Khutbah Jumat: Makna Beriman Kepada Para Malaikat

Senin, 14 November 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Makna Beriman Kepada Malaikat

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam, nikmat iman, nikmat hidayah, nikmat taufiq, nikmat sehat wal afiyat dan nikmat-nikmat lainnya yang sama-sama kita rasakan yang semuanya patut untuk kita syukuri.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang iman, maka Beliau menjawab,

«أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»

 “Yaitu engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (Hr. Muslim)

Hadits ini menerangkan kepada kita enam rukun iman yang wajib kita imani, dimana salah satunya adalah beriman kepada para malaikat.

Malaikat adalah makhluk Allah yang berada di alam ghaib yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Mereka tidak memiliki sedikitpun sifat-sifat ketuhanan dan tidak berhak disembah. Allah menciptakan mereka dari cahaya dan mengaruniakan kepada mereka sikap selalu tunduk kepada perintah-Nya serta memberikan kepada mereka kemampuan untuk menjalankan perintah-Nya.

Jumlah mereka sangat banyak, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah sendiri, Dia berfirman,

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ

“Tidak ada yang mengetahui jumlah tentara Tuhanmu selain Dia sendiri.” (Qs. Al Muddatstsir: 31)

Disebutkan dalam hadits Isra’-Mi’raj bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَرُفِعَ لِيَ الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ فَقَالَ هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ

“Lalu ditampakkan kepadaku Al Baitul Ma’mur (ka’bah penghuni langit ketujuh), aku pun bertanya kepada Jibril (tentangnya), maka ia menjawab, “Ini adalah Al Baitul Ma’mur, setiap harinya 70.000 malaikat shalat di sana, setelah keluar mereka tidak kembali lagi sebagai kewajiban terakhir mereka.” (Hr. Bukhari)

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Termasuk ke dalam beriman kepada malaikat adalah:

1.   Mengimani wujud mereka

Malaikat benar-benar ada sebagaimana mereka diturunkan Allah untuk membantu kaum muslimin dalam perang Badar, sehingga kaum muslimin dapat mengalahkan kaum musyrik yang jumlahnya tiga kali lipat dari mereka.

Malaikat lebih dulu diciptakan Allah Azza wa Jalla sebelum manusia. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Qs. Al Baqarah: 30)

Mereka diciptakan dari cahaya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ»

“Para malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, sedangkan Adam diciptakan dari sesuatu yang sudah diberitahukan kepada kamu.” (Hr. Muslim dari Aisyah)

Termasuk beriman kepada para malaikat juga adalah:

2.   Mengimani malaikat yang telah diberitahukan kepada kita namanya, sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, maka kita imani secara ijmal (garis besar).

Misalnya malaikat Jibril, Mikail, Israfil seperti yang disebutkan dalam hadits berikut:

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ، وَرَبَّ إِسْرَافِيلَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ حَرِّ النَّارِ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ»

Dari Aisyah radhiyallahu anha ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah berdoa, “Ya Allah Tuhan malaikat Jibril dan Mikail, dan Tuhan malaikat Israfil. Aku berlindung kepada-Mu dari panasnya neraka dan dari azab kubur.” (Hr. Nasa’i, dishahihkan oleh Al Albani)

Ada juga malaikat Munkar dan Nakir sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berikut,

إِذَا قُبِرَ المَيِّتُ - أَوْ قَالَ: أَحَدُكُمْ - أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ، يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا: الْمُنْكَرُ، وَلِلْآخَرِ: النَّكِيرُ،

“Apabila seorang mayit dikubur –atau salah seorang di antara kamu dikubur- maka akan didatangi dua malaikat yang berwarna hitam kebiru-biruan, yang satu bernama Munkar, dan yang satu lagi bernama Nakir.” (Hr. Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)

Ada juga malaikat Malik, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ

“Mereka (penghuni neraka) berseru, "Wahai Malik! Biarlah Tuhanmu membinasakan kami." Dia menjawab, "Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)." (Qs. Az Zukhruf: 77)

Termasuk ke dalam beriman kepada malaikat juga adalah:

3.   Mengimani sifat malaikat yang telah diberitahukan kepada kita sifatnya.

Allah Ta’ala menerangkan sifat mereka yang memiliki sayap dalam firman-Nya,

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs. Fathir: 1)

Disebutkan dalam hadits, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melihat malaikat Jibril dalam wujud aslinya yang ketika itu ia memiliki 600 sayap (sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim). Beliau juga pernah melihat malaikat Jibril turun dari langit, dimana fisiknya yang besar sampai menutupi antara langit dan bumi (sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda menerangkan tentang malaikat pemikul Arsy,

أُذِنَ لِيْ أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلاَئِكَةِ اللهِ تَعَالَى مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ اِلىَ عَاتِقِهِ مَسِيْرَةَ سَبْعِمِائَةِ سَنَةٍ

"Saya diizinkan menceritakan tentang salah satu malaikat Allah yang memikul 'arsy, bahwa jarak antara bagian bawah telinganya dengan pundaknya sejauh perjalanan 700 tahun." (Silsilah Ash Shahiihah: 151)

Dengan izin Allah, malaikat juga dapat menjelma menjadi manusia, seperti ketika para malaikat mendatangi Nabi Ibrahim untuk membinasakan kaum Luth (Lihat Qs. Huud: 69-70), dan ketika mereka mendatangi Nabi Luth (lihat Qs. Huud: 77). Demikian juga ketika malaikat Jibril mendatangi Maryam (lihat Qs. Maryam: 16-19). Dalam hadits Umar juga disebutkan, bahwa malaikat Jibril pernah datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika Beliau bersama sebagian sahabat untuk mengajarkan kepada mereka masalah agama namun dengan bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang Islam, Iman, dan Ihsan.

Demikianlah tentang sifat malaikat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ الرَّبِّ الْغَفُوْرِ، الْعَفُوِّ الرَّؤُوْفِ الشَّكُوْرِ، الَّذِي وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ لِتَحْصِيْلِ الْمَكَاسِبِ وَالْأُجُوْرِ، وَجَعَلَ شُغْلَهُمْ بِتَحْقِيْقِ الْإِيْمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ، يَرْجُوْنَ تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الَّذِيْ بِيَدِهِ تَصَارِيْفُ الْأُمُوْرِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَفْضَلُ آمِرٍ وَأَجَلُّ مَأْمُوْرٍ، اَللَّهُمَ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Termasuk beriman kepada para malaikat juga adalah:

4.   Mengimani tugas malaikat yang telah diberitahukan kepada kita.

Berikut ini di antara tugas-tugas malaikat:

-      Jibril, ditugaskan menyampaikan wahyu.

-      Mika’il, ditugaskan mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan.

-      Israfil, ditugaskan meniup sangkakala. Tiupan pertama menghancurkan alam dan tiupan kedua membangkitkan makhluk yang sudah mati. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,

«كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ القَرْنِ قَدِ التَقَمَ القَرْنَ وَاسْتَمَعَ الإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ»

“Bagaimana saya bisa tenang sedangkan peniup sangkakala (Israfil)

 sudah memasukkan sangkakala ke mulutnya dan sudah mendengar izin kapan diperintah untuk ditiup, lalu ia meniupnya.” (Hr. Tirmidzi, ia berkata: “Hadits hasan”)

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Malaikat Israfil juga di samping sudah menaruh sangkakala di mulutnya, dahinya sudah menunduk (tanda sudah siap meniup).

-      Malaikat maut beserta para pembantunya, ditugaskan untuk mencabut nyawa.

Adapun penamaan malaikat maut dengan malaikat Izrail, maka tidak ada dasarnya dalam Al Qur’an maupun As Sunnah, wallahu a’lam.

-      Malaikat pemikul Arsy. Jumlah mereka ada empat, dan pada hari Kiamat dtambah empat lagi, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

“Dan pada hari itu delapan orang Malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (Qs. Al Haaqqah: 17)

-      Munkar dan Nakir, ditugaskan untuk menanyakan manusia yang berada di kubur tentang Tuhannya, agamanya dan nabinya.

-      Al Kiraamul Kaatibun (malaikat mulia pencatat amal), ditugaskan untuk mencatat amal manusia.

-      Al Mu’aqqibaat (malaikat yang mengiringi manusia), ditugaskan untuk menjaga manusia dalam semua keadaan mereka secara bergiliran, ada malaikat yang bertugas di malam hari dan ada yang bertugas di siang hari, dan mereka berkumpul di waktu shalat Subuh dan Ashar.

-      Ada juga malaikat yang ditugaskan menjaga surga. Namanya Ridhwan. Ibnu Katsir berkata, “Penjaga surga nama malaikatnya adalah Ridhwan sebagaimana disebutkan dengan tegas dalam sebagian hadits.” (Al Bidayah wan Nihayah 1/53)

Menurut Mahmud Al Mishri, tidak disebutkan nama Ridhwan dalam hadits yang shahih, akan tetapi disebutkan dalam sebagian atsar, wallahu a’lam.

-      Ada malaikat yang ditugaskan menjaga neraka, mereka disebut malaikat Zabaaniyah jumlahnya ada 19, pemukanya adalah malaikat Malik.

-      Ada pula malaikat yang menjaga gunung.

-      Ada pula malaikat yang berpindah-pindah mencari majlis dzikr (majlis ilmu).

-      Ada pula malaikat yang berada di pintu-pintu masjid pada setiap hari Jum’at, mencatat siapa yang datang pertama, kedua, dst. Dan setelah khatib naik mimbar, mereka tutup catatan mereka.

-      Ada pula malaikat yang bershaf-shaf beribadah dan bertasbih siang dan malam tanpa bosan-bosannya.

-      Ada pula malaikat yang berkelana menyampaikan shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari umatnya.

-      Ada pula malaikat yang dikirim kepada setiap janin, ditiupnya ruh ke dalam janin dan diperintahkan mencatat empat hal: amalnya, rezekinya, ajalnya dan apakah ia bahagia atau celaka.

-      Ada juga malaikat ra’d (guruh) sebagaimana dalam hadits berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَقْبَلَتْ يَهُودُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا يَا أَبَا الْقَاسِمِ أَخْبِرْنَا عَنِ الرَّعْدِ مَا هُوَ قَالَ مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ مَعَهُ مَخَارِيقُ مِنْ نَارٍ يَسُوقُ بِهَا السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ فَقَالُوا فَمَا هَذَا الصَّوْتُ الَّذِي نَسْمَعُ قَالَ زَجْرُهُ بِالسَّحَابِ إِذَا زَجَرَهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى حَيْثُ أُمِرَ فَقَالُوْا صَدَقْتَ

Dari Ibnu Abbas ia berkata, “Pernah datang beberapa orang Yahudi kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Abul Qaasim, beritahukanlah kami tentang guruh! Apa sebenarnya dia?” Beliau menjawab, “Dia adalah salah satu malaikat Allah yang ditugaskan mengurus awan mendung, di tangannnya ada beberapa sabetan dari api, digiringnya awan dengan sabetan itu ke tempat yang Allah kehendaki.” Mereka bertanya lagi, “Lalu apa suara yang kami dengar ini?” Beliau menjawab, “Penggiringannya kepada awan ketika dia menggiringnya sampai ke tempat yang diperintahkan.” Orang-orang Yahudi berkata, “Engkau benar.” (Hr. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi 3/262 dan Ash Shahiihah no. 1872)

Dll.

Demikianlah kandungan beriman kepada para malaikat. Semoga Allah membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya, memberikan kita taufiq untuk dapat menempuhnya, serta memberikan kita istiqamah di atasnya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Khutbah Jumat: Hak-Hak Seorang Muslim

Rabu, 26 Oktober 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Hak-Hak Seorang Muslim

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam, nikmat iman, nikmat hidayah, nikmat taufiq, nikmat sehat wal afiyat dan nikmat-nikmat lainnya yang sama-sama kita rasakan yang semuanya patut untuk kita syukuri.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada 6, lalu ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah, apa sajakah itu?" Beliau menjawab, "Jika bertemu ucapkanlah salam kepadanya, jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepadamu maka nasihatilah dia, jika ia bersin dan memuji Allah maka doakanlah, jika ia sakit maka jenguklah, dan jika ia meninggal maka iringilah jenazahnya.” (Hr. Muslim)

Hadits yang mulia ini menerangkan kepada kita hak seorang muslim atas muslim lainnya.

Hak adalah sesuatu yang tidak patut ditinggalkan, sehingga perbuatan yang disebut sebagai “hak” hukumnya bisa menjadi wajib atau sunnah mu’akkadah (sunat yang ditekankan).

Berikut khatib terangkan lebih lanjut hak-hak di atas:

Menjawab Salam

Ibnu Abdil Bar dan ulama lainnya menukilkan bahwa memulai mengucap salam itu hukumnya sunnah, namun menjawabnya wajib.

Mengucapkan salam banyak memiliki keutamaan, di antaranya adalah bahwa salam itu sebab adanya saling cinta satu sama lain, termasuk amalan yang utama, dan lain-lain. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ketika ditanya tentang ajaran Islam yang paling baik (paling banyak manfaatnya):

« تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ » .  

“Yaitu engkau beri makan (orang lain), dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ucapan salam yang paling pendek adalah “As Salaamu ‘alaikum” dengan bentuk jamak (banyak) agar mengena kepada orang yang diucapkan salam dan mengena pula kepada malaikat yang di dekatnya. Yang sempurna adalah menambahkan “Wa rahmatullahi wa barakaatuh”. Demikian juga dianggap sah mengucapkan salam dengan “As Salaamu ‘alaika” atau “Salaamun ‘alaika” dalam bentuk mufrad (tinggal).

Jika yang diucapkan salam ada banyak orang, maka menjawabnya fardhu kifayah bagi mereka, yakni cukup diwakili. Hal ini berdasarkan hadits hasan riwayat Ahmad dan Baihaqi berikut:

عَنْ عَلِيٍّ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r يُجْزِئُ عَنْ اَلْجَمَاعَةِ إِذَا مَرُّوا أَنْ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمْ, وَيُجْزِئُ عَنْ اَلْجَمَاعَةِ أَنْ يَرُدَّ أَحَدُهُمْ

Dari Ali radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukup untuk sebuah rombongan orang jika lewat yang mengucapkan salam adalah salah seorang di antara mereka. Demikian pula cukup untuk rombongan orang yang menjawab adalah seorang di antara mereka.”

Perlu diketahui, bahwa tidak boleh memulai salam menggunakan kata-kata “Alaikas salaam” atau “Alaikumus salaam” karena ia adalah salam untuk orang-orang yang telah mati. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُلْ عَلَيْكَ السَّلاَمُ فَإِنَّ عَلَيْكَ السَّلاَمُ تَحِيَّةُ الْمَوْتَى وَ لَكِنْ قُلِ  :  السَّلاَمُ عَلَيْكَ

“Janganlah kamu mengucapkan “Alaikas salam”, karena ‘alaikas salam adalah penghormatan untuk orang-orang yang sudah mati. Akan tetapi, ucapkanlah, “As Salaamu ‘alaik.” (Hr. Tiga Imam Ahli Hadits dan Hakim, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7402)

Hendaknya dalam mengucapkan salam, anak muda mengucapkannya kepada orang tua, orang yang menaiki kendaraan mengucapkan kepada yang berjalan kaki, yang berjalan kepada yang duduk dan yang sedikit kepada yang banyak sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t قَالَ: قََالَ رَسُولُ اللَّهِ r  لِيُسَلِّمْ اَلصَّغِيرُ عَلَى اَلْكَبِيرِ, وَالْمَارُّ عَلَى اَلْقَاعِدِ, وَالْقَلِيلُ عَلَى اَلْكَثِيرِ  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: وَالرَّاكِبُ عَلَى اَلْمَاشِي

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya anak muda mengucapkan salam kepada orang tua, orang yang lewat kepada orang  yang duduk, orang yang sedikit kepada orang yang banyak. (HR. Bukhari-Muslim, sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan, “Dan orang yang menaiki kendaraan kepada orang yang berjalan.”)

Mengucapkan salam tidak dibatasi hanya ketika bertemu, berpisah pun disyariatkan sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِنْ بَدَا لَهُ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ ثُمَّ إِذَا قَامَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتِ الْأُوْلَى أَحَقُّ مِنَ الْآخِرَةِ  

“Apabila salah seorang di antara kamu tiba di majlis, maka hendaknya ia mengucapkan salam. Jika hendak duduk, maka silahkan duduk. Kemudian apabila dia bangun, maka hendaklah ia mengucapkan salam, karena salam yang pertama tidaklah lebih berhak daripada salam yang terakhir.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim dari Abu Hurairah)

Demikian juga tidak cukup ketika bertemu hanya berisyarat dengan tangan atau muka, tetapi harus dengan mengucapkan salam.

Di antara ulama ada yang berpendapat bahwa makruh hukumnya mengucapkan salam kepada orang yang berada di kamar mandi, orang yang sedang berdzikr, orang yang sedang membaca Al Qur’an, orang yang sedang buang air, dan kepada orang yang berkhutbah Jum’at (khatib).

Memenuhi Undangan

Para ulama menjelaskan bahwa undangan yang wajib adalah undangan walimah (dalam acara pernikahan), selainnya adalah sunah. Hal itu, karena hadits yang menyuruh menghadirinya disebutkan di dalamnya wa’id (ancaman) yaitu dikatakan durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam jika tidak menghadirinya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ، يُمْنَعُهَا مَنْ يَأْتِيهَا، وَيُدْعَى إِلَيْهَا مَنْ يَأْبَاهَا، وَمَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّعْوَةَ، فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُولَهُ»

“Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah. Dicegah orang yang mau mendatanginya, dan diundang oleh yang menolaknya. Barang siapa yang tidak menghadiri undangan (walimah), maka dia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Hr. Muslim)

Memberikan Nasihat

Memberikan nasihat (saran yang terbaik) kepada saudara kita apabila saudara kita meminta nasihat adalah wajib. Sedangkan jika tidak diminta maka hukumnya sunnah.

Mendoakan Yang Bersin

Mengucapkan “Al Hamdulillah” bagi orang yang bersin hukumnya sunah. Imam Nawawi berkata, “Telah disepakati tentang sunahnya.”

Mendoakan orang yang bersin jika mengucapkan “Al Hamdulilah” hukumnya wajib. Inilah yang dipegang oleh ulama madzhab Zhahiri dan Ibnul ‘Arabi.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Dan dianjurkan bagi orang yang hadir di hadapan orang yang bersin yang tidak mengucapkan hamdalah untuk mengingatkannya agar mengucap hamdalah, lalu ia mendoakannya, karena itu termasuk nasihat dan beramr ma’ruf.”

Doa untuk orang yang bersin adalah “Yarhamukallah” artinya “Semoga Allah merahmatimu” (sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari).

Bagi orang yang bersin apabila sudah didoakan hendaknya membalas dengan doa “Yahdiikumullah wa yushlih baalakum” artinya: “Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu” (sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari).

Demikian pula disyari’atkan bagi yang bersin untuk menutup wajah dengan tangannya atau kainnya dan merendahkan suaranya berdasarkan hadits berikut,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila bersin menutup wajahnya dengan tangannya atau kainnya dan merendahkan suaranya. (Hr. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani)

Apabila telah didoakan sebanyak tiga kali ternyata ia masih tetap bersin juga maka cukup, tidak perlu didoakan lagi karena hal itu berarti ia sakit. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

«إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيُشَمِّتْهُ جَلِيسُهُ، وَإِنْ زَادَ عَلَى ثَلَاثٍ فَهُوَ مَزْكُومٌ، وَلَا تَشْمِيتَ بَعْدَ ثَلَاثِ مَرَّاتٍ»

"Jika salah seorang di antara kamu bersin, maka hendaknya kawan duduknya mendoakannya. Jika bersin lebih dari tiga kali, maka berarti ia bersin. Dan tidak ada lagi doa setelah tiga kali." (Hr. Ibnus Sunniy dalam Amalul Yaumi wal Lailah, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1330)

Yang kita doakan dalam bersin adalah orang muslim yang bersin yang mengucap hamdalah, bukan non muslim. Apabila ada non muslim yang bersin mengucap Al Hamdulillah maka doanya adalah “Yahdikumullah wa yushlih baalakum”  (sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi) karena mendoakan orang non muslim agar mendapatkan hidayah adalah boleh, lain halnya jika mendoakannya agar mendapatkan rahmat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ الرَّبِّ الْغَفُوْرِ، الْعَفُوِّ الرَّؤُوْفِ الشَّكُوْرِ، الَّذِي وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ لِتَحْصِيْلِ الْمَكَاسِبِ وَالْأُجُوْرِ، وَجَعَلَ شُغْلَهُمْ بِتَحْقِيْقِ الْإِيْمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ، يَرْجُوْنَ تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الَّذِيْ بِيَدِهِ تَصَارِيْفُ الْأُمُوْرِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَفْضَلُ آمِرٍ وَأَجَلُّ مَأْمُوْرٍ، اَللَّهُمَ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Termasuk hak seorang muslim juga adalah dijenguk ketika ia sakit.

Sebagian ulama mengatakan wajib hukumnya menjenguk seorang muslim yang sakit, ada yang mengatakan bahwa wajibnya adalah wajib kifayah (jika sudah ada yang menjenguk, maka yang lain tidak wajib).

Namun jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hukumnya sunnah.

Mafhum hadits yang khatib sebutkan di awal khutbah tentang hak seorang muslim menunjukkan bahwa orang kafir dzimmiy (yang mendapat keamanan di negeri Islam dengan membayar pajak) tidaklah dijenguk ketika sakit, hanyasaja telah sah riwayat bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menjenguk pelayannya, yaitu seorang kafir dzimmi, dan akhirnya ia masuk ke dalam Islam berkat dijenguk. Demikian juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengunjungi Abu Thalib ketika sakit yang membawa kepada kematiannya dan mengajaknya mengucapkan Laailaahaillallah. Berdasarkan keterangan ini, maka orang kafir dzimiy boleh saja dijenguk jika ada maslahatnya seperti di atas.

Adapun keutamaan menjenguk orang yang sakit adalah seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berikut:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الجَنَّةِ

"Tidak ada seorang muslim pun yang menjenguk muslim lainnya (yang sakit) di waktu pagi kecuali akan didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat sampai sore hari, dan jika menjenguknya di sore hari, maka akan didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat sampai pagi hari dan ia memperoleh buah-buahan yang dipetiknya di surga." (Hr. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 5767).

Beliau juga bersabda,

« إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِى . قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ . قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِى فُلاَنًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِى عِنْدَهُ يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِى . قَالَ يَا رَبِّ وَكَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ . قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِى فُلاَنٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِى . قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ اسْتَسْقَاكَ عَبْدِى فُلاَنٌ فَلَمْ تَسْقِهِ أَمَا إِنَّكَ لَوْ سَقَيْتَهُ وَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى » .  

"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan berfirman pada hari kiamat, "Wahai anak Adam! Aku sakit, namun kamu tidak menjengukku." Ia (anak Adam) berkata, "Wahai Tuhanku, bagaimana aku menjengukmu, sedangkan Engkau Rabbul 'alamin?" Allah berfirman, "Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Kalau sekiranya kamu mau menjenguk, tentu kamu akan mendapati-Ku di dekatnya. Wahai anak Adam! Aku meminta makan kepadamu, namun kamu tidak memberi-Ku makan." Ia berkata, "Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu makan, padahal Engkau Rabbul 'alamin?" Allah berfirman, "Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya. Kalau sekiranya kamu mau memberinya makan, tentu kamu akan mendapatkan yang demikian di sisi-Ku. Wahai anak Adam! Aku meminta minum kepadamu, namun kamu tidak memberi-Ku minum." Ia berkata, "Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Rabbul 'alamin?" Allah berfirman, "Hamba-Ku si fulan telah meminta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya. Kalau sekiranya kamu mau memberinya, tentu kamu akan mendapatkan yang demikian itu di sisi-Ku." (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Kita meminta kepada Allah agar Dia selalu membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya dan memberikan kita taufiq untuk dapat menempuhnya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger