Kisah Ali bin Abi Thalib (1)

Jumat, 15 November 2013
بسم الله الرحمن الرحيم
Kisah Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu 'anhu (1)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini kisah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Siapakah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu?
Dia sebelumnya adalah seorang anak kecil yang pertama beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dia adalah seorang anak yang tumbuh di bawah asuhan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dia adalah seorang yang menempati tempat tidur Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika Beliau hendak berhijrah.
Dia adalah suami wanita pemimpin surga, yaitu Fathimah binti Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dia adalah ayah Al Hasan dan Al Husain; dua orang pemimpin pemuda penghuni surga.
Dia adalah salah satu orang yang dijamin masuk surga.
Dia adalah seorang mujahid, seorang yang zuhud, wara', Ahli Ibadah, berilmu dan berwawasan luas.
Dialah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Dan sekarang kita akan mempelajari perjalanan kehidupannya.
Ali bin Abi Thalib diasuh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah dewasa, Beliau ingin membalas jasa pamannya, Abu Thalib dan meringankan bebannya. Oleh karena itu, Beliau membawa Ali bin Abi Thalib untuk diasuhnya, sedangkan Hamzah membawa Ja'far bin Abi Thalib untuk diasuhnya.
Ketika Ali bin Abi Thalib tinggal di bawah asuhan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka mulailah ia terpengaruh dengan akhlak Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karenanya, ia tidak pernah meminum khamr, tidak pernah sujud kepada berhala, dan tidak suka perkara sia-sia seperti yang dilakukan anak-anak yang lain, bahkan ia tumbuh di atas akhlak yang mulia dan sifat yang baik.
Saat cahaya Islam muncul
Ketika dunia berada dalam kegelapan, Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Malaikat Jibril turun kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membawa wahyu agar Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi Nabi dan Rasul akhir zaman.
Setelah Beliau menerima wahyu, maka Beliau segera mendatangi istrinya dan mengajaknya masuk Islam, maka ia segera masuk Islam. Selanjutnya, Beliau juga mengajak anak asuhnya, yaitu Ali bin Abi Thalib yang usianya baru 8 tahun untuk masuk Islam, lalu ia pun masuk Islam.
Pada waktu itu, saat tiba waktu shalat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke perbukitan Mekkah, lalu Ali keluar mengikutinya sambil bersembunyi dari ayahnya Abu Thalib dan semua pamannya, lalu Beliau bersama Ali shalat di sana. Ketika sore hari tiba, mereka berdua pulang. Suatu ketika Abu Thalib mengetahui keadaan mereka berdua, akhirnya ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai keponakanku, apa agama yang aku lihat kamu memeluknya?” Beliau menjawab, “Wahai paman, ini adalah agama Allah, agama para malaikat-Nya, dan agama para rasul-Nya, serta agama nenek moyang kita, yaitu Ibrahim. Allah mengutusku sebagai Rasul-Nya kepada hamba-hamba Allah. Engkau wahai paman, adalah orang yang lebih berhak untuk aku berikan sikap tulus, lebih berhak aku ajak kepada petunjuk, lebih berhak mengikuti ajakanku serta membantuku di atasnya.” Lalu Abu Thalib berkata, “Wahai keponakanku, sesungguhnya aku tidak sanggup meninggalkan agama nenek moyangku yang mereka berada di atasnya. Akan tetapi, demi Allah, engkau tidak akan mendapatkan sesuatu yang engkau khawatirkan selama aku masih ada.”
Sebagian ahli sejarah menyebutkan, bahwa Abu Thalib juga berkata kepada Ali radhiyallahu ‘anhu, “Wahai anakku, agama apa yang engkau berada di atasnya?” Ali berkata, “Wahai ayahku, aku beriman kepada Allah, kepada Rasulullah, aku benarkan apa yang Beliau bawa, aku shalat bersamanya karena Allah, dan aku mengikutinya.” Mereka juga menyebutkan, bahwa Abu Thalib berkata kepadanya, “Sesungguhnya dia tidak mengajak kepadamu selain kepada kebaikan, maka tetaplah berada di atasnya.” (As Sirah karya Ibnu Hisyam 1/209-210).
Sikap Ali terhadap patung dan berhala kaum musyrik
Setelah Ali radhiyallahu ‘anhu merasakan manisnya keimanan dan tauhid, maka ia ingin manusia yang lain juga sama merasakan keimanan dan tauhid, serta ingin melepaskan manusia dari kehambaan kepada patung dan berhala menuju kehambaan kepada Allah Azza wa Jalla. Oleh karenanya, ia menyempatkan diri untuk menghancurkan patung itu.
Dari Abul Hayyaj Al Asadiy ia berkata: Ali bin Abi Thalib berkata kepadaku, “Maukah kamu aku kirim untuk sesuatu seperti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengirimku, yaitu agar engkau tidak membiarkan patung kecuali engkau hancurkan dan tidak membiarkan kubur yang meninggi kecuali engkau ratakan.” (HR. Muslim)
Pengorbanan Ali bin Abi Thalib
Ali radhiyallahu ‘anhu merasakan gangguan dari kaum musyrik meskipun usianya masih muda, akan tetapi itu semua tidaklah membuatnya sedih melebihi sedihnya ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diganggu. Hal itu karena kecintaannya yang begitu besar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan ia rela menebus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dirinya.
Ketika gangguan yang ditimpakan kaum musyrik kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya semakin dahsyat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan para sahabatnya berhijrah ke Madinah, lalu mereka pun berhijrah secara sembunyi-sembunyi agar kaum musyrik tidak mengetahui.
Setelah para sahabat berhijrah, Mekkah pun menjadi sepi dari kaum mukmin, dan tidak tersisa kecuali sebagian kecil saja yang ditahan oleh orang-orang Quraisy, dan yang masih berada di Mekkah ketika itu adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunggu izin dari Allah Azza wa Jalla untuk berhijrah.
Pada malam hari menjelang hijrah, ternyata kaum musyrik sudah mengepung rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuhnya. Ketika Beliau melihat kondisi mereka, Beliau menyuruh Ali untuk menempati tempat tidurnya, dan Beliau memberitahukan, bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada diri Ali radhiyallahu ‘anhu. Selanjutnya Beliau menyuruh Ali agar mengembalikan semua barang titipan dan amanah kepada pemiliknya. Sungguh sangat mengherankan, kaum Quraisy yang memerangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dakwahnya, bahkan sampai hendak membunuhnya, akan tetapi salah seorang di antara mereka ketika memiliki barang berharga yang hendak ia jaga, maka ia titipkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.  
Selanjutnya Allah menjadikan musuh yang mengepung rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertidur, lalu Beliau keluar di hadapan mereka, kemudian mengambil debu dan menaburkannya ke atas kepala mereka sambil Beliau membaca firman Allah Ta’ala, “Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (Terj. QS. Yaasiin: 9)
Kemudian Beliau pergi mendatangi rumah Abu Bakar yang telah mempersiapkan dirinya untuk hijrah bersamanya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu datang seseorang yang tidak ikut mengepung ketika itu dan berkata kepada para pengepung, “Apa yang sedang kalian tunggu di sini?” Mereka menjawab, “Muhammad.” Ia berkata, “Semoga Allah membuat kalian kecewa. Demi Allah, Muhammad telah keluar kepada kalian, dan dia tidaklah meninggalkan kalian kecuali setelah menaburi kepala kalian dengan debu dan pergi memenuhi keperluannya. Tidakkah kalian melihat apa yang menimpa kalian?” Maka masing-masing mereka meletakkan tangannya di atas kepalanya, ternyata ada debu, lalu mereka berusaha mengintai dan ternyata mereka melihat ada seorang yang tidur di atas kasur. Mereka akhirnya masuk dan membuka selimut, ternyata mereka temukan Ali bin Abi Thalib, lalu mereka bertanya kepadanya tentang keberadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Ali berkata, “Saya tidak tahu, Beliau telah meninggalkanku di sini untuk mengembalikan amanah kepada kalian.”
Mereka berkata, “Sungguh, kalau begitu laki-laki yang memberitahukan telah keluarnya Muhammad (dari rumahnya) adalah benar.”
Setelah berlalu beberapa hari, maka Ali radhiyallahu ‘anhu keluar dari Mekkah untuk menyusul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mempercepat langkah di malam hari dan bersembunyi di siang hari, sehingga ia sampai di Madinah, sedangkan kakinya bengkak karenanya. Ketika Ali telah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Beliau menunjukkan rasa sayang kepadanya, bangkit memeluknya dan mendoakannya.
Ketika Ali telah berada di Madinah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkannya dengan Fathimah Az Zahra’, puteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan daripadanya lahir anak yang bernama Al Hasan, Al Husain, Ummu Kultsum, dan Zainab. Dengan pernikahannya ini, maka semakin dekatlah Ali di hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pada saat menjalin persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, maka tindakan yang Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan setelah membangun masjid adalah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, yang demikian untuk menguatkan sisi internal kaum muslim dan agar kaum Anshar membantu kaum muhajirin yang telah meninggalkan rumah dan harta mereka di jalan Allah demi menegakkan kalimat-Nya.
Tidak ada kaum muhajirin melainkan telah memiliki saudara dari kalangan kaum Anshar selain Ali radhiyallahu ‘anhu, Beliau tidak mempersaudarakan dengan seorang pun. Hal itu, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganggapnya saudaranya di dunia dan akhirat. Sungguh besar kedudukan Ali bin Abi Thalib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintainya dari lubuk hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
عَلِيٌّ مِنِّي وَأَنَا مِنْ عَلِيٍّ، وَلَا يُؤَدِّي عَنِّي إِلَّا أَنَا أَوْ عَلِيٌّ
“Ali bagian dariku, dan aku bagian dari Ali, dan tidak ada yang menunaikan kewajibanku kecuali aku sendiri atau Ali.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad, dihasankan oleh Al Albani)
Bersambung...
Wallahu a'lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji': As-habur Rasul lil Athfaal (Mahmud Al Mishri), Sirah Ibnu Hisyam, Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.

Tafsir QS. Ar Ra’d: 11

Rabu, 30 Oktober 2013
بسم الله الرحمن الرحيم
Tafsir QS. Ar Ra’d: 11
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Allah Azza wa Jalla berfirman,
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ  
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ra’d: 11)
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Jahm dari Ibrahim, ia berkata, “Allah mewahyukan kepada salah seorang Nabi dari para nabi Bani Israil, yang isinya, “Katakan kepada kaummu, “Sesungguhnya tidak ada penduduk suatu kampung dan penghuni suatu rumah yang sebelumnya berada di atas ketaatan kepada Allah, lalu beralih kepada maksiat, melainkan akan berubah keadaan yang sebelumnya mereka senangi kepada keadaan yang mereka benci.” Ia berkata, “Hal ini dibenarkan dalam kitabullah yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.“ (QS. Ar Ra’d: 11)
Komentar para mufassir
(1) Menurut As Samarqandiy, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah, bahwa Allah tidak akan merubah kenikmatan yang ada pada suatu kaum yang Allah berikan kepada mereka, sampai mereka merubah, yakni merubah diri mereka dengan meninggalkan sikap syukur[i].
Al Faqih Abul Laits rahimahullah berkata, “Dalam ayat tersebut terdapat peringatan kepada semua manusia agar mengenali nikmat yang Allah berikan kepada mereka dan mensyukurinya agar kenikmatan itu tidak hilang dari mereka.”
(2) Menurut Ibnu Abi Zamanain, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Allah apabila mengutus seorang rasul kepada suatu kaum, lalu mereka mendustakannya, maka Allah akan membinasakan mereka[ii].
(3) Menurut Abu Bakr Al Jaza’iri, maksud firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah Allah tidak merubah keadaan suatu kaum yang sebelumnya berada dalam afiyah (keselamatan) dan nikmat kepada musibah dan azab, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Ia juga berkata tentang maksud ayat di atas, “Allah Ta’ala memberitahukan tentang salah satu sunnah (ketetapan) di antara sunnah-sunnah-Nya terhadap makhluk-Nya yang terus berlaku, yaitu, bahwa Dia tidaklah menyingkirkan nikmat yang Dia karuniakan kepada suatu kaum, baik berupa keselamatan, keamanan, maupun kelapangan yang disebabkan keimanan dan amal saleh mereka sampai mereka merubah keadaan mereka yang sebelumnya bersih kemudian dikotori oleh dosa dan tenggelam di dalam maksiat akibat berpaling dari kitab Allah, meremehkan syariat-Nya, menolak batasan-Nya, tenggelam dalam syahwat, dan menempuh jalan-jalan kesesatan.”
 (4) Menurut Al Wahidiy, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Dia tidak akan mencabut kenikmatan yang ada pada suatu kaum sampai mereka mengerjakan kemaksiatan kepada-Nya.
(5) Menurut As Sam’ani, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Dia tidak akan merubah sedikit pun nikmat yang diberikan kepada suatu kaum, sampai mereka merubah keadaan diri mereka dengan bermaksiat.
(6) Menurut Al Baghawi, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum yang berada dalam keselamatan dan kenikmatan, sampai mereka merubah keadaan diri mereka dari keadaan yang baik tersebut lalu berbuat maksiat kepada Tuhan mereka.
(7) Menurut Ibnu ‘Athiyyah, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Allah memberitahukan, Dia tidaklah merubah keadaan suatu kaum dengan menimpakan azab dan musibah sampai terjadi tindak kemaksiatan dari mereka dan mereka merubah ketaatan yang diperintahkan (dengan kemaksiatan).
(8) Menurut Ibnul Jauziy, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Allah tidak akan mencabut nikmat-nikmat-Nya dari mereka sampai mereka merubah keadaan diri mereka dengan mengerjakan kemaksiatan kepada-Nya.
(9) Menurut Ar Raziy, pendapat para mufassir menunjukkan, bahwa maksudnya, Allah tidak akan merubah keadaan mereka yang berada dalam kenikmatan dengan menggantinya menurunkan siksa, kecuali jika muncul dari mereka kemaksiatan dan kerusakan.
(10) Menurut Al Qurthubiy, tentang firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ bahwa Allah Ta’ala memberitahukan di ayat ini, bahwa Dia tidaklah merubah keadaan suatu kaum sampai mereka melakukan perubahan, baik dari kalangan mereka, pengawas mereka, atau dari salah seorang mereka karena suatu sebab, sebagaimana Allah merubah keadaan orang-orang yang kalah pada perang Uhud karena sebab sikap berubah yang dilakukan oleh para pemanah, dan contoh-contoh lainnya yang ada dalam syariat. Maksud ayat tersebut bukanlah berarti tidak ada siksa yang turun kepada seseorang kecuali setelah didahului oleh dosa, bahkan bisa saja musibah turun karena dosa yang lain sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, “Apakah kita akan binasa, sedangkan di tengah-tengah kita masih banyak orang yang saleh?” Beliau menjawab, “Ya, jika keburukan (kefasikan) banyak terjadi.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Zainab binti Jahsy, Shahihul Jami’ no. 7176), wallahu a’lam.
(11) Menurut An Nasafi, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Allah tidak merubah keadaan suatu kaum yang sebelumnya berada dalam keselamatan dan kenikmatan sampai mereka merubah keadaan diri mereka dengan banyak melakukan kemaksiatan.
(12) Menurut Al Khazin, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum yang berada dalam keselamatan dan kenikmatan yang Dia berikan kepada mereka sampai mereka mereka merubah keadaan diri mereka dari yang keadaan sebelumnya baik, beralih kepada maksiat dan mengingkari nikmat-nikmat-Nya, ketika itulah turun siksa-Nya kepada mereka.
(13) Menurut Asy Syaukani, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Allah tidak akan mencabut nikmat yang Dia berikan kepada suatu kaum sampai mereka merubah keadaan diri mereka kepada kebaikan dan amal saleh atau kepada fitrah yang Allah ciptakan mereka di atasnya.
(14) Menurut Asy Syinqithi maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Allah tidak akan mencabut nikmat yang Dia karuniakan kepada suatu kaum sampai mereka merubah ketaatan dan amal saleh yang mereka lakukan. Makna seperti ini juga dijelaskan di tempat yang lain dalam Al Qur’an, misalnya firman Allah Ta’ala, “(siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Terj. QS. Al Anfaal: 53) dan firman Allah Ta’ala, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Terj. QS. Asy Syuuraa: 30).
(15) Menurut Az Zuhailiy, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Allah tidak merubah keadaan yang ada pada suatu kaum berupa kenikmatan dan keselamatan, lalu Dia hilangkan hal itu dari mereka dan menghukum mereka kecuali karena mereka merubah diri mereka dengan melakukan kezaliman, kemaksiatan, kerusakan, mengerjakan keburukan dan dosa yang merobohkan bangunan masyarakat dan menghancurkan eksistensi umat. Imam Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Bakar Ash Shiddiq ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya manusia apabila melihat orang yang berbuat zalim, lalu mereka tidak mencegahnya, maka hampir saja Allah meratakan azab kepada mereka.”
Menurutnya juga, bahwa di ayat ini Allah Ta’ala menerangkan karunia-Nya dan keadilan-Nya, yaitu bahwa Dia tidak menyiksa tanpa adanya dosa sebelumnya. 
(16) Menurut As Sa’diy, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Allah tidak akan merubah keadaan yang ada pada suatu kaum, berupa kenikmatan, ihsan, dan kehidupan yang menyenangkan sampai mereka merubah keadaan diri mereka dengan berpindah dari keimanan kepada kekafiran, dari ketaatan kepada kemaksiatan, atau dari mensyukuri nikmat Allah kepada mengkufurinya, sehingga Allah mencabut kenikmatan itu dari mereka. Demikian pula, ketika manusia merubah keadaan diri mereka dari maksiat kepada ketaatan kepada Allah, maka Allah akan merubah keadaan mereka dari kesengsaraan kepada kebaikan, kesenangan, kegembiraan, dan rahmat.”
Kesimpulan QS. Ar Ra’d: 11
1.     Keadilan Allah Ta’ala, bahwa Dia tidak memberikan hukuman tanpa adanya dosa.
2.     Kemaksiatan merupakan penyebab dicabutnya nikmat sebagaimana ketaatan merupakan penyebab tetapnya nikmat.
3.     Musibah dan tercabutnya nikmat bisa saja terjadi karena tindakan kemaksiatan orang lain ketika orang yang mampu mengingkari malah membiarkan.
Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Maktabah Syamilah versi 3.45, Tafsir Al Qur’anil Azhiim (Isma’il bin Katsir), Aisarut Tafasir (Abu Bakr Al Jaza’iriy), An Nukat wal ’Uyun (Abul Hasan Ali Al Mawardi), Bahrul Ulum (Abul Laits As Samarqandiy), Tafsir Al Qur’anil ’Aziz (Ibnu Abi Zamanain), Lathaa’iful Isyarat (Abdul Karim Al Qusyairiy), Al Wajiz fii Tafsiril Kitabil ’Aziz (Abul Hasan Al Wahidi), Tafsirul Qur’an (Abul Muzhaffar As Sam’ani), Ma’alimut Tanzil Fii Tafsiril Qur’an (Abu Muhammad Al Baghawi), Al Muharrar Al Wajiz fii Tafsiril Kitabil ’Aziz (Ibnu Athiyyah Al Andalusi), Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an (Abu Yahya Marwan), Zaadul Masiir (Ibnul Jauziy), Mafaatihul Ghaib (Fakhruddin Ar Raaziy), Al Jaami’ Liahkamil Qur’an (Abu Abdillah Syamsuddin Al Qurthubi), Mausu’ah Haditsiyyah Mushaghgharah (Markaz Nurul Islam Liabhatsil Qur’ani was Sunnah), Madarikut Tanzil wa Haqaa’iqut Ta’wil (Abul Barakat An Nasafi), Lubabut ta’wil fii Ma’anit Tanzil (Alauddin Ali Al Khazin), Ad Durrul Mantsur fit tafsir bil Ma’tsur (jalaluddin As Suyuthi), Fathul Qadir (M. Ali Asy Syaukani), Adhwa’ul Bayan fii Idhahil Qur’ani bil Qur’an (Muhammad Al Amin Asy Syinqithi), At Tafsirul Munir fil ’Aqidah wasy Syari’ah wal Manhaj (Dr. Wahbah Az Zuhailiy), Taisirul Karimir Rahman fi Tafsir Kalaamil Mannan (Abdurrahman As Sa’diy), dll. 


[i] Dengan demikian, hal ini seperti pada kisah kaum Saba’ yang sebelumnya berada dalam kemakmuran dan kenikmatan, tetapi ketika mereka bersikap kufur, maka Allah ganti kenikmatan itu dengan musibah dan azab (lihat QS. Saba’: 15-21).
[ii] Oleh karenanya, pada lanjutan ayat tersebut, Allah berfirman, “Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,” yakni azab. “Maka tidak ada yang dapat menolaknya;” yakni menolak azab itu selain Allah. Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Maka larilah kepada Allah (dengan kembali menaati-Nya). Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (Terj. QS. Adz Dzaariyat: 50) Digunakan kata “fafirru” (maka larilah kepada Allah) karena tidak ada jalan untuk meloloskan diri dari azab-Nya kecuali dengan kembali kepada-Nya. 

Khutbah Idul Adh-ha (Renungan Terhadap Keadaan Kita)

Senin, 07 Oktober 2013
بسم الله الرحمن الرحيم
Khutbah Idul Adh-ha
(Renungan Terhadap Keadaan Kita)
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ :  
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Laailaahailallahu wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.
Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat
Sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!
Kita bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala atas nikmat-nikmat-Nya yang terus Dia limpahkan kepada kita. Di antara nikmat-nikmat itu, yang paling besarnya adalah nikmat beragama Islam dan nikmat dimudahkannya kita oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala untuk dapat menjalankan ajaran Islam, dimana dengan nikmat ini seseorang dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat; di dunia mendapatkan petunjuk dan di akhirat bisa masuk ke dalam surga. Sebaliknya orang yang berpaling dari Islam, maka ia akan hidup dalam kebingungan dan akan menjadi orang yang sengsara di akhiratnya, dan inilah kerugian yang besar.
Agama Islam –wal hamdulillah- cocok di setiap zaman, di setiap tempat, dan di setiap generasi. Bangsa yang berpegang kepadanya dengan mengamalkannya, maka pasti berada dalam kebaikan dan kemajuan.

Khutbah Idul Adh-ha 1434 H

بسم الله الرحمن الرحيم
Khutbah Idul Adh-ha 1434 H
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ :  
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Laailaahailallahu wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.
Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat
Sidang shalat ‘Ied yang berbahagia!
Kita bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala atas nikmat-nikmat-Nya yang terus Dia limpahkan kepada kita. Di antara nikmat-nikmat itu, yang paling besarnya adalah nikmat beragama Islam dan nikmat dimudahkannya kita oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala untuk dapat menjalankan ajaran Islam, dimana dengan nikmat ini seseorang dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat; di dunia mendapatkan petunjuk dan di akhirat bisa masuk ke dalam surga.
Di antara ajaran Islam pada tanggal 10 Dzulhijjah adalah melakukan shalat Idul Adh-ha dan berkurban, dimana hal ini merupakan bentuk syukur kita kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah mengaruniakan kepada kita nikmat yang banyak. Allah Azza wa Jalla berfirman,
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ- فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak[i].--Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah." (QS. Al Kautsar: 1-2)
Firman Allah, "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah " yakni dirikanlah shalat baik yang fardhu maupun yang sunat dengan ikhlas karena Tuhanmu. Termasuk shalat di sini adalah shalat Idul Adh-ha. Demikian pula Allah memerintahkan kita berkurban dengan menyebut nama-Nya saja. Hal ini diperintahkan-Nya untuk menyelisihi kaum musyrikin yang beribadah kepada selain Allah dan menyembelih hewan atas nama selain-Nya.

Tetap Berpegang Dengan Islam di Era Globalisasi

Rabu, 02 Oktober 2013
بسم الله الرحمن الرحيم

Tetap Berpegang Dengan Islam di Era Globalisasi

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, Amma ba'du:
Di era globalisasi ini, budaya-budaya barat "non muslim" mudah masuk ke dalam negeri yang dikenal dengan keramahannya; yaitu Negara Indonesia. Negara Indonesia sebagai Negara yang mayoritas muslim, dimana penduduknya akrab dengan agamanya dan nilai-nilainya, namun sekarang ini nilai-nilai tersebut sudah mulai terkikis.
Melalui berbagai media, budaya-budaya barat mulai menguasai para pemuda muslim. Oleh karenanya, banyak para pemuda atau pemudi muslim yang mulai melepas syiar agamanya, bahkan yang menonjol darinya adalah syiar orang-orang non muslim. Ada di antara mereka yang menamai dirinya dengan nama-nama orang kafir, ada yang menunjukkan penampilan orang-orang kafir, ada pula yang menghidupkan budaya-budaya dan gaya hidup mereka, dan sebagainya. Sepertinya, apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam benar-benar telah terjadi, Beliau bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ *
“Sungguh, kamu akan mengikuti jejak orang-orang sebelummu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga jika seandainya mereka menempuh jalan ke lubang dhabb (binatang kecil seperti biawak), tentu kamu akan mengikuti juga.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Yahudi dan Nasrani (yang akan diikuti)?” Beliau menjawab, “Siapa lagi?” (HR. Bukhari dan Muslim)
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger