Khutbah Jum'at : Kemerdekaan Yang Sesungguhnya

Kamis, 18 Juni 2026

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Kemerdekaan Yang Sesungguhnya

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam dan nikmat taufiq, sehingga kita dapat melangkahkan kaki kita menuju rumah-Nya melaksanakan salah satu perintah-Nya yaitu shalat Jumat berjamaah.

Shalawat dan salam tidak lupa kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Kemerdekaan dalam arti tidak dijajah musuh merupakan nikmat besar yang Allah berikan kepada suatu negara, sehingga sebuah negara merasakan keamanan dan dapat leluasa mengatur rakyatnya kepada hal yang bermaslahat bagi mereka.

Kita akan rasakan besarnya nikmat tersebut ketika kita menyaksikan negara-negara yang dijajah, bagaimana mereka merasa terancam dan tertekan, di samping dikuasai dan dikendalikan oleh penjajah yang merampas negerinya dan terus mengambil hak-hak dan milik rakyatnya.

Dengan demikian, nikmat keamanan dan kemerdekaan adalah nikmat yang sangat besar sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ أصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافَىً فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ، فَكَأنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا

“Barang siapa yang di pagi harinya aman, sehat badannya, dan memiliki makanan pada hari itu, maka seakan-akan dunia beserta segala isinya diperuntukkan baginya.” (Hr. Tirmidzi, dan dihasankan oleh Al Albani)

Oleh karena kemerdekaan merupakan nikmat yang besar, maka sudah sepatutnya kita syukuri agar nikmat itu tetap bersama kita, dan Allah akan menambahkan lagi  nikmat-Nya kepada kita, Dia meridhai kita, dan memberikan balasan pahala kepada kita, Dia berfirman,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Sungguh, jika kamu bersyukur, maka akan Aku tambahkan (nikmat-Ku) kepadamu.” (Terj. QS. Ibrahim: 7)

وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu syukurmu itu.” (Qs. Az Zumar: 7)

وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Qs. Ali Imran: 144)

Lalu seperti apa syukur itu?

Syukur adalah mengakui bahwa nikmat yang diperoleh berasal dari sisi Allah Azza wa Jalla, menyebut dan memuji Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, serta menggunakan nikmat untuk ketaatan kepada-Nya bukan untuk kemaksiatan.

Bagaimana dikatakan syukur ketika kita mengenangnya dengan membuat sesaji atau tumbal kemudian kita melemparnya ke laut atau ke tempat tertentu, yang sama saja menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala? Padahal Allah Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)

Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.---Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (Qs. Al An’aam: 162-163)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ

“Allah melaknat orang yang menyembelih hewan untuk selain Allah.” (Hr. Muslim dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu)

Bagaimana dikatakan syukur jika sebagian kita memperingatinya dengan mengadakan panggung-panggung hiburan dan konser-konser musik dengan suara musik yang keras yang mengganggu warga sekitar, di samping mengundang wanita-wanita untuk tampil bernyanyi sambil memamerkan  aurat, bercampur pria-wanita sambil ikut menari dan terus berlangsung hingga larut malam sehingga banyak orang yang meninggalkan shalat Subuh, wal 'iyadz billah?

Bagaimana dikatakan syukur ketika berbagai acara diadakan lalu ketika tiba waktu shalat dan azan berkumandang, kita tidak mendatanginya bahkan terus sibuk dengan permainan kita?

Ini semua bukanlah bentuk syukur dan cara yang keliru dalam mengenang kemerdekaan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْقُرْآنَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْءٍ، وَهُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَجَمَعَ فِيْهِ أُصُوْلَ الدِّيْنِ وَفُرُوْعِهِ، وَأَصْلَحَ بِهِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَكْمَلُ الْخَلْقِ وَسَيِّدُ الْمُرْسَلِيْنَ، اَللَّهُمَّ صََلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Termasuk ‘merdeka’ juga bahkan merupakan kemerdekakan hakiki adalah ketika manusia bebas dan merdeka dari peribadatan kepada sesama makhluk atau hamba menuju peribadatan kepada Tuhan semua hamba, dan inilah ajaran Islam, yaitu:

تَحْرِيْرُ الْعِبَادِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ رَبِّ الْعِبَادِ

Memerdekakan hamba dari peribadatan antar sesama hamba menuju peribadatan kepada Tuhannya semua hamba (Allah Azza wa Jalla).

Sehingga dia pun tidak menghinakan diri dan meletakkan wajahnya  (sujud) kepada makhluk yang ada, baik manusia, hewan, tumbuhan, jin, malaikat, patung dan berhala, matahari, bulan, bintang, dan makhluk-makhluk lainnya, bahkan dia hanya menghinakan diri, ruku dan sujud serta berdoa kepada Allah Tuhan semua makhluk. Oleh karena itu, jika seseorang masih menyembah makhluk, maka pada hakikatnya dia belum merdeka.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Perlu diketahui, sebab dijajahnya suatu bangsa adalah karena sikap kufur terhadap nikmat Allah Azza wa Jalla atau melakukan dosa dan maksiat. Dia berfirman,

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ (112)

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (Qs. An Nahl: 112)

Dia juga berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ (Qs. Ar Ra’d: 11)

Para mufassir menerangkan tentang ayat di atas (Qs. Ar Ra’d: 11), bahwa Allah tidak akan merubah keadaan mereka yang berada dalam kenikmatan dengan menggantinya menurunkan siksa, kecuali jika muncul dari mereka kemaksiatan dan kerusakan.

Menurut Al Khazin, bahwa Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum yang berada dalam keselamatan dan kenikmatan yang Dia berikan kepada mereka sampai mereka mereka merubah keadaan diri mereka dari yang keadaan sebelumnya baik, beralih kepada maksiat dan mengingkari nikmat-nikmat-Nya, ketika itulah turun siksa-Nya kepada mereka.

Maka jika kita ingin, negeri yang kita tempati aman, damai, dan sejahtera, jalannnya adalah beriman dan bertakwa sebagaimana firman-Nya,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (96)

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al A’raaf: 96)

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Termasuk kekeliruan dalam memahami kemerdekaan adalah ketika kita memahaminya sebagai kebebasan secara mutlak dalam arti kita bebas berbuat tanpa aturan seperti yang dianut kaum liberalis. Ini adalah batil. Bahkan bebas dalam arti tidak mau diatur oleh syariat ibarat orang yang berkendara di jalan umum tidak mengindahkan peraturan lalu lintas, padahal peraturan dibuat untuk kebaikan pengguna jalan. Jika peraturan tersebut diabaikan, maka yang terjadi adalah kemacetan, kecelakaan, dan kekacauan. Hidup tanpa aturan seperti hewan, dimana yang kuat menindas yang lemah, dan yang lemah tidak bisa dibela. Maka aturan dibuat untuk kebaikan manusia, dan tidak ada aturan yang terbaik melebih aturan atau syariat Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.

Kita meminta kepada Allah agar Dia membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya, memberi taufik kepada kita untuk dapat menempuhnya, memberikan kepada kita istiqamah, dan mengaruniakan kepada kita husnul khatimah, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Renungan Bagi Para Da’i dan Penuntut Ilmu

Jumat, 05 Juni 2026

 بسم الله الرحمن الرحيم



Renungan Bagi Para Da’i dan Penuntut Ilmu

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut Risalah yang ditulis Syaikh Prof. Dr. Ashim Al Qaryuti dengan judul

    رسائل ما بعد سبعة عقود

70 *Surat Setelah Tujuh Dekade*

🌿 *Murid Kemarin, Rekan Hari Ini, Pelita di Masa Depan*

ولله الحَمْد

أحسن الله لي ولكم الخاتمة

*Segala puji hanya milik Allah*

*Semoga Allah mengakhiri hidup kita dengan Husnul Khatimah*

الرسالة الأولى:

تلاميذ الأمس.. زملاء اليوم ،ورسالة الغد.

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

إلى الذين تشرفت بتعليمهم على مر السنين:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

فإن من أعظم نعم الله عليَّ أن أرى كثيرًا من طلاب الأمس وقد أصبحوا اليوم زملاء في ميدان العلم والتعليم والدعوة والإصلاح، يحملون رسالة الإسلام، ويقومون بواجب البيان والتوجيه، ويسهمون في نشر الخير بين الناس. وهذه نعمة تستوجب الشكر لله تعالى أولًا وآخرًا

*Surat Pertama* 

*Murid Kemarin, Rekan Hari Ini, Pelita Masa Depan*

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. 

Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah untuk junjungan kita, Nabi Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya.

Untuk kalian yang pernah kutemani belajar, yang pernah duduk di majelisku dari tahun ke tahun: 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

1 Termasuk nikmat paling indah dari Allah untukku adalah melihat kalian, anak-anak didikku dulu, kini telah berdiri sejajar denganku. Menjadi kawan seperjuangan di jalan ilmu, mendidik, berdakwah, dan memperbaiki. Memikul amanah Islam, menyampaikan cahaya, dan menabur kebaikan di bumi. Sungguh, ini nikmat yang pantas disyukuri kepada Allah baik di awal maupun di akhir.

وإني أوصي نفسي وإياكم جميعًا بتقوى الله عز وجل في السر والعلن، واستشعار عظيم المنة التي امتن الله بها علينا حين أرادنا الله  لخدمة العلم الشرعي وتعليمه والدعوة إليه، فإن العلم مع كونه تشريفًا  هو  كذلك تكليف ومسؤولية وأمانة عظيمة، يسأل الله عنها أصحابها يوم القيامة.

2 Izinkan aku mewasiatkan ini untuk diriku dan untuk kalian: 

Bertakwalah kepada Allah, baik saat sendiri maupun di tengah ramai. Sadarilah betapa mulianya ketika Allah memilih kita untuk berkhidmat terhadap ilmu syar'i, pengajarnya, dan penyampainya. Karena ilmu bukan hanya mahkota kemuliaan, ia juga amanah yang berat. Kelak kita akan ditanya tentangnya di hadapan-Nya.

تذكروا أن الناس ينظرون إلى أفعال أهل العلم قبل أقوالهم، وأن القدوة الحسنة من أعظم وسائل التأثير والدعوة، فاحرصوا على أن يكون علمكم ظاهرًا في أخلاقكم، وسمتكم، وتواضعكم، ورفقكم، وعدلكم، وإخلاصكم لله تعالى.

3 Ingatlah, manusia membaca akhlak kita sebelum mendengar kata-kata kita. Keteladanan adalah dakwah yang paling lantang tanpa suara. Maka biarkan ilmu kalian berbicara lewat rendah hati, lewat tutur kata yang lembut, lewat adil dalam sikap, lewat tulusnya niat karena Allah semata.

واحذروا من أن يكون همُّ أحدكم كثرة المتابعين أو الشهرة أو الثناء، بل ليكن همُّه رضا الله تعالى ونفع عباده، فإن العلم المبارك ما أورث صاحبه خشية لله، وتواضعًا لعباده، وحرصًا على هدايتهم.

4 Jangan biarkan hati kalian terikat pada jumlah pengikut, pada nama yang disebut-sebut, atau sanjungan manusia. Jadikanlah tujuan kalian satu: ridha Allah dan memberi manfaat untuk sesama. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang membuat pemiliknya makin takut kepada Allah, makin tawadhu di hadapan hamba-Nya, dan makin rindu melihat mereka mendapat hidayah.

وأوصيكم بالاستزادة من العلم، وملازمة التعلم إلى آخر العمر، فإن العالم الحقيقي هو الذي يدرك أنه ما زال محتاجًا إلى التعلم، وأن فوق كل ذي علم عليم.

وقد سمعت شيخنا الألباني   رحمــہ اللــہ تعالــ يقول ما معناه كلما ازداد المرء علما كان أحوج للعلم مما مضى.

كما أوصيكم بحفظ الأخوة العلمية، واجتماع الكلمة، وحسن الظن بإخوانكم، والتعاون على البر والتقوى، والبعد عن أسباب الفرقة والنزاع، فإن الأمة أحوج ما تكون إلى العلماء والدعاة الذين يجمعون ولا يفرقون، ويصلحون ولا يفسدون.

5 Teruslah belajar sampai napas terakhir. Orang berilmu sejati adalah ia yang tahu dirinya masih haus ilmu. Dan bahwa  Di atas setiap yang berilmu, ada yang lebih berilmu

Syaikh Al-Albani _rahimahullah_ pernah berkata, “Semakin seseorang berilmu, maka semakin merasa butuh belajar.”

Jagalah persaudaraan di jalan ilmu. Satukan langkah, bukan memecah barisan. Berbaik sangkalah pada saudaramu. Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa. Jauhilah perdebatan yang melukai. Umat ini butuh para ulama dan da’i yang merajut, bukan merobek; yang menyembuhkan, bukan melukai.

واذكروا دائمًا أن شرف العلم إنما يكتمل بالعمل به، وتعليمه للناس، والصبر على تبعاته، وأن خير ما يتركه المرء بعده علمٌ نافع،  وتلميذ صالح،  وأثر مبارك يبقى بعد رحيله.

6 Ingatlah selalu, bahwa kemuliaan ilmu akan sempurna jika diamalkan, diajarkan, dan dijaga dengan sabar. Warisan terbaik yang kita tinggalkan adalah ilmu yang bermanfaat, murid yang saleh, dan jejak kebaikan yang tetap hidup walau kita telah tiada.

وأوصيكم خاصةً بالعناية بأصل الأصول وأساس الدين، وهو الدعوة إلى توحيد الله تعالى وإخلاص العبادة له وحده لا شريك له، فإنها دعوة الأنبياء والمرسلين جميعًا، وهي أول ما ينبغي أن يُعنى به الداعية والمعلِّم والمربي. فاجعلوا همَّكم ترسيخ العقيدة الصحيحة في النفوس، وتعظيم الله تعالى، وتعظيم سنة رسوله ، وربط الناس بالوحيين: كتاب الله وسنة رسوله بفهم سلف الأمة.

7 Secara lebih khusus, aku berpesan kepada kalian agar memberikan perhatian besar kepada pondasi agama ini, yaitu tauhid. Serulah manusia hanya kepada Allah, tanpa sekutu. Itulah dakwah semua Nabi. Itulah yang pertama kali harus kita tanamkan. Besarkan Allah di hati mereka. Muliakan sunnah Rasul-Nya . Kembalikan mereka kepada Kitabullah dan Sunnah, dengan pemahaman para pendahulu yang saleh.

كما أوصيكم بالتحذير من الشرك والبدع والمحدثات التي تخالف هدي النبي وأصحابه رضي الله عنهم، على بصيرةٍ وعلمٍ وعدلٍ وإنصاف، بعيدًا عن الغلو والجفاء، مع الحرص على الحكمة والرفق واللين وحسن الخطاب، فإن القلوب تُفتح بالرحمة كما تُفتح بالحجة، وقد قال الله تعالى: ﴿ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ﴾، وقال النبي : «إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه».

8 Peringatkan dengan ilmu dan keadilan perbuatan syirik, bidah, dan semua yang menyimpang dari jalan Nabi dan para sahabatnya. Jauhi sikap keras dan berlebih-lebihan. Gantilah dengan hikmah, dengan lembut, dengan kata yang menenangkan. Karena hati itu terbuka bukan hanya dengan dalil, tapi juga dengan kasih.

Allah berfirman: _“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik”_ [Qs. An-Nahl: 125] 

Nabi bersabda: _“Kelembutan tidaklah hadir pada sesuatu, kecuali ia akan menghiasinya.”_

فكونوا دعاةً إلى السنة بأخلاقكم قبل أقوالكم، وبأعمالكم قبل مواعظكم، واجمعوا بين سلامة المنهج وحسن الأسلوب، وبين الثبات على الحق والرحمة بالخلق، فإن ذلك أقرب للقبول وأعظم أثرًا في هداية الناس وإصلاحهم.

9 Jadilah dai kepada Sunnah Nabi shalallahu alaihi wa Sallam dengan akhlakmu sebelum lisanmu, dengan amalmu sebelum ceramahmu. Satukan lurusnya jalan dengan indahnya cara. Kokoh di atas kebenaran, tapi lembut kepada sesama. Itulah jalan yang paling dekat diterima, dan paling dalam mengetuk hati.

ختاما:

لقد كنتم تلاميذ الأمس، وأصبحتم زملاء اليوم، ونرجو أن تكونوا بإذن الله قادة الغد في العلم والدعوة والإصلاح، فاحفظوا شرف الرسالة، وأدوا أمانة العلم كما تحبون أن تلقوا الله بها.

10 *Penutup*

Dulu kalian muridku. Kini kalian sahabat seperjuanganku. 

Semoga esok, dengan izin Allah, kalian menjadi pemimpin-pemimpin yang membawa cahaya ilmu, dakwah, dan perbaikan.

Jagalah kehormatan risalah ini. Tunaikan amanah ilmu ini sebaik-baiknya, sebagaimana kalian ingin berjumpa Allah dengannya.

أسأل الله تعالى أن يبارك فيكم، وأن يجعلكم مفاتيح للخير مغاليق للشر، وأن ينفع بكم الإسلام والمسلمين، وأن يرزقنا جميعا  الإخلاص والقبول والثبات حتى الممات.

وفقكم الله وسدد خطاكم، وجعلكم مباركين أينما كنتم.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

أخوكم:

المعتز والفخور  بما آتاكم الله من العلم، ومحب الخير  لكم، والراجي لكم مزيدًا من التوفيق والقبول.

عاصم بن عبدالله القريوتي

Aku meminta kepada Allah agar memberkahi kalian, menjadikan kalian pembuka pintu kebaikan, penutup pintu keburukan dan memberi manfaat untuk Islam dan kaum Muslimin. Demikian juga aku meminta kepada-Nya agar Dia menganugerahkan kepada kita semua keikhlasan, amal yang diterima, dan istiqamah sampai akhir hayat.

Semoga Allah menuntun langkah kalian, meluruskan arah, dan menjadikan kalian diberkahi di manapun kalian berada.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saudaramu, 

Yang bangga melihat cahaya ilmu yang Allah berikan pada dirimu, 

Yang tulus mencintai kebaikan untukmu. 

Yang terus mendoakanmu agar semakin diberi taufik dan keberkahan.

*‘Ashim bin ‘Abdullah Al-Qurayuti*

(Diterjemahkan menggunakan AI, dan dikoreksi oleh Marwan Hadidi)

Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa Nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Maraji': Subulussalam (Imam Ash Shan'aniy), Mausu'ah Haditsiyyah Mushaghgharah, Hidayatul Insan bitafsiril Qur'an (Penulis), Untaian Mutiara Hadits (Penulis), Mausu'ah Usrah Muslimah (www.islam.aljayyash.net), dll.

Islah (Perdamaian) Antara Para Penuntut Ilmu dan Pengaruhnya dalam Persatuan

Minggu, 31 Mei 2026

 بسم الله الرحمن الرحيم



Islah (Perdamaian) Antara Para Penuntut Ilmu dan Pengaruhnya dalam Persatuan

Oleh:

Syaikh Prof. Dr. Ashim bin Abdullah Al-Qurayuti

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Amma ba'du:

Sesungguhnya termasuk amalan yang paling mulia dan paling besar kedekatannya kepada Allah Ta'ala adalah berusaha mendamaikan kaum mukminin, terutama antara para penuntut ilmu dan para dai yang menyeru kepada As-Sunnah. Karena baiknya mereka adalah kebaikan bagi orang lain, bersatunya mereka adalah kekuatan bagi dakwah, dan perselisihan mereka menjadi sebab lemah dan tercerai-berai.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا  كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ﴾

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” [Qs. Ali 'Imran: 103]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا  إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ﴾

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Qs. Al-Anfal: 46]

Dia juga berfirman,

﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” [Qs. Al-Hujurat: 10]

Dia Yang Maha Agung juga berfirman,

﴿لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ  وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا﴾

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” [Qs. An-Nisa: 114]

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟»

“Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu yang lebih utama dari derajat puasa, shalat, dan sedekah?”

Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda,

«إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ، وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ الْحَالِقَةُ»

“Mendamaikan orang yang sedang berselisih” (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan Al Albani)

Saya akan menyebutkan beberapa hal yang sepatutnya diperhatikan oleh orang yang berselisih dan oleh para pendamai,

Pertama, mengingatkan orang yang berselisih tentang keagungan Allah dan kecilnya dunia.

Termasuk yang paling membantu untuk perdamaian adalah mengingatkan orang yang berselisih tentang keagungan Allah Ta'ala, bahwa berdiri di hadapan-Nya sudah dekat, dan bahwa dunia ini singkat dan akan sirna.

Allah Ta'ala berfirman,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”  (Qs. Ali 'Imran: 185)

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” [Qs. Asy-Syu'ara: 88-89]

Maka jika Allah menjadi Maha Agung di dalam hati, keinginan-keinginan hawa nafsu menjadi kecil, dan mudah untuk mengalah dan memaafkan.

Kedua, menjelaskan pokok-pokok yang wajib disepakati.

Tugas pendamai adalah mengingatkan orang yang berselisih dengan perkara-perkara besar yang menyatukan mereka,

- Mentauhidkan Allah Ta'ala.

- Mengikuti Al-Qur'an dan As-Sunnah.

- Mencintai para sahabat radhiyallahu 'anhum.

- Berpegang pada manhaj Salafush Shalih.

- Menyeru kepada kebaikan dan memerangi bid'ah.

- Berkeinginan menolong Islam dan kaum muslimin.

Jika mereka mengingat pokok-pokok besar ini, mereka akan tahu bahwa apa yang menyatukan mereka lebih besar dari apa yang memecah belah mereka, dan bahwa persaudaraan karena iman lebih agung daripada sebab-sebab perselisihan dan pertikaian.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا  كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ﴾

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” [Qs. Ali 'Imran: 103]

Ketiga, sifat-sifat pendamai yang sukses.

Pendamai harus memiliki sifat-sifat agung, di antaranya:

1. Ikhlas karena Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ  وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ﴾

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” [Qs. Al-Bayyinah: 5]

Ia tidak mencari popularitas atau kemenangan untuk dirinya, melainkan mengharap wajah Allah dan mewujudkan persatuan.

2. Takwa dan rasa takut kepada Allah

Allah Ta'ala berfirman,

﴿إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ  وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ  عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ﴾

 “Dan aku tidak berkehendak kecuali mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” [Qs. Hud: 88]

Maka orang yang diberi taufik dalam mendamaikan adalah orang yang bertakwa kepada Allah dan menghadap kepada-Nya, serta menjadi teladan dalam kejujuran, keadilan, dan sikap pertengahan.

3. Hikmah dan lemah lembut.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ  إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ  وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ﴾

 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Qs. An-Nahl: 125]

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ»

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya.” (Hr. Muslim)

Karena hati lebih mudah dibuka dengan kelembutan daripada dengan kekerasan.

Keempat, menanamkan cinta kepada Allah dan rasa kasih sayang di dalam hati.

Termasuk sebab terbesar untuk keberhasilan islah adalah menanamkan di dalam jiwa cinta kepada Allah dan mengagungkan-Nya, serta cinta kepada kaum mukminin dan rasa kasih sayang kepada mereka.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ  وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ  وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ﴾

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya.” [Qs. Al-Baqarah: 165]

 Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (Muttafaqun 'alaih)

Maka ia sebarkan di antara mereka ucapan-ucapan yang baik, menyebutkan kebaikan sebagian mereka kepada sebagian yang lain, menganjurkan mereka untuk mendoakan saudara-saudaranya, dan menutup pintu-pintu ghibah dan buruk sangka.

Kelima, tolong-menolong dalam perdamaian.

Perdamaian adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pekerjaan individu.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ  وَاتَّقُوا اللَّهَ  إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.” (Qs. Al-Maidah: 2)

Maka orang-orang yang baik, berilmu, dan bijaksana wajib bekerja sama dalam menyatukan kata, memadamkan api fitnah, dan mendekatkan hati.

Khatimah

Menyatukan hati para penuntut ilmu dan para dai termasuk ibadah yang paling besar dan paling agung, dan itu adalah amalan para Nabi dan orang-orang saleh. Hendaklah seorang pendamai bersemangat untuk ikhlas, takwa, hikmah, dan lemah lembut. Hendaklah ia banyak mengingatkan manusia kepada Allah dan hari akhir, serta menanamkan cinta dan kasih sayang di antara mereka. Karena hati berada di tangan Allah, dan Dia Subhanahu wa Taala berfirman,

﴿فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ  لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ  إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾

“Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”_ [Qs. Al-Anfal: 63]

Kita memohon kepada Allah agar Dia mempersatukan hati kaum muslimin, memperbaiki hubungan di antara mereka, mengumpulkan mereka di atas kebenaran dan As-Sunnah, dan menjadikan kita termasuk kunci-kunci kebaikan dan penutup pintu keburukan.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

(Diterjemahkan menggunakan AI (Artificial Intelligence) dan diperiksa oleh Marwan Hadidi, M.Pd.I)
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger