Khutbah Jumat : Kiat Istiqamah di Jalan Allah

Rabu, 17 Juli 2024

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Kiat Istiqamah di Jalan Allah

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam, nikmat iman, nikmat hidayah, nikmat taufiq, nikmat sehat wal afiyat dan nikmat-nikmat lainnya yang sama-sama kita rasakan yang semuanya patut untuk kita syukuri.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

«تَكُونُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنٌ كَقِطَعِ اللَّيْلِ المُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ أَقْوَامٌ دِينَهُمْ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا»

“Sebelum tibanya hari Kiamat akan ada banyak fitnah, seperti potongan malam yang gelap. Ketika itu, ada seorang yang paginya sebagai orang mukmin, namun sorenya sebagai orang kafir, atau sorenya sebagai orang mukmin, namun pagi harinya sebagai orang kafir. Ada orang-orang yang menjual agamanya dengan perhiasan dunia yang sedikit.” (Hr. Tirmidzi, dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani)

Hadits ini di antara bukti kenabian Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dimana sebelum tibanya hari kiamat Beliau menyatakan akan ada banyak fitnah, dan itu telah kita saksikan sekarang. Di zaman ini telah tersebar berbagai fitnah (godaan) baik fitnah syubhat maupun fitnah syahwat.

Keadaan fitnah itu seperti potongan malam yang gelap, yakni perumpamaannya seperti di malam yang gelap, yang seseorang tidak mengetahui apa yang ada di sekitarnya sampai-sampai ia tidak bisa mengira apa yang dirabanya apakah tali atau ular karena suasananya yang gelap. Demikianlah fitnah ketika itu, dimana kebenaran saat itu menjadi samar.

Saking dahsyatnya fitnah itu, sampai ada seorang yang paginya sebagai seorang mukmin, namun sorenya berubah menjadi orang kafir, atau sorenya sebagai seorang mukmin, namun keesokan paginya berubah menjadi seorang kafir. Dan hal ini telah kita rasakan sekarang, dimana berbagai fitnah mudah sekali tersebar di zaman ini, seperti melalui media sosial, internet, televisi, dan sebagainya serta membuat seseorang meninggalkan agamanya. Bahkan ada yang menggadaikan agamanya hanya karena perhiasan dunia yang rendah ini, wal ‘iyadz billah.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Jika kita perhatikan nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah, kita dapat mengetahui bahwa fitnah itu ada yang berupa fitnah syubhat dan ada yang berupa fitnah syahwat.

Fitnah Syubhat

Fitnah syubhat berupa pernyataan-pernyataan yang batil namun dihias dengan kalimat yang indah oleh kawan-kawan setan seakan-akan menjadi kebenaran. Misalnya –di zaman dahulu-  pernyataan kelompok-kelompok menyimpang seperti Jahmiyyah yang menolak sifat Allah, Qadariyyah yang mengingkari takdir, Ittihadiyyah yang menganggap tuhan menyatu dengan makhluk, dan lain-lain. Di zaman sekarang contoh fitnah syubhat adalah liberalisme yang menyeru kepada kebebasan, sekularisme yang hendak memisahkan agama dari negara, pluralisme yang menyatakan semua agama sama, komunisme yang menolak ajaran agama, dan lain-lain.

Kita dapat mengetahui batilnya pernyataan-pernyataan itu dengan mempelajari kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam serta dengan bertanya kepada para ulama.

Batilnya liberalisme karena di dalamnya menyeru kepada kebebasan yang akan membuat manusia hidup seperti hewan tanpa aturan dan norma, dan keadaannya akan seperti di jalan umum ketika tidak ada rambu-rambu lalu lintas, maka yang ada adalah kekacauan, kemacetan, dan kecelakaan.

Batilnya sekularisme karena sama saja tidak mengindahkan ajaran agama Islam yang Allah turunkan agar dijadikan pedoman dalam hidup di dunia, dan karena Islam adalah agama yang lengkap; yang bukan hanya mengatur terkait hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, tetapi mengatur pula hubungan seorang hamba dengan orang lain.

Allah Ta’ala juga berfirman,

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124)

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.--Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (Qs. Thaahaa: 123-124)

Batilnya pluralisme; karena orang yang menyatakan semua agama sama tidak memperhatikan ajaran masing-masing agama yang jelas berbeda. Kalau semua ajaran agama sama, tentu semuanya akan bersama shalat Jumat, shalat jamaah, berpuasa Ramadhan, membayar zakat, berhaji, dsb. Di samping itu, Allah menyatakan bahwa Dia tidak menerima agama selain Islam. Dia berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imran: 85)

Oleh karena itu, jalan menuju surga Allah hanya satu yaitu lewat jalan Islam, karena semua jalan telah ditutup oleh Allah Azza wa Jalla selain Islam sebagaimana ketika ketika menuju ke sebuah tempat, kemudian semua pintu ke tempat itu ditutup selain satu pintu, maka kita tidak bisa masuk ke tempat itu kecuali melalui satu pintu itu.

Sedangkan batilnya komunisme sangat jelas sekali karena mereka menolak ajaran agama, dan terbukti ketika mereka berkuasa melakukan tindak kezaliman kepada manusia dan tidak mengindahkan norma-norma agama. Di samping keadaan mereka yang tidak beriman kepada akhirat, sehingga membuat mereka berani melakukan tindak sewenang-wenang terhadap orang lain.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Di samping fitnah syubhat ada fitnah syahwat.

Fitnah syahwat adalah godaan-godaan yang sejalan dengan hawa nafsu yang memalingkan seseorang dari agamanya, seperti fitnah atau godaan wanita, harta, dan tahta (kekuasaan). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali Imran: 14)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda tentang fitnah wanita,

«إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ»

“Dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah (pengganti) bagi generasi sebelum kalian, lalu Dia memperhatikan apa yang kalian kerjakan. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah terkait wanita.” (Hr. Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadits Abu Sa’id Al Khudri)

Tentang fitnah harta, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي المَالُ»

“Sesungguhnya setiap umat mempunyai fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.” (Hr. Tirmidzi dan Hakim dari hadits Ka’ab bin Iyadh, dan dishahihkan oleh Al Albani)

Tentang fitnah tahta atau kekuasaan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»

“Dua ekor serigala yang lapar dan dilepas di tengah-tengah kambing tidaklah lebih berbahaya daripada daripada bahayanya ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan terhadap agama seseorang.” (Hr. Tirmidzi dari hadits Ka’ab bin Malik, dishahihkan oleh Al Albani)

Bahkan keluarga; anak dan istri bisa sebagai fitnah dalam arti membuat seseorang lalai terhadap agama, membuatnya meninggalkan perintah Allah dan mengerjakan larangan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. At Taghabun: 15)

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Wahai orang-orang beriman! Janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Qs. Al Munafiqun: 9)

Fitnah syahwat ini pernah menimpa Adam ‘alaihis salam ketika ia tergoda memakan buah yang dilarang Allah, akhirnya Beliau dikeluarkan dari surga, setelah itu Beliau bertobat dan Allah pun menerima tobatnya. Untuk menghadapi fitnah syahwat ini adalah dengan bersabar menjalankan ketaatan kepada Allah, bersabar menjauhi maksiat, dan istiqamah di atas agama-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ اْلقُرْآنَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْءٍ، وَهُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَجَمَعَ فِيْهِ أُصُوْلَ الدِّيْنِ وَفُرُوْعَهُ، وَأَصْلَحَ بِهِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهَ أَكْمَلُ الْخَلْقِ وَسَيِّدُ الْمُرْسَلِيْنَ، اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Setelah kita mengetahui begitu dahsyatnya fitnah akhir zaman dan berbagai bentuknya, lalu bagaimana agar kita tidak terbawa oleh fitnah itu. Berikut kiat istiqamah di atas agama Allah dan agar kita tidak terbawa oleh fitnah:

1. Berdoa kepada Allah Azza wa Jalla meminta keteguhan di atas agama-Nya

Allah Azza wa Jalla menyebutkan permohonan Ahli Ilmu ketika mereka menghadapi fitnah syubhat; mereka berdoa,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

 (Mereka berdoa), "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.  Sesungguhnya Engkau Maha pemberi (karunia)". (Qs. Ali Imran: 8)

Anas radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sering berdoa,

«يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»

“Wahai Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati ini agar tetap di atas agama-Mu.”

Maka Anas bertanya, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau bawa, lalu apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?” Beliau bersabda,

«نَعَمْ، إِنَّ القُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ»

 “Ya. Sesungguhnya hati manusia di antara dua jari dari jari-jari Allah, Dia mudah membalikkannya bagaimana pun yang dikehendaki-Nya.” (Hr. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

2. Berpegang dengan kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. Ali Imran: 101)

Ayat ini jelas sekali, bahwa sarana terbesar untuk istiqamah di atas agama Allah adalah mendatangi Al Qur’an dengan membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya, serta mendatangi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan mempelajarinya, karena keduanya membuat seseorang tidak kembali kepada kekafiran sebagaimana diterangkan dalam ayat di atas. Di samping itu, karena di dalam Al Qur’an memuat targhib (dorongan) dan tarhib (peringatan), kisah-kisah, dan nasihat yang sangat membantu sekali seseorang untuk istiqamah di atas agama Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي، وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat setelahnya dengan berpegang kepada keduanya, yaitu kitabullah dan sunnahku, dan keduanya tidak akan berpisah sampai mendatangi telagaku.” (Hr. Hakim dari Abu Hurairah, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 2937 dan Ash Shahihah no. 1761)

3. Mengamalkan ilmu yang telah diketahui

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),” (Qs. An Nisaa: 66)

Ayat ini juga menunjukkan, bahwa istiqamah dapat diperoleh dengan mengamalkan nasihat yang disampaikan, tidak cukup hanya banyak mendengar nasihat, namun tidak diamalkan.

4. Membaca kisah para nabi dan orang-orang terdahulu

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, adalah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Huud: 20)

5. Bergaul dengan orang-orang saleh

Allah Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan sore hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya itu melewati batas.” (Qs. Al Kahfi: 28)

Bergabunglah dengan orang-orang yang berhijrah dan orang-orang yang mengaji. Bergabunglah dengan komunitas dan group-group kajian yang ada di media sosial agar kita termotivasi dan istiqamah di atas agama Allah Azza wa Jalla.

Kita meminta kepada Allah agar Dia selalu membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya dan memberikan kita taufiq untuk dapat menempuhnya, serta memberikan kepada kita istiqamah di atas agamanya sampai akhir hayat, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Shalat Seorang Musafir

Senin, 08 Juli 2024

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Shalat Seorang Musafir

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam, nikmat iman, nikmat hidayah, nikmat taufiq, nikmat sehat wal afiyat dan nikmat-nikmat lainnya yang sama-sama kita rasakan yang semuanya patut untuk kita syukuri.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Kita semua tentu pernah melakukan safar dan akan kembali melakukan safar, karena yang demikian termasuk kebutuhan manusia, seperti safar karena dinas, safar karena pulang kampung, safar karena mengunjungi kerabat dan teman, dan safar karena sebab lainnya.

Namun jika kita perhatikan, banyak di antara manusia yang ketika safar tidak memperhatikan masalah shalat, bahkan di antara mereka banyak yang meninggalkan shalat, wal ‘iyadz billah.

Mungkin di antara sebab mereka meremehkan shalat ketika safar karena kejahilan mereka terhadap urgensi shalat dan fikih seputar safar, maka pada kesempatan khutbah Jumat kali ini khatib akan menyampaikan tentang urgensi shalat di saat safar dan fikih seputar safar, semoga bermanfaat.

Urgensi (Pentingnya) shalat meskipun ketika safar

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ -- فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha (Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.---Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Qs. Al Baqarah: 238-239)

Dalam ayat di atas Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan kita menjaga shalat baik ketika hadhar (tidak safar) maupun ketika safar, ketika suasana aman maupun suasana mencekam seperti dalam perang.

Bahkan dalam kondisi sakit sekalipun, kewajiban shalat tidak gugur. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

صَلِّ قَائِمًا, فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا, فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Shalatlah sambil berdiri! Jika tidak bisa, maka sambil duduk, jika tidak bisa, maka sambil berbaring.” (Hr. Bukhari)

Jika dalam kondisi perang Allah Azza wa Jalla tetap mewajibkan shalat, apalagi dalam kondisi damai.

Jika dalam kondisi sakit Allah Azza wa Jalla tetap memerintahkan shalat, apalagi dalam kondisi sehat.

Di samping itu, Allah Azza wa Jalla juga mengancam dengan neraka bagi orang-orang yang meninggalkan shalat, Dia berfirman,

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ -- قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ -- وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ -- وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ -- وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ -- حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ .

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"--- Mereka menjawab, "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat--Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin,---Dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,---Dan kami mendustakan hari pembalasan,---Hingga datang kepada Kami kematian". (Qs. Al Muddatstsir: 42-47)

Umat Islam juga tidak berselisih bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja termasuk dosa-dosa besar yang sangat besar, dan bahwa dosanya lebih besar di sisi Allah daripada dosa membunuh, mengambil harta, zina, mencuri dan meminum khamr.

Dari sini kita mengetahui tentang pentingnya shalat dan tidak patutnya kita remehkan.

Setelah kita mengetahui akan urgensi shalat dan tidak patutnya ditinggalkan meskipun oleh orang musafir, maka bagaimanakah cara pelaksanaan shalat fardhu bagi musafir ketika di atas kendaraan?

ü Jika ia berangkat setelah tiba waktu shalat, maka hendaknya ia lakukan shalat lebih dulu agar dapat melaksanakan shalat secara sempurna, sehingga ia bisa berdiri, menghadap kiblat, ruku, sujud, dsb.

ü Jika safarnya sampai ke tempat tujuan membuat habis waktu shalat berikutnya, maka dia bisa menjamak shalat di awal waktu sebelum berangkat. Misalnya ia bisa jamak shalat Zhuhur dengan shalat Ashar di waktu Zhuhur (jamak taqdim).

ü Jika ia berangkat sebelum tiba waktu shalat, maka dia perhatikan; jika sampai ke tempat tujuan masih ada waktu shalat, maka ia bisa menunda pelaksanaan shalat sampai di tempat tujuan agar dapat melaksanakan shalat secara sempurna, ia bisa berdiri, menghadap kiblat, ruku, sujud, dsb.

ü Jika shalatnya bisa dijamak, seperti Zhuhur dengan Ashar, atau Maghrib dengan Isya, maka ia bisa menjamak di akhir waktu (jamak ta’khir), misalnya ia sampai ke tempat tujuan di waktu Ashar, maka ia bisa tunda pelaksanaan shalat Zhuhur di waktu Ashar dan menjamaknya dengan shalat Ashar di waktu Ashar (jamak ta’khir). Yang demikian agar dia dapat melaksanakan shalat secara sempurna.

ü Jika engkau safar naik bis dan engkau tahu bahwa bis akan berhenti di rest area atau tempat makan serta diberikan kesempatan istirahat setengah jam misalnya untuk makan, ke toilet, dan lain-lain, maka engkau bisa menunda shalat fardhu ketika bis beristirahat di rest area, engkau bisa shalat fardhu di sana secara sempurna.

ü Jika engkau berangkat sebelum waktu shalat tiba dan sampai di tempat tujuan telah habis waktu shalat, maka dalam hal ini engkau dapat melakukannya di atas kendaraan baik pesawat maupun kereta. Jika engkau bisa menghadap kiblat, maka menghadaplah ke kiblat, tetapi jika tidak bisa, maka tidak mengapa. Demikian pula jika engkau sulit mekakukan shalat sambil berdiri, melakukan ruku dan sujud, maka engkau bisa shalat sambil duduk dan berisyarat dengan kepala ketika ruku dan sujud, dimana saat sujud kepala lebih rendah daripada ketka ruku.  

ü Untuk shalat sunah, maka engkau bisa melakukannya di atas keendaraan, misalnya shalat witir.

ü Jangan sampai engkau menunda shalat sampai habis waktu shalat, termasuk di antaranya adalah menunda shalat Isya sampai lewat tengah malam, dimana untuk mengetahui tengah malam adalah dengan dibagi dua antara tenggelam matahari dan terbit fajar.

ü Jika kesulitan melakukan sebagian gerakan shalat secara sempurna, maka ia lakukan semampunya, karena Allah Ta’ala berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kepada Allah semampumu.” (Qs. At Taghabun: 16)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَرَ أَوْ أَرَادَ شُكُوْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، فَمَا أَعْظَمَهُ رَباًّ وَمَلِكًا قَدِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي أَرْسَلَهُ إِلَى جَمِيْعِ الثَّقَلَيْنِ بَشِيْراً وَنَذِيْرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى محمد وَعلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Setelah kita mengetahui urgensi shalat dan fikih seputar pelaksanaan shalat ketika safar, maka di sini khatib akan menyampaikan keringanan bagi musafir, yaitu:

ü Boleh menyapu bagian atas khuff (sepatu yang menutupi kedua mata kaki) ketika berwudhu', tanpa perlu melepasnya. Hal ini apabila ia memasukkan kedua kakinya ke dalam sepatu dalam keadaan suci dari hadats kecil maupun besar, selama tiga hari tiga malam. Namun jika ia mukim (dimana ia sudah menyempurnakan shalatnya), maka lamanya hanya sehari semalam (24 jam).

ü Boleh bertayammum jika tidak mendapatkan air atau kesulitan mencarinya.

ü Dianjurkan membaca surat-surat pendek setelah Al Fatihah dalam shalat ketika safar. Dalam Shahih Muslim disebutkan,

"Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat Isya bersama para sahabat ketika safar dengan membaca Wat Tiini waz zaitun."

ü Disyari'atkan mengqashar (mengurangi) jumlah shalat yang empat rakaat menjadi dua, seperti shalat Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya.

ü Boleh menjama' (menggabung) Zhuhur dan ‘Ashar atau Maghrib dan Isya, baik jama' taqdim (di awal waktu seperti melakukan shalat Zhuhur dan Ashar di waktu Zhuhuhr) maupun jama' ta’khir (di akhir waktu seperti melakukan shalat Zhuhur dan Asharnya di waktu Ashar), terutama jika perjalanan berat atau ia butuh menjamak.

ü Boleh melakukan shalat sunah di atas kendaraannya ke mana saja kendaraannya menghadap (lebih utama ketika takbiratul ihram menghadap kiblat), namun untuk shalat fardhu hendaklah dia turun dan menghadap ke kiblat, kecuali jika tidak memungkinkan untuk turun dan waktu shalat akan habis.

ü Boleh berbuka puasa.

ü Boleh meninggalkan shalat Jumat dan menggantinya dengan shalat Zhuhur.

ü Dzikir setelah shalat cukup sekali dari dua shalat yang dijamak.

Kita meminta kepada Allah agar Dia selalu membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya dan memberikan kita taufiq untuk dapat menempuhnya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger