Cara Mengelola Halaqah Al Qur’an

Rabu, 19 Juli 2023

 بسم الله الرحمن الرحيم



Cara Mengelola Halaqah Al Qur’an

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut cara mengelola halaqah Al Qur’an, semoga Allah menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.

Cara Mengelola Halaqah (Kelompok Kecil Untuk Menghafal) Al Qur’an

Sebelum membuat halaqah-halaqah Al Qur’an, perlu adanya koordinator tahfizh (Munassiq qismit tahfizh) yang berpengalaman. Hendaknya koordinator tersebut sudah hafal Al Qur’an 30 juz dan lebih baik lagi jika dia bersanad. Oleh karena itu, pihak sekolah hendaknya mencari koordinator yang demikian keadaannya, dan memberikan mukafaah yang layak, karena sudah hafal Al Qur’an 30 juz dan bersanad.

Tugas Koordinator Tahfizh

Pihak koordinator kemudian membuat beberapa halaqah sesuai jumlah siswa, dimana setiap halaqah diampu oleh seorang muhaffizh (yang menyuruh siswa menghafal dan menyimak hafalan siswa).

Setiap halaqah maksimal 10 siswa; tidak lebih.

Pihak koordinator kemudian menentukan target hafalan siswa dengan memperhatikan jadwal mata pelajaran yang ada.

Pihak koordinator juga hendaknya mengumpulkan para muhaffizh sebelum kegiatan tahfizh dimulai untuk menyamakan metode dan cara agar target hafalan siswa tercapai.

Tugas koordinator tahfizh juga adalah mendampingi, mengawasi, mengontrol, memonitoring (memantau), melaporkan, dan mengevaluasi.

Hendaknya koordinator tahfizh mengingatkan para muhaffizh untuk mendorong siswa menghafal Al Qur’an dengan menerangkan keutamaan hafal Al Qur’an, mudahnya menghafal Al Qur’an, cara menghafal, cara mencapai target, cara memuroja’ah dan sebagainya, serta memperhatikan beberapa hal setelah ini.    

Kiat Mudah Menghapal Al Qur’an

1.    Menyuruh siswa berdoa kepada Allah agar dimudahkan menghafal Al Qur’an.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

أَتَهْزَأُ بِالدُّعَاءِ وَتَزْدَرِيْهِ – وَمَا تَدْرِيْ بِمَا صَنَعَ الدُّعَاءُ

“Apakah engkau meremehkan doa dan memandangnya ringan?--Tahukah kamu apa yang dapat dilakukan doa?”

2.    Menerangkan tentang mudahnya Al Qur’an untuk dihapal dan dipelajari.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qamar: 17)

3.    Memperhatikan jumlah halaman mushaf Al Qur’an untuk menentukan target.

Jumlah halaman mushaf Al Qur’an standar Timur Tengah kurang lebih ada 604 halaman, sedangkan barisnya rata-rata ada 15 baris. 1 juz rata-rata ada 20 halaman atau 10 lembar, maka berdasarkan hitungan ini, mulailah menghapal Al Qur’an, memuroja’ah (mengulang-ulang hapalan), serta memilih berapa baris atau berapa paruh halaman Anda menghapal dalam sehari.

Jika sehari saja Anda menghapal 1 halaman, maka dalam waktu kurang lebih 2 tahun kurang (kira-kira 1 tahun 8 bulan), Anda akan hapal 30 juz.

Jika Anda tidak sanggup menghapal Al Qur’an dalam sehari 1 halaman, maka Anda bisa menghapal sehari ½ halaman, sehingga Anda akan hapal Al Qur’an 30 juz kurang lebih 3 tahun 4 bulan. Ringan bukan?

Lebih rincinya sebagai berikut:

Hari

Jumlah Halaman

Selesai 30 juz

1 hari

½ halaman

3 Th 4 bln

1 hari

1 halaman

1 th 8 bln

1 hari

1 lembar (2 halaman)

10 bln

1 hari

1 ½ lembar

7,5 bln

1 hari

2 lembar

5 bln

1 hari

4 lembar

2,5 bulan

4.    Memperhatikan jumlah ayat Al Qur’an untuk menentukan target.

Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa jumlah ayat Al Qur’an adalah enam ribu ayat, kemudian selebihnya masih diperselisihkan oleh ulama. Ada yang berpendapat, bahwa ayatnya tidak lebih dari 6.000 ayat. Ada pula yang berpendapat, bahwa lebihnya 204 ayat. Ada pula yang berpendapat, bahwa lebihnya 214 ayat. Ada pula yang berpendapat, bahwa lebihnya 219 ayat. Ada pula yang berpendapat, bahwa lebihnya 225 ayat atau 226 ayat. Ada pula yang berpendapat, bahwa lebihnya 236 ayat.

Menurut riwayat Hafsh, jumlah ayat Al Qur’an ada 6236, menurut riwayat ad-Dur ada 6262 ayat, sedangkan menurut Warsy ada 6214.

Total ayat Al Qur’an setelah dijumlahkan penulis jika melihat jumlah ayat mushaf pada umumnya (riwayat Hafsh) di zaman sekarang kurang lebih ada 6236 ayat, wallahu a’lam.

Yang jelas, jumlah ayat Al Qur’an tidak kurang dari 6000-an ayat, maka jika Anda menghapal Al Qur’an mengikuti jumlah ayat. Anda akan hapal Al Qur’an dalam waktu sesuai jumlah ayat yang Anda hapal dalam sehari sebagaimana tabel berikut:

Jika dalam sehari

Maka Anda Akan hapal Al Qur’an

dalam

Ayat

Tahun

Bulan

Hari

1

17

7

9

2

8

9

18

3

5

10

13

4

4

4

24

5

3

6

7

6

2

11

4

7

2

6

3

8

2

2

12

9

1

11

12

10

1

9

3

11

1

7

6

12

1

5

15

13

1

4

6

14

1

3

0

15

1

2

1

16

1

1

6

17

1

0

10

18

0

11

9

19

0

11

1

20

0

10

16

 

Cara menghapal

1.     Jika siswa belum lancar membaca Al Qur’an, maka muhaffizh mentalqin (menuntun) ketika siswa membacanya.

2.     Siswa diminta ketika menghafal untuk  membaca ayat yang hendak dihapal sebanyak 7 kali, 10 kali, atau 15 kali. Insya Allah, ayat tersebut akan dihapalnya.

3.     Jika ayatnya agak panjang, maka jangan dibaca sekaligus, tetapi bagilah/pisahkanlah beberapa lafaz terlebih dahulu, baru ditambah dengan lafaz setelahnya jika yang sebelumnya telah dihapal.

4.     Begitulah seterusnya.

Cara Muroja’ah

1.     Jika seseorang telah hapal Al Qur’an 30 juz, lalu ia hendak memuroja’ah Al Qur’an 30 juz, maka jika dalam sepekan termuroja’ah 30 juz, maka sangat baik sekali. Misalnya dengan membagi jumlah juz yang dimurojaah sbb.:

Hari

Jumlah Juz

Ahad

5

Senin

5

Selasa

4

Rabu

3

Kamis

5

Jum’at

5

Sabtu

3

Atau dengan membagi Al Qur’an dalam tujuh hari seperti kaum salaf terdahulu membagi dengan istilah FAMY BISYAWQIN. Yaitu: (1) Surat Al Fatihah sd. An Nisaa, (2) Surat Al Ma’idah sd. At Taubah, (3) Surat Yunus sd. An Nahl, (4) Surat Al Isra sd. Al Furqaan, (5) Surat Asy Syu’ara sd. Yaasiin, (6) Surat Ash Shaffat sd. Al Hujurat  dan (7) Surat Qaaf.

Tetapi jika tidak sanggup dalam tujuh hari, maka minimal dalam sehari 3 juz, sehingga dalam waktu 10 hari Anda selesai memurojaah 30 juz.

2.     Jika hapalan siswa belum sampai 30 juz, maka dia bisa bisa menyesuaikan dengan sejauh mana hapalannya. Misalnya memurojaah sehari 1 atau 2 juz. Yang penting semua surat yang dihapal termuroja’ah.

3.     Ada pula yang menggunakan metode yang lain, yaitu ketika menghafal ayat yang baru, maka dimuroja’ah ayat sebelumnya, dan ada muroja’ah yang terus berjalan dan berganti surat, sehingga perlu dibuat lembar muroja’ah yang memuat muroja’ah hafalan kemarin, dan hafalan yang lama secara beriringan.

4.     Ketahuilah, dengan terus dan sering memurojaah, hapalan siswa semakin kuat. Dan jangan lupa dimurojaah dalam shalat malam.

5.     Ketahuilah, memurojaah hafalan Al Qur’an menunjukkan perhatianmu terhadap Al Qur’an, maka insya Allah Al Qur’an akan tetap di hatimu, tetapi ketika engkau tidak memurojaah, maka seakan-akan ada tamu yang mampir ke rumahmu, namun engkau tidak memperhatikannya, maka ia akan segera pergi meninggalkanmu.

Faedah/Catatan

Untuk memudahkan menghafal, hendaknya membacanya  dengan dijaharkan (dikeraskan suaranya). Adapun untuk tadabbur (menghayati) maka cara yang membantu untuk memahami kandungannya adalah dengan disirkan atau tanpa suara, wallahu a’lam.

Waktu Tepat Menghapal Al Qur’an

Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, bahwa waktu yang tepat untuk menghafal Al Qur’an adalah Subuh, kemudian engkau ulangi lagi yang telah engkau hafalkan setelah Ashar, dan kemudian engkau coba hadirkan hafalanmu pada Subuh hari berikutnya sekaligus untuk memulai hafalan baru. Adapun lupa, maka obatnya adalah banyak murojaah, berdoa kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya, serta menghindari kesibukan. (Ibnu Utsaimin, Li Ahlil Qur’an)

Persiapan Untuk Guru Tahfizh

1. Agar usaha keras kita tidak sia-sia, maka pasang niat ikhlas lillah dalam membimbing anak, haraplah ajrun minallah (pahala dari Allah) dan ketahuilah,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْانَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

2. Masing-masing guru tahfizh hendaknya memotivasi (mentarghib) siswa, baik dengan menerangkan keutamaan menghapal Al Qur’an, memberikan contoh orang yang hapal Al Qur’an, memberikan hadiah (tidak mesti berbentuk materi), dsb.

3. Dalam mengajar tahfizh seorang muhaffizh hendaknya mengajar secara “menyenangkan” agar siswa senang menghapal dan tidak membuat suasana tegang atau jenuh. Oleh karena itu, untuk menghapal tidak selalu di kelas, bahkan bisa di masjid, di bawah pohon, di halaman, dll.

Persiapan Untuk Siswa

1. Siswa harus membawa Al Qur’an (disarankan menggunakan mushaf rasm Utsmani).

2. Siswa harus membawa buku mutaba’ah (daftar prestasi hapalan siswa) lihat lampiran contoh isi buku mutaba’ah.

3. Siswa hendaknya mengisi waktunya dengan muroja’ah, baik sendiri atau dengan temannya, dan baik lagi membuat jadwal muroja’ah mandiri.

Perlengkapan Tahfizh

1.        Siswa wajib membawa Al Qur’an (sebaiknya mushaf Timur Tengah).

2.        Setiap siswa memiliki buku mutaba’ah (perkembangan hapalan siswa) .

3.        Ada lembar absensi siswa

4.        Ada lembar catatan siswa selama dalam halaqah

5.       Ada lembar muroja’ah harian siswa.

Bagaimana memotivasi siswa untuk menghafal?

Termasuk hal yang dapat memotivasi siswa adalah melakukan hal berikut:

a. Mendata hapalan siswa dan memasang data perkembangan siswa di Mading Siswa (Lihat contohnya di lampiran).

b. Memutarkan video Tahfizh, seperti dalam setiap dua bulan sekali diputar video tentang seorang hafizh atau murottal dua kali atau lebih.

c. Mengadakan Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ), minimal dalam setahun sekali dengan tujuan memotivasi siswa dan memperkuat hapalannnya.

d. Memberikan syahadah taqdir (piagam penghargaan) bagi siswa yang telah menyelesaikan hapalan satu juz, lihat formatnya di lampiran.

e. Memberikan hadiah.

Memberikan Penilaian Tahfizh

Contoh Lembar Penilaian Ujian Tahfizh

 

 

 

كشف درجات تحفيظ القرآن الكريم

معهد ......................

الفصل الدراسي ………………..العام الدراسي ………. / ………..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 …………: الصف

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   الإسم : ….

 

نتيجة تحفيظ القرآن المحصولة

 

 

 

الدرجة والتقدير

الجزء

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

مادة الاختبار

التوقيع

الدرجة

مجموع الأخطاء

أخطاء

السور أو الآيات

التاريخ

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

المعدل التراكمي

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

نتيجة التحفيظ اليومية

الدرجة

الحفظ المحصول

القدر الواجب فى الحفظ لهذا الفصل

البداية

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

الدرجة

 

التقدير :

بالحرف :

بالرقم :

الملاحظات:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

جاكرتا,........  

 

ولي الفصل

 

 

 

 

 

 

منسق قسم التحفيظ

 

 

 

المدرس

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(…………………)

(…………………….)

 

(…...…………………)

 

Cara penilaian tahfizh adalah sbb:

Jumlah yang benar         x 100 =

Jumlah ayat yang diujikan

 

Catatan:

A.    Untuk penilaian tahfizh, dijumlahkan seluruh nilai tahfiz kemudian dirata-ratakan.

B.     Untuk mengisi nilai harian, maka pembimbing memperhatikan catatan harian siswa dalam halaqah (kasyf ahwalith thullab fil halaqah).

C.     Terakhir, untuk mengisi nilai Tahfizhul Qur’an adalah sbb:

Nilai ujian tahfizh + nilai harian : 2 =....

90 – 100 = Mumtaz/Lulus Amat Baik (A)

75 - 89  = Jayyid jiddan/Lulus Baik (B)

65 - 74 = Jayyid/Lulus Cukup (C)

64 ke bawah = raasib/Tidak Lulus (D)

 

Khatimah

Ketika Ad-Dhiyaa' Al-Maqdisi akan bersafar untuk menuntut ilmu hadits maka Ibrahim bin Abdil Wahid Al-Maqdisi berwasiat kepadanya dengan berkata,

أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَلاَ تَتْرُكْهُ فَإِنَّهُ يَتَيَّسَرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ

"Perbanyaklah membaca Al-Qur'an dan jangan kau tinggalkan Al-Qur'an. Karena akan dipermudah bagimu apa yang kau cari sesuai dengan kadar bacaanmu."

Ad-Dliyaa' Al-Maqdisi berkata,

فَرَأَيْتُ ذَلِكَ وَجَرَّبْتُهُ كَثِيْراً، فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيْراً تَيَسَّرَ لِي مِنْ سَمَاعِ الْحَدِيْثِ وَكِتَابَتِهِ الْكَثِيْرِ، وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَّسَرْ لِي

"Maka akupun melihat hal itu dan sudah sering aku mencobanya. Jika aku banyak membaca Al-Qur'an maka dimudahkan bagiku untuk mendengar dan mencatat banyak hadits. Namun jika aku tidak membaca Al-Qur'an maka tidak dimudahkan bagiku" (Dzail Tobaqoot Al-Hanaabilah karya Ibnu Rajab Al-Hanbali 3/205)

 

 

Lampiran-Lampiran

1. Contoh laporan bulanan data perkembangan hafalan siswa yang dipajang di madding (majalah dinding)

 

Halaqah Abu Bakar Ash Shiddiq

Muhaffidz: Ust. Abdurrahim

Nama

Surat

Beni D.

Al Qalam

Prabu

Al Mulk

Fakhri Razak

Al Qalam

Syamsu H

Al Mulk

Iqbal Afizar

Al Qalam

Fajar

Al Ma'arij

Ferdian Nugraha

Al Qalam

Faundra

Al Mulk

Janwardisan

Al Haaqqah

M. Billi Rizanni

Al Haqqah

Gagas G.

Al Jin

Ilham Ra'is

Al Buruj

 

Halaqah Abu Hurairah

Muhaffidz: Ust. Alfiansyah

Nama

Surat

Baihaqi

Al Mulk

M. Ihsandi

Al Mulk

Dail Haqi

Al Qalam

Rivo

Al Qalam

Harits

Al Mulk

Fakhri Perdana

Al Mulk

M. Ryandi

Al Mulk

Belmiro R

Al Qalam

Miftahul Huda

Al Haaqah

Iqbal Juristian

Al Ma'arij

Fattah Zain

Abasa

 

2. Contoh syahadah taqdir (piagam penghargaan)

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

يشهد معهد ابن ماجه ببكاسي الشرقية

بأن الطالب :حارث رفقي مهندا المولود بـ : لوبوك , 29 أبريل   1998 م

قد منّ الله بحفظ جزء واحد من القران الكريم في المستوى الأول للعام الدراسي 1432 هـ / 2010 م, بتقدير جيد

 

والمعهد يوصيه بتقوى الله عز وجل وبالعناية بالمراجعة والزيادة على ما توصل إليه .

 

جاكرتا,17 محرم 1432 هـ

منسق قسم التحفيظ

 

(الأستاذ ..................)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


3. Contoh isi buku mutaba’ah

 

التوقيع

جودة الحفظ

الايات

السور

التاريخ

رقم

د

ج

ب

أ

Isi dengan tanda tangan guru

 

 

V

 

3 - 4

المجادلة

2 ربيع الأول 1433 ه

1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Urutan nilai siswa (dari yang tertinggi):

1.       A (mumtaz) = istimewa

2.       B (Jayyid jiddan) = baik sekali

3.       C/Jiim (Jayyid) = baik

4.       D (Raasib) = tidak naik

 

 

4. Contoh format murojaa’ah jama’iyyah

Juz 30 (beri tanda ceklis “V” jika telah dimuroja’ah)

An Naba’ s.d

‘At Takwir

Al Infithar s.d Al Buruj

Ath Thoriq s.d Al Balad

Asy Syams s.d At Tiin

Al ‘Alaq s.d Al Qori’ah

V

V

 

 

 

At Takatsur s.d An Nashr

Al Kafirun s.d An Naas

Dan seterusnya

 

 

 

 

 

 

 

Demikian pula dibuat format harian siswa untuk juz 29, 28, dst.

ملاحظات/Catatan:

1.       Muroja'ah ini dilakukan secara jama'i (bersama-sama).

2.       Jika ada siswa yang belum hapal, maka ia harus membuka Al Qur'an agar terlatih dalam membaca.

3.       Setelah selesai muroja'ah hendaknya guru menceklis " V ".

4.       Dengan adanya muroja'ah harian, maka sedikitnya hapalan anak dapat dijaga, meskipun tetap menyuruh anak sering-sering memurojaah.

5.       Memberikan jeda sebentar antara surat yang satu dengan surat yang lain jika suratnya panjang.

 

Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Terjemah Ushul Sittah (Enam Prinsip Penting)

Senin, 17 Juli 2023

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم



Ushul Sittah

(Enam Prinsip Penting)

Karya : Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Alih Bahasa: Marwan Hadidi 

 

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

“Termasuk perkara yang sangat mengherankan dan tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah Raja Yang Maha Mengalahkan adalah enam prinsip penting yang Allah terangkan secara jelas kepada manusia secara umum di luar perkiraan mereka, namun banyak para cendekiawan  dan orang-orang pandai keliru di dalamnya kecuali sebagian kecil saja.

Prinsip Pertama, mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, menjelaskan tentang kebalikan tauhid, yaitu syirik (menyekutukan) Allah, dan bahwa ayat-ayat Al Qur’an pada umumnya menerangkan prinsip pertama ini dari berbagai sisi dengan penjelasan yang dapat difahami oleh orang yang sangat awam sekalipun. Namun ketika terjadi kesamaran bagi kebanyakan orang, maka setan menampakkan berlaku ikhlas kepada mereka dalam rupa merendahkan orang-orang saleh dan meremehkan hak mereka, sementara syirik ditampakkannya dalam rupa mencintai orang-orang saleh dan mengikutinya[1].

Prinsip Kedua, Allah memerintahkan bersatu di dalam agama-Nya dan melarang berpecah belah. Dia menerangkan hal ini dengan penjelasan yang cukup yang dapat difahami oleh masyarakat awam. Dia juga melarang kita seperti orang-orang terdahulu yang berpecah-belah dan berselisih. Allah menyebutkan, bahwa Dia memerintahkan para rasul untuk bersatu dalam agama-Nya dan melarang berpecah-belah, ditambah dengan penjelasan dalam As Sunnah. Namun sangat mengherankan sekali, berselisih dalam beragama baik dalam masalah ushul (pokok) maupun furu (cabang) dianggap ilmu dan fiqih, sementara menyeru untuk bersatu dalam beragama dianggap zindik atau orang gila.

Prinsip Ketiga, termasuk penyempurna persatuan adalah mendengar dan taat kepada penguasa  meskipun ia budak dari Habasyah (Etiopia). Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan hal ini dengan penjelasan yang maklum dan jelas dengan berbagai ungkapan syar’i maupun qadari, namun prinsip ini menjadi tidak dikenal di kalangan orang yang mengaku berilmu, lalu bagaimana hal ini bisa diamalkan?

Prinsip Keempat, penjelasan tentang ilmu dan para ulama, serta fiqih dan para fuqaha, dan penjelasan tentang siapa yang menyerupai mereka, padahal bukan termasuk golongan mereka (para ulama). Allah Ta’ala telah menerangkan prinsip ini di bagian awal surah Al Baqarah,

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

“Wahai Bani Israil! Ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (Qs. Al Baqarah: 40)

Sampai dengan firman Allah Ta’ala sebelum menyebutkan tentang Nabi Ibrahim alaihis salam,

 يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (47)

“Wahai Bani Israil! Ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat (di masanya).” (Qs. Al Baqarah: 47)

Keterangan ini juga diperjelas oleh As Sunnah dalam penjelasan yang banyak, jelas dan gamblang bagi orang awam yang sederhana pemikirannya. Kemudian dengan berjalannya waktu, hal ini menjadi sesuatu yang sangat aneh, ilmu dan fiqih kemudian dianggap bid’ah dan kesesatan, dimana Yang terbaik di antara mereka adalah yang mencampuradukkan  yang hak dengan yang batil, sementara ilmu yang Allah wajibkan bagi manusia dan dipuji-Nya dianggap tidak diucapkan kecuali oleh orang zindik atau orang gila. Maka jadilah orang yang mengingkarinya, memusuhinya, menulis tahdzir (peringatan terhadap ilmu yang hakiki) serta melarangnya dianggap sebagai orang yang fakih dan berilmu.

Prinsip Kelima, penjelasan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang wali-wali Allah dan pembedaan antara para wali tersebut dengan orang yang menyerupai mereka dari kalangan musuh-musuh Allah, kaum munafikin dan kaum fasik. Dalam hal ini cukuplah sebuah ayat di surah Ali Imran, yaitu:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali Imran: 31)

Juga ayat di surah Al Maidah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (Qs. Al Maidah: 54)

Demikian pula sebuah ayat di surah Yunus,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.--(yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Qs. Yunus: 62-63)

Kemudian kebanyakan orang yang mengaku berilmu dan mengaku pemberi pembimbing manusia serta penjaga syariat menyatakan bahwa para wali haruslah orang yang meninggalkan sikap meneladani para rasul, dan bahwa orang yang mengikuti rasul bukanlah termasuk para wali. Wali juga harus meninggalkan jihad. Barang siapa yang berjihad, maka bukan wali Allah. Wali Allah juga harus meninggalkan iman dan takwa. Barang siapa yang berpegang teguh dengan iman dan takwa, maka bukan wali Allah (ini adalah musibah). Wahai Rabb kami, kami memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan, sesungguhnya Engkau Mahamendengar doa.

Prinsip Keenam, membantah syubhat yang dibuat oleh setan untuk meninggalkan Al Qur’an dan As Sunnah, dan beralih mengikuti pendapat dan hawa nafsu yang saling berpecah-belah dan berselisih. Syubhat yang dibuat oleh setan adalah pernyataan bahwa Al Qur’an dan As Sunnah tidaklah diketahui kecuali oleh seorang mujtahid mutlak. Mujtahid adalah orang yang sifatnya begini dan begitu yang mungkin tidak didapatkan secara sempurna pada Abu Bakar dan Umar. Barang siapa yang tidak mencapai tingkatan tersebut, maka ia harus berpaling dari Al Qur’an dan As Sunnah tanpa ragu lagi. Termasuk syubhat pula pernyataan bahwa barang siapa yang mengambil petunjuk langsung dari Al Qur’an dan As Sunnah, maka dia bisa sebagai orang zindik dan orang gila karena sulitnya memahami Al Qur’an dan As Sunnah, Subhaanallah wa bihamdih (Mahasuci Allah sambil memuji-Nya). Padahal syubhat yang terlaknat ini telah terbantahkan dengan berbagai ungkapan dalam Al Qur’an dan As Sunnah yang sampai pada tingkatan diketahui kebatilannya oleh orang awam sekalipun, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (7) إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (8) وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ (9) وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (10) إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (11) 

“Sesungguhnya telah pasti berlaku Perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.--Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.--Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.--Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.--Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (Qs. Yaasiin: 7-11)

Inilah akhir risalah. Segala puji milik Allah Rabbul ‘alamin. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, kepada keluarganya, dan para sahabatnya sampai hari Kiamat.

Selesai, wal hamdulillah.


[1] Contohnya adalah ketika sebagian manusia diingatkan agar jangan berdoa dan meminta kepada para wali, maka mereka menjawab, “Kamu sama saja telah merendahkan para wali.” Mereka juga beranggapan bahwa meminta dan berdoa kepada para wali merupakan bentuk memuliakan mereka. Padahal ini semua merupakan bisikan dan hiasan setan-pent.

Terjemah Risalah Nawaqidhul Islam

Sabtu, 15 Juli 2023

  

بسم الله الرحمن الرحيم



Terjemah Risalah Nawaqidhul Islam

(Pembatal-Pembatal Keislaman)

 Karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Alih Bahasa: Marwan Hadidi

 

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

“Ketahuilah, bahwa pembatal-pembatal keislaman itu ada sepuluh:

Pertama, syirik dalam beribadah kepada Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. An Nisaa: 48)

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (Qs. Al Maidah: 72)

Termasuk di antaranya adalah berkurban untuk selain Allah, seperti orang yang menyembelih untuk jin atau kuburan.

Kedua, orang yang mengadakan antara dirinya dengan Allah perantara, dimana ia berdoa, dan meminta syafaat kepada perantara itu serta bertawakkal kepadanya. Orang ini kafir secara ijma.

Ketiga, orang yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, ragu terhadap kekafiran mereka, atau membenarkan ajaran mereka, maka ia kafir.

Keempat, barang siapa yang meyakini bahwa petunjuk selain Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam lebih sempurna daripada petunjuk Beliau, atau hukum selain Beliau lebih baik daripada hukum Beliau seperti halnya mereka yang mengutamakan hukum thagut di atas hukum Beliau, maka dia kafir.

Kelima, barang siapa yang membenci suatu ajaran yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka dia kafir, meskipun dia mengamalkannya.

Keenam, barang siapa yang mengolok-olok salah satu ajaran dalam agama Allah atau mengolok-olok pahala atau siksanya, maka dia kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Katakanlah, "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"--Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir setelah beriman.” (Qs. At Taubah: 65-66)

Ketujuh, melakukan sihir, termasuk di dalamnya pelet dan pengasihan. Barang siapa yang melakukannya atau ridha terhadapnya, maka dia kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

“Sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, "Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir." (Qs. Al Baqarah: 102)

Kedelapan, membantu kaum musyrik memerangi kaum muslimin. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Qs. Al Maidah: 51)

Kesembilan, barang siapa yang meyakini bahwa sebagian manusia boleh keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana Khidhir boleh keluar dari syariat Nabi Musa alaihis salam, maka dia kafir.

Kesepuluh, berpaling dari agama Allah, tidak mau mempelajarinya dan mengamalkannya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (Qs. As Sajdah: 22)

Tidak ada bedanya pembatal-pembatal tersebut antara orang yang main-main dan serius, dan orang yang hanya khawatir kecuali jika dia dipaksa. Semua pembatal di atas termasuk yang paling bahaya dan paling sering terjadi. Oleh karena itu, seorang muslim harus waspada terhadapnya dan khawatir jika hal tersebut menimpanya. Kita berlindung kepada Allah dari perkara-perkara yang mendatangkan kemurkaan-Nya dan mendatangkan siksa-Nya yang pedih.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada manusia terbaik, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, kepada keluarganya, dan para sahabatnya. 
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger