Makna Beriman Kepada Rasul-Rasul Allah

Selasa, 24 Januari 2023

 بسم الله الرحمن الرحيم

Khutbah Jum'at

Makna Beriman Kepada Rasul-Rasul Allah

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I



Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam, nikmat iman, nikmat hidayah, nikmat taufiq, nikmat sehat wa afiyat dan nikmat-nikmat lainnya yang sama-sama kita rasakan yang semuanya patut untuk kita syukuri.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Termasuk rukun iman adalah beriman kepada para rasul Allah alahimush shalatu was salam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika ditanya tentang iman,

«أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»

 “Yaitu engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (Hr. Muslim)

Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu dengan membawa syariat yang baru, sedangkan nabi adalah orang yang diutus dengan membawa syariat rasul yang datang sebelumnya. Ada pula yang berpendapat, bahwa rasul adalah seorang yang mendapatkan wahyu dan diperintahkan menyampaikan, sedangkan nabi adalah seorang yang mendapatkan wahyu namun tidak diperintahkan menyampaikan. Dengan demikian, setiap rasul adalah nabi, namun tidak setiap nabi adalah rasul, wallahu a’lam.

Maksud beriman kepada rasul adalah meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla telah mengutus pada setiap umat seorang rasul yang mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul untuk menyeru ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thagut (sesembahan selain Allah).” (Qs. An Nahl: 36)

Dalam beriman kepada para rasul, kita harus meyakini bahwa mereka adalah orang-orang yang jujur dan amanah, menyampaikan semua yang diwahyukan kepada mereka, sebagai manusia cerdas, mulia lagi berbakti, pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk, serta diperkuat oleh Allah Azza wa Jalla dengan bukti yang nyata (mukjizat) dan ayat-ayat yang jelas, diutus untuk mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan kepada cahaya; dari gelapnya syirik kepada cahaya tauhid, dari gelapnya maksiat kepada cahaya taat, dan dari gelapnya kebodohan kepada cahaya pengetahuan, serta sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.

Kita juga meyakini bahwa para rasul adalah manusia sempurna, baik fisik, akhlak, akal, maupun nasabnya, dan bahwa mereka adalah orang-orang yang merdeka. Demikian pula mereka juga sempurna dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.

Kita juga meyakini, bahwa ingkar kepada salah seorang rasul, maka sama saja ingkar kepada semua rasul, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ

“Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (Qs. Asy Syu’ara: 105)

Kaum Nuh disebut ‘mendustakan para rasul’ padahal yang diutus kepada mereka hanya seorang rasul, yaitu Nabi Nuh alaihis salam, hal itu karena mendustakan seorang rasul sama saja mendustakan semua rasul, sedangkan inti ajakan para rasul adalah sama yaitu tauhid (mengesakan Allah Azza wa Jalla dalam ibadah) meskipun syariat mereka berbeda-beda sesuai kondisi umat mereka.

Kita juga meyakini bahwa mereka telah menyampaikan semua risalah yang dibebankan kepada mereka untuk menyampaikannya; tanpa ada satu pun yang mereka sembunyikan dan mereka juga tidak menambah-nambah serta tidak menguranginya. Allah Azza wa Jalla berfirman menerangkan tentang Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam,

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ (44) لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ (45) ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ (46) فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ (47)

“Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,---Niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya (ditindak tegas).--Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.--Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.” (Qs. Al Haaqqaah: 44-47)

Kita juga meyakini bahwa mereka berada di atas kebenaran. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam,

فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ

“Sebab itu bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata.” (Qs. An Naml: 79)

Para nabi atau rasul yang disebutkan namanya dalam Al Qur’an ada 25, dan masih ada lagi selain itu sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang Rasul membawa suatu mukjizat melainkan dengan seizin Allah.” (Qs. Ghaafir: 78)

Suatu hari Abu Dzar radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, berapa tepatnya jumlah para nabi?” Beliau bersabda,

مِائَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ أَلْفًا الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيرًا

“Ada 124.000 nabi, yang menjadi rasul di antara mereka ada 315 orang; jumlah yang banyak.” (Hr. Ahmad, Thabrani, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 2668)

Para rasul adalah manusia, mereka butuh makan, minum, dan menikah sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ

“Dan Kami tidak mengutus Rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.“ (Qs. Al Furqaan: 20)

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.” (Qs. Ar Ra’d: 38)

Allah Ta’ala menyuruh Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam –dimana Beliau adalah pemimpin para rasul dan rasul yang paling tinggi kedudukannya- untuk mengatakan,

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah, “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemadharratan kecuali yang diikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku banyak memperoleh kemanfaatan dan sedikit pun aku tidak ditimpa kemadharratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al A’raaf : 188)

Dengan demikian, semua rasul adalah manusia, hamba Allah, dan tidak berhak disembah.

Di antara sebab yang  menghalangi orang-orang kafir beriman kepada Nabi Muhammad hallallahu ‘alaihi wa sallam adalah karena Beliau manusia, mereka mengatakan “Mengapa Allah mengutus rasul dari kalangan manusia?’, Kalau seandainya mereka mau berfikir tentu mereka akan mengetahui bahwa di antara hikmah Allah mengutus rasul dari kalangan manusia adalah agar dapat diteladani, ditiru dan diikuti perbuatannya. Karena kalau dari kalangan malaikat bagaimana dapat diikuti, bukankah malaikat itu tidak makan dan tidak minum, juga tidak menikah dsb.

Kita juga meyakini bahwa rasul hanyalah dari kalangan laki-laki; tidak ada yang wanita. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ

“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya.” (Qs. Yusuf: 109)

Kita juga meyakini bahwa para rasul adalah ma’shum (terjaga dari dosa). Allah Ta’ala berfirman,

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ

“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang.” (Qs. Ali Imran: 161)

Ayat ini menunjukkan bahwa para nabi adalah ma’shum. Oleh karena itu, mereka tidak meninggalkan kewajiban, tidak melakukan perbuatan haram, dan tidak melakukan hal yang bertentangan dengan akhlak yang mulia.

Kita juga meyakini bahwa rasul yang paling terbaik adalah para rasul Ulul Azmi (yang memiliki kesabaran yang tinggi), yaitu Nabi Muhammad, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa alaihimush shalatu was salam. Sedangkan rasul yang paling utama secara mutlak adalah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Demikian pula kita meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah nabi terakhir, dimana tidak ada lagi nabi setelahnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.“ (Qs. Al Ahzab: 40)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي

“Dahulu Bani Israil dipimpin oleh para nabi. Setiap kali nabi yang satu wafat, maka diganti oleh nabi berikutnya, namun tidak ada lagi nabi setelahku.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah tentang keadaan para nabi dan rasul.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ الرَّبِّ الْغَفُوْرِ، الْعَفُوِّ الرَّؤُوْفِ الشَّكُوْرِ، الَّذِي وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ لِتَحْصِيْلِ الْمَكَاسِبِ وَالْأُجُوْرِ، وَجَعَلَ شُغْلَهُمْ بِتَحْقِيْقِ الْإِيْمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ، يَرْجُوْنَ تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الَّذِيْ بِيَدِهِ تَصَارِيْفُ الْأُمُوْرِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَفْضَلُ آمِرٍ وَأَجَلُّ مَأْمُوْرٍ، اَللَّهُمَ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Tugas para rasul adalah menyampaikan risalah dengan jelas (lihat Qs. An Nuur: 54), mengajak manusia menyembah hanya kepada Allah (lihat Qs. An Nahl: 36), memberi kabar gembira dan peringatan (lihat Qs. Al Baqarah: 54), memperbaiki jiwa manusia (lihat Qs. Al Jumu’ah: 2), menegakkan hujjah (lihat Qs. An Nisa: 165), dan memimpin umat (lihat Qs. Al Maidah: 48). 

Termasuk beriman kepada rasul-rasul Allah juga adalah:

1.   Beriman bahwa risalah mereka benar-benar dari sisi Allah. Oleh karena itu siapa saja yang ingkar kepada salah seorang rasul, maka sama saja telah ingkar kepada semua rasul.

2.   Mengimani rasul yang telah diberitahukan kepada kita namanya, sedangkan yang tidak diberitahukan namanya, maka kita imani secara ijmal (garis besar).

3.   Membenarkan berita mereka yang shahih.

4.   Mengamalkan syariat rasul yang diutus kepada kita. Rasul yang diutus kepada kita sekarang adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau adalah penutup para rasul, tidak ada lagi nabi setelahnya.

Di samping itu, para nabi memiliki hak yang wajib dipenuhi umatnya, misalnya Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sikap kita terhadap Beliau adalah beriman kepadanya, menaati perintahnya dan menjauhi larangannya, membenarkan semua sabdanya, mencintainya di atas kecintaan kepada semua manusia, memuliakannya, beribadah sesuai contohnya, menjadikan Beliau sebagai hakim terhadap perselisihan yang terjadi, membela Nabi shallallahu alaihi wa sallam, mendahulukan sabda Beliau di atas semua perkataan manusia, dan mengucapkan shalawat dan salam untuk Beliau. 

Demikianlah kandungan beriman kepada para rasul. Semoga Allah membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya, memberikan kita taufiq untuk dapat menempuhnya, serta memberikan kita istiqamah di atasnya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Mengenal Sastra Arab (2)

Kamis, 12 Januari 2023

 بسم الله الرحمن الرحيم



Mengenal Sastra Arab (2)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut lanjutan pembahasan tentang Adab atau sastra Arab, semoga Allah Subhaanahu wa Ta'ala menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Sastra di masa awal Islam

Al Qur’an dan Hadits serta pegaruhnya dalam bahasa Arab dan sastra

Al Qur’anul Karim

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (125) وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ (126) وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ (127) إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ (128)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.--Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.--Bersabarlah (wahai Muhammad) dan Tidak ada kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.--Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Qs. An Nahl: 125-128)

Dalam beberapa ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam dan para da’i  bagaimana manhaj (metode) yang benar dalam berdakwah. Allah memerintahkan mereka berdakwah dengan ucapan yang lembut dan bersandar kepada ayat Al Qur’an, dan dengan nasihat yang baik yang menyentuh hati dan melembutkan perasaan, serta agar mereka mendebat musuh-musuh Islam dengan cara yang baik; jauh dari sikap kasar sehingga dakwah masuk ke dalam hati mereka kemudian mereka mau mengikuti kebenaran.

Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengalihkan pembicaraan kepada sisi lain yang terkait dengan para da’i ketika mereka disakiti. Allah Ta’ala menerangkan kepada mereka cara membalas orang yang menyakiti mereka, yaitu membalas dengan balasan yang serupa atau bersabar terhadap gangguan yang merupakan sikap yang paling utama. Kemudian Allah Azza wa Jalla mendorong Rasul-Nya bersabar dan memohon kesabaran kepada-Nya karena dengannya jiwa seseorang menjadi tenang saat bergantung kepada-Nya. Demikian juga Allah mewasiatkan Beliau agar tidak mempedulikan ucapan dan tindakan musuh-musuh Islam, karena Allah akan menolong Beliau, dimana Dia senantiasa bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat ihsan dalam ucapan dan tindakannya.

Kelebihan sastra pada beberapa ayat di atas   

Beberapa ayat di atas memiliki ketinggian sastra yang banyak di antaranya:

1. Pembicaraan terhadap seseorang, namun maksudnya untuk banyak orang, dimana Allah Ta’ala  berfirman yang tertuju kepada Rasul-Nya namun perintah ini tertuju kepada semua da’i.

2. Bermacam-macamnya arah pembicaraan terkadang mufrad (tunggal), lalu jamak, kemudian kembali mufrad lagi, dimana faedahnya adalah untuk membangkitkan perasaan dan mendorong untuk memperhatikan.

3. Penggunaan fiil amr (kata kerja perintah) ketika menyuruh berdakwah dengan hikmah dan berdebat dengan cara yang baik.

4. Ancaman secara tidak langsung kepada orang yang menyelisihi, yaitu pada ayat, “Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

5. Mendorong untuk bersabar dengan menggunakan berbagai cara, seperti uslub (alur kalimat atau gaya bahasa) syarat, uslub perintah, dan uslub larangan bersempit dada.

Hadits Nabawi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ» قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟، قَالَ: «إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam.” Lalu ada yang bertanya, “Apa saja wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika engkau berjumpa dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepadamu maka nasihatilah, jika ia bersin dan memuji Allah maka doakanlah (rahmat untuknya), jika dia sakit maka jenguklah, dan jika ia wafat maka iringilah jenazahnya.” (Hr. Muslim)

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mendorong kaum muslimin berakhlak mulia dan agar mereka saling bergaul dengan pergaulan yang baik sehingga tersebar rasa cinta. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  menyebut perbuatan itu sebagai hak seorang muslim yang hendaknya dipenuhi baik ketika sehat, sakit, dan ketika wafat. Hak-hak itu adalah:

1. Mengucapkan salam saat berjumpa dengannya untuk memasukkan rasa senang di hatinya.

2.  Memenuhi undangannya untuk merasakan kepada saudaranya keikutsertaan dia dengannya.

3. Memberikan nasihat yang terbaik ketika diminta nasihat.

4. Mendoakan rahmat untuknya ketika ia bersin dan memuji Allah.

5. Menjenguknya ketika sakit dan mendoakan kesembuhan untuknya.

6. Mengantarkan jenazahnya ketika saudaranya wafat serta mendoakan ampunan dan rahmat baginya.

Kelebihan sastra pada hadits di atas

1. Tepatnya memilih kata, dimana Beliau menggunakan kata ‘hak’ untuk menerangkan pentingnya perbuatan-perbuatan tersebut.

2. Mempersiapkan para pendengar untuk menyimak hak-hak yang akan Beliau sebutkan, dimana Beliau diam sejenak agar para sahabat siap menyimaknya.

3. Beliau menyebut ‘iyadah’ untuk ‘menjenguk orang sakit’ tidak menggunakan kata ‘ziarahilah’ agar kaum muslimin menjenguk orang sakit berulang kali.

4. Tertibnya pokok fikiran, dimana hak-hak yang disebutkan sesuai dengan perkembangan yang dilalui manusia, yaitu tiga hak di saat sehat, dua hak di saat sakit, dan satu hak di saat wafat.

5. Mudahnya lafaz yang dipakai dan sangat jelas.

6. Dalamnya makna dan dekatnya untuk difahami.

7. Singkat dan padat.

Contoh lainnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berikut:

«أَتَانِي جِبْرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ! عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيْ بِهِ وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ»

Malaikat Jibril pernah datang kepadaku dan berkata, “Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu namun engkau akan wafat. Cintailah orang yang engkau suka, namun engkau akan berpisah dengannya. Berbuatlah semaumu namun engkau akan diberi balasan. Ketahuilah, ketinggian seorang mukmin karena qiyamullailnya, dan kemuliaannya ketika ia tidak butuh kepada manusia.” (Hr. Asy Syirazi dalam Al Alqab, Hakim, Baihaqi dalam Asy Syu’ab dari Sahl bin Sa’ad, Baihaqi dalam Asy Syu’ab dari Jabir, dalm Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dari Ali, dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 831 dan Shahihul Jami no. 73)

Kelebihan sastra pada hadits di atas

1. Tepatnya memilih kata.

2. Mengajak orang lain berfikir dulu sebelum beramal dengan menerangkan akibat yang akan didapatkan di akhirnya.

4. Tertibnya pokok fikiran.

5. Mudahnya lafaz yang dipakai dan sangat jelas.

6. Dalamnya makna dan dekatnya untuk difahami.

7. Singkat dan padat.

Pengaruh Al Qur’an dan Hadits terhadap bahasa dan sastra Arab

Al Qur’anul Karim adalah firman Allah Azza wa Jalla yang tidak didatangi kebatilan baik dari depan maupun dari belakang. Lafaznya, maknanya, uslub (gaya bahasa)nya, dan hukum-hukumnya mengandung mukjizat. Bahkan Al Qur’an menantang orang-orang Arab yang fasih untuk membuat kitab yang semisalnya, atau sepuluh surat, atau satu surah yang semisal dengan Al Qur’an padahal mereka adalah orang-orang terkenal fasih dan bagus dalam menerangkan, sedangkan Al Qur’an turun dengan bahasa mereka sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Qs. Yusuf: 2)

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Katakanlah, "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (Qs. Al Israa: 88)

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Bahkan mereka mengatakan, "Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu", Katakanlah, "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (Qs. Huud: 13)

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23)

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu, dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Qs. Al Baqarah: 23)

Adapun hadits adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang lafaznya dari Beliau namun maknanya dari sisi Allah Ta’ala sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)

“Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya--Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. An Najm: 3-4)

Allah Azza wa Jalla menghendaki menjadikan Nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai orang yang paling fasih dan paling baik penjelasannya, karena memang Beliau diutus di tengah suatu kaum yang berbangga dengan fasihnya dan bagusnya penjelasan, di samping itu Allah juga sampaikan Al Qur’an melalui lisannya.

Kefasihan diri Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah karena karunia Allah kemudian Beliau juga lahir di tengah Bani Hasyim, menyusu di kalangan Bani Sa’ad, dan tumbuh besar di tengah-tengah kaum Quraisy, dimana semua kabilah itu terkenal fasih dan dalam serta indah dalam mengungkapkan kata-kata.

Al Qur’anul Karim dan hadits Nabi shallallahu   alaihi wa sallam memiliki pengaruh dahsyat dalam bahasa Arab, di antaranya:

1. Menata dan menertibkan lafaz-lafaz bahasa Arab.

2. Menggunakan beberapa lafaz untuk makna yang baru agar sejalan dengan pandangan yang dibawa oleh Islam seperti lafaz shalat, zakat, mukmin, kafir, dan munafik.

3. Menjaga bahasa agar tidak hilang dan diabaikan karena bahasa Arab merupakan bahasa Al Qur’an dan hadits.

4. Tersebarnya bahasa Arab dalam dunia Islam, sehingga di mana saja ada Al Qur’anul Karim dan Hadits, maka di situ ada bahasa Arab.

5. Bahasa Arab semakin bertambah kuat dan tersebar karena bersatunya berbagai lahjah (dialek) menjadi satu dialek, yaitu lahjah Quraisy.

6. Berkembang di bawah naungan Al Qur’an dan Hadits berbagai ilmu syar’i seperti ilmu Tafsir, hadits, fiqih, dan Ushul Fiqh.

7. Berkembang di bawah naungan Al Qur’an dan Hadits berbagai ilmu bahasa seperti Nahwu, Sharf, Balaghah, dan ilmu bahasa lainnya.

Adapun pengaruhnya dalam sastra Arab di antaranya:

1. Para sastrawan dapat mengambil banyak pelajaran dari Al Qur’an dan hadits serta maknanya, uslub(gaya bahasa)nya, dan pokok fikirannya.

2. Para pengkaji mau mengumpulkan sastra Arab baik yang berupa syair maupun natsr (prosa) untuk membantu mereka memahami apa yang disebutkan dalam Al Qur’an dan hadits, sehingga karena sebab ini muncullah berbagai karya terkait sastra dan bahasa yang jumlahnya banyak.

3. Munculnya berbagai cabang ilmu sastra yang baru karena mengikuti arahan Al Qur’an dan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam seperti kisah, sastra tenntang zuhud, hikmah, dan lain-lain.

4. Al Qur’an dan As Sunnah mengangkat sastra menjadi tinggi karena maksud dan pembahasannya yang baik, yang kemudian membawanya kepada jalan yang benar, baik, dan kesungguhan, dan jauh dari pembahasan yang buruk yang disampaikan oleh orang-orang yang bodoh seperti ejekan, rayuan, dan berlebihan dalam memuji serta dalam membanggakan diri.

Bersambung….

Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Maraji': Maktabah Syamilah versi 3.35, Silsilah Ta’limil Lughatil Arabiyyah (Adab), dll.

Mengenal Sastra Arab (1)

Jumat, 06 Januari 2023

بسم الله الرحمن الرحيم



Mengenal Sastra Arab (1)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang Adab atau sastra Arab, semoga Allah Subhaanahu wa Ta'ala menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Ta’rif (Definisi) Adab

Adab memiliki dua makna; umum dan khusus.

Adab dalam arti umum adalah berhias dengan akhlak yang mulia, seperti jujur, amanah, menepati janji, dsb. Adab dalam arti umum biasa diartikan dengan etika.

Adapun Adab dalam arti khusus adalah ucapan yang indah dan dalam serta membekas di hati. Adab dalam arti khusus biasa diartikan dengan sastra. Untuk adab ini disyaratkan beberapa syarat berikut:

1. Lafaznya mudah dan indah

2. Makna atau kandungannya baik

3. Memiliki pengaruh atau membekas di hati

Pembagian Adab

Adab ada dua macam:

Pertama, Natsr (karya bebas atau prosa), yaitu kalimat yang tidak memiliki timbangan atau pola dan tidak ada qafiyah (sajak). Misalnya khutbah (pidato), surat, wasiat, kalimat hikmah (bijak), perumpamaan, dan kisah.

Khutbah atau pidato adalah kalimat yang sastranya tinggi yang disampaikan ke tengah-tengah manusia untuk menerangkan suatu perkara penting.

Wasiat adalah pesan atau nasihat yang disampaikan seseorang kepada orang lain yang sangat disayanginya seperti anak dan saudara untuk melakukan perkara yang terbaik dan meninggalkan perkara yang buruk.

Hikmah adalah ungkapan yang singkat dan padat mengandung sastra, yang diucapkan berdasarkan pengalaman panjang, dimana di dalamnya terdapat pendapat atau pandangan yang tepat, bermanfaat, dan bijak.

Amtsal (mufradnya matsal) adalah ungkapan pendek yang diucapkan pada saat tertentu dan diungkapkan ketika ada kesamaan pada suatu keadaan, sesuatu, atau seseorang. Biasa kita menyebutnya pepatah atau perumpamaan.

Nanti akan disebutkan contohnya masing-masing insya Allah.

Kedua, Syi’r (syair atau semacam puisi), yaitu kalimat yang memiliki pola dan qafiyah (sajak/kesamaan huruf akhir). Contoh syi’r:

اِنْ كَانَ تَابِعُ اَحْمَدَ مُتَوَهَّبًا         فَاَنَااْلمُقِرُّ بِأَنَّنِيْ وَهَّابِيٌّ

اَنْفِى الشَّرِيْكَ عَنِ اْلِالهِ فَلَيْسَ لِيْ  رَبٌّ سِوَى اْلمُتَفَرِّدِ اْلوَهَّابِ

لاَقُبَّةَ تُرْجَى وَلاَوَثَنٌ وَلَا     قَبْرٌ لَهُ سَبَبٌ مِنَ اْلاَسْبَابِ

كَلاَّوَلَا حَجَرٌ, وَلاَشَجَرٌ وَلَا  عَيْنٌ وَلَانُصُبٍ مِنَ اْلأَنْصَابِ

أَيْضًاوَلَسْتُ مُعَلِّقًا لِتَمِيْمَةٍ  أَوْحَلَقَةٍ , أَوْ وَدَعَةٍ أَوْنَابٌ

لِرَجَاءِ نَفْعٍ, أَوْ لِدَفْعِ بَلِيَّةٍ   اللهُ يَنْفَعُنِيْ, وَيَدْفَعُ مَاِبيْ 

وَاْلِابْتِدَاعَ وَكُلَّ أَمْرٍمُحْدَثٍ    فِى الدِّيْنِ يُنْكِرُهُ أُولُو اْلَألْبَابِ

أَرْجُوْ بِأَنِّي لَا أُقَارِبُهُ وَلَا     أَرْضَاهُ دِيْنًا, وَهُوَ غَيْرُ صَوَابٌ

وَأَعُوْذُ مِنَ جَهْمِيَّةٍ عَنْهَاعَتَتْ    بِخِلَافِ كُلِّ مُؤَوِّلٍ مُرْتَابٍ

وَاْلِاسْتِوَاءَ, فَإِنَّ حَسْبِيْ قُدْوَةٌ     فِيْهَا مَقَالُ السَّادَةِ اْلأَنْجَابِ

الشَّافِعِيُّ وَمَالِكُ وَأَبِيْ حَنِيْ    فَةَوَابْنُ حَنْبَلَ التَّقِيُّ اْلأَوَّابُ

وَبِعَصْرِنَا مَنْ جَاءَ مُعْتَقِدًا بِهِ  صَاحُوْا عَلَيْهِ مُجَسِّمٌ وَهَّابِيٌّ

جَاءَ اْلحَدِيْثُ بِغُرْبَةِ اْلِإسْلَامِ فَلْ  يَبْكِ اْلمحُِبُّ لِغُرْبَةِ اْلأَحْبَابِ

فَاللهُ يَحْمِيْنَا, وَيَحْفَظُ دِيْنَنَا    مِنْ شَرِّكُلِّ مُعَانِدٍ سِبَابٍ

وَيُؤَيِّدُ الدِّيْنَ اْلحَنِيْفَ بِعُصْبَةٍ  مُتَمَسِّكِيْنَ بِسُنَّةٍ وَكِتَابٍ

لاَيَأْخُذُوْنَ بِرَأْيِهِمْ وَقِيَاسِهِمْ   وَلَهُمْ إِلَى اْلوَحْيَيْنِ خَيْرُ مَابٍ

قَدْأَخْبَرَ اْلمُخْتَارُ عَنْهُمْ أَنَّهُمْ    غُرَبَاءُ بَيْنَ اْلأَهْلِ وَاْلأَصْحَابِ

سَلَكُوا طَرِيْقَ السَّالِكِيْنَ إِلَى اْلهُدَى  وَمَشَوْا عَلَى مِنْهَاجِهِمْ بِصَوَابٍ

مِنْ أَجْلِ ذَا أَهْلِ اْلغُلُوِّ تَنَافَرُوْا   عَنْهُمْ فَقُلْنَالَيْسَ ذَابِعِجَابٍ

نَفَرَ الَّذِيْنَ دَعَاهُمْ خَيْرُ اْلوَرَى    إِذْلَقَّبُوْهُ بِسَاحِرٍ كَذَّابٍ

مَعَ عِلْمِهِمْ بِأَمَانَةٍ وَديَانَةٍ     فِيْهِ وَمَكْرَمَةٍ, وَصِدْقٍ جَوَاب

صَلَّى عَلَيْهِ اللهُ مَاهَبَّ الصِّبَا  وَعَلَى جَمَيْعِ اْلآلِ وَاْلأَصْحَابِ

Jika pengikut Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam itu dikatakan sebagai Wahhabi, maka saya mengaku bahwa saya Wahhabi.

Saya tiadakan sekutu bagi Allah, oleh karenanya tidak ada lagi bagi saya tuhan selain Allah Yang Maha Esa lagi Maha Pemberi.

Tidak ada lagi kubah untuk diharap, tidak juga patung, serta kubur tidak pula menjadi sebab.

Sekali-kali tidak, baik batu, pohon, mata air maupun berhala.

Aku juga tidak memakai jimat, baik berbentuk kalung, kerang, maupun taring.

untuk menarik manfaat atau menolak bala’, Allah-lah yang memberiku manfaat dan menghindarkan bencana.

Setiap bid’ah dan hal yang baru dalam agama, itu diingkari oleh orang-orang yang berakal.

Saya harap diriku tidak mendekatinya serta tidak meridhainya sebagai agama, karena tidak benar.

Saya menjaga diri dari  Jahmiyyah[i] yang angkuh, juga orang yang suka mentakwilkan sedang mereka bimbang.

Tentang istiwa’ (Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy), cukuplah bagiku sebagai panutan perkataan para imam yang mulia.

Seperti Syafi’i, Malik, Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal yang bertakwa lagi sering kembali kepada Allah.

Di zaman kita sekarang, orang yang berkeyakinan seperti ini akan dikatakan sebagai Mujassim dan Wahhabi.

Sungguh telah datang hadits tentang akan asingnya Islam, maka hendaknya menangis orang yang mencintai karena asingnya para kekasih.

Allah-lah yang menjaga kami, menjaga pula agama kami dari setiap orang yang keras lagi memaki.

Dia-lah yang mengokohkan agama yang lurus ini dengan segolongan orang yang berpegang dengan As Sunah dan Al Qur’an.

Mereka tidak berpegang dengan pendapat mereka dan qiyasnya. Kepada kedua wahyulah (Al Qur’an dan As Sunnah) tempat kembali yang baik.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberitahukan tentang mereka bahwa mereka akan menjadi asing di tengah keluarga dan kawan-kawan.

Mereka tempuh jalan orang-orang yang mengarah kepada hidayah dan mengikuti jejak mereka dengan benar.

Oleh karenanya orang-orang yang ghuluw berlari dari mereka, kami katakan, “Tidak perlu heran.”

Bukankah telah lari orang-orang (sebelumnya) dari manusia terbaik (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam), mereka menggelari Beliau sebagai penyihir dan pendusta.

Padahal mereka tahu amanah Beliau dan jalan hidupnya yang penuh kemuliaan dan kejujuran.

Semoga shalawat Allah Ta’ala limpahkan kepada Beliau selama angin timur masih bertiup, juga kepada keluarga dan para sahabat.

Syi’r biasanya disampaikan untuk menyifati, memuji, mencela, ungkapan hikmah, dsb.

Ilmu Tarikh Adab (Sejarah Sastra)

Ilmu ini membahas tentang keadaan adab (sastra) di beberapa zaman atau generasi dari sisi kuat dan lemahnya, banyak atau sedikitnya memuat sastra, di samping membahas juga keadaan para sastrawan, masa atau zaman mereka hidup, tempat mereka tinggal, serta karya-karya mereka.

Periode Sastra Arab 

Para peneliti membagi sastra Arab ke dalam beberapa periode berikut:

Pertama, periode Jahiliyah. Sastra di masa Jahiliyah telah dimulai dua abad atau satu abad setengah sebelum kedatangan Islam, dan berakhir dengan datangnya Islam.

Kedua, periode awal Islam. Sastra di masa ini dimulai sejak datangnya Islam dan berakhir hingga selesainya masa khulafa rasyidin tahun 40 H.

Ketiga, periode Bani Umayyah. Sastra di masa ini dimulai sejak tegaknya Daulah Bani Umayyah tahun 40 H dan berakhir dengan runtuhnya Daulah Bani Umayyah tahun 132 H.

Keempat, periode Bani Abbasiyyah. Sastra di masa ini dimulai sejak tegaknya Daulah Abbasiyyah tahun 132 H dan berakhir dengan runtuhnya Daulah ini ketika mendapat serangan Mongol ke Bagdad pada tahun 656 H.

Kelima, periode pertengahan. Periode ini meliputi dua masa pemerintahan, yaitu pemerintahan Mamluk dan Utsmani. Periode ini dimulai tahun 656 H dan berakhir dengan runtuhnya Daulah Utsmani pada awal abad ke-13 H serta munculnya sebagian gerakan yang menyatakan reformis di beberapa Negara Arab.

Keenam, periode modern. Sastra pada periode ini dimulai sejak munculnya sebagian gerakan yang menyatakan reformis di beberapa Negara Arab pada awal abad ke-13 hingga saat ini.

Sebenarnya, periode-periode di atas belum pasti, tetapi hanya perkiraan yang dibagi untuk mengetahui perbedaan yang terjadi dalam satra karena perubahan situasi politik dan masyarakat.

Nushus

Nushus (mufrad/satuannya disebut nash) yaitu kumpulan sastra pilihan baik yang berupa natsr (karya bebas) maupun syair yang disampaikan para sastrawan di berbagai masa dan generasi dalam berbagai tema pembahasan.

Sastra di masa Jahiliyyah

Contoh Natsr (karya bebas)

1. Khutbah (pidato)

Berikut akan disebutkan khutbah Hani bin Qabishah Asy Syaibani dalam perang Dzu Qar.

Awal kisahnya adalah bahwa Kisra (raja Persia) meminta kepada Hani bin Qabishah (pemimpin Bani Syaiban)  untuk menyerahkan beberapa amanah harta yang ditinggalkan Nu’man bin Mundzir – salah seorang raja Hirah di Irak – yang diangkat Kisra lalu dipecat dan dipenjarakannya hingga wafat di penjara, atau dihukum dengan diserahkan kepada gajah-gajah lalu ia terinjak oleh gaja (Al A’laam 8/ 43), namun Hani menolak hingga terjadilah peperangan antara bangsa Persia dengan kabilah Hani yaitu Bakr di sebuah tempat dekat Basrah di Irak bernama Dzu Qar. Ketika itu, kabilah Hani menang melawan orang-orang Persia, dan pada saat itu Hani menyemangati kaumnya untuk berperang dengan berkata,

يَا مَعْشَرَ بَكْرٍ، هَالِكٌ مَعْذُوْرٌ خَيْرٌ مِنْ نَاجٍ فَرُوْرٍ.
إِنَّ الْحَذَرَ لاَ يُنْجِي مِنَ الْقَدَرِ، وَإِنَّ الصَّبْرَ مِنْ أَسْبَابِ الظَّفَرِ.
الْمَنِيَّةُ وَلاَ الدَّنِيَّةُ، اِسْتِقْبَالُ الْمَوْتِ خَيْرٌ مِنِ اسْتِدْبَارِهِ، الَطَّعْنُ فِي ثُغَرِ النُّحُوْرِ أَكْرَمُ مِنْهُ فِي الْأَعْجَازِ وَالظُّهُوْرِ.
يَا آلَ بَكْرٍ، قَاتِلُوْا فَمَا لِلْمَنَايَا مِنْ بُدٍّ.

“Wahai kabilah Bakr! Mati dalam keadaan mulia lebih baik daripada selamat dalam keadaan melarikan diri. Sesungguhnya sikap waspada tidak dapat meloloskan diri dari takdir, dan sesungguhnya kesabaran termasuk sebab-sebab kemenangan. Mati mulia lebih baik daripada hidup terhina. Mendatangi maut lebih baik daripada melarikan diri. Tertusuk di bawah leher lebih baik daripada tertusuk di punggung. Wahai kabilah Bakr, berperanglah karena kematian pasti datang juga!”

Dalam khutbah ini terdapat ungkapan yang ringkas, adanya kesamaan huruf akhirnya pada dua kalimat atau lebih, sesuainya pokok fikiran dengan peristiwa yang  terjadi, dan dalam khutbah ini memuat nasihat dan hikmah.

2. Wasiat (Pesan)

Dzul Ushbu Al ‘Adwani, nama aslinya Hurtsan bin Harits seorang penyair Arab di masa Jahiliyah, dikenal dengan Dzul Usbu karena suatu ketika ada ular yang menggigit jarinya hingga buntung, atau karena ia memiliki jari lebih dari biasanya. Saat ia merasa akan meninggal dunia, maka ia memanggil anaknya yaitu Usaid dan memberinya nasihat agar anaknya memperoleh kedudukan tinggi di tengah-tengah masyarakat serta dicintai mereka, ia berkata.

أَلِنْ جَانِبَكَ لِقَوْمِكَ يُحِبُّوْكَ، وَتَوَاضَعْ لَهُمْ يَرْفَعُوْكَ، وَابْسُطْ لَهُمْ وَجْهَكَ يُطِيْعُوْكَ، وَلاَ تَسْتَأْثِرْ عَلَيْهِمْ بِشَيْءٍ يُسَوِّدُوْكَ، وَأَكْرِمْ صِغَارَهُمْ كَمَا تُكْرِمُ كِبَارَهُمْ، يُكْرِمُكَ كِبَارُهُمْ، وَيَكْبُرْ عَلَى مَوَدَّتِكَ صِغَارُهُمْ، وَاسْمَحْ بِمَالِكَ،  وَأَعْزِزْ جَارَكَ، وَأَعِنْ مَنِ اسْتَعَانَ بِكَ، وَأَكْرِمْ ضَيْفَكَ، وَصُنْ وَجْهَكَ عَنْ مَسْأَلَةِ أَحَدٍ شَيْئًا، فَبِذَلِكَ يَتِمُّ سُؤْدَدُكَ.

“Bersikap lembutlah kepada kaummu, niscaya mereka akan mencintaimu. Bersikap tawadhulah, niscaya mereka akan meninggikanmu. Tampakkanlah wajah senyummu, niscaya mereka akan menaatimu. Janganlah engkau bersikap egois, niscaya mereka akan mengangkatmu sebagai pemimpin. Muliakanlah yang muda di antara mereka sebagaimana yang tua juga dimuliakan, maka yang tua akan memuliakanmu, sedangkan yang muda akan tumbuh besar dalam keadaan mencintaimu. Berilah hartamu secara sukarela. Bantulah tetanggamu, tolonglah orang yang meminta bantuan kepadamu. Muliakanlah tamumu. Jagalah dirimu dari meminta-minta kepada seseorang, maka kedudukanmu semakin sempurna.” (Al Aghani karya Abul Farj Al Ashbahani 3/98-99, cet. Darul Kutub Al Mishriyyah)

Dalam wasiat ini terdapat ketajaman pandangan, menggunakan berbagai uslub (jalan bahasa) nasihat terkadang memerintah dan terkadang melarang, menggunakan penyerupaan, singkatnya kalimat dan kesamaannya, menggunakan sajak, ajakan berakhlak mulia, dsb.

3. Hikmah (Kalimat Bijak)

Berikut contoh-contoh kalimat bijak:

آفَةُ الرَّأْيِ الْهَوَى

Malapetaka pendapat adalah ketika mengikuti hawa nafsu

Kalimat ini disampaikan agar seseorang tidak menuruti hawa nafsu.

آخِرُ الدَّوَاءِ الْكَيُّ

Obat terakhir adalah menggunakan besi panas

Kalimat ini disampaikan agar seseorang melakukan hal yang lebih ringan dulu sebelum yang berat.

مَصَارِعُ الرِّجَالِ تَحْتَ بُرُوْقِ الطَّمَعِ

Kebinasaan seseorang terjadi ketika berada di bawah cahaya kilat tamak (mengikuti sifat tamaknya)

Kalimat ini disampaikan agar menjauhi sifat tamak atau rakus.

4. Amtsal/Matsal (Perumpamaan)

Berikut contoh amtsal:

سَبَقَ السَّيْفُ الْعَذْلَ

Pedang telah mendahului penyesalan (sehingga penyesalan tidak berguna lagi).

kita menyebutnya nasi sudah jadi bubur.

Awal mula munculnya matsal ini adalah bahwa ada orang Arab yang mengirim anaknya untuk mecari unta yang hilang, lalu anaknya pergi ke padang sahara sambil membawa pedangnya, kemudian ayahnya menunggunya dalam waktu lama namun anaknya tidak kunjung kembali. Suatu hari ayah ini pergi bersama seseorang dan di tengah perjalanan keduanya sampai di sebuah tempat, lalu orang itu berkata, “Sungguh, di tempat ini beberapa hari yang lalu aku temui seorang pemuda yang begini dan begitu sifatnya, lalu aku bunuh dia dan kuambil darinya pedang ini.” Lalu ayahnya berfikir tentang apa yang disampaikan orang itu, maka ayahnya pun tahu bahwa pemuda yang dibunuh itu adalah anaknya, sedangkan orang yang bersamanya adalah pembunuh anaknya, maka ayah ini berkata kepadanya, “Berikanlah kepadaku pedang itu agar aku perhatikan,” maka pedang itu pun diserahkan dan ayah ini pun tahu bahwa pedang ini adalah pedang anaknya, maka ayah ini membunuh orang itu dengan pedang itu, lalu orang-orang berkata, “Mengapa engkau membunuhnya di bulan haram?” Ia pun menyampaikan kalimat ini,

سَبَقَ السَّيْفُ الْعَذْلَ

Pedang telah mendahului celaan (sehingga celaan tidak berguna lagi).

Sehingga ungkapan ini menjadi matsal yang disampaikan kepada orang yang mencela seseorang terhadap sesuatu yang telah terjadi.

Contoh lainnya adalah ungkapan,

اَلصَّيْفَ ضَيَّعْتِ اللَّبَنَ

Pada musim panas engkau telah menghilangkan susu

Munculnya matsal ini adalah ketika ada seorang yang sudah lanjut usia menikahi wanita muda yang cantik di musim panas. Orang tua ini memiliki unta dan kambing yang banyak yang memiliki susu yang banyak, dimana ia dan istrinya biasa meminumnya. Akan tetapi wanita ini tidak suka dengan orang tua ini dan menuntut cerai, maka orang tua ini mencerainya dan wanita muda ini pun menikah dengan pemuda yang miskin yang tidak memiliki unta dan kambing. Suatu ketika wanita ini meminta susu kepada mantan suaminya, tetapi mantan suaminya menolaknya dan menyampaikan matsal tersebut,

اَلصَّيْفَ ضَيَّعْتِ اللَّبَنَ

Pada musim panas engkau telah menghilangkan susu

Matsal ini biasa disampaikan kepada seseorang yang memperoleh sesuatu yang baik, lalu ditinggalkannya, maka saat ia butuh dan meminta, ia pun tidak diberi.

Contoh Syair

Terjadi peperangan dahsyat antara dua kabilah di antara kabilah Arab, yaitu Abs dan Dzubyan karena masalah pertandingan kuda. Perang ini terus berlanjut selama 40 tahun, lalu beberapa pemuka kabilah itu berusaha melakukan shulh (damai) antara dua kabilah itu serta siap membayarkan diyat orang-orang yang terbunuh di antara dua kabilah itu. Saat itu ada seorang penyair bernama Zuhair bin Abi Salma yang merasa takjub dengan tindakan para pemuka itu, maka ia menyampaikan syair di bawah ini yang di dalamnya ia memuji Haram bin Sinan dan Harits bin Auf sebagai dua orang yang melakukan shulh (perjanjian damai) ini:

سَئِمْتُ تَكَالِيْفَ الحَيَاةِ وَمَنْ يَعِشُ        .....    ثَمَانِينَ حَوْلاً لا أَبَا لَكَ يَسْأَمِ

Aku sudah bosan merasakan berbagai masalah hidup

Siapa saja yang sudah menjalani hidup selama 80 tahun tentu merasakan kebosanan

 وأَعْلَمُ مَا فِي الْيَوْمِ وَالأَمْسِ قَبْلَهُ         …..  وَلكِنَّنِي عَنْ عِلْمِ مَا فِي غَدٍ عَمِ

Aku hanya tahu hari ini dan sebelumnya, namun tidak tahu tentang yang akan terjadi keesokan harinya

وَمَنْ هَابَ أَسْبَابَ المَنَايَا يَنَلْنَهُ          .....  وَلَوْ  نَالَ أَسْبَابَ السَّمَاءِ بِسُلَّمِ

Siapa saja yang takut terhadap sebab-sebab kematian, maka kematian itu tetap akan menghampirinya

Bahkan sekalipun ia berhasil memperoleh tali-tali ke langit dengan tangga

وَمَنْ يَجْعَلِ المَعْرُوفَ فِي غَيْرِ أَهْلِهِ    .....  يَعُدْ حَمْدُهُ ذَماًّ عَلَيْهِ وَيَنْدَمِ

Barang siapa yang meletakkan perbuatan baik kepada bukan tempatnya, maka pujian akan berbalik menjadi celaan dan ia akan menyesal

وَمَهْمَا تَكُنْ عِنْدَ امْرِئٍ مَنْ خَلِيقَةٍ        ....  وَلَو خَالَهَا تَخْفَى عَلَى النَّاسِ تُعْلَمِ  

Apa pun akhlak yang engkau miliki pada seseorang

Maka tetap akan diketahui walaupun engkau mengira dapat menyembunyikan

لِأَنَّ لِسَانَ الْمَرْءِ مِفْتَاحُ قَلْبِهِ ..... إِذَا هُوَ أَبْدَى مَا يَقُوْلُ مِنَ الْفَمِ

Hal itu karena lisan seseorang adalah kunci bagi hatinya, jika ia menampakkan ucapan itu dari mulutnya

 لِسَانُ الفَتَى نِصْفٌ وَنِصْفٌ فُؤَادُهُ     ..... فَلَمْ يَبْقَ إَلا صُورَةُ اللَّحْمِ وَالدَّمِ

Lisan seorang pemuda adalah separuhnya, sedangkan separuhnya lagi adalah hatinya

Oleh karena itu, tidak tersisa lagi selain gambaran daging dan darah

Syair di atas memuat pandangan yang bagus yang menunjukkan kebijaksanaan Zuhair dan keinginannya agar masyarakat menjadi baik. Dia menyampaikan bahwa seseorang tidak tahu yang gaib, kematian pasti datang, dan bahwa kebaikan tidak patut diberikan kecuali kepada yang berhak. Di samping itu lafaznya mudah, maknanya jelas, dan memberikan gambaran yang bagus.

Kesimpulan Kondisi Sastra di Masa Jahiliyyah

Natsr (Karya Bebas)

Berdasarkan contoh-contoh di atas semakin jelas bagi kita bahwa natsr di masa Jahiliyyah ada beberapa macam, di antaranya: khutbah, wasiat, hikmah, dan amtsal.

Sebab munculnya khutbah atau pidato adalah karena beberapa sebab, di antaranya: (1) sering terjadinya peperangan antara kabilah, (2) terjadi aktfitas sosial seperti ucapan selamat, ta’ziyah (menghibur), dsb. (3) meminta bantuan, (4) kebebasan dan kekacauan poilitik yang menimpa masyarakat jahiliyyah, (5) banyaknya yang buta huruf, (6) manusia berbangga dengan nasab dan akhlak yang mulia.

Karakteristik khutbah ketika itu adalah singkat kalimatnya, fasih atau jelas lafaznya, maknanya dalam, kalimat akhir; baik dua kalimat atau lebih hurufnya sama (sajak), memuat kalimat bijak, amtsal, dan bait syair di dalamnya.

Sebab munculnya wasiat adalah karena beberapa sebab, di antaranya: (1) merasakan akan wafat, dan (2) berpisah atau safar.

Karakteristik wasiat ketika itu adalah singkat kalimatnya, sebagian besar akhir kalimatnya baik dua kalimat atau lebih akhir hurufnya sama (sajak), memuat kalimat bijak dan amtsal, biasanya tidak ada hubungan antara kalimat satu dengan kalimat berikutnya, benar isi pandangannya. Sifatnya hampir sama dengan khutbah, tetapi lebih singkat.

Karakteristik Hikmah (Kalimat bijak) adalah menggambarkan kebiasaan bangsa-bangsa, singkat kalimatnya, lafaznya fasih, maknanya jelas, dan pandangannya tajam.

Perbedaan antara hikmah dengan amtsal atau matsal adalah bahwa hikmah mengarahkan kepada akhlak terpuji, atau melarang akhlak tercela, sedangkan matsal atau amtsal tidak demikian. Hikmah tidak terkait dengan kisah atau peristiwa, sedangkan matsal ada kisah atau kesesuaian. Hikmah tidak harus terkenal, sedangkan matsal harus terkenal.

Adaun syair, maka maksud dari pembuatnya adalah untuk memuji, mencela, berbangga, menyampaikan sikap semangat, merayu, meminta maaf, meratap, menyifati, dsb.

Ada pula yang disebut dengan mu’allaqat, yaitu kasidah (syair panjang yang disampaikan untuk maksud tertentu dan dalam acara atau kesempatan tertentu).

Untuk selanjutnya Islam mengarahkan agar maksud dan tujuan tadi sejalan dengan prinsip-prinsip Islam dalam memperbaiki akhlak masyarakat yang insya Allah akan kita terangkan setelah pembahasan ini.

Bersambung….

Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Maraji': Maktabah Syamilah versi 3.35, Silsilah Ta’limil Lughatil Arabiyyah (Adab), dll.



[i]  Golongan yang mengingkari Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy, mereka mengatakan bahwa Allah Ta’ala ada di setiap tempat. Mereka juga menolak sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger