Kriteria Masjid Yang Ideal

Rabu, 18 Maret 2026

 بسم الله الرحمن الرحيم



Kriteria Masjid Yang Ideal

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Menurut penulis yang faqir ilallah, bahwa masjid yang ideal adalah masjid yang mengikuti tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dalam pengelolaannya, karena memang masjid milik Allah sebagaimana firman-Nya,

 

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

 

"Sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah." (Qs. Al Jin: 18)

 

Maka dalam mengelolanya harus mengikuti aturan Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shalallahu alaihi wa sallam, bukan keinginan kalangan tertentu, orang tertentu, kebiasaan atau tradisi tertentu. Sehingga tidak boleh ada yang diagungkan selain Allah Azza wa Jalla.

 

tidak boleh mayit dikubur di masjid, apalagi kuburan tersebut dibuatkan kubah,

 

juga tidak boleh gambar atau foto seseorang atau tokoh dipajang di masjid seperti yang dilakukan kaum Nasrani, maka jangan pula dipajang kalender yang menampilkan tokoh tertentu dengan difoto besar di kalender.

 

tidak boleh dipasang lonceng di masjid (maka perlu dihindari jam yang berlonceng di masjid),

 

bukan sebagai tempat melantunkan nyanyian dan lagu (seperti kaum Nasrani).

 

Tidak menampakkan aurat di masjid, misalnya wanita masuk masjid tidak memakai jilbab.

 

Tidak berisik di masjid

 

Masjid adalah tempat ibadah, dan ibadah itu butuh ketenangan agar tercapai kekhusyuan. Oleh karena itu, tidak dibenarkan berisik di masjid.

 

Imam Bukhari meriwayatkan dari As Saa’ib bin Yazid ia berkata, “Aku pernah berdiri di masjid, lalu ada yang melempar batu kerikil kepadaku, maka aku melihat, ternyata orang itu adalah Umar bin Khaththab ia berkata, “Pergilah, ambillah kedua batu ini.” Aku pun datang kepadanya dengan membawa kedua batu itu. Ia (Umar) bertanya, “Siapa kamu berdua?” atau “Dari mana kamu berdua?” Keduanya menjawab, “Dari penduduk Tha’if.” Ia berkata, “Kalau kamu berdua berasal dari penduduk negeri ini, tentu kamu berdua aku sakiti; kamu telah mengeraskan suara di masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.”

 

Oleh karena itu, tidak dibenarkan berisik di masjid, terlebih ketika di sana ada yang sedang shalat, seperti yang terjadi antara azan dan iqamat, dimana sebagian manusia ada yang bernyanyi dan melantunkan syair-syair dengan pengeras suara di masjid padahal di sana ada orang yang sedang shalat sunah.

 

Masjid tersebut juga membuat nyaman jamaah dan warga sekitar. Hal itu dibuktikan dengan :

 

Masjid yang bersih dan wangi,

 

Masjid yang memiliki dua speaker; luar dan dalam, luar untuk azan, dan dalam untuk ibadah shalat. Hal ini agar tidak menggangu warga sekitar jika semua rangkaian ibadah menggunakan speaker luar, apalagi jika digunakan speaker luar dengan diperdengarkan lantunan suara tertentu setengah jam atau lebih sebelum Subuh.

 

Masjid yang memiliki dua tempat  wudhu dan toilet, satu buat Ikhwan, dan satu lagi buat akhwat (untuk akhwat tertutup tempat wudhunya)

 

Masjid yang memiliki imam rawatib dan muazin rawatib, imam yang hafal Al Qur'an dan mengerti fiqih Islam (Sunnah), dan muazin yang merdu suaranya dan siap menjadi badal imam karena memiliki hafalan Al Qur'an.

 

Masjid yang memiliki perpustakaan masjid, terdapat lemari mushaf Al-Qur'an dan buku-buku Islam

 

Masjid yang terdapat kajian untuk jamaah, TPA untuk anak-anak, dan pembinaan untuk remaja masjid

 

Masjid yang membantu kebutuhan masyarakat (peduli lingkungan) oleh karenanya perlu adanya minuman untuk jamaah masjid atau yang singgah di masjid.

 

Al Faqir ilallah Marwan Hadidi

 

Baca juga risalah kami:

https://wawasankeislaman.blogspot.com/2012/11/fenomena-memakmurkan-masjid-yang-perlu.html?m=1

 

Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Khutbah Idul Fitri 1447 H: Jadilah Rabbaniyyun!

Senin, 16 Maret 2026

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Khutbah Idul Fitri 1447 H



Jadilah Rabbaniyyun!

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Allahu akbar, Allahu akbar. Laailaahaillallahu wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd[i].

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ . يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ . أَمَّا بَعْدُ :  


Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat, sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!

Pertama dan yang paling utama, marilah kita sama-sama memanjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Azza wa Jalla atas nikmat-nikmat-Nya yang telah Dia berikan kepada kita, terutama adalah nikmat beragama Islam, yang merupakan satu-satunya agama yang hak (benar) dan sebagai jalan menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Demikian pula atas nikmat taufiq, yakni bantuan dan pertolongan-Nya kepada kita sehingga kita dapat menjalankan ajaran-ajaran Islam seperti mengisi bulan Ramadhan dengan berbagai macam amal saleh yang di antaranya adalah berpuasa, shalat fardhu dan sunnah, membaca Al Qur’an, bersedekah, dan amal saleh lainnya. Semoga Allah menerima amal ibadah yang kita lakukan selama di bulan Ramadhan, aamin.

Shalawat dan salam tidak lupa kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta, dimana dengan diutus-Nya Beliau, maka manusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan menjadi mendapatkan petunjuk, yang sebelumnya berada dalam berbagai kegelapan -baik gelapnya kebodohan, gelapnya syirik, gelapnya kekafiran, dan gelapnya maksiat- menjadi berada di atas cahaya ilmu pengetahuan, cahaya tauhid, cahaya iman, dan cahaya taat.

Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat, sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!

Kita bergembira di hari raya karena dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk dapat menjalankan ketaatan kepada-Nya dan dapat berlomba-lomba dalam kebaikan. Kegembiraan ini adalah kegembiraan yang terpuji sebagaimana firman-Nya,

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah, "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Qs. Yunus: 58)

Oleh karenanya, hari Ied pada hakikatnya untuk mereka yang mendekatkan diri kepada Allah Tuhannya dan bertambah ketaatan kepada-Nya; bukan untuk mereka yang hanya mengganti pakaiannya dengan pakaian baru dan kendaraannya dengan kendaraan baru sedangkan kemaksiatan masih tetap dikerjakan. Al Hasan Al Basri rahimahullah berkata, “Setiap hari yang kita lalui tanpa bermaksiat kepada Allah pada hakikatnya adalah hari raya, dan setiap hari yang kita isi dengan ketaatan kepada Allah, pada hakikatnya adalah hari raya.

Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat, sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!

Puasa yang Allah Azza wa Jalla syariatkan kepada kita tujuannya adalah agar kita menjadi insan yang bertakwa. Dalam puasa itulah kita dididik oleh Allah Azza wa Jalla agar terbiasa melaksanakan perintah-Nya, terbiasa menjauhi larangan-Nya, terbiasa beribadah kepada-Nya, dan terbiasa menahan nafsu yang keadaannya sering mendorong seseorang kepada perbuatan maksiat sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla ketika menceritakan ucapan Nabi Yusuf alaihis salam,

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Qs. Yusuf: 53)

Oleh karenanya, seorang yang berpuasa memiliki pengendalian diri dan tidak mudah memperturutkan hawa nafsunya lagi, dekat dengan ketakwaan dan siap menjadi orang-orang yang bertakwa.

Jika kita melihat ada pencuri, pemabuk, pezina, pemain judi, dan pelaku kejahatan lainnya; demikian juga tindak kriminal dan tawuran antar remaja, itu semua karena pelakunya tidak mempunyai pengendalian diri disebabkan mereka tidak mampu berpuasa di bulan Ramadhan yang sebenarnya melatih mereka agar memiliki pengendalian diri.

Di samping itu, dalam puasa seseorang merasakan penderitaan lapar dan haus, sehingga ia pun merasakan beban yang dialami saudara-saudaranya yang fakir dan miskin yang membuatnya memiliki kepekaan dan kepedulian sosial, sehingga ia tidak bakhil untuk bersedekah dan membantu mereka.

Puasa juga menjaga kesehatan tubuh, oleh karenanya penyakit berbahaya ‘kanker’ tidak dapat tumbuh berkembang dalam diri orang yang berpuasa karena tidak mendapatkan asupan makanan, sehingga dia akan mati dalam tubuh orang yang berpuasa.

Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat, sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!

Oleh karena yang diinginkan Allah dari hamba-hamba-Nya setelah menjalankan puasa adalah menjadi manusia yang bertakwa, maka tidak sepatutnya bagi kita setelah menjalankan ibadah puasa kita kembali lagi berbuat maksiat, seperti meninggalkan shalat, enggan melaksanakannya dengan berjamaah, durhaka kepada orang tua, memutuskan tali silaturrahim, bermusuhan, menyakiti tetangga, tidak menjaga lisannya dari dusta, ghibah (membicarakan orang lain), namimah (mengadu domba), memfitnah, menghina orang lain, dan melepas jilbab bagi wanita atau memamerkan aurat, serta melakukan maksiat lainnya, wal ‘iyadz billah.

Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat, sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!

Sesungguhnya tanda diterimanya ibadah dari seorang hamba adalah ketika hamba tersebut diberi taufik oleh Allah untuk mengerjakan ibadah-ibadah lainnya, mengerjakan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi maksiat. Maka perhatikanlah dirimu, apakah selanjutnya engkau berada di atas ketaatan atau berada di atas kemaksiatan?

Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat, sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!

Berpuasa di bulan Ramadhan dan mengisinya dengan berbagai ibadah juga dimaksudkan agar setelah Ramadhan berlalu, kita menjadi terbiasa mengisi hidup dengan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, dimana untuk tujuan inilah manusia diciptakan, yaitu untuk menyembah hanya kepada Allah saja dan mengisi hidup di dunia dengan beribadah, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Qs. Adz Dzaariyat: 56)

Hendaknya kita ketahui, bahwa perintah beribadah ini, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi terus diperintahkan di setiap hari, di setiap bulan, di setiap tahun, hingga ajal menjemput. Allah Ta'ala berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (QS. Al Hijr: 99)

Oleh karena itu, jadilah Rabbaniyyun (orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla), bukan sebagai Ramadhaniyyun (yang hanya beribadah di bulan Ramadhan).

Ada seorang yang bertanya kepada Bisyr Al Hafiy, “Ada orang-orang yang beribadah di bulan Ramadhan dan bersungguh-sungguh beribadah di bulan itu. Tetapi setelah Ramadhan berlalu, mereka meninggalkan ibadahnya, maka Bisyr berkata, “Seburuk-buruk orang adalah mereka yang tidak mengenal Allah selain di bulan Ramadhan.” (Miftahul Afkar Lit Ta’ahhub Lidaril Qarar 2/283).

Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat, sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!

Di antara hikmah memperbanyak ibadah pada bulan Ramadhan adalah agar bekal kita menghadapi kematian semakin banyak. Bukankah setelah kematian terdapat safar yang panjang?

Abu Darda radhiyallahu anhu berkata, “Kalau sekiranya salah seorang di antara kamu hendak safar, bukankah ia perlu menyiapkan bekal yang bermanfaat baginya?” Kawan-kawannya berkata, “Ya.” Abu Darda berkata, “Safar pada hari Kiamat lebih panjang, maka bawalah bekal yang bermanfaat bagimu. Berhajilah untuk menghadapi perkara-perkara besar, berpuasalah di siang hari yang panas untuk menghadapi panasnya hari kebangkitan, shalatlah di kegelapan malam untuk menghadapi kegelapan kubur, dan bersedekahlah secara sembunyi-sembunyi untuk menghadapi hari yang sulit.”

Maka bersyukurlah kita kepada Allah Azza wa Jalla ketika dimudahkan berpuasa Ramadhan dan beramal saleh di dalamnya, karena Dia akan menyiapkan pahala yang besar untuk orang-orang yang berpuasa sebagaimana firman-Nya dalam hadits Qudsi,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Semua amal anak cucu Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, Akulah yang akan sendiri membalasnya.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Di samping itu, puasa juga akan memberikan syafaat bagi pelakunya pada hari Kiamat dimana setiap kita butuh ada yang memberikan syafaat pada hari Kiamat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ "، قَالَ: " فَيُشَفَّعَانِ "

“Puasa dan Al Qur’an akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada hari Kiamat. Puasa akan berkata, “Ya Rabbi, aku telah cegah dia dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkan aku memberinya syafaat.” Al Qur’an juga akan berkata, “Aku telah mencegahnya untuk tidur di malam hari, maka berilah aku kesempatan memberi syafaat.” Beliau melanjutkan sabdanya, “Keduanya pun diizinkan memberi syafaat.” (Hr. Ahmad, Thabrani, Hakim, dan Baihaqi dalam Asy Syu’ab dari Abdullah bin Amr. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 3882) 

Maka beruntunglah mereka yang berpuasa dan sangat rugi sekali mereka yang tidak berpuasa.

Demikian juga di antara hikmah Allah Azza wa Jalla syariatkan berbagai macam ibadah di bulan Ramadhan adalah agar Ramadhan menjadi batu loncatan bagi kita untuk beramal saleh pada bulan-bulan setelahnya, agar kita memulai lembaran baru kita dengan amal saleh, dan agar kita dapat berkaca dan menengok ke bulan Ramadhan, bahwa sejatinya kita mampu mengisi waktu-waktu kita dengan beribadah sebagaimana kita mampu melakukannya di bulan Ramadhan. Jika kita malas melakukan shalat malam, tengoklah bulan Ramadhan, bukankah kita mampu shalat tarawih di setiap malamnya. Jika kita malas berpuasa sunah, tengoklah bulan Ramadhan, bukankah kita mampu berpuasa di setiap hari bulan Ramadhan. Jika kita tidak mampu mengkhatamkan Al Qur’an¸ tengoklah bulan Ramadhan, bukankah kita mampu mengkhatamkan Al Qur’an di bulan Ramadhan.

Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat, sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!

Setelah kita menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan kita mengagungkan-Nya sebagaimana firman-Nya,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)

Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa takbiran tersebut dimulai dari malam hari tanggal satu Syawwal hingga shalat Ied ditunaikan berdasarkan ayat ini. Sedangkan mayoritas para ulama berpendapat, bahwa takbir pada 'Idul Fitri dimulai dari keluarnya menuju tempat shalat hingga ditunaikan shalat 'Idul Fithri melihat kepada praktek Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ini adalah untuk Idul Fitri. Adapun untuk Idul Adh-ha, maka takbiran dimulai dari Subuh hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) dan tetap terus bertakbir hingga Ashar akhir hari tasyriq. Adapun bacaan takbirnya di antaranya:

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَاِالهَ اِلَّا اللهُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ اْلحَمْدُ

Artinya: Allah Mahabesar. Allah Mahabesar. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Allah Mahabesar. Allah Mahabesar. Dan segala puji untuk Allah.  (Ini adalah takbir Ibnu Mas’ud. dan tidak mengapa ucapan takbirnya 3 kali).

Dalam membaca takbir ini, dianjurkan dikeraskan sebagai syi’ar Islam, namun tidak dengan alat musik. Imam Daruquthni meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu Umar berangkat pada hari Idul Fithri dan Idul Adh-ha dengan mengeraskan takbirnya sampai tiba di lapangan, ia pun tetap terus bertakbir sampai imam datang.

Adapun wanita, maka cukup dengan mensirr(pelan)kan suaranya ketika bertakbir.

Dianjurkan pula berangkat menuju lapangan shalat Ied menempuh jalan yang berbeda dengan pulangnya, serta dianjurkan pula dengan berjalan kaki. Ini semua merupakan syi’ar Islam di hari raya.

Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat, sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!

Sekarang kita berkumpul di tempat ini, di antara kita ada yang menjadi atasan dan ada yang menjadi bawahan, ada yang masih muda dan ada yang sudah tua, ada yang kaya dan ada yang miskin, ada laki-laki dan ada wanita, setelah itu kita akan pulang ke rumah kita masing-masing. Ingatlah, kita juga akan berkumpul lagi di suatu tempat dengan jumlah yang lebih banyak dari ini, yaitu di padang mahsyar untuk dihisab (diperiksa amal) oleh Allah Azza wa Jalla. Selanjutnya masing-masing kita akan pulang, ada yang pulangnya ke neraka –wal 'iyadz billah-, dan ada yang pulang ke surga. Maka dari itu, hendaklah masing-masing kita memperhatikan dirinya; apakah dia sudah berada di atas ketaatan kepada Allah ataukah masih berada di atas kemaksiatan? Jika dirinya bergelimang di atas kemaksiatan, maka berarti dia telah bersiap-siap pulang ke neraka dan menjadi bahan bakarnya, dan jika dirinya berada di atas ketaatan, maka berarti dia telah bersiap-siap pulang ke surga. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Terj. QS. Al Hasyr: 18)

Kita meminta kepada Allah agar tempat kembali kita adalah ke surga dan tidak ke neraka. Maka perbaikilah amal kita dari sekarang dan jangan menunda!

Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat

Sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!

Sebagian manusia ketika diajak menaati Allah dan Rasul-Nya masih berat melakukannya, padahal itu pertanda bahwa dirinya tidak mendapatkan taufiq dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala, Dia berfirman,

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menjalankan agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.” (QS. Al An’aam: 125)

Ada pula yang belum siap menaati Allah dan Rasul-Nya karena menyangka dirinya masih jauh dari kematian; dirinya masih muda dan sehat, di samping ingin memanfaatkan masa muda dengan bersenang-senang.

Kita katakan kepadanya, “Saudaraku, sesungguhnya kematian jika datang tidak melihat orang yang dijemput, baik muda atau tua, masih sehat atau sedang sakit, ia akan mendatanginya. Dan jika kematian telah datang kepadanya sedangkan masa mudanya hanya ia isi dengan bersenang-senang dan hal yang sia-sia, maka dia akan menyesal sekali dan ingin kembali ke dunia untuk mengejar kekurangan dan ketertinggalannya, padahal sudah bukan waktunya lagi. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“Sehingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)-- Agar aku berbuat amal yang saleh yang telah aku tinggalkan.” (Qs. Al Mu’minun: 99-100)

Maka bertakwalah kepada Allah karena ia merupakan bekal terbaik menghadapi kematian, menghadapi alam kubur, dan menghadapi alam akhirat.

Mereka yang bertakwa Allah janjikan keamanan terhadap perkara yang akan dihadapinya, dan tidak akan bersedih terhadap perkara yang ditinggalkannyya.

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64)

“Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.--(yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.--Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan pada kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (Qs. Yunus: 62-64)

Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat, sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!

Meskipun bulan Ramadhan telah berlalu, bulan di mana amal saleh dilipatgandakan pahalanya. Namun kesempatan meraih pahala yang banyak masih ada, di antaranya adalah dengan melanjutkan berpuasa selama enam hari di bulan Syawwal, dimana bagi mereka yang melakukannya akan dianggap seperti berpuasa setahun. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ, ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ اَلدَّهْرِ 

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun.” (Hr. Jama’ah Ahli Hadits selain Bukhari dan Nasa’i)

Dalam melakukannya boleh tidak berturut-turut sesuai kondisi kita.

Para ulama mengatakan, “Dianggap seperti berpuasa setahun adalah karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan, bulan Ramadhan dihitung sepuluh bulan, sedangkan enam hari di bulan Syawwal dihitung dua bulan.”

Sungguh sangat beruntung orang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk berpuasa sebelum waktunya habis.

Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat, sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At Tahrim: 6)

Tentang ayat di atas, Qatadah berkata, “Suruh mereka menaati Allah, larang mereka bermaksiat kepada Allah, jalankan perintah Allah terhadap mereka, suruh mereka melaksanakan perintah Allah, dan bantu mereka terhadapnya. Jika engkau melihat mereka bermaksiat kepada Allah, maka peringatkan dan cegahlah mereka.”

Ini adalah tanda sayang kita kepada keluarga, bukan membiarkan mereka di atas maksiat. Oleh karena itu, doronglah keluarga untuk menjalankan kewajiban agama seperti menyuruh mereka mendirikan shalat, berpuasa Ramadhan, memakai jilbab, dan sebagainya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ فَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا»

“Suruhlah anak melaksanakan shalat apabila telah berusia tujuh tahun. Jika sampai sepuluh tahun, maka pukullah mereka (jika enggan melaksanakannya).” (Hr. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi. Ini adalah lafaz Abu Dawud, Tirmidzi berkata, “Hadits ini hadits hasan.”)

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Janganlah salah seorang di antara kamu menjadi orang hilang di tengah keluarganya, yaitu ketika ia tidak menyuruh mereka berbuat baik dan tidak mengarahkan mereka, serta tidak melarang mereka dari perbuatan buruk dan kerusakan." (Adh Dhiyaul Lami, 156)

Amr bin Qais rahimahullah berkata, “Sesungguhnya seorang istri akan mempermasalahkan suaminya kepada Allah pada hari Kiamat, ia akan berkata, “Sesungguhnya dia (suamiku) tidak mengajarkanku adab dan tidak mengajarkanku sedikit pun. Ia hanya biasa membawakan kepadaku roti dari pasar.” (Tafsir As Sam’ani 5/475)

Syaikh As Sa’diy rahimahullah berkata, “Adab yang baik lebih baik untuk anak-anakmu di dunia dan di akhirat daripada memberikan mereka emas dan perak.” (Bahjatu Qulubil Abrar, 197)

Sebagian orang bijak berkata, “Berhati-hatilah! Jika engkau tidak memiliki waktu mendidik anak-anakmu, maka ketahuilah bahwa lingkungan memiliki waktu untuk merusak mereka."

Kita meminta kepada Allah Azza wa Jalla petunjuk-Nya, taufiq-Nya, keteguhan di atas agama-Nya, dan wafat di atas Islam serta meenjadikan amalan terbaik kita pada bagian akhirnya, umur terbaik kita pada bagian akhirnya, dan hari terbaik kita adalah hari ketika kita bertemu dengan-Nya, Allahumma aamiin.

Kita juga memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar Dia menurunkan pertolongan-Nya kepada saudara-saudara kita di Palestina, menghilangkan penderitaan mereka, menerima syuhada mereka, dan membinasakan kaum Yahudi dan para sekutunya dari kalangan kaum kuffar dan munafikin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَّمَدٍ ، وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ ، وَعَلَى الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ . اَللَهُمَّ إِنّا لاَ نَمْلِكُ لِأَهْل ِفِلِسْطِيْنَ إِلاَ الدُعَاءَ فَيَا رَبُّ لاَ تَرُدَّ لَنَا دُعَاءً وَ لاَ تُخَيّبْ لَنَا رَجَاءً. اَللَّهُمَّ كُنْ لًهُمْ عَوْناً وَنَصِيْراً. الَلَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ. اَللَّهُمَّ أَسْبِغْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَ سَلاَمًا . اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ, اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْيَهُوْدَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ مِنَ الْكُفَارِ وَالْمُنَافِقِيْنَ.   اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِناً مُطْمَئِناًّ وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُوْرِنَا ، وَاجْعَلْ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلاَ مُضِلِّيْنَ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Marwan Hadidi, M.Pd.I

Telegram: wawasan_muslim

Blog: http://wawasankeislaman.blogspot.com


[i] Imam Syafi’I rahimahullah berkata, “Berdasarkan perkataan Ubaidullah kami berpendapat, bahwa kami memerintahkan agar imam saat berdiri khutbah pertama membaca takbir tujuh kali secara berturut-turut tanpa ada ucapan yang lain antara takbir tersebut. Jika ia bangun untuk khutbah kedua, maka ia juga bertakbir tujuh kali takbir secara berturut-turut tanpa ada ucapan yang lain antara takbir tersebut, yaitu ia mengucapkan Allahu akbar sampai tujuh kali. Tetapi, jika ia masukkan antara dua takbir itu pujian dan tahlil (ucapan Laailaahaillallah), maka hal itu baik, dan ia tidak mengurangi sedikit pun jumlah takbir, serta ia memisah dua khutbahnya dengan takbir.”   

100 Hadits Shahih Pendek Untuk Hafalan

Kamis, 12 Maret 2026

 بسم الله الرحمن الرحيم



100 Hadits Shahih Pendek Untuk Hafalan

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut 100 hadits pendek untuk hafalan. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.

1- إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

1. Sesungguhnya amal tergantung niat, dan seseorang mendapatkan sesuai niatnya. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khaththab)

2- مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

2. Barang siapa yang mengerjakan amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan itu tertolak. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

3- الْحَلاَلُ بَيِّنٌ، وَالحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى المُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ

3. Yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan antara keduanya ada perkara yang tidak jelas (syubhat) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barang siapa yang menjaga dirinya dari syubhat, maka dia telah menjaga agama dan kehormatannya. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir)

4- مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

4. Barang siapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

5-  أَكْبَرُ الكَبَائِرِ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ

5. Dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan persaksian palsu. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Bakrah)

6- بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ

6. Batas pemisah antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat. (Hr. Muslim dari Jabir)

7- الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ - أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ - شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

7. Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih. Paling utamanya adalah ucapan Laailaahaillallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) dan paling rendahnya menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu itu salah satu cabang keimanan. (Hr. Muslim dari Abu Hurairah)

8- الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

8. Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. (Hr. Muslim dari Abu Hurairah)

9- لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

9. Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sampai dia menginginkan kebaikan didapatkan saudaranya sebagaimana dia menginginkan kebaikan untuk dirinya. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

10- خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

10. Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya. (Hr. Bukhari dari Utsman)

11- مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

11. Barang siapa yang Allah inginkan memperoleh kebaikan, maka Dia akan menjadikan orang itu faham terhadap agamanya. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah)

12-لَعْنُ المُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ

12. Melaknat seorang mukmin sama seperti membunuhnya. (Hr. Bukhari dari Tsabit bin Dhahhak)

13-اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

13. Berhati-hatilah terhadap kezaliman, karena ia merupakan kegelapan pada hari Kiamat. (Hr. Muslim dari Jabir bin Abdillah)

14-كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ

14. Setiap muslim bagi muslim lainnya adalah terpelihara darahnya, hartanya, dan kehormatannya. (Hr. Muslim dari Abu Hurairah)

15-إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ

15. Jauhilah dari berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

16- مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ

16. Barang siapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).  

17- مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

17. Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan beribadah kepada tandingan selain Allah, maka dia akan masuk neraka. (Hr. Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud)

18- مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

18. Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka dia akan masuk surga, dan barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka dia akan masuk neraka. (Hr. Muslim dari Jabir)

19- آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ  

19. Tanda orang munafik itu tiga; ketika berbicara berdusta, ketika berjanji mengingkari, dan ketika diamanahkan khianat. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

20- «لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ»

20. Janganlah kalian memujiku berlebihan sebagaimana kaum Nasrani memuji berlebihan kepada Isa putera Maryam, aku hanyalah hamba-Nya. katakanlah ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’. (Hr. Bukhari dari Umar)

21- كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

21. Cukuplah seorang dikatakan sebagai pendusta ketika ia menyampaikan setiap yang dia dengar. (Hr. Muslim dari Abu Hurairah)

22- إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

22. Sesungguhnya Allah tidak memperhatikan kepada rupa dan hartamu, tetapi Dia memperhatikan hati dan amalmu. (Hr. Muslim dari Abu Hurairah)

23- لاَ يُلْدَغُ المُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

23. Tidak patut bagi orang mukmin terpatuk dua kali di lobang yang sama. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

24- «إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ»

24. Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sessuatu kecuali akan menghiasnya dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya jelek. (Hr. Muslim dari Aisyah)

25- يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا، وَلاَ تُنَفِّرُوا

25. Mudahkanlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang menjauh. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

26- «الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ»

26. Dunia adalah penjara orang mukmin dan surga bagi orang kafir.  (Hr. Muslim dari Abu Hurairah)

27- «لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ»

27. Janganlah meremehkan perbuatan baik meskipun kecil sekalipun hanya berwajah ceria ketika bertemu dengan saudaramu. (Hr. Muslim dari Abu Dzar)

28- «المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»

28. Orang mukmin satu dengan lainnnya seperti sebuah bangunan, dimana yang satu dengan yang lain saling menguatkan. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa)

29- الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ

29. Beribadah di masa terjadi fitnah dan kekacauan seperti berhijrah kepadaku. (Hr. Muslim dari Ma’qil bin Yasar)

30- أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا، وَإِنْ قَلَّ

30. Amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling rutin meskipun sedikit. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

31- بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

31. Islam pada mulanya asing dan akan kembali asing sebagaimana pada awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing. (Hr. Muslim dari Abu Hurairah)

32-  لَمَّا خَلَقَ اللهُ الْخَلْقَ، كَتَبَ فِي كِتَابِهِ، فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ: إِنَّ رَحْمَتِي تَغْلِبُ غَضَبِي

32. Ketika Allah telah menciptakan makhluk, maka Dia mencatat dalam kitab-Nya yang ada di sisi-Nya di atas Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

33- «مَنْ صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ»

33. Barang siapa yang shalat Subuh dan Ashar, maka dia akan masuk surga (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa)

34- دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ، وَإِنَّ الكَذِبَ رِيبَةٌ

34. Tinggalkanlah yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan dusta adalah keraguan. (Hr. Tirmidzi dari Al Hasan bin Ali, dishahihkan oleh Tirmidzi dan Al Albani).

35- اتَّقِ اللهَ حَيْثُما كُنْتَ وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُها وخالِقِ النّاسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ

35. Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan bergaullah dengan orang lain dengan akhlak yang baik. (Hr. Tirmidzi dari Abu Dzar, dihasankan oleh Al Albani)

36- احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ،

36. Jagalah (perintah) Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah (perintah) Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu (dengan memberikan pertolongan-Nya). Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah. (Hr. Tirmidzi dari Ibnu Abbas, dishahihkan oleh Al Albani)

37- تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ،

37. Kenalilah Allah di waktu senggang niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah.” (Hr. Abul Qasim bin Basyran dalam Amalinya, Ahmad, Thabrani, Abu Nu’aim, dan Hakim dari Ibnu Abbas, serta Al Ajurriy dari Abu Sa’id, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 2961)

38- ازْهَدْ في الدُّنْيا، يُحِبَّكَ اللهُ. ازْهَدْ فِيْمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ، يُحِبَّكَ النّاسُ.

38. Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki orang lain, niscaya orang lain akan mencintaimu. (Hr. Ibnu Majah dari Sahl bin Sa’ad As Saa’idiy, dishahihkan oleh Al Albani)

39- قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا

39. Katakanlah yang benar meskipun pahit (Hr. Ibnu Hibban dari Abu Dzar, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

40- قُلْ: آمَنْتُ باللهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ.

40. Katakalah, “Aku beriman kepada Allah,” kemudian beristiqamahlah. (Hr. Muslim dari Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi).

41- مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ.

41. Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak sanggup, maka rubahlah dengan lisannya, dan jika tidak sanggup, maka ingkarilah dengan hatinya. Namun yang demikian adalah selemah-lemah iman. (Hr. Muslim dari Abu Sa’id)

42- كُنْ فِي الدُّنْيا كَأنَّكَ غَرِيْبٌ أو عَابِرُ سَبيلٍ.

42. Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau musafir (Hr. Bukhari dari Ibnu Umar).

43- لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

43. Hendaknya lisanmu senantiasa basah karena berdzikir kepada Allah. (Hr. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani)

44- «اتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ»

44. Berhati-hatilah terhadap doa orang yang teraniaya, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah. (Hr. Bukhari dari Ibnu Abbas)

45- لا تَغْضَبْ.

45. Janganlah kamu marah. (Hr. Bukhari dari Abu Hurairah)

46- «سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»

46. Mencaci-maki seorang muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah sebuah kekufuran. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud)

47- لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

47. Tidak masuk surga orang yang mengadu domba. (Hr. Muslim dari Hudzaifah)

48- «لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَاطِعٌ»

48. Tidak masuk surga orang yang memutuskan tali silaturrahim. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Jubair bin Muth’im)

49- إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ

49. Sesunguhnya Allah Mahalembut, Dia menyukai kelembutan. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

50- إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ اَلنَّاسُ مِنْ كَلَامِ اَلنُّبُوَّةِ اَلْأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ, فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ.

Sesungguhnya di antara yang didapatkan oleh manusia yang termasuk ucapan kenabian adalah “Apabila kamu tidak punya malu maka berbuatlah sekehendakmu.” (Hr. Bukhari dari Abu Mas’ud)

51- إِنَّ الدِّينَ يُسْر، وَلَنْ يَشادَّ الدينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فسَدِّدوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بالغُدْوة وَالرَّوْحَةِ، وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلَجة

51. Sesungguhnya agama (Islam) mudah, tidak ada seorang pun yang hendak menyusahkan agama (Islam) kecuali ia akan kalah. Maka bersikap luruslah, mendekatlah, berbahagialah dan manfaatkanlah waktu pagi, sore dan ketika sebagian malam tiba.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

-52 حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

52. Surga dikelilingi dengan sesuatu yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi dengan sesuatu yang disenangi.” (Hr. Muslim dari Anas bin Malik)

53- «المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ»

53. Seorang muslim (yang sempurna Islamnya) adalah orang yang kaum muslim lainnya dapat terjaga dari gangguan lisan dan tangannya. Orang yang berhijrah yang sesungguhnya adalah orang yang meninggalkan larangan Allah. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr)

54- «مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِلَّا تَرَكَهُ»

54. Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan, jika Beliau suka maka Beliau makan, dan jika Beliau tidak suka, maka Beliau tinggalkan. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

55-«السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالمِسْكِينِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَوِ القَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ»

55. Orang yang menanggung janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah atau seperti orang yang melakukan qiyamullail dan berpuasa di siang hari. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

56-«أَنَا وَكَافِلُ اليَتِيمِ فِي الجَنَّةِ هَكَذَا» وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى

56. Aku dan orang yang mengurus anak yatim di surga itu seperti ini. Beliau berisyarat dengan kedua jarinya; jari telunjuk dan jari tengah (Hr. Bukhari dari Sahl bin Sa’ad)

57-«لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ»

57. Orang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan nafsunya ketika marah. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

58- نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

58. Dua nikmat yang banyak orang tertipu pada keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)

59-«مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ»

59. Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat-Nya seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa)

60-  أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ

60. Perkara yang paling banyak memasukkan seseorang ke surga adalah bertakwa kepada Allah dan berakhlak mulia. (Hr. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani)

61- مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

61. Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

62 - منْ قَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

61. Barang siapa yang menghidupkan malam Ramadhan (dengan ibadah, seperti dengan shalat tarawih dan membaca Al Qur’an) karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

62- «أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ»

62. Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

63- «العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ»

63. Umrah yang satu ke umrah berikutnya menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan untuknya selain surga. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

64- مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

64. Barang siapa yang berhaji karena Allah, tidak berkata kotor dan tidak melakukan kefasikan, maka dia akan pulang seperti keadaan ketika dilahirkan oleh ibunya. (Hr. Bukhari dari Abu Hurairah)

65- «لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ»

65. Ajarkanlah orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kalian untuk mengucapkan Laailaahaillallah. (Hr. Muslim dari Abu Sa’id Al Khudriy)

66- «يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ»

66. Setiap hamba dibangkitkan sesuai keadaannya saat meninggal dunia. (Hr. Muslim dari Jabir)

67- «لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ»

67. Janganlah salah seorang di antara kamu meninggal dunia kecuali dalam keadaan bersangka baik kepada Allah. (Hr. Muslim dari Jabir)

68- تَهَادَوْا تَحَابَّوْا

68. Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai. (Hr. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, Ad Daulabiy dalam Al Kuna, Tammam dalam Al Fawaid, Ibnu ‘Addiy, ibnu Asakir, dan Baihaqi dari Abu Hurairah, dihasankan oleh Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 1601)

69-  يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

69. Ada tiga yang mengantarkan mayit; dua akan pulang dan satu akan bersamanya. Keluarga, harta, dan amalnya akan mengantarkannya, lalu keluarga dan hartanya akan pulang, sedangkan yang tetap bersamanya adalah amalnya. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

70- " إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

70. Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga; sedekahnya yang mengalir, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya. (Hr. Muslim dari Abu Hurairah)

71- «مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ العُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»

71. Barang siapa yang berperang agar kalimat Allah tinggi, maka dia di jalan Allah Azza wa Jalla (fii sabilillah). (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa)

72- «كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ»

72. Cukuplah seorang telah berdosa besar ketika menyia-nyiakan orang yang ditanggungnya. (Hr. Abu Dawud dari Abdullah bin Amr, dihasankan oleh Al Albani)

73- مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ .

73. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya." (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

74- «يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ، فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ، مَرَّةٍ»

74. Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari seratus kali. (Hr. Muslim dari Abdullah bin Umar)

75- إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِيْ عَنْ أُمَّتِي : الْخَطَأُ وَالنِّسْيَانُ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

75. Sesungguhnya Allah Ta’ala memaafkan umatku untukku, yaitu pada kesalahan yang tidak sengaja, lupa dan apa saja yang dipaksa.“ (Hr. Ibnu Majah, Baihaqi dan lainnya, dihasankan oleh Imam Nawawi)

76- أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ

76. Orang yang paling bahagia mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan Laailaahaillallah (tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) dengan ikhlas dari hatinya atau dirinya. (Hr. Bukhari dari Abu Hurairah)

77- «مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، تَابَ اللهُ عَلَيْهِ»

77. Barang siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima tobatnya. (Hr. Muslim dari Abu Hurairah)

78- «إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ العَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ»

78. Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama ruhnya belum sampai di tenggorokan. (Hr. Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar, dihasankan oleh Al Albani)

79- «مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ»

79. Sedekah tidaklah mengurangi harta, Allah tidaklah menambahkan kepada hamba-Nya yang mau memaafkan melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu karena Allah melainkan Allah akan tinggikan. (Hr. Muslim dari Abu Hurairah)

80- «انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ»

80. Lihatlah orang yang berada di bawahmu, jangan lihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu. (Hr. Muslim dari Abu Hurairah)

81- «الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ، وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ، أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ، وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ»

81. Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar terhadap gangguan mereka lebih besar pahalanya daripada orang mukmin yang tidak mau bergaul dengan manusia dan tidak sabar terhadap gangguan mereka. (Hr. Ibnu Majah dari Ibnu Umar, dishahihkan oleh Al Albani)

82- «يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، لاَ يُبَالِي المَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ، أَمِنَ الحَلاَلِ أَمْ مِنَ الحَرَامِ»

82. Akan datang zaman bagi manusia, dimana seseorang tidak peduli lagi terhadap harta yang diambilnya, apakah dari yang halal atau dari yang haram. (Hr. Bukhari dari Abu Hurairah)

83- «لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ»

83. Tidak bergeser dua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ia ditanya tentang usianya; untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya; apa saja yang sudah diamalkan? Tentang hartanya; dari mana ia peroleh dan ke mana ia keluarkan? Serta tentang badannya; untuk apa ia kerahkan? (Hr. Tirmidzi dari Abu Barzah Al Aslami, dishahihkan oleh Al Albani)

84- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاَثٍ: «صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ»

84. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Kekasihku (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam) berpesan kepadaku tiga hal, yaitu: berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, melakukan dua rakaat di waktu Dhuha, dan berwitir sebelum tidur.” (Hr. Bukhari)

85- «عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»

85. Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, semuanya baik baginya, dan hal itu hanya pada diri seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka hal itu baik baginya dan jika dia mendapatkan musibah dia bersabar, dan hal itu baik baginya. (Hr. Muslim dari Shuhaib)

86- «يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ، وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ»

86. Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan kepada manusia, sambunglah tali silaturrahim, dan shalatlah di malam hari ketika manusia tidur, niscaya kamu akan masuk surga dengan sejahtera. (Hr. Ibnu Majah dari Abdullah bin Salam, dishahihkan oleh Al Albani)

87- «لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ»

87. Sungguh, hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim. (Hr. Tirmidzi dan Nasa’i dari Abdullah bin Amr, dishahihkan oleh Al Albani)

 -88حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ

88. Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada 6; jika bertemu ucapkanlah salam kepadanya, jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepadamu maka nasihatilah dia, jika ada yang bersin dan memuji Allah maka doakanlah, jika ada yang sakit maka jenguklah, dan jika ada yang meninggal dunia maka iringilah jenazahnya.” (Hr. Muslim dari Abu Hurairah)

89- إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً, فَلَا يَتَنَاجَى اِثْنَانِ دُونَ اَلْآخَرِ, حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ; مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ

89. Apabila kamu bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik meninggalkan yang lain, sehingga kamu bergaul (bersama-sama) dengan yang lain, karena hal itu akan membuatnya sedih.” (Hr. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud. Lafaz ini adalah lafaz Muslim)

90- مَنْ أََحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ, وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ, فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.

90. Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka sambunglah tali silaturrahim.” (Hr. Bukhari)

91- إِنَّ اَللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ اَلْأُمَّهَاتِ, وَوَأْدَ اَلْبَنَاتِ, وَمَنْعًا وَهَاتِ, وَكَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ, وَكَثْرَةَ اَلسُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ اَلْمَالِ.

91. Sesungguhnya Allah mengharamkan durhaka kepada orang tua, mengubur bayi wanita hidup-hidup, mencegah dan meminta, serta membenci “dikatakan dan katanya”, banyak bertanya juga menyia-nyiakan harta. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Mughirah bin Syu’bah)

92- رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ.

92. Ridha Allah ada pada keridhaan kedua orang tua, dan murka Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua.” (Hr. Tirmidzi dari Abdullah bin Umar, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim)

93- لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ, فَيُعْرِضُ هَذَا, وَيُعْرِضُ هَذَا, وَخَيْرُهُمَا اَلَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ.

93. Tidak halal bagi seorang muslim bermusuhan dengan saudaranya lebih dari tiga malam, ketika bertemu yang satu berpaling dan yang satunya lagi berpaling, dan orang yang paling baik di antara keduanya adalah orang yang memulai memberi salam. (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Ayyub)

94- كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ .

94. Setiap perbuatan baik adalah sedekah. (Hr. Bukhari dari Jabir)

95- مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ اَلدُّنْيَا, نَفَّسَ اَللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اَلْقِيَامَةِ , وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ, يَسَّرَ اَللَّهُ عَلَيْهِ فِي اَلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ, وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا, سَتَرَهُ اَللَّهُ فِي اَلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ, وَاَللَّهُ فِي عَوْنِ اَلْعَبْدِ مَا كَانَ اَلْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ.

95. Barang siapa yang menghilangkan sebuah derita dari derita-derita dunia yang menimpa seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan sebuah derita dari derita-derita pada hari kiamat. Barang siapa yang memudahkan orang yang susah, niscaya Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat, dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya apabila hamba tersebut mau menolong saudaranya.” (Hr. Muslim dari Abu Hurairah)

96- مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ, فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

96. Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti yang mengerjakannya. (Hr. Muslim dari Ibnu Mas’ud)

97- تَعِسَ عَبْدُ اَلدِّينَارِ, وَالدِّرْهَمِ, وَالْقَطِيفَةِ, إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ, وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ

97. Celaka hamba dinar, dirham dan kain beludru (yang mahal), jika diberi ia senang dan jika tidak diberi ia tidak ridha (marah).” (Hr. Bukhari)

98- مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ, فَهُوَ مِنْهُمْ

98. Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (Hr. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

99- كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ»

99. Doa yang paling sering dipanjatkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah Allahumma Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah…dst. (artinya: Ya Allah Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari azab neraka.). (Hr. Bukhari dari Anas)

100- كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى اَلرَّحْمَنِ, خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ, ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ, سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ , سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ

100. Dua kalimat yang dicintai Allah Ar Rahman, ringan di lisan, dan memberatkan timbangan yaitu ‘Subhaanallahi wa bihamdih- Subhaanallahil ‘Azhim’ (artinya: Mahasuci Allah sambil memuji-Nya- Mahasuci Allah Yang Maha Agung).” (Hr. Bukhari dari Abu Hurairah).

Wa shallallahu 'alaa Nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger