Mengenal Ilmu Takhrij Hadits (4)

Sabtu, 28 Maret 2020
بسم الله الرحمن الرحيم
الحديث الشريف (@7death) | Twitter
Mengenal Ilmu Takhrij Hadits (4)
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut lanjutan pembahasan tentang mengenal Ilmu Takhrij Hadits merujuk kepada kitab Ushulut Takhrij wa Dirasah Al Asanid Al Muyassarah karya Dr. Imad Ali Jum’ah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
Mengenal Musnad Al Humaidiy, Abu Ya’la dan Ahmad
1. Musnad Al Humaidiy
Penulisnya adalah Abdullah bin Az Zubair Al Humaidiy (w. 219 H) guru dari Imam Bukhari. Di dalamnya memuat 1.300 hadits yang diurutkan sesuai musnad sahabat, namun tidak diurut sesuai urutan abjad, tetapi mengikuti urutan sejarah. Diawali dengan Musnad Abu Bakar Ash Shiddiq, lalu para khulafa rasyidin sesuai urutan sejarah mereka, kemudian Musnad 10 orang yang dijamin surga selain Thalhah bin Ubaidillah, lalu hadits-hadits Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam), kemudian para sahahabiyah yang wanita lainnya, lalu hadits-hadits laki-laki kaum Anshar, kemudian Musnad sahabat lainnya.
2. Musnad Abu Ya’la Al Maushili
Penulisnya adalah Ahmad bin Ali bin Al Mutsanna Al Maushiliy (w. 307 H). kitab ini terdiri dari 13 juz, sebagai Musnad yang sangat besar. Tidak ada yang mirip besarnya selain Musnad Ahmad.
Urutan nama para sahabatnya tidak mengikuti metode tertentu. Diawali dengan Musnad Khulafa Rasyidin selain Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, lau 10 orang yang dijamin masuk surga selain Sa’id bin Zaid, selanjutnya musnad para sahabat lainnya.  Jumlah haditsnya terdiri dari 7.555 hadits.
Cara mencari hadits tertentu di dalamnya adalah dengan melihat tahqiq (penelitian) seorang muhaqqiq (peneliti) yang membuat fihris (daftar isi) khusus dalam satu juz yang memuat sekian daftar, seperti daftar hadits dan atsar yang diurut sesuai ejaan mengikuti lafaz awal hadits dan atsar, dimana fihris tersebut tanpa tambahan alif lam ma’rifat ketika diurutkan, tidak membedakan sebuah hamzah baik hamzah washal, qatha’ maupun hamzah istifham (k. Tanya), dan tidak juga membedakan harakat hamzah yang berada di awal kata, baik berharakat kasrah, fathah, atau dhammah. Di samping itu, tidak dibedakan di sana antara hadits dan atsar.
3. Musnad Ahmad
Penulisnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Asy Syaibani (241 H). Kitab ini terdiri dari beberapa jilid, diurutkan sesuai Musnad para sahabat, dimana beliau meriwayatkan hadits-hadits setiap sahabat secara terpisah tanpa melihat tema hadits tersebut.
Urutan nama sahabat tidak disebutkan sesuai abjad, tetapi memperhatikan sahabat yang paling utama, tempat singgah mereka, dan kabilah mereka.
Di dalamnya memuat 904 musnad sahabat, dimana di antara musnad itu ada yang mencapai ratusan hadits seperti musnad Abu Hurairah, para sahabat yang menyampaikan banyak hadits, dan ada pula musnad yang hanya memuat satu hadits saja, dan ada pula yang di antara itu.
Beliau mengawali dengan musnad 10 orang yang dijamin masuk surga, mengawali dengan Abu Bakar, lalu Umar, kemudian Utsman, lalu Ali, dan sahabat yang dijamin masuk surga lainnya.
Lalu beliau menyebutkan hadits Abdurrahman bin Abu Bakar, lalu tiga hadits milik tiga orang sahabat, kemudian musnad Ahlul Bait dan menyebutkan hadits-hadits mereka, demikian seterusnya hingga diakhiri dengan hadits Syaddad bin Al Hadi radhiyallahu anhu.
Penerbit Al Maktab Al Islami pernah menerbitkannya dengan menyertakan fihris (daftar) nama para sahabat yang diurutkan sesuai huruf abjad, dimana pada bagian depan setiap nama sahabat ada no juz dan halaman. Oleh karena itu, siapa saja yang ingin mentakhrij sebuah hadits, maka ia harus tahun nama sahabat yang meriwayatkannya. Dia bisa lihat fihris agar tahu pada musnad itu di juz dan halaman berapa. Jika tidak menemukan, maka ia bisa lihat kitab-kitab hadits lainnya.
Mengenal kitab Tuhfatul Asyraf bi Ma’rifatil Athraf
Penulisnya adalah Jamaluddin Abul Hajjaj Yusuf bin Abdurrahman Al Mizziy (w. 742 H).
Di kitab ini beliau menghimpun hadits-hadits yang ada dalam Kutubus Sittah (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah) dan sebagian tambahannya dengan cara yang memudahkan pembaca untuk mengetahui sanad-sanadnya yang bermacam-macam yang dikumpulkan dalam satu tempat.
Objek kajiannya adalah menyebutkan bagian awal (athraf) hadits-hadits yang ada dalam Kutubus Sittah dan tambahannya. Tambahannya adalah Mukadimah Shahih Muslim, Al Marasil karya Abu Dawud, Al Ilal Ash Shaghirah karya Tirmidzi di bagian akhir kitab jaminya, Asy Syamail karya Tirmidzi, dan Amalul Yaumi wal Lailah karya Nasa’i.
Rumusnya adalah
خ = البخاري             خت = البخاري تعليقا
م = مسلم                  د = أبو داود
مد = أبو داود في مراسيله     ت = الترمذي
تم = الترمذى فى الشمائل    س = النسائي  
ق = ابن ماجه        ع = ما رواه الستة
ز = tambahan penulis tentang pembicaraan terhadap hadits tersebut
ك = Tambahan penulis yang sejalan dengan syarat yang dibuat oleh Ibnu Asakir dalam kitabnya
Urutannya sesuai biografi   nama-nama sahabat yang diurut sesuai urutan abjad. Jika sahabat tersebut banyak meriwayatkan hadits, maka beliau membagi semua riwayatnya sesuai biografi sahabat atau tabiin yang meriwayatkan darinya, dan ia mengurutkan sesuai urutan abjad pula.
Jika riwayat salah seorang tabiin begitu banyak dari sebagian sahabat, dan banyak pula yang mengambil riwayat darinya, maka ia membagi riwayatnya sesuai biografi tabi’ut tabi’in yang meriwayatkan darinya.
Jumlah musnad sahabat mencapai 905 musnad. Jumlah hadits mursal yang dinisbatkan kepada tabiin dan setelahnya ada 400 musnad.
Sebab terjadinya pengulangan hadits adalah karena penulis berusaha menyebutkan hadits sesuai nama-nama sahabat, dimana sebagiannya diriwayatkan dari jalan sejumlah sahabat sehingga terpaksa dilakukan pengulangan hadits.
Urutan haditsnya adalah menyebutkan hadits-hadits setiap biografi rawi yang banyak disebutkan oleh para penulis kitab hadits, lalu yang mendekatinya, dst.
Faedah dari kitab ini sangat banyak di antaranya mengetahui sanad-sanad yang ada dalam kutubus sittah dan tambahannya.
Contoh isi kitab Tuhfatul Asyraf
Dengan contoh di bawah ini kita ketahui metode penulisan antara kitab Tuhfatul Asyraf dan Dzakha’irul Mawarits
Penulis kitab Tuhfatul Asyraf berkata,
Huruf Alif: Dari Musnad Abyadh bin Hammal Al Himyari Al Ma’ribi, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam –Hr. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, dan Ibnu majah-, bahwa ada sebuah delegasi yang datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu meminta bagian wilayah yang memiliki kandungan garam di Ma’rib.
Abu Dawud:
Disebutkan dalam Al Kharaj dari Qutaibah bin Sa’id dan Muhammad bin Al Mutawakkil Al Asqalani, dimana keduanya meriwayatkan dari Muhammad bin Yahya bin Qais Al Ma’ribi dari ayahnya dari Tsumamah bin Syurahbil dari Summiy bin Qais dari Syumair bin Abdul Madan dari Abyadh bin Hammal.
Tirmidzi:
Disebutkan dalam Al Ahkam dari Qutaibah dan Muhammad bin Yahya bin Abi Umar, dimana keduanya meriwayatkan dari Muhammad bin Yahya bin Qais dengan isnadnya, ia berkata, “Gharib.”
Nasa’i:
Disebutkan dalam Ihya’ul Mawat (dalam Sunan Kubra) dari Ibrahim bin Harun, dari Muhammad bin Yahya bin Qais.
Dari Sa’id bin Amr dari Baqiyyah dari Abdullah bin Al Mubarak dari Ma’mar dari Yahya bin Qais Al Ma’ribi dari Abyadh bin Hammal.
Dari Sa’id bin Amr dari Baqiyyah dari Sufyan dari Ma’mar yang semisal dengan itu.
Sufyan berkata, “Ibnu Abyadh bin Hammal menceritakan kepadaku dari ayahnya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam hal yang sama seperti itu.”
Dari Abdussalam bin Atiq dari Muhammad bin Al Mubarak dari Ismail bin Ayyasy dari Sufyan bin Uyaynah, dimana keduanya meriwayatkan dari Umar bin Yahya bin Qais Al Ma’ribiy dari ayahnya dari Abyadh bin Hammal yang semisal dengan hadits itu.
Ibnu Majah:
Dalam Al Ahkam dari Muhammad bin Yahya bin Abi Umar dari Farj bin Sa’id bin Alqamah bin Sa’id bin Abyadh bin Hammal dari pamannya Tsabit bin Sa’id dari ayahnya yaitu Sa’id, dari ayahnya yaitu Abyadh yang semisal hadits itu.
Mustadrakat
Hadits Nasa’i dalam riwayat Ibnul Ahmar, namun tidak disebutkan oleh Abul Qasim.
Perbandingan kitab Tuhfatul Asyraf dengan kitab Dzakha’irul Mawarits
Tuhfatul Asyraf merupakan kitab terbaik bagi orang yang ingin melihat sanad-sanad suatu hadits dan menghukumi sebuah hadits karena banyaknya jalur-jalur dan berbeda para perawinya. Kelebihannya pula adalah menyebutkan hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah sahabat dalam musnad-musnad mereka yang memungkinkan seorang peneliti memperoleh haditsnya meskipun ia hanya tahu seorang sahabat saja di antara yang meriwayatkannya. Adapun kitab Dzakha’irul Mawarits, maka seseorang terkadang tidak menemukan hadits yang dicarinya dalam musnad sebagian sahabat yang meriwayatkannya. Hanyasaja kelebihan kitab Dzakhairul Mawarits adalah karena ringkasnya, dimana ukuran kitabnya kira-kira seperempat dari kitab Tuhfatul Asyraf. Jumlah haditsnya ada 12.302 hadits, sedangkan jumlah hadits dalam Tuhfatul Asyraf ada 19.595 hadits.
Contoh Isi Kitab Dzakha’irul Mawarits
Penulisnya adalah Abdul Ghani Ad Dimasyqi An Nabulisi (w. 1143 H). isinya memuat athraf Kutubus Sittah dan kitab Muwaththa. Disusun secara tertib mengikuti musnad sahabat sesuai huruf abjad. Isinya dibagi tiga bagian:
Pertama, musnad laki-laki dari kalangan sahabat.
Kedua, musnad mereka yang masyhur dengan kunyah (panggilan) tertentu, yang disusun sesuai huruf pertama kunyahnya.
Ketiga, musnad mereka yang masih mubham (tidak diketahui namanya) dari kalangan laki-laki sesuai pembicaraan terhadap mereka; yang diurutkan sesuai nama orang-orang yang meriwayatkan dari mereka.
Keempat, musnad wanita dari kalangan sahabat.
Kelima,  musnad wanita sahabat yang dikenal dengan nama kunyah (panggilan) tertentu.
Keenam, musnad wanita yang mubham dari kalangan sahabat yang disusun sesuai urutan nama-nama yang meriwayatkan dari mereka.
Ketujuh, hadits-hadits yang mursal (terputus di akhir sanad (tanpa disebutkan sahabat)) sesuai nama orang-orang yang memursalkannya. Kodenya adalah:
خ = البخاري          م = مسلم
ت = الترمذي          د = أبو داود
س = النسائي          ه = ابن ماجه
Metode penulisan dalam kitab Dzakhairul Mawarits
1. Mengawali dengan huruf hamzah dari kalangan sahabat, yaitu Abyadh bin Hammal Al Himyari.
2. Tidak menyebutkan isnad selain guru penulis kitab itu yang meriwayatkan hadits tersebut dan meninggalkan sanad lebihnya karena hendak meringkas, berbeda dengan Al Mizziy dalam Tuhfatul Asyraf.
3. Hanya memperhatikan makna atau sebagiannya tanpa memperhatikan lafaz dalam semua riwayatnya, yaitu dengan menyebutkan bagian awal hadits dengan lafaznya dalam sebagian kitab hadits dan mengisyaratkan dengan kode yang sesuai isinya dengan kitab hadits tertentu secara makna; bukan sesuai lafaznya.
4. Jika sebuah hadits diriwayatkan dari sejumlah sahabat, maka disebutkan salah seorang saja dari mereka agar tidak terjadi pengulangan; berbeda dengan Al Mizziy.
5, Siapa saja yang hendak melakukan takhrij menggunakan kitab ini, maka hendaknya ia perhatikan makna hadits yang ingin dicarinya, tanpa memperhatikan lafaz khusus, lalu memperhatikan siapa sahabat yang meriwayatkan hadits itu, karena boleh jadi dalam sebuah sanad diriwayatkan dari Umar, namun yang disebutkan dari sahabat lain di hadits itu, sehingga ia memastikan dulu sahabat yang meriwayatkan hadits itu, kemudian menyingkap keadaannya pada tempat tertentu.
Bersambung….
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Maktabah Syamilah versi 3.45, Ushulut Takhrij wa Dirasah As Sanad Al Muyassarah (Dr. Imad Ali Jum’ah),  dll.

Mengenal Ilmu Takhrij Hadits (3)

Kamis, 26 Maret 2020
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk الحديث الشريف
Mengenal Ilmu Takhrij Hadits (3)
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut lanjutan pembahasan tentang mengenal Ilmu Takhrij Hadits merujuk kepada kitab Ushulut Takhrij wa Dirasah Al Asanid Al Muyassarah karya Dr. Imad Ali Jum’ah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
Cara Mentakhrij Hadits
Ketika hendak memulai mentakhrij hadits hendaknya kita memperhatikan hadits dengan melihat siapa sahabat yang meriwayatkannya, atau apa inti hadits tersebut (membahas tentang apa), atau dengan melihat lafaznya, atau melihat awal lafaznya, atau dengan melihat kepada sifat tertentu yang dikandung oleh hadits baik pada sanad maupun matannya. Secara lebih rincinya, cara mentakhrij hadits adalah sebagai berikut:
1. Mencari hadits dengan memperhatikan sahabat yang meriwayatkan, maka bisa digunakan kitab-kitab ini: kitab-kitab musnad (kitab yang menyebutkan hadits sesuai urutan sahabat), kitab-kitab mu’jam  (kitab yang menyebutkan hadits sesuai urutan nama sahabat namun sesuai urutan abjad), atau kitab-kitab athraf (kitab-kitab yang hanya menyebutkan bagian awal hadits).
2. Mencari hadits dengan memperhatikan lafaz awal matan hadits. Untuk hal ini bisa kita gunakan kitab-kitab hadits yang haditsnya diurutkan sesuai abjad, atau melihat kepada kitab-kitab yang memuat kata kunci dan daftar teks hadits (biasa diletakkan di bagian belakang suatu kitab).
3. Mencari hadits dengan memperhatikan kata yang berbeda dengan hadits lainnya yang ada dalam hadits tersebut. Dalam hal ini bisa digunakan kitab Al Mu’jam Al Mufahras Li Alfazhil Hadits An Nabawi, Fihris Alfazh Jami At Tirmidzi, atau Fihris Alfazh Shahih Muslim. Namun setelah adanya software kitab-kitab hadits seperti Maktabah Syamilah dan lainnya, maka kita dapat dengan mudah mencarinya dengan software-software tersebut yang diinstal di komputer kita.
4. Mencari hadits dengan memperhatikan inti atau pembahasannya tentang apa hadits tersebut. Dalam hal ini kita bisa melihat kepada kitab-kitab Sunan (kitab hadits yang disusun sesuai bab fiqih).
5. Mencari hadits dengan memperhatikan keadaan hadits dari sisi sanad maupun matan. Dalam hal ini kita bisa melihat kepada kitab-kitab yang memuat sifat tertentu yang ada dalam sanad atau matan. Misalnya kumpulan hadits-hadits yang mutawatir atau kitab-kitab juz (kitab kecil yang memuat hadits-hadits salah seorang sahabat atau memuat hadits-hadits tentang masalah tertentu).
6. Takhrij hadits dengan komputer. Inilah yang paling mudah dan mempersingkat waktu. Yaitu dengan mengetik lafaz yang berbeda di ‘bahts’ atau pencarian, lalu kita klik kitab yang kita pilih, kemudian enter, maka akan tampil di mana posisi hadits dalam kitab tersebut. Di antara softwarenya adalah Mausu’ah Al Hadits Asy Syarif, Lidwa Pusaka, Mausu’ah Dzahabiyyah, Maktabah Syamilah, dsb.
Mengenal kitab-kitab yang digunakan untuk mentakhrij hadits
1. Jika menggunakan cara pertama, maka seseorang harus tahu nama sahabatnya, lalu ia lihat kitab-kitab Musnad, Mu’jam, atau Athraf.
A. Kitab Musnad
Kitab Musnad disusun sesuai nama sahabat, terkadang sesuai huruf abjad, atau sahabat yang lebih dulu masuk Islam, atau sesuai kabilah(suku)nya, atau sesuai negerinya, dsb.
Jumlah Musnad hampir 100 kitab, namun yang paling masyhurnya adalah
a. Musnad Abu Dawud Sulaiman Ath Thayalisi (w. 204 H)
b. Musnad Asad bin Musa Al Umawiy (w. 212 H)
c. Musnad Ubaidullah bin Musa Al ‘Absiy (w. 213 H)
d. Musnad Abdullah bin Az Zubair Al Humaidiy (w. 219 H)
e. Musnad Musaddad bin Musarhad Al Bashri (w. 228 H)
f. Musnad Abu Khaitsamah Zuhair Harb (w. 234 H)
g. Musnad Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)
h. Musnad Abd bin Humaid (w. 249 H)
i. Musnad Nu’aim bin Hammad (w. 288 H)
j. Musnad Abu Ya’la Ahmad Al Maushiliy (w. 307 H)
B. Kitab  Mu’jam
Kitab Mu’jam disusun dengan mengurutkan hadits-haditsnya sesuai Musnad sahabat (sahabat disebutkan lebih dulu, lalu hadits-haditsnya), atau sesuai urutan Syaikh (guru), atau negerinya, dsb. Namun biasanya nama-nama sahabat atau selainnya diurutkan sesuai urutan abjad.
Kitab-kitab Mu’jam sangat banyak. Yang paling masyhurnya adalah:
a. Mu’jam Ash Shahabah karya Ahmad bin Ali Al Maushiliy (w. 307 H)
b. Al Mu’jamul Kabir karya Sulaiman bin Ahmad Ath Thabrani (w. 360 H), dimana hadits-hadits diurutkan sesuai Musnad sahabat dan diurutkan sesuai abjad, hanyasaja Musnad Abu Hurairah disusun secara terpisah. Di dalamnya memuat hadits hampir 60.000 hadits.
c. Al Mu’jamul Awsath karya Thabrani juga. Hadits-hadits di dalamnya diurutkan sesuai nama-nama gurunya. Isinya hampir 30.000 hadits,
d. Al Mu’jamush Shaghir karya Thabrani pula. Di dalamnya, Imam Thabrani menyebutkan hadits dari 1.000 guru di antara guru-gurunya, dimana setiap gurunya pada umumnya satu hadits.
e. Mu’jam Ash Shahabah  karya Ahmad bin Ali bin Lal Al Hamdani (w. 398 H).
C. Kitab Athraaf
Yaitu kitab yang penulisnya hanya menyebutkan bagian awal hadits yang mengisyaratkan adanya lanjutan hadits, dan menyebutkan sanad-sanad yang melalui jalan itu hadits tersebut datang.
Biasanya hadits-haditsnya disebutkan sesuai nama para sahabat dengan urutan abjad, namun ada pula yang menyebutkan huruf pertama pada matan hadits tersebut seperti kitab Athraful Gharaib wal Afrad karya Daruquthni yang diurutkan oleh Muhammad bin Thahir Al Maqdisi (w. 507 H) dan kitab Al Kasysyaf fi Ma’rifatil Athraf (yakni athraf terhadap Kutubus Sittah) karya Muhammad bin Ali Al Husaini (w. 765 H).
Kitab-kitab Athraf sangat banyak, di antaranya:
a. Athraf Ash Shahihain karya Abu Mas’ud Ibrahim bin Muhammad Ad Dimasyqi (w. 401 H)
b. Athraf Ash Shahihain karya Abu Muhammad Khalf bin Muhammad Al Wasithi (w. 401 H)
c. Al Isyraaf alaa Ma’rifatil Asyraf karya Ibnu Asakir Abul Qasim Ali bin Al Hasan (w. 571 H). Kitab ini merupakan athraf terhadap kitab Sunan yang empat (Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).
d. Tuhfatul Asyraf bi Ma’rifatil Athraf karya Abul Hajjaj Yusuf Abdurrahman Al Mizziy (w. 742 H). Kitab ini merupakan athraf terhadap Kutubus Sittah.
e. Athraaf Al Masanid Al Asyarah karya Abul Abbas Ahmad bin Muhammad Al Bushiriy (w. 840 H). Kitab ini adalah athraf terhadap kitab-kitab Musnad berikut: Abu Dawud Ath Thayalisi, Abu Bakar Al Humaidi, Musaddad bin Musarhad, Muhammad bin Yahya Al ‘Adni, Ishaq bin Rahawaih, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Ahmad bin Mani, Abd bin Humaid, Harits bin Muhammad bin Abi Usamah, dan Abu Ya’la Al Maushiliy, 
f. Ithaful Maharrah bi Athrafil Asyarah karya Ahmad bin Ali bin Hajar Al Asqalani (w. 852 H)
Kitab ini merupakan athraf terhadap sepuluh kitab ini: Muwaththa, Musnad Syafi’i, Musnad Ahmad, Musnad Darimi, Shahih Ibnu Khuzaimah, Muntaqa Ibnul Jarud, Shahih Ibnu Hibban, Mustadrak Hakim,  Mustakhraj Abu Awanah, Syarh Ma’anil Aatsar karya Ath Thahawi, dan Sunan Daruquthni. Dilebihkan satu kitab, karena Shahih Ibnu Khuzaimah hanya seperempat kitab saja, lihat Lahzhul Alhadz Dzail Thabaqatil Huffazh hal. 333.
g. Dzakha’irul Mawarits fi Dilalah ala Mawadhi’il Hadits karya Abdul Ghani An Nabulisi (w. 1143 H).
Dalam kitab ini memuat athraf Kutubus Sittah dan Muwaththa Malik.
Faedah kitab-kitab Athraf
Dalam kitab-kitab Athraf sanad-sanad yang berbeda-beda dikumpulkan dalam satu tempat, sehingga seseorang dapat mengetahui sebuah hadits apakah gharib (hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi), aziz (diriwayatkan oleh dua orang rawi), atau masyhur (diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih).
Demikian pula dapat diketahui siapa saja yang meriwayatkan hadits tersebut di antara para pemilik kitab hadits yang induk dan di bab apa mereka menyebutkan.
Di samping itu, dapat pula diketahui jumlah hadits yang diriwayatkan setiap sahabat dalam kitab yang disebutkan athrafnya.
Catatan:
Perlu diketahui, bahwa kitab athraf tidak menyebutkan matan hadits secara lengkap. Bahkan tidak pula menyebutkan lafaznya, hanya menyebutkan maknanya. Oleh karena itu, siapa saja yang ingin memperoleh lafaz hadits itu, hendaknya ia merujuk kepada kitab-kitab yang diisyaratkan oleh kitab athraf yang merupakan penunjuk terhadap posisi hadits.
Bersambung….
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Maktabah Syamilah versi 3.45, Ushulut Takhrij wa Dirasah As Sanad Al Muyassarah (Dr. Imad Ali Jum’ah),  dll.

Mengenal Ilmu Takhrij Hadits (2)

Selasa, 24 Maret 2020
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk تخريج الأحاديث
Mengenal Ilmu Takhrij Hadits (2)
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut lanjutan pembahasan tentang mengenal Ilmu Takhrij Hadits merujuk kepada kitab Ushulut Takhrij wa Dirasah Al Asanid Al Muyassarah karya Dr. Imad Ali Jum’ah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
Mengenal sebagian kitab Takhrij
1. Nashbur Raayah Li Ahaditsil Hidayah
Penulisnya adalah Jamaluddin Abdullah bin Yusuf Az Zaila’i (w. 762 H). Dalam kitab tersebut, ia mentakhrij hadits-hadits yang ada dalam kitab Al Hidayah terkait fiqih Hanafi karya Abu Bakar Al Marghinani (w. 593 H).
Kitab ini termasuk kitab yang sangat bermanfaat dan lengkap dalam hal takhrij, dimana di dalamnya menyebutkan jalan-jalan suatu hadits, menerangkan posisi sebuah hadits  dalam kitab-kitab sunnah, dan menyebutkan pendapat para imam di bidang Jarh wa Ta’dil terkait para perawi sanad hadits tersebut secara rinci.
Kitab ini termasuk ensiklopedi besar dalam mentakhrij hadits-hadits hukum yang dipakai semua madzhab.
Metode takhrijnya adalah:
a. Menyebutkan teks hadits yang disebutkan penulis kitab Al Hidayah
b.   Menyebutkan siapa saja yang meriwayatkan hadits tersebut di antara para pemilik kitab hadits sambil menyebutkan secara mendalam jalur-jalurnya dan posisinya.
c. Menyebutkan hadits yang menguatkan dan menerangkan makna hadits serta menyebutkan pula siapa yang meriwayatkannya dan diberinya isyarat dengan kata-kata ‘Ahaditsul baab’ (hadits-hadits yang semisal dengan masalah ini).
d. Hadits-hadits yang ada dalam kitab tersebut ditakhrij berurutan sesuai urutan kitab-kitab fiqih, dimulai dari kitab thaharah (bersuci), dan penulisnya mengikuti kitab asalnya yaitu Al Hidayah karya Al Marghinani.
e. Metode Az Zaila’i dalam mentakhrij hadits kemudian diikuti oleh para Ahli Hadits setelahnya, seperti Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam kitabnya Ad Dirayah dan At Takhishul Habir.
2. Ad Dirayah fi Takhrij Ahadits Al Hidayah
Penulisnya adalah Ibnu Hajar Al Asqalani (w. 852 H). kitab ini merupakan ringkasan terhadap kitab Nashbur Rayah karya Az Zaila’i yang memudahkan pemula dan mempersingkat waktunya di samping adanya tambahan penjelasan. Urutan takhrijnya seperti kitab Nashbur Rayah dan sesuai urutan fiqih.
3. At Talkhishul Habir fi Takhrij Ahadits Syarhil Wajiz Al Kabir
Penulisnya adalah Ahmad bin Ali bin Hajar Al Asqalani (w. 852 H). Kitab ini adalah ringkasan kitab Al Badrul Munir fi Takhrij Al Ahadits wal Aatsar Al Waqi’ah fi Asy Syarhil Kabir karya Sirajuddin Umar bin Ali bin Al Mulaqqin (w. 804 H) sebagai takhrij terhadap hadits-hadits yang ada dalam kitab Asy Syarhul Kabir.
Asy Syarhul Kabir adalah kitab fiqih madzhab Syafi’i karya Imam Ar Rafi’i (w. 623 H), dimana ia mensyarah (menerangkan) isi kitab Al Wajiz karya Imam Al Ghazali (w. 505 H).
Metode takhrijnya seperti dalam kitab Ad Dirayah. Di dalamnya disebutkan hadits-hadits sesuai urutan fiqih.
3. Al Mugni ‘an Hamlil Asfar fil Asfar
Penulisnya adalah Abdurrahim bin Al Husain Al Iraqi (w. 806 H). Ia mentakhrij hadits-hadits yang ada dalam kitab Ihya Ulumid Din karya Imam Al Ghazali (w. 505 H).
Metode takhrijnya adalah sebagai berikut:
a. Jika haditsnya ada dalam Shahih Bukhari dan Muslim, maka cukup menyandarkan kepada keduanya.
b. Jika tidak ada dalam Shahih Bukhari dan Muslim atau salah satunya, maka disebutkan ahli hadits yang meriwayatkannya dalam Kutubus Sittah (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).
c. Jika ada dalam Kutubus Sittah, ia tidak menyandarkan kepada kitab-kitab hadits yang lain kecuali untuk tujuan tertentu seperti menerangkan bahwa yang meriwayatkannya juga termasuk orang yang berusaha memilih yang shahih dalam kitabnya atau karena lafaznya lebih dekat kepada lafaz kitab Al Ihya.
d. Jika hadits tersebut tidak ada dalam Kutubus Sittah, maka disebutkan posisinya di kitab hadits lainnya.
e. Jika ada pengulangan hadits dalam kitab Al Ihya dalam satu bab, maka cukup dengan takhrij pertama dalam bab tersebut.
f. Jika ada pengulangan hadits dalam kitab Al Ihya di bab yang lain, maka disebutkannya di semua tempat.
Gambaran takhrij Al Iraqi adalah menyebutkan lafaz awal hadits tersebut, menyebutkan sahabat yang meriwayatkan, dan siapa yang meriwayatkan hadits tersebut, menerangkan derajatnya; shahih, hasan, atau dha’if. Demikian pula apabila sebuah hadits tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits, maka ia mengatakan  ‘tidak ada asalnya’ atau ‘aku tidak mengetahuinya’.
Kitab ini termasuk kitab yang sangat penting, karena kitab Al Ihya banyak dipelajari manusia, namun sayangnya memuat hadits-hadits yang dhaif bahkan palsu. Maka Imam Al Iraqi mentakhrijnya dan memilah mana yang shahih dana mana yang dhaif dengan uraian yang mudah, jelas, dan ringkas.
Contoh Isi kitab Takhrij Hadits
1. Nashbur Rayah Li Ahadits Al Hidayah
Hadits ke-36: Hadits tentang duduk istirahat.
Aku (Az Zaila’i) berkata, “Diriwayatkan oleh Bukhari dari Malik bin Huwairits, bahwa ia melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika berada di rakaat ganjil tidak langsung bangkit sampai duduk dengan sempurna (duduk istirahat).
Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Qilabah, ia berkata, “Malik bin Huwairits pernah datang kepada kami ke masjidnya, lalu ia berkata, “Demi Allah, aku akan shalat, namun maksudku adalah untuk mengajarkan kepada kalian bagaimana aku lihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat.” Ketika itu ia duduk pada rakaat pertama saat mengangkat kepalanya dari sujud terakhir. Ayyub berkata, “Aku pun bertanya kepada Abu Qilabah, “Bagaimana ia shalat?” Ia menjawab,. “Seperti orang tua kita ini.” Ketika itu orang tua tersebut duduk (sejenak) saat mengangkat kepalanya dari sujud sebelum bangkit dari rakaat pertama.” Abu Dawud menambahkan, “Syaikh ini adalah imam mereka, yaitu Amr bin Salamah.”
Dalam kitab ini diterangkan, bahwa praktek ini dibawa maksudnya ‘ketika kondisi Beliau sudah tua’. (Nashbur Rayah 1/388)
2. Ad Dirayah fi Takhrij Ahadits Al Hidayah
Hadits tentang duduk istirahat disebutkan oleh Bukhari dari Malik bin  Huwairits, bahwa ia melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam saat berada pada rakaat yang ganjil, maka tidak bangkit sampai duduk secara sempurna. Pernyataan bahwa ‘hadits ini dibawa maksudnya karena keadaan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang sudah tua’ adalah takwil yang butuh kepada dalil, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Malik bin Huwairits saat hendak berpisah dengannya, “Shalatlah kamu sebagaimana kamu lihat aku shalat.” Ketika itu Beliau tidak merincikan, sehingga hadits ini adalah hujjah untuk mengikuti Beliau dalam hal tersebut (duduk istirahat).
3. At Talkhkishul Habir Fi Takhrij Ahadits Syarhil Wajiz Al Kabir
Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits Ali yang menyebutkan bahwa Al Abbas bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk disegerakan zakatnya sebelum tiba waktunya, maka Beliau mengizinkannya.” Diriwayatakan oleh Ahmad dan para pemilik kitab Sunan, juga oleh Hakim, Daruquthni, dan Baihaqi dari hadits Hajjaj bin Dinar dari Al Hakam dari Hujayyah bin Adi dari Ali. Diriwayatkan pula oleh Tirmidzi dari riwayat Israil dari Al Hakam dari Hajar Al Adawi dari Ali. Daruquthni menyebutkan perbedaan pendapat mengenai Al Hakam, namun ia menguatkan riwayat Al Manshur dari Al Hakam dari Al Hasan bin Muslim bin Yanaq dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam secara mursal. Hal yang sama juga dikuatkan oleh Abu Dawud. Baihaqi berkata, “Syafi’i berkata, “Telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa Beliau menerima lebih awal zakat harta Al Abbas sebelum tiba waktunya, namun  aku tidak tahu; apakah hadits itu shahih atau tidak?” Baihaqi berkata, “Yang dimaksud adalah hadits ini, namun dikuatkan oleh hadits Abul Bukhturi dari Ali, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kami sedang membutuhkan, maka kami terima lebih awal harta Al Abbas  sebagai zakat untuk dua tahun.” Para perawinya adalah tsiqah, namun ada yang terputus. Dalam sebagian lafaznya disebutkan, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Umar, “Sesungguhnya kami menyegerakan zakat harta Al Abbas  pada tahun pertama.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath Thayalisi dari hadits Abu Rafi.”
Hadits tentang “Allah melaknat wanita yang meratap dan wanita yang menyimaknya,” dalam sebagian naskah disebutkan “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat,” diriwayatkan oleh Ahmad dari hadits Abu Sa’id dengan lafaz kedua, namun dianggap munkar oleh Abu Hatim dalam Al Ilal, dan diriwayatkan oleh Thabrani dan Baihaqi dari hadits Atha dari Ibnu Umar, dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Addi dari hadits Al Hasan dari Abu Hurairah, namun semuanya dha’if.
Hadits “Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar pipi dan merobek kerah baju,” hadits ini telah disepakati keshahihannya dari hadits Ibmu Mas’ud dengan tambahan, “Dan menyeru dengan seruan Jahiliyyah.”
4. Al Mughni ‘an Hamlil Asfar
Al Iraqi rahimahullah berkata, “Hadits bahwa ‘Allah yang menciptakan air sebagai penyuci, tidak dapat dinajiskan oleh sesuatu kecuali jika sampai ada yang merubah warna, rasa, atau baunya’. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadits Abu Umamah dengan isnad yang dha’if. Hadits tersebut diriwayatakan oleh Abu Dawud, Nasa’i, dan Tirmidzi dengan tanpa ada pengecualian dari hadits Abu Sa’id, dan dishahihkan oleh Abu Dawud dan lainnya.
Hadits ‘Binasalah orang-orang yang berlebihan’ diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Ibnu Mas’ud.
Bersambung….
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Maktabah Syamilah versi 3.45, Ushulut Takhrij wa Dirasah As Sanad Al Muyassarah (Dr. Imad Ali Jum’ah),  dll.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger