Terjemah Bulughul Maram (21)

Minggu, 12 Juli 2026

 

بسم  الله الرحمن الرحيم



Terjemah Bulughul Maram (21)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut lanjutan terjemah Bulughul Maram karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan buku ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Dalam menyebutkan takhrijnya, kami banyak merujuk kepada dua kitab; Takhrij dari cetakan Darul ‘Aqidah yang banyak merujuk kepada kitab-kitab karya Syaikh M. Nashiruddin Al Albani rahimahullah, dan Buluughul Maram takhrij Syaikh Sumair Az Zuhairiy –hafizhahullah- yang kami singkat dengan ‘TSZ’.

كِتَابُ اَلصَّلَاةِ

Kitab Shalat

بَابُ صَلَاةِ اَلْخَوْفِ

Bab shalat khauf

501- عَنْ صَالِحِ بْنِ خَوَّاتٍ, , عَمَّنْ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ r يَوْمَ ذَاتِ اَلرِّقَاعِ صَلَاةَ اَلْخَوْفِ: أَنَّ طَائِفَةً صَلَّتْ مَعَهُ وَطَائِفَةٌ وِجَاهَ اَلْعَدُوِّ, فَصَلَّى بِاَلَّذِينَ مَعَهُ رَكْعَةً, ثُمَّ ثَبَتَ قَائِمًا وَأَتَمُّوا لِأَنْفُسِهِمْ, ثُمَّ اِنْصَرَفُوا فَصَفُّوا وِجَاهَ اَلْعَدُوِّ, وَجَاءَتِ اَلطَّائِفَةُ اَلْأُخْرَى, فَصَلَّى بِهِمْ اَلرَّكْعَةَ اَلَّتِي بَقِيَتْ, ثُمَّ ثَبَتَ جَالِسًا وَأَتَمُّوا لِأَنْفُسِهِمْ, ثُمَّ سَلَّمَ بِهِمْ -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ . وَوَقَعَ فِي "اَلْمَعْرِفَةِ" لِابْنِ مَنْدَهْ, عَنْ صَالِحِ بْنِ خَوَّاتٍ, عَنْ أَبِيهِ

501. Dari Shalih bin Khawwat radhiyallahu 'anhu dari para sahabat yang ikut shalat khauf bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada peperangan Dzaatur riqaaa’: “Bahwa segolongan para sahabat Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam ikut shalat bersama Beliau, sedangkan segolongan yang lain bersiaga menghadap musuh, maka Beliau pun shalat dengan segolongan yang bersama Beliau satu rakaat, lalu Beliau tetap berdiri dan para sahabat menyempurnakan shalatnya masing-masing, setelah itu mereka semua pergi dan berbaris menghadang musuh. Kemudian datanglah segolongan yang sebelumnya menghadang musuh lalu Beliau shalat dengan mereka satu rakaat kurangnya, Beliau pun tetap dalam keadaan duduk dan para sahabat pun masing-masing menyempurnakan yang kurangnya, setelah itu Beliau salam bersama mereka.” (Muttafaq 'alaih, lafaz ini adalah lafaz Muslim, sedangkan dalam Al Ma’rifah karya Ibnu Mandah disebutkan dari Shalih bin Khawwat dari bapaknya)[i]

502- وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: , غَزَوْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ r قِبَلَ نَجْدٍ, فَوَازَيْنَا اَلْعَدُوَّ, فَصَافَفْنَاهُمْ, فَقَامَ رَسُولُ اَللَّهِ r يُصَلِّي بِنَا, فَقَامَتْ طَائِفَةٌ مَعَهُ, وَأَقْبَلَتْ طَائِفَةٌ عَلَى اَلْعَدُوِّ, وَرَكَعَ بِمَنْ مَعَهُ, وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ, ثُمَّ انْصَرَفُوا مَكَانَ اَلطَّائِفَةِ الَّتِي لَمْ تُصَلِّ فَجَاءُوا, فَرَكَعَ بِهِمْ رَكْعَةً, وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ, ثُمَّ سَلَّمَ, فَقَامَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ, فَرَكَعَ لِنَفْسِهِ رَكْعَةً, وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَهَذَا لَفْظُ اَلْبُخَارِيِّ

502. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma ia berkata, “Aku pernah ikut berperang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ke bagian arah Nejd, kami berhadapan dengan musuh, kami pun kemudian membuat barisan, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri shalat mengimami kami, sekelompok ikut shalat bersama Beliau sedangkan sekelompok yang lain bersiaga menghadang musuh. Sekelompok yang bersama Beliau melakukan ruku dan sujud dua kali lalu mereka pergi ke tempat sekelompok yang belum shalat. Mereka pun datang, lalu Beliau melakukan ruku bersama mereka dan sujud dua kali kemudian salam, maka masing-masing dari kelompok itu berdiri lalu melakukan ruku sendiri-sendiri dan sujud dua kali.” (Muttafaq ‘alaih, lafaz ini adalah lafaz Bukhari)[ii]

503- وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ: , شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ r صَلَاةَ اَلْخَوْفِ، فَصَفَّنَا صَفَّيْنِ: صَفٌّ خَلْفَ رَسُولِ اَللَّهِ r وَالْعَدُوُّ بَيْنَنَا وَبَيْنَ اَلْقِبْلَةِ, فَكَبَّرَ اَلنَّبِيُّ r وَكَبَّرْنَا جَمِيعًا, ثُمَّ رَكَعَ وَرَكَعْنَا جَمِيعًا, ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ اَلرُّكُوعِ وَرَفَعْنَا جَمِيعًا, ثُمَّ اِنْحَدَرَ بِالسُّجُودِ وَالصَّفُّ اَلَّذِي يَلِيهِ, وَقَامَ اَلصَّفُّ اَلْمُؤَخَّرُ فِي نَحْرِ اَلْعَدُوِّ, فَلَمَّا قَضَى اَلسُّجُودَ, قَامَ اَلصَّفُّ اَلَّذِي يَلِيهِ... -  فَذَكَرَ اَلْحَدِيثَ. وَفِي رِوَايَةٍ: , ثُمَّ سَجَدَ وَسَجَدَ مَعَهُ اَلصَّفُّ اَلْأَوَّلُ, فَلَمَّا قَامُوا سَجَدَ اَلصَّفُّ اَلثَّانِي, ثُمَّ تَأَخَّرَ اَلصَّفُّ اَلْأَوَّلِ وَتَقَدَّمَ اَلصَّفُّ اَلثَّانِي... -  فَذَكَرَ مِثْلَهُ. وَفِي آخِرِهِ: , ثُمَّ سَلَّمَ اَلنَّبِيُّ r وَسَلَّمْنَا جَمِيعًا -  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

503. Dari Jabir radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Aku pernah ikut shalat khauf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kami pun berbaris dua shaf, satu shaf di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan musuh berada di antara kami dan kiblat, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir, kami pun semua bertakbir, Beliau ruku maka kami pun ikut ruku’, Beliau mengangkat kepalanya dari ruku’ maka kami pun mengangkat kepala semuanya, lalu Beliau turun sujud bersama shaf yang dekat dengan Beliau dan shaf terakhir tetap berdiri menghadap musuh, ketika Beliau telah sujud maka  bangunlah shaf yang dekat dengan Beliau…dst. Sedangkan dalam sebuah riwayat disebutkan, “Kemudian Beliau sujud dan sujud bersama Beliau shaf pertama, ketika mereka semua bangun maka sujudlah shaf kedua, lalu shaf bertama mundur dan shaf kedua maju…dst. Sama seperti di atas. Di bagian akhirnya disebutkan, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian salam dan kami pun semua salam.” (Diriwayatkan oleh Muslim)[iii]

504- وَلِأَبِي دَاوُدَ: عَنْ أَبِي عَيَّاشٍ الزُّرَقِيِّ مِثْلُهُ, وَزَادَ: , أَنَّهَا كَانَتْ بِعُسْفَانَ -

504. Dan dalam riwayat Abu Dawud dari Abu ‘Ayyasy Az Zuraqiy sama seperti itu namun ada tambahan, “Hal itu terjadi ketika di ‘Usfan”.[iv]

505- وَلِلنَّسَائِيِّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْ جَابِرٍ , أَنَّ اَلنَّبِيَّ r صَلَّى بِطَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ رَكْعَتَيْنِ, ثُمَّ سَلَّمَ, ثُمَّ صَلَّى بِآخَرِينَ أَيْضًا رَكْعَتَيْنِ, ثُمَّ سَلَّمَ -

505. Sedangkan dalam riwayat Nasa’i dari jalur yang lain dari Jabir bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat dengan segolongan para shahabat dua rakaat lalu salam, kemudian shalat dengan yang lain juga dua rak’at lalu salam.”[v]

506- وَمِثْلُهُ لِأَبِي دَاوُدَ, عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

506. Demikian juga dalam riwayat Abu Dawud dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu.[vi]

507- وَعَنْ حُذَيْفَةَ: , أَنَّ اَلنَّبِيَّ r صَلَّى صَلَاةَ اَلْخَوْفِ بِهَؤُلَاءِ رَكْعَةً, وَبِهَؤُلَاءِ رَكْعَةً, وَلَمْ يَقْضُوا -  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

507. Dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat khauf dengan sebagian sahabat satu rakaat dan dengan sebagian sahabat yang lain satu rakaat, mereka semua tidak mengqadhanya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan Nasa’i, serta dishahihkan oleh Ibnu Hibban)[vii]

508- وَمِثْلُهُ عِنْدَ ابْنِ خُزَيْمَةَ: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ

508. Sama juga seperti itu dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.[viii]

509- وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r , صَلَاةُ اَلْخَوْفِ رَكْعَةٌ عَلَى أَيِّ وَجْهٍ كَانَ -  رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

509. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Shalat khauf itu satu rakaat bagaimana pun keadaannya.” (Diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan isnad yang dha’if)[ix]

510- وَعَنْهُ مَرْفُوعًا: , لَيْسَ فِي صَلَاةِ اَلْخَوْفِ سَهْوٌ -  أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

510. Darinya (Ibnu Umar) secara marfu’, “Dalam shalat khauf tidak ada (sujud) sahwi.” (Diriwayatkan oleh Daruquthni dengan isnad yang dha’if)[x]

 

Bersambung….

Wa shallallahu 'alaa Nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Alih Bahasa:

Marwan bin Musa



[i] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (4130) dalam Al Maghaaziy, Muslim (842) bab Shalatul khauf, sedangkan Muslim di nomor 841 dari Shalih bin Khawwat dari Sahl bin Abi Hatsmah. Lihat Al Misykaat (1421). Dalam Fathul Bariy disebutkan, “Ini adalah zhahirnya riwayat Bukhari, namun yang rajih (kuat) bahwa bahwa bapaknya adalah Khawwat bin Jubair, Karena Abu Uwais meriwayatkan hadits ini dari Yazid bin Rumaan guru Malik, ia berkata, “Dari Shaalih bin Khawwat dari bapaknya,” diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dalam Ma’rifatush Shahaabah dari jalurnya, juga diriwayatkan oleh Baihaqi dari jalan Ubaidullah bin Umar, dari Al Qaasim bin Muhammad, dari Shalih bin Khawwat dari bapaknya. Imam Nawawiy memastikan dalam Tahdzibnya bahwa ia adalah Khawwat bin Jubair, ia katakan, “Ini sudah benar berdasarkan riwayat Muslim dan lainnya.” [lihat Fathul Baariy (7/487)].

Dalam TSZ dijelaskan bahwa dalam Bukhari-Muslim lafaznya adalah “Shaffat (membuat shaf)” sebagai ganti dari “shallat”.

[ii] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (942) dalam Al Khauf, Muslim (839) bab Shalaatul Khauf .

[iii] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (840) dalam Shalaatul musaafiriin wa qashruhaa, bab Shalaatul Khauf. Al Misykaat (1423) .

[iv] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (1236) bab Shalatul Khauf, dan dalam Shahih Abu Dawud karya Al Albani (1236) .

Dalam TSZ disebutkan lafaznya sbb,

عن أبي عياش الزرقي قال: كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بعسفان، وعلى المشركين خالد بن الوليد، فصلينا الظهر، فقال المشركون: لقد أصبنا غرة. لقد أصبنا غفلة، لو كنا حملنا عليهم وهم في الصلاة، فنزلت آية القصر بين الظهر والعصر، فلما حضرت العصر، قام رسول الله صلى الله عليه وسلم، مستقبل القبلة والمشركون أمامه، فصف خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم صف، وصف بعد ذلك الصف صف آخر، فركع رسول الله صلى الله عليه وسلم وركعوا جميعا، ثم سجد وسجد الصف الذين يلونه، وقام الآخرون يحرسونهم، فلما صلى هؤلاء السجدتين وقاموا سجد الآخرين الذين كانوا خلفهم، ثم تأخر الصف الذي يليه إلى مقام الآخرين، وتقدم الصف الأخير إلى مقام الصف الأول، ثم ركع رسول الله صلى الله عليه وسلم وركعوا جميعا، ثم سجد وسجد الصف الذي يليه، وقام الآخرون يحرسونهم فلما جلس رسول الله صلى الله عليه وسلم والصف الذي يليه الآخرون، ثم جلسوا جميعا، فسلم عليهم جميعا، فصلاها بعسفان، وصلاها يوم بني سليم

Dari Abu ‘Ayyaasy Az Zuraqiy ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di Usfaan, ketika itu pemimpin kaum musyrikin adalah Khalid bin Al Walid, lalu kami shalat Zhuhur, kaum musyrikin berkata, “Kita lalai, kita lupa, alangkah baiknya kalau kita serang mereka ketika mereka sedang shalat, maka turunlah ayat perintah mengqashar shalat Zhuhur dan ‘Ashar, ketika tiba waktu ‘Ashar, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri menghadap kiblat, sedangkan kaum musyrikin di hadapannya, maka Satu shaf berbaris di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, setelah shaf itu ada shaf lagi yang lain, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ruku’, yang lain pun ruku’ semua, kemudian Beliau sujud dan ikut sujud juga shaf yang di dekat Beliau, sedangkan shaf yang lain berdiri menjaga mereka, ketika shaf (yang dekat dengan Beliau) telah menyelesaikan dua kali sujud, merekapun berdiri, sedangkan shaf yang lain yang berada di belakang mereka sujud, kemudian shaf yang berada di dekat Beliau menggantikan posisi shaf yang berada di belakangnya, sedangkan shaf yang di belakang menggantikan posisi shaf pertama, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ruku dan ikut ruku juga semuanya, kemudian Beliau sujud dan ikut sujud dengan Beliau shaf yang di dekatnya, sedangkan shaf yang lain berdiri menjaga mereka, ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk, demikian juga shaf yang berada di dekatnya, maka yang lain pun ikut duduk, lalu Beliau melakukan salam bersama mereka, hal itu Beliau lakukan ketika di Usfan dan ketika hari Bani Salim.”

[v] Shahih, diriwayatkan oleh Nasa’i (1552) dalam Shalaatul Khauf, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih An Nasaa’i dengan no. 1551, dan ia menisbatkan kepada Muslim (2/215) .

[vi] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (1248) bab man qaala yushalliy bikulli thaa’ifatin rak’atain, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud (1248).

[vii] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (1246), Nasa’i no. (1529-1530) dalam Shalatul Khauf, Ibnu Abi Syaibah (2/115/1), Thahawiy (1/183), Hakim (1/335) dan Ahmad (5/385, 399) dari jalan Sufyan dari Asy’ats bin Abisy Sya’tsaa’, dari Al Aswad bin Hilal dari Tsa’labah bin Zuhdam Al Hanzhaliy ia berkata,”Kami pernah bersama Sa’id di Thibristan ia pun berdiri dan berkata,”Siapa di antara kalian yang pernah shalat khauf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?” Maka Hudzaifah berkata, “Saya”, ia pun kemudian shalat dengan sebagian golongan satu rakaat dan dengan yang lain satu rakaat, dan mereka tidak mengqadhanya.” Al Albani berkata: “Dan ini isnad yang shahih sebagaimana dikatakan Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabiy serta dishahihkan juga oleh Ibnu Hibban seperti dalam Bulughul Maram, para perawinya adalah tsiqah dan ia adalah perawi Muslim selain Al Aswad, Ibnu Hazm (5/35) berkata, ”Ia adalah seorang shahabiy Hanzhaliy, dan jamaah (ahli hadits) memastikan keshahihannya di antaranya Ibnu Hibban dan Ibnus Sakan, namun Bukhari dan lainnya menafikannya. [lihat Shahih Abu Dawud (1246), Al Irwaa’ (3/44)] .

[viii] Isnadnya shahih, Shahih Ibnu Khuzaimah (1344) ta’liq Al Albani, dan isnadnya shahih.

[ix] Al Haitsami berkata dalam Majma’uz Zawaa’id (2/196), “Diriwayatkan oleh Al Bazzar, dan dalam sanadnya ada Muhammad bin Abdurrahman bin Al Baylamaaniy, Bukhari dan Abu Haatim mengatakan, “Munkar haditsnya.” Sedangkan Daruquthni dan lainnya berkata, “Dha’if” .

[x] Diriwayatkan oleh Daruquthni dalam Sunannya (2/58) ia berkata, ”Abdul Hamid bin As Sirriy menyendiri dalam meriwayatkan, ia adalah orang yang dha’if.”

Khutbah Jum'at : Ushul Tsalatsah (Tiga Dasar Utama)

Rabu, 01 Juli 2026

 

بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Ushul Tsalatsah (Tiga Dasar Utama)

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam dan nikmat taufiq, sehingga kita dapat melangkahkan kaki kita menuju rumah-Nya melaksanakan salah satu perintah-Nya yaitu shalat Jumat berjamaah.

Shalawat dan salam tidak lupa kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Ada tiga dasar utama yang seharusnya diketahui seorang muslim, yaitu dia hendaknya mengenal Allah Tuhannya, mengenal agamanya, dan mengenal Nabinya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Tiga dasar inilah yang akan ditanya kepada kita nanti di alam kubur yang dikenal dengan istilah fitnah kubur, dimana jika seorang hamba dapat menjawabnya, maka dia akan memperoleh nikmat kubur, tetapi jika tidak bisa menjawab, maka bukan nikmat yang dia peroleh, bahkan azab, wal ‘iyadz billah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ» مَرَّتَيْنِ، أَوْ ثَلَاثًا، وَقَالَ: " وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ حِينَ يُقَالُ لَهُ: يَا هَذَا، مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ؟

“Mintalah perlindungan kepada Allah dari azab kubur.” (Beliau mengucapkan dua atau tiga kali), selanjutnya Beliau bersabda, “Si mayit benar-benar mendengar gerakan sandal para hadirin ketika mereka beranjak pulang saat dikatakan kepadanya, “Wahai fulan, siapa Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa nabimu?” (Hr. Abu Dawud dari Barra bin Azib, dishahihkan oleh Al Albani)

Maka pada kesempatan khutbah Jumat kali ini, khatib ingin mengenalkan lebih lanjut kepada para jamaah tentang Allah Azza wa Jalla, agama Islam, dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dengan harapan kita semua dapat menjawab pertanyaan yang diajukan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur tentunya dengan kita mengimaninya ketika di dunia.

Perlu diketahui, bahwa dalam mengenal Allah Azza wa Jalla tentu harus didasari dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Mengenal Allah Azza wa Jalla

Allah Azza wa Jalla adalah Rabbul ‘alamin, yakni Pencipta, Penguasa, Pemilik, dan Pengatur alam semesta. Tidak ada Tuhan di samping-Nya, tidak ada Pencipta di samping-Nya, tidak ada Penguasa alam semesta di samping-Nya, Dia berfirman,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 “Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin.” (Qs. Al Fatihah: 2)

Oleh karena Dia Pencipta dan Pengatur  alam semesta, maka Dia saja yang berhak disembah; tidak selain-Nya, Dia berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22)

“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,--Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Qs. Al Baqarah: 21-22)

Dengan demikian, hanya Allah yang berhak disembah dan ditujukan berbagai macam ibadah. Oleh karena itu, kita tidak berdoa selain kepada-Nya, tidak berkurban selain kepada-Nya, tidak melakukan ruku dan sujud selain kepada-Nya, tidak berharap selain kepada-Nya, tidak bertawakkal selain kepada-Nya, dan tidak mengarahkan berbagai ibadah selain kepada-Nya. Inilah maksud Laailaahaillallah (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah).

Di samping itu, kita juga harus mengimani bahwa Allah memiliki nama dan sifat seperti yang Dia tetapkan dalam kitab-Nya dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam tetapkan dalam As Sunnah. Allah Azza wa Jalla berfirman,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24)

“Dialah Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.--Dialah Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Raja, yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, yang Mengaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, yang Mahakuasa, yang memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.--Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai Asmaaul Husna. bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Qs. Al Hasyr: 22-24)

Dalam beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla kita tidak boleh mentakwilnya (mengartikan lain), menta’thil (meniadakan), mentamtsil (menyerupakan dengan makhluk), dan mentakyif (menanyakan hakikatnya bagaimana), Dia berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (Qs. Asy Syuuraa: 11)

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا (65)

“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Qs. Maryam: 65)

Dalam ayat ini terdapat tauhid Rububiyyah (meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla satu-satunya Rabbul ‘alamin), tauhid Uluhiyyah (meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla satu-satunya yang berhak disembah), dan tauhid Asma wa Sifat (menetapkan nama dan sifat Allah Azza wa Jalla) sama seperti di surah Al Fatihah ayat 2-4.

Kita juga mengimani semua berita yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya tentang Diri-Nya seperti di surah Al Ikhlas dan ayat kursi berikut:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

Katakanlah, "Dia-lah Allah Yang Maha Esa.--Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.---Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,--Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (Qs. Al Ikhlas: 1-4)

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255)

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Qs. Al Baqarah: 255)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15)

“Wahai manusia! kalian semua butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Qs. Faathir: 15)

Dan ayat-ayat lainnya. Demikianlah konsep ketuhanan dalam Islam, sebagai konsep yang benar, jelas, gamblang, sejalan dengan fitrah dan akal manusia.

Mengenal agama Islam

Seorang muslim juga hendaknya mengenal agama Islam, yaitu dengan ia yakini bahwa Islam satu-satunya agama yang benar, satu-satunya agama yang diridhai Allah, satu-satunya jalan menuju surga-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali Imran: 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imran: 85)

Arti Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan meenaati-Nya, dan berlepas diri dari syirik dan para pelakunya.

Mengapa Allah hanya ridha dengan agama Islam dan tidak ridha dengan agama selain Islam? Jawabnya karena dalam agama Islam Allah diesakan, sedangkan dalam agama-agama selain Islam Dia disekutukan, sedangkan Dia tidak ridha disekutukan. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

“Dia tidak ridha kekafiran pada hamba-hamba-Nya.” (Qs. Az Zumar : 7)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Aku adalah Tuhan yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa yang mengerjakan amalan yang ia sekutukan yang lain bersama-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan syiriknya.” (Hr. Muslim dan Ibnu Majah)

Mengapa hanya Islam yang bisa mengantarkan pemeluknya ke surga? Jawabnya adalah karena Allah pemilk surga telah mengharamkan surga bagi orang-orang yang tidak beragama Islam atau orang-orang kafir, Dia berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ (40)

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (Qs. Al A’raaf: 40)

Jika seseorang berkata, “Bukankah di dunia saja, jika kita ingin ke sebuah tempat, maka kita bisa melalui jalan mana saja yang bisa mengantarkan ke tempat tersebut demikian juga untuk menuju surga Allah, banyak jalan kepadanya?” Jawab, “Ya. Itu jalan-jalan di dunia, karena semua jalan itu tidak ditutup. Akan tetapi untuk menuju Allah dan surga-Nya, Dia telah menutup semua jalan, dan hanya membuka satu jalan, yaitu Islam saja. Lebih jelasnya adalah apabila seseorang hendak pergi ke sebuah pusat pemerintahan, dimana sebelumnya jalan dan pintu masuknya banyak, namun untuk keamanan pihak pemerintah menutup semua jalan dan pintu kecuali satu saja, maka kita tidak bisa melewati jalan dan pintu yang lain selain jalan dan pintu yang dibukanya saja.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ»

“Demi Allah yang nyawa Muhammad di Tangan-Nya, tidaklah mendengar tentang diriku seorang pun dari umat ini, baik orang Yahudi maupun Nasrani, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa melaikan ia termasuk penghuni neraka.” (Hr. Muslim)

Maka bersyukurlah kita sebagai seorang muslim, dan kita minta kepada Allah agar Dia tidak mewafatkan kita kecuali di atas agama Islam, aamiin.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Agama Islam memiliki lima rukun, yaitu:

Pertama, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah.

Kedua, mendirikan shalat lima kali sehari.

Ketiga, menunaikan zakat.

Keempat, berpuasa Ramadhan.

Kelima, naik haji ke Baitullah bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana[i].

Ajaran-ajaran Islam begitu mulia. Islam memerintahkan kita memiliki sifat pemaaf, namun tetap memperhatikan agar kejahatan tetap diberikan hukuman yang setimpal agar tidak memunculkan kejahatan yang baru. Islam memerintahkan agar manusia selalu berbuat baik, sekalipun terhadap orang yang pernah berbuat jahat kepadanya. Islam mengajarkan manusia agar mereka banyak beribadah kepada Allah, tetapi jangan menjadi rahib yang melupakan hak diri dan orang lain. Islam memerintahkan manusia berendah hati, namun jangan melupakan harga diri.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

َالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي مَنَّ بِظَاهِرِ النِّعَمِ وَبَاطِنِهَا، وَفُرُوعِهَا وَأُصُولِهَا، فَأَعْطَى النُّفُوسَ مِنْ سَوَابِغِ نِعْمَائِهِ، غَايَةَ مُنْيَتِهَا وَمُنْتَهَى سُؤْلِهَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الَّذِي تَفَرَّدَ بِإِيصَالِ الْخَيْرَاتِ وَالْمَسَارِّ، وَدَفْعِ الْعُقُوبَاتِ وَالْمَكْرُوهَاتِ وَالْمَضَارِّ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ، بِالْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ وَالْإِقْرَارِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Termasuk hal yang seharusnya diketahui seorang muslim adalah mengenal Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Mengenal Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam

Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim, dimana Hasyim merupakan keturunan Quraisy, dan Quraisy termasuk bangsa Arab, sedangkan bangsa Arab adalah keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim Al Khalil alaihis salam.

Usia beliau 63 tahun, dimana 40 tahun sebelumnya ketika belum diangkat menjadi nabi dan rasul, dan 23 tahun setelahnya ketika menjadi nabi dan rasul.

Allah mengutus Beliau untuk memperingatkan manusia terhadap syirik dan mengajak mereka kepada tauhid (mengesakan Allah Azza wa Jalla) dan mengajarkan jalan hidup yang benar.

Kita selaku umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam wajib mengimani bahwa Beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.

Pengakuan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai hamba Allah menghendaki kita untuk tidak bersikap ifrath (berlebihan) terhadap Beliau; tidak seperti orang-orang Nasrani yang berlebihan terhadap nabi mereka sampai menuhankannya. Sedangkan pengakuan bahwa Beliau sebagai Rasul menghendaki kita untuk tidak bersikap tafrith (meremehkan) Beliau seperti orang-orang Yahudi yang meremehkan Nabi mereka. Oleh karena Beliau adalah utusan Allah, maka sikap kita seharusnya adalah memiliki adab yang tinggi terhadap Beliau, seperti menaati perintahnya, menjauhi larangannya, membenarkan sabdanya, beribadah kepada Allah sesuai contohnya, mencintainya di atas kecintaan kepada manusia seluruhnya, mengedepan sabda Beliau di atas semua perkataan manusia, menjadikan Beliau sebagai hakim terhadap semua masalah yang diperselisihkan, bershalawat dan salam kepadanya, dsb.

Dalil-dalil terhadap apa yang khatib sampaikan sangat banyak dalam Al Qur’an dan As Sunnah, di antaranya sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

«لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ»

“Janganlah kalian berlebihan terhadapku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan terhadap Isa putera Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (Hr. Bukhari)

semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang mengikuti Beliau, dikumpulkan bersamanya, dan dekat dengan Beliau di surga, aamiin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I


[i] Siapa saja yang memperhatikan urutan rukun Islam ini, maka ia akan menemukan kesesuain dan tepatnya urutan tersebut serta mengetahui kebijaksanaan syariat.

Dalam rukun yang pertama terdapat pernyataan tauhid (beribadah kepada Allah Ta'ala saja), dimana untuk itulah Allah menciptakan semua manusia, kemudian tatacaranya diterangkan oleh Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dalam rukun yang kedua, terdapat perwujudan mereka dalam mentauhidkan Allah Subhaanahu wa Ta'ala pada keseharian hidup mereka. Dengan shalat, mereka mengarahkan doa, ruku dan sujud mereka kepada Allah Ta'ala. Dengan shalat hubungan mereka dengan Tuhannya menjadi baik.

Setelah hubungan hamba dengan Tuhannya menjadi baik dengan ibadah shalat, maka  ia memperbaiki hubungannya dengan manusia dengan ibadah zakat. Sungguh sangat tepat sekali, yakni hendaknya ia perbaiki hubungan dulu dengan Tuhannya, baru kemudian ia perbaiki hubungannya dengan manusia yang lain.

Selanjutnya ada ibadah puasa, dimana dengan adanya ibadah tersebut, manusia semakin dapat bersabar di atas ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan karena telah dilatih dengan menahan diri dari hal-hal yang disukainya pada bulan ramadhan.

Setelah seorang muslim mentauhidkan Allah, beriman kepada Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan berpuasa Ramadhan, maka pantaslah ia mendapat undangan Allah Azza wa Jalla menuju rumah-Nya, dan yang mengundangnya adalah Tuhan alam semesta. Akan tetapi, karena rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, maka Dia memberikan udzur kepada hamba-Nya yang tidak sanggup mendatangi undangan-Nya.

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger