بسم
الله الرحمن الرحيم
Khutbah
Jum'at
Ushul
Tsalatsah (Tiga Dasar Utama)
Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I
Khutbah I
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ
اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي
تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا
بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ
وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Ma'asyiral
muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah
Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah
Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat,
terutama nikmat Islam dan nikmat taufiq, sehingga kita dapat melangkahkan kaki
kita menuju rumah-Nya melaksanakan salah satu perintah-Nya yaitu shalat Jumat
berjamaah.
Shalawat dan salam tidak lupa kita sampaikan kepada Nabi
kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para
sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat.
Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun
kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah
Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah
yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.
Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah
Ada
tiga dasar utama yang seharusnya diketahui seorang muslim, yaitu dia hendaknya
mengenal Allah Tuhannya, mengenal agamanya, dan mengenal Nabinya Muhammad
shallallahu alaihi wa sallam. Tiga dasar inilah yang akan ditanya
kepada kita nanti di alam kubur yang dikenal dengan istilah fitnah kubur,
dimana jika seorang hamba dapat menjawabnya, maka dia akan memperoleh nikmat
kubur, tetapi jika tidak bisa menjawab, maka bukan nikmat yang dia peroleh,
bahkan azab, wal ‘iyadz billah.
Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«اسْتَعِيذُوا
بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ» مَرَّتَيْنِ، أَوْ ثَلَاثًا، وَقَالَ: " وَإِنَّهُ
لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ حِينَ يُقَالُ لَهُ: يَا
هَذَا، مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ؟
“Mintalah
perlindungan kepada Allah dari azab kubur.” (Beliau mengucapkan dua atau tiga
kali), selanjutnya Beliau bersabda, “Si mayit benar-benar mendengar gerakan
sandal para hadirin ketika mereka beranjak pulang saat dikatakan kepadanya,
“Wahai fulan, siapa Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu?” (Hr. Abu Dawud
dari Barra bin Azib, dishahihkan oleh Al Albani)
Maka
pada kesempatan khutbah Jumat kali ini, khatib ingin mengenalkan lebih lanjut
kepada para jamaah tentang Allah Azza wa Jalla, agama Islam, dan Nabi Muhammad
shallallahu alaihi wa sallam dengan harapan kita semua dapat menjawab
pertanyaan yang diajukan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur tentunya
dengan kita mengimaninya ketika di dunia.
Perlu
diketahui, bahwa dalam mengenal Allah Azza wa Jalla tentu harus didasari dalil
dari Al Qur’an dan As Sunnah.
Mengenal
Allah Azza wa Jalla
Allah
Azza wa Jalla adalah Rabbul ‘alamin, yakni Pencipta, Penguasa, Pemilik, dan
Pengatur alam semesta. Tidak ada Tuhan di samping-Nya, tidak ada Pencipta di
samping-Nya, tidak ada Penguasa alam semesta di samping-Nya, Dia berfirman,
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin.” (Qs. Al Fatihah: 2)
Oleh
karena Dia Pencipta dan Pengatur alam
semesta, maka Dia saja yang berhak disembah; tidak selain-Nya, Dia berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا
رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(21) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ
السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا
لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22)
“Wahai
manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertakwa,--Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan
bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit,
lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki
untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal
kamu mengetahui.”
(Qs. Al Baqarah: 21-22)
Dengan
demikian, hanya Allah yang berhak disembah dan ditujukan berbagai macam ibadah.
Oleh karena itu, kita tidak berdoa selain kepada-Nya, tidak berkurban selain
kepada-Nya, tidak melakukan ruku dan sujud selain kepada-Nya, tidak berharap
selain kepada-Nya, tidak bertawakkal selain kepada-Nya, dan tidak mengarahkan
berbagai ibadah selain kepada-Nya. Inilah maksud Laailaahaillallah
(Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah).
Di
samping itu, kita juga harus mengimani bahwa Allah memiliki nama dan sifat
seperti yang Dia tetapkan dalam kitab-Nya dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa
sallam tetapkan dalam As Sunnah. Allah Azza wa Jalla berfirman,
هُوَ
اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ
الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ
السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ
اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ
لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ
الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)
“Dialah
Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengetahui
yang ghaib dan yang nyata, Dialah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.--Dialah
Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Raja, yang Mahasuci,
Yang Mahasejahtera, yang Mengaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara, Yang
Mahaperkasa, yang Mahakuasa, yang memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah
dari apa yang mereka persekutukan.--Dialah Allah yang Menciptakan, yang
Mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai Asmaaul Husna. bertasbih kepada-Nya
apa yang di langit dan bumi. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Qs. Al Hasyr: 22-24)
Dalam
beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla kita tidak boleh
mentakwilnya (mengartikan lain), menta’thil (meniadakan), mentamtsil
(menyerupakan dengan makhluk), dan mentakyif (menanyakan hakikatnya bagaimana),
Dia berfirman,
لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak
ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Mahamendengar lagi
Mahamelihat.” (Qs.
Asy Syuuraa: 11)
رَبُّ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ
هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا (65)
“Tuhan
(yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka
sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu
mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Qs. Maryam: 65)
Dalam
ayat ini terdapat tauhid Rububiyyah (meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla satu-satunya
Rabbul ‘alamin), tauhid Uluhiyyah (meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla satu-satunya
yang berhak disembah), dan tauhid Asma wa Sifat (menetapkan nama dan
sifat Allah Azza wa Jalla) sama seperti di surah Al Fatihah ayat 2-4.
Kita
juga mengimani semua berita yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya tentang Diri-Nya
seperti di surah Al Ikhlas dan ayat kursi berikut:
قُلْ
هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ
يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
Katakanlah,
"Dia-lah Allah Yang Maha Esa.--Allah adalah Tuhan yang bergantung
kepada-Nya segala sesuatu.---Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,--Dan
tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (Qs. Al Ikhlas: 1-4)
اللَّهُ
لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ
مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا
بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ
مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا
يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255)
“Allah,
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi
terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.
Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi
syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan
mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu
Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi.
Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”
(Qs. Al Baqarah: 255)
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ
الْحَمِيدُ (15)
“Wahai
manusia! kalian semua butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya
(tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Qs. Faathir: 15)
Dan
ayat-ayat lainnya. Demikianlah konsep ketuhanan dalam Islam, sebagai konsep
yang benar, jelas, gamblang, sejalan dengan fitrah dan akal manusia.
Mengenal
agama Islam
Seorang
muslim juga hendaknya mengenal agama Islam, yaitu dengan ia yakini bahwa Islam
satu-satunya agama yang benar, satu-satunya agama yang diridhai Allah,
satu-satunya jalan menuju surga-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman,
إِنَّ
الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya
agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali Imran: 19)
وَمَنْ
يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ
مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barang
siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imran: 85)
Arti
Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk
kepada-Nya dengan meenaati-Nya, dan berlepas diri dari syirik dan para
pelakunya.
Mengapa
Allah hanya ridha dengan agama Islam dan tidak ridha dengan agama selain Islam?
Jawabnya karena dalam agama Islam Allah diesakan, sedangkan dalam agama-agama
selain Islam Dia disekutukan, sedangkan Dia tidak ridha disekutukan. Allah Azza
wa Jalla berfirman,
وَلَا
يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ
“Dia
tidak ridha kekafiran pada hamba-hamba-Nya.” (Qs. Az Zumar : 7)
Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ
اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ
عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Allah
Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Aku adalah Tuhan yang paling tidak membutuhkan
sekutu. Barang siapa yang mengerjakan amalan yang ia sekutukan yang lain
bersama-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan syiriknya.” (Hr. Muslim dan Ibnu Majah)
Mengapa
hanya Islam yang bisa mengantarkan pemeluknya ke surga? Jawabnya adalah karena
Allah pemilk surga telah mengharamkan surga bagi orang-orang yang tidak
beragama Islam atau orang-orang kafir, Dia berfirman,
إِنَّ
الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ
السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ
وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ (40)
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan
dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga,
hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada
orang-orang yang berbuat kejahatan.” (Qs. Al A’raaf: 40)
Jika seseorang berkata, “Bukankah di dunia saja, jika kita ingin
ke sebuah tempat, maka kita bisa melalui jalan mana saja yang bisa mengantarkan
ke tempat tersebut demikian juga untuk menuju surga Allah, banyak jalan
kepadanya?” Jawab, “Ya. Itu jalan-jalan di dunia, karena semua jalan itu tidak
ditutup. Akan tetapi untuk menuju Allah dan surga-Nya, Dia telah menutup semua
jalan, dan hanya membuka satu jalan, yaitu Islam saja. Lebih jelasnya adalah
apabila seseorang hendak pergi ke sebuah pusat pemerintahan, dimana sebelumnya
jalan dan pintu masuknya banyak, namun untuk keamanan pihak pemerintah menutup
semua jalan dan pintu kecuali satu saja, maka kita tidak bisa melewati jalan
dan pintu yang lain selain jalan dan pintu yang dibukanya saja.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ
هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ
بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ»
“Demi Allah yang nyawa Muhammad di
Tangan-Nya, tidaklah mendengar tentang diriku seorang pun dari umat ini, baik
orang Yahudi maupun Nasrani, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan tidak
beriman kepada risalah yang aku bawa melaikan ia termasuk penghuni neraka.”
(Hr. Muslim)
Maka bersyukurlah kita sebagai seorang muslim, dan kita minta kepada
Allah agar Dia tidak mewafatkan kita kecuali di atas agama Islam, aamiin.
Ma'asyiral muslimin sidang shalat
Jum'at rahimakumullah
Agama Islam memiliki lima rukun, yaitu:
Pertama, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali
Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah.
Kedua, mendirikan shalat lima kali sehari.
Ketiga, menunaikan zakat.
Keempat, berpuasa Ramadhan.
Kelima,
naik haji ke Baitullah bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana[i].
Ajaran-ajaran Islam begitu mulia. Islam memerintahkan kita memiliki
sifat pemaaf, namun tetap memperhatikan agar kejahatan tetap diberikan hukuman
yang setimpal agar tidak memunculkan kejahatan yang baru. Islam
memerintahkan agar manusia selalu berbuat baik, sekalipun terhadap orang yang
pernah berbuat jahat kepadanya. Islam mengajarkan manusia agar
mereka banyak beribadah kepada Allah, tetapi jangan menjadi rahib yang
melupakan hak diri dan orang lain. Islam memerintahkan manusia
berendah hati, namun jangan melupakan harga diri.
بَارَكَ اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ
الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ
هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah II
َالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي مَنَّ بِظَاهِرِ النِّعَمِ وَبَاطِنِهَا،
وَفُرُوعِهَا وَأُصُولِهَا، فَأَعْطَى النُّفُوسَ مِنْ سَوَابِغِ نِعْمَائِهِ،
غَايَةَ مُنْيَتِهَا وَمُنْتَهَى سُؤْلِهَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ الَّذِي تَفَرَّدَ بِإِيصَالِ الْخَيْرَاتِ وَالْمَسَارِّ، وَدَفْعِ
الْعُقُوبَاتِ وَالْمَكْرُوهَاتِ وَالْمَضَارِّ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ، وَعَلَى التَّابِعِينَ
لَهُمْ بِإِحْسَانٍ، بِالْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ وَالْإِقْرَارِ، وَسَلِّمْ
تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ:
Ma'asyiral muslimin sidang shalat
Jum'at rahimakumullah
Termasuk hal yang seharusnya diketahui
seorang muslim adalah mengenal Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Mengenal Nabi Muhammad
shallallahu alaihi wa sallam
Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin
Abdul Muththalib bin Hasyim, dimana Hasyim merupakan keturunan Quraisy, dan
Quraisy termasuk bangsa Arab, sedangkan bangsa Arab adalah keturunan Nabi Ismail
bin Ibrahim Al Khalil alaihis salam.
Usia beliau 63 tahun, dimana 40 tahun
sebelumnya ketika belum diangkat menjadi nabi dan rasul, dan 23 tahun
setelahnya ketika menjadi nabi dan rasul.
Allah mengutus Beliau untuk memperingatkan
manusia terhadap syirik dan mengajak mereka kepada tauhid (mengesakan Allah
Azza wa Jalla) dan mengajarkan jalan hidup yang benar.
Kita selaku umat Nabi Muhammad shallallahu
alaihi wa sallam wajib mengimani bahwa Beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya
shallallahu alaihi wa sallam.
Pengakuan bahwa
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai hamba Allah menghendaki
kita untuk tidak bersikap ifrath (berlebihan) terhadap Beliau; tidak seperti
orang-orang Nasrani yang berlebihan terhadap nabi mereka sampai menuhankannya.
Sedangkan pengakuan bahwa Beliau sebagai Rasul menghendaki kita untuk tidak
bersikap tafrith (meremehkan) Beliau seperti orang-orang Yahudi yang meremehkan
Nabi mereka. Oleh karena Beliau adalah utusan Allah, maka sikap kita seharusnya
adalah memiliki adab yang tinggi terhadap Beliau, seperti menaati perintahnya,
menjauhi larangannya, membenarkan sabdanya, beribadah kepada Allah sesuai
contohnya, mencintainya di atas kecintaan kepada manusia seluruhnya, mengedepan
sabda Beliau di atas semua perkataan manusia, menjadikan Beliau sebagai hakim
terhadap semua masalah yang diperselisihkan, bershalawat dan salam kepadanya,
dsb.
Dalil-dalil
terhadap apa yang khatib sampaikan sangat banyak dalam Al Qur’an dan As Sunnah,
di antaranya sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
«لاَ
تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ،
فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ»
“Janganlah
kalian berlebihan terhadapku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan
terhadap Isa putera Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, ‘Hamba
Allah dan Rasul-Nya.” (Hr. Bukhari)
semoga Allah
menjadikan kita sebagai orang yang mengikuti Beliau, dikumpulkan bersamanya,
dan dekat dengan Beliau di surga, aamiin.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى
آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدُ
مَجِيْدٌ،
اَللَّهُمَّ بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى
آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدُ
مَجِيْدٌ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا لَا
تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً
إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
عِبَادَ
اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي
الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ
اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
[i] Siapa saja yang memperhatikan urutan
rukun Islam ini, maka ia akan menemukan kesesuain dan tepatnya urutan tersebut
serta mengetahui kebijaksanaan syariat.
Dalam rukun yang
pertama terdapat pernyataan tauhid (beribadah kepada Allah Ta'ala saja), dimana
untuk itulah Allah menciptakan semua manusia, kemudian tatacaranya diterangkan
oleh Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dalam rukun yang
kedua, terdapat perwujudan mereka dalam mentauhidkan Allah Subhaanahu wa Ta'ala
pada keseharian hidup mereka. Dengan shalat, mereka mengarahkan doa, ruku dan
sujud mereka kepada Allah Ta'ala. Dengan shalat hubungan mereka dengan Tuhannya
menjadi baik.
Setelah hubungan
hamba dengan Tuhannya menjadi baik dengan ibadah shalat, maka ia memperbaiki hubungannya dengan manusia
dengan ibadah zakat. Sungguh sangat tepat sekali, yakni hendaknya ia perbaiki
hubungan dulu dengan Tuhannya, baru kemudian ia perbaiki hubungannya dengan
manusia yang lain.
Selanjutnya ada
ibadah puasa, dimana dengan adanya ibadah tersebut, manusia semakin dapat
bersabar di atas ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan karena telah
dilatih dengan menahan diri dari hal-hal yang disukainya pada bulan ramadhan.
Setelah
seorang muslim mentauhidkan Allah, beriman kepada Rasul-Nya, mendirikan shalat,
menunaikan zakat, dan berpuasa Ramadhan, maka pantaslah ia mendapat undangan
Allah Azza wa Jalla menuju rumah-Nya, dan yang mengundangnya adalah Tuhan alam
semesta. Akan tetapi, karena rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, maka Dia
memberikan udzur kepada hamba-Nya yang tidak sanggup mendatangi undangan-Nya.