بسم الله الرحمن الرحيم
Terjemah Bulughul Maram (24)
Segala puji bagi
Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada
keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
Kiamat, amma ba’du:
Berikut lanjutan terjemah Bulughul Maram karya
Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan
buku ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Dalam menyebutkan
takhrijnya, kami banyak merujuk kepada dua kitab; Takhrij dari cetakan Darul
‘Aqidah yang banyak merujuk kepada kitab-kitab karya Syaikh M. Nashiruddin
Al Albani rahimahullah, dan Buluughul Maram takhrij Syaikh Sumair Az
Zuhairiy –hafizhahullah- yang kami singkat dengan ‘TSZ’.
كِتَابُ اَلصَّلَاةِ
Kitab Shalat
بَابُ
صَلَاةِ
اَلِاسْتِسْقَاءِ
Bab
Shalat Istisqa’
537-عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: , خَرَجَ
اَلنَّبِيُّ r
مُتَوَاضِعًا, مُتَبَذِّلًا, مُتَخَشِّعًا, مُتَرَسِّلًا, مُتَضَرِّعًا, فَصَلَّى
رَكْعَتَيْنِ, كَمَا يُصَلِّي فِي اَلْعِيدِ, لَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ - رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ
اَلتِّرْمِذِيُّ, وَأَبُو عَوَانَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ
537.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam keluar (dari rumah) dengan sikap tawadhu’, memakai pakaian sederhana,
tenang, tidak tergesa-gesa sambil merendahkan diri, Beliau shalat dua rakaat
sebagaimana dalam shalat ‘Ied, dan Beliau tidak berkhutbah seperti khutbahmu
ini.” (Diriwayatkan oleh lima orang dan dishahihkan oleh Tirmidzi, Abu ‘Awanah
dan Ibnu Hibban)[i]
538- وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: , شَكَا
اَلنَّاسُ إِلَى رَسُولِ اَللَّهِ r قُحُوطَ الْمَطَرِ, فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ,
فَوُضِعَ لَهُ فِي اَلْمُصَلَّى, وَوَعَدَ اَلنَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ,
فَخَرَجَ حِينَ بَدَا حَاجِبُ اَلشَّمْسِ, فَقَعَدَ عَلَى اَلْمِنْبَرِ, فَكَبَّرَ
وَحَمِدَ اَللَّهَ, ثُمَّ قَالَ: "إِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدَبَ دِيَارِكُمْ,
وَقَدْ أَمَرَكُمْ اَللَّهُ أَنْ تَدْعُوَهُ, وَوَعَدَكُمْ أَنْ يَسْتَجِيبَ
لَكُمْ, ثُمَّ قَالَ: اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ, اَلرَّحْمَنِ
اَلرَّحِيمِ, مَالِكِ يَوْمِ اَلدِّينِ, لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ يَفْعَلُ مَا
يُرِيدُ, اَللَّهُمَّ أَنْتَ اَللَّهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ
اَلْغَنِيُّ وَنَحْنُ اَلْفُقَرَاءُ, أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ, وَاجْعَلْ مَا
أَنْزَلْتَ قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ" ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ, فَلَمْ
يَزَلْ حَتَّى رُئِيَ بَيَاضُ إِبِطَيْهِ, ثُمَّ حَوَّلَ إِلَى اَلنَّاسِ
ظَهْرَهُ, وَقَلَبَ رِدَاءَهُ, وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ, ثُمَّ أَقْبِلَ عَلَى
اَلنَّاسِ وَنَزَلَ, وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, فَأَنْشَأَ اَللَّهُ سَحَابَةً,
فَرَعَدَتْ, وَبَرَقَتْ, ثُمَّ أَمْطَرَتْ -
رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَقَالَ: "غَرِيبٌ, وَإِسْنَادُهُ
جَيِّدٌ"
538.
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkata, “Orang-orang mengeluh kepada
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena hujan tidak kunjung turun, maka
Beliau menyuruh agar disiapkan mimbar, lalu ditaruh di tanah lapang untuk
Beliau, Beliau pun memberitahukan orang-orang untuk hadir pada hari ini atau
itu, maka Beliau keluar ketika sudah tampak alis matahari, kemudian duduk di
atas mimbar bertakbir dan memuji Allah, lalu bersabda, “Sesungguhnya kalian
mengeluhkan tentang kekeringan di daerah kalian, padahal Allah telah menyuruh
kamu berdoa dan Dia berjanji akan mengabulkan”, lalu Beliau mengucapkan,
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ, اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ, مَالِكِ يَوْمِ
اَلدِّينِ, لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ, اَللَّهُمَّ أَنْتَ
اَللَّهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ اَلْغَنِيُّ وَنَحْنُ اَلْفُقَرَاءُ,
أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ, وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى
حِينٍ
“Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang, Yang Menguasai hari pembalasan, tidak ada Tuhan yang
berhak disembah kecuali Allah, Dia berbuat apa yang diinginkan-Nya. Ya Allah,
Engkau adalah Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau,
Engkau Maha Kaya sedangkan kami semua miskin, turunkan kepada kami hujan dan
jadikanlah apa yang Engkau turunkan kepada kami sebagai penguat dan bisa menyambung
kebutuhan hingga waktu yang ditentukan.” Beliau kemudian mengangkat kedua tangannya dan tetap
begitu hingga tampak putih kedua ketiaknya, kemudian membalikkan punggungnya ke
arah orang-orang dan membalikkan selendangnya sambil mengangkat kedua tangannya,
setelah itu menghadap kepada manusia lalu turun dan melakukan shalat dua rakaat,
maka Allah memunculkan awan, lalu terdengar guruh dan tampak kilat, kemudian
hujan pun turun.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, ia berkata “Gharib namun
isnadnya bagus”)[ii]
539- وَقِصَّةُ اَلتَّحْوِيلِ فِي "اَلصَّحِيحِ" مِنْ
حَدِيثِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْدٍ، وَفِيهِ: , فَتَوَجَّهَ إِلَى اَلْقِبْلَةِ, يَدْعُو,
ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ, جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ -
539.
Kisah pembalikkan selendang disebutkan juga dalam kitab shahih dari hadits
Abdullah bin Zaid, yang di situ disebutkan, “Beliau pun menghadap ke kiblat
seraya berdoa lalu shalat dua rakat, dengan menjaharkan (mengeraskan) bacaan.”[iii]
540- وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ مِنْ مُرْسَلِ أَبِي جَعْفَرٍ
اَلْبَاقِرِ: وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ؛ لِيَتَحَوَّلَ اَلْقَحْطُ
540.
Sedangkan dalam riwayat Daruquthni dari mursal Abu Ja’far Al Baqir disebutkan,
“Beliau pindahkan selendangnya agar kemarau berpindah (berganti).”[iv]
541-وَعَنْ أَنَسٍ t , أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ اَلْمَسْجِدَ يَوْمَ
اَلْجُمُعَةِ, وَالنَّبِيُّ r قَائِمٌ يَخْطُبُ. فَقَالَ: يَا رَسُولَ
اَللَّهِ, هَلَكَتِ اَلْأَمْوَالُ, وَانْقَطَعَتِ اَلسُّبُلُ, فَادْعُ اَللَّهَ] عَزَّ وَجَلَّ] يُغِيثُنَا, فَرَفَعَ يَدَيْهِ, ثُمَّ قَالَ:
"اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا, اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا..." - فَذَكَرَ اَلْحَدِيثَ، وَفِيهِ اَلدُّعَاءُ
بِإِمْسَاكِهَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
541.
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa ada seorang yang masuk ke masjid pada hari
Jumat, sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri khutbah, lalu orang
itu berkata, “Wahai Rasulullah, harta telah habis, jalan-jalan penyambung hidup
terputus, maka berdoalah kepada Allah Azza wa jalla agar Dia menghujani kami,”
Beliau pun kemudian mengangkat kedua tangannya sambil berkata, “Ya Allah,
hujanilah kami, ya Allah hujanilah kami…dst.” Di sana disebutkan tentang doa
menghentikan hujan. (Muttafaq 'alaih)[v]
542- وَعَنْ أَنَسٍ; , أَنَّ عُمَرَ t
كَانَ إِذَا قَحِطُوا يَسْتَسْقِي بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ اَلْمُطَّلِبِ.
وَقَالَ: اَللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَسْتَسْقِي إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا
فَتَسْقِينَا, وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا،
فَيُسْقَوْنَ - رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ
542. Dari Anas bahwa Umar radhiyallahu
'anhu apabila merasakan kemarau, meminta hujan (kepada Allah) dengan memakai
Abbas bin Abdul Muththalib (untuk berdoa), ia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya
kami memakai Nabi kami (ketika minta diturunkan hujan) lalu Engkau menghujani
kami, sekarang kami bertawassul dengan paman Nabi kami, maka hujanilah kami”,
merekapun kemudian dihujani. (Diriwayatkan oleh Bukhari)[vi]
543- وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: , أَصَابَنَا -وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ
اَللَّهِ- r مَطَرٌ قَالَ: فَحَسَرَ ثَوْبَهُ, حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ اَلْمَطَرِ,
وَقَالَ: "إِنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ" - رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
543. Dari Anas radhiyallahu 'anhu ia
berkata, “Kami pernah kehujanan ketika bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam, Anas melanjutkan kata-katanya, “Lalu Beliau membuka bajunya hingga
air hujan mengenainya,” Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia baru datang dari
Tuhannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim)[vii]
544- وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ رَسُولَ
اَللَّهِ r
كَانَ إِذَا رَأَى اَلْمَطَرَ قَالَ: , اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا - أَخْرَجَاهُ
544. Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila melihat hujan mengatakan, “Ya
Allah, curahkanlah hujan yang memberikan manfaat.” (Diriwayatkan oleh
keduanya (Bukhari dan Muslim))[viii]
545- وَعَنْ سَعْدٍ t أَنَّ اَلنَّبِيَّ r
دَعَا فِي اَلِاسْتِسْقَاءِ: , اَللَّهُمَّ جَلِّلْنَا سَحَابًا, كَثِيفًا,
قَصِيفًا, دَلُوقًا, ضَحُوكًا, تُمْطِرُنَا مِنْهُ رَذَاذًا, قِطْقِطًا, سَجْلًا,
يَا ذَا اَلْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ -
رَوَاهُ أَبُو عَوَانَةَ فِي "صَحِيحِهِ"
545. Dari Sa’ad radhiyallahu 'anhu, bahwa
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berdoa ketika meminta turunnya hujan,
“Ya Allah, ratakanlah kepada kami awan yang tebal, berguruh, deras,
berkilat, yang Engkau hujani kami dengan rintikannya, dengan tetesannya dan
curahannya, Wahai yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Diriwayatkan
oleh Abu Awanah dalam shahihnya)[ix]
546- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t
أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ r قَالَ: , خَرَجَ سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ اَلسَّلَامُ
يَسْتَسْقِي, فَرَأَى نَمْلَةً مُسْتَلْقِيَةً عَلَى ظَهْرِهَا رَافِعَةً
قَوَائِمَهَا إِلَى اَلسَّمَاءِ تَقُولُ: اَللَّهُمَّ إِنَّا خَلْقٌ مِنْ
خَلْقِكَ, لَيْسَ بِنَا غِنًى عَنْ سُقْيَاكَ, فَقَالَ: ارْجِعُوا لَقَدْ
سُقِيتُمْ بِدَعْوَةِ غَيْرِكُمْ -
رَوَاهُ أَحْمَدُ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ
546. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu,
bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sulaiman 'alaihis
salaam pernah keluar meminta diturunkan hujan, lalu dilihatnya seekor semut
terlentang di atas punggungnya sambil mengangkat kaki-kakinya ke langit sambil
berdoa, “Ya Allah sesungguhnya kami makhluk di antara makhluk-makhluk-Mu kami
sangat butuh kepada siraman-Mu”, maka ia (Nabi Sulaiman) berkata, “Kembalilah, karena kamu akan disirami hujan
dengan doa selain kamu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, dan dishahihkan oleh Hakim)[x]
547- وَعَنْ أَنَسٍ t , أَنَّ اَلنَّبِيَّ r
اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى اَلسَّمَاءِ -
أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
547. Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika meminta hujan berisyarat dengan
punggung kedua telapak tangannya ke langit. (Diriwayatkan oleh Muslim)[xi]
Bersambung….
Wa
shallallahu 'alaa Nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Alih Bahasa:
[i] Hasan,
diriwayatkan oleh Abu Dawud (1165), Tirmidzi (558), Ibnu Majah (1266), Nasa’i
(1521) dalam Al Istisqaa’, Daruquthni (189), Hakim (1/326), Baihaqi
(3/347), Ibnu Abi Syaibah (2/119/2), Ahmad (1/269, 355) dari jalan Hisyam bin
Ishaq (yaitu Abdullah bin Kinanah) dari bapaknya ia berkata, “Al Walid bin
‘Uqbah –ia adalah gubernur Madinah- pernah mengutusku menemui Ibnu Abbas untuk
bertanya kepadanya…dst.” Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini hasan shahih.” Al
Albani berkata, “Dan isnadnya hasan, para perawinya tsiqah selain Hisyam bin
Ishaq. Abu Hatim berkata “Seorang syaikh”, Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat.
[Al Irwaa’ (665)], Al Misykaat (1505) dan Nashbur Raayah (2/284).
[ii] Hasan,
diriwayatkan oleh Abu Dawud (1173), Thahawiy (1/192), Baihaqi (3/349), juga
Hakim (1/328) dari jalan Khalid bin Nizaar, telah menceritakan kepadaku Al Qasim
bin Mabrur dari Yunus bin Yazid dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari
‘Aisyah radhiyallahu 'anha. lafaz ini adalah lafaz Abu Dawud, ia mengatakan,
“Hadits ini hadits gharib, isnadnya jayyid.” Al Albani berkata, “Dan isnadnya
hasan, adapun kata-kata Hakim “Shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim” serta
disepakati oleh Adz Dzahabiy, ini adalah salah paham keduanya, karena Khalid
dan gurunya Al Qasim, maka Bukhari dan Muslim sama sekali tidak meriwayatkan
darinya” yang pertama dari keduanya ada pembicaraan sedikit, namun haditsnya
tetap tidak turun dari derajat hasan. Ibnu Hibban meriwayatkan hadits itu dalam
Shahihnya sebagaimana dalam Nashbur Raayah (2/242). [Al Irwaa’ (668),
Nasbur Raayah (2/287) dan Al Misykaat (1508)].
[iii] Shahih,
diriwayatkan oleh Bukhari (1012), Muslim (3/23), Abu Dawud (1161), Nasa’i
(1/224, 226), Tirmidzi (2/442), Darimiy (1/360, 361), Ibnu Majah (1267),
Daruquthni (189), baihaqi (3/347), Ahmad (4/39, 40, 41), dan tidak ada dalam
riwayat Muslim tentang menjaharkan bacaan, ini hanya pada riwayat Ibnu Majah.
Tirmidzi mengatakan, "Hadits hasan shahih” [Nasbur Raayah (2/285), Al
Irwaa’ (664), Al Misykaat (1497)] .
[iv] Shahih,
diriwayatkan oleh Daruquthni (2/66/2), hadits tersebut meskipun mursal namun
dengan isnad yang shahih dalam riwayat Daruquthni, Hakim (1/326) meriwayatkan
secara maushul dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia mengatakan, “Ini adalah hadits
yang shahih isnadnya, namun keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkan”,
Adz Dzahabiy mengatakan, “Gharib ‘ajiib (aneh) shahih”. Sumair Az Zuhairiy
mengatakan, “Isnad Hakim lebih shahih daripada Daruquthni, juga ada riwayat
dari Anas namun melalui jalur salah seorang di antara pendusta.” .
[v] Shahih,
diriwayatkan oleh Bukhari (1014) dalam Al Istisqaa’, Muslim (897), Malik
(1/191/3), Abu Dawud (1174, 1175), Nasa’i (1/225, 226, 227), Baihaqi
(3/353-354)-355), Ahmad (3/104, 187) dari jalur yang banyak dari Anas. [lihat
Al Irwaa' ( 416)].
Dalam TSZ disebutkan lengkap haditsnya
yaitu:
اللهم أغثنا. قال
أنس: ولا والله ما نرى في السماء من سحاب ولا قزعة، وما بيننا وبين سلع من بيت ولا
دار. قال: فطلعت من روائه سحابة مثل الترس، فلما توسطت السماء انتشرت، ثم أمطرت،
فلا والله ما رأينا الشمس سبتا، ثم دخل رجل من ذلك الباب في الجمعة -ورسول الله
صلى الله عليه وسلم قائم يخطب- فاستقبله قائما، فقال: يا رسول الله! هلكت الأموال،
وانقطعت السبل، فادع الله يمسكها عنا. قال: فرفع رسول الله صلى الله عليه وسلم
يديه ثم قال: اللهم حوالينا ولا علينا، اللهم على الآكام والظراب وبطون الأودية
ومنابت الشجر قال: فأقلعت. وخرجنا نمشي في الشمس
“Ya
Allah, hujanilah kami,” Anas berkata, “Demi Allah, kami tidak melihat di langit
gumpalan awan maupun pecahannya, juga tidak ada rumah antara tempat kami dengan
gunung, lalu muncul dari balik gunung sebuah awan seperti perisai, ketika sudah
berada di tengah langit tiba-tiba berpencar, kemudian turunlah hujan. Demi
Allah, kami tidak melihat matahari selama sepekan,” lalu pada hari Jumat ada
seorang yang masuk dari pintu itu, ketika itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam berdiri khutbah, orang itu berdiri menghadap Beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, harta habis
dan jalan-jalan terputus, maka berdoalah kepada Allah agar menahan hujan
menimpa kami,” maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua
tangannya dan berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan ke sekeliling kami, tidak
menimpa kami, ya Allah turunkanlah ke tempat-tempa tinggi, perbukitan,
perut-perut lembah dan tempa tumbuhnya tanaman,” Anas mengatakan, “Maka hujan pun
berhenti dan kami keluar di bawah sinar matahari.”
[vi] Shahih,
diriwayatkan oleh Bukhari (1010), Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqaatul Kubraa
(4/28-29), Baihaqi (3/352), Ibnu ‘Asaakir (8/474/1) dari Anas [Al Irwaa’
(672) dan Al Misykaat (1509)] -TCDA-.
[vii] Shahih,
diriwayatkan oleh Muslim (898) dari Tsabit Al Bunaniy dari Anas, Abu Dawud
(5100) dalam Al Adab bab maa jaa’a fil mathar, dan dishahihkan oleh Al
Albani dalam Shahih Abu Dawud (5100).
Dalam Al Irwaa’, Al Albani
mengatakan, ’Dha’if (yakni riwayat Baihaqi-pen), diriwayatkan oleh Baihaqi
(3/359) dari Yazid bin Al Haad bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila
banjir meluap…dst, namun dengan kata-kata “Maka Beliau pun bersuci darinya dan
kami memuji Allah terhadapnya”, Baihaqi mengatakan, “Ini munqathi’ (terputus)
[lihat Al Irwaa' ( 678) dan Al Misykaat (1501)].
[viii] Shahih,
diriwayatkan oleh Bukhari (1032).
[ix] Al Hafizh dalam At
Talkhish (2/99) mengatakan, “Dan dari Muhammad bin Ishaq, telah
menceritakan kepadaku Az Zuhriy dari Aisyah binti Sa’ad, bapaknya bercerita
kepadanya,
أن
النبي صلى الله عليه وسلم نزل واديا دهشا لا ماء فيه...
Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
turun ke sebuah lembah yang tidak ada airnya …dst.
Di hadits itu ada banyak lafaz yang gharib
diriwayatkan oleh Abu ‘Awanah dengan sanad lemah –TSZ-.
[x] Hasan,
diriwayatkan oleh Daruquthni (2/66/1), Hakim (1/325-326) dari jalan Muhammad
bin ‘Aun maula Ummu Yahya binti Al Hakam dari bapaknya ia berkata: telah
menceritakan kepada kami Ibnu Syihab, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah
dari Abu Hurairah, Hakim mengatakan, "Shahih isnadnya”, Sumair Az Zuhairiy
mengomentari dengan mengatakan, “Sanad ini tidak apa-apa, Muhammad bin ‘Aun
didiamkan oleh Bukhari (1/1/197), Ahmad dalam Al ‘Ilal (2/211) mengatakan,
“Seorang yang dikenal”, Ibnu Hibban menyebutkannya ke dalam Ats Tsiqaat
(7/411), sedangkan bapaknya yaitu ‘Aun, Bukhari berkata dalam At Tarikhul
Kabir (4/1/16) tentang dia, “Dari Az Zuhriy adalah mursal, Majisyun
meriwayatkan darinya”, Sumair Az
Zuhairiy mengatakan, “Bahkan mendengar darinya sebagaimana ditegaskan dalam
hadits ini, dan didiamkan dalam Al Jarh wat ta’dil (3/1/386), Ibnu
Hibban menyebutkannya ke dalam Ats Tsiqat (7/281), adapun Ibnu Syihab dan Abu
Salamah adalah dua orang yang tsiqah termasuk perawi Bukhari dan Muslim, maka
isnad seperti ini tidak apa-apa, apalagi ada riwayat dari jaluar yang lain.
Thahawiy dalam Al Musykil (875), Al Khathib dalam At Taarikh
(12/65), Abusy Syaikh dalam Al ‘Azhamah (1246) dari jalan Muhammad bin ‘Aziz,
telah menceritakan kepada kami Salamah bin Ruh dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab,
telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah dari Abu Hurairah. Sumair Az Zuhairiy
mengatakan, “Muhammad bin ‘Aziz dan pamannya Salamah ada kelemahan ringan,
namun keduanya termasuk orang yang masih dicatat haditsnya, tetapi
diperbincangkan tentang mendengarnya Muhammad bin Salamah, juga tentang
mendengarnya Salamah dari ‘Uqail, akan tetapi di sini isnadnya tidak mengapa,
hadits tersebut juga datang dari dua jalur lain yang diputuskan; yang pertama
diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats Tsaiqaat (8/414), Ibnu Abi Hatim
dalam At Tafsir sebagaimana pada Ibnu Katsir (3/347), Abu Nu’aim dalam Al
Hilyah (3/101), Thabrani dalam Ad Du’aa (968) dari jalan Mus’ir bin
Kadam dari Zaid Al ‘Amiy dari Abush Shiddiq An Naajiy ia berkata, “Sulaiman
pernah keluar…dst. Dalam sanadnya terdapat Zaid Al ‘Amiy, dia adalah dha’if,
dari jalurnya Thabrani meriwayatkan
dalam Ad Du’aa (967) dari Ma’mar dari Az Zuhriy bahwa Sulaiman
bin Dawud…dst. Sanadnya shahih sampai Az Zuhriy, singkatnya hadits tersebut
hasan dengan kedua jalur yang pertama tadi.
Sumair Az Zuhairiy mengatakan, “Perhatian!
Saya tidak menemukan hadits tersebut dalam Musnad Imam Ahmad, karena inilah
yang dimaksud ketika mutlak menisbatkan kepadanya sebagaimana yang dilakukan Al
Haafizh di sini dan di At Talkhish (2/97), saya pun melihat ke Musnad
Abu Hurairah, namun tidak menemukannya, juga tidak menemukannya di Musnad Ahmad
ketika melihat melalui daftar isi, kemudian terakhir saya membaca Al Athraaf milik Al Hafizh tentang biografi
Abu Salamah dari Abu Hurairah, namun tidak saya temukan juga, sehingga membuat
saya menyimpulkan bahwa hadits tersebut bisa saja di kitab lain dari kitab-kitab
Imam Ahmad atau mungkin Al Hafizh keliru menisbatkan kepada Ahmad, Wallahu
a’lam –TSZ-.
[xi] Shahih,
diriwayatkan oleh Muslim (896) dalam Shalatul Istisqaa’, Ahmad (1487)
dan isnadnya shahih [Al Irwaa’ (674)].