Khutbah Jumat Syaikh Ibnu Utsaimin, Membela Masjid Al Aqsha

Minggu, 21 Agustus 2022

 

بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jumat

Masjid Al Aqsha

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا أما بعد:

Wahai manusia! Kaum Yahudi telah menguasai Masjid Al Aqsha lebih dari delapan tahun, mengadakan kerusakan di sana dan menyiksa penduduknya. Bahkan pada saat ini, pemerintah Yahudi telah mengeluarkan keputusan bolehnya orang-orang Yahudi beribadah di dalam masjid Al Aqsha.

Maksud dari keputusan thagut ini adalah menampakkan syiar-syiar kekafiran di salah satu masjid yang sangat mulia dalam Islam.

Masjid Al Aqsha adalah masjid yang dituju Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam peristiwa isra untuk kemudian dimi’rajkan ke langit yang tinggi menghadap Allah Jalla wa ‘Alaa.

Ia merupakan masjid kedua yang dibangun di muka bumi untuk beribadah kepada Allah dan mentauhidkan-Nya.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan dari Abu Dzar radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, masjid mana yang pertama kali dibangun di bumi?” Beliau menjawab, “Masjidil Haram,” aku bertanya lagi, “Selanjutnya masjid mana?” Beliau menjawab, “Masjid Al Aqsha.” Aku bertanya lagi, “Berapa jarak dibangun antara keduanya?” Beliau menjawab, “40 tahun.”

Masjid Al Aqsha juga merupakan masjid ketiga yang dimuliakan dalam Islam, dimana tidak boleh mengadakan safar dengan maksud ibadah kecuali kepadanya untuk ketaatan kepada Allah serta mengharap karunia dan kemurahan-Nya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Tidak boleh mengadakan safar dengan maksud ibadah kecuali ke tiga masjid; Masjidil haram, masjid Rasul shallallahu alaihi wa sallam (Nabawi), dan masjid Al Aqsha.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Masjid Al Aqsha merupakan masjid yang terletak di negeri suci (Palestina) dan diberkahi yang menjadi tempat tinggal bapak para nabi yaitu Nabi Ibrahim berikut keturunannya selain Nabi Ismail.

Ia merupakan tempat tinggal Nabi Ishaq dan Ya’qub sampai Ya’qub dan keturunannya pergi menuju Mesir dan tinggal di sana sehingga menjadi satu umat di samping penduduk Qibth yang menyiksa mereka dengan siksaan yang buruk sehingga Nabi Musa alaihis salam keluar membawa Bani Israil meninggalkan mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan Bani Israil terhadap nikmat yang besar ini. Nabi Musa alaihis salam juga mengingatkan mereka nikmat itu dan nikmat-nikmat lainnya seperti diangkatnya di antara mereka sebagai nabi dan raja, serta diberikan kenikmatan yang tidak diberikan kepada kaum yang lain di masa mereka.

Mereka juga diperintahkan untuk berjihad melawan orang-orang kejam yang menguasai negeri suci itu (Palestina) serta diberi kabar gembira dengan kemenangan. Nabi Musa alaihis salam berkata,

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الأَرْضَ المُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ

“Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu.” (Qs. Al Maidah: 21)

Allah tentukan negeri itu bagi mereka karena pada waktu itu mereka adalah orang yang paling berhak terhadapnya, dimana mereka adalah orang-orang yang beriman, saleh, dan mengamalkan syariat. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ * إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur, sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwa bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.--Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah).” (Qs. Al Anbiya: 105-106)

Namun mereka menolak untuk berjihad sambil mengatakan, “Sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam, kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya.”

Serta mengatakan, “Wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya, selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.” (Lihat Qs. Al Maidah: 24)

Oleh karena mereka menolak jihad dan menyikapi Nabi mereka dengan ucapan penolakan ini, maka Allah mengharamkan bagi mereka negeri yang suci itu dan mereka tersesat di muka bumi antara Mesir dan Syam selama empat puluh tahun tanpa mengetahui jalan sehingga sebagian besar mereka wafat atau semuanya selain mereka yang lahir di masa kebingungan arah itu. Saat itu Nabi Musa dan Nabi Harun alaihimas salam wafat, lalu digantikan oleh Yusya bin Nun bersama bani Israil yang tersisa yaitu generasi yang baru. Saat itu (jihad dilakukan) sehingga Allah memberikan negeri suci itu untuk mereka dan mereka tetap berada di sana hingga masa Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman alaihis salam, lalu ia membangun Baitul Maqdis, dan Nabi ya’qub juga telah membangunnya sebelum itu.

Saat Bani Israil mendurhakai perintah Rabb mereka dan mendurhakai rasul-rasul-Nya, maka Allah memberikan kekuasaan kepada raja Persia bernama Bukhtanashir, lalu ia menghancurkan negeri mereka dan memporak-porandakan mereka sehingga di antara mereka ada yang terbunuh, tertawan, dan terusir. Ia juga merobohkan Baitul Maqdis untuk pertama kalinya.

Selanjutnya hikmah Allah Azza wa Jalla menghendaki setelah menimpakan hukuman kepada Bani Israil, mereka kembali lagi ke negeri suci dan membangun generasi yang baru. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada mereka harta dan anak dan menjadikan mereka kelompok yang banyak jumlahnya, lalu mereka lupa peristiwa yang mereka alami, mereka juga kafir kepada Allah dan rasul-Nya, dimana setiap kali datang rasul dengan membawa sesuatu yang tidak sesuai hawa nafsu mereka, maka sebagiannya mereka dustakan dan sebagian lagi mereka bunuh.

Maka Allah memberikan kekuasaan lagi kepada sebagian raja Persia dan Romawi, lalu menjajah negeri mereka dan menimpakan kepada mereka siksaan yang pedih serta merobohkan Baitul Maqdis serta membinasakan apa saja yang mereka kuasai.

Itu semua karena perbuatan maksiat yang mereka lakukan dan sikap kufur mereka kepada Allah Azza wa Jalla serta kepada rasul-rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami angkat sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka lakukan.” (Qs. Al An’aam: 129)

Kemudian Baitul Maqdis pun dikuasai oleh orang-orang Nasrani dari bangsa Romawi sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam kurang lebih selama 300 tahun, sehingga Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin pada masa khalifah yang lurus Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu pada tahun ke-15 H, maka Masjid Al Aqsha pun menjadi dipegang penduduknya serta para pewarisnya, yaitu kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ  

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. An Nuur: 55)

Masjid Al Aqsha terus berada di tangan kaum muslimin sampai orang Nasrani Frank (kumpulan suku-suku Jerman) menguasainya dalam perang salib pada tanggal 23 Sya’ban tahun 492 H. Mereka masuk ke Al Quds dengan jumlah kurang lebih 1 juta personel dan membunuh kurang lebih 60.000 kaum muslimin, dan mereka masuk ke masjid serta merampas apa yang ada di sana seperti emas dan perak. Itu adalah hari yang berat bagi kaum muslimin. Ketika itu orang-orang Nasrani menampakkan syiar-syiar mereka di masjid Al Aqsha, memasang salib, memukul lonceng dan keyakinan trinitas pun dimunculkan di sana, yakni keyakinan (kafir) bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, serta keyakinan bahwa Allah adalah Al Masih putera Maryam dan Al Masih adalah putera tuhan.

Hal ini -demi Allah- merupakan fitnah dan cobaan yang besar. Saat itu, orang-orang Nasrani menguasai Masjid Al Aqsha selama lebih dari 90 tahun, sampai Allah menyelamatkan Al Aqsha melalui Shalahuddin Al Ayyubi Yusuf bin Ayyub rahimahullah pada tanggal 27 Rajab tahun 583 H, dimana hal ini merupakan kemenangan yang nyata, hari yang besar dan disaksikan. Allah mengembalikan kemuliaan masjid Al Aqsha, salib dipatahkan, azan dikumandangkan, dan beribadah Allah Yang Mahaesa lagi Yang memberi balasan diserukan.

Selanjutnya kaum Nasrani menyerang kembali kaum muslimin dan menekan raja Al Kamil putera dari saudara Shalahuddin, kemudian melakukan perjanjian damai dengan syarat Baitul Maqdis dikembalikan kepada mereka dan mereka dapat mengendalikannya. Hal ini terjadi pada tahun 626 H, sehingga kaum Nasrani menguasai kembali masjid Al Aqsha, dan ketetapan Allah itu pasti terlaksana. Masjid Al Aqsha terus dikuasai mereka sehingga Allah selamatkan melalui Al Malikush Shalih Ayyub putera saudara Al Kamil pada tahun 642 H dan selanjutnya di bawah kekuasaan kaum muslimin. Namun pada tahun 1387 H, musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya yakni orang-orang Yahudi menduduki kembali Al Aqsha dengan bantuan kawan-kawan mereka yaitu orang-orang Nasrani dan terus di bawah kekuasaan mereka, bahkan mereka tidak mau meninggalkannya sampai-sampai perdana menteri mereka menyatakan –sebagaimana berita yang sampai kepada kami-, “Jika bangsa Israel boleh hengkang dari Tel Aviv, namun mereka tidak boleh hengkang dari Yerussalem; Al Quds.”

Ya. Bangsa Israel tidak akan hengkang dari Al Quds kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan dari Allah Azza wa Jalla, dan pertolongan Allah tidak bisa kita raih kecuali ketika kita membela agama-Nya sebagaimana firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Qs. Muhammad: 7)

Pembelaan kita terhadap agama Allah tidak cukup dengan kalimat yang berapi-api dan ceramah yang menggema, yang hanya membawa masalahnya kepada masalah politik, kekalahan materil, dan problem suatu negeri yang terbatas, bahkan masalah Palestina adalah masalah agama; masalah dunia Islam seluruhnya.

Membela agama Allah adalah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, berpegang dengan agama-Nya lahir maupun batin, serta memohon pertolongan kepada-Nya, serta mempersiapkan kekuatan maknawi maupun kekuatan lahir semampu kita, selanjutnya berperang agar kalimatullah menjadi tinggi dan rumah-Nya dapat kita bersihkan dari kotoran musuh-musuh-Nya.

Adapun ketika kita berusaha mengusir musuh-musuh kita dari negeri kita kemudian kita tempatkan mereka di hati kita dengan cenderung kepada pemikiran mereka dan mengikuti perilaku mereka, atau kita usir mereka namun generasi kita malah menelan dan menikmati pemikiran mereka yang busuk, lalu memuntahkannya di tengah-tengah kita, atau kita berusaha mengusir mereka dari negeri kita namun kita masih melakukan semua itu, maka yang demikian merupakan pertentangan yang nyata, jalan yang tidak selamat, celah yang jauh antara kita dengan mendapatkan pertolongan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ * الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,--(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Qs. Al Hajj: 40-41)

Ya. Mereka (yang menolong agama Allah) mendirikan shalat, menunaikan zakat, beramar ma’ruf dan bernahi munkar, tidak seperti yang disampaikan oleh sebagian penyiar radio pada saat terjadi perang dengan orang-orang Yahudi pada tahun 1387 H, “Besok Ummu Kultsum akan bernyanyi di jantung Tel Aviv.”

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasul-Nya. Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam melakukan shalat di pagi hari saat penaklukan Mekkah sebanyak 8 rakaat bisa sebagai tanda syukur kepada Allah Ta’ala karena penaklukan secara khusus, atau sebagai ibadah berupa shalat Dhuha, sedangkan ibadah juga termasuk bentuik syukur. Demikianlah seharusnya keadaan para penakluk dalam Islam, mereka iringi kemenangan dengan syukur dan takwa.

Maka bertakwalah kalian wahai kaum muslimin dan kembalilah kepada Rabb kalian serta tegakkanlah syariat-Nya, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya jika kalian sebagai orang-orang mukmin.

Ya Allah, tolonglah Islam dan kaum muslimin, bersihkanlah Masjid Al Aqsha dari orang-orang Yahudi, Nasrani, dan kaum munafik. Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan kaum muslimin, sesungguhnya Engkau Maha Pemurah lagi maha Mulia.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمُ وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ .

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا مُبَاركًا طَيِّبًا فِيْهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُو اللهَ بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ نُلاَقِيْهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا . أما بعد

Wahai kaum muslimin! Ingatlah nikmat Allah kepada kalian berupa agama yang lurus ini, tegakkanlah agama ini karena Allah dengan ikhlas dan ikutilah Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Mintalah kepada Allah keteguhan di atas agama-Nya hingga kalian berjumpa dengan Allah Rabbul alamin.

Wahai kaum muslimin! Sesungguhnya agama Islam ini Allah sifati sempurna, Dia berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (Qs. Al Maidah: 3)

Oleh karena itulah agama Islam ini pertengahan di antara agama-agama terdahulu, adil dan pilihan, serta menjadi tolok ukur ajaran agama terdahulu serta menghapusnya, maka tidak ada penegakkan ajaran agama terdahulu setelah datang agama Islam. Di antara pertengahan dan adilnya Islam adalah jika dalam syariat Taurat apabila seseorang membunuh orang lain, maka ia wajib dibunuh dan tidak ada pilihan bagi wali korban untuk memaafkan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ

 “Dan Kami tetapkan dalam kitab Taurat, bahwa jiwa yang dibunuh dibalas dengan jiwa...dst.” (Qs. Al Maidah: 45)

Berbeda dengan syariat Nabi Isa putera Maryam yang mengharuskan memaafkan, karena manusia ketika itu tidak mampu melakukan qishas. Adapun agama Islam ini, maka ia adalah agama yang adil dan sebagai rahmat sebagaimana firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأُنْثَى بِالأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (Qs. Al Baqarah: 178)

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

Teks asli Khutbah: https://t.me/wawasan_muslim/12979

Alih Bahasa:

Marwan bin Musa

Sunnah-Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam Yang Terlupakan (3)

 بسم الله الرحمن الرحيم




Sunnah-Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam Yang Terlupakan (3)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut beberapa sunnah-sunnah Nabi shallallahu alaih wa sallam yang terlupakan yang kami terjemahkan dari risalah Sunan Mansiyah yang diterbitkan oleh Mibrah at Tawashul Al Khairiyyah dan kami berikan tambahan. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.

Sunnah-Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam Yang Terlupakan

31.   Berwudhu sebelum tidur

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «طَهِّرُوا هَذِهِ الْأَجْسَادَ طَهَّرَكُمُ اللَّهُ، فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَبِيتُ طَاهِرًا إِلَّا بَاتَ مَعَهُ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، لَا يَنْقَلِبُ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلَّا قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا»

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sucikanlah jasad ini -semoga Allah menyucikan kalian-. Hal itu karena tidaklah seorang hamba bermalam dalam keadaan suci melainkan akan ikut bermalam bersamanya seorang malaikat di dalam kainnya, dimana ia tidaklah berbalik sesaat di malam hari melainkan malaikat itu akan berdoa, “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu, karena ia bermalam dalam keadaan suci.” (Hr. Thabrani dalam Al Awsath, dinyatakan hasan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 3936)

32.   Bertemu dengan saudara sambil tersenyum

عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ»

Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu ia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Janganlah kamu menganggap remeh sedikit pun perbuatan baik meskipun hanya bertemu dengan saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (Hr. Muslim)

33.   Shalat memakai sandal bersih

عَنْ يَعْلَى بْنِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خَالِفُوا الْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ، وَلَا خِفَافِهِمْ»

Dari Ya’la bin Syaddad bin Aus, dari ayahnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Selisihilah orang-orang Yahudi, mereka tidak shalat mengenakan sandal dan sepatu.” (Hr. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani)

34.   Tidak mencela makanan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: «مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan. Jika Beliau suka, maka Beliau makan, dan jika tidak suka, maka Beliau tinggalkan.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

35.   Berdoa setelah azan

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ»

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa salam, Beliau bersabda, “Barang siapa yang ketika setelah mendengar muazin mengucapkan, “Asyhadu allaa ilaaha illallah...dan seterusnya sampai wa bil Islaami diinaa” (artinya: aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agamaku), maka akan diampuni dosa-dosanya.”  (Hr. Bukhari dan Muslim)

31.   Membaca surah Al Ikhlas dan Mu’awwidzatain (Al Falaq dan An Naas) sebelum tidur.

عَنْ عَائِشَةَ: " أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ "

Dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika mendatangi tempat tidurnya di setiap malam, maka Beliau menghimpun kedua telapak tangannya, lalu meniup keduanya dengan sedikit air liur dan membaca Qul huwallahu ahad (surah Al Ikhlas), Qul a’udzu birabbil falaq (surah Al Falaq), dan Qul a’udzu birabbin naas (surah An Naas), lalu Beliau mengusap ke bagian badan yang mudah baginya; diawali bagian kepala dan wajah serta bagian depan badannya. Beliau melakukan hal itu tiga kali.” (Hr. Bukhari)

32.   Melakukan shalat Dhuha

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاَثٍ: «صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Kekasihku (Rasulullah) shallallahu alaihi wa sallam berpesan kepadaku untuk melakukan tiga hal, yaitu: berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, melakukan shalat Dhuha dua rakaat, dan berwitir sebelum tidur.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

33.   Mengawali dengan wudhu dalam mandi janabat

عَنْ عَائِشَةَ، زَوْجِ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلم " أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الجَنَابَةِ، بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي المَاءِ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ، ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ يُفِيضُ المَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ "

Dari Aisyah radhiyallahu anha istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika mandi janabat mengawali dengan mencuci kedua tangannya, lalu berwudhu seperti wudhu untuk shalat, kemudian memasukkan jari-jarinya ke dalam air lalu mengeluarkannya dan menyela-nyela pangkal rambutnya dengan jari-jarinya, kemudian Beliau menuangkan air di atas kepalanya sebanyak tiga kali, lalu meratakan air ke seluruh jasadnya.”   (Hr. Bukhari dan Muslim)

34.   Doa mengenakan pakaian baru

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَجَدَّ ثَوْبًا سَمَّاهُ بِاسْمِهِ، عِمَامَةً، أَوْ قَمِيصًا، أَوْ رِدَاءً، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ»

Dari Abu Sa’id ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila memakai pakaian baru, maka Beliau menyebut pakaian itu dengan namanya baik berupa sorban, gamis, atau selendang, lalu Beliau berdoa, “Allahumma lakal hamdu...dst.” (artinya: Ya Allah, untuk-Mu segala puji. Engkau yang memakaikan pakaian ini kepadaku. Aku meminta kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang dibuat untuknya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang dibuat untuknya.” (Hr. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

35.   Berdoa ketika mendengar ayam jantan berkokok

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا، وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar ayam jantan berkokok, maka mintalah kepada Allah karunia-Nya, karena ia melihat malaikat, dan apabila kalian mendengar ringkikan keledai, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari setan, karena ia melihat setan.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

36.   Membaca ayat kursi setelah shalat

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ – رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مَنْ قَرَأَ آيَةَ اَلْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ اَلْجَنَّةِ إِلَّا اَلْمَوْتُ - رَوَاهُ النَّسَائِيُّ , وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membaca ayat kursi di akhir setiap shalat fardhu, maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali maut.” (Hr. Nasa’i dalam Amalul Yaumi wal Lailah, dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

37.   Shalat dua rakaat di masjid sepulang dari safar

عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «كَانَ لَا يَقْدَمُ مِنْ سَفَرٍ إِلَّا نَهَارًا فِي الضُّحَى، فَإِذَا قَدِمَ بَدَأَ بِالْمَسْجِدِ، فَصَلَّى فِيهِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ جَلَسَ فِيهِ»

Dari Ka’ab bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pulang dari safar kecuali di siang hari di waktu Dhuha. Ketika Beliau tiba, maka Beliau mengawali ke masjid dan shalat dua rakaat di dalamnya lalu duduk.” (Hr. Muslim)

38.   Menjaga Shalat sunah rawatib

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الجَنَّةِ: أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الفَجْرِ "

Dari Aisyah radhiyallahu anha ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang rutin mengerjakan dua belas rakaat shalat sunah, maka Allah akan bangunkan untuknya istana di surga, yaitu: empat rakaat sebelum shalat Zhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah shalat Maghrib, dua rakaat setelah shalat Isya, dan dua rakaat sebelum shalat Subuh.” (Hr. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

39.   Merubah warna uban dan menjauhi warna hitam

عَنْ جَابِرٍ قَالَ أَتَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَبِي قُحَافَةَ أَوْ جَاءَ عَامَ الْفَتْحِ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ مِثْلُ الثَّغَامِ أَوْ مِثْلُ الثَّغَامَةِ فَأُمِرَ بِهِ إِلَى نِسَائِهِ قَالَ غَيِّرُوا هَذَا الشَّيْبَ وَ جَنِّبُوهُ السَّوَادَ

Dari Jabir ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membawa Abu Quhafah (ayah Abu bakar) atau ia datang pada saat Fathu Makkah, sedangkan kepala dan janggutnya seperti kapas, lalu ia diperintahkan dibawa ke istri-istrinya dan Beliau bersabda, “Rubahlah warna uban ini dan jauhilah warna hitam.” (Hr. Ahmad)

40.   Melakukan shalat witir

عَنْ أَبِي بَصْرَةَ قَالَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِنَّ اللهَ زَادَكُمْ صَلَاةً، وَهِيَ الْوِتْرُ، فَصَلُّوهَا فِيمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلَاةِ الْفَجْرِ "

Dari Abu Bashrah ia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menambahkan shalat kepadamu, yaitu shalat witir, maka lakukanlah antara shalat Isya dan shalat Subuh.” (Hr. Ahmad, dinyatakan shahih isnadnya oleh pentahqiq Musnad Ahmad cet. Ar Risalah)

41.   Larangan mengkhususkan puasa pada hari Jumat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «لاَ يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ، إِلَّا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah sekali-kali di antara kalian berpuasa pada hari Jumat, kecuali jika ia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (Hr. Bukhari)

Bersambung...

Wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Fitnah Akhir Zaman

Senin, 15 Agustus 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Fitnah Akhir Zaman

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut syarah hadits fitnah akhir zaman. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.

Hadits Fitnah Akhir Zaman

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «تَكُونُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنٌ كَقِطَعِ اللَّيْلِ المُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ أَقْوَامٌ دِينَهُمْ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا»

Dari Anas bin Malik, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

“Sebelum tibanya hari Kiamat akan ada banyak fitnah, seperti potongan malam yang gelap. Ketika itu, ada seorang yang paginya sebagai orang mukmin, namun sorenya sebagai orang kafir, atau sorenya sebagai orang mukmin, namun pagi harinya sebagai orang kafir. Ada orang-orang yang menjual agamanya dengan perhiasan dunia yang sedikit.” (Hr. Tirmidzi, dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani)

Syarah/Penjelasan:

Hadits ini di antara bukti kenabian Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dimana sebelum tibanya hari kiamat Beliau menyatakan akan ada banyak fitnah, dan itu telah kita saksikan sekarang. Di zaman ini telah tersebar berbagai fitnah (godaan) baik fitnah syubhat maupun fitnah syahwat, yang nanti akan diterangkan lebih lanjut tentang fitnah-fitnah itu insya Allah.

Keadaan fitnah itu seperti potongan malam yang gelap, yakni perumpamaannya seperti di malam yang gelap, yang seseorang tidak mengetahui apa yang ada di sekitarnya sampai-sampai ia tidak bisa mengira apa yang dirabanya apakah tali atau ular karena suasananya yang gelap. Demikianlah fitnah ketika itu, dimana kebenaran saat itu menjadi samar.

Saking dahsyatnya fitnah itu, sampai ada seorang yang paginya sebagai seorang mukmin, namun sorenya berubah menjadi orang kafir, atau sorenya sebagai seorang mukmin, namun keesokan paginya berubah menjadi seorang kafir. Dan hal ini telah kita rasakan sekarang, dimana berbagai fitnah mudah sekali tersebar di zaman ini, seperti melalui media sosial, internet, televisi, dan sebagainya serta membuat seseorang meninggalkan agamanya. Bahkan ada yang menggadaikan agamanya hanya karena perhiasan dunia yang rendah ini, wal ‘iyadz billah.

Pembagian fitnah

Jika kita perhatikan nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah, kita dapat mengetahui bahwa fitnah itu ada yang berupa fitnah syubhat dan ada yang berupa fitnah syahwat.

Fitnah Syubhat

Fitnah syubhat berupa pernyataan-pernyataan yang batil namun dihias dengan kalimat yang indah oleh kawan-kawan setan seakan-akan menjadi kebenaran. Misalnya –di zaman dahulu-  pernyataan kelompok-kelompok menyimpang seperti Jahmiyyah yang menolak sifat Allah, Qadariyyah yang mengingkari takdir, Ittihadiyyah yang menganggap tuhan menyatu dengan makhluk, dan lain-lain. Di zaman sekarang contoh fitnah syubhat adalah liberalisme yang menyeru kepada kebebasan, sekularisme yang hendak memisahkan agama dari negara, pluralisme yang menyatakan semua agama sama, komunisme yang menolak ajaran agama, dan lain-lain.

Kita dapat mengetahui batilnya pernyataan-pernyataan itu dengan mempelajari kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam serta dengan bertanya kepada para ulama.

Batilnya liberalisme karena di dalamnya menyeru kepada kebebasan yang akan membuat manusia hidup seperti hewan tanpa aturan dan norma, dan keadaannya akan seperti di jalan umum ketika tidak ada rambu-rambu lalu lintas, maka yang ada adalah kekacauan, kemacetan, dan kecelakaan.

Batilnya sekularisme karena sama saja tidak mengindahkan ajaran agama Islam yang Allah turunkan agar dijadikan pedoman dalam hidup di dunia, dan karena Islam adalah agama yang lengkap; yang bukan hanya mengatur terkait hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, tetapi mengatur pula hubungan seorang hamba dengan orang lain. Allah Ta’ala juga berfirman,

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124)

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.--Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (Qs. Thaahaa: 123-124)

Batilnya pluralisme; karena orang yang menyatakan semua agama sama tidak memperhatikan ajaran masing-masing agama yang jelas berbeda. Kalau semua ajaran agama sama, tentu semuanya akan bersama shalat Jumat, shalat jamaah, berpuasa Ramadhan, membayar zakat, berhaji, dsb. Di samping itu, Allah menyatakan bahwa Dia tidak menerima agama selain Islam. Dia berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imran: 85)

Oleh karena itu, jalan menuju surga Allah hanya satu yaitu lewat jalan Islam, karena semua jalan telah ditutup oleh Allah Azza wa Jalla selain Islam sebagaimana ketika ketika menuju ke sebuah tempat, kemudian semua pintu ke tempat itu ditutup selain satu pintu, maka kita tidak bisa masuk ke tempat itu kecuali melalui satu pintu itu.

Sedangkan batilnya komunisme sangat jelas sekali karena mereka menolak ajaran agama, dan terbukti ketika mereka berkuasa melakukan tindak kezaliman kepada manusia dan tidak mengindahkan norma-norma agama.

Fitnah syubhat ini pertama kali dimunculkan oleh Iblis ketika ia menolak perintah Allah Azza wa Jalla untuk sujud kepada Adam dengan menyatakan bahwa dirinya lebih baik daripada Adam; ia diciptakan dari api sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Padahal jika diperhatikan dengan seksama, tanah lebih baik daripada api, keadaan tanah mudah diolah, lebih stabil, bermanfaat, dan menumbuhkan. Berbeda dengan api yang membahayakan, membakar, tergesa-gesa, dan labil.

Fitnah syubhat ini dihias indah oleh para pengikut setan sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Qs. Al An’aam: 112)

Seorang ulama bernama Abu Bakar bin Ayyasy rahimahullah,

“Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penduduk bumi sedangkan mereka berada dalam kerusakan, maka Allah memperbaiki kondisi mereka dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, barang siapa yang mengajak untuk mengikuti selain petunjuk yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang mengadakan kerusakan.”

Maka berbagai ideologi dan pemikiran yang bertentangan dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah batil dan sebagai ajakan kepada kerusakan, seperti liberalisme, sosialisme, komunisme, pluralisme, kapitalisme, sekularisme, dan sebagainya.

Fitnah Syahwat

Fitnah syahwat adalah godaan-godaan yang sejalan dengan hawa nafsu yang memalingkan seseorang dari agamanya, seperti fitnah atau godaan wanita, harta, dan tahta (kekuasaan). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali Imran: 14)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda tentang fitnah wanita,

«إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ»

“Dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah (pengganti) bagi generasi sebelum kalian, lalu Dia memperhatikan apa yang kalian kerjakan. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah terkait wanita.” (Hr. Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadits Abu Sa’id Al Khudri)

Tentang fitnah harta, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي المَالُ»

“Sesungguhnya setiap umat mempunyai fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.” (Hr. Tirmidzi dan Hakim dari hadits Ka’ab bin Iyadh, dan dishahihkan oleh Al Albani)

Tentang fitnah tahta atau kekuasaan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»

“Dua ekor serigala yang lapar dan dilepas di tengah-tengah kambing tidaklah lebih berbahaya daripada daripada bahayanya ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan terhadap agama seseorang.” (Hr. Tirmidzi dari hadits Ka’ab bin Malik, dishahihkan oleh Al Albani)

Bahkan keluarga; anak dan istri bisa sebagai fitnah dalam arti membuat seseorang lalai terhadap agama, membuatnya meninggalkan perintah Allah dan mengerjakan larangan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. At Taghabun: 15)

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Wahai orang-orang beriman! Janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Qs. Al Munafiqun: 9)

Fitnah syahwat ini pernah menimpa Adam ‘alaihis salam ketika ia tergoda memakan buah yang dilarang Allah, akhirnya Beliau dikeluarkan dari surga, setelah itu Beliau bertobat dan Allah pun menerima tobatnya. Untuk menghadapi fitnah syahwat ini adalah dengan bersabar menjalankan ketaatan kepada Allah, bersabar menjauhi maksiat, dan istiqamah di atas agama-Nya.

Faedah:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Fitnah itu sebabnya dua: kurangnya ilmu atau lemahnya kesabaran." (Al Furu 10/181)

Kiat Istiqamah di atas agama

Agar kita tetap istiqamah di atas agama Allah dan tidak terbawa oleh fitnah, di antara kiatnya adalah sebagai berikut:

1. Berdoa kepada Allah Azza wa Jalla meminta keteguhan di atas agama-Nya

Allah Azza wa Jalla menyebutkan permohonan Ahli Ilmu ketika mereka menghadapi fitnah syubhat; mereka berdoa,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

 (Mereka berdoa), "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.  Sesungguhnya Engkau Maha pemberi (karunia)". (Qs. Ali Imran: 8)

Anas radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sering berdoa,

«يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»

“Wahai Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati ini agar tetap di atas agama-Mu.”

Maka Anas bertanya, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau bawa, lalu apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?” Beliau bersabda,

«نَعَمْ، إِنَّ القُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ»

 “Ya. Sesungguhnya hati manusia di antara dua jari dari jari-jari Allah, Dia mudah membalikkannya bagaimana pun yang dikehendaki-Nya.” (Hr. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

2. Berpegang dengan kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. Ali Imran: 101)

Ayat ini jelas sekali, bahwa sarana terbesar untuk istiqamah di atas agama Allah adalah mendatangi Al Qur’an dengan membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya, serta mendatangi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan mempelajarinya, karena keduanya membuat seseorang tidak kembali kepada kekafiran sebagaimana diterangkan dalam ayat di atas. Di samping itu, karena di dalam Al Qur’an memuat targhib (dorongan) dan tarhib (peringatan), kisah-kisah, dan nasihat yang sangat membantu sekali seseorang untuk istiqamah di atas agama Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي، وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat setelahnya dengan berpegang kepada keduanya, yaitu kitabullah dan sunnahku, dan keduanya tidak akan berpisah sampai mendatangi telagaku.” (Hr. Hakim dari Abu Hurairah, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 2937 dan Ash Shahihah no. 1761)

3. Mengamalkan ilmu yang telah diketahui

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),” (Qs. An Nisaa: 66)

Ayat ini juga menunjukkan, bahwa istiqamah dapat diperoleh dengan mengamalkan nasihat yang disampaikan, tidak cukup hanya banyak mendengar nasihat, namun tidak diamalkan.

4. Membaca kisah para nabi dan orang-orang terdahulu

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, adalah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Huud: 20)

5. Bergaul dengan orang-orang saleh

Allah Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan sore hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya itu melewati batas.” (Qs. Al Kahfi: 28)

Allah Azza wa Jalla juga menceritakan penyesalan orang-orang yang zalim karena salah memilih teman, Dia berfirman,

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, "Wahai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul"--Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).--Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia.” (Qs. Al Furqan: 27-29).

Wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger