Fitnah Akhir Zaman

Senin, 15 Agustus 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Fitnah Akhir Zaman

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut syarah hadits fitnah akhir zaman. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.

Hadits Fitnah Akhir Zaman

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «تَكُونُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنٌ كَقِطَعِ اللَّيْلِ المُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ أَقْوَامٌ دِينَهُمْ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا»

Dari Anas bin Malik, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

“Sebelum tibanya hari Kiamat akan ada banyak fitnah, seperti potongan malam yang gelap. Ketika itu, ada seorang yang paginya sebagai orang mukmin, namun sorenya sebagai orang kafir, atau sorenya sebagai orang mukmin, namun pagi harinya sebagai orang kafir. Ada orang-orang yang menjual agamanya dengan perhiasan dunia yang sedikit.” (Hr. Tirmidzi, dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani)

Syarah/Penjelasan:

Hadits ini di antara bukti kenabian Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dimana sebelum tibanya hari kiamat Beliau menyatakan akan ada banyak fitnah, dan itu telah kita saksikan sekarang. Di zaman ini telah tersebar berbagai fitnah (godaan) baik fitnah syubhat maupun fitnah syahwat, yang nanti akan diterangkan lebih lanjut tentang fitnah-fitnah itu insya Allah.

Keadaan fitnah itu seperti potongan malam yang gelap, yakni perumpamaannya seperti di malam yang gelap, yang seseorang tidak mengetahui apa yang ada di sekitarnya sampai-sampai ia tidak bisa mengira apa yang dirabanya apakah tali atau ular karena suasananya yang gelap. Demikianlah fitnah ketika itu, dimana kebenaran saat itu menjadi samar.

Saking dahsyatnya fitnah itu, sampai ada seorang yang paginya sebagai seorang mukmin, namun sorenya berubah menjadi orang kafir, atau sorenya sebagai seorang mukmin, namun keesokan paginya berubah menjadi seorang kafir. Dan hal ini telah kita rasakan sekarang, dimana berbagai fitnah mudah sekali tersebar di zaman ini, seperti melalui media sosial, internet, televisi, dan sebagainya serta membuat seseorang meninggalkan agamanya. Bahkan ada yang menggadaikan agamanya hanya karena perhiasan dunia yang rendah ini, wal ‘iyadz billah.

Pembagian fitnah

Jika kita perhatikan nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah, kita dapat mengetahui bahwa fitnah itu ada yang berupa fitnah syubhat dan ada yang berupa fitnah syahwat.

Fitnah Syubhat

Fitnah syubhat berupa pernyataan-pernyataan yang batil namun dihias dengan kalimat yang indah oleh kawan-kawan setan seakan-akan menjadi kebenaran. Misalnya –di zaman dahulu-  pernyataan kelompok-kelompok menyimpang seperti Jahmiyyah yang menolak sifat Allah, Qadariyyah yang mengingkari takdir, Ittihadiyyah yang menganggap tuhan menyatu dengan makhluk, dan lain-lain. Di zaman sekarang contoh fitnah syubhat adalah liberalisme yang menyeru kepada kebebasan, sekularisme yang hendak memisahkan agama dari negara, pluralisme yang menyatakan semua agama sama, komunisme yang menolak ajaran agama, dan lain-lain.

Kita dapat mengetahui batilnya pernyataan-pernyataan itu dengan mempelajari kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam serta dengan bertanya kepada para ulama.

Batilnya liberalisme karena di dalamnya menyeru kepada kebebasan yang akan membuat manusia hidup seperti hewan tanpa aturan dan norma, dan keadaannya akan seperti di jalan umum ketika tidak ada rambu-rambu lalu lintas, maka yang ada adalah kekacauan, kemacetan, dan kecelakaan.

Batilnya sekularisme karena sama saja tidak mengindahkan ajaran agama Islam yang Allah turunkan agar dijadikan pedoman dalam hidup di dunia, dan karena Islam adalah agama yang lengkap; yang bukan hanya mengatur terkait hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, tetapi mengatur pula hubungan seorang hamba dengan orang lain. Allah Ta’ala juga berfirman,

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124)

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.--Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (Qs. Thaahaa: 123-124)

Batilnya pluralisme; karena orang yang menyatakan semua agama sama tidak memperhatikan ajaran masing-masing agama yang jelas berbeda. Kalau semua ajaran agama sama, tentu semuanya akan bersama shalat Jumat, shalat jamaah, berpuasa Ramadhan, membayar zakat, berhaji, dsb. Di samping itu, Allah menyatakan bahwa Dia tidak menerima agama selain Islam. Dia berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imran: 85)

Oleh karena itu, jalan menuju surga Allah hanya satu yaitu lewat jalan Islam, karena semua jalan telah ditutup oleh Allah Azza wa Jalla selain Islam sebagaimana ketika ketika menuju ke sebuah tempat, kemudian semua pintu ke tempat itu ditutup selain satu pintu, maka kita tidak bisa masuk ke tempat itu kecuali melalui satu pintu itu.

Sedangkan batilnya komunisme sangat jelas sekali karena mereka menolak ajaran agama, dan terbukti ketika mereka berkuasa melakukan tindak kezaliman kepada manusia dan tidak mengindahkan norma-norma agama.

Fitnah syubhat ini pertama kali dimunculkan oleh Iblis ketika ia menolak perintah Allah Azza wa Jalla untuk sujud kepada Adam dengan menyatakan bahwa dirinya lebih baik daripada Adam; ia diciptakan dari api sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Padahal jika diperhatikan dengan seksama, tanah lebih baik daripada api, keadaan tanah mudah diolah, lebih stabil, bermanfaat, dan menumbuhkan. Berbeda dengan api yang membahayakan, membakar, tergesa-gesa, dan labil.

Fitnah syubhat ini dihias indah oleh para pengikut setan sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Qs. Al An’aam: 112)

Seorang ulama bernama Abu Bakar bin Ayyasy rahimahullah,

“Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penduduk bumi sedangkan mereka berada dalam kerusakan, maka Allah memperbaiki kondisi mereka dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, barang siapa yang mengajak untuk mengikuti selain petunjuk yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang mengadakan kerusakan.”

Maka berbagai ideologi dan pemikiran yang bertentangan dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah batil dan sebagai ajakan kepada kerusakan, seperti liberalisme, sosialisme, komunisme, pluralisme, kapitalisme, sekularisme, dan sebagainya.

Fitnah Syahwat

Fitnah syahwat adalah godaan-godaan yang sejalan dengan hawa nafsu yang memalingkan seseorang dari agamanya, seperti fitnah atau godaan wanita, harta, dan tahta (kekuasaan). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali Imran: 14)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda tentang fitnah wanita,

«إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ»

“Dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah (pengganti) bagi generasi sebelum kalian, lalu Dia memperhatikan apa yang kalian kerjakan. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah terkait wanita.” (Hr. Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari hadits Abu Sa’id Al Khudri)

Tentang fitnah harta, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي المَالُ»

“Sesungguhnya setiap umat mempunyai fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.” (Hr. Tirmidzi dan Hakim dari hadits Ka’ab bin Iyadh, dan dishahihkan oleh Al Albani)

Tentang fitnah tahta atau kekuasaan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»

“Dua ekor serigala yang lapar dan dilepas di tengah-tengah kambing tidaklah lebih berbahaya daripada daripada bahayanya ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan terhadap agama seseorang.” (Hr. Tirmidzi dari hadits Ka’ab bin Malik, dishahihkan oleh Al Albani)

Bahkan keluarga; anak dan istri bisa sebagai fitnah dalam arti membuat seseorang lalai terhadap agama, membuatnya meninggalkan perintah Allah dan mengerjakan larangan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. At Taghabun: 15)

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Wahai orang-orang beriman! Janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Qs. Al Munafiqun: 9)

Fitnah syahwat ini pernah menimpa Adam ‘alaihis salam ketika ia tergoda memakan buah yang dilarang Allah, akhirnya Beliau dikeluarkan dari surga, setelah itu Beliau bertobat dan Allah pun menerima tobatnya. Untuk menghadapi fitnah syahwat ini adalah dengan bersabar menjalankan ketaatan kepada Allah, bersabar menjauhi maksiat, dan istiqamah di atas agama-Nya.

Faedah:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Fitnah itu sebabnya dua: kurangnya ilmu atau lemahnya kesabaran." (Al Furu 10/181)

Kiat Istiqamah di atas agama

Agar kita tetap istiqamah di atas agama Allah dan tidak terbawa oleh fitnah, di antara kiatnya adalah sebagai berikut:

1. Berdoa kepada Allah Azza wa Jalla meminta keteguhan di atas agama-Nya

Allah Azza wa Jalla menyebutkan permohonan Ahli Ilmu ketika mereka menghadapi fitnah syubhat; mereka berdoa,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

 (Mereka berdoa), "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.  Sesungguhnya Engkau Maha pemberi (karunia)". (Qs. Ali Imran: 8)

Anas radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sering berdoa,

«يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»

“Wahai Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati ini agar tetap di atas agama-Mu.”

Maka Anas bertanya, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau bawa, lalu apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?” Beliau bersabda,

«نَعَمْ، إِنَّ القُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ»

 “Ya. Sesungguhnya hati manusia di antara dua jari dari jari-jari Allah, Dia mudah membalikkannya bagaimana pun yang dikehendaki-Nya.” (Hr. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

2. Berpegang dengan kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. Ali Imran: 101)

Ayat ini jelas sekali, bahwa sarana terbesar untuk istiqamah di atas agama Allah adalah mendatangi Al Qur’an dengan membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya, serta mendatangi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan mempelajarinya, karena keduanya membuat seseorang tidak kembali kepada kekafiran sebagaimana diterangkan dalam ayat di atas. Di samping itu, karena di dalam Al Qur’an memuat targhib (dorongan) dan tarhib (peringatan), kisah-kisah, dan nasihat yang sangat membantu sekali seseorang untuk istiqamah di atas agama Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي، وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat setelahnya dengan berpegang kepada keduanya, yaitu kitabullah dan sunnahku, dan keduanya tidak akan berpisah sampai mendatangi telagaku.” (Hr. Hakim dari Abu Hurairah, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 2937 dan Ash Shahihah no. 1761)

3. Mengamalkan ilmu yang telah diketahui

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),” (Qs. An Nisaa: 66)

Ayat ini juga menunjukkan, bahwa istiqamah dapat diperoleh dengan mengamalkan nasihat yang disampaikan, tidak cukup hanya banyak mendengar nasihat, namun tidak diamalkan.

4. Membaca kisah para nabi dan orang-orang terdahulu

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, adalah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Huud: 20)

5. Bergaul dengan orang-orang saleh

Allah Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan sore hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya itu melewati batas.” (Qs. Al Kahfi: 28)

Allah Azza wa Jalla juga menceritakan penyesalan orang-orang yang zalim karena salah memilih teman, Dia berfirman,

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, "Wahai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul"--Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).--Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia.” (Qs. Al Furqan: 27-29).

Wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Sunnah-Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam Yang Terlupakan (2)

Kamis, 28 Juli 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Sunnah-Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam Yang Terlupakan (2)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut beberapa sunnah-sunnah Nabi shallallahu alaih wa sallam yang terlupakan yang kami terjemahkan dari risalah Sunan Mansiyah yang diterbitkan oleh Mibrah at Tawashul Al Khairiyyah dan kami berikan tambahan. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.

Sunnah-Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam Yang Terlupakan

14.   Shalat sunah dua rakaat di rumah ketika hendak keluar dan ketika masuk ke rumah agar terhindar dari keburukan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ تَمْنَعَانِكَ مَخْرَجَ السُّوْءِ، وَإِذَا دَخَلْتَ مَنْزِلَكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ تَمْنَعَانِكَ مَدْخَلَ السُّوْءِ.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Apabila engkau hendak keluar dari rumahmu, maka shalatlah dua rakaat untuk menghindarkanmu dari tempat keluar yang buruk, dan apabila engkau masuk ke rumah, maka shalatlah dua rakaat agar menghindarkanmu dari tempat masuk yang buruk.” (Hr. Al Mukhlish dalam haditsnya seperti disebutkan dalam Al Muntaqa (1/69/12), Al Bazzar dalam Al Musnad (81), Dailami dalam Musnadnya (1/1/108), Abdul Ghani Al Maqdisi dalam Akhbarush Shalah (1/67, 2/68), dishahihkan oleh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahiihah no. 1323)

15.   Mengucapkan salam kepada anak-anak

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «مَرَّ عَلَى غِلْمَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ»

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah melewati anak-anak, lalu Beliau memberi salam kepada mereka.” (Hr. Muslim)

16.   Melakukan shalat dua rakaat di rumah sepulang shalat Ied

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَجَعَ مِنَ الْمُصَلَّى صَلَّى رَكْعَتَيْنِ» هَذِهِ سُنَّةٌ عَزِيزَةٌ، بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ "

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila pulang dari lapangan shalat Ied, melakukan shalat dua rakaat.” (Hr. Hakim, ia berkata, “Ini adalah sunnah yang mulia dengan isnad yang shahih, namun keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak menyebutkan.” (Dishahihkan oleh Adz Dzahabi)

17.   Ketika lalat masuk ke dalam bejana

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ، فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila lalat jatuh di bejana salah seorang di antara kamu, maka tenggelamkanlah lalat itu, lalu angkat dan buanglah, karena pada salah satu sayapnya ada penyakit, dan pada sayap yang satu lagi ada obatnya.” (Hr. Bukhari)

18.   Memberi kabar gembira dengan neraka ketika melewati kubur orang musyrik

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْأَعْرَابِيِّ: «حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ مُشْرِكٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ»

Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada seorang Arab badui, “Di mana saja engkau lewati kuburan orang musyrik, maka berikan kabar gembira kepadanya dengan neraka.” (Hr. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani)

19.   Bertakbir ketika jalan menaik, dan bertasbih ketika jalan menurun

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا»

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma ia berkata, “Kami bertakbir ketika jalan menaik dan bertasbih ketika jalan menurun.” (Hr. Bukhari)

20.   Memberi salam kepada orang muslim yang kita kenal dan yang tidak kita kenal

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ: «تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ»

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma, bahwa ada seorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Ajaran Islam mana yang lebih banyak manfaatnya?” Beliau menjawab, “Yaitu engkau beri makan orang lain dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

21.   Duduk ketika makan dan minum

عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، «أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا» ، قَالَ قَتَادَةُ: فَقُلْنَا فَالْأَكْلُ، فَقَالَ: «ذَاكَ أَشَرُّ أَوْ أَخْبَثُ»

Dari Anas, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa Beliau melarang minum sambil berdiri. Qatadah berkata, “Kami pun bertanya, “Jika makan bagaimana?” Ia menjawab, “Itu lebih buruk atau lebih jelek lagi.” (Hr. Muslim)

22.   Tidak melabuhkan kain melewati mata kaki

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda, “Kain apa saja yang melewati dua mata kaki, maka tempatnya di neraka.” (Hr. Bukhari)

23.   Membiarkan janggut dan memendekkan kumis

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " خَالِفُوا المُشْرِكِينَ: وَفِّرُوا اللِّحَى، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ "

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Selisihilah orang-orang musyrik, biarkanlah janggut lebat dan potonglah kumis.” (Hr. Bukhari)

24.   Meludah tipis ke kiri dalam shalat ketika terjadi was-was

عَنْ أَبِي الْعَلَاءِ، أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ أَبِي الْعَاصِ، أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي وَقِرَاءَتِي يَلْبِسُهَا عَلَيَّ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ، وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا» قَالَ: فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللهُ عَنِّي

Dari Abul Ala, bahwa Utsman bin Abil Ash pernah datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan menghalangiku dari perhatian terhadap shalatku dan bacaanku; ia menyamarkannya bagiku.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah setan yang disebut Khanzab. Jika engkau merasakannya, maka mintalah perlindungan kepada Allah dan meludah tipislah ke kirimu tiga kali.” Utsman bin Abil Ash berkata, “Maka aku melakukannya, lalu Allah hilangkan was-was itu dariku.” (Hr. Muslim)

25.   Melakukan Sunanul Fitrah

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: قَصُّ الشَّارِبِ، وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ، وَالسِّوَاكُ، وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ، وَقَصُّ الْأَظْفَارِ، وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ، وَنَتْفُ الْإِبِطِ، وَحَلْقُ الْعَانَةِ، وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ " قَالَ زَكَرِيَّا: قَالَ مُصْعَبٌ: وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةَ

Dari Aisyah radhiyallahu anha ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Ada 10 sunnah yang termasuk fitrah (yakni sunanul fitrah), yaitu: memotong kumis, membiarkan janggut, bersiwak, menghirup air ke hidung, memotong kuku, mencuci lipatan jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan beristinja'." Zakariyya salah seorang perawi hadits tersebut berkata, "Saya lupa yang kesepuluhnya, namun kalau tidak salah berkumur-kumur." (Hr. Muslim)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: «وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمِ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفِ الْإِبِطِ، وَحَلْقِ الْعَانَةِ، أَنْ لَا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً»

Dari Anas bin Malik ia berkata, “Telah diberikan waktu kepada kami (oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam) terkait memotong kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan agar kami tidak membiarkan lebih dari 40 hari.” (Hr. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

26.   Melakukan shalat Dhuha empat rakaat

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَلَّى الضُّحَى أَرْبَعًا، وَقَبْلَ الْأُولَى أَرْبَعًا بُنِيَ لَهُ بِهَا بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ»

Dari Abu Musa ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang melakukan shalat Dhuha empat rakaat, dan melakukan shalat sebelum Zhuhur empat rakaat, maka akan dibangunkan untuknya istana di surga.” (Hr. Thabrani dalam Al Awsath, dan dinyatakan hasan oleh Al Albani)

27.   Meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan di malam hari

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظَرَ إِلَى القَمَرِ، فَقَالَ: «يَا عَائِشَةُ اسْتَعِيذِي بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا، فَإِنَّ هَذَا هُوَ الغَاسِقُ إِذَا وَقَبَ»

Dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam saat melihat bulan berkata, “Wahai Aisyah, berlindunglah kepada Allah dari keburukan makhluk ini (bulan), karena inilah malam ketika telah gelap gulita.” (Hr. Tirmidzi, dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani)

28.   Menghadap makmum seusai shalat fardhu

عَنِ الْبَرَاءِ، قَالَ: كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ، يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ، قَالَ: فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: «رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ - أَوْ تَجْمَعُ - عِبَادَكَ» .

Dari Barra ia berkata, “Kami ketika shalat di belakang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam senang berada di sebelah kanannya; Beliau menghadap kepada kami dengan wajahnya. Ketika itu aku mendengar Beliau berdoa,

«رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ - أَوْ تَجْمَعُ - عِبَادَكَ»

“Ya Rabbi, jagalah aku dari azab-Mu pada hari Engkau membangkitkan atau mengumpulkan hamba-hamba-Mu.” (Hr. Muslim)

29.   Membaca Laailaahaillallahu wahdahu laa syariika lah...dst. (10 x) seusai shalat Subuh dan Maghrib.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: " مَنْ قَالَ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ وَيَثْنِيَ رِجْلَهُ مِنْ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ، وَالصُّبْحِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ، كُتِبَ لَهُ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ، وَرُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ، وَكَانَتْ حِرْزًا مِنْ كُلِّ مَكْرُوهٍ، وَحِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَلَمْ يَحِلَّ لِذَنْبٍ يُدْرِكُهُ إِلَّا الشِّرْكَ، وَكَانَ مِنْ أَفْضَلِ النَّاسِ عَمَلًا، إِلَّا رَجُلًا يَفْضُلُهُ، يَقُولُ: أَفْضَلَ مِمَّا قَالَ "

Dari Abdurrahman bin Ghanam, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam Beliau bersabda, “Barang siapa yang sebelum berpaling dan melipat kakinya (masih dalam keadaan seperti duduk tasyahhud) di shalat Maghrib dan shalat Subuh membaca Laailaahaillahu wahdahu laa syariiika lah...dan seterusnya sampai wahuwa alaa kulli syai’in qadir (artinya: tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya pujian, di Tangan-Nya semua kebaikan. Dia yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu) sebanyak sepuluh kali, maka akan dicatat baginya setiap ucapan itu sepuluh kebaikan, dihapuskan sepuluh kesalahan, ditinggikan sepuluh derajat, dan kalimat itu sebagai penjaga dari semua yang tidak diinginkan dan dari setan yang terkutuk, dan tidak ada dosa yang tidak terhapus olehnya kecuali syirik, dan dia akan menjadi orang yang terbaik amalnya kecuali jika ada orang yang melebihi amalnya atau melebihi ucapannya.”  (Hr. Ahmad, dinyatakan hasan lighirih oleh pentahqiq Musnad Ahmad)  

30.   Membaca surah As Sajdah dan Al Insan di hari Jumat pada shalat Subuh

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ اَلْفَجْرِ يَوْمَ اَلْجُمْعَةِ : (الم تَنْزِيلُ ) اَلسَّجْدَةَ , و (هَلْ أَتَى عَلَى اَلْإِنْسَانِ) . مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya membaca di shalat Fajar pada hari Jum’at dengan Alif Lam Mim Tanzil (surah As Sajdah) dan Hal ataa ‘alal insaan (surah Al Insan). (Hr. Bukhari dan Muslim)

وَلِلطَّبَرَانِيِّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ مَسْعُودٍ : يُدِيمُ ذَلِكَ

Sedangkan dalam riwayat Thabrani dari hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu disebutkan, “Beliau selalu rutin membaca surat itu." (Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Ash Shagiir (986) dengan sanad yang dha'if, hadits ini memiliki cacat lagi yang lain yang telah diterangkan oleh Abu Hatim dalam Al 'Ilal (1/204/586)).

Bersambung...

Wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Sunnah-Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam Yang Terlupakan (1)

Jumat, 08 Juli 2022

 

بسم الله الرحمن الرحيم



Sunnah-Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam Yang Terlupakan (1)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut beberapa sunnah-sunnah Nabi shallallahu alaih wa sallam yang terlupakan yang kami terjemahkan dari risalah Sunan Mansiyah yang diterbitkan oleh Mibrah at Tawashul Al Khairiyyah dan kami berikan tambahan. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.

Sunnah-Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam Yang Terlupakan

1.       Sesekali berjalan kaki tanpa alas kaki

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ، أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحَلَ إِلَى فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ وَهُوَ بِمِصْرَ، فَقَدِمَ عَلَيْهِ، فَقَالَ: أَمَا إِنِّي لَمْ آتِكَ زَائِرًا، وَلَكِنِّي سَمِعْتُ أَنَا وَأَنْتَ حَدِيثًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَوْتُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَكَ مِنْهُ عِلْمٌ، قَالَ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: كَذَا وَكَذَا، قَالَ: فَمَا لِي أَرَاكَ شَعِثًا وَأَنْتَ أَمِيرُ الْأَرْضِ؟ قَالَ: «إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْهَانَا عَنْ كَثِيرٍ مِنَ الإِرْفَاهِ» ، قَالَ: فَمَا لِي لَا أَرَى عَلَيْكَ حِذَاءً؟ قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا أَنْ نَحْتَفِيَ أَحْيَانًا»

Dari Abdullah bin Buraidah ia berkata, “Seorang laki-laki dari kalangan sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah berkunjung ke rumah Fadhalah bin Ubaid yang berada di Mesir, ia datang kepadanya dan berkata, “Sebenarnya aku datang bukan untuk berkunjung, akan tetapi aku dan engkau telah mendengar hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang aku harap engkau mempunyai ilmu tentang itu.” Sahabat itu berkata, “Hadits tentang apa itu?” Sahabat tersebut berkata, “Tentang ini dan itu.” Selanjutnya Fadhalah berkata, “Mengapa kulihat rambutmu tampak kusut padahal engkau seorang pemimpin?” Ia menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang kita bermewah-mewahan.” Fadhalah bertanya lagi, “Mengapa kulihat engkau tidak mengenakan sepatu?” Ia menjawab, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam sesekali memerintahkan kita untuk berjalan tanpa alas kaki.” (Hr. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani)

2.       Makan dengan tiga jari

عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ بِثَلَاثِ أَصَابِعَ، وَيَلْعَقُ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يَمْسَحَهَا»

Dari putera Ka’ab bin Malik, dari ayahnya ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam makan dengan tiga jari, dan menjilati tangannya sebelum mengusapnya.” (Hr. Muslim)

3.       Mengusap muka setelah bangun tidur (untuk menghilangkan sisa-sisa tidur)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ، ثُمَّ قَرَأَ العَشْرَ الآيَاتِ الخَوَاتِمَ مِنْ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bangun tidur (di malam hari) lalu duduk dan menghilangkan sisa-sisa tidur dari wajahnya dengan tangannya (dengan mengusapnya), lalu membaca sepuluh ayat terakhir surah Ali Imran.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

4.       Melakukan shalat taubat ketika terjatuh dalam dosa

عَنْ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا، فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: {وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ} [آل عمران: 135] إِلَى آخِرِ الْآيَةِ

Dari Abu Bakar radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang hamba yang melakukan dosa, lalu memperbagus wudhunya, kemudian berdiri shalat dua rakaat dan memohon ampunan kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuninya.” Kemudian Beliau membacakan ayat ini,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Qs. Ali Imran: 135)

(Hr. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani)

5.       Membaca doa kaffaratul majlis ketika bangkit dari majlis, seusai shalat (sunah), dan seusai membaca Al Qur’an

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: مَا جَلَسَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجْلِسًا قَطُّ، وَلَا تَلَا قُرْآنًا، وَلَا صَلَّى صَلَاةً إِلَّا خَتَمَ ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ مَا تَجْلِسُ مَجْلِسًا، وَلَا تَتْلُو قُرْآنًا، وَلَا تُصَلِّي صَلَاةً إِلَّا خَتَمْتَ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ؟ قَالَ: " نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْرًا خُتِمَ لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ، وَمَنْ قَالَ شَرًّا كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً: سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ "

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah duduk di suatu majlis, tidak pula membaca Al Qur’an, dan melakukan suatu shalat kecuali menutup dengan kalimat ini, lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat dirimu tidak duduk di suatu majlis, membaca Al Qur’an, atau melakukan shalat melainkan engkau tutup dengan kalimat itu?” Beliau menjawab, “Ya. Barang siapa yang sebelumnya mengucapkan kebaikan, maka akan dicap dengan kebaikan itu, dan barang siapa yang sebelumnya mengucapkan keburukan, maka kalimat itu akan menjadi penebusnya, yakni, “Subhaanaka wabihamdika Laailaahaillaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik.(artinya: Mahasuci Engkau ya Allah sambil memuji-Mu. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampunan kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (As Sunanul Kubra no. 10067 9/123)

6.       Berdoa setelah shalat Dhuha

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الضُحى ثُم قَال: (اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وتُب عَلي إنَّك أَنت التَّوابُ الرَّحيم) حَتَّى قَالها مَائة مَرة.

Dari Aisyah radhiyallahu anha ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah shalat Dhuha, setelah itu berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَتُبْ عَلَيَّ إنَِّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

“Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Beliau mengucapkannya hingga seratus kali. (Hr. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, dan dishahihkan oleh Al Albani)

7.       Menutup bejana dan mengikat geriba (wadah minum dari kulit)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «غَطُّوا الْإِنَاءَ، وَأَوْكُوا السِّقَاءَ، فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ، لَا يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ، أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ، إِلَّا نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ»

Dari Jabir bin Abdullah ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tutuplah bejana dan ikatlah geriba, karena dalam setahun ada suatu malam yang wabah turun di malam itu, dimana ketika wabah turun, maka akan masuk ke dalam bejana yang tidak ada penutup dan geriba yang tidak diikat.” (Hr. Muslim)

8.       Menahan anak-anak di waktu senja (Maghrib)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ - أَوْ أَمْسَيْتُمْ - فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ، وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ، وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ»

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila waktu malam telah tiba atau kalian memasuki waktu senja, maka tahanlah anak-anak kalian, karena ketika itu setan bertebaran.  Tetapi apabila malam telah berlalu sebagian, maka lepaslah mereka. Tutuplah pintu dan sebutlah nama Allah, karena setan tidak akan membuka pintu yang tertutup. Ikatlah geriba kalian dan sebutlah nama Allah, serta tutupilah bejana kalian dan sebutlah nama Allah, meskipun untuk menutupnya dengan membentangkan sesuatu di atasnya, dan padamkanlah lampu-lampu kalian.” (Hr. Muslim)

9.       Bersiwak

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Kalau bukan karena aku khawatir memberatkan umatku atau memberatkan manusia, tentu aku suruh mereka bersiwak setiap hendak shalat.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Siwak sangat dianjurkan ketika wudhu, bangun dari tidur, ketika bau mulut berubah, ketika membaca Al Qur’an, dan ketika akan shalat. Demikian pula ketika akan masuk masjid dan masuk rumah. Hal ini berdasarkan hadits Miqdam bin Syuraih, dari ayahnya ia berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah, “Dengan apa Nabi shallallahu alaihi wa sallam memulai ketika masuk ke rumahnya?” Ia menjawab, “Dengan bersiwak.” (Hr. Muslim)

10.   Meminta izin tiga kali ketika hendak masuk ke rumah orang lain

عَنْ أَبِي مُوْسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «الِاسْتِئْذَانُ ثَلَاثٌ، فَإِنْ أُذِنَ لَكَ، وَإِلَّا فَارْجِعْ»

Dari Abu Musa Al Asy’ariy radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Meminta izin itu tiga kali. Jika diizinkan bagimu untuk masuk (silahkan masuk). Jika tidak, maka pulanglah.” (Hr. Muslim)

11.   Tidak duduk di pertengahan antara bayang-bayang dan sinar matahari

عَنْ أَبَِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي الشَّمْسِ -وَقَالَ مَخْلَدٌ- فِي الْفَيْءِ فَقَلَصَ عَنْهُ الظِّلُّ وَصَارَ بَعْضُهُ فِي الشَّمْسِ وَبَعْضُهُ فِي الظِّلِّ فَلْيَقُمْ

Dari Abu Hurairah ia berkata, Abul Qaasim (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu berada di bawah sinar matahari –perawi yang bernama makhlad- mengatakan “di bawah bayang-bayang,” lalu bayang-bayang tersebut bergeser darinya sehingga separuh badannya terkena sinar matahari, sedangkan separuhnya lagi di bawah bayang-bayang, maka bangunlah.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani).

عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُجْلَسَ بَيْنَ الضِّحِّ وَالظِّلِّ وَقَالَ مَجْلِسُ الشَّيْطَانِ

Dari salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk antara sinar matahari dan bayang-bayang. Beliau bersabda, “(Itu adalah) majlis setan.”  (Hr. Ahmad. Syu’aib Al Arnauth berkata, “Hadits shahih, dan isnadnya hasan, para perawinya adalah tsiqah; para perawi Bukhari-Muslim selain Katsir bin Katsir, ia adalah Al Bashriy". Al Hafizh menyatakan maqbul (diterima)).

12.   Jika seseorang berhadats, maka dianjurkan memegang hidungnya, setelah itu ia keluar dari barisan

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا أَحْدَثَ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَأْخُذْ بِأَنْفِهِ، ثُمَّ لِيَنْصَرِفْ»

Dari Aisyah radhiyallahu anha ia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu berhadats dalam shalatnya, maka hendaknya ia pegang hidungnya lalu keluar.” (Hr. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Albani)

Hikmahnya adalah agar ia tidak merasa malu keluar dari barisan.

13.   Jangan tanya makanan atau minuman yang disajikan saudaranya apakah dari harta halal atau haram

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِذَا دَخَلَ اَحَدُكُمْ عَلَى اَخِيْهِ الْمُسْلِمِ فَأَطْعَمَهُ طَعَامًا فَلْيَأْكُلْ مِنْ طَعَامِهِ وَلاَ يَسْأَلْ عَنْهُ فَإِنْ سَقَاهُ شَرَابًا مِنْ شَرَابِهِ فَلْيَشْرَبْ وَلاَ يَسْأَلْ عَنْهُ

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu menemui saudaranya yang muslim, lalu saudaranya menghidangkan makanan, maka makanlah dan jangan bertanya tentang (makanan) itu. Demikian juga apabila saudaranya menghidangkan minuman, maka minumlah dan jangan bertanya tentang (minuman) itu.” (HR. Ahmad, Hakim, dan Al Khathib, dan Dailami, dishahihkan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahiihah no. 627)

Bersambung...

Wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger