Khutbah Jum'at: Ada Apa di Bulan Dzulqa’dah?

Senin, 20 April 2026

 

بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Ada Apa di Bulan Dzulqa’dah?[i]

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam, nikmat iman, nikmat hidayah, nikmat taufiq, nikmat sehat wal afiyat dan nikmat-nikmat lainnya yang sama-sama kita rasakan yang semuanya patut untuk kita syukuri.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Kita sudah memasuki bulan Dzulqa’dah; yang merupakan bulan ke-11 dari kalender Hijriyyah.

Bulan ini dinamakan Dzulqa’dah karena ketika itu orang-orang berhenti dari melakukan peperangan dan bersiap-siap untuk menunaikan ibadah haji.

Bulan Dzulqa’dah adalah salah satu di antara 4 bulan haram (suci), dimana tiga bulan tersebut ada yang berurutan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, sedangkan Rajab terletak antara bulan Jumada Tsaniyah dan Sya’ban.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu…" (Qs. At Taubah : 36)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ ."

"Setahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram; tiga berurutan yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram, sedangkan Rajab Mudhar antara Jumada (Tsaniyah) dan Sya'ban." (Hr. Bukhari dan Muslim)

Diidhafatkan (dihubungkan) kata-kata Rajab dengan Mudhar, karena mereka (suku Mudhar) lebih memuliakannya daripada suku-suku lainnya.

Oleh karena bulan Dzulqa’dah termasuk bulan haram (suci), maka diharamkan melakukan tindak kezaliman di dalamnya dengan melakukan maksiat dan melewati batasan-batasan Allah Azza wa Jalla. Allah berfirman,

فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu." (Qs. At Taubah : 36)   

Karena berbuat dosa di bulan ini dan bulan haram lainnya lebih besar dosanya daripada bulan-bulan lain meskipun dilarang juga di bulan-bulan yang lain. Yang demikian karena mulia dan terhormatnya bulan-bulan tersebut di sisi Allah Azza wa Jalla.

Qatadah berkata, "Sesungguhnya berbuat zalim di bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada berbuat zalim di selain bulan-bulan itu, meskipun berbuat zalim dalam keadaan bagaimana pun adalah sesuatu yang besar, akan tetapi Allah memperbesar perkara-Nya sesuai kehendak-Nya."

Dahulu masyakat jahiliyyah sangat memuliakan tanah haram (suci) dan bulan haram, di antara bentuknya: mereka tidak berani menakut-nakuti seseorang, tidak menuntut darah dan balas dendam di bulan itu, bahkan ada seseorang yang berada di bulan haram atau di Baitullah Al haram melihat pembunuh ayah, anak, atau saudaranya, namun ia tidak melakukan balas dendam, tidak mengganggunya, serta tidak mengulurkan tangannya kepadanya. (Lihat Tafsir Ath Thabari 2/521, 11/440 dan Tafsir Al Qurthubi 6/326)

Dengan demikian, seorang muslim harus memuliakan bulan haram dengan tidak melanggar batasan-batasan Allah Azza wa Jalla, melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, melaksanakan kewajibannya, dan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan cara yang diridhai-Nya, serta menahan dirinya dari menzaliminya dan menzalimi orang lain dengan mengerjakan larangan Allah dan melakukan hal-hal yang dimurkai-Nya serta melanggar batasan Allah Azza wa Jalla.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Bulan Dzulqa’dah juga termasuk bulan haji. Allah Azza wa Jalla berfirman,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” (Qs. Al Hajj: 197)

Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata, “Bulan-bulan haji adalah bulan Syawwal, bulan Dzulqa’dah, dan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah.” (Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq/tanda sanad dengan shighat jazm (pasti))

Di bulan ini dianjurkan umrah mengikuti praktek Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dimana Beliau melakukan umrah 4 kali dan semuanya dilakukan pada bulan Dzulqa’dah, yaitu:

(1)  Umrah pada saat perjanjian Hudaibiyah pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-6 H,

(2)  Umrah pada tahun berikutnya (umratul qadha) pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-7 H,

(3)  Umrah dari Ji’ranah dimana Beliau membagikan ghanimah (harta rampasan) dari perang Hunain pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-8 H (tahun Fathu Makkah)

(4)  Umrah sekaligus haji, dimana Beliau berihram untuk haji pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-10 H, dan prakteknya pada bulan Dzulhijjah, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam berhajji qiran (menggabung antara umrah dan haji).

Umrah di bulan Dzulqa’dah lebih utama daripada bulan-bulan lainnya selain bulan Ramadhan, karena umrah di bulan Ramadhan lebih utama dibanding bulan-bulan lainnya, dimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي

“Karena berumrah di bulan Ramadhan setara dengan haji atau haji bersamaku.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Namun ada riwayat dari segolongan kaum salaf bahwa mereka lebih mengutamakan umrah pada bulan Dzulqa’dah dan bulan Syawwal daripada bulan Ramadhan, seperti pendapat Ibnu Umar, Aisyah radhiyallahu anhum dan Atha rahimahullah. Mungkin mereka berpendapat demikian karena umrah Rasulullah shalllallahu alaihi wa sallam biasa dilakukan di bulan Dzulqa’dah, umrah juga merupakan haji kecil, dan waktunya lebih utama pada bulan haji, dimana Dzulqa’dah merupakan pertengahan bulan-bulan Haji, walllahu a’lam.

Dianjurkan pula berpuasa pada bulan Dzulqa’dah karena termasuk bulan haram, tanpa mengkhususkan hari tertentu dengan anggapan adanya keutamaan. Ada sebuah riwayat yang berbunyi,

صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ

“Berpuasalah pada bulan haram, dan tinggalkanlah (sebagian hari-hari yang lain).” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, namun didhaifkan oleh Al Albani)

Ada praktek puasa pada bulan haram dari sebagian kaum salaf seperti Ibnu Umar, Al Hasan Al Bashri, Sufyan Ats Tsauriy, dan yang demikian adalah madzhab jumhur fuqaha (Ahli Fikih) (Lihat Latha’iful Ma’arif hal. 119 dan Mausu’ah Fiqhiyyah 28/95)

Demikianlah amaliyyah pada bulan Dzulqa’dah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَرَ أَوْ أَرَادَ شُكُوْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، فَمَا أَعْظَمَهُ رَباًّ وَمَلِكًا قَدِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي أَرْسَلَهُ إِلَى جَمِيْعِ الثَّقَلَيْنِ بَشِيْراً وَنَذِيْرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى محمد وَعلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pada bulan Dzulqa’dah terjadi beberapa peristiwa, seperti munajat Nabi Musa alaihis salam kepada Allah untuk menerima Taurat dalam waktu 40 hari, dimana 30 harinya di bulan Dzulqa’dah, sedangkan 10 harinya di bulan Dzulhiujjah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) setelah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi).” (Qs. Al A’raaf: 142)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa waktunya disempurnakan pada hari nahar (10 Dzulhijjah), di saat itulah Allah Azza wa Jalla berbicara dengan Nabi Musa alaihis salam.

Demikian pula pada bulan Dzulqa’dah terjadi perang Badar kecil pada tahun ke-4 H, dimana Abu Sufyan berjanji melawan kaum muslimin setahun setelah perang Uhud, namun tidak jadi dilanjutkan (Lihat Al Maghaziy karya Al Waqidiy 1/384).

Di bulan Dzulqa’dah juga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menikahi puteri bibinya yaitu Zainab binti Jahsy radhiyallahu anha pada tahun ke-4 H, dimana pada saat itu juga turun ayat hijab.

Perang Khandaq atau Ahzab juga terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-5 H, meskipun ada yang berpendapat pada bulan Syawwal.

Demikian pula perang terhadap Bani Quraizhah juga terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-5 H, meskipun ada yang berpendapat pada bulan Syawwal.

Dan Shulhul Hudaibiyah (Perjanjian Hudaibiyah) juga terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-6 H, dimana Allah Azza wa Jalla menyebut perjanjian ini sebagai kemenangan yang nyata sebagaimana tersebut di surah Al Fat-h ayat 1, dimana hal ini merupakan pendapat mayoritas Ahli Tafsir.

Kita meminta kepada Allah agar Dia selalu membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya dan memberikan kita taufiq untuk dapat menempuhnya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I


[i] Khutbah ini banyak merujuk kepada risalah 15 Faidah Fii Syahri Dzil Qa’dah karya Syaikh M. bin Shalih Al Munajjid.

Khutbah Jum'at: Hakikat Dzikir, Keutamaan, dan Pembagiannya

Sabtu, 11 April 2026

 بسم الله الرحمن الرحيم




Khutbah Jum'at

Hakikat Dzikir, Keutamaan, dan Pembagiannya

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam dan nikmat taufiq, sehingga kita dapat melangkahkan kaki kita menuju rumah-Nya melaksanakan salah satu perintah-Nya yaitu shalat Jumat berjamaah.

Shalawat dan salam tidak lupa kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Di antara amalan ringan yang menghasilkan pahala besar, memberatkan timbangan kebaikan, dan dicintai Allah Ar Rahman adalah Dzikirullah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى اَلرَّحْمَنِ, خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ, ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ, سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ , سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ

“Ada dua kalimat yang dicintai Ar Rahman (Allah), ringan di lisan dan berat di timbangan yaitu “Subhaanallah wa bihamdih-subhaanallahil ‘azhiim (artinya: Artinya: Mahasuci Allah sambil memuji-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung). (Hr. Bukhari dan Muslim)

Berdzikir maksudnya menyebut dan mengingat Allah 'Azza wa Jalla, yaitu membaca lafaz-lafaz tertentu yang dianjurkan oleh syara’ untuk dibaca dan diperintahkan untuk banyak membacanya, seperti ucapan tasbih (subhaanallah), tahmid (al hamdulillah), tahlil (Laailaahaillallah) dan takbir (Allahu akbar), hauqalah (Laa haula walaa quwwata illaa billah), basmalah (bismillah), istighfar (Astaghfirullah), berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat, dsb.

Kata "dzikir" juga bisa dipakai untuk perbuatan yang dilakukan secara rutin, yaitu yang wajib atau yang sunah, seperti membaca Al Qur’an, membaca hadits, mempelajari ilmu dan melakukan shalat sunah.

Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab Al Adzkar, "Ketahuilah, bahwa keutamaan dzikir tidak terbatas pada tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan sebagainya, bahkan setiap orang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah Ta'ala, maka dia berdzikir kepada Allah Ta'ala, demikianlah yang dikatakan Sa'id bin Jubair radhiyallahu 'anhu dan para ulama lainnya."

Atha' rahimahullah berkata, "Majlis dzikir adalah majlis halal dan haram, bagaimana anda membeli dan menjual, shalat dan berpuasa, menikah dan mentalak, berhaji dan semisalnya."

Dzikir bisa dilakukan oleh lisan, dan orang yang membacanya akan diberi pahala, dan tidak disyaratkan harus menyelami maknanya, akan tetapi disyaratkan agar maksud (hati)nya tidak keluar dari maknanya. Jika di samping dibaca pada lisan diresapi pula oleh hati, maka itu lebih utama, terlebih jika sampai menyelami makna dan kandungannya yang berupa pengagungan terhadap Allah dan penafian dari kekurangan, maka akan bertambah lebih sempurna lagi, dan jika dzikir yang dibaca bertepatan ketika sedang melakukan amal saleh seperti shalat, jihad, dsb. maka akan bertambah lebih sempurna.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Dzikir memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

1.     Menenangkan hati.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (Terj. QS. Ar Ra'd: 28)

2.     Allah akan ingat kepadanya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ،

Allah Ta’ala berfirman, "Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya (dengan ilmu dan rahmat) jika dia ingat Aku.  Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. (Hr. Bukhari dan Muslim. Lafazh hadits ini lafaz Bukhari)

3.     Mengusir setan dan menjadikan setan tidak mampu menguasai dirinya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟

"Apabila seseorang keluar dari rumahnya, lalu ia mengatakan, "Bismillah…dst. sampai "Illaa billah," (artinya: Dengan nama Allah. Aku bertawakkal kepada Allah. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.") Maka dikatakan ketika itu, "Engkau ditunjuki, dicukupi, dan dijaga." Setan pun akan menjauh darinya. Kemudian setan yang lain berkata kepada kawannya, "Bagaimana kamu akan menguasai orang yang telah ditunjuki, dicukupi dan dipelihara." (Hr. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Ibnu Abbas berkata ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala, "Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi," (Terj. QS. An Naas: 4), "Setan berada di dekat hati anak Adam. Ketika ia lupa dan lalai, maka setan membisikinya, dan ketika ia ingat kepada Allah, maka ia akan menyingkir."

4.     Sebagai ibadah yang ringan.

Abdullah bin Busr radhiyallahu 'anhu berkata, "Ada seorang lelaki berkata, “Wahai, Rasulullah! Sesungguhnya syariat Islam begitu banyak bagiku. Oleh karena itu, beritahulah aku sesuatu sebagai pegangan.” Beliau bersabda,

لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ.

“Yaitu tidak hentinya lisanmu basah karena menyebut nama Allah.” (Hr. At Tirmidzi 5/458, Ibnu Majah 2/1246, lihat pula dalam Shahih At-Tirmidzi 3/139 dan Shahih Ibnu Majah 2/317.)

5.     Memberatkan timbangan.

Dalilnya sudah disebutkan sebelumnya.

6.     Menyelamatkannya dari kesulitan dan azab.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman tentang Nabi Yunus 'alaihis salam,

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ (143) لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (144)

"Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,-- Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." (Terj. Qs. Ash Shaaffaat: 143-144)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

"Kenalilah Allah di waktu senggang, niscaya Dia akan mengenalimu di waktu susah." (HR. Ahmad dan Abul Qasim bin Bisyran dalam Amaalinya, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 2961)

Mu'adz bin Jabal berkata, "Tidak ada sesuatu yang paling menyelamatkan dari azab Allah selain Dzikrullah."

7.     Sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ (151) فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ (152)

 "Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.--Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (Terj. Qs. Al Baqarah: 151-152)

8.     Sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِيْ دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ))؟ قَالُوْا بَلَى. قَالَ: ((ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى.

“Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi Rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu, lalu kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?” Para sahabat yang hadir berkata, “Mau (wahai Rasulullah)!” Beliau bersabda, “Dzikir kepada Allah Yang Maha Tinggi”. (Hr. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

9.       Dll.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Dzikir terbagi dua; Dzikir Mutlak dan Dzikir Muqayyad. Dzikir Mutlak adalah dzikir yang tidak ditentukan oleh syara’ (Al Qur’an dan As Sunnah) kapan dibacanya, maka boleh dibaca kapan saja selama tidak pada waktu yang seharusnya dibaca dzikir muqayyad. Misalnya mengucapkan Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaahaillallah wallahu akbar, atau mengucapkan subhaanallah wabihamdih-subhaanallahil 'azhiim, dsb.

Sedangkan Dzikir Muqayyad adalah dzikir yang ditentukan oleh syara’ kapan dibacanya seperti dzikir setelah shalat, dzikir ketika masuk masjid dan keluar masjid, dzikir memakai pakaian dan melepasnya, dzikir naik kendaraan, dsb.

Termasuk kekeliruan yang sering dilakukan orang adalah membaca dzikir mutlak pada waktu yang seharusnya dibaca adalah dzikir muqayyad. Contohnya setelah shalat, kita sering mendengar mereka membaca surat Al Fatihah atau membaca “Laailaaha illallah” 100, padahal dzikir setelah shalat termasuk dzikir muqayyad yang sudah diajarkan bacaannya secara khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita bukanlah mengingkari ucapan dzikirnya, tetapi yang kita ingkari adalah penempatannya. Bukan di sana tempatnya. Bagaimana menurut anda jika saya membaca Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaahaillallah wallahu akbar ketika keluar rumah, apakah hal ini dibenarkan? Tentu tidak dibenarkan. Kita tidak menyalahkan dzikirnya, tetapi yang kita salahkan adalah penempatannya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَرَ أَوْ أَرَادَ شُكُوْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، فَمَا أَعْظَمَهُ رَبَّا وَمَلِكًا قَدِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَرْسَلَهُ إِلَى جَمِيْعِ الثَّقَلَيْنِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Kita diperintahkan untuk banyak menyebut nama Allah 'Azza wa Jalla. Dia berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya." (Terj. QS. Al Ahzaab: 41)

Tetapi apakah prakteknya dengan mengucapkan "Allah, Allah, Allah" saja?

Jawab: Sesungguhnya tujuan Allah Subhaanahu wa Ta'ala mengutus Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam untuk membacakan kitab-Nya kepada manusia dan menerangkan maksudnya, Dia berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

"Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka." (Terj. QS. An Nahl: 44)

Jika kita melihat sunnah atau praktek Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam berdzikr, tentu kita tidak akan menemukan bahwa Beliau dalam berdzikr hanya mengucapkan "Allah, Allah, Allah" saja. Dengan demikian, maksud memperbanyak dzikrullah adalah mengisi hidup di dunia ini dengan banyak berdzikr, dan tentunya mengikuti yang dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan menunjukkan bahwa cara berdzikr adalah mengucapkan "Allah, Allah, Allah" saja.

Adab Berdzikr

Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

"Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (Terj. QS. Al A'raaf: 205)

Maksud firman-Nya, "dalam dirimu" adalah secara ikhlas dan tersembunyi.

Maksud firman-Nya, "Dengan rendah hati dan rasa takut," yakni takut jika amalmu tidak diterima dan berharap agar diterima, yang tandanya adalah dengan berusaha menyempurnakan amal dan memperbakinya serta melakukannya dengan serius.

Firman-Nya, "dan dengan tidak mengeraskan suara," Yakni di atas sir (pelan) dan di bawah jahr (keras) atau pertengahan antara keduanya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al Asy'ariy radhiyallahu 'anhu ia berkata:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَجْهَرُونَ بِالتَّكْبِيرِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، إِنَّكُمْ لَيْسَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا، وَهُوَ مَعَكُمْ»

"Kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu safar, lalu orang-orang mengeraskan suara takbir, maka Nabi shallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Wahai manusia! Kasihanilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada yang tuli lagi ghaib; sesungguhnya kalian berdoa kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Mahadekat, dan Dia bersama kamu."

Dari keterangan di atas, kita mengetahui, bahwa hendaknya dalam berdzikr kita tidak terlalu keras suaranya.

Termasuk adab yang perlu diperhatikan dalam berdzikr adalah sebagaimana yang dikatakan Imam Nawawi berikut,

"Sepatutnya orang yang berdzikr dalam keadaan yang paling sempurna, yaitu dalam keadaan duduk di sebuah tempat dengan menghadap kiblat, dan duduknya dengan merendahkan diri, khusyu' dan dengan tenang serta sopan, dan sambil menundukkan kepalanya. Tetapi, jika ia berdzikr tidak seperti itu, maka boleh dan tidak makruh baginya. Akan tetapi, jika tidak ada uzur, maka ia telah meninggalkan yang utama. Dalil tidak makruhnya adalah firman Allah Ta'ala,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,--(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (sambil berkata), "Wahai Tuhan Kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Terj. QS. Ali Imran: 199-191)

Dan telah sah dalam Shahihain dari Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berbaring di pangkuanku sedangkan aku dalam keadaan haidh, lalu Beliau membaca Al Qur'an."

Tempat yang layak untuk berdzikr

Adapun tempat yang baik untuk berdzikr adalah tempat yang sepi dan bersih, karena hal itu lebih memuliakan dzikr. Oleh karena itu, dipuji berdzikr di masjid-masjid dan tempat-tempat mulia. Adapun keadaan yang tidak layak untuk berdzikr di antaranya adalah ketika buang air, ketika berjima', ketika khatib berkhutbah, dan ketika mengantuk.

Sebagai penutup, di sini khatib mengingatkan beberapa kekeliruan dalam berdzikir, di antaranya:

1.     Mengucapkan "Allah, Allah, Allah" saja.

2.     Menggoyang-goyang kepala saat berdzikr.

3.     Berdzikr dengan diiringi musik.

4.     Membaca dzikr secara jama'i.

5.     Membaca dzikr-dzikr yang tidak diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti membaca ratib Al Haddad, membaca barzanji, manaqib, membaca shalawat badar dan nariyah, dsb.

Wirid tersebut adalah wirid yang tidak diajarkan Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, jika seseorang mengamalkannya, maka tidak membuahkan pahala, karena syarat diterimanya amal adalah harus ikhlas dan sesuai sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal di dalam Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah terdapat kecukupan, tanpa perlu mencari dzikr yang lain, dan sedikit di atas Sunnah masih lebih baik daripada banyak namun diada-adakan. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata,

اِقْتِصَادٌ فِي سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنِ اجْتْهَادٍ فِي بِدْعَةٍ

"Sederhana di atas Sunnah lebih baik daripada banyak namun di atas bid'ah."

6.     Berdzikr sambil menaik-turunkan nafas.

7.     Berdoa dengan jaah (kedudukan) Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

8.     Dsb.

Kita meminta kepada Allah agar Dia membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya, memberi taufik kepada kita untuk dapat menempuhnya, memberikan kepada kita istiqamah, dan mengaruniakan kepada kita husnul khatimah, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger