Akhlak Bersosial Yang Islami

بسم الله الرحمن الرحيم
Akhlak Bersosial Yang Islami
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik akan menghapusnya dan bergaullah dengan manusia memakai akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi, Hakim, dan Baihaqi dalam Asy Syu'ab dari Abu Dzar. Diriwayatkan pula oleh Ahmad, Tirmidzi, dan Baihaqi dalam Asy Syu'ab dari Mu'adz, dan diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Anas. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 97)

Hadits ini menerangkan kepada kita, bahwa,
1.   Cara agar hubungan kita dengan Allah menjadi baik adalah dengan bertakwa kepada-Nya di mana saja kita berada.
2.   Cara agar hubungan kita dengan diri kita sendiri menjadi baik adalah dengan mengiringi perbuatan buruk yang kita lakukan dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik akan menghapusnya.
3.   Dan cara untuk memperbaiki hubungan kita dengan orang lain adalah dengan bergaul dengan mereka menggunakan akhlak yang baik.
Hadits di atas juga menunjukkan jawami'ul kalim (kata singkat namun mengandung makna yang dalam) dalam sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan terdapat bukti bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam. Demikian pula menunjukkan bahwa Islam datang memperbaiki hubungan kepada semua pihak; tidak hanya kepada manusia, tetapi kepada Allah dan kepada diri sendiri.
Takwa
Takwa adalah cara memperbaiki hubungan kita dengan Allah Azza wa Jalla.
Takwa artinya memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-Nya.
Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang takwa, maka Ubay menjawab, “Tidak pernahkah engkau menempuh sebuah jalan yang berduri?” Umar menjawab, “Pernah.” Ubay bertanya, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Umar menjawab, “Aku menyingsingkan lengan bajuku (berhati-hati) dan aku bersungguh-sungguh.” Ubay berkata, “Itulah takwa.”
Takwa merupakan wasiat Allah kepada generasi terdahulu, generasi sekarang, dan seterusnya. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللّهَ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ لِلّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَانَ اللّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا
"Dan sungguh, Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah MahaKaya dan Mahaterpuji." (QS. An Nisaa': 131)
Allah Subhaanahu wa Ta'ala mewasiatkan kepada kita untuk bertakwa kepada-Nya, karena dengan takwa seseorang akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Di dunia memperoleh kehidupan yang baik, dan di akhirat masuk ke dalam surga-Nya.
Allah Subhaanahu wa Ta'ala juga menjanjikan pintu keberkahan dari langit dan bumi bagi penduduk suatu negeri yang beriman dan bertakwa, lihat QS. Al A'raaf ayat 96.
Dan ketahuilah,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (QS. Al Hujurat: 13)
Oleh karena itu, laksanakanlah perintah Allah dan jauhilah larangan-Nya.
Memperbaiki Diri Sendiri
Dalam hadits di atas juga terdapat cara memperbaiki keadaan diri kita yang terkotori oleh dosa dan maksiat, yaitu dengan mengiringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik di samping dengan istighfar dan tobat. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." (QS. Huud: 114)
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
أَنَّ رَجُلًا أَصَابَ مِنَ امْرَأَةٍ قُبْلَةً، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخْبَرَهُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ، إِنَّ الحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ} [هود: 114] فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِي هَذَا؟ قَالَ: «لِجَمِيعِ أُمَّتِي كُلِّهِمْ»
Bahwa ada seorang laki-laki yang mencium seorang wanita, lalu laki-laki itu datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan menceritakan hal itu, maka turunlah kepada Beliau ayat, “Dan dirikanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” (QS. Huud: 114) Laki-laki itu berkata, “Apakah ayat ini untukku?” Beliau bersabda, “Untuk orang yang melakukan demikian di kalangan umatku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim dan para pemilik kitab sunan dari Ibnu Mas’ud disebutkan, “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mendapatkan seorang wanita di kebun, lalu aku berbuat segala sesuatu dengannya, hanyasaja aku tidak menjimanya; aku mencium dan memeluknya. Oleh karena itu, lakukanlah terhadapku apa yang engkau kehendaki…dst.”
Hadits di atas (di awal pembahasan) juga menunjukkan perhatian Islam terhadap perbaikan diri sendiri. Hadits tersebut seperti firman Allah Ta'ala,
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ
"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri?" (QS. Al Baqarah: 44)
Akhlak yang baik
Akhlak yang baik atau mulia adalah cara untuk memperbaiki hubungan kita dengan orang lain.
Akhlak yang mulia ini memiliki banyak keuatamaan, di antaranya seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
مَا مِنْ شَيْءٍ فِي اَلْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ اَلْخُلُقِ
"Tidak ada sesuatu yang paling berat dalam timbangan daripada akhlak yang mulia." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi juga menshahihkannya)
إِنَّ أَكْمَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ إِنَّ حُسْنَ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ دَرَجَةَ الصَّوْمِ وَ الصَّلاَةِ
 "Sesungguhnya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya, dan sesungguhnya akhlak yang mulia dapat mencapai derajat orang yang (rajin) berpuasa dan shalat." (HR. Al Bazzar dari Anas, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 1578)
إِنَّ أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ وَ أَقْرَبَكُمْ مِنِّي فِي الْآخِرَةِ مَجَالِسَ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقًا
"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat majlisnya denganku di akhirat adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Thabrani, dan Baihaqi dalam Asy Syu'ab, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 1535)
Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam juga pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke surga, maka  Beliau bersabda, "Bertakwa kepada Allah dan akhlak yang mulia." (HR. Tirmidzi, dan ia menshahihkannya).
Al Hasan berkata, "Akhlak yang mulia itu wajah berseri, memberikan santunan, dan menahan gangguan."
Ibnul Mubarak berkata, "Akhlak yang mulia itu terletak ada tiga perkara; menjauhi larangan, mencari yang halal, dan memberikan kelonggaran kepada orang yang ditanggungnya."
Sebagian ulama mengatakan, bahwa ciri orang yang berakhlak mulia adalah sangat pemalu, sedikit sekali sikap kurang baiknya, banyak kebaikannya, jujur lisannya, sedikit bicara, banyak berbuat, sedikit sekali tergelincir, tidak terlalu banyak (berlebihan) dalam sesuatu (selain ibadah), berbakti kepada orang tua dan menyambung tali silaturrahim, sopan, sabar, memiliki rasa syukur yang tinggi, tidak lekas marah, memenuhi janji, menjaga dirinya dari yang haram, tidak suka melaknat, memaki, tidak mengadu domba serta ghibah (menggunjing orang), tidak tergesa-gesa, tidak dendam, tidak bakhil dan dengki, menampakkan wajah yang senang dan berseri-seri, cinta karena Allah dan benci pun karena-Nya, ridha karena Allah serta marah pun karena-Nya.
Kisah Keteladanan akhlak kaum salaf (generasi pertama Islam)
Ketika kaum musyrik menyakiti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada perang Uhud, dimana gigi Beliau pecah dan mengalir darah dari wajahnya, bahkan paman Beliau dibunuh dan dicincang, lalu salah seorang sahabat meminta Beliau mendoakan keburukan kepada kaum musyrik, namun Beliau berdoa, "Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui."
Imam Bukhari meriwayatkan dari Sahl radhiyallahu 'anhu, bahwa ada seorang wanita yang datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan membawa burdah yang pinggir-pinggirnya ditenun. Wanita itu berkata kepada Beliau, “Aku tenun burdah itu dengan tanganku sendiri agar aku dapat memakaikan burdah itu kepadamu,” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun mengambilnya, Beliau memang butuh, kemudian Beliau keluar menemui kami dan dijadikannya burdah tersebut sebagai kainnya, lalu disebut bagus oleh seseorang, ia berkata, “Pakaikanlah aku kain itu, sungguh bagus sekali,” maka orang-orang berkata kepadanya, “Kamu ini bersikap tidak baik, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memakainya karena butuh, mengapa kamu memintanya, padahal kamu tahu bahwa Beliau tidak akan menolak orang yang meminta,” ia pun berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidaklah memintanya untuk dipakai, namun aku memintanya agar menjadi kafan saya nanti.” Sahl pun berkata, “Maka kain itu pun menjadi kafannya.”
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa ada seorang tamu yang singgah di hadapan di rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, namun Beliau tidak menemukan makanan di rumahnya, lalu ada seorang Anshar yang menemui Beliau dan membawa tamu itu rumahnya. Orang Anshar ini kemudian menyiapkan makanan di hadapannya dan menyuruh istrinya mematikan lampu, lalu orang Anshar itu menjulurkan tangannya seakan-akan ia makan padahal tidak agar tamunya itu dapat makan. Pada pagi harinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sungguh, Allah kagum dengan tindakan kalian semalam." Berkenaan dengan sikapnya itu turunlah surat Al Hasyr ayat 9.
Disebutkan, bahwa dahulu ada seorang majikan yang dibuat marah oleh budaknya, majikannya pun marah dan hendak menghukumnya, maka budaknya membacakan ayat, “Wal kaazhimiinal ghaizh” (Dan orang-orang yang menahan marahnya) (QS. Ali Imran: 134) Maka majikannya berkata, “Ya, saya tahan marah saya.” Budaknya membacakan lagi ayat, “Wal ‘aafiina ‘anin naas” (Serta memaafkan orang lain), maka majikannya berkata, “Ya, kamu saya maafkan.” Budaknya lalu membacakan lagi, “Wallahu yuhibbul muhsininiin” (Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan), maka majikannya berkata, “Sudah pergi sana, kamu merdeka karena Allah Ta’ala.”
Disebutkan, bahwa Abdullah bin ‘Amir pernah membeli rumah Khalid bin Uqbah bin Abi Mu’aith yang berada di pasar Makkah seharga 70.000 dirham. Di malam harinya, Abdullah mendengar tangis keluarga Khalid, ia pun menanyakan sebabnya, lalu diberitahukan bahwa mereka menangis karena rumah mereka (yang dijual), Abdullah pun berkata kepada pembantunya, “Pergilah menemui mereka, dan beritahukan bahwa rumah dan dirham semuanya untuk mereka.”
Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji': Maktabah Syamilah versi 3.45, Hidayatul Insan bitafsiril Qur'an (penulis), Mausu'ah Haditsiyyah Mushaghgharah (Markaz Nurul Islam Li Abhatsil Qur'ani was Sunnah), Untaian Mutiara Hadits (Penulis), Mengenal Lebih Dekat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (Penulis), Minhajul Muslim (Abu Bakar Al jaza'iri), dll.

0 komentar:

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger