Islah (Perdamaian) Antara Para Penuntut Ilmu dan Pengaruhnya dalam Persatuan

Minggu, 31 Mei 2026

 بسم الله الرحمن الرحيم



Islah (Perdamaian) Antara Para Penuntut Ilmu dan Pengaruhnya dalam Persatuan

Oleh:

Syaikh Prof. Dr. Ashim bin Abdullah Al-Qurayuti

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Amma ba'du:

Sesungguhnya termasuk amalan yang paling mulia dan paling besar kedekatannya kepada Allah Ta'ala adalah berusaha mendamaikan kaum mukminin, terutama antara para penuntut ilmu dan para dai yang menyeru kepada As-Sunnah. Karena baiknya mereka adalah kebaikan bagi orang lain, bersatunya mereka adalah kekuatan bagi dakwah, dan perselisihan mereka menjadi sebab lemah dan tercerai-berai.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا  كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ﴾

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” [Qs. Ali 'Imran: 103]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا  إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ﴾

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Qs. Al-Anfal: 46]

Dia juga berfirman,

﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” [Qs. Al-Hujurat: 10]

Dia Yang Maha Agung juga berfirman,

﴿لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ  وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا﴾

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” [Qs. An-Nisa: 114]

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟»

“Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu yang lebih utama dari derajat puasa, shalat, dan sedekah?”

Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda,

«إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ، وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ الْحَالِقَةُ»

“Mendamaikan orang yang sedang berselisih” (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan Al Albani)

Saya akan menyebutkan beberapa hal yang sepatutnya diperhatikan oleh orang yang berselisih dan oleh para pendamai,

Pertama, mengingatkan orang yang berselisih tentang keagungan Allah dan kecilnya dunia.

Termasuk yang paling membantu untuk perdamaian adalah mengingatkan orang yang berselisih tentang keagungan Allah Ta'ala, bahwa berdiri di hadapan-Nya sudah dekat, dan bahwa dunia ini singkat dan akan sirna.

Allah Ta'ala berfirman,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”  (Qs. Ali 'Imran: 185)

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” [Qs. Asy-Syu'ara: 88-89]

Maka jika Allah menjadi Maha Agung di dalam hati, keinginan-keinginan hawa nafsu menjadi kecil, dan mudah untuk mengalah dan memaafkan.

Kedua, menjelaskan pokok-pokok yang wajib disepakati.

Tugas pendamai adalah mengingatkan orang yang berselisih dengan perkara-perkara besar yang menyatukan mereka,

- Mentauhidkan Allah Ta'ala.

- Mengikuti Al-Qur'an dan As-Sunnah.

- Mencintai para sahabat radhiyallahu 'anhum.

- Berpegang pada manhaj Salafush Shalih.

- Menyeru kepada kebaikan dan memerangi bid'ah.

- Berkeinginan menolong Islam dan kaum muslimin.

Jika mereka mengingat pokok-pokok besar ini, mereka akan tahu bahwa apa yang menyatukan mereka lebih besar dari apa yang memecah belah mereka, dan bahwa persaudaraan karena iman lebih agung daripada sebab-sebab perselisihan dan pertikaian.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا  كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ﴾

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” [Qs. Ali 'Imran: 103]

Ketiga, sifat-sifat pendamai yang sukses.

Pendamai harus memiliki sifat-sifat agung, di antaranya:

1. Ikhlas karena Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ  وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ﴾

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” [Qs. Al-Bayyinah: 5]

Ia tidak mencari popularitas atau kemenangan untuk dirinya, melainkan mengharap wajah Allah dan mewujudkan persatuan.

2. Takwa dan rasa takut kepada Allah

Allah Ta'ala berfirman,

﴿إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ  وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ  عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ﴾

 “Dan aku tidak berkehendak kecuali mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” [Qs. Hud: 88]

Maka orang yang diberi taufik dalam mendamaikan adalah orang yang bertakwa kepada Allah dan menghadap kepada-Nya, serta menjadi teladan dalam kejujuran, keadilan, dan sikap pertengahan.

3. Hikmah dan lemah lembut.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ  إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ  وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ﴾

 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Qs. An-Nahl: 125]

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ»

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya.” (Hr. Muslim)

Karena hati lebih mudah dibuka dengan kelembutan daripada dengan kekerasan.

Keempat, menanamkan cinta kepada Allah dan rasa kasih sayang di dalam hati.

Termasuk sebab terbesar untuk keberhasilan islah adalah menanamkan di dalam jiwa cinta kepada Allah dan mengagungkan-Nya, serta cinta kepada kaum mukminin dan rasa kasih sayang kepada mereka.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ  وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ  وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ﴾

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya.” [Qs. Al-Baqarah: 165]

 Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (Muttafaqun 'alaih)

Maka ia sebarkan di antara mereka ucapan-ucapan yang baik, menyebutkan kebaikan sebagian mereka kepada sebagian yang lain, menganjurkan mereka untuk mendoakan saudara-saudaranya, dan menutup pintu-pintu ghibah dan buruk sangka.

Kelima, tolong-menolong dalam perdamaian.

Perdamaian adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pekerjaan individu.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ  وَاتَّقُوا اللَّهَ  إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.” (Qs. Al-Maidah: 2)

Maka orang-orang yang baik, berilmu, dan bijaksana wajib bekerja sama dalam menyatukan kata, memadamkan api fitnah, dan mendekatkan hati.

Khatimah

Menyatukan hati para penuntut ilmu dan para dai termasuk ibadah yang paling besar dan paling agung, dan itu adalah amalan para Nabi dan orang-orang saleh. Hendaklah seorang pendamai bersemangat untuk ikhlas, takwa, hikmah, dan lemah lembut. Hendaklah ia banyak mengingatkan manusia kepada Allah dan hari akhir, serta menanamkan cinta dan kasih sayang di antara mereka. Karena hati berada di tangan Allah, dan Dia Subhanahu wa Taala berfirman,

﴿فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ  لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ  إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾

“Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”_ [Qs. Al-Anfal: 63]

Kita memohon kepada Allah agar Dia mempersatukan hati kaum muslimin, memperbaiki hubungan di antara mereka, mengumpulkan mereka di atas kebenaran dan As-Sunnah, dan menjadikan kita termasuk kunci-kunci kebaikan dan penutup pintu keburukan.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

(Diterjemahkan menggunakan AI (Artificial Intelligence) dan diperiksa oleh Marwan Hadidi, M.Pd.I)

Manasik Haji (Ringkas dan Praktis) oleh Syaikh Prof. Dr. Ashim Al Qaryuti

Sabtu, 30 Mei 2026

بسم الله الرحمن الرحيم 



 Manasik Haji (RIngkas dan Praktis)

Oleh Syaikh Dr. Ashim Al Qaryuti

I'dad: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Amalan Haji Pada Hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah)

 

Wahai saudara-saudariku jemaah haji,

Berikut amalan-amalan pada Hari Kedelapan Dzulhijjah, Hari Tarwiyah

 

Disunnahkan mandi dan memakai wewangian sebelum berihram.

Berniat ihram untuk haji dari tempatmu di Mekkah atau di Mina jika engkau sudah bertahallul dari umrahmu. Hal ini berlaku bahkan untuk penduduk Mekkah, dan tidak perlu pergi ke Tan'im atau ke luar tanah haram. 

Lalu engkau mengucapkan: "Labbaikallahumma bi-hajj"  (artinya: Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berhaji).

Jauhilah semua hal yang wajib dihindari oleh orang yang berihram.

Perbanyaklah talbiyah (ucapan Labbaikallahumma labbaik labbaika laa syariika labbaik innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syariika lak) dan jangan menghentikannya kecuali setelah melempar Jumrah Aqabah pada hari Idul Adha. 

Engkau juga hendaknya memperbanyak takbir (yakni ucapan takbiran seperti takbir di hari raya).

Berangkatlah ke Mina, lalu shalat Zuhur di sana, dan shalat-shalat selanjutnya dengan diqashar tanpa dijamak. Bermalamlah di Mina sampai pagi hari kesembilan, yaitu Hari Arafah.

 

 

أَخِي الْحَاجُّ، أُخْتِي الْحَاجَّةُ

أَعْمَالُ يَوْمِ الثَّامِنِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ (يَوْمُ التَّرْوِيَةِ)

يُسَنُّ الِاغْتِسَالُ وَالتَّطَيُّبُ قَبْلَ الْإِحْرَامِ.

تُحْرِمُ بِالْحَجِّ مِنْ مَكَانِكَ فِي مَكَّةَ أَوْ مِنًى إِنْ كُنْتَ تَحَلَّلْتَ مِنْ عُمْرَتِكَ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ، وَلَا يَحْتَاجُ الذَّهَابُ إِلَى التَّنْعِيمِ أَوِ الْحِلِّ.

فَتَقُولُ: لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجٍّ.

اِجْتَنِبْ مَا يَجِبُ عَلَى الْمُحْرِمِ اجْتِنَابُهُ.

أَكْثِرْ مِنَ التَّلْبِيَةِ، وَلَا تَقْطَعْهَا إِلَّا عَقِبَ رَمْيِ جَمْرَةِ الْعَقَبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ.

وَعَلَيْكَ كَذٰلِكَ بِالتَّكْبِيرِ.

 

اِنْطَلِقْ إِلَى مِنًى، فَتُصَلِّيَ فِيهَا الظُّهْرَ وَسَائِرَ الصَّلَوَاتِ قَصْرًا دُونَ جَمْعٍ، وَتَبِيتَ بِمِنًى إِلَى صَبَاحِ يَوْمِ التَّاسِعِ، يَوْمِ عَرَفَةَ.

 

 

 

Amalan Haji Pada Hari Arafah (9 Dzulhijjah)

 

Amalan-amalan di Hari Arafah, tanggal 9 Dzulhijjah

Wahai saudaraku-saudariku jamaah haji

Semoga Allah menerima amal ibadah kalian

1. Berangkat dari Mina menuju Arafah setelah terbit matahari tanggal 9 dengan tetap dalam keadaan ihram sebagaimana sebelumnya.

2. Turun dan singgah di Namirah jika memungkinkan, sampai masuk waktu Dzuhur jika memungkinkan.

3. Jika waktu Dzuhur telah masuk, maka shalat Dzuhur dan Ashar dengan jamak taqdim, satu kali adzan dan dua kali iqamah, bersama imam di Masjid Namirah jika memungkinkan. Jika tidak, maka shalatlah bersama jamaahnya.

4. Setelah shalat, jamaah haji menyibukkan diri dengan dzikir, doa, dan talbiyah.

 

 

 

5. Jamaah haji harus memastikan wukuf di Arafah karena itu adalah rukun haji yang paling agung. Seluruh wilayah Arafah adalah tempat wukuf, dan tidak wajib wukuf di dekat batu-batu besar.

 

6. Menghadap kiblat saat berdoa, mengangkat kedua tangan, dan memperbanyak tahlil, talbiyah, istighfar, serta berdoa untuk dirinya, keluarganya, dan kaum muslimin. 

 

Dan di antara doa terbaik yang diucapkan pada Hari Arafah adalah: 

    «Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa 'alaa kulli syai-in qadiir». 

Artinya:

    *"Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."

7. Jamaah haji tetap berada di Arafah sampai terbenam matahari, dan tidak boleh meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam.

 

8. Setelah matahari terbenam, bergerak menuju Muzdalifah dengan tenang dan wibawa sambil bertalbiyah, bertakbir, dan bertahlil.

 

9. Di Muzdalifah, shalat Maghrib dan Isya dengan jamak ta’khir. Maghrib 3 rakaat dan Isya 2 rakaat.

 

10. Jamaah haji bermalam di Muzdalifah dan tidak meninggalkannya, kecuali bagi yang bersama orang-orang lemah dari kalangan wanita. Ia tidak perlu sibuk dengan shalat malam, tetapi tidurlah. Lalu shalat Subuh di Muzdalifah pada Hari Raya, tanggal 10 Dzulhijjah, lalu berdzikir kepada Allah setelahnya.

 

11. Berangkat setelah waktu pagi, sebelum matahari terbit, menuju Mina untuk melaksanakan amalan tanggal 10, yaitu Hari Nahar, Hari Raya Idul Adha.

 

*أَعْمَالُ يَوْمِ عَرَفَةَ التَّاسِعِ مِنْ ذِي الحِجَّةِ* 

*أَخِي الحَاجُّ* 

*أُخْتِي الحَاجَّةُ* 

*تَقَبَّلَ اللهُ مِنْكُمْ*

 

1. *التَّوَجُّهُ مِنْ مِنًى إِلَى عَرَفَةَ بَعْدَ طُلُوعِ شَمْسِ يَوْمِ التَّاسِعِ بِإِحْرَامِهِ كَمَا كَانَ.*

 

2. *النُّزُولُ بِنَمِرَةَ إِنِ تَيَسَّرَ إِلَى وَقْتِ الظُّهْرِ إِنِ تَيَسَّرَ،*

 

3. *إِذَا دَخَلَ وَقْتُ الظُّهْرِ يُصَلِّي الظُّهْرَ وَالعَصْرَ جَمْعَ تَقْدِيمٍ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتَيْنِ مَعَ الإِمَامِ فِي مَسْجِدِ نَمِرَةَ إِنِ تَيَسَّرَ وَإِلَّا صَلَّاهُمَا مَعَ جَمَاعَتِهِ.*

 

4. *بَعْدَ الصَّلَاةِ يَتَفَرَّغُ الحَاجُّ لِلذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ وَالتَّلْبِيَةِ.*

 

5. *يَتَأَكَّدُ الحَاجُّ مِنَ الوُقُوفِ بِعَرَفَةَ لِأَنَّهُ رُكْنُ الحَجِّ الأَعْظَمُ. وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ وَلَا يَلْزَمُ الوُقُوفُ عِنْدَ الصَّخَرَاتِ*

 

6. *يَسْتَقْبِلُ القِبْلَةَ أَثْنَاءَ الدُّعَاءِ وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ وَيُكْثِرُ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّلْبِيَةِ وَالاسْتِغْفَارِ وَالدُّعَاءِ لِنَفْسِهِ وَلِأَهْلِهِ وَلِلْمُسْلِمِينَ.* 

وَمِنْ أَفْضَلِ مَا يُقَالُ يَوْمَ عَرَفَةَ: 

    *«لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ».* 

 

 

 

 

7. *يَبْقَى الحَاجُّ بِعَرَفَةَ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ، وَلَا يَنْصَرِفُ قَبْلَ الغُرُوبِ.*

 

 

8. *بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ يَدْفَعُ إِلَى مُزْدَلِفَةَ بِسَكِينَةٍ وَوَقَارٍ مُلَبِّيًا وَمُكَبِّرًا وَمُهَلِّلًا.*

 

9. *فِي مُزْدَلِفَةَ يُصَلِّي المَغْرِبَ وَالعِشَاءَ جَمْعَ تَأْخِيرٍ، المَغْرِبُ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ وَالعِشَاءُ رَكْعَتَيْنِ.*

 

10. *يَبِيتُ الحَاجُّ فِي مُزْدَلِفَةَ وَلَا يَتْرُكُ ذَلِكَ إِلَّا لِمَنْ مَعَهُ ضَعَفَةٌ مِنَ النِّسَاءِ، وَلَا يَنْشَغِلُ بِقِيَامِ اللَّيْلِ وَيَنَامُ، وَيُصَلِّي الفَجْرَ فِيهَا يَوْمَ العِيدِ يَوْمَ العَاشِرِ مِنْ ذِي الحِجَّةِ وَيَذْكُرُ اللهَ بَعْدَ ذَلِكَ.*

 

11. *يَنْطَلِقُ بَعْدَ طُلُوعِ النَّهَارِ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ إِلَى مِنًى لِأَعْمَالِ اليَوْمِ العَاشِرِ يَوْمِ النَّحْرِ يَوْمِ العِيدِ.*

 

 

 

Nasihat

 

Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah berkata,

“Barang siapa yang tidak bisa wukuf di Arafah pada tahun ini, maka hendaklah ia menegakkan hak Allah yang telah ia ketahui.

 

Barang siapa tidak mampu bermalam di Muzdalifah, maka hendaklah ia bermalam dengan tekad kuat untuk taat kepada Allah, niscaya Allah akan mendekatkannya dan melapangkan kedudukannya di sisi-Nya.

 

Barang siapa tidak mampu berada di lembah Mina/Khaif, maka hendaklah ia menegakkan hak Allah dengan penuh harap dan rasa takut kepada-Nya.

 

Barang siapa tidak mampu menyembelih hadyunya di Mina, maka sembelihlah hawa nafsunya di sini, niscaya ia akan mencapai cita-citanya.

 

 

Barang siapa yang tidak sampai ke Ka'bah karena jauh jaraknya darinya, maka hendaklah ia menuju kepada Rabb pemilik Ka'bah. Karena sesungguhnya Dia lebih dekat kepada orang yang berdoa dan berharap kepada-Nya daripada urat lehernya.”

 

(Latha'if al-Ma'arif, hal. 287)

 

 

قَالَ ابْنُ رَجَبَ الْحَنْبَلِيُّ رَحِمَهُ اللهُ :

مَنْ فَاتَهُ فِي هَذَا العَامِ القِيَامُ بِعَرَفَةَ فَلْيَقُمْ لِلهِ بِحَقِّهِ الَّذِي عَرَفَهُ.*

*مَنْ عَجَزَ عَنِ المَبِيتِ بِمُزْدَلِفَةَ فَلْيَبِتْ عَزْمُهُ عَلَى طَاعَةِ اللهِ وَقَدْ قَرَّبَهُ وَأَزْلَفَهُ*

 

*مَنْ لَمْ يُمْكِنْهُ القِيَامُ بِأَرْجَاءِ الخَيْفِ فَلْيَقُمْ لِلهِ بِحَقِّ الرَّجَاءِ وَالخَوْفِ*

 

*مَنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى نَحْرِ هَدْيِهِ بِمِنًى فَلْيَذْبَحْ هَوَاهُ هُنَا وَقَدْ بَلَغَ المُنَى*

 

*مَنْ لَمْ يَصِلْ إِلَى البَيْتِ لِأَنَّهُ مِنْهُ بَعِيدٌ فَلْيَقْصِدْ رَبَّ البَيْتِ فَإِنَّهُ أَقْرَبُ إِلَى مَنْ دَعَاهُ وَرَجَاهُ مِنْ حَبْلِ الوَرِيدِ.*

 

 

 

Amalan Pada Hari Nahar/Idul Adha (10 Dzulhijjah)

 

Saudaraku-saudariku, jamaah haji

 

Berikut amalan-amalan pada Hari Nahr (hari ke-10 Dzulhijjah:

 

1. Melempar Jumrah Aqabah Kubra, yaitu jumrah terakhir yang paling dekat dengan Mekah. 

 

Waktu melemparnya dimulai setelah terbit matahari dan berlangsung hingga sore dan malam hari. 

 

Jumrah dilempar dengan tujuh kerikil, dan bertakbir pada setiap lemparan kerikil.

2. Nahr atau menyembelih hewan kurban, maka ia menyembelih hewan hadyu-nya jika berhaji dengan cara tamattu' (umrah dulu kemudian haji) atau  qiran (menggabung antara umrrah dan haji).

 

Sunnahnya adalah makan sebagian dari hewan hadyu-nya dan bersedekah dari sebagian lainnya.

3. Tahallul dengan mencukur (habis) atau memotong rambut (meemenndekkan). Mencukur lebih utama bagi laki-laki, sedangkan wanita memotong rambutnya seukuran satu ruas jari. 

 

Setelah mencukur/menggunting rambut, maka terjadilah  tahallul awal. Setelah itu diperbolehkan baginya segala sesuatu kecuali berhubungan suami-istri.

 

4. Thawaf Ifadah, yang merupakan salah satu rukun haji. Haji tidak sempurna kecuali dengan melakukannya. Thawaf ini wajib bagi semua jenis haji. Caranya: thawaf sebanyak tujuh putaran, lalu shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim jika memungkinkan.

 

5. Sa'i antara Shafa dan Marwah.

Sa'i wajib bagi jamaah haji tamattu', juga bagi qiran dan ifrad (hanya haji saja) yang belum melakukan sa'i bersamaan dengan Thawaf Qudum. 

 Setelah Thawaf Ifadah dan Sa'i, maka halal baginya segala sesuatu yang tadinya haram karena ihram, termasuk berhubungan dengan istri. Inilah yang disebut tahallul tsani.

 

Amalan-amalan pada hari ini boleh dilakukan secara berurutan atau tidak berurutan, boleh didahulukan atau diakhirkan.

 

Semoga Allah menerima haji kalian dan menyempurnakannya dengan kebaikan.

 


أَخِي الحَاجُّ* 

*أُخْتِي الحَاجَّةُ* 

*أَعْمَالُ يَوْمِ النَّحْرِ (اليَوْمِ العَاشِرِ مِنْ ذِي الحِجَّةِ)* 

*رَمْيُ جَمْرَةِ العَقَبَةِ الكُبْرَى، وَهِيَ الجَمْرَةُ الأَخِيرَةُ الَّتِي تَلِي مَكَّةَ.* 

*وَوَقْتُ الرَّمْيِ بَعْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَيَسْتَمِرُّ الوَقْتُ حَتَّى المَسَاءِ وَاللَّيْلِ.* 

*تُرْمَى بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ وَيُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ.* 

 

*النَّحْرُ أَوِ الذَّبْحُ، فَيَذْبَحُ هَدْيَهُ إِنْ كَانَ مُتَمَتِّعًا أَوْ قَارِنًا.* 

 

*وَالسُّنَّةُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ هَدْيِهِ وَيَتَصَدَّقَ مِنْهُ.* 

*الحَلْقُ أَوِ التَّقْصِيرُ وَالحَلْقُ أَفْضَلُ لِلرِّجَالِ، وَالمَرْأَةُ تُقَصِّرُ مِنْ شَعْرِهَا قَدْرَ أُنْمُلَةٍ.* 

*وَبَعْدَ الحَلْقِ يَحْصُلُ التَّحَلُّلُ الأَوَّلُ، فَيَجُوزُ لَهُ كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا النِّسَاءَ.* 

 

*طَوَافُ الإِفَاضَةِ، وَهُوَ رُكْنٌ مِنْ أَرْكَانِ الحَجِّ لَا يَتِمُّ الحَجُّ إِلَّا بِهِ، وَهُوَ لِجَمِيعِ أَنْوَاعِ الحَجِّ فَيَطُوفُ سَبْعَةَ أَشْوَاطٍ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ إِنِ تَيَسَّرَ.* 

 

*السَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالمَرْوَةِ، وَيَكُونُ عَلَى المُتَمَتِّعِ، وَكَذَلِكَ القَارِنُ وَالمُفْرِدُ مِمَّنْ لَمْ يَسْعَ مَعَ طَوَافِ القُدُومِ.* 

*وَبَعْدَ طَوَافِ الإِفَاضَةِ وَالسَّعْيِ يَحِلُّ لَهُ كُلُّ شَيْءٍ حُرِّمَ عَلَيْهِ لِأَجْلِ الإِحْرَامِ حَتَّى النِّسَاءَ.* 

 

*وَالأَعْمَالُ فِي هَذَا اليَوْمِ يَجُوزُ فِيهَا التَّقْدِيمُ وَالتَّأْخِيرُ* 

 

*تَقَبَّلَ اللهُ حَجَّكُمْ وَأَتَمَّهُ عَلَى خَيْرٍ.*

 

 

 

 

Amalan Pada Hari Kesebelas Dzulhijjah, Hari Tasyriq

 

Saudara-saudariku para jamaah haji

Berikut amalan-amalan di hari ke-11 bulan Dzulhijjah - yang merupakan hari pertama dari Hari-hari Tasyriq

 

1.      Menyibukkan diri dengan dzikir kepada Allah dan takbir (takbiran seperti pada saat Idul Adha). Karena hari-hari Tasyriq adalah hari-hari untuk mengingat Allah Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

 “Dan berdzikirlah kepada Allah    pada hari-hari yang telah ditentukan jumlahnya.” (Qs. Al-Baqarah: 203)

2.      Melontar tiga jumrah

Waktu melontar dimulai setelah masuk waktu Dzuhur dan berlangsung sampai sore dan malam.

Melempar Jumrah Shughra/Ula dengan tujuh kerikil, bertakbir setiap kali melempar satu kerikil, lalu berdoa setelahnya.

Kemudian Jumrah Wustha, juga dengan tujuh kerikil, bertakbir setiap kali melempar satu kerikil, lalu berdoa setelahnya.

Kemudian Jumrah Aqabah Al-Kubra dengan tujuh kerikil, bertakbir setiap kali melempar satu kerikil, dan tidak berdoa setelahnya.

 

3.    Menjaga shalat berjamaah dan memperbanyak ketaatan berupa dzikir, doa, dan membaca Al-Qur'an. Disunnahkan shalat di Masjid Al-Khaif jika memungkinkan.

 

4.      Bermalam di Mina pada malam tanggal 12.

Hal ini wajib bagi jamaah haji, kecuali bagi yang memiliki uzur, dan bagi yang pergi untuk mengunjungi Masjidil Haram serta melakukan thawaf.

Semoga Allah menerima haji kalian dan semua ketaatan kalian.

 

 

*أَخِي الحَاجُّ، أُخْتِي الحَاجَّةُ:* 

 

*هَذِهِ أَعْمَالُ اليَوْمِ الحَادِي عَشَرَ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ـ وَهُوَ أَوَّلُ يَوْمٍ مِنْ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.*

 

 

1. *الاشْتِغَالُ بِذِكْرِ اللهِ وَالتَّكْبِيرِ* 

   *لِأَنَّ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ ذِكْرٍ لِلهِ تَعَالَى، قَالَ سُبْحَانَهُ:* 

   *﴿وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ﴾.*

 

 

2. *رَمْيُ الجَمَرَاتِ الثَّلَاثِ، وَيَبْدَأُ وَقْتُ الرَّمْيِ بَعْدَ دُخُولِ وَقْتِ الظُّهْرِ وَيَسْتَمِرُّ لِلمَسَاءِ وَاللَّيْلِ* 

   *وَيَرْمِي الجَمْرَةَ الصُّغْرَى بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، وَيُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَيَدْعُو بَعْدَ رَمْيِهَا.* 

 

 

   *ثُمَّ الوُسْطَى كَذَلِكَ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، وَيُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَيَدْعُو بَعْدَهَا.* 

   *ثُمَّ جَمْرَةَ العَقَبَةِ الكُبْرَى بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، وَيُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَلَا يَدْعُو بَعْدَهَا.*

3. *الحِرْصُ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الجَمَاعَةِ وَالإِكْثَارُ مِنَ الطَّاعَاتِ مِنْ ذِكْرٍ وَدُعَاءٍ وَقِرَاءَةِ قُرْآنٍ. وَيُسْتَحَبُّ الصَّلَاةُ فِي مَسْجِدِ الخَيْفِ إِنِ تَيَسَّرَ.*

 

4. *المَبِيتُ بِمِنًى لَيْلَةَ الثَّانِي عَشَرَ* 

   *وَهُوَ وَاجِبٌ عَلَى الحَاجِّ إِلَّا أَصْحَابَ الأَعْذَارِ، وَمَنْ ذَهَبَ لِزِيَارَةِ البَيْتِ الحَرَامِ وَالطَّوَافِ.* 

 

*تَقَبَّلَ اللهُ مِنْكُمْ حَجَّكُمْ وَسَائِرَ طَاعَاتِكُمْ*

 

 

 

Amalan Pada Hari Keduabelas Dzulhijjah, Hari Tasyriq

 

Amalan-amalan pada hari Ta‘ajjul, yaitu hari ke-12 Dzulhijjah (hari kedua dari hari-hari tasyrik

 

Setelah bermalam di Mina pada malam tanggal 12.

1.      Hendaknya menunggu hingga matahari tergelincir (masuk waktu zuhur), karena melempar jumrah tidak boleh dilakukan sebelum zawal.

 

2.      Menyibukkan diri dengan dzikir kepada Allah dan bertakbir, karena hari-hari tasyrik adalah hari untuk berzikir kepada Allah Ta’ala. Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Dan berzikirlah kepada Allah    pada hari-hari yang berbilang.” (Qs. Al-Baqarah: 203)

3.      Melempar tiga jumrah. Waktu melempar dimulai setelah masuk waktu zuhur dan berlangsung hingga sore dan malam hari.

 

Melempar jumrah shugra (kecil) dengan tujuh kerikil sambil bertakbir pada setiap lemparan, lalu berdoa setelahnya.

Kemudian jumrah wustha (tengah) juga dengan tujuh kerikil sambil bertakbir pada setiap lemparan, lalu berdoa setelahnya.

 

Lalu jumrah aqabah kubra (besar) dengan tujuh kerikil sambil bertakbir pada setiap lemparan, dan tidak berdoa setelahnya.

 

4.      Bermalam di Mina pada malam tanggal 12.

 

5.      Bersungguh-sungguh menjaga salat berjamaah dan memperbanyak amal ketaatan seperti zikir, doa, dan membaca Al-Qur’an.

Dianjurkan pula salat di Masjid Khaif jika memungkinkan.

 

 

 

Setelah selesai melempar jumrah, jika ingin melakukan ta‘ajjul (menyegerakan kepulangan), maka keluar dari Mina sebelum matahari terbenam.

Jika matahari telah terbenam sementara ia masih berada di Mina, maka ia wajib bermalam dan melempar jumrah lagi pada hari ke-13 menurut banyak ulama.

 

Jika telah kembali ke Makkah dan ingin safar/pulang, maka hendaknya melakukan thawaf wada’ sebelum bepergian agar itu menjadi akhir perjumpaannya dengan Baitullah.

Bagi yang belum melakukan thawaf ifadhah, maka boleh mengakhirkannya dan menggabungkannya dengan thawaf wada’.

Wallahu a‘lam.

Dengan demikian selesailah ibadah haji bagi yang memilih ta‘ajjul. Semoga Allah menerima haji dan amal ibadah kalian.

 

 

*أَعْمَالُ يَوْمِ التَّعَجُّلِ، وَهُوَ اليَوْمُ الثَّانِي عَشَرَ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ثَانِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ*

 

*بَعْدَ المَبِيتِ بِمِنًى لَيْلَةَ الثَّانِي عَشَرَ.*

 

*عَلَيْهِ بِانْتِظَارِ زَوَالِ الشَّمْسِ، فَلَا يُرْمَى قَبْلَ الزَّوَالِ.* 

 

 

*الاشْتِغَالُ بِذِكْرِ اللهِ وَالتَّكْبِيرِ، لِأَنَّ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ ذِكْرٍ لِلهِ تَعَالَى، قَالَ سُبْحَانَهُ:* 

*﴿وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ﴾.* 

 

*رَمْيُ الجَمَرَاتِ الثَّلَاثِ، وَيَبْدَأُ وَقْتُ الرَّمْيِ بَعْدَ دُخُولِ وَقْتِ الظُّهْرِ وَيَسْتَمِرُّ لِلمَسَاءِ وَاللَّيْلِ* 

 

 

 

*وَيَرْمِي الجَمْرَةَ الصُّغْرَى بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، وَيُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَيَدْعُو بَعْدَ رَمْيِهَا.* 

 

*ثُمَّ الوُسْطَى كَذَلِكَ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، وَيُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَيَدْعُو بَعْدَهَا.* 

 

 

*ثُمَّ جَمْرَةَ العَقَبَةِ الكُبْرَى بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، وَيُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَلَا يَدْعُو بَعْدَهَا.* 

 

*المَبِيتُ بِمِنًى لَيْلَةَ الثَّانِي عَشَرَ* 

 

*الحِرْصُ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الجَمَاعَةِ وَالإِكْثَارُ مِنَ الطَّاعَاتِ مِنْ ذِكْرٍ وَدُعَاءٍ وَقِرَاءَةِ قُرْآنٍ.

 

 

 وَيُسْتَحَبُّ الصَّلَاةُ فِي مَسْجِدِ الخَيْفِ إِنِ تَيَسَّرَ.* 

 

 

*بَعْدَ الفَرَاغِ مِنَ الرَّمْيِ:* 

*إِنْ أَرَادَ التَّعَجُّلَ خَرَجَ مِنْ مِنًى قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ.* 

 

*فَإِنْ غَرَبَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ وَهُوَ لَا يَزَالُ فِي مِنًى لَزِمَهُ المَبِيتُ وَالرَّمْيُ فِي اليَوْمِ الثَّالِثِ عَشَرَ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ.* 

 

*إِذَا رَجَعَ إِلَى مَكَّةَ وَأَرَادَ السَّفَرَ، فَإِنَّهُ يَطُوفُ طَوَافَ الوَدَاعِ، قَبْلَ سَفَرِهِ لِيَكُونَ آخِرَ عَهْدِهِ بِالبَيْتِ،*

 

*وَمَنْ لَمْ يَطُفْ طَوَافَ الإِفَاضَةِ لَهُ تَأْخِيرُهُ وَالجَمْعُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ طَوَافِ الوَدَاعِ، وَاللهُ أَعْلَمُ،* 

 

*وَبِهَذَا يَكُونُ انْتَهَى حَجُّ مَنْ أَرَادَ التَّعَجُّلَ وَاللهُ يَتَقَبَّلُ حَجَّكُمْ وَطَاعَاتِكُمْ.*

 

 

 

Amalan Pada Hari Ketigabelas Dzulhijjah, Hari Tasyriq

 

Amalan Hari Ketigabelas Dzulhijjah, Hari Ketiga Tasyriq, yaitu bagi orang yang menunda pulangnya

 

 

1.      Setelah bermalam di Mina pada malam ketiga belas.

 

2.      Wajib menunggu tergelincirnya matahari, karena tidak boleh melempar jumrah sebelum matahari tergelincir.

 

3.      Menyibukkan diri dengan berzikir kepada Allah dan bertakbir, karena hari-hari Tasyriq adalah hari-hari untuk mengingat Allah Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

  “Dan berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan}. (Qs. Al-Baqarah: 203)

 

4.      Melempar ketiga jumrah. Waktu melempar dimulai setelah masuk waktu Zuhur dan berlangsung hingga sore dan malam.

Melempar Jumrah Ula/sughra dengan tujuh kerikil, bertakbir pada setiap kerikil, dan berdoa setelah melemparnya.

Kemudian Jumrah Wustha juga dengan tujuh kerikil, bertakbir pada setiap kerikil, dan berdoa setelahnya

Lalu Jumrah Aqabah Al-Kubra dengan tujuh kerikil, bertakbir pada setiap kerikil, dan tidak berdoa setelahnya.

 

5.      Bermalam di Mina pada malam ketigabelas.

 

Bersemangat untuk shalat berjamaah dan memperbanyak ketaatan berupa zikir, doa, dan membaca Al-Qur'an.

Dianjurkan shalat di Masjid Al-Khaif jika memungkinkan.

 

 

6.      Setelah selesai melempar, jika ia akan kembali ke Mekkah dan hendak safar, maka ia harus melakukan Tawaf Wada' sebelum bepergian agar menjadi amalan yang terakhir ia lakukan di Baitullah.

 

7.      Barangsiapa yang belum melakukan Tawaf Ifadah, maka boleh mengakhirkannya dan menggabungkannya dengan Tawaf Wada', _wallahu a'lam.

 

Dengan demikian, selesailah ibadah haji bagi orang yang menunda pulangnya. Semoga Allah menerima haji dan ketaatan kalian.

 

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 


 

*أَعْمَالُ اليَوْمِ الثَّالِثِ عَشَرَ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ثَالِثِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ وَهُوَ يَوْمُ مَنْ تَأَخَّرَ*

 

1 *بَعْدَ المَبِيتِ بِمِنًى لَيْلَةَ الثَّالِثِ عَشَرَ.*

2. *عَلَيْهِ بِانْتِظَارِ زَوَالِ الشَّمْسِ، فَلَا يُرْمَى قَبْلَ الزَّوَالِ.*

 

3. *الاشْتِغَالُ بِذِكْرِ اللهِ وَالتَّكْبِيرِ، لِأَنَّ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ ذِكْرٍ لِلهِ تَعَالَى، قَالَ سُبْحَانَهُ:* 

   *﴿وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ﴾.*

 

4. *رَمْيُ الجَمَرَاتِ الثَّلَاثِ، وَيَبْدَأُ وَقْتُ الرَّمْيِ بَعْدَ دُخُولِ وَقْتِ الظُّهْرِ وَيَسْتَمِرُّ لِلمَسَاءِ وَاللَّيْلِ* 

   *وَيَرْمِي الجَمْرَةَ الصُّغْرَى بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، وَيُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَيَدْعُو بَعْدَ رَمْيِهَا.* 

   *ثُمَّ الوُسْطَى كَذَلِكَ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، وَيُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَيَدْعُو بَعْدَهَا.* 

   *ثُمَّ جَمْرَةَ العَقَبَةِ الكُبْرَى بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، وَيُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ، وَلَا يَدْعُو بَعْدَهَا.*

5. *المَبِيتُ بِمِنًى لَيْلَةَ الثَّالِثِ عَشَرَ*

*الحِرْصُ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الجَمَاعَةِ وَالإِكْثَارُ مِنَ الطَّاعَاتِ مِنْ ذِكْرٍ وَدُعَاءٍ وَقِرَاءَةِ قُرْآنٍ. وَيُسْتَحَبُّ الصَّلَاةُ فِي مَسْجِدِ الخَيْفِ إِنِ تَيَسَّرَ.*

6. *بَعْدَ الفَرَاغِ مِنَ الرَّمْيِ:*

*إِذَا رَجَعَ إِلَى مَكَّةَ وَأَرَادَ السَّفَرَ، فَإِنَّهُ يَطُوفُ طَوَافَ الوَدَاعِ، قَبْلَ سَفَرِهِ لِيَكُونَ آخِرَ عَهْدِهِ بِالبَيْتِ،*

7. *وَمَنْ لَمْ يَطُفْ طَوَافَ الإِفَاضَةِ لَهُ تَأْخِيرُهُ وَالجَمْعُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ طَوَافِ الوَدَاعِ، وَاللهُ أَعْلَمُ،* 

   *وَبِهَذَا يَكُونُ انْتَهَى حَجُّ مَنْ تَأَخَّرَ وَاللهُ يَتَقَبَّلُ حَجَّكُمْ وَطَاعَاتِكُمْ.* 

   *وَالحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِينَ*

 

 

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger