Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash

Rabu, 20 April 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash

radhiyallahu 'anhu

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut kisah Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.

Mengenal Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu

Beliau termasuk di antara sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga.

Beliau seorang yang pertama melepas panahnya di jalan Allah.

Beliau adalah paman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari pihak ibu yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepadanya, “Biarlah ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Beliau adalah pahlawan perang Qadisiyyah dan penakluk Madain (ibukota Persia).

Beliau itulah Sa’ad bin Abi Waqqash bin  Wuhaib. Wuhaib adalah kakek Sa’ad yang merupakan paman Aminah binti Wahb (ibu Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam). Oleh karenanya, orang-orang mengenal Sa’ad sebagai paman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari pihak ibu.

Sa’ad tinggal di kabilah Bani Zuhrah yang merupakan paman-paman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari pihak ibu Beliau.

Masuk Islamnya Sa’ad bin Abi Waqqash

Sa’ad termasuk pemuda mulia penduduk Mekkah dan paling mulia nasabnya. Ketika dilihatnya kaum Jahiliyyah yang rusak, maka hatinya sedih melihat keadaan itu, dimana bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan yang sangat buruk. Ketika itu Sa’ad berharap ada sesuatu yang terjadi di alam ini yang menjadi sebab selamatnya manusia dari kegelepan kepada cahaya.

Allah Azza wa Jalla menginginkan kebaikan untuk umat ini, maka Allah turunkan wahyu untuk menyinari alam semesta agar menjadi jelas bagi manusia jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ya, telah diutus Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam kepada manusia untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Ketika itu, usia Sa’ad baru 17 tahun, namun ia sebagai seorang pemuda yang cerdas, tidak seperti pemuda-pemuda lainnya yang menghabiskan waktunya dalam kesia-siaan dan permainan. Saat itu, ia mengisi waktu-waktunya dengan memanah dan melatih fisiknya.

Ketika ia mendengar diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, maka ia tidak menunggu nanti; bahkan saat itu juga ia taruh tangannya di tangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menyatakan keislamannya. Dia adalah seorang yang mengenal Nabi shallallahu alaihi wa sallam saat Beliau belum diutus, ia tahu betul bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang yang jujur dan amanah.

Keteguhan Sa’ad di atas Islam

Ketika masuk Islam, maka Sa’ad mendapatkan ujian dan cobaan yang tidak disangka-sangka sebelumnya, bahkan saking beratnya ujian itu turun tentang beliau ayat Al Qur’an.

Sa’ad adalah seorang yang sangat berbakti kepada ibunya. Ketika ia masuk Islam, maka ibunya berkata, “Wahai Sa’ad! Bagaimana engkau sampai meninggalkan agama nenek moyangmu dan memeluk agama yang baru yang kami tidak mengenalinya?” Kamu harus meninggalkan agama itu atau aku akan mogok makan dan minum sampai aku mati, sehingga orang-orang Arab mencelamu bahwa kamu telah membunuh ibumu sendiri.”

Ibunya terus di atas sikap itu, karena ia tahu bahwa Sa’ad sangat mencintai ibunya, ia mengira bahwa dengan cara itu hati anaknya akan luluh dan mau mengikutinya meninggalkan agamanya.

Tetapi apa sikap Sa’ad kepadanya? Ia berkata kepada ibunya, “Demi Allah, wahai ibu! Meskpun aku sangat mencintai ibu, namun aku sangat cinta kepada Allah. Jika ibu memiliki seratus nyawa, lalu nyawa itu keluar satu persatu, aku tetap tidak akan meninggalkana agama ini selamanya. Silahkan sekarang ibu mau makan atau tidak.”

Ketika ibunya merasakan bahwa anaknya tidak akan meninggalkan agama Islam, akhirnya ibunya mau makan. Berkenaan dengan kisah ini, turun ayat,

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Qs. Luqman: 15)

Ketika berada di dekat Nabi shallallahu alaihi wa sallam

Sa’ad hidup di dekat Nabi shallallahu alaihi wa sallam sehingga dapat mengambil banyak kebaikan dari Beliau shallallahu alaihi wa sallam.

Sa’ad adalah seorang yang sangat mencintai Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahkan ia ingin menebus Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan dirinya, anaknya, hartanya, dan dunianya.

Aisyah radhiyallahu anha menyebutkan, bahwa suatu ketika di malam hari, Nabi shallallahu alaihi wa sallam merasakan kegelisahan hingga tidak bisa tidur, lalu Beliau bersabda, “Wahai kiranya ada seorang yang saleh di antara para sahabatku yang siap berjaga-jaga di malam  ini?” Aisyah berkata, “Lalu kami mendengar suara senjata,” maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapa ini?” Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku wahai Rasulullah. Aku datang untuk menjagamu,” maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun bisa tidur hingga aku mendengar suara dengkurannya.” (Sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga mencintai Sa’ad bin Abi waqqash radhiyallahu anhu. Suatu hari Nabi shallallahu alaihi wa sallam duduk bersama para sahabatnya, lalu datang Sa’ad bin Abi Waqash, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ini pamanku (dari jalur ibu), maka tunjukkanlah kepadaku siapa pamannya?” (Hr. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

Bahkan suatu hari Nabi shallallahu alaihi wa sallam berada di atas gunung Hira bersama sebagian sahabatnya, lalu gunung itu pun bergetar, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

«اثْبُتْ حِرَاءُ إِنَّهُ لَيْسَ عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ، أَوْ صِدِّيقٌ، أَوْ شَهِيدٌ»

“Tenanglah wahai HIra! Karena di atasmu hanyalah seorang Nabi, seorang shiddiq, atau seorang yang syahid.”

Ketika itu di atas gunung Hira ada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’id bin Zaid. (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendengar Sa’ad bin Abi Waqqash sakit, maka Beliau pergi menjenguknya dan meletakkan tangannya pada dahi Sa’ad, mengusap wajahnya dan perutnya sambil bersabda,

«اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، وَأَتْمِمْ لَهُ هِجْرَتَهُ»

  “Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad dan sempurnakanlah hijrahnya.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Sa’ad juga adalah orang yang pertama melepas panahnya di jalan Allah. Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengirim sariyyah (pasukan kecil) yang di sana terdapat Sa’ad ke sebuah tempat di Hijaz yang disebut ‘Rabigh’, lalu kaum musyrikin mendatangi kaum muslimin untuk menyerang mereka, maka mereka segera dihalau oleh Sa’ad bin Abi Waqqash dengan panah-panahnya. Inilah perang pertama dalam Islam dan beliaulah orang pertama yang melepas panahnya di jalan Allah Azza wa Jalla.

Kesabaran Sa’ad bin Abi Waqqash dalam menghadapi gangguan

Sa’ad bin Abi Waqqash telah mendapatkan banyak gangguan dari orang-orang musyrik, akan tetapi ia menghadapinya dengan sabar sambil mengharap pahala.

Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam masuk ke dalam area wilayah Abu Thalib saat terjadi pemboikotan yang dilakukan kaum musyrik selama tiga tahun hingga Beliau memakan dedaunan pohon, Sa’ad tetap bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam hingga Allah mengangkat penderitaan ini, demikian juga ia hijrah ke Madinah dan tinggal dekat dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Jihad Sa’ad bin Abi Waqqash

Sa’ad bin Abi Waqqash hadir dalam semua perang yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan tidak pernah absen sedikit pun.

Dalam perang Badar, Sa’ad berperang dengan beraninya. Ketika itu adiknya Umair bin Abi Waqqash ikut hadir padahal usianya tidak lebih dari 13 tahun. Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam hendak memulangkannya karena usianya yang masih terlalu muda, Umair menangis, maka Sa’ad berkata, “Biarkanlah dia wahai Rasulullah, semoga Allah mengaruniakan syahid kepadanya di jalan-Nya.”

Umair pun berperang hingga gugur sebagai syahid, dan ketika itu kaum muslimin memperoleh kemenangan.

Ketika itu Sa’ad kembali dengan luka-luka dan kegembiraannya. Saat itu, Sa’ad bahagia karena menangnya kaum muslimin, namun bersedih karena gugur adiknya Umair bin Abi Waqqash.

Dalam perang Uhud, awalnya kemenangan diraih kaum muslimin, tetapi ketika regu pemanah mendurhakai perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan turun dari bukit karena melihat ghanimah yang ditinggalkan kaum musyrik, maka kaum musyrik berbalik menyerang kaum muslimin dan membunuh tujuh puluh sahabat mulia dan terus hendak membunuh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sehingga Beliau memanggil para sahabatnya lalu berkumpul di sekitar Beliau tujuh orang sahabat dari kalangan Anshar dan dua orang sahabat dari kalangan Muhajirin, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash dan Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhum.

Ketika itu Sa’ad melepaskan panahnya untuk melindungi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sampai-sampai Beliau memberikan panah kepada Sa’ad dan bersabda, “Panahlah wahai Sa’ad, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.” (Sebagaimana dalam Shahih Bukhari dan Muslim)

Ketika itu ada orang musyrik yang membunuh banyak kaum muslimin, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Panahlah wahai Sa’ad, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.”

Sa’ad berkata, “Maka aku ambil panahku yang tidak memiliki mata panah lalu aku lepaskan hingga mengenai dahinya, ia pun jatuh dan terlihat auratnya hingga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tertawa dan tampak gigi gerahamnya.” (Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim)

Bahkan Sa’ad melihat para malaikat yang turun dalam perang Uhud. Ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada perang Uhud ditemani dua orang yang ikut berperang melindungi Beliau. Keduanya memakai pakaian putih yang belum pernah kulihat keduanya sebelum itu maupun setelahnya.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Disebutkan, bahwa Sa’ad pulang dari perang Uhud dengan membawa luka, kesedihan dan kegembiraan. Ia sedih karena para sahabat mulia yang terbunuh, dan bahagia karena mendapatkan doa Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

اَللَّهُمَّ سَدِّدْ رَمْيَتَهُ وَأَجِبْ دَعْوَتَهُ

 “Ya Allah tepatkanlah sasaran panahnya dan kabulkanlah doanya.” (Hr. Al Bazzar, Al Haitsami berkata, “Dalam sanadnya terdapat Utsman bin Abdurrahman Al Waqqashi, ia adalah matruk (tertuduh dusta))

Oleh karenanya setiap kali Sa’ad memanah, maka selalu tepat sasaran, dan senantiasa mengenai musuhnya di samping sebagai orang yang terkabul doanya.

Sa’ad selalu hadir dalam perang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hingga Beliau wafat. Demikian pula keadaannya setelah Beliau wafat, ia terus hadir dalam semua peperangan di zaman Abu Bakar dan Umar hingga pada masa Umar dilakukan penaklukan besar-besaran ketika itu Sa’ad berperang bagaikan singa yang menerkam yang mencerai-beraikan pasukan musuh untuk mewujudkan kemenangan bagi Islam dan kaum muslimin.

Pahlawan perang Qadisiyyah

Hari berlalu, bangsa Persia pun bangkit mempersiapkan diri untuk memerangi kaum muslimin. Mereka siapkan personil dan perlengkapan yang banyak dan lengkap.

Ketika itu Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu ingin terjun langsung berjihad dan memimpin pasukan kaum muslimin, akan tetapi sebagian sahabat mengusulkan agar beliau tetap berada di Madinah dan mengangkat sahabat yang lain yang memimpin pasukan.

Saat ia bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya dalam masalah ini tiba-tiba ada surat dari Sa’ad bin Abi Waqqash yang ketika itu diutus Umar mengumpulkan zakat dari kabilah Hawazin.

Ketika Umar melihat surat itu, maka ia segera berkata kepada manusia, “Saya telah mendapatkan orang yang akan memimpin pasukan ini!”

Orang-orang berkata, “Siapa dia wahai Amirul Mukminin?”

Ia menjawab, “Dialah singa yang menerkam, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash.”

Maka Umar memanggil Sa’ad bin Abi Waqqash dan mengangkatnya sebagai pemimpin pasukan, serta mewasiatkan kepadanya berbuat baik kepada pasukan yang bersamanya, lalu ia berkata, “Wahai Sa’ad, jangan sampai engkau terpadaya hanya kata-kata bahwa engkau adalah paman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (dari pihak ibunya) dan sahabatnya, karena tidak ada hubungan nasab antara kita dengan Allah selain dengan takwa.”

Maka berangkatlah ksatria Islam ini (Sa’ad bin Abi Waqqash) bersama pasukannya sambil berkata, “Hasbunallahu wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik yang diserahi urusan). Sa’ad juga mulai mengatur pasukan dan mendorong mereka untuk menaati Allah Azza wa Jalla.

Maka sampailah pasukan di Qadisiyyah, lalu Sa’ad mengirimkan sebagian sahabatnya untuk mencari kabar pasukan Persia, kemudian mengirimkan beberapa delegasi ke Kisra raja Persia dan kepada Rustum komandan pasukannya untuk berunding dan menawarkan tuntutan Islam kepada mereka, yaitu: masuk Islam, bayar pajak (jizyah), atau perang. Adanya delegasi ini memiliki pengaruh besar di hati Kisra dan komandannya, yaitu Rustum.

Mulailah kaum muslimin bersiap-siap perang. Ketika itu Sa’ad merasakan berbagai penderitaan, akan tetapi beliau sanggup memikulnya dan memimpin pasukan menghadapi Persia, akan tetapi ia tidak bisa berperang langsung, bahkan duduk di atas batu besar yang tinggi memperhatikan manusia dan menentukan langkah perang melawan Persia.

Jihad melawan Persia berlangsung selama tiga hari, dan Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin dalam perang Qadisiyah ini serta memperoleh banyak ghanimah.

Sa’ad juga menulis surat kepada Umar bin Khaththab untuk memberitahukan kabar gembira kemenangan pasukannya terhadap musuh, maka Umar bergembira sekali dan bersujud syukur kepada Allah Azza wa Jalla.

Menyeberang sungai di atas kuda

Selanjutnya Umar bin Khaththab menulis surat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash untuk memberangkatkan pasukannya menaklukkan Madain ibukota Persia.

Maka pasukan pun berangkat ke Madain, dan kaum muslimin terus memperoleh kemenangan di atas kemenangan hingga mereka tiba di tepi sungai Dajlah yang menghadap ke Madain. Ketika itu, Sa’ad ingin membawa pasukan kaum muslimin melintasi sungai itu di atas kapal untuk mencapai Madain, akan tetapi pasukan Persia telah mengumpulkan kapal-kapalnya agar kaum muslimin tidak menaikinya.

Ketika tiba malam hari, kaum muslimin pun tidur, dan Sa’ad bermimpi bahwa kuda-kuda kaum muslimin dapat melintasi sungai Dajlah.

Ketika tiba pagi hari, maka ia mengumpulkan pasukannya dan berkata, “Sesungguhnya aku berazam melakukan tiga hal.”

Pasukannya berkata, “Berazam untuk apa? Semoga Allah menguatkan kami dan kamu di atas petunjuk.”

Sa’ad berkata, “Aku telah berazam untuk melintai sungai dengan kuda.”

Pasukannya berkata, “Kami akan bersamamu insya Allah.”

Maka kaum muslimin melintasi sungai Dajlah dengan kuda-kuda mereka sambil melakukan obrolan sebagaimana mereka melakukan obrolan ketika di daratan. Ketika raja Persia melihat mereka dapat berjalan di atas air, maka ia segera lari dari istananya dan berkata kepada rakyat Persia, “Demi Allah, kalian bukan berperang dengan manusia, tetapi kalian berperang dengan jin.”

Ketika itu kaum muslimin dapat melintasi sungai dan menaklukkan Madain serta masuk ke istana raja Persia dan ruangannya yang besar sambil mengumpulkan ghanimah yang sangat banyak.

Demikianlah, Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin melalui tangan komandan mulia Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu.

Allah mengabulkan doanya

Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah berdoa untuk Sa’ad,

اَللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لِسَعْدٍ إِذَا دَعَاكَ

“Ya Allah, kabulkanlah doa Sa’ad ketika ia berdoa kepadamu.” (Hr. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani)

Oleh karenanya Sa’ad menjadi orang yang doanya mustajab.

Umar bin Khaththab pernah mengangkat Sa’ad sebagai gubernur Kufah, namun penduduk Kufah mengeluhkan terkait Sa’ad, sehingga Umar mengganti Sa’ad dengan Ammar bin Yasir radhiyallahu anhu.

Akan tetapi Umar ingin memastikan kebenaran terkait keluhan penduduk Kufah terhadap Sa’ad bin Abi Waqqash, maka ia mengirim Sa’ad bin Abi Waqqash dan mengirim pula bersamanya beberapa orang ke Kufah untuk bertanya kepada penduduknya tentang Sa’ad, dimana orang-orang utusan Umar radhiyallahu anhu tidaklah meninggalkan masjid kecuali telah menanyakan tentang Sa’ad, namun yang didapati bahwa mereka memuji kebaikan Sa’ad, hingga tibalah utusan Umar di Masjid Bani Abs, lalu ada seorang yang berdiri di antara mereka bernama Usamah bin Qatadah dan berkata, “Ketahuilah, jika engkau bertanya kepada kami, sesungguhnya Sa’ad tidaklah membawa pasukan, tidak membagi secara sama-rata, dan tidak adil dalam memberikan keputusan.”

Sa’ad pun berkata, “Ingat, aku akan berdoa kepada Allah tiga hal; ya Allah, jika hamba-Mu ini berdusta dan bangun karena riya dan sum’ah, maka perpanjanglah usianya, perlamalah kemiskinannya, dan siapkanlah ia untuk menerima fitnah.”

Maka orang ini pun panjang usianya hingga alisnya menjulur ke bawah ke kedua matanya karena usianya yang sangat tua, dan hidup dalam keadaan miskin, namun ia berdiri di jalan menggoda anak-anak perempuan.” Ketika ditanya tentang keadaannya itu, ia menjawab, “Saya adalah orang tua yang terfitnah mendapatkan doa buruk dari Sa’ad.”

Ada kisah lainnya yang membuktikan bahwa doanya mustajab sebagaimana disebutkan setelah ini.

Dari Qais bin Abi Hazim ia berkata, “Aku pernah berada di Madinah, ketika aku berkeliling di pasar tiba-tiba ada batu-batu minyak, dan kulihat orang-orang berkerumun di hadapan seorang penunggang kuda sambil mencaci-maki Ali bin Abi Thalib, maka Sa’ad bin Abi Waqqash mendatanginya dan berkata, “Siapa orang ini?” Orang-orang mengatakan, “Dia mencaci-maki Ali bin Abi Thalib.” Maka Sa’ad maju dan orang-orang memberi jalan baginya sehingga ketika Sa’ad telah berada di hadapannya ia berkata, “Wahai pemuda, atas dasar apa engkau mencaci-maki Ali bin Abi Thalib? Bukankah ia adalah orang yang pertama masuk Islam? Bukankah ia adalah orang yang shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Bukankah ia adalah orang yang paling zuhud? Bukankah ia adalah orang yang paling berilmu? Bukankah ia adalah suami Fatimah putri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Bukankah ia adalah orang yang pemegang panji Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam berbagai peperangan?” Lalu Sa’ad menghadap kiblat, mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah, orang ini mencaci-maki salah seorang wali di antara wali-wali-Mu, maka jangan Engkau pisahkan perkumpulan ini sampai Engkau menunjukkan kekuasaan-Mu.”

Qais berkata, “Demi Allah, kami tidak berpisah kecuali hewan tunggangan orang itu terperosok ke dalam tanah lalu hewan itu melemparkan batu-batu ke kepalanya hingga otaknya pecah dan ia meninggal dunia.”

Maka Sa’ad segera memerdekakan seorang jiwa dan bersumpah untuk tidak lagi mendoakan keburukan kepada seorang pun.

Menjauhi diri dari fitnah

Ketika Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu terbunuh, lalu orang-orang bertanya kepadanya di saat-saat terakhir kehidupannya, “Siapa yang engkau angkat menjadi khalifah setelahmu?”

Maka Umar berisyarat kepada mereka agar memilih khalifah di antara enam orang sahabat yang di antaranya ada Sa’ad bin Abi Waqqash, sehingga Umar berkata kepada mereka, “Jika dipegang oleh Sa’ad (maka ikutilah)! Jika tidak, maka hendaknya khalifah setelahku meminta bantuan kepada Sa’ad, karena aku tidaklah memecat Sa’ad dari jabatan gubernur Kufah disebabkan kelemahan atau pengkhianatan.

Ketika Utsman bin Affan diangkat sebagai khalifah, maka ia mengangkat Sa’ad sebagai gubernur Kufah kembali.

Tetapi ketika Utsman terbunuh dan terjadi fitnah di tengah-tengah sahabat, maka yang dilakukan Sa’ad adalah menghindari fitnah itu ia berkata, “Aku tidak akan berperang sampai kalian membawakan kepadaku sebuah pedang yang memiliki dua mata dan satu lisan sambil berkata, “Ini orang mukmin dan ini orang kafir.”

Maksudnya ia tidak mau membunuh seorang muslim dan tidak mau ikut dalam fitnah yang terjadi di antara sahabat tanpa kesengajaan dari mereka, bahkan hal itu terjadi karena ada makar dan tipu daya musuh-musuh Islam yang telah membunuh Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.

Kezuhudan Sa’ad ketika menjabat sebagai pemimpin

Sa’ad sama sekali tidak tertarik dengan perhiasan dunia, ia yakin bahwa semua kenikmatan selain surga ibarat fatamorgana, dan bahwa setiap siksaan selain neraka maka itu adalah keselamatan, sehingga jiwanya tidak tertarik kecuali kepada surga Ar Rahman.

Dari Amir bin Sa’ad, bahwa ayahnya (Sa’ad bin Abi Waqqash) pernah berada di tengah-tengah kambingnya, maka anaknya yang bernama Umar datang, saat dilihatnya, maka ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari keburukan si penunggang hewan ini.” Ketika sampai kepadanya ia berkata, “Wahai ayahku, apakah engkau rela menjadi orang badui di tengah-tengah kambingmu, sedangkan orang-orang berebut kerajaan di Madinah.” Lalu Sa’ad memukul dada Umar dan berkata, “Diam. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ»

“Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan menyembunyikan diri.” (Hr. Muslim)

Kesabaran Sa’ad menerima cobaan

Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash tiba di Mekkah. Saat itu, Sa’ad telah buta matanya, maka orang-orang segera mendatanginya meminta doanya, lalu ia pun mendoakan orang yang ini dan orang yang itu, dan beliau adalah orang yang terkabul doanya.

Ada seorang pemuda bernama Abdullah bin As Saaib berkata, “Paman, engkau mendoakan kebaikan untuk orang lain. Kalau sekiranya engkau mendoakan dirimu agar Allah mengembalikan penglihatanmu?” Maka Sa’ad tersenyum dan berkata, “Wahai anakku! Ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala menurutku lebih baik daripada penglihatanku.”

Saatnya meninggalkan dunia

Setelah hidupnya dipenuhi oleh pengorbanan, zuhud, jihad fi sabilillah, wara,  maka Sa’ad bin Abi Waqqash tidur di atas pembaringannya dan ruhnya pun keluar menghadap Allah Azza wa Jalla agar dapat berjumpa dengan kekasihnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam di surga Ar Rahman.

Mush’ab bin Sa’ad berkata, “Kepala ayahku dalam pangkuanku. Saat ruhnya akan keluar, maka aku pun menangis, lalu ia mengangkat kepalanya kepadaku dan berkata, “Wahai anakku! Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Karena keadaanmu dan penderitaan yang saya lihat pada dirimu.” Sa’ad menjawab, “Jangan menangis! Karena Allah tidak akan mengazabku selamanya, dan aku termasuk ahli surga.” (Ath Thabaqat karya Ibnu Sa’ad 3/1/104)

Pada hari ketika ia akan wafat, maka ia berkata kepada anak-anaknya, “Sesungguhnya aku memiliki jubah dari wool yang kugunakan untuk melawan kaum musyrik pada perang Badar, maka kafankanlah aku dengannya, karena aku suka menghadap Allah dengannya. Aku sudah menyimpannya untuk hari ini.”

Sa’ad wafat dalam rumahnya di Aqiq sejauh sepuluh mil dari Madinah, lalu ia dibawa oleh kaum laki-laki ke Madinah, dan dishalatkan oleh Marwan bin Hakam yang ketika itu menjadi gubernur Madinah, dan dishalatkan juga oleh istri-istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam di bilik mereka, dan dimakamkan di Baqi (Shifatush Shofwah 1/147).  

Semoga Allah meridhai Sa’ad bin Abi Waqqash, dan mengumpulkan kita bersamanya di surga Firdaus, aamin.

Marwan bin Musa

Maraji: Maktabah Syamilah versi 3.45, Ashabul Rasul Lil Athfal (Mahmud Al Mishri), dll.

Kisah Abdurrahman bin Auf

Senin, 11 April 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Kisah Abdurrahman bin Auf

radhiyallahu 'anhu

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut kisah Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.

Mengenal Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu

Beliau termasuk di antara sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga.

Beliau seorang yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah shalat di belakangnya dalam perang Tabuk.

Beliau seorang yang disaksikan Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai seorang yang jujur lagi berbakti.

Beliau seorang yang menginfakkan hartanya untuk melayani Islam dan kaum muslimin.

Beliau seorang yang dicatat Allah termasuk orang yang memperoleh kebahagiaan dan ampunan dalam perut ibu mereka.

Beliau itulah Abdurrahman bin Auf.

Masuk Islamnya Abdurrahman bin Auf

Saat Nabi shallallahu alaihi wa sallam diutus dengan membawa nikmat Islam dan tauhid untuk mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan kepada cahaya Islam, maka Nabi shallallahu alaihi wa salla mendakwahi kerabat terdekatnya, lalu keluarga dan sebagian sahabat Beliau masuk Islam, yang di antaranya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu yang ketika ia masuk Islam segera memikul amanah agama ini dan mengajak orang-orang di sekitarnya masuk ke dalam agama Islam.

Abu Bakar Ash Shiddiq di awal dakwahnya mencari orang-orang yang berakhlak mulia lalu beliau ajak mereka ke dalam Islam. Di antara mereka yang beliau dakwahi adalah seorang yang bernama Abdurrahman bin Auf dari Bani Zuhrah (dimana bani Zuhrah termasuk paman-paman Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari pihak ibu).

Abu Bakar pun mengajak Abdurrahman bin Auf masuk Islam, maka dengan segera Abdurrahman bin Auf masuk Islam dan segera menyatakan keislamannya. Ketika itu Abdurrahman masuk Islam dua hari setelah masuk Islamnya Abu Bakar Ash Shiddiq.

Saat itu nama Abdurrahman bin Auf adalah Abdu Amr, ia juga segera meminta kepada Abu Bakar untuk mengantarnya menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka Abu Bakar membawanya menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Ketika Abdu Amr melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka ia segera menangis karena saking gembiranya melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Saat itulah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya tentang namanya, maka Abdurrahman menjawab, “Namaku Abdu Amr bin Auf.” Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bahkan namamu adalah Abdurrahman bin Auf.”

Ketika itu Abdu Amr pun bergembira dengan nama yang baru ini ‘Abdurrahman’.  Nama yang lama kemudian dilupakan.

Demikianlah Abdurrahman bin Auf, ia termasuk orang-orang yang pertama menerima Islam (As Sabiqunal Awwalun), beliau orang ke-8 yang masuk Islam di tengah umat ini.

Selanjutnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam memperluas dakwahnya sehingga beberapa orang penduduk Mekkah masuk Islam, dan Beliau ingin berkumpul dengan mereka di sebuah tempat yang tidak diketahui oleh seorang Quraisy pun agar Beliau dapat mengajarkan mereka ajaran agama Islam, namun Beliau tidak mendapati rumah yang lebih utama daripada rumah Al Arqam bin Abil Arqam.

Ketika itulah Beliau pergi secara sembunyi ke tempat itu dan diikuti pula oleh sebagian sahabat-sahabat Beliau tanpa diketahui kaum Quraisy sehingga Beliau dapat mengajarkan ajaran Islam kepada mereka.

Saat itu Abdurrahman bin Auf termasuk mereka yang hadir di tempat itu sehingga ia dapat belajar banyak kebaikan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Kesabaran Abdurrahman bin Auf menerima gangguan di jalan Allah

Saat kaum musyrik mengetahui keislaman Abdurrahman bin Auf, maka mereka segera menyakiti dan menimpakan berbagai sikaan kepadanya, maka beliau pun berhijrah ke Habasyah baik yang pertama maupun yang kedua untuk menyelamatkan agamanya.

Akan tetapi, ia tidak kuat berpisah lama dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, karena ia lebih mencintai Beliau daripada dirinya, sehingga ia pun kembali ke Mekkah dan mendapatkan gangguan kembali.

Akan tetapi semua gangguan itu menjadi ringan ketika ia dapat mendampingi Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Ketika gangguan dan penyiksaan semakin dahsyat, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengizinkan para sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib (Madinah), dan Abdurrahman bin Auf termasuk orang yang berhijrah ke Madinah. Tidak berapa lama, Nabi shallallahu alaihi wa sallam berhijrah, sehingga Abdurrahman pun sangat bergembira sekali karena dapat mendampingi Nabi shallallahu alaihi wa sallam.      

Dipersaudarakan dengan orang Anshar

Setelah berada di Madinah, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Ketika itu Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Ar Rabi.

Sa’ad bin Ar Rabi termasuk orang kaya, ia pun segera membawa Abdurrahman bin Auf ke rumahnya dan menyiapkan harta yang banyak untuknya, ia berkata, “Wahai Abdurrahman, aku adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya, maka ambillah harta ini dan bagilah dua bagian antara aku dan engkau. Aku juga punya dua istri, maka lihatlah lalu pilihlah di antara keduanya, agar aku dapat mentalaknya untukmu. Ketika telah berlalu masa iddahnya, maka nikahilah olehmu.”

Saat Abdurrahman melihat semua kedermawanan ini, maka ia berkata kepadanya, “Wahai Sa’ad bin Ar Rabi, semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Aku tidak menginginkannya sama sekali, tetapi tunjukkanlah kepadaku di mana pasar.” Maka Sa’ad pun menunjukkan di mana pasar berada.

Abdurrahman pun mulai berdagang di pasar dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Tidak lama kemudian, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendengar bahwa ia sekarang telah memiliki harta yang banyak dan telah menikah.

Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam pergi mendatanginya untuk mengucapkan selamat untuknya seraya bersabda, “Apakah engkau telah menikah?” Ia menjawab, “Ya wahai Rasulullah.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Berapa mahar yang engkau berikan kepada istrimu?” Abdurrahman menjawab, “Dengan emas seberat biji kurma wahai Rasulullah.” Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sembelihlah walaupun seekor kambing untuk saudaramu kaum muslimin, semoga Allah memberkahi hartamu.”

Maka Abdurrahman melakukan hal itu, ia menyembelih seekor kambing, memasaknya, dan mengumpulkan saudara-saudaranya kaum muslimin untuk acara walimah itu, lalu mereka makan, mendoakan dia dan istrinya dengan kebaikan.

Allah mengabulkan doa Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk Abdurrahman bin Auf sehingga setelahnya ia menjadi penduduk Madinah yang sangat kaya.

Jihad Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf hadir dalam semua perang yang dilakukan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan tidak pernah absen.

Dalam perang Badar, Abdurrahman bin Auf keluar berjihad mencari kemenangan atau syahid. Ia berperang dengan beraninya sampai selesai peperangan itu hingga kaum muslimin memperoleh kemenangan.

Dalam perang Uhud, ia termasuk pahlawan yang tetap berada di tempat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan terus membela Nabi shallallahu alaihi wa sallam hingga mendapatkan banyak luka pada tubuhnya, dan yang demikian tidak aneh, karena ia termasuk orang yang ingin menebus Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan dirinya.

Oleh karena itu, setelahnya tidak ada satu peperangan pun melainkan ia termasuk pasukan terdepan yang mengorbankan jiwa, raga dan hartanya di jalan Allah Azza wa Jalla.

Dalam perang Tabuk tampak keutamaan Abdurrahman bin Auf, yaitu ketika pasukan kaum muslimin menuju Tabuk dan shalat ditegakkan, sedangkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedang pergi bersuci terlebih dulu. Ketika kembali, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendapati pasukan kaum muslimin mengedepankan Abdurrahman bin Auf sebagai imam mereka, lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam datang dan shalat di belakangnya. Saat Abdurrahman bin Auf mengucapkan salam, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bangkit menyempurnakan shalatnya sehingga membuat pasukan kaum muslimin kaget, lalu mereka bertasbih. Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, maka Beliau menghadap mereka dan bersabda, “Ahsantum (Bagus!).” (Sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim)   

Pernyataan bagus dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam karena mereka melakukan shalat pada waktunya. Dari kejadian itu tampak keutamaan Abdurrahman bin Auf, sampai-sampai Nabi shallallahu alaihi wa sallam shalat di belakangnya.

Infak Abdurrahman bin Auf di jalan Allah

Para sahabat radhiyallahu anhum hidup mengukuti tuntunan Al Qur’anul Karim dan petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Ketika Abdurrahman bin Auf menyimak firman Allah Ta’ala,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Qs. Ali Imran: 92)

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Quran. Siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (Qs. At Taubah: 111)

Maka ia pun segera menginfakkan hartanya di jalan Allah karena menginginkan pahala dari-Nya dan karena zuhud terhadap dunia yang fana yang tidak seimbang di sisi Allah meskipun dengan satu sayap nyamuk.

Kita akan takjub dengan Abdurrahman bin Auf ini ketika kita tahui bahwa ternyata beliau telah menginfakkan hartanya untuk mayoritas penduduk Madinah; sepertiga penduduknya ia nafkahi, sepertiga lagi ia bayarkan utang mereka, dan sepertiga lagi ia berikan pinjaman, sehingga sebagian besar hartanya ia infakkan untuk penduduk Madinah. Ia juga mewasiatkan hartanya untuk diberikan secara khusus kepada para sahabat yang hadir dalam perang Badar.

Bahkan  di zaman Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam, Abdurrahman bin Auf telah menyedekahkan separuh hartanya, lalu setelah itu ia sedekahkah 40.000 dinar. Ia juga menanggung 500 kuda di jalan Allah dan 500 unta. Hartanya kebanyakan berasal dari perdagangan yang ia lakukan. Disebutkan, bahwa ia sampai memerdekan dalam sehari 30 orang budak. (Lihat Al Ishabah karya Ibnu hajar 4/91)

Suatu ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

خِيَارُكُمْ خَيْرُكُمْ لِنِسَائِي مِنْ بَعْدِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik kepada keluargaku setelahku nanti.” (Hr. Al Bazzar, dan dinyatakan isnadnya hasan oleh Al Haitsami)

Ketika itu Abdurrahman bin Auf berwasiat untuk memberikan harta kepada istri-istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu dijual kebunnya seharga 40.000 dinar dan ia bagikan untuk mereka.

Dari Al Miswar bin Makhramah, bahwa Abdurrahman bin Auf pernah menjual kebunnya kepada Utsman dengan harga 40.000 dinar, lalu Utsman menyuruh Abdullah bin Sa’ad  bin Abis Sarh untuk menyerahkan pembayarannya, kemudian Abdurrahman membagikannya kepada Bani Zuhrah dan fakir-miskin kaum muslimin serta kepada istri-istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Al Miswar berkata, “Aku datang kepada Aisyah membawa harta itu, lalu ia bertanya, “Dari mana ini?” Aku menjawab, “Dari Abdurrahman (bin Auf).” Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَحْنُو عَلَيْكُنَّ بَعْدِي إِلَّا الصَّابِرُونَ، سَقَى اللَّهُ ابْنَ عَوْفٍ مِنْ سَلْسَبِيلِ الْجَنَّةِ

“Tidak ada yang berbuat baik kepada kalian (wahai istri Nabi) kecuali orang-orang yang sabar. Semoga Allah memberikan minum kepada Ibnu Auf dari  mata air surga yaitu Salsabil.” (Hr. Thabrani dalam Al Awsath, dan dinyatakan isnadnya hasan oleh A Haitsami)

Bahkan dalam perang Tabuk, ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk berinfak agar dapat menyiapkan pasukan di saat sulit (Jaisyul Usrah) untuk perang Tabuk, maka Abu Bakar memberikan seluruh hartanya, Umar memberikan separuh hartanya, Utsman bin Affan dengan harta yang sangat banyak sehingga Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada lagi amalan yang dapat merugikan Utsman setelah ini.” Sedangkan Abdurrahman bin Auf membawa 200 uqiyah emas dan menaruhnya di pangkuan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sehingga orang-orang yang menyaksikannya sampai takjub karena kedermawanannya. (1 Uqiyah kurang lebih 119 gram).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wafat dalam keadaan ridha kepada Abdurrahman bin Auf. Beliau juga mendoakan keberkahan pada hartanya, sehingga hartanya terus bertambah berkat doa Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Suatu ketika datang beberapa kafilah dagang milik Abdurrahman bin Auf dari Yaman dan Syam yang jumlahnya mencapai 900 ekor unta yang membawa barang-barang dagangan. Ketika melewati rumah ibunda kita Aisyah radhiyallahu anha  maka rumah pun bergetar sehingga Aisyah mengira sedang terjadi gempa, lalu diberitahukan oleh kaum wanita bahwa itu adalah suara kafilah dagang Abdurrahman bin Auf, maka Aisyah berkata, “Ya. Demi Allah, inilah orang yang masuk surga dengan membawa hartanya.”

Ketika perkataan itu didengar oleh Abdurrahman  bin Auf, maka ia segera mendatangi ibunda Aisyah radhiyallahu anha dan berkata, “Wahai ibu! Engkaukah yang mengatakan ini dan itu?” Aisyah menjawab, “Ya.” Abdurrahman  bin Auf berkata, “Aku angkat engkau sebagai saksi bahwa aku jadikan harta ini semuanya untuk Allah Azza wa Jalla.”  

Kezuhudan Abdurrahman bin Auf

Meskipun ia memiliki harta yang banyak, namun ia tetap zuhud terhadap dunia. Ia jadikan harta di tangannya; tidak di hatinya.

Suatu hari Abdurrahman bin Auf berpuasa, lalu dipersiapkan makanan untuknya ketika berbuka. Saat ia melihat makanan, maka ia pun menangis dan berkata, “Mush’ab bin Umair terbunuh padahal ia lebih baik dariku. Ia dikafankan dengan satu kain burdah yang jika ditutup kepalanya, maka akan tampak kedua kakinya, tetapi jika ditutup kedua kakinya maka akan tampak kepalanya. Hamzah juga terbunuh padahal ia lebih baik dariku, kemudian dilapangkan kepada kami dunia ini, atau ia berkata, “Kami diberikan dunia ini, kami khawatir kebaikan kami disegerakan saat ini.” Ia pun menangis dan meninggalkan makanan itu. (Sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari)

Bukan hanya zuhud dalam harta, Abdurrahman juga zuhud dalam kekuasaan. Ketika Utsman bin Affan sakit, maka ia panggil seseorang yang bernama Humran dan berkata kepadanya, “Tulislah pesan untuk Abdurrahman, bahwa khalifah bagi kaum muslimin setelahku adalah Abdurrahman.” Lalu Humran menulis surat itu dan pergi mendatangi Abdurrahman sambil berkata, “Aku datang kepadamu dengan membawa kabar gembira.” Abdurrahman menjawab, “Apa itu?” Humran menjawab, “Amirul mukminin telah menulis pesan, yang isinya bahwa engkau akan menjadi khalifah kaum muslimin setelahnya.”

Maka Abdurrahman bangkit di antara kubur dan mimbar sambil berdoa dengan berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menginginkan sedikit pun hal itu. Jika Utsman menginginkanku agar menjadi khalifah bagi kaum muslimin, maka wafatkanlah aku sebelumnya.” Tidak lama kemudian Abdurrahman pun meninggal dunia, yakni setelah kurang lebih enam bulan dari wasiat itu, sehingga Allah menenangkannya dari menyaksikan berbagai fitnah setelah terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.

Saatnya meninggalkan dunia

Setelah hidupnya dipenuhi oleh jihad, pengorbanan, zuhud, wara, santun, dan tawadhu, maka Abdurrahman tidur di atas pembaringannya dan ruhnya pun keluar menghadap Allah Azza wa Jalla.

Sebelum meninggalnya ada sebuah kisah menarik seperti yang diceritakan anaknya bernama Ibrahim, ia berkata, “Abdurrahman bin Auf pingsan ketika sakitnya sehingga orang-orang menyangka bahwa ia telah wafat. Orang-orang pun telah berdiri meninggalkannya dan menutupinya dengan kain, namun ternyata ia pun sadar dan bertakbir, sehingga keluarganya bertakbir, lalu Abdurrahman berkata, “Tadi aku pingsan.” Keluarganya berkata, “Ya.” Abdurrahman berkata, “Kalian benar. Ketika aku pingsan ada dua orang yang memiliki sifat keras dan kasar dan berkata, “Ayo kita bawa orang ini untuk kita adili di hadapan Allah Yang Mahaperkasa lagi terpercaya.” Maka keduanya membawa Abdurrahman hingga bertemu dengan seseorang lalu ia berkata, “Ke mana kalian mau bawa orang ini?” Keduanya menjawab, “Kami akan adili di hadapan Allah Yang Mahaperkasa lagi terpercaya.” Orang itu berkata, “Pulanglah! Sesungguhnya orang ini termasuk orang-orang yang dicatat Allah memperoleh kebahagiaan dan ampunan sewaktu dalam perut ibu mereka. Sesungguhnya anak-anaknya akan nyaman bersamanya sampai waktu yang dikehendaki Allah,” maka ia hidup setelahnya sampai sebulan. (Diriwayatkan oleh Hakim, Bushairi berkata, “Isnadnya shahih.”)

Abdurrahman kemudian wafat, akan tetapi kisahnya tidak wafat, semoga Allah meridhainya dan mengumpulkan kita bersamanya di surga Firdaus.

Marwan bin Musa

Maraji: Maktabah Syamilah versi 3.45, Ashabul Rasul Lil Athfal (Mahmud Al Mishri), dll.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger