيُّ وَذَكَرَ اَلشَّافِعِيُّ عَنْ عَلِيٍّ t مِثْلَهُ دُونَ آخِرِهِ

536. Dan darinya (Ibnu Abbas) bahwa pada waktu terjadi gempa ia shalat enam kali ruku dan empat sujud, ia berkata, “Begitulah shalat apabila terjadi keadaan yang luar biasa. (Diriwayatkan oleh Baihaqi[9], sedangkan Syafi’i menyebutkannya dari Ali radhiyallahu 'anhu yang sama seperti itu namun akhirnya berbeda)

 

Bersambung….

Wa shallallahu 'alaa Nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Alih Bahasa:

Marwan bin Musa


[1] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (1043), Muslim (915) dan tidak ada dalam Muslim ucapan orang-orang tersebut, sebagaimana tidak ada dalam Bukhari kata-kata “Hattaa tankasyif” -TSZ-.

[2] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (1040) dalam Al Kusuf, bab Ash Shalaah fii kusuufisy syams.

[3] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (1/272) secara mu’allaq (tanpa sanad), Muslim (901) secara maushul (disebutkan sanad), lafaz ini adalah lafaznya. [lihat Al Irwaa' (658) dan Al Misykaat (1480)].

Dalam TSZ disebutkan bahwa dalam Bukhari dan Muslim lafaznya adalah “Al Khusuuf” bukan “Al Kusuuf.”

[4] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (1052) dalam Al Kusuf, Muslim (907), Nasa’i (1493), Ahmad (3364), Malik (445), lihat Al Misykaat (1480).

Sedangkan dalam riwayat Muslim (908) dari Ibnu Abbas disebutkan, “Beliau shalat ketika terjadi gerhana matahari 8 kali ruku dan 4 kali sujud”. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan Nasa’i. Al Albani berkata dalam Al Irwaa’ (660), “Dh’aif, meskipun diriwayatkan oleh Muslim dan yang disebutkan bersamanya serta yang lainnya, karena hadits ini melalui jalur Habib dari Thawus dari Ibnu Abbas. Cacatnya terdapat pada Habib dimana ia adalah Ibnu Abi Tsabit, dia ini meski tsiqah, namun melakukan tadlis. Oleh karenanya Ibnu Hibban dalam shahihnya berkata, “Hadits ini tidak shahih, karena melalui riwayat Habib bin Abi Tsabit dari Thaawus, sedangkan ia tidak mendengar darinya.” Baihaqi mengatakan, “Habib, meskipun ia termasuk golongan orang-orang tsiqah, namun ia melakukan tadlis”. Selain itu di dalamnya terdapat cacat yang lain yaitu beberapa syadz (kejanggalan) karena menyelisihi hadits ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas dalam Shahihain yang di situ disebutkan, ”Empat ruku’ dan empat sujud.” [Al Misykaat (1486) dan Al Irwaa’ (660)] .

Dalam TSZ disebutkan bahwa kata-kata “فَخَطَبَ اَلنَّاسَ” di atas bukan lafaz hadits, ini hanyalah susunan Al Hafizh untuk menjelaskan keadaan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam setelah shalat yaitu berkhutbah, Beliau mengatakan,

إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا يخسفان لموت أحد ولا لحياته، فإذا رأيتم ذلك فاذكروا الله" قالوا: يا رسول الله! رأيناك تناولت شيئا في مقامك، ثم رأيناك كعكعت. قال صلى الله عليه وسلم: "إني رأيت الجنة، فتناولت عنقودا، ولو أصبته لأكلتم منه ما بقيت الدنيا، وأريت النار فلم أر منظرا كاليوم قط أفظع. ورأيت أكثر أهلها الناس، قالوا: بما يا رسول الله؟ قال: "بكفرهن" قيل: يكفرن بالله؟ قال: "يكفرن العشير، ويكفرن الإحسان، لو أحسنت إلى إحداهن الدهر كله، ثم رأت منك شيئا. قالت: ما رأيت منك خير قط

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, tidaklah keduanya terjadi gerhana karena kematian seseorang maupun karena hidupnya, jika kalian melihat hal tersebut maka berdzikirlah kepada Allah.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kami melihat engkau mengambil sesuatu di tempatmu, kemudian kami melihat engkau mundur,” maka Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku melihat surga, lalu aku hendak mengambil sebuah tandan, kalau sekiranya aku mendapatkannya tentu kalian akan memakannya dan dunia tidak bersisa lagi, dan diperlihatkan kepadaku neraka, ternyata aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan seperti halnya hari ini, aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita,” maka para sahabat berkata, “Mengapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kufurnya mereka”, ada yang mengatakan, “Apa karena kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka kufur kepada suami dan kufur terhadap kebaikannya, jika kamu berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka beberapa lama, lalu ia melihat ada kekurangan pada dirimu, ia mengatakan, “Aku tidak melihatmu berbuat kebaikan sedikit pun.”

[5] Dha’if, diriwayatkan oleh Ahmad (1/143/no. 1215) dari jalan Hansy dari Ali ia berkata,

كسفت الشمس، فصلى علي للناس، فقرأ يس أو نحوها، ثم ركع نحوا من قدر السورة، ثم رفع رأسه، فقال: سمع الله لمن حمده، ثم قام قدر السورة يدعو ويكبر، ثم ركع قدر قراءته أيضا، ثم قال: سمع الله لمن حمده ثم قام أيضا قدر السورة، ثم ركع قدر ذلك أيضا، حتى صلى أربع ركعات، ثم قال: سمع الله لمن حمده، ثم سجد، ثم قام في الركعة الثانية، ففعل كفعله في الركعة الأولى، ثم جلس يدعو ويرغب حتى انكشفت الشمس، ثم حدثهم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كذلك فعل

Telah terjadi gerhana matahari, maka ia (Ali) shalat dengan orang-orang membaca surat Yaasin atau semisalnya, lalu ruku’ seukuran satu surat kemudian mengangkat kepalanya dan berkata “Sami’allahu liman haamidah”, kemudian tetap berdiri seukuran satu surat berdoa dan bertakbir, kemudian ruku seukuran bacaannya dan mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah” lalu berdiri seukuran satu surat dan melakukan ruku’ sama seperti itu, hingga Beliau shalat empat kali ruku lalu mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah” lalu sujud, kemudian berdiri pada rakaat kedua dan melakukan rakaat kedua seperti pada rakaat pertama, lalu duduk berdoa dan berharap hingga hilang gerhana, setelah itu Ali memberitahukan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan seperti yang dikerjakannya.”

Sumair Az Zuhairiy mengatakan, “Hansy ini adalah Ibnul Mu’tamir, ada yang mengatakan “Ibnu Rabii’ah Al Kufiy,” Bukhari dalam Al Kabir (2/1/99) mengatakan, “Orang-orang memperbincangkan haditsnya,” sama juga seperti itu dari Abu Hatim (1/2/291).”

Catatan: Maksud Al Hafizh mengatakan “Dan dari Ali sama juga seperti itu”  adalah bahwa cara shalat kusuf itu disebutkan juga dari Ali seperti yang disebutkan dari Ibnu Abbas dalam riwayat Muslim, adapun yang dipahami oleh penulis Subulus Salaam mengikuti asalnya yaitu Al Badrul Munir sebenarnya bukan itu maksudnya. –TSZ-.

[6] Dha’if, diriwayatkan oleh Muslim (908), Abu Dawud (1182) dalam Ash Shalaah, Ahmad (20719). Al Albani berkata dalam Al Misykaat (1485), “Yakni Beliau shalat dua rakat, dalam setiap rakat tiga kali ruku’, riwayat ini meskipun ada dalam Shahih Muslim, namun hadits ini syadz, karena menyelisihi hadits ‘Aisyah dan Ibnu Abbas dalam Shahihain. Lihat Dh’aif Abu Dawud (1182). [Lihat Al Irwaa' ( (659)] .

[7] Dh’aif, diriwayatkan oleh Abu Dawud (1182), Abdullah bin Ahmad dalam Zawa’id Musnad bapaknya (5/134), juga Hakim (1/333), baihaqi (3/329) dari jalan Abu Ja’far Ar Raaziy dari Ar Rabi’ bin Anas dari Abul ‘Aaliyah dari Ubay bin Ka’ab. Hakim berkata, “Para perawinya tsiqah”, namun Adz Dzahabiy mengomentarinya dengan kata-kata, “Hadits mungkar, Abdullah bin Abu Ja’far tidak ada apa-apanya, sedangkan bapaknya lunak.” Al Albani berkata, “Yang jadi masalah adalah pada bapaknya, karena anaknya ini ada mutaabaah(penguat)nya dalam riwayat Hakim dan didha'ifkan oleh Baihaqi dengan kata-kata, “Isnad seperti ini tidak dipakai hujjah oleh dua pemilik kitab shahih,” hal itu karena dh’aifnya Abu Ja’far Ar Raaziy, dalam At Taqrib disebutkan, “Sangat jujur, buruk hapalan, khususnya pada Mughirah.” [Al Irwaa’ (661)].

[8] Isnadnya dha’if sekali, diriwayatkan oleh Asy Syafi’i dalam Musnadnya (47) dengan isnad yang dha’if. Al Albani berkata, “Dalam (sanadnya) ada Al ‘Ala’ bin Rasyid ia adalah majhul, Ibrahim bin Abi Yahya meriwayatkan darinya, ia adalah Al Aslami yang tertuduh dusta. Baihaqi meriwayatkan juga dalam Ad Da’aawaat Al Kabir 9 Al Misykaat (1519)].

[9] Shahih, diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Al Kubraa (3/343), ia katakan, “Hadits itu dari Ibnu Abbas adalah shahih”, Sumair Az Zuhairiy mengatakan, “Dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Al Husain Al Qaththaan, dianggap pendusta oleh Ibnu Najiyah, Daruquthni mengatakan, “Tidak apa-apa”, Al Hafizh dalam Al Lisaan mengatakan, “Ibnu Addiy meriwayatkan darinya beberapa hadits dimana ia memperselisihkan sanad-sanadnya,” akan tetapi Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf (2/472) meriwayatkan  dengan sanad shahih bahwa Ibnu Abbas pernah shalat bersama orang-orang ketika terjadi gempa dengan empat kali sujud dan enam kali ruku’ –TSZ-.

Sedangkan yang disebutkan Syafi’i di atas diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Al Kubraa (3/343) dari jalan Syafi’i, hadits tersebut meskipun dalam riwayat Syaafi’i secara langsung (balaagh), namun shahih dengan atsar Ibnu Abbas tersebut, akan tetapi cara shalat yang disebutkan dalam atsar Ali berbeda dengan atsar Ibnu Abbas –dari TSZ-.

Terjemah Bulughul Maram (22)

Minggu, 02 Agustus 2026

 

بسم  الله الرحمن الرحيم





Terjemah Bulughul Maram (22)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut lanjutan terjemah Bulughul Maram karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan buku ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Dalam menyebutkan takhrijnya, kami banyak merujuk kepada dua kitab; Takhrij dari cetakan Darul ‘Aqidah yang banyak merujuk kepada kitab-kitab karya Syaikh M. Nashiruddin Al Albani rahimahullah, dan Buluughul Maram takhrij Syaikh Sumair Az Zuhairiy –hafizhahullah- yang kami singkat dengan ‘TSZ’.

كِتَابُ اَلصَّلَاةِ

Kitab Shalat

بَابُ صَلَاةِ اَلْعِيدَيْنِ

Bab Shalat ‘Iedain (Dua Hari Raya)

511- عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r , الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ اَلنَّاسُ, وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي اَلنَّاسُ -  رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ

511. Dari Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “(Hari raya) Fithri itu adalah hari orang-orang berbuka, dan (hari raya) Adh-ha itu hari orang-orang berkurban.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi)[1]

512- وَعَنْ أَبِي عُمَيْرِ بْنِ أَنَسٍ, عَنْ عُمُومَةٍ لَهُ مِنَ اَلصَّحَابَةِ, , أَنَّ رَكْبًا جَاءُوا, فَشَهِدُوا أَنَّهُمْ رَأَوُا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ, فَأَمَرَهُمْ اَلنَّبِيُّ r أَنْ يُفْطِرُوا, وَإِذَا أَصْبَحُوا يَغْدُوا إِلَى مُصَلَّاهُمْ -  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُدَ -وَهَذَا لَفْظُهُ- وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ

512.`Dari Abu Umair bin Anas bin Malik radhiyallahu 'anhum dari paman-pamannya dimana mereka adalah para sahabat, bahwa sebuah kafilah datang, mereka bersaksi bahwa mereka melihat hilal (bulan sabit tanda tanggal satu) kemarin, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh para shahabat berbuka puasa dan menyuruh mereka pada paginya untuk berangkat ke tempat shalat (lapangan) mereka. (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud, lafaz ini adalah lafaznya dan isnadnya shahih)[2]

513- وَعَنْ أَنَسٍ t قَالَ: , كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ r لَا يَغْدُو يَوْمَ اَلْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ -  أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ وَفِي رِوَايَةٍ مُعَلَّقَةٍ -وَوَصَلَهَا أَحْمَدُ-: وَيَأْكُلُهُنَّ أَفْرَادًا

513. Dari Anas radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berangkat (ke tanah lapang) pada hari Idul Fithri melainkan setelah makan beberapa buah kurma.” (Diriwayatkan oleh Bukhari, sedangkan dalam sebuah riwayat yang mu’allaq (tanpa sanad), namun dimaushulkan oleh Ahmad disebutkan, “Dan Beliau makan kurma-kurma itu satu persatu”)[3]

514- وَعَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ, عَنْ أَبِيهِ قَالَ: , كَانَ النَّبِيُّ r لَا يَخْرُجُ يَوْمَ اَلْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ, وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ اَلْأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ -  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

514. Dari Ibnu Buraidah dari bapaknya ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar (ke tanah lapang) di hari Idul Fithri kecuali setelah makan, dan tidak makan di hari Idul Adh-ha kecuali setelah shalat.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Ibnu Hibban)[4]

515- وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: , أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ اَلْعَوَاتِقَ, وَالْحُيَّضَ فِي الْعِيدَيْنِ; يَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ اَلْمُسْلِمِينَ, وَيَعْتَزِلُ اَلْحُيَّضُ اَلْمُصَلَّى -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

515. Dari Ummu Athiyyah radhiyallahu 'anha ia berkata, “Kami diperintahkan membawa keluar wanita-wanita gadis dan wanita-wanita yang berhaid di dua hari raya supaya mereka menyaksikan kebaikan dan doa kaum Muslimin, tetapi orang-orang yang haidh menjauhkan diri dari tempat shalat.” (Muttafaq 'alaih)[5]

516- وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ: , كَانَ اَلنَّبِيُّ r وَأَبُو بَكْرٍ, وَعُمَرُ: يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ اَلْخُطْبَةِ -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

516. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar melakukan shalat dua hari raya sebelum khutbah.” (Muttafaq 'alaih)[6]

517- وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: , أَنَّ اَلنَّبِيَّ r صَلَّى يَوْمَ اَلْعِيدِ رَكْعَتَيْنِ, لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا -  أَخْرَجَهُ اَلسَّبْعَةُ

517. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, “Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat Ied dua raa’at yang sebelumnya dan sesudahnya tidak melakukan shalat apa-apa.” (Diriwayatkan oleh Tujuh Imam Ahli Hadits)[7]

518- وَعَنْهُ: , أَنَّ اَلنَّبِيَّ r صَلَّى اَلْعِيدَ بِلَا أَذَانٍ, وَلَا إِقَامَةٍ -  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَأَصْلُهُ فِي اَلْبُخَارِيِّ

518. Dan darinya (Ibnu Abbas) bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan shalat ‘Ied tanpa melakukan azan dan iqamat. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, namun asalnya ada dalam Bukhari)[8]

519- وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: , كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ r لَا يُصَلِّي قَبْلَ اَلْعِيدِ شَيْئًا, فَإِذَا رَجَعَ إِلَى مَنْزِلِهِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ -  رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

519. Dari Abu Sa’id radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak melakukan shalat lain sebelum shalat ‘Ied, tetapi apabila kembali ke rumahnya Beliau shalat dua rakaat.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan isnad yang hasan)[9]

520- وَعَنْهُ قَالَ: , كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ r يَخْرُجُ يَوْمَ اَلْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى اَلْمُصَلَّى, وَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ اَلصَّلَاةُ, ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ اَلنَّاسِ -وَالنَّاسُ عَلَى صُفُوفِهِمْ- فَيَعِظُهُمْ وَيَأْمُرُهُمْ -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 

520. Dan darinya (Abu Sa’id) ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar pada hari ‘Iedul Fithri dan Adh-ha ke tempat shalat, dan yang pertama Beliau mulai adalah shalat kemudian setelah salam Beliau berdiri menghadap orang-orang, ketika itu orang-orang masih tetap dalam shafnya lalu Beliau menyampaikan nasihat kepada mereka dan menyuruh mereka.” (Muttafaq 'alaih)[10]

521- وَعَنْ عَمْرِوِ بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اَللَّهِ r , اَلتَّكْبِيرُ فِي اَلْفِطْرِ سَبْعٌ فِي اَلْأُولَى وَخَمْسٌ فِي اَلْآخِرَةِ, وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا -  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَنَقَلَ اَلتِّرْمِذِيُّ عَنِ اَلْبُخَارِيِّ تَصْحِيحَهُ

521. Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu 'anhum ia berkata, “Nabi Allah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Takbir pada (shalat) ‘Iedul Fithri adalah tujuh kali di rakaat pertama dan lima kali di rakaat kedua, dan membaca surat itu dilakukan setelah kedua takbir tersebut.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan Tirmidzi menukilkan penshahihan Bukhari terhadap hadits ini)[11]

522- وَعَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ: , كَانَ اَلنَّبِيُّ r يَقْرَأُ فِي اَلْأَضْحَى وَالْفِطْرِ بِـ (ق), وَ (اقْتَرَبَتْ). -  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

522. Dari Abu Waqid Al Laitsi radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca pada shalat ‘Iedul Fithri dan Adh-ha surat “Qaf” dan “Iqtarabat (yakni Al Qamar).” (Diriwayatkan oleh Muslim)[12]

523- وَعَنْ جَابِرٍ t قَالَ: , كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ r إِذَا كَانَ يَوْمُ اَلْعِيدِ خَالَفَ اَلطَّرِيقَ -  أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ

523. Dari Jabir radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila di hari raya mengambil jalan yang berbeda (yakni antara pulang dengan pergi).” (Diriwayatkan oleh Bukhari)[13]

524- وَلِأَبِي دَاوُدَ: عَنِ ابْنِ عُمَرَ, نَحْوُهُ

524. Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud dari Ibnu Umar sama juga seperti itu.[14]

525- وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: , قَدِمَ رَسُولُ اَللَّهِ r اَلْمَدِينَةَ, وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا. فَقَالَ: "قَدْ أَبْدَلَكُمُ اَللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ اَلْأَضْحَى, وَيَوْمَ اَلْفِطْرِ -  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ

525. Dari Anas radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke Madinah ketika itu penduduknya mempunyai dua hari yang mereka bersuka-ria di hari itu, maka Beliau bersabda, “Allah telah menggantikan dua hari itu dengan hari yang lebih baik darinya, yaitu Hari Idul Adh-ha dan hari Idul Fithri”. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i, dengan isnad yang shahih)[15]

526- وَعَنْ عَلِيٍّ t قَالَ: , مِنَ اَلسُّنَّةِ أَنْ يَخْرُجَ إِلَى اَلْعِيدِ مَاشِيًا -  رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَحَسَّنَهُ

526. Dari Ali radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Termasuk Sunnah apabila seseorang keluar menuju shalat ‘Ied dengan berjalan kaki.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan ia menghasankan)[16]

527- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t , أَنَّهُمْ أَصَابَهُمْ مَطَرٌ فِي يَوْمِ عِيدٍ. فَصَلَّى بِهِمْ اَلنَّبِيُّ r صَلَاةَ اَلْعِيدِ فِي اَلْمَسْجِدِ -  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ لَيِّنٍ

527. Dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa para sahabat pernah kehujanan pada suatu hari raya, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan shalat hari raya dengan mereka di masjid. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan isnad yang lunak)[17]

Bersambung….

Wa shallallahu 'alaa Nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Alih Bahasa:

Marwan bin Musa


[1] Shahih, diriwayatkan oleh Tirmidzi (802), Daruquthni (258) dari jalan Ma’mar dari Muhammad bin Al Munkadir dari ‘Aisyah. Abu ‘Isa mengatakan, "Aku bertanya kepada Muhammad –yakni Bukhari- kataku, “Apa Muhammad bin Al Munkadir mendengar dari ‘Aisyah?” Ia menjawab, “Ya, ia mengatakan dalam haditsnya “Aku mendengar Aisyah.” Abu ‘Isa berkata, “Hadits ini hasan shahih gharib dari jalur ini.” Al Albani berkata, “Menurutku dari jalur ini adalah dha’if karena dua sebab: Pertama, lemahnya Yahya bin Al Yamaan, Al Haafizh dalam At Taqrib mengatakan, ‘Sangat jujur, pengembara, sering keliru dan telah berubah hapalan.” Sedangkan sebab yang lain adalah karena menyelisihi orang yang tsiqah, dan telah diriwayatkan oleh Yazid bin Zurai’ dari Ma’mar dari Muhammad bin Al Munkadir dari Abu Hurairah, karenanya hadits ini termasuk sanad Abu Hurairah, bukan Aisyah.” Al Albani berkata juga, “Kesimpulannya hadits ini dengan semua jalannya adalah shahih.” [Shahih At Tirmidzi (509), Al Irwaa’ (4/12)].

[2] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (1157) dalam Ash Shalaah, Nasa’i (1/231), Ibnu Majah (1653), Ibnul Jarud dalam Al Muntaqaa (139-140), Ahmad (5/57), juga Ibnu Abi Syaibah (2/165/1), Thahawiy (1/226), Daruquthni (233), Baihaqi (3/316) ia mengatakan, “Ini isnad yang shahih”, Al Haafizh juga mengikutinya dalam Bulughul Maraam. Daruquthni mengatakan, “Isnadnya hasan tsaabit (shahih)”. Al Albani berkata, “Juga dishahihkan oleh Ibnul Mundzir, Ibnus Sakan dan Ibnu Hazm, sebagaimana disebutkan oleh Al Haafizh dalam At Talkhish (146). [Al Irwaa’ (634) dan Al Misykaat (1450)].

[3] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (953) dalam Al ‘Iidain, Ibnu Sa’ad (1/387), Ibnu Abi Syaibah (3/160) juga diriwayatkan oleh yang lainnya. Bukhari menambahkan dalam riwayat yang mu’allaq itu “ويأكلهن وترا “(Dan Beliau makan dengan jumlah ganjil). Dan telah dimaushulkan oleh Ahmad (3/126) dengan sanad hasan, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah (1429), juga dimaushulkan oleh Hakim (1/294), Baihaqi (3/283) dari ‘Utbah bin Hamiid Adh Dhabbiy telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abu Bakr bin Anas ia berkata, “Aku mendengar Anas…lalu disebutkan dengan lafaz, “….beberapa kurma, tiga, lima, tujuh atau kurang dari itu atau lebih dari itu dalam jumlah ganjil.” Hakim mengatakan, “Shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim” dan dibenarkan oleh Adz Dzahabiy. Al Albani berkata: “Tentang Utbah ini, Muslim tidak meriwayatkannya, ia adalah orang yang sangat jujur namun banyak keliru, jadi hadits ini sekurang-kurangnya adalah hasan. Hadits ini ada dalam Shahih Ibnu Majah no. (1433) [Adh Dha’iifah (4287)].

Lafaz “Wa ya’kuluhunna afraadan” adalah lafaz riwayat Ahmad –lihat TSZ-.

[4] Shahih, diriwayatkan oleh Tirmidzi (542) dalam Al Jumu’ah, Ahmad (22474), Ibnu Hibban (4/206) dalam shahihnya. Tirmidzi mengatakan, "Hadits Buraidah bin Hashib Al Aslamiy adalah hadits gharib,” ia juga mengatakan, “Muhammad (Bukhari) berkata, ”Saya tidak mengetahui Tsawab bin ‘Utbah memiliki hadits selain ini”. Al Albani berkata dalam Al Misykaat (1440), “Isnadnya shahih, para perawinya semuanya adalah tsiqah dan terkenal selain Tsawab bin Utbah, namun jama’ah (ahli hadits) meriwayatkan darinya, dan dipandang tsiqah oleh lebih dari seorang imam, maka tidak dibenarkan lagi bersikap diam tidak menerima haditsnya. Hadits ini dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi (542) dan Shahih Ibnu Majah (1434) .

[5] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (980, 981), Muslim (890) dalam Al ‘Iidain, dan dalam Al Misykaat (1431).

[6] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (963), Muslim (888), Tirmidzi (2/411), Nasa’i (1/232), Ibnu Majah (1276), Ibnu Abi Syaibah (2/3/2), Baihaqi (3/296), Ahmad (2/12, 38) dari jalan Naafi’ darinya. Tirmidzi mengatakan, " Hadits hasan shahih.” [lihat Al Irwaa' ( 645)] .

[7] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (5883), Muslim (884), Abu Dawud (1159), Nasa’i (1587), Abu Dawud (1159), Ibnu Majah (1291), Tirmidzi (537), Darimiy (1/376), Ahmad (1/355), Baihaqi (2/302). [Lihat Al Irwaa' (631) dan Al Misykaat (1430)] .

[8] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (1147), dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud (1147), asalnya ada dalam Bukhari no. (7325) dalam Al ‘Iedain. Lihat Al Misykaat (1428) .

Dalam TSZ disebutkan asal hadits yang ada di Bukhari yaitu,

خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلى ثم خطب، ولم يذكر آذانا ولا إقامة... الحديث.

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar, lalu shalat dan berkhutbah, tidak ada azan dan iqamah…dst.”

[9] Hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1293), Ahmad (3/28, 40) sama seperti itu, Hakim (1/297), Baihaqi juga meriwayatkan darinya namun bagian yang kedua. Hakim mengatakan, ”Shahih isnadnya,” dan disepakati oleh Adz Dzahabiy. Al Albani berkata, “Ini hanya hasan saja, karena Ibnu ‘Uqail ada pembicaraan dari segi hapalan, oleh karena itu Al Hafizh dalam Bulughul Maraam dan Al Buwshairiy dalam Az Zawaa’id (qaaf, 80/2) berkata, “Dan ini isnad yang hasan”. Al Albani juga berkata, “Penggabungan antara hadits ini dengan hadits-hadits sebelumnya (hadits Ibnu Abbas) yang menafikan shalat setelah shalat ‘Ied adalah bahwa penafian shalat setelah ‘Ied itu ketika di tanah lapang, sebagaimana disebutkan oleh Al Hafizh dalam At Talkhis (hal. 144) [Shahih Ibnu Majah (1076) dan Al Irwaa’ (3/100)].

[10] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (956) dalam Al ‘Iedain, Muslim (889) dalam Shalaatul ‘Iedain, Nasa’i (1/233), Baihaqi (3/280), Ahmad (3/36, 54), dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Al Irwaa’ (630) dan Al Misykaat (1426).

[11] Hasan, hadits ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya ada dalam riwayat Abu Dawud (1151) yaitu kata-kata Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, diriwayatkan oleh Abu Dawud (1152), Ibnu Majah (1278), Thahawiy dan Ibnul Jarud dalam Al Muntaqa (138), Daruquthni, Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah (2/4/2) dan Ahmad (2/180) dari jalan Abdullah bin ‘Abdurrahman Ath Thaa’ifiy dari ‘Amr berupa perbuatan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Al Albani berkata, “Ath Thahawiy mencacatkannya dengan kata-katanya, “Ath Thaa’ifiy bukanlah orang yang yang bisa dipakai sebagai hujjah.” Sedangkan dalam At Taqrib disebutkan, “Sangat jujur, namun ia melakukan kekeliruan dan wahm (salah perkiraan)”, dalam At Talkhish (144) disebutkan, ”Dan dishahihkan oleh Ahmad, Ali dan Bukhari, sebagaimana dinukilkan oleh Tirmidzi.” Al Albani berkata, “Mungkin hal itu karena beberapa syawahid (penguat) di antaranya hadits Aisyah yang telah lewat.”, dan dihasankan oleh Al Albani. [lihat Shahih Abu Dawud (1152) dan Al Irwaa’ (3/108)].

[12] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (891).

[13] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (986) dari jalan Abu Tumailah Yahya bin Wadhih dari Fulaih bin Sulaiman dari Sa’id bin Al Haarits dari Jabir bin Abdullah. [lihat Al Irwaa' ( 637)].

[14] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (1156) dari Ibnu Umar dengan lafaz,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أخذ يوم العيد في طريق، ثم رجع في طريق آخر

“Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berangkat pada hari ‘Ied lewat satu jalan, dan pulangnya lewat jalan lain.” Dan dishahihkan oleh Al Albani, ia nisbatkan hadits itu kepada Ibnu Majah (1299), Hakim, Baihaqi dan Ahmad (2/109) sebagaimana dalam Al Irwaa’ (3/105).

[15] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (1134) bab Shalatul ‘Iedain, Al Albani berkata dalam Al Misykaat (1439), “Isnadnya shahih, juga diriwayatkan oleh Nasa’i (1556) dalam Shalatul ‘Iedain, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud (1134).

[16] Hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi (530), Ibnu Majah (1296), Baihaqi (3/281) dari jalan Abu Ishaq dari Al Harits darinya. Tirmidzi mengatakan, "Hadits hasan”. Al Albani berkata: “Isnadnya dha’if sekali karena adanya Al Harits yakni Al A’war dimana ia dianggap pendusta oleh Asy Sya’biy, Abu Ishaaq, Ibnul Madiniy dan didha'ifkan oleh jumhur. Mungkin sebab Tirmidzi menghasankan hadits ini karena banyaknya penguat, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadits Sa’ad Al Qurzh, Ibnu Umar dan Abu Raafi’, riwayat-riwayat ini meskipun masing-masingnya dha’if, namun apabila dikumpulkan secara keseluruhan menunjukkan bahwa hadits ini memiliki dasar. Hadits juga memiliki penguat yang mursal dari Az Zuhriy yang diriwayatkan oleh Al Faryabiy dalam Ahkaamul ‘Iedain (127/2), dan dari Sa’id bin Al Musayyib yang diriwayatkan oleh Al Faryaabiy (127/1, 2) dan isnadnya shahih. Dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi (530). [Al Irwaa’ (636)].

Namun Sumair Az Zuhairiy mendha’ifkan hadits ini, ia katakana, “Dha’if, diriwayatkan oleh Tirmidzi (530), adapun perkataannya “Ini adalah hadits hasan”, namun sebenarnya tidak hasan, karena isnadnya rusak, di dalamnya terdapat beberapa cacat; tidak bisa dikatakan hadits ini memiliki syahid-syahid, semuanya tidak cocok sebagai syahid, bahkan Al Haafizh sendiri mendha’ifkannya…dst.” –TSZ-.

[17] Dha’if, diriwayatkan oleh Abu Dawud (1160) bab Yushalliy bin naas al ‘ied fil masjid idzaa kaana yaum mathar. Al Albani berkata dalam Al Misykaat (1448), “Isnadnya dha’if.” Dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1313), dan didha'ifkan oleh Al Albani dalam Dha’if Abu Dawud (1160).

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger