Khutbah Jumat: Urgensi Shalat Berjamaah

Selasa, 20 September 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Urgensi Shalat Berjamaah

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam, nikmat iman, nikmat hidayah, nikmat taufiq, nikmat sehat wal ‘afiyat dan nikmat-nikmat lainnya yang sama-sama kita rasakan yang semuanya patut untuk kita syukuri.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Banyak saudara-saudara kita kaum muslimin yang masih meremehkan shalat berjamaah, sehingga mereka malas mendatanginya dan lebih suka shalat sendiri daripada shalat berjamaah. Maka pada kesempatan khutbah kali ini, khatib ingin menerangkan akan pentingnya shalat berjamaah dengan harapan kita semua tidak lagi meremehkan shalat berjamaah.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat berjamaah, di antara mereka ada yang berpendapat bahwa hukumnya sunnah mu’akkadah (yang sangat ditekankan), dan ada pula yang lain berpendapat bahwa hukumnya wajib, yakni bagi laki-laki yang sudah baligh (dewasa) dan mampu melakukannya, dimana ia mendengar panggilan azan, sehingga meninggalkannya merupakan perbuatan dosa, dan pendapat inilah yang tampaknya lebih kuat.

Para ulama yang berpendapat hukumnya wajib berdalih dengan dalil-dalil berikut:

Pertama, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di surah An Nisaa: 102,

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka sujud, maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu hendaklah mereka shalat denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.,,,dst.”  (Qs. An Nisaa: 102)

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata, “Allah Subhaanahu wa Ta’ala tetap mewajibkan mengerjakan shalat dengan berjamaah dalam kondisi perang, lalu bagaimana jika dalam kondisi damai? Kalau seandainya seseorang diperbolehkan meninggalkan shalat berjamaah, tentu orang-orang yang sedang berperang melawan musuh yang merasa terancam dengan serangan mereka lebih layak untuk diperbolehkan meninggalkan shalat berjamaah. Karena tidak demikian, maka dapat diketahui bahwa shalat berjamaah termasuk kewajiban yang sangat penting dan tidak boleh seseorang meninggalkannya.” (Disebutkan dalam risalah Beliau "Wujub adaa'ish shalaah fil jamaa'ah")

Kedua, firman Allah di surat Al Baqarah: ayat 43,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku'.”

Pada ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta'aala memerintahkan kita untuk ikut ruku’ bersama orang-orang yang ruku’, dan hal ini tidak mungkin tercapai kecuali dengan melaksanakannya secara berjamaah. Ayat ini menunjukkan wajibnya shalat berjamaah, karena hukum asal perintah adalah wajib.

Ketiga, firman Allah di surat Al Qalam ayat 42-43:

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ (42) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ (43)

“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, namun mereka tidak mampu-- pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu  diseru untuk bersujud, sedangkan mereka dalam keadaan sejahtera.”

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa pada hari Kiamat ketika manusia dipanggil untuk sujud kepada Allah Azza wa Jalla, di antara mereka ada yang tidak mampu sujud, sebabnya adalah karena mereka ketika di dunia mendengar seruan untuk sujud (azan), namun mereka tidak mau mendatanginya padahal mereka mampu mendatanginya.

Keempat, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memberikan rukhshah (kelonggaran) untuk meninggalkan shalat berjamaah kepada orang yang buta, padahal rumahnya jauh dari masjid saat ia meminta kelonggaran untuk shalat di rumah. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Ada seorang yang buta datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan berkata, “Wahai Rasulullah! saya tidak memiliki penuntun yang menuntun saya ke masjid." Ia meminta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar diberikan rukhshah untuk shalat di rumah, maka Beliau pun memberikan rukhshah kepadanya. Namun ketika orang itu hendak pergi, Beliau memanggilnya dan berkata, “Apakah kamu mendengar panggilan untuk shalat (azan)?” Ia menjawab, “Ya”, maka Beliau bersabda, “Datangilah.”

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan:

عَنْ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي رَجُلٌ ضَرِيرُ الْبَصَرِ شَاسِعُ الدَّارِ وَلِي قَائِدٌ لَا يُلَائِمُنِي فَهَلْ لِي رُخْصَةٌ أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِي قَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ قَالَ نَعَمْ قَالَ لَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً

Dari Ibnu Ummi Maktum, bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya saya seorang yang buta, tempat tinggal saya jauh dan saya memiliki penuntun namun tidak selalu menyertaiku, apakah saya mendapatkan rukhshah untuk shalat di rumah?” Beliau balik bertanya, “Apakah kamu mendengar azan?” Ia menjawab, “Ya”, maka Beliau bersabda, “Sesungguhnya saya tidak mendapatkan rukhshah untukmu.” (Hr. Abu Dawud, Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud berkata “Hasan shahih.”)

Dalam lafaz lain disebutkan, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya di Madinah banyak serangga dan binatang buas?’ Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, “Apakah kamu mendengar “Hayya ‘alash shlaah-hayya ‘alal falaah?" Maka datangilah.” (Hr. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al Albani)

Berdasarkan hadits-hadits di atas bahwa orang yang meminta diberikan rukhshah untuk shalat di rumah memiliki beberapa uzur, yaitu: dia seorang yang buta, rumahnya jauh dari masjid, banyak serangga dan binatang buas di jalan, tidak memiliki penuntun yang selalu menyertainya, sudah tua umurnya dan di perjalanannya banyak pepohonan. Tetapi Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam tetap tidak memberikan rukhshah kepadanya untuk shalat di rumah, lalu bagaimana dengan keadaan kita sekarang ini yang sampai meninggalkan shalat berjamaah?

Kelima, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sampai hendak memberikan sanksi berat kepada orang-orang yang selalu meninggalkan shalat berjama'ah. Disebutkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Subuh dan ‘Isya. Kalau seandainya mereka mengetahui (keutamaan) di dalamnya tentu mereka akan mendatanginya meskipun dalam keadaan merangkak. Sungguh, aku ingin menyuruh didirikan shalat, kemudian aku menyuruh seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku pergi dengan beberapa orang yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak hadir shalat (berjamaah), kemudian aku bakar rumah mereka dengan api.”

Keenam, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجَمَاعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ

“Hendaknya orang-orang berhenti meninggalkan shalat berjamaah atau Allah akan mengunci mati hati mereka sehingga mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (Hr. Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al AlBani)

Siapkah kita dikunci mati hatinya oleh Allah Azza wa Jalla sehingga termasuk orang-orang yang lalai?

Ketujuh, Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata, “Barang siapa yang ingin bertemu Allah nanti dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat-shalat ini di tempat dikumandangkannya. Karena Allah telah menetapkan untuk Nabi kalian jalan-jalan petunjuk, dan sesungguhnya shalat berjamaah termasuk jalan-jalan petunjuk. Kalau sekiranya kalian shalat di rumah sebagaimana orang yang shalat di rumah ini tentu kalian telah meninggalkan Sunnah Nabi kalian. Jika kalian telah meninggalkan Sunnah Nabi kalian, tentu kalian akan tersesat. Padahal tidaklah ada seseorang yang berwudhu’ dan memperbagus wudhunya, kemudian ia pergi menuju salah satu masjid ini, kecuali Allah akan mencatat untuknya pada setiap langkahnya satu kebaikan, meninggikan derajatnya serta menghapuskan dosanya. Sungguh, kami memperhatikan bahwa tidak ada yang meninggalkan shalat berjamaah kecuali orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya, padahal ada seorang yang dituntun oleh dua orang (untuk shalat berjamaah) hingga ditegakkan dalam shaff.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu merngatakan, “Kami apabila kehilangan seseorang dalam shalat Isya dan Subuh (berjama’ah), maka kami berprasangka buruk terhadapnya.”

Kedelapan, Ibnul Qayyim di dalam Kitab Ash Shalaahnya menjelaskan bahwa para sahabat semuanya sepakat (ijma’) tentang wajibnya shalat berjama’ah.

Maka setelah penjelasan ini masihkah kita menganggap remeh shalat berjamaah?!

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ  لِيْ وَلَكُمْ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ الرَّؤُوْفِ الرَّحِيْمِ، الْبَرِّ الْجَوَّادِ الْكَرِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْعَظِيْمُ، لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى، وَالصِّفَاتُ الْعُلْيَا، وَالْإِحْسَانُ الْعَمِيْمُ، وَلَهُ الرَّحْمَةُ الْوَاسِعَةُ، وَالْحِكْمَةُ الشَّامِلَةُ، وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الَّذِي قَالَ اللهُ فِيْهِ: {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ} [القلم: 4] اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، الَّذِيْنَ هُدُوا إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيْقٍ مُسْتَقِيْمٍ.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Shalat berjamaah memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

1. Lebih utama daripada shalat sendiri dengan 27 derajat. Sungguh perbandingan yang sangat jauh!

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً»

“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendiri dengan 27 derajat.” (Hr. Muslim dari Ibnu Umar)

صَلَاةُ أَحَدِكُمْ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ وَبَيْتِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ بِأَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حُطَّتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ وَالْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ

“Shalatnya salah seorang di antara kamu dengan berjamaah adalah melebihi shalat (sendiri) di pasar maupun di rumahnya dengan 20 derajat lebih. Hal itu, karena apabila seseorang berwudhu’, lalu memperbagus wudhunya, kemudian mendatangi masjid dengan tujuan untuk shalat, maka tidaklah ia melangkah satu langkah kecuali akan ditiinggikan derajatnya atau digugurkan dosanya. Para malaikat akan mendoakannya selama ia masih berada di tempat shalat yang ia shalat di situ sambil mengatakan, “Ya Allah, rahmatilah dia. Ya Allah, sayangilah dia.” Selama dia belum berhadats dan tidak menyakiti (orang lain) di sana.” (Hr. Bukhari)

Contoh menyakiti orang lain adalah ghibah (menggunjing orang lain) dan namimah (mengadu domba).

2. Allah Azza wa Jalla akan menjaganya dari setan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمْ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدْ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمْ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

“Tidak ada tiga orang dalam sebuah kampung maupun di padang sahara, lalu tidak ditegakkan shalat (berjamaah) kecuali setan akan menguasai mereka. Maka tetaplah berjamaah, karena serigala itu memakan binatang yang menjauh (menyendiri).” (Hasan, Hr. Abu Dawud)

3. Orang yang shalat Subuh berjamaah dianggap seperti shalat semalam suntuk, sedangkan orang yang shalat ‘Isya berjamaah seperti shalat selama separuh malam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى اْلعِشَاءَ ِفي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ ِفي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

“Barang siapa yang shalat ‘Isya berjamaah, maka seakan-akan ia melakukan shalat selama separuh malam, dan barang siapa yang shalat Subuh berjamaah maka seakan-akan ia shalat semalam suntuk.” (Hr. Muslim).

Shalat berjamaah di waktu Subuh disaksikan oleh para malaikat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (Qs. Al Israa: 78)

Dan keutamaan lainnya.

Maka tidakkah kita terdorong untuk mendatanginya?! Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya dan memberikan kita taufiq untuk menempuhnya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ -- وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ – وَ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Khutbah Jumat: Tujuan Diciptakan Manusia

Jumat, 16 September 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Tujuan Diciptakan Manusia

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam, nikmat Iman, nikmat Hidayah, nikmat Taufiq, nikmat sehat wal afiyat, dan nikmat-nikmat lainnya yang sama-sama kita rasakan yang patut untuk kita syukuri.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Allah Subhaanahu wa Ta'ala memiliki nama Al Hakim, yang artinya Mahabijaksana. Dia Mahabijaksana dalam perkataan-Nya, perbuatan-Nya, taqdir-Nya di alam semesta, dan dalam menetapkan syariat. Oleh karena perbuatan-Nya di atas kebijaksanaan, maka Dia tidaklah menciptakan manusia main-main tanpa ada hikmah di balik itu. Dia berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?" (QS. Al Mu'minuun: 115)

Allah Subhaanahu wa Ta'ala menciptakan manusia dan jin tidak lain agar mereka hanya menyembah dan beribadah kepada-Nya serta mengisi hidup mereka di dunia dengan beribadah yang nantinya Dia akan membalas mereka dengan balasan yang besar, berupa surga dan tambahannya. Inilah beban yang dipikulkan kepada mereka selama mereka hidup di dunia. Dia berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz Dzaariyaat: 56)

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Beban beribadah ini sebelumnya telah Allah tawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun mereka menolaknya karena khawatir tidak mampu memikulnya. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh." (QS. Al Ahzaab: 72)

Amanah di ayat ini adalah beban beribadah, tugas-tugas keagamaan, atau menjalankan kewajiban dan meninggalkan larangan.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Ketika manusa lengah terhadap tujuan ini, yakni tujuan mereka diciptakan di dunia, maka Allah mengutus Rasul-Nya dan menurunkan kitab-Nya untuk mengingatkan mereka terhadap tujuan ini. Kemudian pelaksanaan ibadah itu diperinci dalam kitab-Nya dan dalam sunnah Rasul-Nya karena keadaan manusia yang tidak mengetahui bentuk dan tatacara ibadah yang dicintai Allah dan diridhai-Nya. Oleh karena itu, di antara tujuan diutusnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah mengajarkan tatacara atau bentuk ibadah yang diridhai Allah Subhaanahu wa Ta'ala setelah mengajak manusia hanya beribadah dan menyembah kepada Allah 'Azza wa Jalla saja. Dari sini, kita ketahui tidak dibenarkannya mengada-ada dalam beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala, karena yang mengetahui tatacara yang diridhai Allah adalah utusan-Nya yang mendapatkan wahyu dari-Nya, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Ketika manusia keluar dari tujuan mereka diciptakan, sibuk dengan dunia dan tidak sempat beribadah, maka berarti ia telah bersikap melampaui batas dan tidak memenuhi kewajibannya, sehingga ia termasuk ke dalam yang difirmankan Allah Subhaanahu wa Ta'ala,

فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى (39)

"Adapun orang yang melampaui batas,--Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,--Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (QS. An Naazi'at: 37-41)

Oleh karena itu, hidup manusia di dunia bukanlah sekedar untuk makan, minum, dan bersenang-senang. Ia tidaklah sama seperti hewan yang tidak terkena beban untuk beribadah, dimana hidup mereka (hewan-hewan) hanya makan, minum, dan bersenang-senang saja. Dan inilah yang membedakan kita dengan hewan.

Jika hidup seseorang hanya makan, minum, dan memuaskan nafsu, maka tidak bedanya dia dengan hewan sehingga orang itu disebut juga manusia hewani (yang seperti hewan), dan karenanya orang-orang kafir disamakan seperti hewan karena tidak beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka." (QS. Muhammad: 12)

Maka dari itu, isilah hidup ini dengan beribadah dan bertakwa kepada-Nya agar Allah memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ  لِيْ وَلَكُمْ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ الْعَفُوِّ الْكَرِيْمِ ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ,جَعَلَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا دَاراً لِلْإِبْتِلاَءِ وَالْإِخْتِبَارِ ، وَمَحِلاً لِلْعَمَلِ وَالْإِعْتِبَارِ ، وَجَعَلَ الْآخِرَةَ دَارَيْنِ ، دَاراً لِأَهْلِ كَرَامَتِهِ وَقُرْبِهِ مِنَ الْمُتَّقِيْنِ الْأَبْرَارِ ، وَدَاراً لِأَهْلِ غَضَبِهِ وَسَخَطِهِ مِنَ الْكُفَّارِ وَالْفُجَّارِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْمُخْتَارُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ الْأَخْيَارِ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ . أَمَّا بَعْدُ :

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Ibadah adalah istilah untuk semua perkara yang dicintai Allah dan diridhai-Nya baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tampak (dengan lisan dan anggota badan) maupun yang tersembunyi (dengan hati). Contoh: shalat, zakat, puasa, haji, membaca Al Qur’an, berdzikir, beramar makruf dan bernahi munkar, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, dan lain-lain.

Dengan demikian, ibadah itu ada yang bisa dilakukan oleh hati, ada yang bisa dilakukan oleh lisan dan ada yang bisa dilakukan oleh anggota badan. Contoh ibadah yang dilakukan oleh hati adalah berniat ikhlas, mencintai kebaikan didapatkan orang lain, memiliki akidah yang benar dsb. Contoh ibadah yang dilakukan oleh lisan adalah membaca Al Qur’an, berdzikr, bershalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, berkata jujur, dsb. Sedangkan contoh ibadah yang dilakukan oleh anggota badan adalah berbakti kepada orang tua, membantu orang lain, menyambung tali silaturrahim, berbuat baik kepada teman dan tetangga dsb. Dan ada ibadah yang dilakukan secara sekaligus oleh hati, lisan dan anggota badan, yaitu shalat. Oleh karena itu, shalat adalah ibadah yang paling utama. Hal ini berdasarkan hadits berikut:

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رضي اللَّه عنه قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْعَمَلِ أََحَبُّ إِلىَ اللَّهِ تَعَالَى ؟ قَالَ :الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: «بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : «الجِْهَادُ فِيْ سَبِيِلِ اللَّهِ

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Amal apa yang paling dicintai Allah Ta’ala?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.” (Hr. Bukhari-Muslim)

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Ada tiga golongan yang keliru dalam menilai ibadah, yaitu sbb:

1.           Golongan yang mengira bahwa ibadah itu hanya sebatas di masjid saja, sehingga ia memisahkan antara urusan dunia dengan agama/ibadah dan antara urusan negara dengan agama.

Padahal ibadah dalam Islam tidak hanya dilakukan di masjid saja, bahkan  di luar masjid pun ada ibadah.

Berakhlak mulia adalah ibadah,  dan bermuamalah sesuai syariat adalah ibadah. Bahkan perbuatan mubah atau suatu kebiasaan harian jika diniatkan ibadah atau agar dapat membantu beribadah, dapat berubah menjadi ibadah. Misalnya seseorang yang makan, minum dan istirahat dengan niat agar dapat beribadah kepada Allah Ta’ala adalah ibadah, bekerja agar dapat memperoleh rezeki yang halal adalah ibadah, demikian juga menikah dengan niat menjaga diri dari yang haram juga ibadah.

2.           Golongan yang berlebih-lebihan dalam beribadah.

Golongan yang berlebih-lebihan dalam beribadah maksudnya adalah golongan yang melampaui batas sampai melewati aturan. Misalnya mewajibkan yang sunah, mengharamkan yang halal, menjauhi yang mubah dan sebagainya. Golongan ini juga salah.

3.           Golongan yang mengada-ngada dalam beribadah.

Maksudnya golongan yang beribadah tidak mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dia beribadah atas dasar perkiraan atau menurutnya baik, ia membuat cara sendiri dalam beribadah. Padahal syarat diterimanya ibadah di samping ikhlas adalah harus mengikuti contoh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِلَّا تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, "Wahai anak Adam! Luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi kecukupan pada hatimu dan menutupi kekuranganmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku akan memenuhi kedua tangan-Mu dengan kesibukan dan Aku tidak akan menutupi kefakiranmu." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 1914)

Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan firman Allah Tabaraka wa Ta'ala yang isinya mengingatkan kita agar beribadah kepada-Nya dan mengisi hidup ini dengan ibadah. Dia juga menjamin akan memberikan kecukupan kepada kita serta menutupi kekurangan kita.

Sungguh besar keutamaan beribadah kepada Allah, di samping mendapatkan kecintaan dari Allah, dekat dengan-Nya, diberikan kecukupan dalam hidup, diberikan ketenangan dan kebahagiaan, sedangkan di akhirat seseorang yang beribadah akan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, dimana orang yang memasukinya akan hidup kekal selama-lamanya dan tidak akan mati, akan senang selamanya dan tidak akan sedih, akan sehat selamanya dan tidak akan sakit, akan muda selamanya dan tidak akan tua, dan akan mendapatkan kenikmatan terus-menerus tanpa perlu bekerja dan berusaha seperti halnya di dunia, bahkan semua yang diinginkan akan diberikan. Maka, kesenangan dan kenikmatan apakah yang lebih baik daripada ini?

Kita meminta kepada Allah Azza wa Jalla agar Dia memberi kita taufik untuk mengisi hidup di dunia dengan beribadah.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ -- وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ – وَ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Khutbah Jumat: Kedudukan Shalat Dalam Islam

Kamis, 15 September 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Kedudukan Shalat Dalam Islam

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أما بعد: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam dan nikmat Taufiq sehingga dengan nikmat itu kita dapat melangkahkan kaki kita menuju rumah-Nya melaksanakan salah satu perintah-Nya yaitu shalat Jumat berjamaah.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Sedih terasa hati ini menyaksikan keadaan kaum muslimin saat ini yang sudah berani meninggalkan shalat. Bagaimana hati tidak merasa sedih? Masjid-masjid di negeri yang mayoritas muslim ternyata sedikit sekali yang memakmurkannya. Kalau pun ada hanya beberapa orang saja, dan paling banyak hanya satu shaf, bahkan ada masjid yang tidak dikumandangkan suara azan karena kesibukan masyarakatnya terhadap dunia, fa innaa lillahi wa innaa ilaihi rajiun. Bagaimana umat Islam akan jaya seperti dahulu, sedangkan ajarannya yang agung sudah diremehkan dan ditinggalkan?

Oleh karena itu, pada kesempatan khutbah Jumat kali ini khatib ingin menyampaikan tentang kedudukan shalat dalam Islam agar kita menyadari betapa pentingnya shalat dalam Islam.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Shalat memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Shalat adalah tiang agama, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

رَأْسُ الْاَمْرِ الْاِسْلاَمُ ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Pokok perkara adalah Islam, tiangnya shalat dan puncaknya jihad fii sabiilillah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Oleh karena itu, jika shalat ditinggalkan, maka bangunan Islam dalam diri seseorang akan segera roboh.

Shalat merupakan amal saleh yang paling dicintai Allah. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata,

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: «الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا» ، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الوَالِدَيْنِ» قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»

“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Amal apa yang paling dicintai Allah Ta’ala?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Berjihad fii sabiilillah.” (Hr. Bukhari-Muslim)

Shalat juga merupakan amal saleh yang pertama kali dihisab pada hari kiamat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

“Amal yang pertama dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka akan baik seluruh amalnya dan jika shalatnya buruk, maka buruklah seluruh amalnya.” (HR. Thabrani, Shahihul Jami’ no. 2573)

Shalat juga merupakan wasiat terakhir Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada umatnya, Beliau bersabda,

اَلصَّلاَةَ الصَّلاَةَ ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Jagalah shalat! Jagalah shalat! Dan berbuat baiklah kepada budak yang kalian miliki.” (HR. Thabrani, Shahihul Jami’ no. 3873)

Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan kita menjaganya baik ketika hadhar (tidak safar) maupun ketika safar, ketika suasana aman maupun suasana mencekam. Dia berfirman,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ -- فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تعْلَمُونَ

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.---Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Qs. Al Baqarah: 238-239)

Bahkan dalam kondisi perang, Allah Subhaanahu wa Ta'aala tetap memerintahkan kita menjaganya (lihat Qs. An Nisaa’: 102-103).

Demikian juga dalam kondisi sakit, kewajiban shalat tidak gugur, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

صَلِّ قَائِمًا, فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا, فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Shalatlah sambil berdiri! Jika tidak bisa, maka sambil duduk, jika tidak bisa, maka sambil berbaring.” (HR. Bukhari)

Jika dalam kondisi perang dan kondisi sakit saja kewajiban shalat tidak gugur, lalu bagaimana dengan mereka yang berada dalam keamanan dan kondisi badannya sehat?!

Di samping itu, Islam memerintahkan para orang tua untuk menyuruh anaknya shalat ketika berusia tujuh tahun dan memerintahkan mereka memukul anaknya ketika meninggalkannya saat berusia sepuluh tahun. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ إِذَا بَلَغُوْا سَبْعًا ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا إِذَا بَلَغُوْا عَشْرًا ، وَفرِّقوْا بَينهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun. Pukullah mereka (ketika meninggalkannya) saat berusia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Hakim, Hakim berkata, “Shahih sesuai syarat Muslim.”)

Yang demikian karena pentingnya shalat bagi seseorang dan tingginya kedudukan shalat dalam agama ini.

Terhadap orang-orang yang menunda shalat sampai lewat waktunya Allah Ta’ala mengancam akan mendapatkan “Al Ghayy” (kesesatan atau lembah di neraka jahannam). Dia berfirman,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Qs. Maryam: 59)

Sa’id bin Al Musayyib rahimahullah berkata, “Orang itu tidak shalat Zhuhur kecuali setelah tiba waktu ‘Ashar, tidak shalat Ashar kecuali setelah tiba waktu Maghrib, tidak shalat Maghrib kecuali setelah tiba waktu Isya dan tidak shalat Isya kecuali setelah tiba waktu Subuh, dan tidak shalat Subuh kecuali setelah terbit matahari. Orang yang meninggal dunia dalam kondisi seperti ini dan tidak bertobat, maka Allah ancam dengan al ghayy, yaitu lembah di neraka Jahannam yang sangat dalam dan busuk baunya.”

Jika orang yang menunda shalat sampai tiba waktu shalat berikutnya sudah seperti ini keadaannya, lalu bagaimana dengan orang yang meninggalkan shalat? –na’uudzu billahi min dzaalik-.

Neraka, itulah tempat orang yang meninggalkan shalat. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ -- قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"--- Mereka menjawab, "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat (Qs. Al Muddatstsir: 42-47)

Umat Islam juga tidak berselisih bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja termasuk dosa-dosa besar yang sangat besar, dan bahwa dosanya lebih besar di sisi Allah daripada dosa membunuh, mengambil harta, berzina, mencuri dan meminum khamr (arak).

Selain itu, pada hari kiamat nanti, orang-orang yang meninggalkan shalat tidak akan sanggup sujud kepada Allah Ta’ala ketika manusia semuanya dipanggil untuk sujud. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ - خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa,-- (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi diliputi kehinaan. dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, sedangkan mereka dalam keadaan sejahtera.” (Qs. Al Qalam: 42-43)

Sa’id bin Al Musayyib rahimahullah berkata, “Dahulu mereka (di dunia) mendengar “Hayya ‘alash shalaah-Hayya ‘alal falaah”, namun mereka tidak mendatangi padahal mereka sehat-sentosa.”

Perhatikanlah, bagaimana Islam memuliakan shalat dan meninggikan setinggi-tingginya, lalu apakah pantas seorang muslim meninggalkannya?

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Setelah kita mengetahui kedudukan shalat dalam Islam, lalu apa keutamaan shalat dalam Islam?

Keutamaan shalat dalam Islam sangat banyak di antaranya, bahwa dengan shalat Allah Ta'ala akan menggurkan dosa-dosa seseorang, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ

“Perumpamaan shalat yang lima waktu adalah seperti sebuah sungai yang dalam dan mengalir; yang berada di depan pintu rumah salah seorang di antara kamu, ia mandi di sana setiap hari lima kali.” (HR. Muslim)

Al Hasan berkata, “Sehingga tidak tersisa lagi kotoran.”

Shalat juga merupakan cahaya, baik dalam kehidupan dunia (sehingga mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar dan membimbingnya kepada kebaikan), cahaya di kubur, dan cahaya di akhirat kelak. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلَاةُ نُورٌ

“Shalat adalah cahaya.” (Hr. Muslim)

Allah juga menjanjikan keberuntungan bagi mereka yang shalat, Dia berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّى-وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),-Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia melakukan shalat.” (Terj. QS. Al A’laa: 14-15)

Dan mereka yang shalat lima waktu, akan Allah masukkan ke dalam surga.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ اْلمَكْتُوْبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ، وَحَرَّمْت الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئاً، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ .

Dari Jabir bin Abdullah Al Anshary radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah dengan berkata, “Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang fardhu, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, lalu saya tidak menambah lagi sedikit pun, apakah saya akan masuk surga?” Beliau menjawab, Ya.” (Hr. Muslim)

Inilah yang bisa khatib sampaikan, semoga bermanfaat. Kita meminta kepada Allah agar Dia selalu membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya dan memberikan kita taufiq untuk menempuhnya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger