Tampilkan postingan dengan label Adab Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab Islami. Tampilkan semua postingan

Individualisme, antara yang benar dan keliru

Minggu, 18 Mei 2025

 بسم الله الرحمن الرحيم



Individualisme, antara yang benar dan keliru

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut ini pembahasan tentang sikap individualis.  Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Sikap Individualisme (sikap masing-masing) yang benar

Sikap individualis terkadang benar dalam keadaan tertentu dan terkadang keliru dalam keadaan yang lain.

Keadaan yang benar –wallahu a’lam- adalah dalam beberapa keadaan berikut:

1.       Ketika dia tidak peduli atas celaan orang lain saat dirinya telah berada di atas yang hak (benar)

Allah Ta’ala berfirman,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (Qs. Al A’raaf: 199)

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa ia berkata,

«قَدِمَ عُيَيْنَةُ بْنُ حِصْنِ بْنِ حُذَيْفَةَ فَنَزَلَ عَلَى ابْنِ أَخِيهِ الحُرِّ بْنِ قَيْسٍ، وَكَانَ مِنَ النَّفَرِ الَّذِينَ يُدْنِيهِمْ عُمَرُ، وَكَانَ القُرَّاءُ أَصْحَابَ مَجَالِسِ عُمَرَ وَمُشَاوَرَتِهِ، كُهُولًا كَانُوا أَوْ شُبَّانًا» ، فَقَالَ عُيَيْنَةُ لِابْنِ أَخِيهِ: يَا ابْنَ أَخِي، هَلْ لَكَ وَجْهٌ عِنْدَ هَذَا الأَمِيرِ، فَاسْتَأْذِنْ لِي عَلَيْهِ، قَالَ: سَأَسْتَأْذِنُ لَكَ عَلَيْهِ، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: «فَاسْتَأْذَنَ الحُرُّ لِعُيَيْنَةَ فَأَذِنَ لَهُ عُمَرُ» ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ قَالَ: هِيْ يَا ابْنَ الخَطَّابِ، فَوَاللَّهِ مَا تُعْطِينَا الجَزْلَ وَلاَ تَحْكُمُ بَيْنَنَا بِالعَدْلِ، فَغَضِبَ عُمَرُ حَتَّى هَمَّ أَنْ يُوقِعَ بِهِ، فَقَالَ لَهُ الحُرُّ: يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {خُذِ العَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِينَ} [الأعراف: 199] ، وَإِنَّ هَذَا مِنَ الجَاهِلِينَ، «وَاللَّهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلاَهَا عَلَيْهِ، وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللَّهِ»

"Uyaynah bin Hishn bin Hudzaifah pernah datang dan singgah di rumah putera saudaranya, yaitu Al Hurr bin Qais. Al Hurr bin Qais termasuk golongan yang didekatkan dengan Umar, ketika itu para penghapal Al Qur'an adalah orang-orang yang duduk di majlis Umar dan majlis musyawarahnya, baik mereka sudah tua atau masih muda." Lalu 'Uyaynah berkata kepada putera saudaranya, "Wahai putera saudaraku, bukankah engkau memiliki kedudukan di hadapan pemerintah ini. Oleh karena itu, izinkan aku untuk menemuinya." Al Hurr berkata, "Saya akan memintakan izin untukmu agar dapat menemuinya." Ibnu Abbas berkata, "Lalu Al Hurr memintakan izin untuk Uyaynah, maka Umar mengizinkannya." Ketika Uyaynah masuk, ia berkata, "Hei putera Al Khatthab. Demi Allah, engkau tidak memberikan kepada kami pemberian yang melimpah dan tidak memutuskan di antara kami dengan adil." Maka Umar marah sehingga hendak menghukumnya, lalu Al Hurr berkata kepada Umar, "Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh." (Qs. Al A'raaf: 199) dan sesungguhnya orang ini termasuk orang-orang yang bodoh." (Ibnu Abbas berkata), "Demi Allah, Umar tidak melampauinya (melanggarnya) dan ia adalah orang yang berhenti di hadapan kitab Allah."

Yunus bin Abdul A'la rahimahullah berkata, "Imam Syafi'i berkata kepadaku, "Wahai Abu Musa,  keridhaan manusia adalah ujung yang tidak ada batasnya. Aku tidaklah berkata demikian selain memberikan nasihat kepadamu. Tidak ada jalan untuk selamat dari celaan orang, maka lihatlah sesuatu yang dapat memperbaiki dirimu, lalu peganglah,  dan biarkanlah manusia berikut sikapnya." (Manaqib Asy Syafi'i karya Al Abriy).

Allah Ta’ala juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Qs. Al Maidah: 105)

Akan tetapi ayat ini tidaklah berarti bahwa ia kemudian tidak menyuruh orang lain berbuat yang ma'ruf dan mencegahnya dari yang munkar. Amr ma'ruf dan nahi munkar menjadi tidak wajib adalah ketika nasihat sudah tidak diterima dan tidak bermanfaat (lihat surat Al A'laa: 9), karena kondisi sudah berubah, misalnya masing-masing orang bangga dengan pendapat dan sikapnya, kekikiran ditaati oleh manusia, dunia diutamakan, hawa nafsu diperturutkan, dan masing-masing manusia bangga dengan pendapatnya, sehingga amr ma'ruf tidak dipedulikan lagi. Akan tetapi, tetap beramr ma'ruf dan bernahi munkar adalah lebih utama.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Qais bin Abi Hazim ia berkata, “Abu Bakar radhiyallahu 'anhu pernah berdiri memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini, "Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk." (Terj. QS. Al Ma'idah: 105) dan sesungguhnya kalian telah menempatkan bukan pada tempatnya. Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ فَلَمْ يُغيِّرُوهُ، أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابِهِ

"Sesungguhnya manusia apabila melihat kemungkaran tetapi tidak merubahnya, maka dalam waktu dekat Allah akan menurunkan siksa kepada mereka secara merata." (Pentahqiq Musnad Ahmad berkata, "Isnadnya shahih sesuai syarat dua syaikh (Bukhari dan Muslim).")  (Minnatur Rahman tafsir surah Al Maidah: 105 oleh penulis)

2.       Ketika dia tidak peduli atas celaan orang lain karena dia lebih mengutamakan keridhaan Allah daripada keridhaan manusia.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

'Barang siapa saja yang mencari keridhaan Allah dengan cara yang dibenci manusia, maka Allah akan melindunginya dari kesulitan manusia. Barang siapa saja yang mencari keridhaan manusia dengan cara yang dibenci Allah, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada (hukum) manusia.' (Hr. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

Imam Syafi'i pernah berpesan kepada Ar-Rabi' bin Sulaiman rahimahumallah,

يا ربيع رضا الناس غاية لا تدرك، فعليك بما يصلحك فالزمه، فإنه لا سبيل إلى رضاهم، واعلم أن من تعلّم القرآن جل في عيون الناس، ومن تعلّم النحو هيب، ومن تعلّم العربية رق طبعه، ومن تعلّم الحساب جزل رأيه، ومن تعلّم الفقه نبل قدره، ومن لم يهذب نفسه لم ينفعه علمه، وملاك ذلك كله التقوى " .

حلية الأولياء لأبي نعيم 123/9

"Wahai Rabi, keridhaan manusia adalah tujuan yang tidak akan dapat dicapai, maka hendaknya engkau memperhatikan hal yang dapat memperbaiki dirimu, itulah yang engkau pegang. Tidak ada jalan untuk mencari keridhaan mereka. Ketahuilah, barang siapa yang belajar Alquran maka akan mulia di hadapan manusia, barang siapa yang belajar Nahwu maka akan berwibawa, barang siapa yang belajar bahasa Arab maka akan lunak jiwanya, barang siapa yang belajar ilmu hisab maka akan tajam pandangannya, dan barang siapa yang belajar fiqih akan tinggi kedudukannya, dan barang siapa yang tidak  menata dirinya dengan baik maka tidak bermanfaat ilmunya. Penopang semua itu adalah Takwa." (Hilyatul Awliya karya Abu Nuaim 9/123)

3.       Saat dirinya lebih melihat kekurangan dan aib dirinya daripada melihat aib orang lain.

Telah diriwayatkan sebuah hadits,

طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبَهُ عَنْ عُيُوبِ اَلنَّاسِ

“Sungguh bahagia orang yang disibukkan oleh aibnya sehingga tidak sempat melihat aib orang lain.” (Al Hafizh berkata, “Diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan isnad yang hasan, namun yang benar bahwa hadits ini sangat dhaif, namun memiliki beberapa syahid (penguat) tetapi semua syahidnya dhaif ((emah) sebagaimana yang dikatakan Al Iraqiy, demikian yang dinyatakan Syaikh Sumair Az Zuhairiy)

Contoh sikap individualis yang benar adalah seperti yang disampaikan oleh Ibrahim bin Adham rahimahullah berikut,

مالي وللناس ،

كنت في بطن أمي وحدي ،

و خرجت إلى الدنيا وحدي ،

و أموت وحدي ،

و أدخل قبري وحدي ،

و أُسألُ وحدي ،

و أُبعث من قبري وحدي ،

و أُحاسب وحدي ،

فإن دخلت الجنة دخلت وحدي ،

و إن دخلت النار دخلت وحدي ،

ففي هذه المواطن لا ينفعني أحد ،

فمالي و للناس ! ".

“Apa urusanku dengan manusia! Dahulu aku di perut ibuku sendiri, keluar ke dunia sendiri. Aku mati sendiri dan dimasukkan ke dalam kubur sendiri. Aku akan ditanya sendiri. Aku akan dibangkitkan dari kubur senndiri. Aku akan dihisab sendiri. Jika aku masuk surga, maka aku akan masuk surga sendiri. Jika aku masuk neraka, maka aku akan masuk neraka sendiri. Di tempat-tempat ini tidak ada seorang pun yang memberi manfaat kepadaku, maka apa urusanku dengan manusia!”

Contoh sikap individualis yang keliru

Adapun contoh sikap individualis yang keliru adalah

1.       Ketika lebih mementingkan diri sendiri dalam urusan dunia (egois atau ananiyyah),

2.       Tidak mau bergaul dengan orang lain,

3.       Tidak peduli dengan orang lain,

4.       Mengurung diri,

5.       Tidak mau menerima saran dan krtik dari orang lain,

6.       Tidak mau melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, dsb.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«المُسْلِمُ إِذَا كَانَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ المُسْلِمِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ»

Orang muslim yang mau bergaul dengan orang lain dan sabar terhadap gangguan mereka lebih baik daripada muslim yang tidak mau bergaul dengan manusia dan tidak sabar dengan gangguan mereka. “ (Hr. Tirmidzi dan Ibnu Majah, lafaz ini lafaz Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

Imam Nawawi membuat bab khusus dalam Riyadhus Salihin tentang keutamaan bergaul bersama orang lain dengan sikap sabar,

بَابٌ فَضْلُ الْاِخْتِلاَطِ بِالنَّاسِ وَحُضُوْرِ جُمَعِهِمْ وَجَمَاعَاتِهِمْ وَمَشَاهِدِ الْخَيْرِ وَمَجَالِسِ الذِّكْرِ مَعَهُمْ وَعِيَادَةِ مَرِيْضِهِمْ وَحُضُوْرِ جَنَائِزِهِمْ وَمُوَاسَاةِ مُحْتَاجِهِمْ وَإِرْشَادِ جَاهِلِهِمْ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ مَصَالِحِهِمْ لِمَنْ قَدَرَ عَلَى الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ وَقَمَعَ نَفْسَهُ عَنِ الْإِيْذاَءِ وَصَبَرَ عَلَى الْأَذَى.

 اِعْلَمْ أَنَّ الْاِخْتِلاَطَ بِالنَّاسِ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِيْ ذَكَرْتُهُ هُوَ الْمُخْتَارُ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَائِرُ الْأَنْبِيَاءِ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِمْ ، وَكَذَلِكَ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُوْنَ ، وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ ، وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ عُلَمَاءِِ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَخْيَارِهِمْ ، وَهُوَ مَذْهَبُ أَكْثَرِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ ، وَبِهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ ، وأَكْثَرُ الفُقَهَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ . قَالَ تَعَالَى :  { وتَعاونُوا عَلى البِرِ والتَّقْوَِى } [ المائدة : 2 ] وَالْآيَاتُ فِي مَعْنَى مَا ذَكَرْتُهُ كَثِيْرَةٌ مَعْلُوْمَةٌ .

Bab tentang keutamaan bergaul dengan orang lain, ikut menghadiri shalat Jumat dan jamaah serta musim-musim kebaikan, juga keutamaan menghadiri majlis ilmu bersama mereka, menjenguk orang yang sakit, menghadiri jenazahnya, membantu orang yang butuh, membimbing orang yang tidak mengerti dsb. bagi orang yang sekiranya mampu beramr ma’ruf dan bernahy mungkar, mampu menahan dirinya dari mengganggu orang lain dan mampu bersabar terhadap gangguan.

Imam Nawawi kemudian melanjutkan kata-katanya, “Ketahuilah, bahwa bergaul dengan orang-orang seperti yang aku sebutkan inilah yang terpilih, dan ini pula yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, para Nabi shalawatullah wa salaamuhu ‘alaihim, juga para khulafaur raasyidin, serta orang-orang setelah mereka dari kalangan para sahabat, tabi’in, ulama kaum muslimin setelah mereka dan orang-orang pilihan. Ini pula madzhab kebanyakan tabi’in dan orang-orang setelah mereka, dan ini pula yang dipegang oleh Imam Syafi’i, Ahmad serta kebanyakan para fuqaha’ (Ahli Fikih) radhiyallahu 'anhum ajma’iin. Allah Ta’ala berfirman, “Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan.” (Qs. Al Maa’idah: 2)

Ayat lain yang semakna dengan maksud yang saya sebutkan banyak dan sudah maklum.”

Dengan demikian, bergaul dan bermasyarakat adalah lebih baik daripada menyendiri agar dia dapat membimbing, memberikan masukan dan mengarahkan masyarakat, tentunya bergaul secara tidak berlebihan yang sampai melupakan hak diri dan keluarga.

Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Adab Seorang Khatib

Minggu, 21 Mei 2023

 بسم الله الرحمن الرحيم



Adab Seorang Khatib

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut adab yang perlu diperhatikan oleh seorang khatib Jumat, semoga Allah menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.

Adab Seorang Khatib

Khutbah termasuk syarat sahnya ibadah Jumat. Dalam berkhutbah hendaknya khatib memperhatikan hal-hal berikut:

1. Berkhutbah sambil berdiri yang di sela-selanya ada duduk.

Jabir bin Samurah berkata,

«أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا، ثُمَّ يَجْلِسُ، ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ قَائِمًا، فَمَنْ نَبَّأَكَ أَنَّهُ كَانَ يَخْطُبُ جَالِسًا فَقَدْ كَذَبَ، فَقَدْ وَاللهِ صَلَّيْتُ مَعَهُ أَكْثَرَ مِنْ أَلْفَيْ صَلَاةٍ»

“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah sambil berdiri, kemudian duduk, lalu berdiri lagi untuk khutbah. Barang siapa yang memberitahukan kepadamu bahwa Beliau berkhutbah sambil duduk, maka ia berdusta. Demi Allah, aku shalat bersama Beliau lebih dari dua ribu kali shalat.” (Hr. Muslim)

Menurut sebagian ulama, berdirinya khatib saat berkhutbah ketika mampu adalah syarat khutbah Jumat. Ini merupakan pendapat ulama madzhab Syafi’i,  pendapat mayoritas ulama madzhab Maliki, dipilih oleh Qurthubi salah seorang ulama madzhab Maliki, dan menjadi salah satu riwayat Imam Ahmad.

Ada pula yang berpendapat, bahwa berdiri saat khutbah hukumnya sunah. Ini adalah pendapat ulama madzhab Hanafi, ulama madzhab Hanbali, salah satu pendapat dalam madzhab Maliki, dan dipilih oleh Ibnu Utsaimin.

Sedangkan hukum duduk di sela-sela khutbah adalah sunah, dan tidak wajib. Demikian pendapat jumhur (mayoritas) para ulama dari kalangan madzhab Hanafi, Maliki, Hanbali, dan mayoritas Ahli Ilmu.

2. Dianjurkan bagi khatib ketika telah menaiki mimbar, menghadap kepada makmum dan mengucapkan salam kepada mereka, selanjutnya khatib duduk.

Jabir berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila menaiki mimbar, mengucapkan salam.” (Hr. Ibnu Majah dan Thabrani dan dihasankan oleh Al Albani)

3. Azan dikumandangkan ketika imam duduk setelah khatib mengucapkan salam

As Saib bin Yazid radhiyallahu anhu berkata, “Dahulu di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar azan pada hari Jumat dimulai ketika imam telah duduk di atas mimbar.” (Hr. Bukhari)

4. Berdiri khutbah di tangga kedua dan duduk di tangga ketiga.

Anas radhiyallahu anhu berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri pada hari Jumat dan menyandarkan punggungnya ke batang pohon kurma yang ditegakkan dalam masjid lalu berkhutbah kepada orang-orang. Kemudian datanglah seorang yang berasal dari Rum (Romawi) dan berkata, “Maukah aku buatkan untukmu sesuatu yang engkau bisa duduk di atasnya dan bisa berdiri?” Maka orang itu membuatkan untuk Beliau mimbar yang memiliki dua tangga, dan Beliau duduk di tangga ketiga.” (Hr. Darimi, As Shahiihah no. 2174)

Ibnul Qayyim berkata, “Tidak dihapal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa Beliau setelah dibuatkan mimbar menaikinya dengan pedang, busur maupun lainnya, sebagaimana tidak juga dihapal sama sekali dari Beliau bahwa Beliau bersandar dengan pedang sebelum dibuatkan mimbar, bahkan Beliau hanya menggunakan busur atau tongkat.” (Zaadul Ma’aad 1/141)

Jumhur (mayoritas) para ulama, baik ulama madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali berpendapat, bahwa seorang khatib dianjurkan bersandar dengan busur atau tongkat.

Dari Hakam bin Hazn Al Kulafiy radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku pernah menjadi utusan untuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu kami tinggal beberapa hari dan hadir dalam shalat Jumat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ketika itu, Beliau bersandar dengan tongkat atau busur, memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan kalimat yang baik, ringan dan penuh berkah.” (Hr. Abu Dawud, dihasankan oleh Al Albani)

5. Khatib menghadap ke makmum.

Ibnu Rajab menukil adanya ijma (kesepakatan) para ulama terhadap hal ini (disyariatkannya khatib menghadap makmum). (Lihat Fathul Bari 5/477 dan Umdatul Qari 6/221)

Dan dianjurkan bagi makmum untuk menghadapkan wajahnya kepada imam. Imam Baihaqi meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa ketika imam telah mulai berkhutbah, maka ia menghadapkan wajahnya ke arah imam sampai selesai.” (Dishahihkan isnadnya oleh Al Hafizh dalam Al Fath 2/467)

6. Dianjurkan bagi khatib mengeraskan suaranya.

Anjuran khatib mengeraskan suaranya merupakan kesepakatan para fuqaha yang empat (Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah). Dalilnya adalah hadits Jabir radhiyallahu anhu ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: «صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ» ، وَيَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ» ، وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ، وَالْوُسْطَى، وَيَقُولُ: «أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» ثُمَّ يَقُولُ: «أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ، مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ»

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika berkhutbah merah kedua matanya, lantang saranya, tampak seperti marah seakan-akan memberikan peringatan kepada suatu pasukan dengan berkata, “Hendaklah kalian selalu waspada di pagi dan petang!” Beliau bersabda, “Aku diutus, sementara antara aku dengan hari Kiamat seperti dua jari ini,” Beliau merapatkan kedua jarinya, yaitu telunjuk dan jari tengah. Beliau bersabda, “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap bid’ah (yang diada-adakan dalam agama) adalah sesat.” Beliau juga bersabda, “Aku lebih utama bagi setiap mukmin daripada dirinya. Barang siapa yang meninggalkan harta, maka untuk keluarganya. Sedangkan barang siapa yang mati meninggalkan utang atau keluarganya yang terlantar, maka akulah yang bertanggung jawab.” (Hr. Muslim)

7. Dianjurkan memulai khutbah dengan khutbatul haajah, yakni “innal hamda lillah nahmaduhu wa…dst.”

Hal ini juga berdasarkan hadits Jabir radhiyallahu anhu ia berkata,

كَانَتْ خُطْبَةُ اَلنَّبِيِّ r يَوْمَ اَلْجُمُعَةِ: يَحْمَدُ اَللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ, ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِ ذَلِكَ, وَقَدْ عَلَا صَوْتُهُ . وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: مَنْ يَهْدِه ِ اَللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَلِلنَّسَائِيِّ: وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي اَلنَّارِ

“Khutbah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari Jum’at adalah memuji Allah dan menyanjungNya lalu menyampaikan kalimat setelahnya dengan suara tinggi.” (Hr. Muslim. Dalam riwayat Muslim lainnya juga disebutkan bahwa Beliau menyampaikan, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.”) Sedangkan dalam riwayat Nasa’i ada kalimat, “Dan setiap kesesatan di neraka.” (Lihat Bulughul Maram)

Khutbatul hajah yang lengkap adalah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Artinya: Sesungguhnya segala puji milik Allah kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, meminta ampunan kepada-Nya, berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. (Hr. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Kemudian melanjutkan dengan membaca tiga ayat, yaitu surah Ali Imran: 102, surah An Nisaa’: 1, dan surah Al Ahzaab: 70-71.  

Kemudian mengucapkan Amma ba’du:

8. Membaca syahadat, karena khutbah yang tidak ada syahadatnya seperti tangan yang kusta.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيهَا تَشَهُّدٌ، فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ»

“Setiap khutbah yang tidak ada kalimat syahadat di dalamnya, maka seperti tangan yang putus.” (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

9. Menjiwai isi khutbah, sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika berkhutbah merah kedua matanya dan lantang suaranya.

10. Mempersingkat khutbah dan memperlama shalat

Dari Ammar bin Yasir radhiyallahu anhuma ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ، وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ، مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ، فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ، وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ،

“Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan pendek khutbahnya menunjukkan pemamahannya, maka panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah.”  (Hr. Muslim)

Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu berkata, “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ketika itu shalat Beliau sedang dan khutbahnya juga sedang.” (Hr. Muslim)

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak memperlama nasihat pada hari Jumat. Kalimat yang Beliau sampaikan ringkas.” (Hr. Abu Dawud, dihasankan oleh Al Albani)

11. Berdoa dalam khutbah Jumat

Dianjurkan mendoakan kaum muslimin pada khutbah Jumat. Ini merupakan madzhab jumhur ulama, baik Hanafiyyah, Malikiyyah, Hanabilah, dan menjadi salah satu pendapat dalam madzhab Syafi’i.

Dalam berdoa pada khutbah Jumat cukup bagi khatib mengangkat jari telunjuknya saja.

Dari Umarah bin Ru’aibah, bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan ketika berkhutbah di atas mimbar berdoa dengan mengangkat kedua tangannya, maka ia berkata, “Semoga Allah mencelakakan kedua tangan itu. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah tidak lebih dari sekedar berisyarat dengan satu tangannya sebagai berikut." Umarah (memperagakan) dengan berisyarat menggunakan jari telunjuknya.  (Hr. Muslim)

Oleh karena itu, tidak disyariatkan bagi khatib mengangkat kedua tangannya dalam doa ketika khutbah Jumat, bahkan cukup dengan satu jari telunjuknya, kecuali jika khatib berdoa istisqa (meminta kepada Allah agar diturunkan hujan). Inilah madzhab jumhur ulama, baik dari kalangan Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, dan menjadi salah satu pendapat sebagain ulama madzhab Hanafi.

Dalilnya adalah hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu ia berkata, “Orang-orang pernah tertimpa kemarau panjang di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam khutbah pada hari Jumat, tiba-tiba ada orang Arab badui yang berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, harta habis dan keluarga kelaparan, maka berdoalah kepada Allah untuk kami!” Maka Beliau mengangkat kedua tangannya…dst.” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Maraji:

https://dorar.net/feqhia/1639/%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B7%D9%84%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%B3%D8%A7%D8%A8%D8%B9-%D9%85%D8%A7-%D9%8A%D8%B3%D9%86-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%AE%D8%B7%D8%A8%D8%A9

Panduan Manasik Umrah untuk Pembimbing

Rabu, 03 Mei 2023

 بسم الله الرحمن الرحيم



Panduan Manasik Umrah untuk Pembimbing

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

1.     Di Pesawat

Assalamu alaikum warahmatullah wa barakatuh

Jamaah sekalian! Alhamdulillah sekarang kita sudah berada di pesawat menuju bandara di Jeddah. Jangan lupa membaca doa naik kendaraan dan doa safar.

Jamaah sekalian! Umroh yang akan kita lakukan memiliki keutamaan, di antaranya sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

.           «العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ»

“Umrah yang satu ke umrah berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang terjadi antara keduanya.”

 

Shalat ketika di pesawat

Jamaah sekalian! Karena kita sedang safar, maka pelaksanaan shalat kita dilakukan dengan cara diqashar, yakni yang 4 rakaat dikurangi menjadi dua rakaat. Karena kita sedang safar, maka diperbolehkan juga bagi kita menjama (menggabungkan shalat), yaitu antara shalat Zhuhur dengan Ashar, dan antara shalat Maghrib dengan Isya.

Untuk bersuci, jika memungkinkan menggunakan air, maka kita berwudhu, namun jika dirasakan kesulitan menggunakan air, maka kita bisa menggunakan sprey. Dan jika tidak membawa sprey silahkan bertayammum.

Selanjutnya masing-masing shalat di tempat duduknya, dengan menjadikan ruku dalam keadaan menundukkan kepala, sedangkan sujud lebih menunduk lagi.

Selanjutnya kita menuju bandara Jeddah.

 

2.     Di Bandara Jeddah

Jamaah sekalian! Alhamdulillah kita telah sampai di Jeddah. Kita berada di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Dari sini kita akan menaiki bus menuju kota Madinah. Jarak perjalanan dari bandara Jeddah ke Madinah kurang lebih 404,0 km atau memakan waktu 4 jam.

Selanjutnya kita akan menaiki bus. 

 

3.     Di Bus menuju Madinah

Jamaah sekalian, sebagaimana biasa ketika kita berada di kendaraan dianjurkan membaca doa naik kendaraan. Perjalanan kita menuju Madinah kurang lebih memakan waktu 4 jam. Selanjutnya kita akan menuju hotel di Madinah. 

 

4.     Di hotel Madinah

Jamaah sekalian! Alhamdulillah, sekarang kita telah berada di hotel di kota Madinah. Di Madinah terdapat masjid Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang dikenal dengan nama masjid nabawi. Shalat di masjid Nabawi lebih utama 1000 kali shalat di banding masjid lainnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu kali shalat di masjid yang lain kecuali Masjidilharam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Proses selanjutnya kita akan melakukan ihram di miqat Bir Ali, disarankan untuk memakai pakaian ihram dari hotel.

Selanjutnya kita menuju bus.

 

5.     Di Bus menuju Bir Ali

Jamaah sekalian! Alhamdulillah sekarang kita berada di bus menuju miqat Bir Ali yang merupakan miqat orang yang datang dari Madinah. Jarak antara Madinah ke Bir Ali kurang lebih 17,4 KM atau memakan waktu 20 menit.

Selanjutnya kita berada di Bir Ali.

 

6.     Berada di Bir Ali

Jamaah sekalian! Alhamdulillah kita sudah berada di Bir Ali yang merupakan miqat orang yang datang dari Madinah seperti kita. Jika sudah tiba waktu shalat, silahkan turun sejenak untuk shalat di masjid Bir Ali. Setelah itu kita naik bus kembali, dan memulai ihram di atas bus sambil mengucapkan ”Labbaika ’umrah” atau ”Allahumma labbaika umrah”.

Selanjutnya kita di dalam bus menuju Mekkah.

7.     Di dalam bus menuju Mekkah

Jamaah sekalian! Setelah kita berniat ihram dan mengucapkan Labbaika umrah. Maka kita dianjurkan memperbanyak talbiyah, yaitu ucapan:

لَبَّيْكَ اللّهُـمَّ لَبَّيْكَ , لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ  إِنَّ اْلحَـمْدَ وَالنِّعْـمَةَ لَكَ وَاْلمـُلْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ  

Bagi laki-laki mengucapkannya dengan jahar (keras), sedangkan bagi wanita cukup mensir(pelan)kan saja.

Jarak antara Bir Ali dengan Mekkah kurang lebih 428 KM atau memakan waktu 4-5 jam

Selanjutnya kita menuju hotel Mekkah.

 

8.     Kamar Hotel di Mekkah

Jamaah sekalian! Karena kita berada dalam ihram, maka  dilarang bagi kita:

1. Memakai pakaian yang berjahit. Larangan ini hanya khusus bagi laki-laki. Adapun bagi wanita, maka ia boleh memakai pakaian apa saja yang ia mau selain cadar dan sarung tangan.

2. Memakai wewangian pada badan atau kainnya.

3. Menghilangkan rambut dan kuku.

4. Menutupi kepala dengan sesuatu yang melekat.

5. Melakukan akad nikah, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain.

6. Berjima'.

7. Berpelukan meskipun tidak sampai jima'.

8. Membunuh binatang buruan darat dan memburunya.

9. Tidak boleh bagi orang yang ihram maupun lainnya untuk memotong pohon yang ada di tanah haram atau tumbuhannya yang tidak mengganggu.

Selanjutnya kita menuju area gerbang Masjidil Haram.

 

9.     Gerbang Masjidil Haram

Jamaah sekalian! Alhamdulillah sekarang kita berada di area gerbang Masjidil haram. Sebagai persiapan thawaf, kita menyelempangkan kain selendang kita di pundak kiri dan membukanya pada pundak kanan (idhthiba). Kemudian kita akan mememasuki masjidil haram. Jangan lupa ketika kita masuk Masjidil Haram,  kita membaca doa masuk masjid dan mendahulukan kaki kanan.

Selanjutnya kita berada di dalam masjidil Haram.  

 

10.                        Masuk Masjidil Haram dan melihat Ka’bah

Jamaah sekalian! Ketika kita melihat Ka’bah dianjurkan membaca doa,

للَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ.

Selanjutnya kita memulai thawaf.

 

11.                        Memulai thawaf

Jamaah sekalian! Kita memulai thawaf dari hajar aswad. Kita usap hajar aswad dengan tangan kanan kita dan menciumnya sambil mengucapkan ”Allahu akbar”.

Jika tidak memungkinkan untuk menciumnya karena berdesakan, maka kita usap hajar aswad dengan tangan kita dan mencium tangannya. Tetapi, jika tidak bisa juga, maka kita usap dengan benda yang ada pada kita seperti tongkat dan sejenisnya, lalu ia mencium tongkat itu.

Jika tidak memungkinkan juga mengusapnya, maka kita menghadap kepadanya dengan badannya dan berisyarat dengan tangan kanan kta tanpa mencium tangan  sambil mengucapkan Allahu akbar.

Selanjutnya kita berthawaf di Ka’bah tujuh kali putaran. Setiap putaran diawali dari hajar aswad dan diakhiri dengannya, kita mengusap hajar aswad dan menciumnya sambil bertakbir setiap kali melewatinya.

Tetapi jika tidak memungkinkan, maka kita berisyarat kepadanya tanpa menciumnya namun tetap bertakbir.

Disunahkan dalam thawaf, kita melakukan raml (jalan cepat dengan langkah pendek) pada tiga putaran pertama. Setelahnya kita berjalan biasa.

Selanjutnya kita ke Maqam Ibrahim.

12.                        Maqam Ibrahim

Jamaah sekalian! Di hadapan kita ada maqam Ibrahim, tempat dimana Nabi Ibrahim alaihis salam berdiri membangun ka’bah.

Di sana juga terdapat Multazam, yaitu area yang terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Tempat tersebut adalah tempat yang mustajab untuk berdoa.

 

Sealanjutnya kita menuju rukun iraqi.

13.                        Rukun Iraqi

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di rukun Iraqi yang merupakan sudut Ka’bah yang mengarah ke negeri Irak.

Selanjutnya kita menuju Hijir Ismail.

14.                        Hijir

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di hadapan Hijr. Orang-orang menyebutnya dengan Hijr Ismail. Hijr Ismail adalah sebuah tempat di sebelah utara bangunan Ka’bah berbentuk setengah lingkaran. Kita tidak boleh thawaf melewati bagian dalam Hijr Ismail karena hal itu bagian dari area Ka’bah.

 Selanjutnya kita menuju Rukun Syami.

15.                        Rukun Syami

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di rukun Syami yang merupakan sudut Ka’bah yang mengarah ke negeri Syam.

Selanjutnya kita menuju area di antara rukun Syami dan Yamani.

16.                        Antara Rukun Syami dan Rukun Yamani

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di antara rukun Syami dan rukun Yamani.

Selanjutnya kita menuju Rukun Yamani.

17.                        Rukun Yamani

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di rukun Yamani yang merupakan sudut Ka’bah yang mengarah ke negeri Yaman.

Selanjutnya kita menuju area di antara rukun Yamani dan Hajar Aswad.

18.                        Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di area antara rukun Yamani dan hajar aswad. Dianjurkan ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad membaca doa:

رَبَّنَا اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاخِرَةِ حَسَنَةً وَ ِقنَا عَذَابَ النَّارِ

"Wahai Tuhan    kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka."

Selanjutnya kita beradadi depan hajar aswad.

19.                        Di depan Hajar Aswad

Jamaah sekalian! Setelah dijelaskan beberapa titik di sekitar ka’bah dan amalan ketika thawaf, maka selanjutnya kita memulai thawaf sebanyak tujuh kali. Putaran pertama hingga ketiga dengan melakukan raml (jalan cepat), sedangkan empat putaran berikutnya berjalan biasa.

Selanjutnya mari kita memulai thawaf, disarankan untuk tidak menekan tombol pada controller di tangan kanan kita.

20.                        Hajar Aswad

Jamaah sekalian! Setelah kita selesai thawaf, maka tutuplah bahu kanan kita kemudian kita bisa berdoa di Multazam, yaitu area bangunan Ka’bah yang terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.


Adapun tatacara berdoa di Multazam, yaitu dengan menempelkan dada, wajah dan kedua lengan kita (kedua lengan menjulur ke atas), lalu kita berdoa memohon kepada Allah Azza wa Jalla, apapun permohonan yang kita inginkan.

Selanjutnya kita ke Maqam Ibrahim.

.

21.                        Maqam Ibrahim

Jamaah sekalian! Selanjutnya kita menuju ke Maqam Ibrahim sambil membaca firman Allah Ta’ala, ”Wat takhidzuu mim maqaami Ibraahiima mushalla,” kemudian kita shalat di belakangnya dua rakaat dengan membaca surah Al Kafirun dan surah Al Ikhlas.

Selanjutnya kita ke menuju tempat air zam-zam.

 

22.                        Tempat air zam-zam

Jamaah sekalian! Seusai shalat dua rakaat, kita segera menuju ke sumur Zamzam atau tempat penyediaan air Zamzam yang terdekat dengan kita.

Minumlah air Zamzam dan berdoalah kepada Allah apa yang kita inginkan, kemudian siramkanlah air Zamzam ke kepala kita.

Selanjutnya kita menuju bukit Shafa untuk melakukan Sa’i.

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di jalan menuju bukit Shafa dan naiklah ke bukit Shafa sambil membaca innash shafa wal marwata min sya’aairillah .

Selanjutnya kita menuju bukit Shafa

23.                        Bukit Shafa

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di bukit Shafa hingga kita dapat memandang ka’bah secara langsung. Kita dianjurkan mengangkat kedua tangan sambil mengucapkan kalimat:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ اَنْجَزَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ اْلاَحْزَابَ وَحْدَهُ

Seusai mengucapkan doa di atas, panjatkanlah doa kepada Allah, untuk memohon apapun yang kita inginkan,

Lalu ulangi doa di atas hingga tiga kali, dan setiap kali selesai mengulang bacaan di atas, kita kembali memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala, sesuai dengan keinginan dan permintaan kita masing-masing.

Lalu turunlah dari bukit Shafa dengan berjalan biasa untuk menuju ke bukit Marwah.

Selanjutnya kita berada antara dua tanda lampu hijau.

24.                        Lintasan Antara 2 Tanda Lampu Hijau

Jamaah sekalian! Bila kita telah sampai di antara dua tanda berupa lampu berwarna hijau, disunnahkan untuk mempercepat jalan kita. Setelah melewati kedua lampu berwarna hijau, kita kembali berjalan seperti biasa hingga tiba di bukit Marwah.

Selanjutnya kita berada di bukit Marwah.

25.                      Di Bukit Marwah

Jamaah sekalian! Setibanya di bukit Marwah, lakukanlah hal yang sama kita lakukan di bukit Shafa, yaitu menghadap kiblat, bertakbir 3 x, membaca tahlil 3 x
dan berdoa di antara ketiga bacaan tahlil tersebut.

Perlu diketahui, bahwa perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu putaran, dan dari Marwah ke Shafa dihitung putaran kedua, dan demikian seterusnya hingga hitungan ketujuh.

Selanjutnya kita menuju berada di antara dua tanda lampu hijau.

26. Lintasan Antara 2 Tanda Lampu Hijau

Jamaah sekalian! Dari bukit Marwah ketika kita telah sampai di antara dua tanda berupa lampu berwarna hijau, disunnahkan untuk mempercepat jalan kita. Setelah melewati kedua lampu berwarna hijau, kita kembali berjalan seperti biasa hingga tiba di bukit Shafa.

Selanjutnya kita menuju bukit Shafa

27.                      Bukit Shafa

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di bukit Shafa kembali. Lakukanlah hal yang sama seperti ketika kita berada di bukit Shafa yang pertama yaitu:

Menghadap kiblat,
Bertakbir 3 x,
Membaca tahlil 3 x
dan berdoa di antara ketiga bacaan tahlil tersebut.

Selanjutnya kita berada di antara dua tanda lampu hijau.

28.                        Lintasan Antara 2 Tanda Lampu Hijau

Jamaah sekalian! Bila kita telah sampai di antara dua tanda berupa lampu berwarna hijau, disunnahkan untuk mempercepat jalan kita. Setelah melewati kedua lampu berwarna hijau, kita kembali berjalan seperti biasa hingga tiba di bukit Marwah. Lakukan hal ini sampai tujuh putaran.

Selanjutnya kita berada di bukit Marwah

29. Bukit Marwah

Jamaah sekalian! Perlu diketahui, bahwa perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu putaran, dan dari Marwah ke Shafa dihitung putaran kedua, dan demikian seterusnya hingga hitungan ketujuh.

Dan dapat dipastikan ibadah Sa’i kita berakhir di bukit Marwah.

Selanjutnya kita bertahallul.

30. Tahallul

Jamaah sekalian! Setelah selesai menunaikan ibadah Sa’i, maka amalan terakhir dari ibadah umrah kita ialah bertahallul, yaitu dengan menggundul rambut kepala kita atau memendekkan seluruh rambut kepala kita.

Namun perlu kita ketahui, bahwa menggundul lebih utama dibanding sekedar memendekkan rambut.

Semoga Allah menerima ibadah umroh kita, aamin.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger