Tampilkan postingan dengan label Dzikr. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dzikr. Tampilkan semua postingan

Khutbah Jum'at: Hakikat Dzikir, Keutamaan, dan Pembagiannya

Sabtu, 11 April 2026

 بسم الله الرحمن الرحيم




Khutbah Jum'at

Hakikat Dzikir, Keutamaan, dan Pembagiannya

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam dan nikmat taufiq, sehingga kita dapat melangkahkan kaki kita menuju rumah-Nya melaksanakan salah satu perintah-Nya yaitu shalat Jumat berjamaah.

Shalawat dan salam tidak lupa kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Di antara amalan ringan yang menghasilkan pahala besar, memberatkan timbangan kebaikan, dan dicintai Allah Ar Rahman adalah Dzikirullah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى اَلرَّحْمَنِ, خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ, ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ, سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ , سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ

“Ada dua kalimat yang dicintai Ar Rahman (Allah), ringan di lisan dan berat di timbangan yaitu “Subhaanallah wa bihamdih-subhaanallahil ‘azhiim (artinya: Artinya: Mahasuci Allah sambil memuji-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung). (Hr. Bukhari dan Muslim)

Berdzikir maksudnya menyebut dan mengingat Allah 'Azza wa Jalla, yaitu membaca lafaz-lafaz tertentu yang dianjurkan oleh syara’ untuk dibaca dan diperintahkan untuk banyak membacanya, seperti ucapan tasbih (subhaanallah), tahmid (al hamdulillah), tahlil (Laailaahaillallah) dan takbir (Allahu akbar), hauqalah (Laa haula walaa quwwata illaa billah), basmalah (bismillah), istighfar (Astaghfirullah), berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat, dsb.

Kata "dzikir" juga bisa dipakai untuk perbuatan yang dilakukan secara rutin, yaitu yang wajib atau yang sunah, seperti membaca Al Qur’an, membaca hadits, mempelajari ilmu dan melakukan shalat sunah.

Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab Al Adzkar, "Ketahuilah, bahwa keutamaan dzikir tidak terbatas pada tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan sebagainya, bahkan setiap orang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah Ta'ala, maka dia berdzikir kepada Allah Ta'ala, demikianlah yang dikatakan Sa'id bin Jubair radhiyallahu 'anhu dan para ulama lainnya."

Atha' rahimahullah berkata, "Majlis dzikir adalah majlis halal dan haram, bagaimana anda membeli dan menjual, shalat dan berpuasa, menikah dan mentalak, berhaji dan semisalnya."

Dzikir bisa dilakukan oleh lisan, dan orang yang membacanya akan diberi pahala, dan tidak disyaratkan harus menyelami maknanya, akan tetapi disyaratkan agar maksud (hati)nya tidak keluar dari maknanya. Jika di samping dibaca pada lisan diresapi pula oleh hati, maka itu lebih utama, terlebih jika sampai menyelami makna dan kandungannya yang berupa pengagungan terhadap Allah dan penafian dari kekurangan, maka akan bertambah lebih sempurna lagi, dan jika dzikir yang dibaca bertepatan ketika sedang melakukan amal saleh seperti shalat, jihad, dsb. maka akan bertambah lebih sempurna.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Dzikir memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

1.     Menenangkan hati.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (Terj. QS. Ar Ra'd: 28)

2.     Allah akan ingat kepadanya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ،

Allah Ta’ala berfirman, "Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya (dengan ilmu dan rahmat) jika dia ingat Aku.  Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. (Hr. Bukhari dan Muslim. Lafazh hadits ini lafaz Bukhari)

3.     Mengusir setan dan menjadikan setan tidak mampu menguasai dirinya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟

"Apabila seseorang keluar dari rumahnya, lalu ia mengatakan, "Bismillah…dst. sampai "Illaa billah," (artinya: Dengan nama Allah. Aku bertawakkal kepada Allah. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.") Maka dikatakan ketika itu, "Engkau ditunjuki, dicukupi, dan dijaga." Setan pun akan menjauh darinya. Kemudian setan yang lain berkata kepada kawannya, "Bagaimana kamu akan menguasai orang yang telah ditunjuki, dicukupi dan dipelihara." (Hr. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Ibnu Abbas berkata ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala, "Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi," (Terj. QS. An Naas: 4), "Setan berada di dekat hati anak Adam. Ketika ia lupa dan lalai, maka setan membisikinya, dan ketika ia ingat kepada Allah, maka ia akan menyingkir."

4.     Sebagai ibadah yang ringan.

Abdullah bin Busr radhiyallahu 'anhu berkata, "Ada seorang lelaki berkata, “Wahai, Rasulullah! Sesungguhnya syariat Islam begitu banyak bagiku. Oleh karena itu, beritahulah aku sesuatu sebagai pegangan.” Beliau bersabda,

لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ.

“Yaitu tidak hentinya lisanmu basah karena menyebut nama Allah.” (Hr. At Tirmidzi 5/458, Ibnu Majah 2/1246, lihat pula dalam Shahih At-Tirmidzi 3/139 dan Shahih Ibnu Majah 2/317.)

5.     Memberatkan timbangan.

Dalilnya sudah disebutkan sebelumnya.

6.     Menyelamatkannya dari kesulitan dan azab.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman tentang Nabi Yunus 'alaihis salam,

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ (143) لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (144)

"Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,-- Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." (Terj. Qs. Ash Shaaffaat: 143-144)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

"Kenalilah Allah di waktu senggang, niscaya Dia akan mengenalimu di waktu susah." (HR. Ahmad dan Abul Qasim bin Bisyran dalam Amaalinya, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 2961)

Mu'adz bin Jabal berkata, "Tidak ada sesuatu yang paling menyelamatkan dari azab Allah selain Dzikrullah."

7.     Sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ (151) فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ (152)

 "Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.--Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (Terj. Qs. Al Baqarah: 151-152)

8.     Sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِيْ دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ))؟ قَالُوْا بَلَى. قَالَ: ((ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى.

“Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi Rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu, lalu kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?” Para sahabat yang hadir berkata, “Mau (wahai Rasulullah)!” Beliau bersabda, “Dzikir kepada Allah Yang Maha Tinggi”. (Hr. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

9.       Dll.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Dzikir terbagi dua; Dzikir Mutlak dan Dzikir Muqayyad. Dzikir Mutlak adalah dzikir yang tidak ditentukan oleh syara’ (Al Qur’an dan As Sunnah) kapan dibacanya, maka boleh dibaca kapan saja selama tidak pada waktu yang seharusnya dibaca dzikir muqayyad. Misalnya mengucapkan Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaahaillallah wallahu akbar, atau mengucapkan subhaanallah wabihamdih-subhaanallahil 'azhiim, dsb.

Sedangkan Dzikir Muqayyad adalah dzikir yang ditentukan oleh syara’ kapan dibacanya seperti dzikir setelah shalat, dzikir ketika masuk masjid dan keluar masjid, dzikir memakai pakaian dan melepasnya, dzikir naik kendaraan, dsb.

Termasuk kekeliruan yang sering dilakukan orang adalah membaca dzikir mutlak pada waktu yang seharusnya dibaca adalah dzikir muqayyad. Contohnya setelah shalat, kita sering mendengar mereka membaca surat Al Fatihah atau membaca “Laailaaha illallah” 100, padahal dzikir setelah shalat termasuk dzikir muqayyad yang sudah diajarkan bacaannya secara khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita bukanlah mengingkari ucapan dzikirnya, tetapi yang kita ingkari adalah penempatannya. Bukan di sana tempatnya. Bagaimana menurut anda jika saya membaca Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaahaillallah wallahu akbar ketika keluar rumah, apakah hal ini dibenarkan? Tentu tidak dibenarkan. Kita tidak menyalahkan dzikirnya, tetapi yang kita salahkan adalah penempatannya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَرَ أَوْ أَرَادَ شُكُوْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، فَمَا أَعْظَمَهُ رَبَّا وَمَلِكًا قَدِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَرْسَلَهُ إِلَى جَمِيْعِ الثَّقَلَيْنِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Kita diperintahkan untuk banyak menyebut nama Allah 'Azza wa Jalla. Dia berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya." (Terj. QS. Al Ahzaab: 41)

Tetapi apakah prakteknya dengan mengucapkan "Allah, Allah, Allah" saja?

Jawab: Sesungguhnya tujuan Allah Subhaanahu wa Ta'ala mengutus Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam untuk membacakan kitab-Nya kepada manusia dan menerangkan maksudnya, Dia berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

"Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka." (Terj. QS. An Nahl: 44)

Jika kita melihat sunnah atau praktek Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam berdzikr, tentu kita tidak akan menemukan bahwa Beliau dalam berdzikr hanya mengucapkan "Allah, Allah, Allah" saja. Dengan demikian, maksud memperbanyak dzikrullah adalah mengisi hidup di dunia ini dengan banyak berdzikr, dan tentunya mengikuti yang dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan menunjukkan bahwa cara berdzikr adalah mengucapkan "Allah, Allah, Allah" saja.

Adab Berdzikr

Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

"Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (Terj. QS. Al A'raaf: 205)

Maksud firman-Nya, "dalam dirimu" adalah secara ikhlas dan tersembunyi.

Maksud firman-Nya, "Dengan rendah hati dan rasa takut," yakni takut jika amalmu tidak diterima dan berharap agar diterima, yang tandanya adalah dengan berusaha menyempurnakan amal dan memperbakinya serta melakukannya dengan serius.

Firman-Nya, "dan dengan tidak mengeraskan suara," Yakni di atas sir (pelan) dan di bawah jahr (keras) atau pertengahan antara keduanya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al Asy'ariy radhiyallahu 'anhu ia berkata:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَجْهَرُونَ بِالتَّكْبِيرِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، إِنَّكُمْ لَيْسَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا، وَهُوَ مَعَكُمْ»

"Kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu safar, lalu orang-orang mengeraskan suara takbir, maka Nabi shallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Wahai manusia! Kasihanilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada yang tuli lagi ghaib; sesungguhnya kalian berdoa kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Mahadekat, dan Dia bersama kamu."

Dari keterangan di atas, kita mengetahui, bahwa hendaknya dalam berdzikr kita tidak terlalu keras suaranya.

Termasuk adab yang perlu diperhatikan dalam berdzikr adalah sebagaimana yang dikatakan Imam Nawawi berikut,

"Sepatutnya orang yang berdzikr dalam keadaan yang paling sempurna, yaitu dalam keadaan duduk di sebuah tempat dengan menghadap kiblat, dan duduknya dengan merendahkan diri, khusyu' dan dengan tenang serta sopan, dan sambil menundukkan kepalanya. Tetapi, jika ia berdzikr tidak seperti itu, maka boleh dan tidak makruh baginya. Akan tetapi, jika tidak ada uzur, maka ia telah meninggalkan yang utama. Dalil tidak makruhnya adalah firman Allah Ta'ala,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,--(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (sambil berkata), "Wahai Tuhan Kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Terj. QS. Ali Imran: 199-191)

Dan telah sah dalam Shahihain dari Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berbaring di pangkuanku sedangkan aku dalam keadaan haidh, lalu Beliau membaca Al Qur'an."

Tempat yang layak untuk berdzikr

Adapun tempat yang baik untuk berdzikr adalah tempat yang sepi dan bersih, karena hal itu lebih memuliakan dzikr. Oleh karena itu, dipuji berdzikr di masjid-masjid dan tempat-tempat mulia. Adapun keadaan yang tidak layak untuk berdzikr di antaranya adalah ketika buang air, ketika berjima', ketika khatib berkhutbah, dan ketika mengantuk.

Sebagai penutup, di sini khatib mengingatkan beberapa kekeliruan dalam berdzikir, di antaranya:

1.     Mengucapkan "Allah, Allah, Allah" saja.

2.     Menggoyang-goyang kepala saat berdzikr.

3.     Berdzikr dengan diiringi musik.

4.     Membaca dzikr secara jama'i.

5.     Membaca dzikr-dzikr yang tidak diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti membaca ratib Al Haddad, membaca barzanji, manaqib, membaca shalawat badar dan nariyah, dsb.

Wirid tersebut adalah wirid yang tidak diajarkan Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, jika seseorang mengamalkannya, maka tidak membuahkan pahala, karena syarat diterimanya amal adalah harus ikhlas dan sesuai sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal di dalam Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah terdapat kecukupan, tanpa perlu mencari dzikr yang lain, dan sedikit di atas Sunnah masih lebih baik daripada banyak namun diada-adakan. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata,

اِقْتِصَادٌ فِي سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنِ اجْتْهَادٍ فِي بِدْعَةٍ

"Sederhana di atas Sunnah lebih baik daripada banyak namun di atas bid'ah."

6.     Berdzikr sambil menaik-turunkan nafas.

7.     Berdoa dengan jaah (kedudukan) Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

8.     Dsb.

Kita meminta kepada Allah agar Dia membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya, memberi taufik kepada kita untuk dapat menempuhnya, memberikan kepada kita istiqamah, dan mengaruniakan kepada kita husnul khatimah, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Beberapa Tambahan Pada Lafaz Doa Yang Tidak Ada Asalnya

Rabu, 06 Mei 2020
بسم الله الرحمن الرحيم
كتاب جديد بعنوان "مختارات من الأذكار النبوية" للدكتور محمد الصاحب ...
Beberapa Tambahan Pada Lafaz Doa Yang Tidak Ada Asalnya
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut pembahasan tentang beberapa tambahan pada lafaz doa yang tidak ada asalnya, semoga Allah menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Aamin.
Tambahan Pada Doa Yang Tidak Ada Asalnya
Pertama, doa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ – وَالْأَبْصَارِ-
“Wahai Allah Yang membolak-balikkan hati dan penglihatan.”
Lafaz ‘wal Abshar’ (artinya: dan penglihatan) merupakan tambahan yang tidak ada asalnya, karena yang berasal dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tanpa tambahan ‘wal abshaar’.
Dari Anas radhiyallahu anhu ia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam sering berdoa,
«يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»
“Wahai Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Aku (Anas) berkata, “Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan apa yang engkau bawa, apakah engkau mengkhawatirkan keadaan kami?”
Beliau menjawab,
«نَعَمْ، إِنَّ القُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ»
“Ya. Sesungguhnya hati manusia di antara dua jari di antara jari-jari Allah, Dia mudah membalikkannya sesuai kehendak-Nya.”
(Hr. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)
Kedua, doa:
وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ  - وَلاَ أَقَلُّ مِنْ ذَلِكَ -
“Dan janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku meskipun sekejap mata –bahkan kurang dari itu-.”
Lafaz ‘walaa aqallu min dzaalik’ (artinya: bahkan kurang dari itu) adalah tambahan yang tidak ada asalnya.
Dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda,
دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ «اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Doa orang yang berduka adalah, “Ya Allah, rahmat-Mu aku harapkan. Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sekejap mata pun, dan perbaikilah semua keadaanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.” (Hr. Abu Dawud, dan dinyatakan hasan isnadnya oleh Al Albani)
Ketiga, doa:
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ - وَعِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ -
“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu shallallahu alaihi wa sallam dan diminta pula oleh hamba-hamba-Mu yang saleh.”
Tambahan ‘wa ibaadukash shaalihuun’ (artinya: dan oleh hamba-hamba-Mu yang saleh) dalam doa dan ta’awwudz tidak ada riwayatnya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan doa ini kepadanya,
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا»
“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu semua kebaikan segera atau lambat, yang aku tahu dan yang tidak aku tahu. Aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan segera atau lambat, yang aku tahu dan yang tidak aku tahu. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu kebaikan yang diminta hamba dan Nabi-Mu, dan aku berlindung dari keburukan yang berlindung daripadanya hamba dan Nabi-Mu. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu surga dan segala yang mendekatkan kepadanya baik ucapan maupun perbuatan, dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala yang mengantarkan kepadanya baik ucapan maupun perbuatan, dan aku meminta kepada-Mu agar takdir yang Engkau tetapkan selalu baik untukku.”
(Hr. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani)
Keempat, doa:
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ – كَرِيْمٌ – تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Mahamulia, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah aku.”
Tambahan ‘kariim’ (artinya: Mahamulia) tidak ada dalam hadits. Al Kariim adalah salah satu nama Allah, akan tetapi tidak disebutkan dalam hadits yang menyebutkan doa itu sebagaimana diterangkan Syaikh Bakar Abu Zaid dalam kitabnya Tas-hihud Du’a hal. 506.
Dari Aisyah radhiyallahu anha ia berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadr, apa yang perlu aku ucapkan?” Beliau bersabda, “Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, suka memaafkan, maka maafkanlah aku.” (Hr. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani)
Kelima, dzikir setelah shalat:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ –وَتَعَالَيْتَ-  يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ
“Ya Allah, Engkau adalah Pemberi kesalamatan, dari-Mu keselamatan, Engkau berhak mendapatkan segala pujian dan Mahatinggi Engkau wahai Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.”
Tambahan ‘wa Ta’alaita’ setelah ‘Tabarakta’ dalam dzikir di atas tidak ada dalam hadits.
Termasuk pula tambahan berikut ini:
وَإِلَيْكَ يُرْجَعُ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمَ
Tambahan ini juga diada-ada atau tidak ada asalnya.
Dari Tsauban ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika selesai shalat beristighfar tiga kali, lalu mengucapkan,
«اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ»
“Ya Allah, Engkau adalah Pemberi kesalamatan, dari-Mu keselamatan, Engkau berhak mendapatkan segala pujian wahai Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.”
Al Walid (rawi hadits ini) berkata, “Aku pun bertanya kepada Al Auza’i, “Bagaimanakah istighfar itu?” Ia menjawab, “Engkau ucapkan, “Astaghfirullah-Astaghfirullah.” (Hr. Muslim)
Keenam, ucapan istighfar:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ عَظِيْمٍ
“Aku meminta ampun kepada Allah Yang Mahabesar dari setiap dosa besar.”
Dalam As Sunnah telah disebutkan berbagai shighat (bentuk) istighfar, termasuk di antaranya sayyidul istighfar, namun tidak ada tambahan atau pembatasan dengan  ‘dzanbin ‘azhiim’ (dosa besar), bahkan jika seseorang istighfar, maka ia meminta ampunan kepada Allah dari semua dosa, baik besar maupun kecil.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdoa dalam sujudnya,
اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ
“Ya Allah, ampunilah dosaku semuanya, kecil maupun besar, awal maupun akhir, yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.” (Hr. Muslim dan Abu Dawud)
Ketujuh, doa antara rukun yamani dan hajar aswad,
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ - وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ-
“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka. Masukkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti, wahai Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Tambahan ‘Wa adkhilnal jannata ma’al abraar yaa ‘Aziiz yaa Ghaffar’ sebagaimana diterangkan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Fatawanya 22/332 dan dalam Asy Syarhul Mumti 7/248.
Kedelapan, tambahan ‘Yaa Rabbal ‘aalamiin’ pada ucapan ‘Aamiin’ yang biasa diucapkan orang-orang.
Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah berkata, “Dan tidak dianjurkan menambahkan Aamiin dengan kalimat lain seperti ‘Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin’. Karena tidak disebutkan dalam As Sunnah. Demikian pendapat kawan-kawan kami (yang semadzhab).” (Fathul Bari 4/389)
Kesembilan, tambahan dalam doa setelah mendengar azan:
 ‘وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيْعَةَ ’  danيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Ibnu Hajar berkata, “Tidak ada dalam satu jalur hadits pun yang menyebutkan ‘Wad darajatar rafii’ah’ dan Ar Rafi’i menambahkan di akhirnya dalam Al Muharrar dengan ‘Yaa Arhamar Raahimiin’ namun tidak ada sama sekali di salah satu jalurnya.”
Demikian pula tambahan
 ‘إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ  ’
“Sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkari janji.”
Syaikh Masyhur bin Hasan menerangkan, bahwa tambahan ini ada dalam Sunan Kubra karya Baihaqi hanyasaja syadz (menyelisihi rawi lainnya yang lebih kuat) karena tidak disebutkan dalam semua jalur hadits dari Ali bin Ayyasy, hanyasaja ada pada riwayat Al Kasymahini terhadap Shahih Bukhari namun menyelisihi yang lain, sehingga syadz menyelisihi riwayat rawi yang lain terhadap shahih Bukhari, sehingga Al Hafizh tidak memperhatikannya dan tidak menyebutkannya dalam Al Fat-h padahal beliau biasa mengumpulkan semua tambahan yang ada dalam jalur hadits.
Termasuk pula doa ketika azan Maghrib,
اَللَّهُمَّ  هَذَا إِقْبَالُ لَيْلِكَ ، وَ إِدْبَارُ نَهَارِكَ …
“Ya Allah, ini masa kedatangan malam yang Engkau tetapkan dan kepergian siang yang Engkau tetapkan...dst.”
Doa ini didasari hadits yang dhaif, diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lainnya dari jalur Abu Katsir maula Ummu Salamah dari Ummu Salamah. Tirmidzi berkata, “Hadits gharib. Abu Katsir tidak kami kenali.”
Oleh karena itu Imam Nawawi berkata, “Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, namun dalam isnadnya ada rawi yang majhul.”
Hadits seperti ini tidak boleh disebarkan ke tengah umat kecuali dengan menerangkan kedhaifannya.
Termasuk pula ucapan,
صَدَقْتَ وَ بَرِرْتَ
“Engkau benar.”
Ketika mendengar ucapan ‘Ash Shalatu khairum minan naum  dalam azan Subuh. Al Hafizh berkata tentang, “Tidak ada asalnya.”
Termasuk pula ucapan ‘Marhaban bidzikrillah’ dan ucapan ‘Marhaban bil qaa’iliina ‘adlaa wa marhaban bish shalaati ahlaa’.
Hadits yang menyebutkan demikian juga tidak ada asalnya.
Kesepuluh, ucapan:
أَقَامَهَا اللهُ وَأَدَامَهَا
“Semoga Allah menegakkan dan mengekalkannya.”
Ketika mendengar ucapan ‘Qad qaamatish shalaah’ saat iqamat.
Doa ini didasari hadits Abu Umamah dalam riwayat Abu Dawud, dimana dalam sanadnya terdapat rawi yang majhul dan dua orang yang dhaif. Oleh karenanya didhaifkan oleh Imam Nawawi dan Ibnu Hajar Al Asqalani.
Oleh karena itu, yang dianjurkan bagi orang yang mendengar iqamat adalah mengucapkan seperti yang diucapkannya termasuk pada saat diucapkan ‘Qad Qaamatish shalah’ berdasarkan keumuman hadits 'Idzaa sami’tumul mu’adzdzin faquuluu mitsla maa yaquulu...dst. (apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya).
Kesebelas, tambahan ‘Sayyidinaa’ pada shalawat di dalam shalat.
Hal ini juga sama tidak disebutkan dalam lafaz shalawat yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Oleh karena itu, hendaknya tidak menambahkannya dalam shalawat ketika shalat.
Al Hafizh Muhammad bin Muhammad Al Gharabiliy (790-853) murid Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani berkata,
“Al Hafizh –semoga Allah memberikan kenikmatan pada kehidupannya- pernah ditanya tentang sifat shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam shalat atau di luar shalat, baik ada yang mengatakan hukumnya wajib atau sunah, yakni apakah disyaratkan tambahan  ‘Sayyidina’ misalnya mengatakan ‘Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad’ atau ‘alaa Sayyidil khalq’ atau ‘alaa sayyid waladi Adam’? Ataukah cukup mengucapkan ‘Allahumma shalli ‘alaa Muhammad’? Dan manakah yang lebih utama, menggunakan ‘Sayyidina’ karena sebagai sifat tetap untuk Beliau shallallahu alaihi wa sallam atau tanpa menyebutkannya, karena tidak disebutkan dalam atsar?”
Jawab: Ya. Mengikuti lafaz-lafaz yang diriwayatkan dalam atsar itulah yang lebih kuat. Tidak bisa dikatakan, ‘boleh jadi Beliau meninggalkan lafaz itu ‘sayyidina’ karena tawadhu sebagaimana tidak disebutkan ‘sayyidina’ saat disebutkan nama Beliau ketika bershalawat dengan ucapan ‘shallallahu alaihi wa sallam’ dan umat Beliau dianjurkan mengucapkan hal itu ‘shalawat’ ketika disebut nama Beliau. Kami mengatakan, bahwa kalau hal itu ‘yakni tambahan ‘Sayyidina’ lebih kuat tentu ada riwayat dari para sahabat dan tabi’in, namun kami belum mendapatkan satu atsar pun dari para sahabat dan tabiin yang menyebutkan hal itu padahal banyak riwayat dari mereka tentang hal itu. Inilah Imam Syafii –semoga Allah meninggikan derajatnya- dimana Beliau adalah seorang yang sangat memuliakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, namun ia berkata di bagian mukadimah kitabnya yang menjadi pegangan orang-orang yang berada di atas madzhabnya, ‘Allahumma shalli alaa Muhammad’ dan seterusnya hingga akhir yang disebutkan oleh ijtihadnya, yaitu pernyataannya ‘setiap kali disebutkan namanya’ dan ‘setiap kali orang-orang lalai menyebutkannya, yang sepertinya beliau mengambil istinbath (kesimpulan) dari hadits shahih yang menyebutkan ‘Subhaanallah ‘adada khalqih’ (Mahasuci Allah sesuai jumlah makhluk-Nya). Telah shahih bahwa Nabi shallallahu alahihi wa sallam bersabda kepada Ummul Mukminin, -yang dilihat Beliau banyak bertasbih-, “Aku telah mengucapkan setelahmu kalimat yang jika ditimbang dengan ucapanmu tentu seimbang,” maka Beliau mengucapkan kalimat tersebut, dan Beliau adalah seorang yang senang dengan doa-doa yang kandungannya mencakup. Bahkan Al Qadhi Iyadh telah membuat bab tentang sifat shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam kitab Asy Syifa, dimana beliau menukil di sana  atsar (riwayat) yang marfu (sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam) dari sejumlah sahabat dan tabiin, yang tidak ada satu pun dari para sahabat dan lainnya tambahan lafaz ‘Sayyidina’.
Selanjutnya Al Hafizh berkata, “Masalah ini sudah masyhur dalam kitab-kitab fiqih. Maksud hal ini adalah bahwa semua Ahli Fiqih yang menyebutkan masalah ini tidak menyebutkan ‘Sayyidina’, kalau seandainya tambahan ini dianjurkan tentu tidak akan samar bagi mereka sehingga mereka sampai melalaikannya, dan kebaikan itu terletak pada ittiba (mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam), wallahu a’lam.”
(Dari tulisan tangan Al Hafizh Al Gharabili di Maktabah Zhahiriyyah yang disebutkan Syaikh Al Albani dalam Shifatush Shalah hal. 172-173).
Khatimah
Menambah kata atau kalimat pada lafaz dzikir yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak dibenarkan, karena Beliau melarang umatnya untuk mengada-ada dalam agama yang Beliau bawa, Beliau bersabda,
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Jauhilah perkara yang diada-adakan, karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Hr. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani)
Yakni diada-adakan dalam agama yang Beliau bawa berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ»
“Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami yang bukan termasuk di dalamnya, maka tambahan itu tertolak.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Di samping itu, mengada-ada dalam agama yang Beliau bawa dapat merusak agama Beliau sehingga tidak murni lagi seperti yang Beliau bawa dan di dalamnya meniru orang-orang Yahudi dan Nasrani yang suka menambah-nambah dalam beragama sehingga agama mereka rusak.
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Ziyadat Laa Asla Laha Fi Ad’iyah Ma’tsurah (Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr), Al Qaulul Mubin fi Aktha’il Mushallin (Syaikh Masyhur bin Hasan bin Salman), Qamusul Bida (Syaikh Masyhur bin Hasan bin Salman), Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger