Adab Terhadap Allah Azza wa Jalla

Senin, 12 September 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Adab Terhadap Allah Azza wa Jalla

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أما بعد: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam dan nikmat taufiq, sehingga kita dapat melangkahkan kaki kita menuju rumah-Nya melaksanakan salah satu perintah-Nya, yaitu shalat Jumat berjamaah.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Allah Azza wa Jalla adalah Pencipta kita dan Pencipta alam semesta, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, dan yang memberikan kepada kita rezeki serta kenikmatan yang tidak sanggup kita jumlahkan.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita memiliki adab kepada Allah Azza wa Jalla Rabb kita. Berikut khatib sebutkan beberapa adab terhadap Allah Azza wa Jalla.

1. Hanya menyembah kepada Allah dan tidak berbuat syirik kepada-Nya.

Oleh karena itu, kita hanya beribadah dan menyembah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala saja, karena Dialah Pencipta, Penguasa dan Pengatur alam semesta dan yang memberikan rezeki-Nya kepada mereka. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kamu sembah matahari maupun bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika Dialah yang kamu sembah.” (QS. Fushshilat: 37)

Di samping itu, selain Allah adalah makhluk seperti kita yang tidak berhak disembah.

2. Mengikhlaskan ibadah hanya karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala

Ikhlas adalah syarat diterimanya ibadah di samping sesuai sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala hanyalah menerima amal yang ikhlas karena-Nya dan jauh dari riya’, Dia berfirman,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Terj. Al Kahfi: 110)

Oleh karena itu, Dia berusaha untuk ikhlas dalam amalnya di samping mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

3. Merasa diawasi Allah Subhaanahu wa Ta'aala

Allah Subhaanahu wa Ta'aala melihat semua makhluk-Nya; Dia melihat perbuatan kita dan mendengar ucapan kita serta mengetahui apa yang ada dalam hati kita. Oleh karena itu, hendaknya kita menaati Rabb kita baik dalam suasana sepi maupun terang-terangan serta menjauhi apa yang dilarang-Nya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya ihsan, Beliau menjawab,

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Yaitu kamu beribadah kepada Allah, seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak merasa begitu, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Hr. Muslim)

4. Meminta pertolongan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala

Kita pun hendaknya meminta kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan yakin, bahwa hanya Allah yang berkuasa memberikan dan menghalangi, sehingga kita meminta dan bersandar kepada-Nya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah, "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Ali Imran: 26)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ

“Jagalah (perintah) Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah (perintah) Allah niscaya Dia akan selalu berada di hadapanmu (dengan pertolongan dan perlindungan-Nya). Jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikit pun kecuali sesuai apa yang telah ditetapkan Allah bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu bahaya kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat menimpakannya kecuali bahaya yang telah ditetapkan Allah bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering (sudah selesai pencatatannya di sisi Allah). (Hr. Tirmidzi dan dia berkata, "Haditsnya hasan shahih.")

5. Mencintai Allah Subhaanahu wa Ta'aala

Kita pun hendaknya mencintai Allah Rabb kita karena Dia sayang kepada kita, dimana setelah Dia menciptakan kita, Dia tidak membiarkan kita begitu saja, bahkan Dia menyiapkan kebutuhan kita agar kita dapat melangsungkan kehidupan kita di dunia. Dia juga membimbing kita agar tidak tersesat dengan mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Oleh karena itu, orang-orang beriman sangat cinta kepada Allah, sebagaimana firman-Nya,

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

 “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 165)

6. Memuliakan syiar-syiarnya

Kita pun hendaknya memuliakan perintah-perintah Allah. Oleh karenanya, kita menjalankan perintah-Nya, serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Kita juga hendaknya tidak bermalas-malasan atau meremehkan ibadah. Kita lakukan hal itu (menghormati syiar-syiar Allah) adalah karena kita tahu bahwa hal itu menambahkan ketakwaan dan menunjukkan ketakwaan dalam hati. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan di hati.” (Terj. Qs. Al Hajj: 32)

7. Marah ketika larangan-larangan Allah dilanggar

Kita juga hendaknya saat melihat orang yang mengerjakan suatu dosa atau tetap di atas maksiat, maka kita marah karena Allah. Oleh karena itu, kita berusaha merubah kemungkaran atau kemaksiatan itu.

Demikian pula di antara dosa besar yang membinasakan seseorang dan menyebabkan kemurkaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala adalah ketika terjadi penghinaan terhadap agama Allah atau terhadap kitab-Nya atau Rasul-Nya. Maka kita mengingkarinya, marah terhadapnya. dan melarang orang yang melakukannya serta memperingatkan azab Allah kepadanya.

8. Bertawakkal kepada Allah

Demikian juga termasuk adab kepada Allah Azza wa Jalla adalah bertawakkal kepada-Nya dalam semua urusan kita, karena Dia memerintahkan kita bertawakkal kepada-Nya dan menjanjikan akan mencukupkan keperluan kita. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

 “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Qs. Ath Thalaq: 3)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Kalau kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tentu kamu akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, ia berangkat dalam keadaan berperut kosong dan pulang dalam keadaan berperut kenyang.” (Hr. Tirmidzi dan Ibnu Majah, ia berkata, “Hadits hasan shahih,” dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat Shahih Ibnu Majah 4164)

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Termasuk adab kepada Allah Azza wa Jalla lainnya adalah:

9. Ridha dengan takdir Allah Subhaanahu wa Ta'aala

Kita hendaknya ridha dengan takdir Allah Subhaanahu wa Ta'aala, karena hal itu termasuk tanda keimanan kepada kepada Allah. Oleh karena itu, kita bersabar dan tidak berkata sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian manusia, “Mengapa Engkau wahai Tuhanku berbuat demikian kepadaku?”

Kita tidak akan menentang takdir Allah, bahkan mengucapkan kata-kata yang membuat Allah Subhaanahu wa Ta'aala ridha, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.---(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali kepada-Nya), “--Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Terj. Qs. Al Baqarah: 155-157)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ{ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ } اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Tidak ada seorang muslim yang ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, “Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Allahumma’jurniy fii mushibati wa akhlif lii khairam minhaa (artinya: sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah pahala terhadap musibahku dan gantilah dengan yang lebih baik daripadanya).” Kecuali Allah akan menggantikan untuknya yang lebih baik daripadanya.” (Hr. Muslim)

10. Bersumpah hanya dengan nama Allah

Termasuk adab kepada Allah juga adalah kita tidak boleh bersumpah kecuali dengan nama Allah dan tidak bersumpah kecuali jika isinya benar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa yang bersumpah, maka bersumpahlah dengan nama Allah atau diam.” (Hr. Bukhari)

11. Bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala

Nikmat yang diberikan Allah kepada kita begitu banyak, bahkan saking banyaknya kita tidak sanggup menghitungnya. Oleh karena itu, hendaknya kita bersyukur kepada Allah baik dengan hati kita, yaitu dengan mengakui bahwa semua nikmat itu berasal dari-Nya, dengan lisan kita, yaitu dengan memuji Allah, dan dengan anggota badannya, yaitu dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya serta menggunakan nikmat-nikmat itu untuk ketaatan kepada-Nya, bukan untuk bermaksiat. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

 “Dan (ingatlah juga), ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Terj. Qs. Ibrahim: 7)

12. Bertobat kepada Allah

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (Qs. An Nuur: 31)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai manusia! Bertobatlah kamu kepada Allah, sesungguhnya aku bertobat dalam sehari kepada-Nya sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim)

Seperti inilah adab seorang muslim terhadap Allah Tuhannya, ia bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, malu kepada-Nya, bertobat dengan sungguh-sungguh kepada-Nya, bertawakkal kepada-Nya, berharap rahmat-Nya, takut kepada azab-Nya, ridha dengan takdir-Nya, sabar terhadap musibah yang menimpanya, tidak berdoa kepada selain-Nya, lisannya senantiasa menyebut nama-Nya, tidak bersumpah kecuali dengan nama-Nya, tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Nya, selalu merasa diawasi-Nya dan berbuat ikhlas kepada-Nya baik di suasana sepi maupun ramai.

Inilah yang bisa khatib sampaikan, semoga bermanfaat. Kita meminta kepada Allah agar Dia selalu membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya dan memberikan kita taufiq untuk menempuhnya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ -- وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ – وَ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

وَقُوْمُوْا إِلَى صَلاَتِكُمْ يَرْحَمُكُمُ اللهُ

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Khutbah Jum'at, Makna dan Konsekwensi Syahadatain

Rabu, 07 September 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم


Khutbah Jum'at

Makna dan Konsekwensi Syahadatain

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أما بعد: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam, Iman, Hidayah, Taufiq, Sehat wal Afiyat, dan nikmat-nikmat lainnya yang sama-sama kita rasakan yang semuanya patut untuk kita syukuri.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Agama Islam dibangun di atas lima dasar, yaitu: bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat lima waktu, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji bagi yang mampu.

Ini disebut rukun Islam. Di antara rukun-rukun tersebut yang pertama dan menjadi pondasinya adalah syahadat Laailaahaillallah dan Muhammad Rasulullah.

Dengan dua kalimat syahadat inilah seorang non muslim menjadi muslim (orang Islam). Ia juga merupakan puncaknya iman dan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu orang lain dari jalan-.  

Namun demikian, banyak sekali orang yang tidak mengetahui maknanya,   sehingga tidak heran jika kita melihat di antara mereka ada yang malah mengerjakan perbuatan yang membatalkan dua kalimat ini (seperti melakukan syirk akbar) atau mengurangi kesempuraannya (seperti melakukan syirk asghar). Oleh karena itu sudah seharusnya kita mengetahui maknanya.

Sebelum mengenal makna “Laailaahaillallah”, hendaknya kita mengetahui makna syahadat (bersaksi) itu sendiri.

Syahadat (Bersaksi) artinya mengakui dan meyakini. Sehingga, jika seseorang bersaksi, maka maksudnya adalah ia mengakui atau mengikrarkan dengan lisannya dan meyakini dengan hatinya.

Sedangkan makna Laailaahaillallah adalah “Laa ma’buuda bihaqqin illallah”, yakni tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Hal ini mengharuskan kita meniadakan sesembahan selain Allah dan menetapkan bahwa ibadah hanya untuk Allah saja.

Apabila seseorang telah bersaksi (mengakui dan meyakini) Laailaahaillallah, maka dia tidak boleh menyembah atau mengarahkan ibadah kepada selain Allah apa pun bentuk ibadah itu. Oleh karena itu, dia tidak boleh ruku’ dan sujud kepada selain Allah, dia tidak boleh berdoa kepada selain Allah, dia tidak boleh bertawakkal kepada selain Allah, dia tidak boleh meminta pertolongan (dalam hal yang tidak disanggupi makhluk) kepada selain Allah, dia tidak boleh berharap kepada selain Allah, dia tidak boleh berkurban/menyembelih untuk selain Allah dan mengarahkan ibadah lainnya kepada selain Allah Ta’ala.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Adapun bersaksi “Muhammad Rasuulullah” memiliki dua rukun, yaitu bersaksi bahwa Beliau adalah hamba Allah dan bersaksi bahwa Beliau adalah rasul/utusan Allah.

Dalam persaksian “Muhammad adalah hamba Allah”, menunjukkan tidak bolehnya kita bersikap ifrath (berlebih-lebihan terhadap Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam), kita tidak boleh menempatkan Beliau melebihi penempatan Allah terhadap Beliau, yaitu sebagai “hamba-Nya”, sehingga kita tidak menjadikan Beliau sebagai tuhan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani kepada Isa putra Maryam, kita tidak boleh berdoa kepada Beliau, meminta kepada Beliau, ruku’-sujud kepada Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dsb. Karena Beliau adalah hamba (manusia seperti halnya kita). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Janganlah kalian memujiku berlebihan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani kepada putra Maryam, aku hanyalah hamba-Nya, katakanlah, “Hamba Allah dan utusan-Nya.” (HR. Bukhari)

Sedangkan maksud “Muhammad adalah utusan Allah” adalah kita meyakini dan mengakui bahwa Beliau adalah orang yang diutus Allah kepada manusia semuanya untuk mengajak mereka kepada-Nya sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan). Di dalam persaksian ini terdapat larangan bersikap tafrith (meremehkan) Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi kepada nabi mereka, dimana mereka tidak bersikap sopan kepada para nabi, bahkan sebagian nabi mereka dustakan dan sebagian lagi mereka bunuh. Oleh karena Beliau adalah utusan Allah, maka sikap kita adalah menaati perintahnya, membenarkan berita yang disampaikannya,  menjauhi larangannya, menghidupkan sunnahnya, mencintai Beliau di atas kecintaan kita kepada seluruh manusia, berhukum dengan hukum Beliau, mengedepankan sabda Beliau di atas seluruh perkataan manusia, dan beribadah kepada Allah sesuai contohnya.

وَفَّقَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ لِقَوْلِ الْحَقِّ وَعَمَلِ الْحَقِّ، وَأَنْ نَكُوْنَ مِنْ أَهْلِ اْلحَقِّ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Khutbah II

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Laailaahaillah adalah kunci surga, namun setiap kunci memiliki gigi-gigi yang berbeda. Jika ternyata giginya berbeda tentu seseorang tidak bisa memasukinya. Wahb bin Munabbih pernah ditanya, "Bukankah Laailaahaillallah kunci surga?" Ia menjawab, "Ya. Tetapi tidak ada satu pun kunci kecuali memiliki gigi-giginya. Jika engkau datang dengan gigi-giginya, maka akan dibukakan kepadamu. Tetapi jika tidak, maka tidak akan dibukakan kepadamu." (Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu'allaq (tanpa sanad))

Oleh karena itu, agar kita dapat membuka pintu surga, maka kita harus mempunyai kunci surga dan gigi kunci itu sesuai dengan gigi kunci surga. Gigi-gigi kunci surga itulah syarat-syarat Laailaahaillallah.

Berikut syarat-syaratnya:

1. Ilmu (mengetahui maknanya), Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

    ”Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan mengetahui “Laailaahaillallah” niscaya ia akan masuk surga.” (HR. Muslim)

2. Yakin, yakni meyakini dengan tidak ragu-ragu terhadap “Laailaahaillallah” (lihat Qs. Al Hujuraat : 15). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ *

    ”Siapa saja yang kamu temui di balik kebun ini bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dengan yakin di hatinya maka berilah kabar gembira dengan surga.”(HR. Muslim)

3. Ikhlas, yakni mengucapkannya ikhlas karena Allah Ta’ala, bukan untuk kepentingan duniawi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ *

    “Orang yang paling bahagia mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengucapkan “laailaahaillallah” dengan ikhlas dari hatinya—atau dirinya” (HR. Bukhari)

4. Shidq, yakni jujur dalam mengucapkan kalimat ini dari hatinya, tidak seperti orang-orang munafik; lisannya mengucapkan kalimat tersebut namun hatinya menolak (lihat Qs. Al Baqarah ayat 8). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

    “Tidak ada seorang pun yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah dengan jujur dari hatinya kecuali Allah akan mengharamkan neraka baginya” (Hr. Bukhari)

5. Mahabbah, yakni ia mencintai kalimat ini, mencintai kandungannya, sehingga ia mencinta orang-orang yang mengucapkannya lagi mengamalkan isinya dan membenci orang-orang yang melakukan sebaliknya. (lihat Qs. Al Baqarah: 165)

6. Inqiyaad, yakni melaksanakan kandungan “laailaahaillah” ini dengan hanya beribadah kepada Allah saja dan meniadakan sesembahan selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

“Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. (Qs. Luqman: 22)

7. Qabul, yakni menerima kandungan kalimat ini baik dengan lisan  (dengan mengucapkannya) maupun dengan hatinya (dengan mencintai, meyakini, ikhlas dan jujur) serta mempraktekkannya dalam keseharian. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ (35) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ (36)

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka  "Laa ilaaha illallah" (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,--Dan mereka berkata, "Apakah Kami harus meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena seorang penyair gila?" (Qs. Ash Shaaffaat : 35-36).

Inilah yang bisa khatib sampaikan, semoga bermanfaat. Kita meminta kepada Allah agar Dia selalu membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya dan memberikan kita taufiq untuk menempuhnya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ -- وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ – وَ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Khutbah Jum'at: Ada Apa di Bulan Muharram?

Kamis, 01 September 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Ada Apa di Bulan Muharram?

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أما بعد: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam, Iman, Hidayah, Taufiq, Sehat wal Afiyat, dan nikmat-nikmat lainnya yang tidak terhitung oleh kita jumlahnya.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Sekarang kita berada di salah satu bulan haram atau bulan suci, yaitu bulan Muharram.

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

"Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah ada dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu…dst." (Terj. Qs. At Taubah : 36)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ ."  

"Setahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram; tiga berurutan yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram, sedangkan Rajab Mudhar antara Jumada (Tsaniyah) dan Sya'ban." (HR. Bukhari)

Disebut Rajab Mudhar, karena suku Mudhar sangat memuliakan bulan haram dibanding suku-suku Arab lainnya.

Bulan ini dinamakan "Muharram" yang artinya "diharamkan" untuk memperkuat keharamannya melakukan dosa di bulan tersebut. Bulan ini berada setelah bulan haji Dzulhijjah, agar manusia pulang dari hajinya dalam keadaan aman tanpa ada yang mengganggu atau menzalimi mereka.

Ibnu Abbas mengatakan dalam menafsirkan ayat "maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan-bulan) itu," (Terj. Qs. At Taubah : 36)

"(Yakni) di seluruh bulan itu, kemudian Allah mengkhususkan di antara bulan-bulan itu yaitu empat bulan, dijadikan-Nya bulan yang empat itu haram (suci) serta dimuliakan-Nya kehormatan bulan-bulan itu. Dia pun menjadikan dosa di bulan haram itu lebih besar dosanya (dibanding bulan lainnya), dan beramal saleh di bulan-bulan itu lebih besar pahalanya."

Tentang keutamaan bulan Muharram Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

« أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ ». وَفِي رِوَايَةٍ: ( اَلصَّلاَةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ )

"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam." Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Yaitu shalat di tengah malam." (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan keutamaan puasa Muharram, dan keutamaannya menduduki posisi kedua setelah puasa Ramadhan. Demikian juga menunjukkan keutamaan bulan Muharram karena disebut sebagai bulan Allah.

Bulan Muharram disebut sebagai bulan Allah sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan ini, karena Allah tidaklah menyandarkan sesuatu kepada-Nya kecuali karena keistimewaannya, seperti Baitullah (rumah Allah), Rasulullah (utusan Allah), dsb.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender hijriyah sebagaimana yang ditetapkan oleh Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu.

Allah Ta'ala menjadikan bulan sebagai tanda-tanda waktu bagi manusia, sebagaimana firman-Nya,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji." (Terj. Qs. Al Baqarah: 189)

Tanda awal dan akhir bulan-bulan tersebut dapat diketahui dengan mudah oleh manusia. Namun sayang, kebanyakan kaum muslimin meninggalkan kalender Hijriah ini dan menggunakan kalender Masehi. Hal ini merupakan tanda kelemahan, kemunduran dan mengekornya kepada non muslim, akibatnya kaum muslimin menjadi jauh dari kalender mereka yang dapat mengingatkan mereka terhadap syi'ar agama dan ibadah mereka. Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim ketika memilih kalender, tetap mencari kalender yang di sana menyebutkan bulan-bulan Hijriah agar mereka dapat mengingat syi'ar agamanya. Misalnya mengingatkannya dengan Bulan Ramadhan, bulan Syawwal, bulan hajji, 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, puasa ayaamul biidh (tengah bulan; 13, 14 dan 15 setiap bulan), bulan Muharram dengan puasa Tasu'a dan 'Asyuranya, dsb.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Oleh karena, bulan Muharram merupakan bulan Allah dan berpuasa di bulan ini merupakan puasa paling utama setelah Ramadhan, lalu bagaimanakah cara berpuasa di bulan ini?

Jika kita melihat sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka kita akan mengetahui bahwa puasa yang dilakukan Beliau di bulan Muharram adalah dengan melakukan puasa Asyura (10 Muharram), dan inilah puasa pertama dalam Islam, dimana sebelum turun kewajiban puasa Ramadhan, puasa ini hukumnya wajib.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menyebutkan,

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى ، قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ . "

"Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, Beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura, maka Beliau bertanya, "Ada apa hari ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah hari yang baik, inilah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Isra'il dari musuh mereka, maka Musa berpuasa di hari ini", Beliau bersabda, "Aku lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian," Beliau kemudian berpuasa di hari itu dan menyuruh para sahabatnya berpuasa." (Hr. Bukhari)

Setelah turun kewajiban puasa Ramadhan, maka puasa Asyura ini hukumnya sunah.

Kemudian puasa ini terus dianjurkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu anhum sehingga sebagian sahabat ada mengatakan, “Sesungguhnya hari ini adalah hari yang dimuliakan oleh orang-orang Yahudi,” maka Beliau bersabda,

فَــإِذَا كـَـانَ اْلعَامُ اْلمُقْبِلُ ـ إِنْ شَاءَ اللهُ ـ صُمْنَا الْـيَـوْمَ الـتَّـاسِــعَ

"Kalau begitu, jika tiba tahun depan –Insya Allah- kita akan berpuasa pada tanggal sembilannya (yakni dengan tanggal sepuluhnya)." (HR. Muslim).

Namun belum tiba tahun berikutnya, Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam sudah wafat.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ  لِيْ وَلَكُمْ

Khutbah II

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Puasa Asyura memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa Asyura, maka Beliau bersabda,

يُكَفِّرُ السَّنَةَ اْلمَاِضَيةِ

"Menghapuskan dosa setahun yang lalu." (Hr. Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Puasa hari 'Arafah akan menghapus dosa dua tahun, hari 'Asyura satu tahun dan amin seseorang (dalam shalatnya) bertepatan dengan amin malaikat akan menghapuskan dosa-dosanya yang telah lalu…dst. Ini semua menghapuskan dosa, yakni jika ada dosa kecil akan dihapusnya, namun jika tidak ada dosa yang kecil maupun yang besar, maka akan dicatat beberapa kebaikan dan ditinggikan derajatnya, tetapi jika ada satu dosa besar atau lebih dan tidak berhadapan dengan dosa kecil, kita berharap amalan tersebut bisa meringankan dosa-dosa besar." (Al Majmu' Juz 6, Shaumu Yaumi 'Arafah)

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Sebagian ahli ilmu menyebutkan tentang urutan puasa Muharram yang paling utama, yaitu:

1.Tanggal 9, 10 dan 11 Muharram.

Ada hadits yang menerangkan berpuasa sebelum dan sesudah tanggal sepuluh, namun haditsnya dha'if. Sehingga tidak bisa dijadikan hujjah, akan tetapi karena bulan Muharram sebagaimana diterangkan adalah bulan yang paling baik untuk dilakukan puasa sunah, sehingga jika seseorang melakukannya maka ia telah melaksanakan anjuran memperbanyak puasa di bulan itu. Imam Ahmad berkata, "Barangsiapa yang ingin berpuasa 'Asyura, maka hendaknya ia berpuasa pada tanggal sembilan dan sepuluh, kecuali jika bulan itu masih musykil sehingga ia mengerjakannya tiga hari; Ibnu Sirin mengatakan seperti itu."

2.Tanggal 9 dan 10 Muharram.

3.10 dan 11 Muharram.

Ini semua untuk menyelisihi orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 saja.

4.Hanya tanggal 10 saja.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid berkata, "Oleh karena itu, puasa 'Asyura ada beberapa tingkatan, paling rendahnya adalah hanya tanggal sepuluh saja dan yang paling atasnya adalah berpuasa tanggal sembilan dan sepuluh, namun semakin banyak puasa di bulan Muharram tentu lebih utama dan lebih baik."

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Jika kita lihat realita sebagian masyarakat dalam menyambut hari 'Asyura, maka ada dua golongan yang keliru seperti di bawah ini:

1.   Golongan yang menyerupai orang yahudi, dimana mereka menjadikan hari 'Asyura sebagai hari raya, ditampakkan pada hari itu syi'ar-syi'ar kemeriahan seperti memakai celak, membagi nafkah kepada keluarga dan kerabat, memasak makanan di luar kebiasaannya, dsb.

2.   Golongan yang menjadikan hari 'Asyura sebagai hari kesedihan dan hari meratap karena terbunuhnya Husain bin 'Ali radhiyallahu 'anhuma, dimana pada hari itu ditampakkan syi'ar-syi'ar jahiliyyah seperti menampar pipi, merobek baju, memukul dada, menyakiti diri dan melantunkan nyanyian-nyanyian kesedihan dsb.

Kedua golongan di atas menyelisihi Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam; menyelisihi ajaran Islam. Yang benar adalah mengerjakan perintah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dengan tidak menyerupai orang-orang Yahudi dan menjauhi perkara bid'ah atau yang diada-adakan.

Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya dan memberikan kita taufiq untuk menempuhnya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ -- وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ – وَ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger