Terjemah Umdatul Ahkam (41)

Senin, 22 Juni 2020
بسم الله الرحمن الرحيم
حث الإسلام على العتق
Terjemah Umdatul Ahkam (41)
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:
Berikut lanjutan terjemah Umdatul Ahkam karya Imam Abdul Ghani Al Maqdisi (541 H – 600 H) rahimahullah. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan kitab ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
KITAB JIHAD
425 - عَنْ أَبِي مُوسَى - عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ - عَنْ النَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: ((مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلاحَ فَلَيْسَ مِنَّا)) .
425. Dari Abu Musa Abdullah bin Qais, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Barang siapa yang mengangkat senjata kepada kami, maka dia bukan termasuk golongan kami.”
426 - عَنْ أَبِي مُوسَى - رضي الله عنه - قَالَ: ((سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - عَنْ الرَّجُلِ: يُقَاتِلُ شَجَاعَةً , وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً، وَيُقَاتِلُ رِيَاءً. أَيُّ ذَلِكَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم -: مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا , فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ))
426. Dari Abu Musa radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang berperang agar disebut pemberani, berperang karena membela sukunya, dan berperang karena riya, yang manakah yang termasuk fii sabilillah? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi itulah fi sabilillah (di jalan Allah).”
Kitab ‘Itq (Memerdekakan Budak)
427 - عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: ((مَنْ أَعْتَقَ شِرْكاً لَهُ فِي عَبْدٍ , فَكَانَ لَهُ مَالٌ يَبْلُغُ ثَمَنَ الْعَبْدِ: قُوِّمَ عَلَيْهِ قِيمَةَ عَدْلٍ , فَأَعْطَى شُرَكَاءَهُ حِصَصَهُمْ , وَعَتَقَ عَلَيْهِ الْعَبْدُ , وَإِلاَّ فَقَدْ عَتَقَ مِنْهُ مَا عَتَقَ)) .
427. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang memerdekakan saham(bagian)nya pada seorang budak, dan ia memiliki harta untuk membayar sisa harga budak itu, maka dinilai budak itu secara adil (tidak lebih dan tidak kurang), lalu diberikan bagian kepada masing-masing sekutu sehingga budak itu menjadi merdeka. Jika tidak demikian, maka budak itu hanya merdeka sesuai bagian yang dimerdekakan.”
428 - عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - عَنْ النَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: ((مَنْ أَعْتَقَ شِقْصَاً مِنْ مَمْلُوكٍ , فَعَلَيْهِ خَلاصُهُ كُلُّهُ فِي مَالِهِ , فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ قُوِّمَ الْمَمْلُوكُ قِيمَةَ عَدْلٍ , ثُمَّ اُسْتُسْعِيَ الْعَبْدُ , غَيْرَ مَشْقُوقٍ عَلَيْهِ)) .
428. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Barang siapa yang memerdekakan bagiannya dari budak itu, maka hendaknya ia memerdekakan sisanya dari hartanya. Jika ia tidak memiliki harta, maka budak itu ditaksir nilainya secara adil, lalu budak itu diminta bekerja untuk memerdekakan dirinya tanpa menyusahkannya.”
Bab Menjual Budak Mudabbar
Mudabbar adalah budak yang merdekanya tergantung wafat tuannya.
429 - عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما قَالَ: ((دَبَّرَ رَجُلٌ مِنْ الأَنْصَارِ غُلاماً لَهُ - ,
429. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma ia berkata, “Salah seorang Anshar menyatakan budaknya merdeka setelah dirinya wafat.”
430 - وَفِي لَفْظٍ: ((بَلَغَ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم -: أَنَّ رَجُلاً مِنْ أَصْحَابِهِ أَعْتَقَ غُلاماً لَهُ عنْ دُبُرٍ - لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُ فَبَاعَهُ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - بِثَمَانِمِائَةِ دِرْهَمٍ , ثُمَّ أَرْسَلَ ثَمَنَهُ إلَيْهِ)) .
430. Dalam sebuah lafaz disebutkan, “Sampai berita kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa salah seorang sahabatnya menjadikan merdeka budaknya setelah dia wafat, padahal dia tidak memiliki harta selain budaknya itu, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjualnya dengan harga 800 dirham, lalu mengirimkan hasilnya kepadanya.”
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallam
Penerjemah:
Marwan bin Musa

Lembar Pemantauan Amaliyyah Anak

Minggu, 21 Juni 2020
بسم الله الرحمن الرحيم
مودة ورحمة – قوا أنفسكم وأهليكم نارا | موقع البطاقة الدعوي
Lembar Pemantauan Amaliyyah Anak
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:
Berikut lembar pemantauan amaliyyah anak yang menunjukkan bahwa orang tua memantau kegiatan anaknya, dimana dia akan diminta pertanggung jawaban terhadap anaknya. Semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
Dasar Hukum
Firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At Tahrim: 6)
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Qs. Thaahaa: 132)
Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
«كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang orang yang dipimpinnya. Renguasa adalah pemimpin bagi manusia, dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin terhadap harta tuannya, dan dia akan diminta pertanggungjawaban tentang harta yang dipimpinnya. Ingatlah, masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma)
«مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ»
“Suruhlah anak-anak kalian shalat ketika berusia tujuh tahun, pukullah mereka ketika meninggalkannya saat berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidurnya.” (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi, dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani)
Perkataan Ulama
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Janganlah salah seorang di antara kamu menjadi orang hilang di tengah keluarganya, yaitu ketika ia tidak menyuruh mereka berbuat baik dan tidak mengarahkan mereka, serta tidak melarang mereka dari perbuatan buruk dan kerusakan." (Adh Dhiyaul Lami, 156)
Ia juga berkata, "Yang menjadi masalah adalah bahwa sebagian manusia meremehkan amanah ini, ia tidak memperhatikan; apakah anaknya sudah shalat atau belum, saleh atau tidak, lurus atau menyimpang. Ketika mereka besar, maka orang tua akan dihukum dengan sikap durhaka anak mereka kepadanya, karena dia tidak bertakwa kepada Allah terhadap mereka, maka mereka tidak bertakwa kepada Allah terhadap dirinya.”  (Nur alad Darbi hal. 375)

Lembar Pemantauan Amaliyyah Anak (Diisi Oleh Anak Secara Jujur)
Nama                      :  ..................................................
Usia                         :  ..................................................
Bulan dan Tahun  :  ..................................................
No.
Amaliyyah
1
2
3
4
Dst.
1
Shalat 5 waktu






Shalat Tepat Waktu






Berjamaah





2
Shalat Sunah






Rawatib






Dhuha






Witir





3
Membaca Al Qur'an





4
Menghafal Al Qur'an





5
Muroja'ah Al Qur'an





6
Puasa Ramadhan





7
Puasa Sunah





8
Belajar/membaca buku agama





9
Menghafal hadits/doa harian





10
Mempraktikkan doa harian





11
Hadir/Menyimak Kajian





12
Membantu Orang Tua/Orang Lain





13
Bersedekah





14
Beramal Saleh/Berakhlak Mulia












No. urut ke samping adalah tanggal, dan anak disuruh memberi tanda ceklis.
Catatan:
Isi dengan jujur, apabila anak mengisi dengan jujur dan menggembirakan atau memuaskan orang tua hendaknya diberi hadiah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Kalian harus berlaku jujur, karena kejujuran membawa seeorang kepada kebaikan dan kebaikan membawa seseorang ke surga.” (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas’ud)
فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ
“Kejujuran adalah ketenangan.” (Hr. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani)

Paraf Orang Tua


(................................)

Di atas contohnya, silahkan dikembangkan.
Catatan:
Silahkan unduh/download formatnya di channel telegram ini: https://t.me/wawasan_muslim/5918  
Lalu diprint dan orang tua bisa memeriksanya sepekan sekali.
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam wal hamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Marwan bin Musa
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger