Khutbah Jumat: Fiqih Safar

Kamis, 22 Desember 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Fiqih Safar

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam, nikmat iman, nikmat hidayah, nikmat taufiq, nikmat sehat wal afiyat dan nikmat-nikmat lainnya yang sama-sama kita rasakan yang semuanya patut untuk kita syukuri.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Syariat Islam adalah ajaran yang selalu relevan di setiap zaman, di setiap tempat, dan di setiap generasi. Oleh karena itu, mereka yang berpegang dengan ajaran Islam akan senantiasa berada dalam petunjuk, kebaikan, kemajuan, kebahagiaan, dan keberuntungan.

Ajarannya mudah dilakukan dalam berbagai kondisi, di antaranya shalat. Kewajiban shalat tidak gugur, baik seseorang dalam kondisi sehat atau sakit. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ»

“Shalatlah sambil berdiri. Jika engkau tidak sanggup, maka sambil duduk, dan jika engkau tidak sanggup, maka sambil berbaring.” (Hr. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Kewajiban shalat juga tidak gugur, baik seseorang dalam keadaan safar atau hadhar (mukim), suasana aman atau suasana perang. Hal ini menunjukan kedudukan shalat yang begitu tinggi dalam Islam.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

“Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Qs. Al Baqarah: 239)

Maka jangan sampai hanya karena seseorang sedang safar membuatnya meninggalkan shalat, atau hanya karena kondisinya sakit membuatnya meninggalkan shalat.

Di samping itu, Allah memberikan banyak rukhshah (keringanan dan kelonggaran) bagi seorang musafir sehingga tidak ada alasan baginya meninggalkan syariat Islam.

Namun sebelum khatib membahas beberapa rukhshah tersebut, di sini khatib sedikit menyampaikan sedikit fiqihnya.

1.   Perjalanan yang disebut sebagai safar

Setiap perjalanan yang dianggap secara uruf (kebiasaan yang berlaku) sebagai safar (bepergian jauh), maka tidak syak lagi bahwa perjalanan tersebut adalah safar, baik jaraknya jauh atau tidak begitu jauh, lama atau hanya sebentar. Hal itu, karena dalil-dalil safar yang berlaku di sana rukhshah bersifat mutlak, tidak dibatasi oleh apa pun. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ

"Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar shalat(mu)…dst" (Terj. QS. An Nisaa': 101)

2.   Mulai berlaku hukum-hukum safar

Apabila seseorang berpisah dari bangunan-bangunan kotanya, maka mulai berlaku hukum safar baginya. Hal ini berdasarkan hadits Anas radhiyallahu 'anhu ia berkata, "Aku shalat Zhuhur bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di Madinah empat rakaat, dan di Dzulhulaifah dua rakaat." (HR. Bukhari)

Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah berkata, "Yang dijadikan patokan adalah berpisah badan dari bangunan yang ada, bukan berpisah pandangan, yakni tidak disyaratkan dalam berpisah itu harus tidak melihat rumah-rumah, bahkan cukup berpisah badan." (Asy Syarhul Mumti' 4/512)

3.   Memperhatikan Adab safar

Ada beberapa adab bagi musafir, di antaranya adalah:

a.    Berdoa ketika berangkat dan ketika pulang.

Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila telah berada di atas untanya untuk keluar bersafar, Beliau bertakbir tiga kali dan mengucapkan:

« سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ » .

"Mahasuci Allah yang menundukkan binatang ini bagi kami, dan sebelumnya kami tidak mampu menundukkannya, dan sesungguhnya hanya kepada Tuhan kamilah kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu dalam safar kami ini  kebaikan, ketakwaan dan amalan yang Engkau ridhai. Ya Allah, ringankanlah bagi kami safar ini dan dekatkanlah yang jauh. Ya Allah, Engkaulah teman di perjalanan dan pengganti kami bagi keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penderitaan safar, pandangan yang menyedihkan dan buruknya tempat kembali pada harta dan keluarga."

dan apabila Beliau pulang, maka Beliau mengucapkan kata-kata yang sama, namun menambah (dengan kata-kata):

آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ » . 

"Dalam keadaan kembali, bertobat, beribadah dan memuji Tuhan Kami." (Hr. Muslim)

b.    Dianjurkan mengucapkan "A'uudzu bikalimaatillahittaammah min syarri maa khalaq" ketika singgah di suatu tempat.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ . لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ » . 

"Barang siapa yang menempati suatu tempat, lalu mengucapkan, "A'uudzu…dst." (artinya: Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya), maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakannya sampai ia pergi dari tempat itu." (HR. Muslim)

c.     Dianjurkan bertakbir ketika menaiki tempat tinggi dan bertasbih ketika turun.

Jabir radhiyallahu 'anhu berkata, "Kami ketika menaiki tempat tinggi bertakbir dan ketika turun bertasbih." (HR. Bukhari)

d.    Dianjurkan berdoa ketika masuk ke sebuah kampung.

Doanya adalah sbb.:

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّموَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ ، وَرَبَّ الْأَرَضِيْنَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ ،وَرَبَّ الشَّيَاطِيْنِ وَمَا أَضْلَلْنَ ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ. أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ اْلقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا ، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ أَهْلِهَا ، وَشَرِّ مَا فِيْهَا

“Ya Allah, Tuhan langit yang tujuh dan apa yang dinaunginya, Tuhan bumi yang tujuh dan apa yang berada di atasnya, Tuhan setan-setan dan makhluk yang disesatkannya, Tuhan angin dan apa yang dibawanya. Aku meminta kepada-Mu kebaikan kampung ini dan kebaikan penghuninya serta kebaikan yang ada di dalamnya. Aku pun berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburukan penghuninya dan keburukan yang ada di dalamnya.” (HR. Nasa'i dalam 'Amalul yaum, Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Hakim dan ia menshahihkannya serta disepakati oleh Adz Dzahabi)

e.    Wanita yang bersafar harus disertai mahram.

Haram hukumnya bagi wanita bersafar sendiri. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berikut:

« لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ وَلاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ » .

"Janganlah sekali-kali seseorang berkhalwat (berduaan) dengan wanita kecuali ditemani mahram, dan janganlah seorang wanita bersafar kecuali bersama mahram." (HR. Muslim)

Dalam hadits Abu Sa'id Al Khudriy disebutkan contoh mahram:

...إِلاَّ وَمَعَهَا أَبُوهَا أَوِ ابْنُهَا أَوْ زَوْجُهَا أَوْ أَخُوهَا أَوْ ذُو مَحْرَمٍ مِنْهَا » . 

"… Kecuali bersamanya ada bapaknya atau anaknya atau suaminya atau saudaranya atau mahram lainnya." (HR. Muslim)

Larangan di atas adalah umum bagi setiap wanita, baik masih kecil atau sudah dewasa.

Syarat mahram adalah muslim, laki-laki, baligh dan berakal.

f.     Jika jumlah orang yang bepergian ada tiga orang atau lebih disunahkan mengangkat ketua rombongan.

اِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا اَحَدَهُمْ (ابو داود وصححه الالباني)

"Apabila keluar tiga orang untuk bepergian, maka hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai ketua." (HR. Abu Dawud)

g.    Dianjurkan bagi musafir ketika berpamitan dengan keluarga dan kawannya mendoakan mereka.

Doanya adalah:

أَسْتَوْدِعُكَ اللهَ الَّذِي لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ

“Aku menitipkan kamu kepada Allah, di mana tidak akan sia-sia titipan-Nya.” (Hr. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani)

Sedangkan keluarga atau kawannya dianjurkan menjawab dengan kata-kata:

أَسْتَوْدِعُ اللهُ دِيْنَكَ وَاَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

“Aku titipkan kamu kepada Allah baik agama, amanat maupun akhir-akhir amalmu.” (Hr. Tirmidzi)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَرَ أَوْ أَرَادَ شُكُوْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، فَمَا أَعْظَمَهُ رَباًّ وَمَلِكًا قَدِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي أَرْسَلَهُ إِلَى جَمِيْعِ الثَّقَلَيْنِ بَشِيْراً وَنَذِيْرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى محمد وَعلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Di antara rukhshah atau keringanan yang Allah berikan kepada musafir adalah sebagai berikut:

ü Boleh menyapu bagian atas khuff (sepatu yang menutupi kedua mata kaki) ketika berwudhu', tanpa perlu melepasnya. Hal ini apabila ia memasukkan kedua kakinya ke dalam sepatu dalam keadaan suci dari hadats kecil maupun besar, selama tiga hari tiga malam. Namun jika ia mukim (dimana ia sudah menyempurnakan shalatnya), maka lamanya hanya sehari semalam.

ü Boleh bertayammum jika tidak mendapatkan air atau susah mencarinya.

ü Seorang musafir yang tidak mengetahui arah kiblat wajib berusaha mencarinya baik dengan bertanya atau lainnya. Jika telah berusaha mencarinya, lalu ia shalat dan setelah shalat ternyata tidak menghadap kiblat, maka shalatnya sah; tidak perlu diulangi. Namun, jika ia tidak berusaha mencarinya, dan ternyata shalatnya tidak menghadap kiblat, maka ia wajib mengulangi (lihat Al Mumti' 2/281)

ü Dianjurkan membaca surat-surat pendek setelah Al Fatihah dalam shalat ketika safar. Dalam Shahih Muslim disebutkan,

"Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat Isya bersama para sahabat ketika safar dengan membaca Wat Tiini waz zaitun."

ü Disyari'atkan mengqashar (mengurangi) jumlah shalat yang empat rakaat menjadi dua, seperti shalat Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya. Kecuali jika dia bermakmum kepada imam yang bukan musafir, maka ia mengikuti imam (tidak mengqashar shalat).

ü Bagi musafir yang telah singgah di tempat yang dituju harus tetap menjaga shalat berjama'ah. Kecuali ketika ia masih dalam perjalanan, maka tidak mesti berhenti untuk shalat berjamaah saat mendengar azan.

ü Boleh menjama' (menggabung) Zhuhur dan ‘Ashar atau Maghrib dan Isya, baik jama' taqdim (di awal waktu) maupun jama' ta’khir (di akhir waktu seperti melakukan shalat Zhuhur dan ‘Asharnya di waktu ‘Ashar). Hal ini jika perjalanan berat atau ia butuh menjama'.

ü Boleh melakukan shalat sunah di atas kendaraannya ke mana saja kendaraannya menghadap (lebih utama ketika takbiratul ihram menghadap kiblat), namun untuk shalat fardhu hendaklah dia turun dan menghadap ke kiblat, kecuali jika tidak memungkinkan untuk turun dan waktu shalat akan habis.

ü Menurut Ibnul Qayyim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dalam safarnya hanya melakukan shalat fardhu saja, dan tidak ada riwayat bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat sunnah sebelum shalat fardhu maupun setelah shalat fardhu (shalat sunnah rawaatib), kecuali shalat sunnah witir dan shalat sunnah sebelum shalat fajar, kedua shalat itu tidak pernah ditinggalkan Beliau baik ketika tidak safar (hadhar) maupun ketika safar.

Namun, tidak mengapa bagi musafir melakukan shalat sunnah mutlak dan melakukan shalat dzwaatul asbaab (shalat yang memiliki sebab) seperti shalat Dhuha, shalat sunnah setelah wudhu’, shalat kusuf, shalat tahiyyatul masjid ketika masuk masjid, demikian juga melakukan sujud tilawah (karena membaca ayat sajadah), Sebagaimana dijelaskan Ibnu Baz dalam fatwanya karena ada dalil yang menunjukkan demikian.

ü Boleh berbuka puasa.

Demikianlah fiqih dan rukhshah bagi musafir. Kita meminta kepada Allah agar Dia selalu membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya dan memberikan kita taufiq untuk dapat menempuhnya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Khutbah Jumat: Makna Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah

Senin, 19 Desember 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Makna Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama adalah nikmat Islam, Iman, Hidayah, Taufiq, Sehat wal Afiyat, dan nikmat-nikmat lainnya yang tidak terhitung oleh kita jumlahnya.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya sampai hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Termasuk rukun Iman adalah beriman kepada kitab-kitab Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda ketika ditanya tentang iman,

«أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»

“Yaitu engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (Hr. Muslim)

Ini termasuk kelebihan umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dimana kita beriman kepada semua kitab, sedangkan orang-orang Yahudi hanya beriman –menurut pengakuan mereka- sampai kitab Taurat, dan orang-orang Nasrani hanya beriman sampai kitab Injil. Jelas sekali, bahwa yang beriman kepada semua kitab jauh lebih baik daripada yang hanya beriman kepada sebagian kitab dan bahwa mereka yang hanya beriman kepada sebagian kitab sama saja mengingkari semua kitab. Meskipun demikian, kitab yang kita amalkan adalah kitab Al Qur’an, karena kitab-kitab sebelumnya telah dimansukh (dihapus) hukumnya oleh Al Qur’an kecuali yang ditetapkan lagi oleh Al Qur’an seperti syariat puasa dan syariat qishas. Sulaiman bin Habib pernah berkata, “Kita hanya diperintahkan beriman kepada Taurat dan Injil dan tidak diperintah mengamalkan hukum yang ada pada keduanya.”  

Semua kitab-kitab Allah adalah firman-Nya yang  diwahyukan kepada rasul-rasul-Nya agar mereka menyampaikan kepada manusia syari’at-Nya. Firman Allah bukanlah makhluk karena firman termasuk sifat-sifat-Nya sedangkan sifat-sifat-Nya bukanlah makhluk.

Allah Ta’ala berfirman secara hakiki sebagaimana yang Dia kehendaki sesuai yang Dia inginkan. Di antara firman-Nya itu ada yang didengar di balik hijab (tabir) tanpa perantara dan ada pula yang didengar oleh malaikat lalu malaikat itu diperintahkan untuk menyampaikan kepada rasul-Nya sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

“Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana.” (Qs. Asy Syuuraa: 51)

Ada pula yang ditulis dengan Tangan-Nya sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الْأَلْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا سَأُرِيكُمْ دَارَ الْفَاسِقِينَ

“Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.” (Qs. Al A’raaf: 145)

Lauh adalah kepingan dari batu atau kayu yang tertulis padanya isi Taurat yang diterima Nabi Musa alaihis salam setelah bermunajat di gunung Thursina.

Termasuk ke dalam beriman kepada kitab-kitab Allah adalah:

1.   Beriman bahwa kitab-kitab itu turun dari sisi Allah Azza wa Jalla.

Allah Ta’ala berfirman,

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

“Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,” (Qs. Ali Imran: 3)

2.   Beriman kepada kitab-kitab Allah tersebut baik secara tafshil (rinci) maupun ijmal (garis besar). Secara tafshil maksudnya kita mengimani penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah yang menyebutkan tentang kitab-kitab Allah tersebut secara rinci seperti Taurat diturunkan kepada Nabi Musa alaihis salam, Zabur kepada Nabi Dawud alaihis salam, Injil kepada Nabi Isa alaihis salam, dan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sedangkan secara ijmal maksudnya kita mengimani bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul-Nya meskipun tidak disebutkan namanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

"Katakanlah (wahai orang-orang mukmin), "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (Qs. Al Baqarah: 136)

Mahmud Al Mishri berkata, “Yang turun dari langit ada yang terhimpun dalam sebuah kitab, seperti suhuf Ibrahim dan kitab-kitab yang diturunkan kepada Musa, Dawud, Isa, dan Muhammad alaihimush shalatu wassalam, dan terkadang berupa wahyu yang disampaikan kepada rasul atau nabi; namun tidak berupa kitab. Misalnya wahyu yang diturunkan kepada Ismail, Ishaq, Ya’kub, dan keturunannya, demikian pula yang diwahyukan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam selain Al Qur’an (As Sunnah).” (Aqidatuth Thiflil Muslim hal. 191)

3.    Membenarkan berita yang ada dalam kitab tersebut yang masih murni (belum dirubah) seperti berita Al Qur’an dan berita kitab-kitab yang belum dirubah.

Kami katakan “yang masih murni” karena kitab-kitab selain Al Qur’an tidak dijaga kemurniannya seperti halnya Al Qur’an yang dijaga kemurniannya oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Sedangkan kitab-kitab selain Al Qur’an seperti Taurat dan Injil sudah dicampuri oleh tangan-tangan manusia dengan diberikan tambahan, dirubah, dikurangi atau dihilangkan sehingga tidak murni lagi seperti keadaan ketika diturunkan. Allah Ta’ala berfirman,

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (Qs. An Nisaa’: 46)

4.Mengamalkan hukum yang terkandung dalam kitab-kitab tersebut selama belum dihapus disertai dengan sikap ridha dan menerima. Namun setelah diturunkan Al Qur’an, maka kitab-kitab sebelumnya sudah mansukh (dihapus) tidak bisa diamalkan lagi, yang diamalkan hanya Al Qur’an saja atau hukum yang dibenarkan oleh Al Qur’an saja.

 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ  لِيْ وَلَكُمْ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ الْحَمِيْدِ فِي وَصْفِهِ وَفِعْلِهِ، الْحَكِيْمِ فِي خَلْقِهِ وَأَمْرِهِ، الرَّحِيْمِ فِي عَطَائِهِ وَمَنْعِهِ، الْمَحْمُوْدِ فِي خَفْضِهِ وَرَفْعِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فِي كَمَالِهِ وَعَظَمَتِهِ وَمَجْدِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَفْضَلَ مُرْسَلٍ مِنْ عِنْدِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَجُنْدِهِ أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Allah Azza wa Jalla menurunkan kitab-Nya untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya serta mengajak mereka untuk menyembah dan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Dia berfirman,

الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Alif, laam raa. (Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Qs. Ibrahim: 1)

Dengan kitab itu, maka manusia dapat keluar dari gelapnya kebodohan kepada cahaya pengetahuan, gelapnya kekafiran kepada cahaya iman, gelapnya kemaksiatan kepada cahaya ketaatan, gelapnya kesesatan kepada cahaya petunjuk.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Kitab yang terakhir diturunkan Allah Azza wa Jalla adalah Al Qur’an, yang diturunkan kepada Nabi terakhir, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa salla. Al Qur’an memiliki keistimewaan di antarnya:

1. Ajaran dan syariatnya untuk semua kalangan, baik manusia maupun jin.

Allah Ta’ala berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Qs. Al Furqan: 1)

2. Al Qur’an menasakh (menghapus) ajaran kitab-kitab terdahulu.

Oleh karena itu, tidak ada yang diharamkan selain yang diharamkan oleh Al Qur’an, dan tidak ada yang dihalalkan selain yang dihalalkan oleh Al Qur’an, dan tidak ada hukum yang diikuti selain yang ditetapkan oleh Al Qur’an. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا، مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

“Demi Allah yang nyawaku di Tangan-Nya. Kalau sekiranya Nabi Musa masih hidup, ia tidak diperkenankan selain mengikutiku.” (Hr. Ahmad dan Darimi, dihasankan oleh Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 1589)

3. Kemudahan syariat yang dibawa oleh Al Qur’an.

Dalam puasa, kita umat Nabi Muhammad shallallalahu alaihi wa sallam ada syariat makan sahur, sedangkan Ahli Kitab tidak. Tobat dalam syariat Bani Israil dengan membunuh dirinya, sedangkan dalam syariat Nabi Muhammad cukup dengan taubat nashuh (yang sesungguhnya).

Jika dalam syariat Taurat apabila seseorang membunuh orang lain, maka ia wajib dibunuh dan tidak ada pilihan bagi wali korban untuk memaafkan, dalam ajaran Nasrani hanya memaafkan karena tidak ada kemampuan untuk qishas, maka dalam Al Qur’an ada syariat qishash dan ada pilihan bagi wali korban untuk memaafkan. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (Qs. Al Baqarah: 178)

4. Al Qur’anul Karim dijaga kemurniannya oleh Allah Azza wa Jalla.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Qs. Al Hijr: 9)

5. Al Qur’an menerangkan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia terkait urusan agama, dunia dan akhiratnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Qs. An Nahl: 89)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, “Diturunkan berbagai ilmu dalam Al Qur’an, dan segala sesuatu diterangkan kepada kami dalam Al Qur’an.”

6. Al Qur’an mudah dipelajari

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Qs. Al Qamar: 17)

Al Hasan berkata, “Umat ini diberikan kemampuan menghafal, sedangkan umat-umat terdahulu tidak membaca kitab mereka kecuali dengan melihat langsung. Ketika ditutup kitab itu, maka tidak ada yang hafal kecuali para nabi.”

7. Al Qur’an memuat intisari ajaran kitab-kitab terdahulu dan pokok-pokok syariat para rasul.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan ‘batu ujian’ terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (Qs. Al Maidah: 48)  

Maksud ‘batu ujian’ adalah bahwa Al Quran merupakan ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam Kitab-Kitab sebelumnya.

8. Al Qur’an memuat berita para rasul terdahulu berikut umat-umat yang telah berlalu.

Allah Ta’ala berfirman,

كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا

“Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Quran).” (Qs. Thaahaa: 99)

9. Al Qur’an juga memuat berita yang akan terjadi, seperti berita akan menangnya bangsa Romawi setelah mereka dikalahkan.

الم (1) غُلِبَتِ الرُّومُ (2) فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ (3) فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (4) بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (5)

“Alif laam Miim.--Telah dikalahkan bangsa Romawi--Di negeri yang terdekatdan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang--Dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman,--Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.” (Qs. Ar Ruum: 1-5)

10. Al Qur’an memuat berbagai ilmu yang baru diketahui zaman sekarang

Misalnya tentang proses penciptaan manusia (liha Qs. Al Mu’minun: 14), pusat rasa di kulit (lihat Qs. An Nisaa: 56), penjagaan Allah terhadap badan Fir’aun sehingga muminya tidak hancur tidak seperti mumi-mumi yang lain yang hancur (lihat Qs. Yunus: 92), gunung sebagai pasak (lihat Qs. An Naba: 7), dll. Padahal Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam seorang yang ummi (tidak bisa baca dan menulis).

Demikianlah kandungan beriman kepada kitab-kitab Allah dan keistimewaan Al Qur’an, semoga Allah Subhaanahu wa Ta'aala membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ -- وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ – وَ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Meraih Hidup Bahagia

Sabtu, 03 Desember 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Meraih Hidup Bahagia

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله .اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut kami terjemahkan risalah 35 Nashihahah Ta’isyu bihaa Sa’idan Murtahal Bal (35 Nasihat Agar Engkau Meraih Hidup Bahagia Dengan Merasakan Ketenangan Jiwa) yang ditulis oleh Al Qadhi Muhammad bin Ismail Al Umrani.

35 Nasihat Untuk Meraih Hidup Bahagia

Mulailah harimu dengan shalat Subuh, dzkir pagi, dan bertawakkal kepada Allah agar engkau memperoleh kelapangan dada, kemudahan, dan keberuntungan.

Selanjutnya,

1. Lanjutkanlah dengan istighfar, karena ia dapat menghapuskan dosa-dosa dan menarik rezeki.

2. Jangan berhenti berdoa, karena ia adalah tali keselamatan.

3. Ingatlah, bahwa ucapanmu akan dicatat oleh malaikat.

4. Tetaplah optimis, meskipun engkau berada di bawah gelombang badai yang dahsyat.

5. Jari-jari yang indah adalah ketika engkau gunakan untuk bertasbih.

6. Ketika kecemasan muncul dan kesedihan menumpuk, maka ucapkanlah Laailaahaillallah.

7. Berikan beberapa dirham untuk memperoleh doa orang miskin dan kecintaan mereka.

8. Sujud  yang thumakninah dan khusyu lebih utama daripada emas di bumi.

9. Berfikirlah dahulu sebelum menyampaikan kalimat, karena kalimat yang disampaikan bisa membunuhmu.

10. Berhati-hatilah dari doa orang yang teraniaya dan tangisan orang yang tidak punya (harta).

11. Sebelum membaca buku, koran, dan majalah, bacalah Al Qur’an.

12. Jadilah engkau sebagai sebab istiqamah bagi keluargamu.

13. Lawanlah nafsumu agar tetap melakukan ketaatan, karena nafsu itu selalu menyuruh berbuat yang buruk.

14. Ciumlah telapak tangan kedua orang tuamu agar engkau meraih keridhaan Allah Ar Rahman.

15. Pakaianmu yang sudah lama menjadi baru di kalangan fakir miskin.

16. Jangan marah dan saling membenci, dan jangan memutuskan apa yang Allah perintahkan untuk menyambungnya, karena kehidupan di dunia lebih pendek dari apa yang dibayangkan.

17. Engkau bersama Dzat Yang Mahakuat dan Mahakaya, Dialah Allah Jalla Jalaluh, maka percayalah kepada-Nya dan bergembiralah.

18. Jangan engkau tutup pintu pengabulan doa dengan maksiat.

19. Sabar dan shalat merupakan perkara terbaik yang membantumu menghadapi musibah, kesulitan, dan berbagai tugas dan kewajiban.

20. Jauhilah berburuk sangka, engkau akan nyaman dan dapat beristirahat.

21. Sebab semua kegundahan adalah karena berpaling dari Allah, maka sekarang kembalilah kepada-Nya.

22. Kerjakanlah shalat dengan perasaan bahwa engkau akan masuk ke dalam kuburmu.

23. Jika engkau mendengar orang yang melakukan ghibah (gossip), maka katakanlah ‘Bertakwalah kepada Allah!’

24. Rutinkanlah membaca surah Tabarak (al Mulk), karena dia dapat menyelamatkanmu (dari azab kubur).

25. Orang yang malang adalah orang yang terhalang dari memperoleh shalat yang khusyu dan mata yang meneteskan air mata.

26. Jangan engkau timpakan gangguan kepada orang mukmin yang lengah (baik).

27. Jadikanlah tolok ukur cinta karena Allah dan Rasul-Nya, dan bergaullah kepada manusia dengan akhlak yang mulia.

28. Maafkanlah orang yang mengghibahimu, karena sebenarnya ia tengah menghadiahkan kebaikannya kepadamu.

29. Shalat, membaca Al Qur’an, dan dzikr merupakan cahaya pada wajahmu, ketenangan dalam dadamu, dan taufik terhadap amalmu.

30. Barang siapa yang mengingat panasnya api neraka, maka dia akan sabar terhadap dorongan maksiat.

31. Selama malam akan berlalu, maka kecemasan juga akan hilang, kesempitan akan tergantikan dengan jalan keluar, dan kesulitan berganti dengan kemudahan.

32. Tinggalkanlah ucapan ‘qiila wa qaala’ (katanya begini dan begitu), karena di hadapanmu ada amalan yang besar seperti gunung.

33. Shalatlah dengan khusyu, karena semua yang sedang menantimu masih jauh di bawah kedudukan shalat.

34. Jadikanlah Al Qur’an dekat kepalamu, karena membaca satu ayat lebih baik daripada dunia dan seisinya.

35. Kehidupan itu indah, namun lebih indah lagi adalah keimananmu.

Mengapa orang yang telah meninggal dunia lebih memilih bersedekah kalau dikembalikan ke dunia sebagaimana firman Allah Ta’ala,

رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (Qs. Al Munafiqun: 10)

Dia tidak mengatakan ‘agar aku dapat berumroh, agar aku dapat mengerjakan shalat, dan agar aku dapat berpuasa’. Ahli Ilmu berkata, “Seorang mayit menyebut sedekah karena pengaruhnya yang dahsyat setelah ia meninggal dunia.”

Oleh karena itu, perbanyaklah sedekah, karena orang mukmin pada hari Kiamat akan berada di bawah naungan sedekahnya. Dan sedekah yang utama yang dapat engkau lakukan sekarang adalah menyebarkan risalah ini dengan niat bersedekah, karena orang yang mengamalkannya dan memberikan nasihat dengannya, maka engkau akan memperoleh pahalanya dengan izin Allah.

Jangan biarkan tetap berada di HP-mu, karena boleh jadi ia sampai ke dalam hati yang siap menyerapnya dan menerimanya.

Alih Bahasa: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Teks Asli: https://t.me/wawasan_muslim/13787
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger