Keutamaan Akhlak Terpuji

Kamis, 22 Maret 2018
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫من حسن الخلق‬‎
Keutamaan Akhlak Terpuji
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut pembahasan tentang keutamaan akhlak terpuji, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Ta’rif (definisi) Akhlak
Akhlak adalah sifat yang terpendam dalam jiwa yang daripadanya muncul perbuatan ikhtiyari (atas dasar pilihannya) berupa perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Sifat tersebut siap menerima pembinaan yang baik atau yang buruk.
Jika sifat itu dibina dengan kebaikan, seperti mendahulukan yang utama dan yang hak (benar), mencintai kebaikan, memilih sikap santun, lembut, sabar, dermawan, adil, ihsan serta perbuatan-perbuatan baik lainnya dan membenci perbuatan yang buruk, maka akan muncul perbuatan yang baik dengan mudah tanpa susah-payah. Inilah yang disebut dengan Akhlak Mulia (Akhlak Karimah).
Sebaliknya, jika sifat yang terpendam dalam jiwa itu tidak dibina dengan kebaikan, bahkan dibina di atas keburukan sehingga perbuatan yang buruk lebih dicintainya dan perbuatan yang baik malah dibencinya, maka perkara buruk akan muncul daripadanya dengan mudah tanpa susah payah. Inilah yang disebut Akhlak Tercela (Akhlak Madzmumah). Contohnya khianat, dusta, keluh-kesah, kasar, keras, berkata kotor, dsb.
Perintah Berakhlak Mulia
Islam menjunjung tinggi akhlak yang mulia dan mengajak pemeluknya untuk berakhlak mulia. Bahkan Allah memuji Nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam karena akhlaknya yang begitu mulia, Dia berfirman,
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Qs. Al Qalam: 4)
Allah Azza wa Jalla juga memerintahkan hamba-hamba-Nya berakhlak mulia, Dia berfirman,
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Qs. Fushshilat: 34)
Demikian juga menjadikan akhlak mulia sebagai sebab untuk meraih surga-Nya yang tinggi, Dia berfirman,
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,--(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Qs. Ali Imran: 133-134)
Bahkan Allah mengutus Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ (وَفِي رِوَايَةٍ صَالِحَ) الْأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (dalam sebuah riwayat: akhlak yang baik).” (Hr. Bukhari dalam Al Adab no. 273, Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat (1/192), Hakim (2/613), Ahmad (2/318), Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (6/267/1) dari jalan Ibnu Ajlan dari Qa’qa bin Hakim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah secara marfu, dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 45)
Akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
Akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah Al Qur’an, sebagaimana yang dinyatakan Aisyah radhiyallahu anha[1].
Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, “Aku pernah melayani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, namun Beliau tidak pernah berkata kepadaku “Ah”, dan tidak pernah berkata terhadap perbuatan yang kulakukan, “Mengapa engkau lakukan perbuatan itu?” Dan tidak pernah berkata terhadap sesuatu yang tidak kulakukan, “Mengapa engkau tidak melakukan hal itu?” Beliau adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Aku tidak pernah menyentuh kain berbulu, kain sutera, dan sesuatu lainnya yang lebih halus daripada telapak tangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan aku tidak pernah mencium wangi kesturi dan wewangian lainnya yang lebih wangi daripada keringat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu anha pernah berkata kepada Beliau untuk menenangkannya saat Beliau mendapatkan wahyu,
كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الكَلَّ، وَتَكْسِبُ المَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الحَقِّ
“Demi Allah, Dia tidak akan merendahkanmu. Sesungguhnya engkau seorang yang menyambung tali silaturrahim, memikul beban orang lain, membantu orang yang tidak punya apa-apa, menjamu tamu, dan membela pihak yang benar.” (Hr. Bukhari)
Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya, demikian pula tidak pernah memukul pelayan maupun wanita. Akan tetapi Beliau berjihad di jalan Allah. Beliau tidak pernah membalas suatu kesalahan yang dilakukan seseorang, kecuali apabila larangan-larangan Allah dilanggar, maka Beliau membalasnya karena Allah.” (Hr. Muslim)
Anas radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bukanlah seorang pencela, pelaknat. Dan bukan orang yang berkata keji. Saat ada orang yang Beliau kritik, Beliau hanya mengatakan, “Mengapa orang itu berbuat begitu, semoga tangan kanannya menyentuh tanah.” (Hr. Bukhari dan Ahmad)
Akhlak Kaum Salaf (Generasi Pertama Islam)
Suatu ketika ada seorang yang mencela Salman Al Farisi radhiyallahu anhu, maka Salman berkata kepadanya, “Jika ternyata timbangan kebaikanku ringan, maka aku lebih buruk dari apa yang kamu katakan, tetapi jika timbangan kebaikanku lebih berat, maka apa yang kamu katakan tidaklah merugikanku.”
Ar Rabi bin Khaitsam pernah dicela, maka ia berkata, “Wahai fulan, Allah mendengar ucapanmu. Sesungguhnya sebelum surga terdapat rintangan, jika aku berhasil melintasinya, maka ucapanmu tidak merugikanku, namun jika aku tidak berhasil melintasinya, maka berarti aku lebih buruk dari apa yang engkau ucapkan.”
Jika ada yang menyampaikan kepada Al Fudhail bin Iyadh, bahwa si fulan mencela dirinya, maka ia berkata, “Demi Allah, aku marah kepadanya –yakni Iblis-, lalu ia berkata, “Ya Allah, jika ucapannya benar, maka ampunilah aku. Dan jika ucapannya dusta, maka ampunilah dia.”
Ada seorang yang mencela secara berlebihan kepada Bakar bin Abdullah Al Muzzanniy rahimahullah, namun ia tetap saja diam, maka ada yang berkata kepadanya, “Mengapa kamu tidak membalas celaannya sebagaimana dia mencela dirimu?” Bakar menjawab, “Aku tidak tahu keburukannya sehingga aku dapat mencelanya, dan tidak halal bagiku menuduhnya secara dusta.”
Pembagian Akhlak 
Akhlak ada yang Ghariziyyah dan ada yang Muktasabah.
Akhlak Ghariziyyah atau Jibilliyyah maksudnya Allah telah memberikan ke dalam dirinya akhlak yang mulia itu, dimana ia tumbuh dewasa di atasnya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Asyaj Abdul Qais,
إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ: الْحِلْمُ، وَالْأَنَاةُ
 “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua perkara yang dicintai Allah, yaitu bijaksana dan tidak tergesa-gesa.” (Hr. Muslim)
Akhlak Muktasabah maksudnya dirinya belum terbiasa di atas akhlak itu, sehingga membutuhkan latihan dan usaha darinya sambil memohon kepada Allah bantuan-Nya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ  يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
 “Barang siapa yang berusaha menjaga dirinya (dari meminta-minta), maka Allah akan menjaganya. Barang siapa yang merasa cukup dengan pemberian Allah, maka Allah akan cukupkan. Barang siapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan membantunya. Tidak ada pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada klesabaran.” (Hr. Bukhari)
Contoh Akhlak Yang Mulia
Al Hasan berkata, “Akhlak yang mulia adalah muka berseri-seri, bersikap dermawan, dan mencegah gangguan.”
Abdullah bin Al Mubarak berkata, “Akhlak mulia itu ada pada tiga perkara: menjauhi yang haram, mencari yang halal, dan memberikan kelapangan kepada sanak keluarga.”
Sahl At Tasturiy berkata, “(Akhlak mulia itu) minimal siap menerima beban, tidak membalas, sayang kepada orang yang zalim, memintakan ampunan untuknya, dan kasihan kepadanya.”
Al Junaid berkata, “Empat perkara yang dapat mengangkat seorang hamba kepada derajat yang tinggi meskipun sedikit amal dan ilmunya, yaitu: sikap santun, tawadhu, dermawan, dan berakhlak mulia. Itu merupakan penyempurna keimanan.”
Al Qadhiy ‘Iyadh berkata, “Akhlak yang mulia adalah bergaul dengan baik kepada manusia, bergembira dan menampakkan rasa cinta kepada mereka, kasihan kepada mereka dan merasakan penderitaan mereka, memikul beban mereka, bersabar terhadap mereka dalam hal-hal yang tidak disukai, tidak sombong dan merasa tinggi di atas mereka, dan menjauhi sifat kasar, pemarah, dan (suka) menghukum.”
Ada pula yang berkata tentang akhlak mulia, yaitu:
Menyingkirkan akhlak yang hina dan menghiasi diri dengan akhlak mulia.
Akhlak mulia adalah mencegah gangguan dan siap memikul beban.
Akhlak mulia adalah ketika perhatianmu tertuju kepada Allah Azza wa Jalla.
Ciri Orang Yang Berakhlak Mulia
Sebagian ulama ada yang mengatakan, bahwa ciri orang yang berakhlak mulia adalah sangat pemalu, sedikit sekali sikap kurang baiknya, banyak kebaikannya, jujur lisannya, sedikit bicara, banyak berbuat, sedikit sekali tergelincir, tidak banyak dalam sesuatu (selain ibadah), berbakti kepada orang tua dan menyambung tali silaturrahim, sopan, sabar, memiliki rasa syukur yang tinggi, tidak lekas marah, memenuhi janji, menjaga dirinya dari yang haram, tidak suka melaknat, memaki, tidak mengadu domba serta ghibah (menggunjing orang), tidak tergesa-gesa, tidak dendam, tidak bakhil dan dengki, menampakkan wajah gembira dan berseri-seri, cinta karena Allah dan benci pun karena-Nya, ridha karena Allah serta marah pun karena-Nya. (Lihat Minhajul Muslim hal. 116)
Penopang Akhlak Yang Mulia
Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan, bahwa akhlak yang mulia dibangun di atas empat pondasi, dimana tiangnya tidak akan tegak kecuali di atasnya, yaitu: sabar, iffah (menjaga diri), berani, dan adil.
Sikap sabar akan membuatnya siap memikul beban, menahan marah, mencegah diri dari gangguan, bersikap santun, perlahan, lembut, tidak serampangan, dan tidak tergesa-gesa.
Sikap iffah akan membuatnya menjauhi perbuatan hina dan buruk baik berupa ucapan maupun perbuatan, mendorongnya untuk bersikap malu yang merupakan pangkal semua kebaikan, dan mencegahnya dari perbuatan keji, bakhil, dusta, ghibah, dan namimah (mengadu domba).
Sikap berani akan membuat jiwanya mulia, mendahulukan akhlak yang luhur, suka memberi dan siap berkorban yang merupakan keberanian jiwa dan kemampuannya mengeluarkan hal yang dicintainya serta berpisah darinya, serta membuatnya menahan marah, dan membuatnya bersikap santun, karena dengan kekuatan jiwanya dan keberaniannya membuatnya mampu memegang kendali, serta menahannya dari sikap keluh kesah dan bersikap keras.
Sikap adil membuat akhlaknya lurus dan tengah-tengah; antara berlebihan dan meremehkan.” (Diringkas dari Madarijus Salikin 2/308-311) 
Keutamaan Akhlak Terpuji
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
“Tidak ada sesuatu yang lebih berat di timbangan daripada akhlak yang mulia.” (Hr. Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, Bukhari dalam Al Adab, dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Al Albani)
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (Hr. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban, dan dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani)
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالمُتَشَدِّقُونَ وَالمُتَفَيْهِقُونَ
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat majlisnya denganku nanti pada hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling kubenci dan paling jauh majlisnya nanti pada hari Kiamat adalah orang yang banyak bicara, suka merendahkan, dan sombong.” (Hr. Ahmad, TIrmidzi, Ibnu Hibban, dan Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, dan dishahihkan oleh Al Albani).
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ
“Sesungguhnya orang mukmin karena akhlaknya yang baik dapat mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat malam.” (Hr. Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim, dishahihkan oleh Al Albani)
إِنَّ اللهَ تَعَالَى جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، وَيُحِبُّ مَعَالِيَ الْأَخْلَاقِ، وَيَكْرَهُ سَفْسَافَهَا
“Sesungguhnya Allah Ta’ala indah, Dia menyukai keindahan, Dia menyukai akhlak yang mulia dan membenci akhlak yang hina.” (Hr. Thabrani dalam Al Awsath, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 1739)
إِنَّ النَّاسَ لَمْ يُعْطَوْا شَيْئًا خَيْرًا مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ
“Manusia tidaklah diberikan sesuatu yang lebih baik daripada akhlak yang mulia.” (Hr. Thabrani dalam Al Kabir, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 1977)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukan seseorang ke surga, maka Beliau menjawab,
تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الخُلُقِ
“Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.”
Demikian pula Beliau ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka, maka Beliau menjawab,
الفَمُ وَالفَرْجُ
“Mulut dan kemaluan.”
(Hr. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani)
Kiat Meraih Akhlak Terpuji
Cara meraih akhlak terpuji atau akhlak mulia di antaranya adalah:
1. Berdoa
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah berdoa,
اَللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي، فَأَحْسِنْ خُلُقِي
“Ya Allah, Engkau telah memperindah fisikku, maka perindahlah akhlakku.” (Hr. Ahmad, dan dinyatakan isnadnya hasan oleh pentahqiq Musnad Ahmad cet. Ar Risalah)
Dari Quthbah bin Malik ia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah berdoa,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلَاقِ، وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari akhlak, amal, dan nafsu yang munkar.” (Hr. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)
2. Bergaul dengan orang-orang yang saleh
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang mengikuti agama temannya, maka hendaknya salah seorang di antara kamu memperhatikan siapa temannya.” (Hr. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi, dinyatakan hasan oleh Al Albani)
3. Mengingat keutamaan akhlak terpuji
Tentang keutamaannya telah disebutkan sebelumnya, silahkan lihat kembali.
4. Membaca kisah orang-orang saleh terdahulu
Yakni dengan membaca kisah orang-orang saleh terdahulu membuat kita berusaha meneladani mereka. Bacalah kisah para nabi, para sahabat, para tabi’in, tabi’ut tabi’in, dst.
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam walhamdulillahi Rabbil alamin.
Marwan bin Musa
Maraji’: Minhajul Muslim (Abu Bakar Al Jazairiy), Silsilatul Ahadits Ash Shahihah (M. Nashirrudi Al Albani), Untaian Mutiara Hadits (Penulis), Modul Pembinaan Akhlak (Tim Asatidzah Bintang Pelajar), At Tarbiyah ala Manhaj Ahlissunnah (Dr. Ahmad Farid), Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.


[1] Maksud akhlak Beliau Al Quran adalah Beliau senantiasa mengamalkan Al Quran, berhenti pada batasannya, beradab dengan adab-adabnya, mengambil pelajaran terhadap perumpamaan dan kisahnya, mentadabburinya, dan bagus dalam membacanya.

Hal-Hal Yang Makruh Dalam Shalat

Sabtu, 17 Maret 2018
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫مكروهات الصلاة‬‎
Hal-Hal Yang Makruh Dalam Shalat
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut pembahasan tentang hal-hal yang makruh dalam shalat, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Hal-Hal Yang Makruh Dalam Shalat
Dimakruhkan bagi orang yang shalat meninggalkan sunah-sunah shalat. Demikian pula melakukan hal-hal di bawah ini:
1. Bermain-main dengan kainnya atau badannya, kecuali jika dibutuhkan, maka tidak makruh.
Dari Mu’aiqib ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang mengusap kerikil dalam shalat, maka Beliau bersabda,
لَا تَمْسَحِ الْحَصَى وَأَنْتَ تُصَلِّي، فَإِنْ كُنْتَ لَا بُدَّ فَاعِلًا، فَوَاحِدَةٌ تَسْوِيَةَ الْحَصَى
“Janganlah engkau mengusap kerikil ketika shalat. Jika engkau memang terpaksa harus melakukannya, maka sekali saja untuk meratakan kerikil.” (Hr. Jamaah Ahli Hadits)
2. Bercekak pinggang dalam shalat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang bercekak pinggang dalam shalat.” (Hr. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Al Albani)
Maksud bercekak pinggang adalah meletakkan tangannya di pinggang.
3. Melihat ke langit
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ رَفْعِهِمْ أَبْصَارَهُمْ عِنْدَ الدُّعَاءِ فِي الصَّلَاةِ إِلَى السَّمَاءِ، أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ
“Hendaknya orang-orang berhenti dari menghadapkan pandangan mereka ke langit saat berdoa dalam shalat, atau pandangan mereka akan disambar.” (Hr. Ahmad, Muslim, dan Nasa’i)
4. Memperhatikan sesuatu yang melalaikan
Dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah shalat mengenakan khamishah (kain dari wool) yang bercorak, maka Beliau bersabda,
شَغَلَتْنِي أَعْلاَمُ هَذِهِ، اذْهَبُوا بِهَا إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةٍ
“Corak-corak pakaian ini membuatku lalai, bawalah ia ke Abu Jahm dan berikan kepadaku Anbijaniyah (pakaian tebal berbulu, namun tidak bercorak).” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Abu Jahm adalah Amir bin Hudzaifah, ia pernah memberikan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam kain khamishah, namun karena corak-coraknya membuat Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak khusyu, maka Beliau meminta kepadanya kain Anbijaniyah sebagai gantinya agar Abu Jahm tidak bersedih.
Imam Bukhari meriwayatakan dengan sanadnya dari Anas ia berkata, “Aisyah memiliki tirai tipis yang dipakai untuk menutupi bagian tertentu rumahnya, lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
أَمِيطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا، فَإِنَّهُ لاَ تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ فِي صَلاَتِي
“Singkirkanlah dari kami tiraimu ini, karena corak-coraknya selalu tampak dalam shalatku.”
Hadits ini juga menunjukkan, bahwa melihat kepada tulisan yang dicatat seseorang tidaklah membatalkan shalat.
5. Memejamkan mata
Sebagian ulama ada yang memakruhkannya, dan sebagian lagi membolehkannya tanpa menyatakan makruh.
Adapun hadits yang menyatakan makruh tidak sahih.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Yang benar adalah bahwa jika membuka mata tidak menghalangi kekhusyuan, maka hal itu lebih utama, tetapi jika membuatnya tidak bisa khusyu karena di hadapannya ada hiasan, ukiran, dan sebagainya yang dapat memalingkan hatinya dari khusyu, maka ketika itu memejamkan sama sekali tidak makruh. Menyatakan dianjurkan memejamkan dalam keadaan ini tentu lebih dekat kepada dasar-dasar syariat dan tujuannya daripada menyatakan makruh.
6. Berisyarat dengan kedua tangan saat salam
Dari Jabir bin Samurah ia berkata, “Kami pernah shalat di belakang Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu kami salam sambil berisyarat dengan tangan kami, maka Beliau bersabda,
مَا بَالُ هَؤُلَاءِ يُسَلِّمُونَ بِأَيْدِيهِمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمُسٍ؟ أَمَا يَكْفِي أَحَدُهُمْ أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ ثُمَّ يَقُولَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ
“Mengapa mereka ini ketika salam berisyarat dengan tangannya seakan-akan tangannya seperti ekor kuda liar? Tidak cukupkah salah seorang di antara mereka meletakkan tangannya di atas pahanya lalu mengucapkan “As Salamu alaikum-As Salamu alaikum.” (Hr. Nasa’i, dishahihkan oleh Al Albani)
7. Menutup mulut dan menurunkan kain ke bawah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang ‘sadl’ ketika shalat dan seseorang menutup mulutnya (dalam shalat).” (Hr. Lima Imam Ahli Hadits, dan Hakim, ia menyatakan, “Shahih sesuai syarat Muslim.”)
Al Khaththabi berkata, “Sadl artinya menurunkan kain sampai ke tanah.”
Kammal bin Hammam berkata, “Termasuk pula memakai baju tanpa memasukkan tangan ke lubang bajunya.”
8.  Shalat ketika makanan sudah dihidangkan
Dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا وُضِعَ العَشَاءُ وَأُقِيمَتِ الصَّلاَةُ، فَابْدَءُوا بِالعَشَاءِ
“Apabila makan malam sudah dihidangkan, sedangkan shalat sudah diiqamatkan, maka mulailah dengan makam malam.” (Hr. Ahmad, Bukhari, dan Muslim)
Dari Nafi, bahwa Ibnu Umar pernah dihidangkan makanan, lalu iqamat untuk shalat dikumandangkan, maka ia tidak mendatangi shalat sampai selesai makan padahal ia telah mendengar bacaan imam. (Hr. Bukhari)
Al Khaththabi rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan mendahulukan makan agar jiwa telah terpenuhi kebutuhannya, sehingga seorang yang shalat masuk ke dalamnya dalam keadaan hatinya tenang; tidak didesak oleh syahwat makanan yang membuatnya tergesa-gesa sehingga tidak menyempurnakan ruku, sujud, dan tidak memenuhi hak-haknya.”
Jumhur (mayoritas) para ulama berkata, “Disunahkan mendahulukan makan sebelum shalat adalah ketika waktu shalat masih panjang. Jika waktunya sempit, maka harus didahulukan shalat.”
Namun Ibnu Hazm dan sebagian ulama madzhab Syafi’i berpendapat, “Tetap diperintahkan mendahulukan makan meskipun waktunya sempit.”
9. Shalat ketika didesak oleh dua hal yang kotor (buang air kecil dan buang air besar) atau yang semisalnya yang dapat memalingkan hati dari kekhusyuan.
Imam Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ»
“Tidak sempurna shalat ketika makanan sudah dihidangkan, dan ketika seseorang didesak oleh dua hal yang kotor.”
10. Shalat ketika sangat kantuk.
Dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَرْقُدْ، حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ، لاَ يَدْرِي لَعَلَّهُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ»
“Apabila salah seorang di antara kamu mengantuk saat shalat (di malam hari), maka hendaknya ia tidur hingga hilang kantuknya, karena apabila dia shalat sedangkan dirinya masih sangat mengantuk, bisa jadi awalnya hendak istighfar, namun ia malah mencaci-maki dirinya.” (Hr. Jamaah Ahli Hadits)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ، فَاسْتَعْجَمَ الْقُرْآنُ عَلَى لِسَانِهِ، فَلَمْ يَدْرِ مَا يَقُولُ، فَلْيَضْطَجِعْ
“Apabila salah seorang di antara kamu bangun malam, lalu lisannya tidak lancar membaca Al Qur’an, ia tidak tahu apa yang ia baca, maka tidurlah terlebih dahulu.” (Hr. Ahmad dan Muslim)
11. Selalu menempati tempat tertentu di masjid selain imam.
Dari Abdurrahman bin Syibl ia berkata,
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَقْرَةِ الْغُرَابِ، وَافْتِرَاشِ السَّبْعِ، وَأَنْ يُوَطِّنَ الرَّجُلُ الْمَكَانَ فِي الْمَسْجِدِ كَمَا يُوَطِّنُ الْبَعِيرُ
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang sujud seperti mematuknya burung gagak (cepat tanpa thumakninah), menghamparkan tangan (ketika sujud) seperti hewan buas, dan seseorang selalu menempati tempat tertentu di masjid sebagaimana unta selalu menempati tempatnya.” (Hr. Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim, ia menshahihkannya, dan dihasankan oleh Al Albani).
Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Fiqhus Sunnah (Syaikh Sayyid Sabiq), Tamamul Minnah fit Ta’liq ala Fiqhis Sunnah (Syaikh M. Nashiruddin Al Albani), Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.

Syarah Kitab Tauhid (39)

Rabu, 14 Maret 2018
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫من الشرك إرادة بعمله الدنيا‬‎
Syarah Kitab Tauhid (39)
(Melakukan Amal Saleh Karena Kepentingan Dunia Adalah Syirik)
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:
Berikut lanjutan syarah (penjelasan) ringkas terhadap Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah, yang banyak kami rujuk kepada kitab Al Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At Tauhid karya Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
**********
Bab : Melakukan Amal Saleh Karena Kepentingan Dunia Adalah Syirik
Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16)
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.--Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Huud: 15-16)
Penjelasan:
Penulis (Syaikh M. At Tamimi) memasukkan masalah ini ke dalam kitab tauhidnya adalah untuk menerangkan, bahwa beramal saleh karena hendak meraih keuntungan dunia adalah kesyirikan yang dapat mengurangi kesempuraan tauhid seseorang serta menghapus amal saleh itu. Bedanya bab ini dengan bab sebelumnya (tentang riya) adalah jika riya adalah amal saleh untuk meraih pujian manusia, sedangkan bab ini menyebutkan tentang amal saleh yang dikerjakan karena hendak meraih dunia. Contoh amal saleh yang tujuannya adalah dunia adalah seseorang berjihad dengan maksud memperoleh harta, belajar agama dengan maksud memperoleh kedudukan dan harta, dsb.
Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan, bahwa barang siapa yang perhatiannya tertuju kepada dunia, sehingga niatnya ketika melakukan amal saleh adalah untuk mengejar dunia, maka Allah akan memberikan balasan di dunia jika Dia kehendaki sebagaimana firman-Nya di surat Al Isra ayat 18,
مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاء لِمَن نُّرِيدُ
“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.”
Ayat yang disebutkan penulis menerangkan tentang hukum beramal saleh karena dunia dan balasannya di dunia dan di akhirat.
Kesimpulan:
1.      Beramal saleh karena hendak mencari keuntungan dunia adalah syirik yang dapat menghapuskan amalnya.
2.      Allah memberikan balasan kepada orang kafir dan orang yang mengejar dunia dengan balasan kebaikan di dunia, sehingga di akhirat ia tidak memiliki amal kebaikan untuk diberikan balasan.
3.      Pemberian kenikmatan atau kekayaan kepada seseorang di dunia bukan berarti Allah mencintainya, bahkan tanda Allah mencintainya adalah ketika Dia memberikan kepadanya nikmat agama Islam dan mengamalkannya.
4.      Peringatan keras terhadap orang yang beramal saleh karena mengejar dunia.
5.      Dorongan untuk mencari akhirat dalam amal saleh yang dikerjakannya.
**********
Dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الخَمِيصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلاَ انْتَقَشَ، طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، كَانَ فِي الحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ
“Celaka hamba dinar, celaka hamba dirham, celaka hamba khamishah (pakaian yang terbuat dari sutra atau wool dengan diberi sulaman), dan celaka hamba khamilah (kain beludru). Jika diberi dia senang, dan jika tidak, dia marah. Celaka dan tersungkurlah. Apabila terkena duri semoga ia tidak bisa mencabutnya. Thuba (berbahagialah) bagi seorang hamba yang memacu kudanya di jalan Allah, rambutnya kusut dan kedua kakinya berdebu. Jika dia ditugaskan sebagai penjaga, maka dia tetap berada di pos penjagaan, dan jika dia ditugaskan di garis belakang, maka dia tetap berada di garis belakang. Jika dia meminta izin (untuk menemui raja atau penguasa) tidak diizinkan, dan jika bertindak sebagai pemberi syafaat (perantara), maka tidak diterima syafaatnya.”
**********
Penjelasan:
Hadits di atas diriwayatkan oleh Bukhari no. 2887.
Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan tentang dua keadaan orang, dimana yang satu mencari dunia, sedangkan yang satu lagi mencari akhirat. Orang yang mencari dunia atau hamba dunia akan sengsara, sedangkan orang yang mencari keridhaan Allah dan akhirat akan memperoleh keberuntungan yang kekal abadi.
Disebut sebagai ‘Hamba dinar, dirham, khamishah, atau khamilah’ adalah karena tujuan dia beramal adalah untuk memperoleh benda-benda itu atau semisalnya, yakni kesenangan dunia. Cirinya sebagaimana diterangkan dalam hadits di atas, ‘Jika diberi dia senang, dan jika tidak, dia marah.’ Adapun orang mukmin, maka sifatnya jika diberi bersyukur, dan jika tidak diberi, ia bersabar dan tidak marah, karena dia beramal karena Allah; bukan karena mencari dunia, bahkan di antara mereka ada yang tidak ingin memperoleh kesenangan dunia sedikit pun terhadap amalnya seperti halnya para sahabat yang tidak suka diberi dari dunia ini dan tidak menuntut apa-apa, karena niatnya adalah akhirat dan mereka hendak menjaga amal dan pahala mereka di akhirat, sehingga mereka tidak suka disegerakan kebaikan mereka di dunia. Akan tetapi jika seorang diberi tanpa rasa harap serta tamak dan tanpa memintanya, maka tidak mengapa mengambilnya sebagaimana disebutkan dalam hadits, bahwa jika kita diberi harta tanpa rasa harap dan tamak, maka ambillah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu,
خُذْهُ إِذَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا المَالِ شَيْءٌ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ، فَخُذْهُ وَمَا لاَ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ
“Ambillah jika harta ini datang kepadamu tanpa engkau berharap dan memintanya. Jika keadaanmu tidak demikian, maka jangan kau turuti keinginan dirimu.” (Shahih Bukhari no. 1473).
Sabda Beliau ‘Thuuba’ (berbahagialah) bisa artinya nama sebuah pohon di surga yang bayangannya menaungi perjalanan selama seratus tahun, atau sebagai salah satu nama surga, yakni orang yang melakukan amalan yang disebutkan akan memperoleh keutamaan ini.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
طُوْبَى شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ مَسِيْرَةَ مِائِةِ عَامٍ ثِيَابُ أَهْلِ الْجَنَّةِ تُخْرَجُ مِنْ أَكْمَامِهَا
“Thuba adalah sebuah pohon di surga yang (menaungi) perjalanan seratus tahun, dimana pakaian penghuni surga keluar dari kelopaknya.” (Hr. Ahmad dan Ibnu Hibban, dinyatakan hasan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1985)
Dalam hadits di atas juga terdapat celaan terhadap sikap beramal saleh karena mencari dunia, dan dorongan agar beramal saleh untuk mencari akhirat.
Kesimpulan:
1.      Celaan terhadap sikap beramal saleh karena mencari dunia, dan bahwa hal itu merupakan syirik dalam niat.
2.      Dorongan agar beramal untuk mencari akhirat.
3.      Keutamaan tawadhu.
4.      Keutamaan berjihad fi sabilillah.
5.      Contoh orang yang terkenal di langit, namun tidak dikenal di dunia.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Jika engkau sanggup untuk tidak dikenal,  maka lakukanlah. Tidak masalah bagimu untuk tidak dikenal dan tidak dipuji manusia. Tidak masalah bagimu jika engkau dicela manusia,  namun terpuji di sisi Allah Azza wa Jalla.”
6.      Keutamaan tidak terkenal dan keutamaan menyembunyikan amal saleh.
7.      Celaan terhadap sikap berlebihan terhadap dunia, dan pujian terhadap sikap sederhana dalam hal dunia.
Bersambung…
Wallahu a’lam wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alaa alihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa
Maraji’: Al Mulakhkhash fii Syarh Kitab At Tauhid (Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan), Fathul Majid (Abdurrahman bin Hasan), Al Qaulul Mufid (M. Bin Shalih Al Utsaimin), Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger