Tampilkan postingan dengan label akidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akidah. Tampilkan semua postingan

Terjemah Ushul Sittah (Enam Prinsip Penting)

Senin, 17 Juli 2023

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم



Ushul Sittah

(Enam Prinsip Penting)

Karya : Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Alih Bahasa: Marwan Hadidi 

 

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

“Termasuk perkara yang sangat mengherankan dan tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah Raja Yang Maha Mengalahkan adalah enam prinsip penting yang Allah terangkan secara jelas kepada manusia secara umum di luar perkiraan mereka, namun banyak para cendekiawan  dan orang-orang pandai keliru di dalamnya kecuali sebagian kecil saja.

Prinsip Pertama, mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, menjelaskan tentang kebalikan tauhid, yaitu syirik (menyekutukan) Allah, dan bahwa ayat-ayat Al Qur’an pada umumnya menerangkan prinsip pertama ini dari berbagai sisi dengan penjelasan yang dapat difahami oleh orang yang sangat awam sekalipun. Namun ketika terjadi kesamaran bagi kebanyakan orang, maka setan menampakkan berlaku ikhlas kepada mereka dalam rupa merendahkan orang-orang saleh dan meremehkan hak mereka, sementara syirik ditampakkannya dalam rupa mencintai orang-orang saleh dan mengikutinya[1].

Prinsip Kedua, Allah memerintahkan bersatu di dalam agama-Nya dan melarang berpecah belah. Dia menerangkan hal ini dengan penjelasan yang cukup yang dapat difahami oleh masyarakat awam. Dia juga melarang kita seperti orang-orang terdahulu yang berpecah-belah dan berselisih. Allah menyebutkan, bahwa Dia memerintahkan para rasul untuk bersatu dalam agama-Nya dan melarang berpecah-belah, ditambah dengan penjelasan dalam As Sunnah. Namun sangat mengherankan sekali, berselisih dalam beragama baik dalam masalah ushul (pokok) maupun furu (cabang) dianggap ilmu dan fiqih, sementara menyeru untuk bersatu dalam beragama dianggap zindik atau orang gila.

Prinsip Ketiga, termasuk penyempurna persatuan adalah mendengar dan taat kepada penguasa  meskipun ia budak dari Habasyah (Etiopia). Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan hal ini dengan penjelasan yang maklum dan jelas dengan berbagai ungkapan syar’i maupun qadari, namun prinsip ini menjadi tidak dikenal di kalangan orang yang mengaku berilmu, lalu bagaimana hal ini bisa diamalkan?

Prinsip Keempat, penjelasan tentang ilmu dan para ulama, serta fiqih dan para fuqaha, dan penjelasan tentang siapa yang menyerupai mereka, padahal bukan termasuk golongan mereka (para ulama). Allah Ta’ala telah menerangkan prinsip ini di bagian awal surah Al Baqarah,

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

“Wahai Bani Israil! Ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (Qs. Al Baqarah: 40)

Sampai dengan firman Allah Ta’ala sebelum menyebutkan tentang Nabi Ibrahim alaihis salam,

 يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (47)

“Wahai Bani Israil! Ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat (di masanya).” (Qs. Al Baqarah: 47)

Keterangan ini juga diperjelas oleh As Sunnah dalam penjelasan yang banyak, jelas dan gamblang bagi orang awam yang sederhana pemikirannya. Kemudian dengan berjalannya waktu, hal ini menjadi sesuatu yang sangat aneh, ilmu dan fiqih kemudian dianggap bid’ah dan kesesatan, dimana Yang terbaik di antara mereka adalah yang mencampuradukkan  yang hak dengan yang batil, sementara ilmu yang Allah wajibkan bagi manusia dan dipuji-Nya dianggap tidak diucapkan kecuali oleh orang zindik atau orang gila. Maka jadilah orang yang mengingkarinya, memusuhinya, menulis tahdzir (peringatan terhadap ilmu yang hakiki) serta melarangnya dianggap sebagai orang yang fakih dan berilmu.

Prinsip Kelima, penjelasan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang wali-wali Allah dan pembedaan antara para wali tersebut dengan orang yang menyerupai mereka dari kalangan musuh-musuh Allah, kaum munafikin dan kaum fasik. Dalam hal ini cukuplah sebuah ayat di surah Ali Imran, yaitu:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali Imran: 31)

Juga ayat di surah Al Maidah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (Qs. Al Maidah: 54)

Demikian pula sebuah ayat di surah Yunus,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.--(yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Qs. Yunus: 62-63)

Kemudian kebanyakan orang yang mengaku berilmu dan mengaku pemberi pembimbing manusia serta penjaga syariat menyatakan bahwa para wali haruslah orang yang meninggalkan sikap meneladani para rasul, dan bahwa orang yang mengikuti rasul bukanlah termasuk para wali. Wali juga harus meninggalkan jihad. Barang siapa yang berjihad, maka bukan wali Allah. Wali Allah juga harus meninggalkan iman dan takwa. Barang siapa yang berpegang teguh dengan iman dan takwa, maka bukan wali Allah (ini adalah musibah). Wahai Rabb kami, kami memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan, sesungguhnya Engkau Mahamendengar doa.

Prinsip Keenam, membantah syubhat yang dibuat oleh setan untuk meninggalkan Al Qur’an dan As Sunnah, dan beralih mengikuti pendapat dan hawa nafsu yang saling berpecah-belah dan berselisih. Syubhat yang dibuat oleh setan adalah pernyataan bahwa Al Qur’an dan As Sunnah tidaklah diketahui kecuali oleh seorang mujtahid mutlak. Mujtahid adalah orang yang sifatnya begini dan begitu yang mungkin tidak didapatkan secara sempurna pada Abu Bakar dan Umar. Barang siapa yang tidak mencapai tingkatan tersebut, maka ia harus berpaling dari Al Qur’an dan As Sunnah tanpa ragu lagi. Termasuk syubhat pula pernyataan bahwa barang siapa yang mengambil petunjuk langsung dari Al Qur’an dan As Sunnah, maka dia bisa sebagai orang zindik dan orang gila karena sulitnya memahami Al Qur’an dan As Sunnah, Subhaanallah wa bihamdih (Mahasuci Allah sambil memuji-Nya). Padahal syubhat yang terlaknat ini telah terbantahkan dengan berbagai ungkapan dalam Al Qur’an dan As Sunnah yang sampai pada tingkatan diketahui kebatilannya oleh orang awam sekalipun, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (7) إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (8) وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ (9) وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (10) إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (11) 

“Sesungguhnya telah pasti berlaku Perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.--Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.--Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.--Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.--Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (Qs. Yaasiin: 7-11)

Inilah akhir risalah. Segala puji milik Allah Rabbul ‘alamin. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, kepada keluarganya, dan para sahabatnya sampai hari Kiamat.

Selesai, wal hamdulillah.


[1] Contohnya adalah ketika sebagian manusia diingatkan agar jangan berdoa dan meminta kepada para wali, maka mereka menjawab, “Kamu sama saja telah merendahkan para wali.” Mereka juga beranggapan bahwa meminta dan berdoa kepada para wali merupakan bentuk memuliakan mereka. Padahal ini semua merupakan bisikan dan hiasan setan-pent.

Panduan Manasik Umrah untuk Pembimbing

Rabu, 03 Mei 2023

 بسم الله الرحمن الرحيم



Panduan Manasik Umrah untuk Pembimbing

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

1.     Di Pesawat

Assalamu alaikum warahmatullah wa barakatuh

Jamaah sekalian! Alhamdulillah sekarang kita sudah berada di pesawat menuju bandara di Jeddah. Jangan lupa membaca doa naik kendaraan dan doa safar.

Jamaah sekalian! Umroh yang akan kita lakukan memiliki keutamaan, di antaranya sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

.           «العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ»

“Umrah yang satu ke umrah berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang terjadi antara keduanya.”

 

Shalat ketika di pesawat

Jamaah sekalian! Karena kita sedang safar, maka pelaksanaan shalat kita dilakukan dengan cara diqashar, yakni yang 4 rakaat dikurangi menjadi dua rakaat. Karena kita sedang safar, maka diperbolehkan juga bagi kita menjama (menggabungkan shalat), yaitu antara shalat Zhuhur dengan Ashar, dan antara shalat Maghrib dengan Isya.

Untuk bersuci, jika memungkinkan menggunakan air, maka kita berwudhu, namun jika dirasakan kesulitan menggunakan air, maka kita bisa menggunakan sprey. Dan jika tidak membawa sprey silahkan bertayammum.

Selanjutnya masing-masing shalat di tempat duduknya, dengan menjadikan ruku dalam keadaan menundukkan kepala, sedangkan sujud lebih menunduk lagi.

Selanjutnya kita menuju bandara Jeddah.

 

2.     Di Bandara Jeddah

Jamaah sekalian! Alhamdulillah kita telah sampai di Jeddah. Kita berada di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Dari sini kita akan menaiki bus menuju kota Madinah. Jarak perjalanan dari bandara Jeddah ke Madinah kurang lebih 404,0 km atau memakan waktu 4 jam.

Selanjutnya kita akan menaiki bus. 

 

3.     Di Bus menuju Madinah

Jamaah sekalian, sebagaimana biasa ketika kita berada di kendaraan dianjurkan membaca doa naik kendaraan. Perjalanan kita menuju Madinah kurang lebih memakan waktu 4 jam. Selanjutnya kita akan menuju hotel di Madinah. 

 

4.     Di hotel Madinah

Jamaah sekalian! Alhamdulillah, sekarang kita telah berada di hotel di kota Madinah. Di Madinah terdapat masjid Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang dikenal dengan nama masjid nabawi. Shalat di masjid Nabawi lebih utama 1000 kali shalat di banding masjid lainnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu kali shalat di masjid yang lain kecuali Masjidilharam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Proses selanjutnya kita akan melakukan ihram di miqat Bir Ali, disarankan untuk memakai pakaian ihram dari hotel.

Selanjutnya kita menuju bus.

 

5.     Di Bus menuju Bir Ali

Jamaah sekalian! Alhamdulillah sekarang kita berada di bus menuju miqat Bir Ali yang merupakan miqat orang yang datang dari Madinah. Jarak antara Madinah ke Bir Ali kurang lebih 17,4 KM atau memakan waktu 20 menit.

Selanjutnya kita berada di Bir Ali.

 

6.     Berada di Bir Ali

Jamaah sekalian! Alhamdulillah kita sudah berada di Bir Ali yang merupakan miqat orang yang datang dari Madinah seperti kita. Jika sudah tiba waktu shalat, silahkan turun sejenak untuk shalat di masjid Bir Ali. Setelah itu kita naik bus kembali, dan memulai ihram di atas bus sambil mengucapkan ”Labbaika ’umrah” atau ”Allahumma labbaika umrah”.

Selanjutnya kita di dalam bus menuju Mekkah.

7.     Di dalam bus menuju Mekkah

Jamaah sekalian! Setelah kita berniat ihram dan mengucapkan Labbaika umrah. Maka kita dianjurkan memperbanyak talbiyah, yaitu ucapan:

لَبَّيْكَ اللّهُـمَّ لَبَّيْكَ , لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ  إِنَّ اْلحَـمْدَ وَالنِّعْـمَةَ لَكَ وَاْلمـُلْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ  

Bagi laki-laki mengucapkannya dengan jahar (keras), sedangkan bagi wanita cukup mensir(pelan)kan saja.

Jarak antara Bir Ali dengan Mekkah kurang lebih 428 KM atau memakan waktu 4-5 jam

Selanjutnya kita menuju hotel Mekkah.

 

8.     Kamar Hotel di Mekkah

Jamaah sekalian! Karena kita berada dalam ihram, maka  dilarang bagi kita:

1. Memakai pakaian yang berjahit. Larangan ini hanya khusus bagi laki-laki. Adapun bagi wanita, maka ia boleh memakai pakaian apa saja yang ia mau selain cadar dan sarung tangan.

2. Memakai wewangian pada badan atau kainnya.

3. Menghilangkan rambut dan kuku.

4. Menutupi kepala dengan sesuatu yang melekat.

5. Melakukan akad nikah, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain.

6. Berjima'.

7. Berpelukan meskipun tidak sampai jima'.

8. Membunuh binatang buruan darat dan memburunya.

9. Tidak boleh bagi orang yang ihram maupun lainnya untuk memotong pohon yang ada di tanah haram atau tumbuhannya yang tidak mengganggu.

Selanjutnya kita menuju area gerbang Masjidil Haram.

 

9.     Gerbang Masjidil Haram

Jamaah sekalian! Alhamdulillah sekarang kita berada di area gerbang Masjidil haram. Sebagai persiapan thawaf, kita menyelempangkan kain selendang kita di pundak kiri dan membukanya pada pundak kanan (idhthiba). Kemudian kita akan mememasuki masjidil haram. Jangan lupa ketika kita masuk Masjidil Haram,  kita membaca doa masuk masjid dan mendahulukan kaki kanan.

Selanjutnya kita berada di dalam masjidil Haram.  

 

10.                        Masuk Masjidil Haram dan melihat Ka’bah

Jamaah sekalian! Ketika kita melihat Ka’bah dianjurkan membaca doa,

للَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ.

Selanjutnya kita memulai thawaf.

 

11.                        Memulai thawaf

Jamaah sekalian! Kita memulai thawaf dari hajar aswad. Kita usap hajar aswad dengan tangan kanan kita dan menciumnya sambil mengucapkan ”Allahu akbar”.

Jika tidak memungkinkan untuk menciumnya karena berdesakan, maka kita usap hajar aswad dengan tangan kita dan mencium tangannya. Tetapi, jika tidak bisa juga, maka kita usap dengan benda yang ada pada kita seperti tongkat dan sejenisnya, lalu ia mencium tongkat itu.

Jika tidak memungkinkan juga mengusapnya, maka kita menghadap kepadanya dengan badannya dan berisyarat dengan tangan kanan kta tanpa mencium tangan  sambil mengucapkan Allahu akbar.

Selanjutnya kita berthawaf di Ka’bah tujuh kali putaran. Setiap putaran diawali dari hajar aswad dan diakhiri dengannya, kita mengusap hajar aswad dan menciumnya sambil bertakbir setiap kali melewatinya.

Tetapi jika tidak memungkinkan, maka kita berisyarat kepadanya tanpa menciumnya namun tetap bertakbir.

Disunahkan dalam thawaf, kita melakukan raml (jalan cepat dengan langkah pendek) pada tiga putaran pertama. Setelahnya kita berjalan biasa.

Selanjutnya kita ke Maqam Ibrahim.

12.                        Maqam Ibrahim

Jamaah sekalian! Di hadapan kita ada maqam Ibrahim, tempat dimana Nabi Ibrahim alaihis salam berdiri membangun ka’bah.

Di sana juga terdapat Multazam, yaitu area yang terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Tempat tersebut adalah tempat yang mustajab untuk berdoa.

 

Sealanjutnya kita menuju rukun iraqi.

13.                        Rukun Iraqi

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di rukun Iraqi yang merupakan sudut Ka’bah yang mengarah ke negeri Irak.

Selanjutnya kita menuju Hijir Ismail.

14.                        Hijir

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di hadapan Hijr. Orang-orang menyebutnya dengan Hijr Ismail. Hijr Ismail adalah sebuah tempat di sebelah utara bangunan Ka’bah berbentuk setengah lingkaran. Kita tidak boleh thawaf melewati bagian dalam Hijr Ismail karena hal itu bagian dari area Ka’bah.

 Selanjutnya kita menuju Rukun Syami.

15.                        Rukun Syami

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di rukun Syami yang merupakan sudut Ka’bah yang mengarah ke negeri Syam.

Selanjutnya kita menuju area di antara rukun Syami dan Yamani.

16.                        Antara Rukun Syami dan Rukun Yamani

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di antara rukun Syami dan rukun Yamani.

Selanjutnya kita menuju Rukun Yamani.

17.                        Rukun Yamani

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di rukun Yamani yang merupakan sudut Ka’bah yang mengarah ke negeri Yaman.

Selanjutnya kita menuju area di antara rukun Yamani dan Hajar Aswad.

18.                        Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di area antara rukun Yamani dan hajar aswad. Dianjurkan ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad membaca doa:

رَبَّنَا اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاخِرَةِ حَسَنَةً وَ ِقنَا عَذَابَ النَّارِ

"Wahai Tuhan    kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka."

Selanjutnya kita beradadi depan hajar aswad.

19.                        Di depan Hajar Aswad

Jamaah sekalian! Setelah dijelaskan beberapa titik di sekitar ka’bah dan amalan ketika thawaf, maka selanjutnya kita memulai thawaf sebanyak tujuh kali. Putaran pertama hingga ketiga dengan melakukan raml (jalan cepat), sedangkan empat putaran berikutnya berjalan biasa.

Selanjutnya mari kita memulai thawaf, disarankan untuk tidak menekan tombol pada controller di tangan kanan kita.

20.                        Hajar Aswad

Jamaah sekalian! Setelah kita selesai thawaf, maka tutuplah bahu kanan kita kemudian kita bisa berdoa di Multazam, yaitu area bangunan Ka’bah yang terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.


Adapun tatacara berdoa di Multazam, yaitu dengan menempelkan dada, wajah dan kedua lengan kita (kedua lengan menjulur ke atas), lalu kita berdoa memohon kepada Allah Azza wa Jalla, apapun permohonan yang kita inginkan.

Selanjutnya kita ke Maqam Ibrahim.

.

21.                        Maqam Ibrahim

Jamaah sekalian! Selanjutnya kita menuju ke Maqam Ibrahim sambil membaca firman Allah Ta’ala, ”Wat takhidzuu mim maqaami Ibraahiima mushalla,” kemudian kita shalat di belakangnya dua rakaat dengan membaca surah Al Kafirun dan surah Al Ikhlas.

Selanjutnya kita ke menuju tempat air zam-zam.

 

22.                        Tempat air zam-zam

Jamaah sekalian! Seusai shalat dua rakaat, kita segera menuju ke sumur Zamzam atau tempat penyediaan air Zamzam yang terdekat dengan kita.

Minumlah air Zamzam dan berdoalah kepada Allah apa yang kita inginkan, kemudian siramkanlah air Zamzam ke kepala kita.

Selanjutnya kita menuju bukit Shafa untuk melakukan Sa’i.

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di jalan menuju bukit Shafa dan naiklah ke bukit Shafa sambil membaca innash shafa wal marwata min sya’aairillah .

Selanjutnya kita menuju bukit Shafa

23.                        Bukit Shafa

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di bukit Shafa hingga kita dapat memandang ka’bah secara langsung. Kita dianjurkan mengangkat kedua tangan sambil mengucapkan kalimat:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ اَنْجَزَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ اْلاَحْزَابَ وَحْدَهُ

Seusai mengucapkan doa di atas, panjatkanlah doa kepada Allah, untuk memohon apapun yang kita inginkan,

Lalu ulangi doa di atas hingga tiga kali, dan setiap kali selesai mengulang bacaan di atas, kita kembali memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala, sesuai dengan keinginan dan permintaan kita masing-masing.

Lalu turunlah dari bukit Shafa dengan berjalan biasa untuk menuju ke bukit Marwah.

Selanjutnya kita berada antara dua tanda lampu hijau.

24.                        Lintasan Antara 2 Tanda Lampu Hijau

Jamaah sekalian! Bila kita telah sampai di antara dua tanda berupa lampu berwarna hijau, disunnahkan untuk mempercepat jalan kita. Setelah melewati kedua lampu berwarna hijau, kita kembali berjalan seperti biasa hingga tiba di bukit Marwah.

Selanjutnya kita berada di bukit Marwah.

25.                      Di Bukit Marwah

Jamaah sekalian! Setibanya di bukit Marwah, lakukanlah hal yang sama kita lakukan di bukit Shafa, yaitu menghadap kiblat, bertakbir 3 x, membaca tahlil 3 x
dan berdoa di antara ketiga bacaan tahlil tersebut.

Perlu diketahui, bahwa perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu putaran, dan dari Marwah ke Shafa dihitung putaran kedua, dan demikian seterusnya hingga hitungan ketujuh.

Selanjutnya kita menuju berada di antara dua tanda lampu hijau.

26. Lintasan Antara 2 Tanda Lampu Hijau

Jamaah sekalian! Dari bukit Marwah ketika kita telah sampai di antara dua tanda berupa lampu berwarna hijau, disunnahkan untuk mempercepat jalan kita. Setelah melewati kedua lampu berwarna hijau, kita kembali berjalan seperti biasa hingga tiba di bukit Shafa.

Selanjutnya kita menuju bukit Shafa

27.                      Bukit Shafa

Jamaah sekalian! Sekarang kita berada di bukit Shafa kembali. Lakukanlah hal yang sama seperti ketika kita berada di bukit Shafa yang pertama yaitu:

Menghadap kiblat,
Bertakbir 3 x,
Membaca tahlil 3 x
dan berdoa di antara ketiga bacaan tahlil tersebut.

Selanjutnya kita berada di antara dua tanda lampu hijau.

28.                        Lintasan Antara 2 Tanda Lampu Hijau

Jamaah sekalian! Bila kita telah sampai di antara dua tanda berupa lampu berwarna hijau, disunnahkan untuk mempercepat jalan kita. Setelah melewati kedua lampu berwarna hijau, kita kembali berjalan seperti biasa hingga tiba di bukit Marwah. Lakukan hal ini sampai tujuh putaran.

Selanjutnya kita berada di bukit Marwah

29. Bukit Marwah

Jamaah sekalian! Perlu diketahui, bahwa perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu putaran, dan dari Marwah ke Shafa dihitung putaran kedua, dan demikian seterusnya hingga hitungan ketujuh.

Dan dapat dipastikan ibadah Sa’i kita berakhir di bukit Marwah.

Selanjutnya kita bertahallul.

30. Tahallul

Jamaah sekalian! Setelah selesai menunaikan ibadah Sa’i, maka amalan terakhir dari ibadah umrah kita ialah bertahallul, yaitu dengan menggundul rambut kepala kita atau memendekkan seluruh rambut kepala kita.

Namun perlu kita ketahui, bahwa menggundul lebih utama dibanding sekedar memendekkan rambut.

Semoga Allah menerima ibadah umroh kita, aamin.

Mengenal Kelompok-Kelompok Sesat

Jumat, 18 Juni 2021

 بسم الله الرحمن الرحيم



Mengenal Kelompok-Kelompok Sesat

Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:

Berikut pembahasan singkat kelompok-kelompok sesat yang banyak merujuk kepada risalah Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkhali dan kami berikan tambahan, semoga Allah menghindarkan kita dari kelompok-kelompok tersebut, aamin.

Kelompok atau Ajaran Sesat

1. Watsaniyyah (Paganisme)

Kelompok ini adalah kelompok kaum musyrik yang mengarahkan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perbuatan yang dilakukan mereka adalah syirik yang merupakan dosa yang paling besar dan tidak diampuni Allah Azza wa Jalla.

2. Nasrani (Kristen)

Kelompok ini meyakini trinitas (tiga tuhan serangkai; ada tuhan bapak, ibu, dan anak). Kelompok dan ajaran ini telah dinyatakan kafir oleh Allah Azza wa jalla dalam firman-Nya,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, "Bahwa Allah salah seorang dari yang tiga," padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Qs. Al Maidah: 73)

3. Hululiyyah

Kelompok ini menyatakan bahwa ‘Allah berada di segenap tempat’, Mahatinggi Allah dari pernyataan mereka ini.

4. Ittihadiyyah

Kelompok ini menyatakan kesatuan wujud, yakni tidak ada perbedaan antara Khaliq (pencipta) dengan makhluk. Bahkan tokoh mereka –semoga Allah melaknatnya –menyatakan: anjing dan babi adalah tuhan kita, dan tuhan itu juga rahib yang ada di gereja.

5. Jahmiyyah

Kelompok ini mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa ta’ala.

Mereka sama saja menolak nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah yang menyebutkan nama-nama dan sifat-sifat Allah.

6. Musyabbihah

Kelompok ini menyerupakan mahkluk dengan Khaliq seperti kaum Nasrani. Mereka menetapkan untuk Allah Al Khaliq dengan sifat-sifat makhluk yang lemah.

Allah Ta’ala berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” (Qs. Asy Syuuraa: 11)

Dalam ayat ini terdapat bantahan kepada kaum musyabbihah, sekaligus terdapat bantahan kepada kaum Jahmiyyah dan Mu’aththilah (yang meniadakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala).

7. Qadariyyah

Kelompok ini menolak qadar atau taqdir Allah Azza wa Jalla. Mereka juga mengatakan bahwa ‘Allah tidak menciptakan kebaikan dan keburukan’ atau mengatakan bahwa ‘Allah menciptakan kebaikan dan tidak menciptakan keburukan’. Padahal beriman kepada qadar termasuk rukun iman yang enam.

8. Jabriyyah

Kelompok ini mengatakan bahwa hamba dipaksa dalam perbuatannya, seperti halnya pohon yang bergerak karena hembusan angin.

9. Murji’ah

Kelompok ini banyak cabangnya.

Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa ‘maksiat tidaklah membahayakan keimanan sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat jika di atas kekafiran’.

Ada pula di antara mereka yang mengatakan ‘iman hanyalah pengetahuan di hati saja’.

Ada pula yang mengatakan bahwa ‘iman itu hanyalah ucapan di lisan’.

Dan ada pula di antara mereka yang mengatakan bahwa ‘amal tidak termasuk bagian dari keimanan’.

10. Mu’tazilah

Kelompok ini mengatakan bahwa ‘Al Qur’an adalah makhluk’ dan bahwa ‘pelaku maksiat (dosa besar) dari kalangan Ahli Tauhid akan kekal di neraka jika mereka mati dan tidak bertobat’.

10. Khawarij

Kelompok ini mengkafirkan kaum muslimin yang melakukan dosa besar meskipun pelakunya masih di atas Tauhid, dan mereka juga menyatakan bahwa pelakunya akan kekal di neraka jika ia meninggal dunia di atas dosa itu.

11. Syi’ah Rafidhah   

Kelompok ini menyelisihi kaum muslimin dalam segala hal baik secara garis besar maupun secara rinci, baik dalam ushul (dasar) maupun furu (cabang).

12. Shufiyyah (Sufi)

Kelompok ini ada yang ekstrem dan ada yang tidak.

Yang ekstrem sampai menyatakan ‘wihdatul wujud’ (semua yang ada adalah tuhan). Mereka ini seperti para pengikut Ibnu Arabi, Ibnu Sab’in, dan semisalnya.

Dalam ibadahnya mereka banyak mengadakan cara sendiri dalam mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla tidak memperhatikan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

13. Asya’irah, Kullabiyyah, dan Maturidiyyah

Kelompok ini menyimpang dari manhaj Ahlissunnah wal jamaah dalam masalah asma wa shifat, membatasi sifat Allah dalam jumlah tertentu, mentakwil sifat-sifat Allah Azza wa Jalla. Demikian pula keliru dalam masalah iman, Kullabiyyah dan Maturidiyyah menyatakan bahwa iman tidak bertambah dan tidak berkurang. Sumber utama pengambil akidah mereka adalah ilmu kalam dan akal.

14. Waqifah

Kelompok ini mengatakan ‘kami tidak menyatakan Al Qur’an sebagai makhluk atau bukan makhluk’.

15. Bathiniyyah

Kelompok ini adalah kelompok Zindik munafik. Mereka tidak beriman kepada kebangkitan dan pembalasan.

16. Qaramithah

Kelompok ini cabang dari kelompok Bathiniyyah.

17. Al ‘Almaniyyah (Sekularisme)

Kelompok ini memisahkan antara agama dengan negara dan kehidupan sehari-hari.

18. Masuniyyah (Freemasonry)

Kelompok ini adalah kelompok yang terstruktur untuk merusak manusia demi kepentingan orang-orang Yahudi.

19. Wujudiyyah

Kelompok ini mengingkari tuhan sebagaimana mengingkari adanya kebangkitan.

20. Babiyyah

Kelompok ini adalah kelompok yang kafir atau mengingkari semua yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

21. Qadiyaniyyah (Ahmadiyyah)

Kelompok ini mengikuti nabi palsu Mirza Gulam Ahmad.

22. Qaumiyyah  

Kelompok ini tidak bisa membedakan antara iman dan kufur. Kelompok ini terlalu fanatik dengan bangsa sendiri, terkadang melupakan nasib bangsa lain dan tidak memperhatikan sisi agama.

23. Ra’sumaliyyah (Kapitalisme)

Kelompok ini menolak ajaran Islam dalam berekonomi dan tidak peduli terhadap ancaman Allah Azza wa Jalla. Kelompok ini berusaha memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dalam usaha tanpa memperhatikan aturan agama.

24. Isytirakiyyah (Sosialisme)

Kelompok ini juga meninggalkan agama dalam berekonomi dan mengedepankan hawa nafsu. Kelompok ini menolak kepemilikan secara perorangan secara mutlak.

25. Hadatsah

Kelompok ini di antara sikapnya adalah mencela akidah Islam, menyamarkan kebenaran kepada manusia, dan melakukan ilhad (penyimpangan) dalam agama Allah.

26. Ilhad (Atheisme)

Kelompok ini tidak mempercayai adanya tuhan, dimana mereka sama saja menolak dalil baik dalil naqli (wahyu) maupun dalil aqli (akal).

27. Liberaliyyah (Liberalisme)

Kelompok ini menginginkan kebebasan dalam hidupnya, menolak adanya aturan baik aturan agama maupun aturan negara. Kelompok ini membuat masyarakat tidak bedanya dengan hewan.

28. Ta’addudiyyah Diniyyah (Pluralisme)  

Kelompok ini membenarkan semua agama dan meninggalkan amar makruf dan nahi munkar.

29. ‘Aqlaniyyah (rasionalisme)

Kelompok ini hanya mengandalkan akal dalam mencapai maslahat dan meninggalkan agama, serta menyatakan bahwa akal adalah sumber pengetahuan, padahal akal manusia terbatas tidak menjangkau segalanya.

30. Syuyu’iyyah (komunisme)

Kelompok ini adalah kelompok yang tidak meyakini ajaran agama.

31. Dimaqrathiyyah (Demokrasi)

Kelompok ini menyatakan bahwa kekuasaan di tangan rakyat, dimana dalam roda pemerintahan rakyatlah yang berkuasa, sehingga jika suatu larangan dalam agama atau pemerintahan tidak sejalan dengan kehendak rakyat, maka larangan itu bisa dicabut.

32. Mutakallimin (Ahlul Kalam)

Kelompok ini menetapkan akidah berdasarkan akal dan filsafat. Disebut Kalam karena isinya perdebatan dan pendapat. Kalam dan filsafat inilah yang membuat akidah kaum muslimin menjadi rusak dan munculnya berbagai kelompok menyimpang.

Kelompok ini berusaha mencari kebenaran termasuk masalah akidah hanya bersandar kepada akal dan pendapat tanpa wahyu, sehingga hasilnya zhann (persangkaan).

Kelompok-Kelompok Sesat lainnya

Di negeri kita Indonesia juga banyak bermunculan kelompok sesat, di antaranya: Ahmadiyyah, Lia Eden atau Salamullah, Al Qiyadah Al Islamiyah, Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Tarekat Tajul Khalwatiyah, Kerajaan Ubur-Ubur, Islam Jamaah, NII, Isa Bugis, Inkar Sunnah, Lembaga Kerasulan, dll.

10 Ciri Aliran Sesat Menurut MUI

MUI dalam rapat kerja nasional tahun 2007 menyebutkan 10 kriteria sebuah aliran keagamaan dianggap menyimpang atau sesat, yaitu:

1. Mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam. 

2. Meyakini dan mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i . 

3. Meyakini turunnya wahyu sesudah Alquran. 

4. Mengingkari kebenaran Alquran. 

5. Menafsirkan Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir. 

6. Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam. 

7. Menghina, melecehkan, atau merendahkan nabi dan rasul.

8. Mengingkari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai utusan terakhir. 

9. Mengubah, menambah, dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan secara syar'i. 

10. Mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i.

Demikianlah pembahasan kelompok-kelompok sesat dan menyimpang agar kita dapat menjauhinya.

Nasihat

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Qs. Al An’aam: 116)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memberitahukan keadaan mayoritas manusia yang berada di atas kesesatan, dan mengingatkan agar tidak mengikuti kebanyakan manusia, karena yang mereka ikuti hanyalah persangkaan belaka.

Hal itu, karena agama mereka telah menyimpang, sebagaimana amal dan ilmu mereka pun ikut menyimpang.

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa banyaknya orang yang melakukan sesuatu bukanlah menjadi tolok ukur terhadap suatu kebenaran, dan menunjukkan bahwa sedikitnya orang yang menempuh tidaklah menunjukkan tidak berada di atas kebenaran, oleh karenanya para pengikut kebenaran adalah orang yang paling sedikit jumlahnya, namun paling tinggi kedudukan dan pahalanya di sisi Allah.

Dalam ayat ini juga terdapat bantahan terhadap beberapa pemikiran yang dibuat manusia, yang kemudian dianut oleh sebagian orang atas dasar ikut-ikutan, seperti liberalisme, sosialisme, komunisme, pluralisme, kapitalisme, sekularisme dan sebagainya.

Ikuti Kebenaran dan Jangan Lihat Banyaknya Orang Yang Melakukan

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Kita tidak tertipu dengan kebanyakan manusia melakukannya, karena perbuatan manusia terkadang di atas kejahilan. Yang dijadikan patokan adalah ada dalil dalam syariat bukan karena dilakukan oleh pada umumnya manusia." (Al Qaulul Mufid 1/204)

"Kami tidaklah melihat kebenaran dengan banyaknya orang yang mengikuti, akan tetapi kami melihat kebenaran ketika sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah." (Asy Syarhul Mumti 4/379)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat, bahwa apabila seseorang telah mengetahui kebenaran, maka tidak boleh baginya menyelisihinya karena mengikuti seseorang." (Majmu Fatawa 7/71)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, "Hendaklah setiap muslim waspada tidak tertipu dengan jumlah yang banyak sambil menyatakan, "Orang-orang berdatangan kepadanya dan biasa terhadap hal itu, maka aku ikut bersama mereka." Ini adalah musibah yang besar yang membuat binasa kebanyakan orang-orang terdahulu. Engkau wahai orang yang berakal, hendaknya memperhatikan dirimu dan menghisabnya, berpegang dengan kebenaran meskipun ditinggalkan manusia. Demikian pula berhati-hati terhadap apa yang dilarang Allah meskipun dikerjakan oleh manusia, karena  kebenaran itu lebih berhak diikuti. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Qs. Al An’aam: 116)

"Dan kebanyakan manusia tidak beriman, meskipun engkau menginginkannya." (Qs. Yusuf: 103)

Sebagian kaum salaf berkata, "Jangan menjauhi kebenaran karena sedikitnya orang yang mengikuti, dan jangan tertipu dengan kebatilan meskipun orang yang binasa itu banyak." (Majmu Fatawa 12/411-416)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, "Janganlah salah seorang di antara kamu menjadi imma'ah!"

Kawan-kawannya mengatakan "Apa itu Imma'ah wahai Abu Abdurrahman?"

Abdullah Bin Masud menjawab, "Yaitu orang yang mengatakan 'saya mengikuti orang-orang, jika mereka mendapatkan petunjuk, maka saya akan mendapatkan petunjuk, dan jika mereka sesat saya juga sesat'. Ingatlah! Hendaknya salah seorang di antara kalian menguatkan dirinya, yaitu ketika manusia kufur, namun dia tidak kufur." (Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al Kabir no. 8765)

Jalan Keluar dari Penyimpangan

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَاريةَ رَضي الله عنه قَالَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ   وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Dari Abu Najih Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan kami nasehat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat.” Beliau bersabda, “Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena barang siapa yang hidup di antara kalian (sepeninggalku), maka ia akan menyaksikan banyak perselisihan. Oleh karena itu, hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat.“ (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dia (Tirmidzi) berkata, “Hasan shahih”)

Syarh/penjelasan

Kalimat, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan kami nasehat (mau’izhah)”.

Mau’izhah artinya mengingatkan disertai targhib (dorongan) dan tarhib (ancaman). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam memberikan nasihat melihat waktu yang tepat dan tidak terlalu sering agar para sahabat tidak bosan. Dalam memberikan nasihat, Beliau juga tidak secara panjang lebar, dan kata-kata Beliau dalam nasihatnya menyentuh hati. Di samping itu, Beliau mengikuti Al Qur’an dalam memberikan nasihat, yaitu menyertakan targhib dengan tarhib, sehingga tidak membuat putus asa manusia dan tidak membuat manusia berani melakukan maksat. Sebagian kaum salaf berkata,

إنَّ الْفَقِيهَ كُلُّ الْفَقِيهِ الَّذِي لَا يُؤَيِّسُ النَّاسَ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ وَلَا يُجَرِّئُهُمْ عَلَى مَعَاصِي اللَّهِ

“Sesungguhnya orang yang betul-betul faqih adalah orang yang tidak membuat putus asa manusia dari rahmat Allah dan tidak membuat mereka berani mengerjakan maksiat kepada Allah.”

Sabda Beliau “bertakwa kepada Allah”, maksudnya adalah mencari perlindungan dari azab Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini merupakan hak Allah Azza wa Jalla. Dan tidak ada wasiat yang paling mulia dan paling lengkap melebihi wasiat untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla (lihat juga surat An Nisaa’: 131).

Sabda Beliau “tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian” maksudnya tunduk dan patuh kepada para pemimpin baik adil maupun zalim, yakni dengarkanlah apa yang mereka katakan dan jauhilah apa yang mereka larang, meskipun yang memimpin kalian seorang budak. Tentunya jika mereka tidak memerintahkan bermaksiat. jika ternyata memerintahkan bermaksiat, maka tidak boleh ditaati. Perintah menaati ulil amri disebutkan di surat An Nisaa’ ayat 59:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa’: 59)

Pada ayat tersebut, taat kepada ulil amri tidak diberi tambahan “taatilah” sebagaimana ketika memerintahkan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hal itu karena taat kepada ulil amri tidak mutlak.

Ibnu Rajab Al Hanbaliy berkata, “Adapun mendengar dan taat kepada pemerintah kaum muslimin, maka di dalamnya terdapat kebahagiaan di dunia. Dengannya, maslahat kehidupan hamba menjadi tertib, dan dengannya pula mereka bisa menampakkan agama mereka dan menaati Tuhan mereka.”

Sabda Beliau, “Karena barang siapa yang hidup di antara kalian (sepeninggalku), maka ia akan menyaksikan banyak perselisihan. Oleh karena itu, hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk” yakni siapa saja yang diberi umur panjang, maka ia akan melihat banyak perselisihan baik dalam masalah akidah, ibadah, manhaj (jalan hidup), dsb. yang membuat seseorang kebingungan untuk memilih mana jalan yang harus ia ikuti, terlebih karena masing-masing golongan yang ada seakan-akan di atas kebenaran, bahkan berdalil meskipun sebenarnya salah dalam berdalil.

Imam Syathibiy rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, wajib bagi orang yang memperhatikan dalil syar’i untuk melihat apa yang difahami generasi terdahulu, dan apa yang mereka kerjakan, karena hal itu lebih membuatnya dekat dengan kebenaran.” (Al Muwafaqat 3/77)

Ternyata apa yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sampaikan memang benar, yakni benar-benar terjadi perselisihan yang banyak di zaman para sahabat, terlebih di zaman setelahnya dst. Namun demikian, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak membiarkan begitu saja umatnya kebingungan, bahkan Beliau memberikan jalan keluar saat kita menghadapi kondisi tersebut, yaitu dengan berpegang dengan sunnah (jalan yang ditempuh) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat menyaksikan keadaan yang beraneka ragam tersebut; meskipun menyelisihi kebanyakan orang. Tidak sebatas itu, Beliau juga menyuruh kita mengikuti para khalifah (pengganti) Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam yang rasyidin (mendapat petunjuk), yang tidak lain adalah para sahabat Beliau, terutama khalifah yang empat; Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu 'anhum. Hal itu, karena bisa saja di antara golongan-golongan itu berdalih dengan ayat atau hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, namun dalam memahaminya tidak seperti yang dipahami Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menambahkan dengan sunnah (jalan yang ditempuh atau pemahaman) para sahabat, yakni apakah para sahabat memahami seperti itu ketika mendengar ayat atau hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, terutama pada ayat atau hadits-hadits yang membutuhkan penjelasan tambahan karena masih samar. Oleh karena itu Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam mukaddimah kitab tafsirnya:

“Apabila ada seseorang yang bertanya, “Apa cara terbaik dalam menafsirkan (Al Qur’an)?” Jawab, “Sesungguhnya cara terbaik dalam hal ini adalah menafsirkan Al Qur’an dengan (penjelasan) Al Quran, yang masih belum jelas di ayat ini mungkin dijelaskan di ayat lain. Jika kamu tidak menemukan (penjelasan di ayat lain), maka dengan melihat As Sunnah, karena ia adalah pensyarah Al Qur’an dan penjelasnya…dst.” Kemudian Ibnu Katsir melanjutkan, “Jika kita tidak menemukan (penjelasannya) dalam Al Qur’an dan As Sunnah, maka kita melihat pendapat para sahabat, karena mereka lebih tahu tentang hal itu…dst.” Ibnu Katsir berkata lagi, “Jika kamu tidak menemukan dalam Al Qur’an, As Sunnah juga dari para sahabat, maka dalam hal ini para imam melihat pendapat para taabi’iin…dst.”

Dengan cara seperti ini, yakni merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman generasi pertama Islam (As Salafush Shaalih), kita dapat selamat dari perselisihan. Dan oleh karena itu, seseorang harus memahami manhaj (cara beragama) generasi terdahulu yang merupakan manhaj Ahlussunnah wal jama’ah, silahkan lihat di sini: http://wawasankeislaman.blogspot.com/p/aqidah_5.html

Pada hadits di atas juga kita diperintahkan menjauhi bid’ah, yakni mengada-ada dalam agama yang dibawa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Hadits ini merupakan dalil terlarangnya berbuat bid’ah. Oleh karena itu, jika seorang yang berbuat bid’ah berkata, « Bukankah tidak ada larangannya saya mengerjakan ibadah ini ? » Maka jawablah dengan hadits ini, yakni Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang semua bid’ah dalam agama. Karena jika disebutkan satu persatu tidak mungkin, disebabkan banyaknya jumlah bid’ah.

Hadits di atas juga menerangkan bahwa bid’ah dalam agama semuanya sesat, tidak ada yang hasanah (baik).

Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Maraji’: Al Ajwibah Al Atsariyyah, Maktabah Syamilah versi 3.45, Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an (Marwan bin Musa), Firqah-Firqah Sesat (Ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat), Untaian Mutiara Hadits (Marwan bin Musa), dll.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger