Kisah Zubair bin Awwam

Senin, 04 April 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Kisah Zubair bin Awwam

radhiyallahu 'anhu

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut kisah Zubair bin Awwam radhiyallahu 'anhu, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Mengenal Zubair bin Awwam radhiyallahu anhu

Beliau termasuk di antara sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga.

Beliau juga orang yang pertama menghunus pedangnya di jalan Allah untuk membela Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Beliau adalah ksatria pemberani yang tidak pernah absen dalam semua peperangan yang dihadiri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Beliau juga pahlawan yang menjadi sebab ditaklukkannya Mesir dan masuk penduduknya ke dalam Islam.

Masuk Islamnya Zubair bin Awwam

Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam diutus, maka orang yang pertama didakwahkan Beliau kepada Islam dan tauhid adalah keluarga dan kerabat Beliau. Lalu sebagian besar mereka menyatakan keislaman, yang di antaranya adalah Shafiyyah binti Abdul Muththalib bibi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berikut anaknya yaitu Zubair bin Awwam yang ketika itu usianya masih muda belia. Meskipun masih sangat muda, namun beliau sangat mencintai Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Pembelaannya terhadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam

Suatu hari tersebar berita bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dibunuh, maka Zubair segera menghunus pedangnya dan keluar ke tengah-tengah manusia seperti badai yang hendak menghancurkan segala sesuatu yang ada di hadapannya seraya memastikan kabar yang beredar, maka ia bertemu dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu Beliau bersabda, “Ada apa denganmu wahai Zubair?” Ia menjawab, “Aku mendapat kabar bahwa engkau dibunuh.” Beliau bersabda, “Lalu apa yang engkau lakukan?” Ia menjawab, “Aku akan tebas dengan pedang ini orang yang menangkapmu.” Maka Beliau mendoakan Zubair dan pedangnya. (Diriwayatkan oleh Hakim, menurut Al Arnauth para perawinya tsiqah).

Kesabaran Zubair saat mendapatkan gangguan di jalan Allah

Meskipun kedudukan Zubair di tengah kaumnya sangat dihormati, hanyasaja beliau tetap mendapatkan gangguan dan penindasan. Namun anehnya, yang melakukan penindasan terhadapnya adalah pamannya sendiri. Ketika pamannya tahu Zubair masuk Islam, maka ia menyekap Zubair dan menyalakan api dan asap di bawahnya sehingga asap itu membuat Zubair merasakan sesak nafas yang dahsyat. Meskipun begitu, ia tetap bersabar dan memikul cobaan itu seraya berkata, “Aku tidak akan kembali kepada kekafiran selamanya.”

Zubair terus mendapatkan penganiayaan dan penindasan sampai Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyuruh para sahabat hijrah ke Habasyah. Zubair pun turut hijrah bersama mereka baik pada hijrah pertama maupun kedua, namun ia tidak sanggup jauh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sehingga menghendakinya untuk kembali dan berada dalam penindasan.

Sikap mulia Zubair saat di Habasyah

Saat kaum muslimin berada di Habasyah, maka mereka mendapatkan keamanan dari rajanya yang adil yaitu Najasyi.

Ketika itu kaum muslimin merasakan keamanan sampai ada peristiwa tentang seorang dari Habasyah yang hendak mengambil kekuasaan Najasyi. Di saat itu, kaum muslimin sangat bersedih sekali karena khawatir orang itu mengalahkan Najasyi.

Di tengah suasana seperti itu, maka para sahabat ingin mengetahui peristiwa yang terjadi antara Najasyi dengan orang itu di dekat sungai Nil.

Maka para sahabat berkata, “Siapa yang siap keluar untuk menyaksikan peperangan itu agar dia dapat menyampaikan berita itu kepada kami?”

Zubair menjawab, “Saya.” Padahal ia orang yang paling muda usianya. Ketika itu para sahabat meniupkan geriba untuk Zubair (agar tidak tenggelam), lalu Zubair menaruh geriba itu di dadanya dan berenang hingga ke tepi sungai nil yang di sana berkumpul pasukan, lalu ia terus beranjak dan menyaksikan peperangan itu. Saat itu para sahabat berdoa kepada Allah agar Dia memberikan kemenangan kepada Najasyi dan doa mereka pun dikabulkan Allah Azza wa Jalla. Najasyi tetap memimpin negerinya. Ummu Salamah yang ketika itu turut berhijrah berkata, “Demi Allah, kami sangat menantikan kabar yang terjadi, tiba-tiba Zubair muncul dengan bergegas sambil berisyarat dengan bajunya dan berkata, “Bergembiralah! Sesungguhnya Najasyi menang, dan Allah membinasakan musuh-Nya serta memberikan kekuasaan kepada Najasyi di negerinya.” (Sirah Ibnu Hisyam 1/279)

Menemani Nabi shallallahu alaihi wa sallam kembali

Zubair bin Awwam meskipun telah merasakan kenyamanan di negeri Habasyah, namun ia lebih memilih kembali menemani Nabi shallallahu alaihi wa sallam, ia pun kembali ke Mekkah dan merasakan berbagai penderitaan di jalan Allah di sana sampai Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengizinkan para sahabatnya hijrah ke Madinah, lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam hijrah setelah mereka. Ketika itu Zubair termasuk orang yang berhijrah ke Madinah dan tinggal di sana menemani Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan mengambil banyak kebaikan dari Beliau.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam sangat mencintai Zubair sampai-sampai Beliau bersabda,

«إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيًّا وَإِنَّ حَوَارِيَّ الزُّبَيْرُ بْنُ العَوَّامِ»

“Sesungguhnya setiap nabi memiliki sahabat setia, dan sesungguhnya sahabat setiaku adalah Zubair bin Awwam.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Jihad yang dilakukan Zubair bin Awwam radhiyalllahu anhu

Zubair telah mengorbankan jiwa dan raganya di jalan Allah, ia menjadikan jiwa, raga, dan hartanya sebagai waqaf untuk Allah Azza wa Jalla, sehingga Allah memuliakan dan meninggikannya di dunia dan di akhirat.

Beliau berperang dengan gigihnya sehingga tidak ada yang siap berhadapannya. Saking gigihnya dalam berperang, ia mendapatkan banyak luka yang parah dan dalam di tubuhnya. Siapa saja yang memperhatikan bagaimana para sahabat menyebutkan luka yang menimpa Zubair, tentu dia akan tahu bagaimana Zubair berperang.

Urwah berkata, “Pada diri Zubair terdapat tiga sayatan pedang; salah satunya di pundaknya yang aku dapat memasukkan jari-jariku ke dalamnya; ia ditebas dua kali dalam perang Badar dan satu kali dalam perang Yarmuk.” (As Siyar karya Adz Dzahabi 1/52)

Ali bin Zaid berkata, “Telah mengabarkan kepadaku orang-orang yang pernah melihat Zubair, bahwa di dadanya terdapat seperti mata air-mata air karena tusukan pedang dan lemparan panah.” (Shifatush Shafwah 1/141)

Jihad Zubair dalam perang Badar

Dalam perang Badar Zubair berperang seperti singa-singa yang menerkam. Ketika itu ia memakai sorban berwarna kuning, bahkan malaikat Jibril turun menyerupai Zubair bin Awwam.

Dalam perang Uhud

Dalam perang Uhud Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihat seorang yang membunuh kaum muslimin dengan bengisnya, lalu Beliau bersabda, “Bangun wahai Zubair, lawanlah dia!” Maka Zubair naik ke atas bukit, lalu lompat menyerang dan mencengkramnya, hingga keduanya jatuh dan berguling di tanah, lalu Zubair membunuh orang itu.

Zubair termasuk orang yang menyambut panggilan Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam

Ketika kaum musyrik pulang meninggalkan area Uhud, sedangkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya mendapatkan luka-luka, dan Beliau khawatir mereka kembali menyerang, maka Beliau bersabda, “Siapa yang siap mengikuti jejak mereka untuk melawan, agar mereka mengetahui bahwa kita masih kuat. Lalu Abu Bakar dan Zubair beserta tujuh puluh orang yang menyatakan kesiapannya, kemudian mereka keluar membuntuti kaum musyrik. Saat kaum musyrik mengetahui bahwa kaum muslimin mengejar mereka, maka mereka segera pergi. Allah Ta’ala berfirman,

فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Qs. Ali Imran: 174)

Ketika itu mereka tidak menemukan musuh sama sekali. (Sebagaimana dalam Shahih Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu anha berkata kepada putera saudarinya, yaitu Urwah bin Az Zubair, “Wahai putera saudariku! Sesungguhnya kedua ayahmu –Zubair dan Abu Bakar- termasuk orang-orang yang menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya setelah ditimpa luka-luka.” (Lihat Ali Imran: 172)

Dalam perang Khandaq

Dalam perang Khandaq kaum muslimin ditimpa cobaan yang berat, dimana pihak musuh berkumpul sehingga jumlah mereka sampai 10.000 orang mengepung Madinah untuk menghabisi Islam dan kaum muslimin. Di saat yang sama, orang-orang Yahudi Bani Quraizhah membatalkan perjanjian dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan hendak membuka pintu masuk kaum musyrik agar mereka dapat masuk ke Madinah menghabisi kaum muslimin.

Ketika itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang siap menyampaikan kepada kami berita Bani Quraizhah?”

Zubair berkata, “Saya.” Maka dia menaiki kudanya dan membawa berita tentang mereka, lalu Beliau bersabda yang kedua kalinya, ternyata Zubair lagi yang siap, sampai ketiga kalinya Beliau bersabda demikian, dan ternyata Zubair juga yang siap, maka Beliau bersabda, “Setiap Nabi memiliki sahabat setia, dan sahabat setiaku adalah Zubair.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Manusia paling berani adalah Zubair, dan tidak ada yang mengetahui kedudukan seorang laki-laki besar kecuali laki-laki besar juga.”

Ketika Zubair bin Awwam hendak memerangi orang-orang Yahudi Bani Quraizhah karena telah berkhianat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ternyata ia telah mendapati ibunya yaitu Shafiyyah binti Abdul Muththalib telah membunuh seorang Yahudi yang naik ke banteng untuk memata-matai wanita kaum muslimin.

Saat Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat

Hari berlalu dan tibalah hari yang paling berat dialami para sahabat radhiyallahu anhum, yaitu hari wafatnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika itu Zubair sangat bersedih sekali, akan tetapi kesedhan ini terobati karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat dalam keadaan ridha kepada Zubair.

Setelah Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat maka tampuk khilafah dipegang oleh Abu Bakar Ash Shddiq radhiyallahu anhu, dan setelah ia wafat, maka tampuk khilafah dipegang oleh Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu.

Zubair bin Awwam sebagai ksatria Islam tidak pernah mundur dari menunaikan kewajibannya dengan hadir di setiap medan pertempuran untuk menaklukkan wilayah musuh. Ia selalu berada di posisi terdepan dalam pasukan yang keluar untuk mengajak manusia masuk ke dalam Islam dan mewujudkan tauhid kepada Allah Azza wa Jalla.

Jihad Zubair bin Awwam dalam perang Yarmuk

Zubair bin Awwam termasuk sahabat yang hadir dalam perang Yarmuk, bahkan yang terbaiknya. Beliau ksatria Islam dan seorang yang pemberani. Ketika itu sekumpulan ksatria Islam berkumpul di hadapan beliau dan berkata, “Tidakkan engkau menyerang musuh sehingga kami ikut menyerang juga bersamamu?” Beliau menjawab, “Kalian tidak akan kuat.” Mereka mengatakan, “Bahkan kami kuat.” Maka ia pun menghadapi musuh diikuti oleh ksatria Islam lainnya, dan saat kaum muslimin berhadapan dengan barisan bangsa Romawi, maka para ksatria itu menahan diri, namun Zubair tetap maju seorang diri lalu menembus barisan pasukan Romawi sehingga keluar dari arah yang lain dan kembali kepada kawan-kawannya, kemudian mereka datang lagi, lalu Zubair melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Ketika itu ia terluka dua luka di antara kedua bahunya.” (Al BIdayah wan Nihayah 7/11)

Saat penaklukan Mesir

Ketika Amr bin Ash hendak menaklukkan Mesir yang ketika itu jumlah pasukannya hanya berjumlah 3.500 prajurit, maka Amr menulis surat kepada Umar meminta tambahan pasukan, dan karena Umar kasihan kepada mereka, disiapkanlah 4.000 prajurit di bawah pimpinan para sahabat utama, yaitu: Zubair, Miqdad bin Al Aswad, Ubadah bin Ash Shamit, dan Maslamah bin Mukhlad radhiyalahu anhum. Umar radhiyallahu anhu berkata, “Saya bantu engkau dengan 4.000 prajurit, dimana setiap seribu prajurit dipimpin oleh seorang yang seimbang dengan seribu prajurit.” Ketika itu Zubair termasuk komandannya. (Futuh Mishr wal Maghrib hal. 61, Mu’jamul Buldan 6/376, Qadah Fathisy Syam wa Mishr hal. 208, 226)

Ketika Zubair datang, dilihatnya Amr bin Ash bersama pasukannya mengepung benten Babilonia, maka Zubair segera menunggangi kudanya dan mengelilingi parit yang ada di sekitar banteng, kemudian memisahkan pasukan di sekeliling parit dan terus melakukan pengepungan selama tujuh bulan, lalu ada yang berkata kepada Zubair, “Di sana terdapat wabah Thau’un,” Zubair menjawab, “Kami datang untuk menikam dan untuk wabah Tha’un.” (Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/107)

Ketika itu penaklukkan Mesir agak lambat bagi Amr bin Ash, maka Zubair berkata, “Saya sudah serahkan diri ini untuk Allah, saya berharap agar Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin.” Lalu disiapkan tangga dan disandarkan beliau di samping banteng dari arah pasar Al Hammam, lalu beliau naik, dan beliau menyuruh mereka ketika mendengar takbirnya untuk ikut bertakbir. Mereka tidak tahu Zubair kecuali setelah ia berada di atas banteng sambil bertakbir dengan membawa pedangnya, lalu yang lain ingin ikut naik tangga namun Amr bin Ash mencegah mereka karena khawatir akan dikalahkan. Saat pasukan Romawi melihat bahwa bangsa Arab telah menguasai banteng, maka mereka menarik pasukannya, maka ketika itulah banteng Babilonia terbuka pintunya untuk kaum muslimin, dan dengan terbukanya banteng itu berhentilah peperangan dalam menaklukan Mesir. Bahkan keberanian Zubair juga yang menjadi penyebab menangnya kaum muslimin terhadap Muqauqis. (Qadah Fathisy Syam wa Mishr hal. 209, 227)

Penaklukan itu merupakan sebab masuk Islamnya penduduk Mesir, sehingga Zubair memiliki jasa yang besar bagi penduduk Mesir sampai hari Kiamat.

Zubair menamai anak-anaknya dengan nama para syuhada

Zubair ingin sekali mati syahid, sehingga beliau mencari tempat-tempat kesyahidan dalam medan peperangan, bahkan ia sampai menamai anak-anaknya dengan nama para syuhada. Zubair berkata, “Sesungguhnya Thalhah bin Ubaidillah At Taimi menamai anak-anaknya dengan nama para nabi, dan ia tahu tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sedangkan aku menamai anak-anakku dengan nama para syuhada agar mereka juga menjadi para syuhada.” Ia menamai anaknya dengan nama ‘Abdullah’ seperti Abdullah bin Jahsy yang syahid, dengan nama ‘Al Mundzir’ seperti Al Mundzir bin Amr, dengan nama ‘Urwah’ seperti Urwah bin Mas’ud, dengan nama ‘Hamzah’ seperti Hamzah bin Abdil Muththalib, dengan nama ‘Ja’far’ seperti Ja’far bin Abi Thalib, dengan nama ‘Mush’ab’ seperti Mush’ab bin Umair, dengan nama ‘Ubaidah’ seperti Ubaidah bin Harits, dengan nama ‘Khalid’ seperti Khalid bin Sa’id, dan dengan nama ‘Amr’ seperti Amr bin Sa’id bin Ash. (Thabaqat Ibn Sa’ad 3/74)

Saatnya meninggalkan dunia

Setelah hidupnya dipenuhi zuhud, wara, dan pengorbanan kini tiba saatnya beliau harus meninggalkan dunia dalam perang Jamal.

Ketika Utsman bin Affan radhiyallahu anhu dibunuh, maka Zubair, Thalhah, dan ibunda kita Aisyah radhiyallahu anhum keluar untuk menuntut darah Utsman dan tidak ada maksud untuk memerangi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Akan tetapi setelah terjadi kesepakatan shulh (damai), ternyata para pengikut Abdullah bin Saba meniup api fitnah di pasukan Ali dari satu sisi, dan meniup api fitnah pula di rombongan Thalhah, Zubair, dan Aisyah di sisi lain sehingga terjadilah perang Jamal.

Akan tetapi Thalhah dan Zubair segera menyingkirkan diri dalam perang itu dan tidak ikut berperang saat dilihatnya Ammar berperang di pihak Ali radhiyallahu anhu. Keduanya ingat sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Ammar, “Engkau akan dibunuh oleh kelompok yang durhaka.” (Hr. Muslim)

Saat itu Thalhah dan Zubair berada dalam pasukan Muawiyah yang memerangi Ammar, lalu keduanya khawatir masuk dalam perang itu, apalagi Ali bin Abi Thalib telah menyampaikan kepada Zubair, “Wahai Zubair, saya bertanya kepadamu dengan nama Allah, “Apakah engkau mendengar sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Engkau akan memeranginya sedangkan engkau dalam keadaan zalim.” Zubair menjawab, “Ya, aku ingat.” Lalu Zubair pergi meninggalkan pasukan itu. Demikian pula Thalhah ikut menarik diri, namun keduanya (Thalhah dan Zubair) dibunuh saat memisahkan diri dari pasukan itu.

Zubair dibuntuti oleh seorang bernama Amr bin Jurmuz yang ternyata siap-siap membunuhnya secara diam-diam. Sedangkan Thalhah, maka terkena lemparan panah yang tidak jelas dari siapa. Ada yang mengatakan, bahwa lemparan panah itu berasal dari Marwan bin Hakam.

Pembunuh Zubair akan masuk neraka

Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menyampaikan bahwa pembunuh Zubair akan masuk neraka, dan bahwa Zubair akan wafat sebagai syahid.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah berada di atas bukit bukit Hira, lalu bukit itu bergetar, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«اسْكُنْ حِرَاءُ فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ، أَوْ صِدِّيقٌ، أَوْ شَهِيدٌ»

“Diamlah wahai Hira! Karena di atasmu ada nabi, seorang yang shiddiq, atau orang yang akan mati syahid.”

Ketika itu di atas bukit Hira terdapat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, dan Sa’ad bin Abi Waqqash.” (Hr. Muslim)

Suatu ketika Ibnu Jurmuz si pembunuh Zubair meminta izin untuk menemui Ali, beliau bertanya, “Siapa orang ini?” Diberitahukan kepadanya, “Dia Ibnu Jurmuz meminta izin masuk.” Ali berkata, “Izinkan dia masuk, agar si pembunuh Zubair masuk neraka. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap nabi memiliki sahabat setia. Dan sahabat setiaku adalah Zubair.” (Hr. Hakim, ia menshahihkannnya dan disepakati oleh Adz Dzahabi)

Demikianlah perjalanan seorang syahid yang diberkahi untuk menyusul kekasihnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya di surga Ar Rahman.

Semoga Allah meridhai Zubair dan mengumpulkan kita bersamanya di surga Firdaus. Aaamin.

Wallahu a'lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Maraji': As-habur Rasul lil Athfaal (Mahmud Al Mishri), Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.

Amalan Ringan Berpahala Besar (1)

Senin, 21 Maret 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Amalan Ringan Berpahala Besar (1)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut hadits-hadits yang menyebutkan amalan ringan namun berpahala besar yang diambil dari risalah A’mal Yasirah wa Ujur ‘Azhimah yang diterbitkan oleh AlBetaqa.com. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.

Amalan Ringan Berpahala Besar

1.   Membaca doa setelah mendengar azan.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang ketika telah mendengar azan berdoa, “Allahumma Rabba Haadzihid da’watit taammah…dst.” (Artinya: Ya Allah pemilik seruan yang sempurna ini, pemilik shalat yang akan didirikan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah (perantara) dan keutamaan. Bangkitkanlah dia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan), maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” (Hr. Bukhari)

2.   Membaca doa setelah wudhu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

" مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ - أَوْ فَيُسْبِغُ - الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ "

“Tidak ada seorang pun di antara kalian yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu ia mengucapkan “Asyhadu allaaiilahaillallah…dst.”(artinya: aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya), melainkan akan dibukakan untuknya pintu surga yang berjumlah delapan; dimana ia boleh masuk dari pintu mana saja yang dia mau.”  (Hr. Muslim)

3.   Keutamaan menyempurnakan wudhu.

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ، حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ»

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang berwudhu dan memperbagus wudhunya, maka akan keluar dosa-dosanya hingga keluar dari bawah kukunya.” (Hr. Muslim)

4.   Banyak melangkahkan kaki menuju masjid untuk shalat berjamaah

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ رَاحَ إِلَى مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ فَخُطْوَةٌ تَمْحُوْ سَيِّئَةً وَخُطْوَةٌ تُكْتَبُ لَهُ حَسَنَةٌ ذَاهِبًا وَرَاجِعًا

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah, maka langkah yang satu menghapuskan dosa, sedangkan langkah yang satu lagi dicatatkan untuknya satu kebaikan; baik ketika ia berangkat maupun ketika ia pulang.” (Hr. Ahmad dengan isnad yang shahih, Thabrani, dan Ibnu Hibban dalam shahihnya, dinyatakan hasan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 2999)

5.   Mandi dan bersegera mendatangi shalat Jumat.

عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ الثَّقَفِيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ، ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ، وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ، وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا»

Dari Aus bin Aus Ats Tsaqafi ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membasuh rambutnya dan seluruh badannya (mandi) pada hari Jumat, lalu berangkat lebih awal, ia pun berjalan dan tidak menaiki kendaraan, mendekat dengan imam dan menyimak khutbahnya serta tidak melakukan hal yang sia-sia, maka setiap langkahnya ia memperoleh amalan setahun, yaitu pahala puasa dan qiyamullailnya.” (Hr. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani)   

6.   Melakukan shalat Dhuha.

Dari Abu Dzar, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda,

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

"Setiap pagi hari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil (ucapan Laailaahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma'ruf dan nahi mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat shalat Dhuha." (Hr. Muslim)

7.   Duduk menunggu tibanya waktu shalat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " المَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ، مَا لَمْ يُحْدِثْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، لاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا دَامَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ ، لاَ يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلاَةُ "  

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Para malaikat mendoakan salah seorang di antara kamu ketika ia berada di tempat shalatnya selama belum berhadats sambil berkata, “Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.” Salah seorang di antara kamu dianggap dalam shalat ketika karena shalat yang membuatnya tetap berada di tempatnya, dimana tidak ada yang menghalanginya pulang ke rumah kecuali karena shalat.” (Hr. Bukhari)

8.   Menjaga shalat sunah rawatib.

عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الجَنَّةِ: أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ صَلَاةِ الْغَدَاةِ "

Dari Ummu Habibah radhiyallahu anha ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang shalat dalam sehari-semalam dua belas rakaat, maka akan dibangunkan istana untuknya di surga, yaitu: empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya, dan dua rakaat sebelum fajar atau Subuh.” (Hr. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

9.   Meninggalkan perdebatan dan berdusta meskipun sekedar bercanda

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ»

Dari Abu Umamah ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin sebuah istana di sekitar surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar, dan menjamin istana di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun bercanda, dan menjamin istana di bagian atas surga bagi orang yang memperbaiki akhlaknya.”  (Hr. Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani)

10.  Menjaga shalat berjamaah dalam waktu empat puluh hari.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاق  

Dari Anas bin Malik ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang shalat karena Allah dalam waktu empat puluh hari dengan berjamaah, dimana ia mendapatkan takbiratul ihram pada saat itu, maka akan dicatat lepas dari dua, yaitu: lepas dari neraka dan lepas dari kemunafikan.” (Hr. Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)

11.       Melaksanakan shalat lima waktu berjamaah.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً»

Dari Ibnu Umar radiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendiri dengan 27 derajat.” (Hr. Muslim)

12.            Menyalatkan jenazah, mengiringinya, dan menguburkannya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه -قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ شَهِدَ الجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ، فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ» ، قِيلَ: وَمَا القِيرَاطَانِ؟ قَالَ: «مِثْلُ الجَبَلَيْنِ العَظِيمَيْنِ»  

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallalllahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang menghadiri sebuah jenazah lalu menyalatkan, maka dia akan mendapatkan satu qirat. Barang siapa yang menghadirinya sampai jenazah dimakamkan maka dia akan memperoleh pahala dua qirat.” Ada yang bertanya, “Berapa dua qirath itu?” Beliau bersabda, “Seperti dua buah gunung yang besar.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

13.            Keutamaan menyatakan Tuhan kami adalah Allah, agama kami adalah Islam, dan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah nabi dan Rasul.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " مَنْ قَالَ: رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ "  

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang menyatakan ‘aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai rasul’, maka ia berhak masuk surga.” (Hr. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani)

14.   Berniat jujur agar menjadi syuhada.

عَنْ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ، بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ، وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ»

Dari Sahl bin Hunaif, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang meminta syahid kepada Allah dengan jujur, maka Allah akan sampaikan ia kepada kedudukan para syuhada meskipun ia wafat di atas tempat tidurnya.” (Hr. Muslim)

15.   Menyenangkan hati seorang muslim.

عَنِ ابْنِ الْمُنْكَدِرِ، يَرْفَعْهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " مِنْ أَفْضَلِ الْعَمَلِ إِدْخَالُ السُّرُورِ عَلَى الْمُؤْمِنِ: يَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، يَقْضِي لَهُ حَاجَةً، يُنَفِّسُ عَنْهُ كُرْبَةً

Dari Ibnul Munkadir yang ia sambung kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda, “Termasuk amalan yang paling utama adalah menyenangkan hati seorang mukmin, yaitu dengan membayarkan utangnya, memenuhi kebutuhannya, dan menyingkirkan penderitaannya.” (Hr. Baihaqi dalam Asy Syu’ab, dinyatakan shahih mursal oleh Syaikh Al Albani dan memiliki syahid dari hadits Ibnu Umar dengan sanad hasan).

Bersambung…

Wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Kisah Thalhah bin Ubaidillah

 بسم الله الرحمن الرحيم



Kisah Thalhah bin Ubaidillah

radhiyallahu 'anhu

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut kisah Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu 'anhu, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Masa Kecil Thalhah

Thalhah terlahir dari pasangan Ubaidillah dan Ash Sha’bah binti Al Hadhrami. Uaidillah termasuk tokoh penduduk Mekkah dan memiliki kedudukan di tengah-tengah mereka. Di bawah asuhan ayah dan ibunya inilah Thalhah tumbuh dewasa dan mengambil banyak pelajaran dari mereka berdua tentang kehidupan dan akhlak yang mulia. Sehingga ketika usianya semakin dewasa, ia pun menikah dengan Hamnah binti Jahsy yang merupakan saudari dari Zainab binti Jahsy istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Thalhah tumbuh besar di Mekkah, sehingga beliau tahu dataran rendah dan lembah-lembah yang ada di sana, beliau juga sering berpindah-pindah di antara perbukitan dan gunung-gunung di sana serta melakukan latihan memanah.

Saat usianya semakin dewasa, maka ia memilih profesi sebagai pedagang, sehingga ia pun tahu pasar-pasar yang ada di Basrah dan Syam dan ia dikenal sebagai pedagang yang jujur dan amanah.

Kabar gembira pun datang

Saat perjalanan dagang beliau ke Basrah, dimana orang-orang sibuk berjual-beli di pasar, tiba-tiba ia mendengar seorang yang menyeru, “Wahai para pedagang! Adakah di antara kalian seorang yang berasal dari penduduk tanah haram?” Maka orang-orang melihatnya dan ternyata orang itu adalah seorang rahib yang berasal dari Syam yang tempat ibadahnya sangat banyak jumlahnya di jalan-jalan.

Thalhah pun bangkit dan berkata, “Saya berasal dari tanah haram.”

Maka rahib itu berkata, “Apakah telah diutus ke tengah-tengah kalian nabi akhi zaman?”

Thalhah balik berkata, “Siapa memangnya nabi akhir zaman?”

Rahib itu berkata, “Beliau adalah Ahmad penutup para nabi dan rasul, ia akan keluar di tanah haram, kemudian hijrah ke daerah yang terdapat pohon kurma dan air. Jika engkau sanggup untuk lebih dulu beriman kepadanya sebelum yang lain, maka lakukanlah!” (sebagaimana dalam riwayat Hakim dalam Al Mustadrak, Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat dan Ibnu Katsir dalam Al Bidayah)

Rahib itu pun pergi dan Thalhah kemudian berfikir terhadap pernyataannya itu. Setelah urusan dagangnya selesai, maka ia segera kembali ke Mekkah untuk mengecek kebenaran berita yang disampaikannya.

Saatnya kebahagiaan itu datang

Thalhah sebagaimana yang lainnya, ingin kehadiran nabi akhir zaman yang dapat mengeluarkan manusia dari zaman Jahiliyyah yang diliputi kebodohan dan penderitaan kepada zaman pengetahuan dan kebahagiaan. Tidak lama kemudian, apa yang diharapkan itu pun tiba dengan munculnya cahaya Islam ke dunia dengan turunnya malaikat JIbril membawa wahyu kepada Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pun diutus dan ketika itu orang yang beriman kepada Beliau di antaranya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu.

Saat Thalhah mendapatkan berita itu, maka dia tidak menunggu nanti, bahkan ketika Abu Bakar mengajaknya ia pun segera menyambutnya dan mengetahui dengan yakin bahwa Muhammad seorang yang jujur dan amanah adalah seorang Nabi, dan tidak mungkin pedagang yang jujur dan amanah yaitu Abu Bakar berkumpul bersama Beliau di atas kesesatan.

Thalhah pun segera pergi mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk menyatakan keislamannya. Ia termasuk As Sabiqunal Awwalun (orang-orang yang segera masuk Islam).

Meskipun ia memiliki kedudukan di masyarakat, namun ia tetap saja disakiti di jalan Allah, namun Allah segera angkat penderitaan dan cobaan itu darinya.

Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, maka Thalhah juga ikut berhijrah bersama kaum muhajirin.

Kabar gembira menjadi syuhada

Thalhah senantiasa bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam sehingga dapat belajar banyak kebaikan dari Beliau serta dapat meniru akhlak Beliau yang mula.

Suatu ketika saat Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersama Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair dan Sa’ad bin Abi Waqqash berada di atas gunung Hira, maka gunung Hira pun bergetar, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«اسْكُنْ حِرَاءُ فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ، أَوْ صِدِّيقٌ، أَوْ شَهِيدٌ»

“Tenanglah wahai HIra! Karena di atasmu hanya ada Nabi, orang yang shiddiq, atau orang yang akan mati syahid.” (Hr. Muslim)

Setelah Thalhah mengetahui bahwa dirinya akan mati syahid, maka ia segera mencari kesyahidan dalam berbagai pertempuran, karenanya ia hadir dalam semua pertempuran bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam selain dalam perang Badar.

Sebab tidak hadir dalam perang Badar

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersama sebagian para sahabat keluar untuk mendatangi kafilah Quraisy yang pergi dari Mekkah menuju Syam, namun kafilah itu berhasil lolos. Tetapi ketika tiba waktu kafilah itu pulang dari Syam menuju Mekkah, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengirim Thalhah bin Ubaidillah bersama Said bin Zaid ke arah utara untuk mencari kabar tentang kafilah Quraisy itu, hingga keduanya sampai di sebuah tempat bernama Rauha dan mereka berdua tetap berada di sana hingga lewat kafilah Abu Sufyan dan sampai berita itu ke telinga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebelum kedatangan Thalhah dan Said. Oleh karena itulah, mereka berdua tidak hadir dalam perang Badar karena tidak tahu terjadinya perang itu kecuali setelah mereka pulang ke Madinah.

Saat Thalhah dan Said pulang ke Madinah dan mengetahui kemenangan kaum muslimin terhadap kaum musyrik, maka mereka berdua sangat bergembira sekali, lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan kepada keduanya ghanimah yang diperoleh kaum muslimin dalam perang Badar.

Ketika terjadi perang Uhud

Kaum musyrik tidak putus asa dengan peristiwa yang menimpa mereka dalam perang Badar, maka mereka pun mempersiapkan diri selama setahun untuk melawan kaum muslimin, sehingga ketika tiba waktu pertempuran berikutnya, maka bertemulah pasukan kaum muslimin dengan pasukan kaum musyrik di perang Uhud, dimana ketika itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menyiapkan 50 orang regu pemanah di atas bukit yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair, dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan mereka agar tidak meninggalkan bukit baik kaum muslimin memperoleh kemenangan atau kekalahan.

Peperangan pun dimulai, para sahabat berperang dengan gagah berani dan ikhlas, sehingga di awal pertempuran kemenangan diraih oleh kaum muslimin dan kaum musyrik pun melarikan diri, tetapi regu pemanah yang berada di atas bukit mengira bahwa peperangan telah selesai, sehingga 40 orang dari mereka pun turun untuk mengumpulkan ghanimah, lalu Abdullah bin Jubair menasihati mereka, “Janganlah kalian meninggalkan bukit! Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan demikian kepada kalian.” Mereka balik menjawab, “Peperangan telah selesai dan kita turun untuk mengumpulkan ghanimah.” Maka turunlah 40 orang dari mereka, sedangkan 10 orang lagi tetap berada di atas bukit.

Saat itu Khalid bin Walid yang masih musyrik memanfaatkan kesempatan ini, maka ia segera menarik pasukan dan memutar balik hingga sampai di barisan belakang kaum muslimin. Ia pun berhasil menghabisi Abdullah bin Jubair dan kawan-kawannya kemudian menyerang kaum muslimin dari belakang.

Para penunggang kuda pun berteriak dengan teriakan yang dapat diketahui kaum musyrik yang kalah itu agar kembali bangkit menyerang, maka mereka pun menyerang kembali kaum muslimin, lalu salah seorang wanita dari kalangan mereka yaitu Amrah binti Alqamah Al Haritsiyyah segera mengambil panji kaum musyrik yang telah jatuh ke tanah kemudian mengangkat kembali, lalu kaum musyrik kembali berkumpul di hadapan Khalid dan mengerumuninya kemudian mereka saling memanggil, maka ketika mereka telah berkumpul, mulailah mereka menyerang kaum muslimin dan melanjutkan peperangan sehingga kaum muslimin terkepung dari depan dan belakang.

Ketika itulah kaum musyrik ingin membunuh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka Beliau segera memanggil kaum muslimin, “Kemarilah! Aku adalah Rasulullah.” Orang-orang musyrik pun mendengar suara itu lalu mereka berusaha mendatangi Beliau untuk membunuhnya, namun mereka menghadapi sembilan orang para sahabat yang bergegas melindungi Beliau, dimana tujuh orang dari mereka berasal dari Anshar, sedangkan dua orang lain berasal dari kaum Muhajirin yaitu Saad bin Abi Waqqash dan Thalhah bin Ubaidullah radhiyallahu anhuma. Mulailah tujuh orang sahabat dari kalangan Anshar maju untuk membela Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, namun mereka semua gugur sebagai syuhada. Sedangkan terhadap Saad bin Abi Waqqas Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terus memberikan anak panah kepadanya sambil bersabda, “Lepaslah panah itu, ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu.”

Sedangkan Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhu, maka ia bangkit melawan serangan kaum musyrik dan terus melindungi Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang ketika itu kaum musyrik terus mendekat, sehingga jari-jari beliau putus karena tebasan pedang musuh sampai ia berkata, “Has,” (aduh) Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«لَوْ قُلْتَ بِسْمِ اللَّهِ لَرَفَعَتْكَ الْمَلَائِكَةُ وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ »

“Kalau sekiranya engkau mengucapkan ‘Bismillah’ tentu para malaikat akan mengangkatmu sedangkan orang-orang menyaksikan,” (Hr. Nasa’i)

Kemudian Allah menghindarkan serangan kaum musyrik.

Dalam sebuah riwayat Ahmad disebutkan,

لَوْ قُلْتَ بِسْمِ اللَّهِ لَرَفَعَتْكَ الْمَلَائِكَةُ لَرَأَيْتَ يُبْنَى لَكَ بِهَا بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَنْتَ حَيٌّ فِى الدُّنْيَا

“Kalau sekiranya engkau mengucapkan ‘Bismillah’ tentu para malaikat akan mengangkatmu, sehingga engkau akan menyaksikan istana yang dibuatkan untukmu di surga sedangkan engkau masih hidup di dunia.”

Demikianlah Thalhah terus melindungi Nabi shallallahu alaihi wa sallam hingga berhasil membawa Nabi shallallahu alaihi wa sallam ke belakang pasukan dan tiba di sebuah batu yang besar dan tinggi, lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam naik ke atasnya dan bersabda, “Thalhah berhak (surga)! Ya Allah, tetapkanlah surga bagi Thalhah.” Oleh karenanya Thalhah termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.

Dalam perang itu, Thalhah terluka sebanyak 39 atau 35 luka, sedangkan jari telunjuk dan jari sebelahnya lumpuh.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam sampai bersabda tentang Thalhah,

«مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى شَهِيدٍ يَمْشِي عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ»

“Barang siapa yang ingin melihat seorang yang syahid yang masih berjalan di atas permukaan bumi, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah.” (Hr. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

Bersangka baik dengan saudara-saudaranya

Suatu hari seseorang datang kepadanya dan berkata, “Kami mendengar beberapa hal tentang Abu Hurairah yang tidak kami dengar dari engkau.” Sepertinya orang ini ragu-ragu terhadap Abu Hurairah karena banyaknya riwayat yang beliau sampaikan. Namun Abu Thalhah berkata, “Ketahuilah! Ia telah mendengar hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang kami tidak mendengarnya, maka saya tidak ragu-ragu terhadapnya dan saya akan sampaikan kepadamu, bahwa kami adalah orang-orang yang punya rumah, kami mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pagi dan petang, sedangkan Abu Hurairah seorang yang miskin yang tidak memiliki harta, dia berada di dekat pintu rumah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka aku tidak ragu jika ia mendengar hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang tidak kami dengar. Apakah engkau prnah mendapati seorang yang memiliki kebaikan berkata mengatasnamakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang tidak beliau ucapkan?” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi, menurut Al Arnaut, para perawinya tsiqah, dan dihasankan oleh Al Hafizh dalam Al Fath)

Thalhah yang dermawan

Tidak heran jika ia berinfak tanpa takut miskin, karena ia di bawah pendidikan sayyidul mursalin (pemimpin para rasul), sayyiduz zahidin (pemimpin orang-orang yang zuhud) dan imamul muttaqin (pemimpin orang-orang yang bertakwa), Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Dari Musa dari ayahnya (Thalhah), bahwa ia pernah kedatangan harta dari Hadramaut sebanyak 700.000 dirham, maka semalaman ia tidak bisa tidur, maka istrinya berkata, “Ada apa denganmu?” ia menjawab, “Sejak semalam aku berfikir. Aku berkata dalam hatiku, “Apa yang difikirkan seorang hamba terhadap Rabbnya, dimana ia bemalam dengan harta sebanyak ini di rumahnya?” Istrinya berkata, “Apakah engkau melupakan kawan-kawan dan saudara-saudaramu ketika memiliki harta sebanyak itu. Saat pagi hari tiba, siapkanlah nampan dan piring, lalu bagikanlah harta itu kepada mereka.” Thalhah berkata, “Semoga Allah merahmatimu. Engkau adalah wanita yang mendapatkan taufik putri dari seorang yang mendapatkan taufik (ia adalah Ummu Kultsum binti Ash Shiddiq).” Ketika tiba pagi hari, maka ia membagikannya antara kaum muhajirin dan Anshar. Ia kirim satu nampan untuk Ali, lalu istrinya berkata, “Wahai Abu Muhammad! Apakah kami tidak memperoleh bagian dari harta ini?” Ia menjawab, “Engkau di mana dari sejak pagi? Yang tersisa itu untukmu.” Istrinya berkata, “Ternyata sisanya sebuah kantong yang terdapat seribu dirham.” (Siyar A’lamin Nubala karya Adz Dzahabi 1/30-31)

Dari Al Hasan Al Basri bahwa Thalhah bin Ubaidillah menjual tanahnya dengan harga 700.000 dirham, maka semalaman ia tidak bisa tidur karena khawatir dengan harta sebanyak itu, keesokan harinya di pagi hari ia pun membagi-bagikannya. (Siyar A’lamin Nubala karya Adz Dzahabi 1/32)

Tibanya saat untuk berpisah

Setelah wafatnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma fitnah begitu banyak hingga Utsman bin Affan radhiyallahu anhu terbunuh sebagai syahid.

Saat Utsman dibunuh, maka Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam keluar bersama ibunda Aisyah radhiyallahu anha untuk menuntut darah Utsman radhiyallahu anhu.

Ketika itu, Thalhah sangat bersedih sekali karena perpecahan di tengah kaum muslimin dan sampai terjadinya peperangan di antara mereka.

Saat tiba di medan perang dan dilihatnya Ammar bin Yasir radhiyallahu anhu berperang di pihak Ali bin Abi Thalib, tiba-tiba Thalhah dan Zubair ingat sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa Ammar akan dibunuh oleh kelompok yang durhaka, maka keduanya pun memisahkan diri dari pasukan itu. Saat itu Thalhah dan Zubair berada di pasukan Muawiyah yang memerangi Ammar, lalu keduanya memisahkan diri karena khawatir masuk ke dalam kelompok itu. Di samping itu, yang mendorong mereka berdua memisahkan diri dari peperangan itu adalah ucapan Ali bin Abi Thalib kepada Zubair, “Wahai Zubair! Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, “Apakah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  bersabda, “Engkau akan memeranginya sedangkan engkau berbuat zalim kepadanya?” Zubair menjawab, “Aku ingat.” Zubair kemudian pergi meninggalkan peperangan itu.” (Sebagaimana diriwayatkan oleh Hakim, ia berkata, “Shahih isnadnya dan disepakati oleh Adz Dzahabi.”)

Ketika itu Thalhah dan Zubair menarik diri dan saat memisahkan diri dari peperangan itu, mereka berdua dibunuh. Adapun Zubair, maka ia dibuntuti oleh Amr bin Jurmuz yang membunuhnya secara diam-diam. Sedangkan tentang Thalhah, ada yang mengatakan, bahwa ia dipanah tanpa diketahui siapa yang memanah. Ada yang mengatakan, bahwa yang memanahnya adalah Marwan bin Hakam.

Ketika Ali bin Abi Thalib mengetahui terbunuhnya Thalhah, maka ia mendatanginya dan turun dari hewan kendaraannya, mendudukannya dan menyingkirkan debu dari wajahnya dan janggutnya sambil mendoakan rahmat untuknya seraya berkata, “Wahai kiranya aku telah wafat dua tahun yang silam sebelum kejadian ini.”

Suatu hari Imran bin Thalhah menemui Ali bin Abi Thalib, lalu Ali menyambutnya dan mendekatkannya sambil berkata, “Saya berharap agar Allah menjadikanku dan ayahmu termasuk mereka yang difirmankan Allah Ta’ala,

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (Qs. Al Hijr: 47)

Penjagaan Allah terhadap jasadnya

Suatu hari Aisyah putri Thalhah bermimpi bahwa ayahnya memintanya untuk memindahkan kuburnya ke tempat lain karena kuburnya dipenuhi air dan basah.

Maka Aisyah memberitahukan mimpinya itu kepada kaumnya, lalu para mahramnya keluar bersamanya dan menggali kubur Thalhah dan mengeluarkan dari kuburnya, ternyata jasadnya masih seperti ketika dimakamkan sebelumnya tanpa ada yang berubah sedikit pun selain beberapa helai janggutnya. Padahal jasadnya telah dikubur 30 tahun lebih. Semoga Allah meridhai Thalhah dan menempatkan kita bersamanya di surga-Nya, aamiin.

Wallahu a'lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Maraji': As-habur Rasul lil Athfaal (Mahmud Al Mishri), Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger