بسم الله الرحمن الرحيم
Terjemah Bulughul Maram (26)
Segala puji bagi
Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
Kiamat, amma ba’du:
Berikut lanjutan terjemah Bulughul Maram karya
Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan
buku ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Dalam menyebutkan
takhrijnya, kami banyak merujuk kepada dua kitab; Takhrij dari cetakan Darul
‘Aqidah yang banyak merujuk kepada kitab-kitab karya Syaikh M. Nashiruddin
Al Albani rahimahullah, dan Buluughul Maram takhrij Syaikh Sumair Az
Zuhairiy –hafizhahullah- yang kami singkat dengan ‘TSZ’.
كِتَابُ
اَلْجَنَائِزِ
Kitab Jana’iz (Pengurusan Jenazah)
558- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r , أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اَللَّذَّاتِ: اَلْمَوْتِ - رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَالنَّسَائِيُّ,
وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ
558.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan yaitu
maut.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Nasa’i, serta dishahihkan oleh Ibnu
Hibban)
559- وَعَنْ أَنَسٍ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r , لَا
يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ اَلْمَوْتَ لِضُرٍّ يَنْزِلُ بِهِ, فَإِنْ كَانَ لَا
بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ: اَللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ اَلْحَيَاةُ
خَيْرًا لِي, وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ اَلْوَفَاةُ خَيْرًا لِي - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
559.
Dari Anas radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kamu berkeinginan unntuk
mati karena derita yang menimpanya, jika memang harus demikian maka katakanlah,
“Ya Allah, hidupkanlah aku apabila hidup itu baik bagiku, dan wafatkanlah aku
apanila wafat itu baik buatku.’” (Muttafaq 'alaih)
560- وَعَنْ بُرَيْدَةَ t
عَنِ اَلنَّبِيِّ r قَالَ: , اَلْمُؤْمِنُ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ - رَوَاهُ اَلثَّلَاثَةُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ
560.
Dari Buraidah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
Beliau bersabda, “Orang mukmin itu meninggal dunia dengan adanya keringat di
dahinya.” (Diriwayatkan oleh tiga orang, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)
561- وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اَللَّهُ
عَنْهُمَا قَالَا: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r , لَقِّنُوا
مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ -
رَوَاهُ مُسْلِمٌ, وَالْأَرْبَعَةُ
561.
Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma keduanya berkata, “Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ajarkanlah kepada orang yang hampir
meninggal di antara kamu ‘Lailaaha illallah.” (Diriwayatkan oleh Muslim
dan empat orang)
562- وَعَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ t
أَنَّ اَلنَّبِيَّ r قَالَ: , اقْرَؤُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس - رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ,
وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ
562.
Dari Ma’qil bin Yasar bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
“Bacakanlah Yasiin kepada orang-orang yang hampir meninggal di antara kamu.”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)
563- وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: , دَخَلَ رَسُولُ
اَللَّهِ r
عَلَى أَبِي سَلَمَةَ t وَقَدْ شُقَّ بَصَرُهُ فَأَغْمَضَهُ, ثُمَّ
قَالَ: "إِنَّ اَلرُّوحَ إِذَا قُبِضَ, اتَّبَعَهُ الْبَصَرُ" فَضَجَّ
نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ, فَقَالَ: "لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا
بِخَيْرٍ. فَإِنَّ اَلْمَلَائِكَةَ تُؤَمِّنُ عَلَى مَا تَقُولُونَ". ثُمَّ
قَالَ: "اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ, وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي
اَلْمَهْدِيِّينَ, وَافْسِحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ, وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ,
وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ -
رَوَاهُ مُسْلِمٌ
563.
Dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
pernah masuk menemui Abu Salamah, pada waktu itu ia (Abu Salamah) dalam keadaan
matanya terbelalak, maka Beliau pun memejamkan, lalu bersabda, “Sesungguhnya
ruh apabila dicabut diikuti oleh pandangan,” keluarganya pun kaget, maka Beliau
bersabda, “Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali yang baik, karena
para malaikat mengaminkan ucapan kalian,” lalu Beliau berdoa, “Ya Allah,
ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya ke dalam golongan orang-orang yang
mendapatkan petunjuk, lapangkanlah kuburnya, sinarilah di dalamnya dan
adakanlah orang yang menggantikan dia pada keturunannya.” (Diriwayatkan oleh
Muslim)
564- وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا: , أَنَّ رَسُولَ
اَللَّهِ r
حِينَ تُوُفِّيَ سُجِّيَ بِبُرْدٍ حِبَرَةٍ -
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
564.
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, “Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
ketika wafat ditutup dengan kain genggang Yaman.” (Muttafaq 'alaih)
565- وَعَنْهَا , أَنَّ أَبَا بَكْرٍ اَلصِّدِّيقَ t
قَبَّلَ اَلنَّبِيَّ r بَعْدَ مَوْتِهِ -
رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ
565.
Dan darinya (Aisyah) bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq pernah mencium Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam ketika wafatnya. (Diriwayatkan oleh Bukhari)
566- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t
عَنِ اَلنَّبِيِّ r قَالَ: , نَفْسُ اَلْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ
بِدَيْنِهِ, حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ -
رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ
566.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
Beliau bersabda, “Jiwa seorang mukmin itu tergantung dengan utangnya hingga
dibayarkan.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi, dan ia (Tirmidzi)
menghasankannya)
567-وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ
اَلنَّبِيَّ r
قَالَ فِي اَلَّذِي سَقَطَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَمَاتَ: , اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَكَفِّنُوهُ
فِي ثَوْبَيْنِ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
567.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda tentang orang yang jatuh dari kendaraannya lalu meninggal,
“Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara serta kafankanlah dia dengan dua
kainnya.” (Muttafaq 'alaih)
568- وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: , لَمَّا
أَرَادُوا غَسْلَ اَلنَّبِيِّ r قَالُوا: وَاَللَّهُ مَا نَدْرِي, نُجَرِّدُ
رَسُولَ اَللَّهِ r كَمَا نُجَرِّدُ مَوْتَانَا, أَمْ لَا?….. - اَلْحَدِيثَ، رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو
دَاوُدَ
568.
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkata, “Ketika para shahabat hendak
memandikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mereka berkata, “Demi
Allah, kita tidak tahu apakah kita harus melepaskan pakaian Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana kita melepaskan pakaian mayit-mayit
kita atau kita mandikan dengan mengenakan pakain…dst. (Diriwayatkan oleh Ahmad
dan Abu Dawud)
569-وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: , دَخَلَ
عَلَيْنَا اَلنَّبِيُّ r وَنَحْنُ نُغَسِّلُ ابْنَتَهُ، فَقَالَ:
"اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا, أَوْ خَمْسًا, أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، إِنْ
رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ, بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا,
أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ"، فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ, فَأَلْقَى
إِلَيْنَا حِقْوَهُ.فَقَالَ: "أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ" - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ: , ابْدَأْنَ
بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ اَلْوُضُوءِ مِنْهَا - وَفِي لَفْظٍ ِللْبُخَارِيِّ:
, فَضَفَّرْنَا
شَعْرَهَا ثَلَاثَةَ قُرُونٍ, فَأَلْقَيْنَاهُ خَلْفَهَا -
569. Dari Ummu Athiyyah radhiyallahu 'anha
ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam masuk menemui kami di waktu
kami sedang mandikan anak perempuannya, Beliau bersabda, “Mandikanlah dia tiga
kali atau lima atau lebih dari itu, jika kamu pandang perlu hal itu dengan air dan daun bidara, untuk
yang terakhir gunakanlah kapur barus -atau sedikit dari kapur barus-,“ ketika
kami selesai, kami pun memberitahukan Beliau, lalu Beliau memberikan kainnya
dan bersabda, “Pakaikanlah kain ini kepadanya.” (Muttafaq 'alaih, sedangkan
dalam sebuah riwayat disebutkan, “Mulailah dari anggota kanannya serta
anggota-anggota wudhunya.” Dan dalam sebuah lafaz Bukhari disebutkan, “Kamipun
menjalin rambutnya dengan tiga jalinan, lalu kami hamparkan ke belakang.”
570- وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: , كُفِّنَ
رَسُولُ اَللَّهِ r فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ
مِنْ كُرْسُفٍ, لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ. -
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
570. Dari Aisyah radhiyallahu 'anha ia
berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dikafankan dengan tiga helai
kain putih bersih dari kapas, tidak memakai gamis dan tidak pula sorban.”
(Muttafaq 'alaih)
571- وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: , لَمَّا
تُوُفِّيَ عَبْدُ اَللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ جَاءٍ اِبْنُهُ إِلَى رَسُولِ اَللَّهِ r
. فَقَالَ: أَعْطِنِي قَمِيصَكَ أُكَفِّنْهُ فِيهِ, فَأَعْطَاه ُ]إِيَّاهُ] - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
571. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma ia berkata, “Ketika Abdullah
bin Ubay meninggal dunia datanglah anaknya kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dan berkata, “Berikanlah kepadaku baju engkau supaya aku
kafankan dia dengannya.” Maka Beliau pun memberikan kepadanya (Muttafaq 'alaih)
572- وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ
اَلنَّبِيَّ r
قَالَ: , الْبَسُوا مِنْ
ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ, فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ, وَكَفِّنُوا فِيهَا
مَوْتَاكُمْ - رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ,
وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ
572. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma
bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Pakailah pakaianmu yang
berwarna putih, karena itu adalah sebaik-baik pakaian kamu, dan kafankanlah
dengannya orang-orang yang mati di antara kamu.” (Diriwayatkan oleh lima orang
kecuali Nasa’i, dan dishahihkan oleh Tirmidzi)
573- وَعَنْ جَابِرٍ t
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r , إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ
فَلْيُحْسِنْ كَفَنَهُ -
رَوَاهُ مُسْلِمٌ
573. Dari Jabir radhiyallahu 'anhu ia
berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah
seorang di antara kamu mengkafankan saudaranya, maka perbaguslah kafannya.”
(Diriwayatkan oleh Muslim)
574- وَعَنْهُ قَالَ: , كَانَ اَلنَّبِيُّ r
يَجْمَعُ بَيْنَ اَلرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحَدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ, ثُمَّ
يَقُولُ: "أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ?", فَيُقَدِّمُهُ فِي
اَللَّحْدِ, وَلَمْ يُغَسَّلُوا, وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِمْ -
رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ
574. Dan darinya (Jabir) ia berkata, “Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menggabungkan dua orang yang terbunuh di
peperangan Uhud dalam satu kain, kemudian Beliau bersabda “Siapakah di antara
mereka yang lebih hapal Al Qur’an?” Lalu orang itu didahulukan untuk dimasukkan
ke liang lahad, mereka tidak dimandikan dan tidak pula dishalatkan.
(Diriwayatkan oleh Bukhari)
575- وَعَنْ عَلِيٍّ t
قَالَ: , سَمِعْتُ
اَلنَّبِيَّ r
يَقُولُ: "لَا تُغَالُوا فِي اَلْكَفَنِ, فَإِنَّهُ يُسْلُبُ سَرِيعًا" - رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ
575. Dari Ali radhiyallahu 'anhu ia berkata,
“Saya mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu
berlebih-lebihan dalam hal kafan karena ia (kafan) akan segera rusak.”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
576- وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا ; أَنَّ
اَلنَّبِيَّ r
قَالَ لَهَا: , لَوْ مُتِّ
قَبْلِي فَغَسَّلْتُكِ -
اَلْحَدِيثَ. رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَهْ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ
حِبَّانَ
576. Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Kalau kamu meninggal
sebelumku, niscaya aku memandikanmu...dst.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu
Majah, dishahihkan oleh Ibnu Hibban)
577- وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ رَضِيَ اَللَّهُ
عَنْهَا: , أَنَّ
فَاطِمَةَ عَلَيْهَا اَلسَّلَامُ أَوْصَتْ أَنْ يُغَسِّلَهَا عَلِيٌّ رَضِيَ
اَللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -
رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ
577. Dari Asma binti Umaisy radhiyallahu
'anha, bahwa Fathimah radhiyallahu 'anha berpesan supaya Ali radhiyallahu 'anhu
yang memandikannya. (Diriwayatkan oleh Daruquthni)
578- وَعَنْ بُرَيْدَةَ t
-فِي قِصَّةِ الْغَامِدِيَّةِ اَلَّتِي أَمَرَ اَلنَّبِيُّ r
بِرَجْمِهَا فِي اَلزِّنَا- قَالَ: , ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَصُلِّيَ عَلَيْهَا
وَدُفِنَتْ - رَوَاهُ مُسْلِمٌ
578. Dari Buraidah radhiyallahu 'anhu,
tentang kisah wanita Ghamidiyyah yang disuruh Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam untuk merajamnya karena dia berzina, ia (Buraidah) berkata, “Kemudian
diperintahnya (untuk dirajam) lalu dishalatkan dan dikubur. (Diriwayatkan oleh
Muslim)
579- وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا
قَالَ: , أُتِيَ
اَلنَّبِيُّ r
بِرَجُلٍ قَتَلَ نَفْسَهُ بِمَشَاقِصَ, فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ - رَوَاهُ مُسْلِمٌ
579. Dari jabir bin Samurah radhiyallahu
'anhu ia berkata, “Dibawakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam seorang
yang membunuh dirinya dengan anak panah maka Beliau tidak menyalatkannya.
(Diriwayatkan oleh Muslim)
580- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t
-فِي قِصَّةِ اَلْمَرْأَةِ اَلَّتِي كَانَتْ تَقُمُّ اَلْمَسْجِدَ- قَالَ: , فَسَأَلَ
عَنْهَا اَلنَّبِيُّ r ] فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ: "أَفَلَا كُنْتُمْ
آذَنْتُمُونِي"? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا] فَقَالَ:
"دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا", فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِوَزَادَ مُسْلِمٌ, ثُمَّ قَالَ: , إِنَّ هَذِهِ
اَلْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا, وَإِنَّ اَللَّهَ يُنَوِّرُهَا
لَهُمْ بِصَلَاتِي عَلَيْهِمْ -
580. Dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anha,
tentang kisah perempuan yang biasa menyapu masjid (yang tidak kelihatan menyapu
masjid lagi), Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menanyakan perihal perempuan
itu, para shahabat menjawab, “Ia telah meninggal”. Maka Beliau berkata,
“Mengapakah kalain tidak memberitahukan aku?” –sepertinya para shahabat
meremehkan masalahnya-, kata Beliau, “Beritahukanlah kepadaku mana kuburnya”,
maka para shahabat menunjukkannya lalu Beliau menyalatkannya.” (Muttafaq 'alaih) Muslim menambahkan,
“Kemudian Beliau bersabda, “Sesungguhnya kubur-kubur ini dipenuhi oleh
kegelapan untuk penghuninya, dan sesungguhnya Allah memberikan cahaya untuk
mereka dengan shalatku.”
Bersambung….
Wa
shallallahu 'alaa Nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Alih Bahasa:
Marwan bin Musa