Cinderamata Untuk Mereka Yang Tidak Punya

Senin, 19 Agustus 2019

بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫هدية للمساكين‬‎
Cinderamata Untuk Mereka Yang Tidak Punya
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut cinderamata untuk saudara kami yang kekurangan harta, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Orang-Orang Miskin adalah Mayoritas Ahli Surga
Dari Imran bin Hushain dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam Beliau bersabda,
اطَّلَعْتُ فِي الجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ
“Aku melihat surga[i], dan kulihat bahwa mayoritas penghuninya adalah orang-orang fakir (miskin), dan kulihat neraka, ternyata mayoritas penghuninya adalah kaum wanita[ii].” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Mengapa orang-orang fakir-miskin sebagai penghuni surga terbanyak?
Jawab: Di antara sebabnya adalah karena harta mereka yang sedikit sehingga hisabnya lebih ringan, mereka sebagai orang yang tidak punya sehingga tidak bisa berbuat banyak, dan jauh dari kesombongan. Di samping itu, adanya harta yang banyak biasanya membuat manusia jauh dan lupa dari Allah Azza wa Jalla.
Oleh karena itulah orang-orang miskin lebih dulu masuk surga. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«يَدْخُلُ فُقَرَاءُ المُسْلِمِينَ الجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ وَهُوَ خَمْسُمِائَةِ عَامٍ»
“Kaum fakir dari kalangan kaum muslimin lebih dulu setengah hari masuk ke dalam surga sebelum kalangan yang kaya. Setengah hari itu lamanya lima ratus tahun.” (Hr. Tirmidzi dari Abu Hurairah, dinyatakan ‘hasan shahih’ oleh Tirmidzi dan Al Albani)
Kaum fakir lebih dulu masuk surga karena mereka kehilangan memperoleh berbagai kenikmatan dunia di samping hisab mereka yang lebih ringan daripada orang-orang kaya.
Tentunya orang miskin yang menjadi Ahli Surga adalah mereka yang beriman (muslim) dan beramal saleh; bukan orang yang tidak beriman dan beramal saleh.
Oleh karena itu, jagalah keimanan. Jangan sampai dijual keimanan itu hanya untuk memperoleh kehidupan dunia yang rendah dan sementara ini. Demikian pula, tetaplah beramal saleh dan mengerjakan kewajiban agama agar engkau memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ketahuilah, bahwa di kalangan orang-orang miskin ada juga yang menjadi penghuni neraka, yaitu ketika melakukan perbuatan maksiat, seperti ketika meninggalkan kewajiban agama dan bersikap sombong. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ  وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ
“Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah, tidak dibersihkan-Nya, tidak diperhatikan-Nya, dan bagi mereka azab yang pedih; orang tua berzina, raja berdusta, dan orang miskin yang sombong.” (Hr. Muslim)
Dunia hanya sementara
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu.” (Qs. Al Anbiya: 34)
Ya, tidak ada orang yang hidup kekal di dunia ini meskipun diberi usia yang panjang. Mereka yang berada di kubur, dahulu keadaannya seperti kita, bersenang-senang menikmati kesenangan dunia, namun ajal pun tiba dan sekarang mereka hanya tinggal namanya. Di antara mereka ada yang berbahagia dan di antara mereka ada yang menyesal sejadi-jadinya.
Mereka yang berbahagia adalah mereka yang membawa bekal yang cukup ketika di dunia.
Sedangkan mereka yang menyesal sejadi-jadinya adalah mereka yang membawa bekal yang kurang, dan mereka sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk menyiapkan bekal.
Oleh karena itu, mumpung Allah Azza wa Jalla masih memberikan kesempatan kepada kita hidup di dunia, maka perbanyaklah bekal untuk menghadapi alam kubur dan alam akhirat; dan tidak ada bekal yang lebih baik melebihi takwa. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Qs. Al Baqarah: 197)
Takwa adalah melaksanakan perintah Allah Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-Nya.
Sukses Hakiki
Saudaraku, dengan takwa engkau akan memperoleh surga, dan inilah kesuksesan hakiki. Allah Azza wa Jalla berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Qs. Ali Imran: 185)
Orang yang meraih surga itulah orang yang sukses.
Hal itu, karena ketika seseorang masuk surga, maka apa yang diinginkannya ada. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya." (Terj. QS. Az Zukhruf: 71)
Kenimatan-kenikmatan yang ada di dalamnya kekal dan sempurna. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
" يُنَادِي مُنَادٍ: إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا تَسْقَمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلَا تَهْرَمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلَا تَبْأَسُوا أَبَدًا
“Nanti ada yang menyeru (kepada penghuni surga), “Sesungguhnya kalian akan sehat selama-lamanya dan tidak akan sakit. Kalian akan hidup selama-lamanya dan tidak akan mati. Kalian akan muda selama-lamanya dan tidak akan tua. Kalian akan bahagia dan tidak akan sengsara selama-lamanya.” (Hr. Muslim)
Sedangkan kenikmatan-kenikmatan yang ada di dunia ini tidak sempurna; setelah hidup dilanjutkan oleh kematian, ketika sehat diiringi sakit, ketika senang disudahi kesedihan, setelah muda dilanjutkan oleh masa tua. Hal ini menunjukkan keterbatasan kenikmatan dunia dan tidak patutnya dijadikan sebagai tempat tujuan.
Jalan orang-orang yang sukses
Masuk surga adalah kesuksesan paling besar, akan tetapi untuk memasukinya seseorang harus menempuh jalannya. Jalan tersebut telah Allah Subhaanahu wa Ta'ala terangkan dalam firman-Nya:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,--(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya,--Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,--Dan orang-orang yang menunaikan zakat,--Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,--Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak terceIa.—Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.--Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.--Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.--Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,--(yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (Terj. QS. Al Mu'minun: 1-11)
Apa yang disebutkan dalam ayat di atas adalah jalan orang-orang yang sukses. Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba menimbang dirinya dengan beberapa ayat di atas, dimana dengannya mereka dapat mengetahui sejauh mana keimanan mereka, bertambah atau kurang, banyak atau sedikit.
Orang kaya bisa membayar zakat dan bersedekah, sedangkan kami kaum fakir-miskin tidak bisa
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Dzar bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada beliau, "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya dapat memperoleh pahala yang lebih banyak. Mereka shalat seperti kami shalat, puasa seperti kami puasa dan bersedekah dengan kelebihan harta mereka." Maka Beliau bersabda,
أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا
"Bukankah Allah telah menjadikan berbagai macam cara kepada kalian untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar ma'ruf nahi munkar adalah sedekah, bahkan pada kemaluan seorang dari kalian pun terdapat sedekah." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, jika salah seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya, apakah akan mendapatkan pahala?" Beliau menjawab, "Bagaimana sekiranya kalian meletakkannya pada sesuatu yang haram, bukankah kalian berdosa? Begitu pun sebaliknya, jika kalian meletakkannya pada tempat yang halal, maka kalian akan mendapatkan pahala[iii]."
Imam Tirmidzi meriwayatkan pula dari Abu Dzar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنْ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
"Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau menyuruh yang ma'ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang buta juga sedekah, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah." (Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat Ash Shahiihah (572))
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,
كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلُّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ وَ تُمِيْطُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ
“Setiap anggota tubuh manusia harus bersedekah di setiap hari di mana matahari terbit. Kamu menyelesaikan secara adil terhadap dua orang (yang bertikai) adalah sedekah, kamu menolong seseorang yang berkendaraan dengan menaikkannya ke atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya adalah sedekah, ucapan yang baik[iv] adalah sedekah, setiap langkah menuju shalat adalah sedekah dan menghilangkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR. Bukhari-Muslim)
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa Al Asy'ariy dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda:
«عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ» ، فَقَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «يَعْمَلُ بِيَدِهِ، فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ» قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «يُعِينُ ذَا الحَاجَةِ المَلْهُوفَ» قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ: «فَلْيَعْمَلْ بِالْمَعْرُوفِ، وَلْيُمْسِكْ عَنِ الشَّرِّ، فَإِنَّهَا لَهُ صَدَقَةٌ»
"Seorang muslim mesti bersedekah." Maka para sahabat bertanya, "Wahai Nabi Allah, kalau ia tidak memperoleh (sesuatu yang ia sedekahkan)?" Beliau bersabda, "Ia bekerja dengan tangannya sendiri lalu ia berikan manfaat buat dirinya dan bersedekah." Para sahabat bertanya lagi, "Bagaimana kalau ia tidak memperoleh juga (sesuatu yang ia sedekahkan)?" Beliau menjawab, "Ia bantu orang yang butuh dan terzalimi." Para sahabat bertanya lagi, "Bagaimana kalau ia tidak memperoleh juga (sesuatu yang ia sedekahkan)?" Beliau bersabda, "Hendaknya ia mengerjakan yang ma'ruf dan menahan diri dari perbuatan buruk, sesungguhnya hal itu adalah sedekah baginya." (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim dan Nasa'i)
Hadits-hadits tersebut menunjukkan betapa luasnya makna sedekah, tidak sebatas apa yang dikeluarkan oleh seseorang berupa harta. Hadits-hadits di atas juga sebagai penyejuk mata orang-orang yang tidak mampu, dimana sedekah itu tidak mesti dengan harta, tetapi bisa dengan mengerjakan perintah Allah yang lain. Lebih dari itu, bersedekah dengan selain harta bisa lebih mulia, seperti amr ma’ruf-nahi munkar, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, membacakan dan mengajarkan Al Qur’an, menyingkirkan hal yang menggangu orang lain dari jalan, mendoakan kaum muslimin dan memintakan ampunan untuk mereka.
Mana yang lebih utama; orang kaya bersyukur atau orang miskin yang sabar?
Ibnul Qayyim dalam Bada’iul Fawaid (3/162) berkata, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang hal ini, maka ia menjawab, “Yaitu paling bertakwa di antara keduanya. Jika kedua-duanya sama takwanya, maka sama pula derajatnya.”
Doa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
Dari Anas, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ المَسَاكِينِ يَوْمَ القِيَامَةِ»
“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin. Wafatkanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama rombongan orang-orang miskin pada hari Kiamat.”
Aisyah bertanya, “Mengapa demikian wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,
«إِنَّهُمْ يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا، يَا عَائِشَةُ لَا تَرُدِّي المِسْكِينَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، يَا عَائِشَةُ أَحِبِّي المَسَاكِينَ وَقَرِّبِيهِمْ فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ القِيَامَةِ»
“Sesungguhnya mereka akan masuk surga empat puluh tahun lebih dulu daripada orang-orang kaya[v]. Wahai Aisyah, janganlah menolak memberikan sesuatu kepada orang miskin meskipun hanya separuh kurma. Wahai Aisyah, cintailah orang-orang miskin dan dekatilah mereka, niscaya Allah akan mendekatkanmu kepada-Nya pada hari Kiamat.” (Hr. Tirmidzi, Ibnu Majah,  dishahihkan oleh Al Albani)
Hadits ini menerangkan betapa zuhudnya Beliau terhadap dunia dan berpaling dari perhiasan dunia dan kesenangannya. Demikian pula menunjukkan tawadhunya Beliau alahish shalatu was salam. Hadits ini juga menunjukkan tingginya derajat orang-orang miskin dan dekatnya mereka dengan Allah Azza wa Jalla. Di samping menunjukkan pula bahwa kaum muhajirin yang miskin lebih dulu masuk surga dibanding yang kaya di antara mereka.
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa


[i] Saat israa-mi’raj atau ketika mimpi, dan mimpi para nabi adalah hak (benar).
[ii] Karena mereka kufur (tidak berterima kasih) terhadap kebaikan suami.
[iii] Hadits ini menunjukkan bahwa membatasi diri dengan yang halal dapat menjadi ibadah. Demikian juga mengingatkan kepada kita untuk menghadirkan niat yang baik ketika mengerjakan perbuatan mubah agar menjadi ibadah. Misalnya ketika hendak berjima’ dengan istri, ia niatkan di hatinya untuk memenuhi hak istri, menggaulinya secara ma’ruf sesuai yang diperintahkan Allah Ta’ala, meniatkan untuk mendapatkan anak yang saleh, meniatkan untuk menjaga kehormatan dirinya dan istrinya dan niat baik lainnya. Hadits riwayat Muslim di atas juga menunjukkan bolehnya qiyas, adapun riwayat dari ulama salaf tentang dibencinya qiyas adalah jika qiyas tersebut berbenturan dengan nash.
[iv] Ucapan yang baik atau disebut kalimah thayyibah adalah setiap kalimah yang mendekatkan diri kita kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, seperti tasbih, tahlil, takbir, tahmid, amr ma’ruf dan nahi munkar, membaca Al Qur’an, menyampaikan ilmu, dsb.
[v]  Bagaimana menggabungkan antara hadits yang menyebutkan 40 tahun dengan 500 tahun yakni perbedaan jarak antara orang miskin dengan orang kaya dalam hal masuk surga? Jawab: Jumlah tersebut bukanlah pembatasan, sebelumnya Beliau menyebutkan 40 tahun, selanjutnya Beliau menyebutkan 500 tahun adalah sebagai tambahan karena keutamaan kaum fakir-miskin. Intinya minimal perbedaannya adalah 40 tahun, dan maksimal 500 tahun. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat Thabrani dari Maslamah bin Makhlad, bahwa rombongan pertama kaum muhajirin 40 tahun lebih dulu masuk surga daripada orang-orang yang kayanya, lalu rombongan kedua 100 tahun lebih dulu masuk surga daripada rombongan yang kayanya, wallahu a’lam.
Sebagian ulama berdalih dengan hadits ini, bahwa orang miskin yang bersabar lebih utama daripada orang kaya yang bersyukur.

Syarah Kitab Tauhid (55)

Jumat, 16 Agustus 2019
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫واحفظوا أيمانكم‬‎
Syarah Kitab Tauhid (55)
Larangan Banyak Bersumpah
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:
Berikut lanjutan syarah (penjelasan) ringkas terhadap Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah, yang banyak merujuk kepada kitab Al Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At Tauhid karya Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
**********
Bab: Larangan Banyak Bersumpah
Firman Allah Ta’ala,
وَاحْفَظُواْ أَيْمَانَكُمْ
Dan jagalah sumpahmu. (Qs. Al Maidah: 89)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«الحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ، مُمْحِقَةٌ لِلْكَسْبِ»
“Sumpah itu melariskan barang dagangan dan menghapus keberkahan usaha.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Penjelasan:
Hadits di atas disebutkan dalam Shahih Bukhari no. 2087 dan Muslim no. 1606.
Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan peringatan agar tidak meremehkan masalah sumpah serta tidak sering bersumpah yang biasa digunakan para pedagang untuk melariskan barang dagangannya dan menarik keuntungan, karena ketika seseorang bersumpah terhadap suatu barang dagangan, bahwa barang ini dihargai sekian dan sekian atau ia membelinya sekian padahal tidak demikian, sehingga pembeli menganggap hal itu benar dan akhirnya si penjual mengambil keuntungan dari penjualan barangnya karena sumpah yang disampaikan padahal ia sama saja telah berdusta dan bermaksiat kepada Allah, maka sebagai hukumannya adalah dicabutnya keberkahan pada usahanya.
Kesimpulan:
1.       Peringatan agar tidak bersumpah untuk melariskan barang dagangan, karena hal itu sama saja tidak memuliakan nama Allah Ta’ala dan hal itu sama saja mengurangi kesempurnaan tauhid.
2.       Akibat yang diperoleh dari sumpah dusta.
3.       Usaha yang haram meskipun secara lahiriah tampak banyak keuntungannya, namun tidak berkah; sehingga tidak ada kebaikan di dalamnya; dikeluarkan untuk yang sia-sia.
**********
Dari Salman radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ , وَلَا يُزَكِّيهِمْ , وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ: أُشَيْمِطٌ زَانٍ , وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ , وَرَجُلٌ جَعَلَ اللَّهَ لَهُ بِضَاعَةً لَا يَشْتَرِي إِلَّا بِيَمِينِهِ، وَلَا يَبِيعُ إِلَّا بِيَمِينِهِ
“Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak dibersihkan-Nya (dari dosa), dan bagi mereka azab yang pedih, yaitu: orang yang sudah beruban (tua) berzina, orang miskin yang sombong, dan seorang yang menjadikan Allah sebagai pelaris barang dagangannya, dimana ia tidak membeli dan menjual kecuali dengan bersumpah.” (Hr. Thabrani dengan sanad yang shahih)
Penjelasan:
Hadits di atas diriwayatkan oleh Thabrani dalam ketiga kitab mu’jamnya. Al Haitsami dalam Majmauz Zawaid (4/78) berkata, “Para perawinya adalah para perawi kitab shahih.”
Abu Abdullah Salman Al Farisi radhiyallahu anhu adalah seorang sahabat yang berasal dari Ashbahan atau Ramahurmuz, ia masuk Islam saat Nabi shallallahu alaihi wa sallam tiba di Madinah, hadir dalam perang Khandaq dan peperangan-peperangan lainnya, ia wafat pada tahun 36 H.
Dalam hadits tersebut Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan tiga orang yang durhaka yang mendapatkan hukuman yang berat karena buruknya perbuatan mereka. Mereka itu adalah:
Pertama, orang yang sudah tua berzina, padahal pendorong berbuat maksiat melemah dan dirinya sudah seharusnya mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Hal ini menunjukkan kecenderungannya kepada maksiat.
Kedua, orang miskin yang sombong. Meskipun sombong adalah buruk bagi setiap orang, namun lebih buruk lagi jika dilakukan oleh orang miskin. Hal ini menunjukkan bahwa tabiatnya sombong.
Ketiga, orang yang menjadikan Allah untuk melariskan barang dagangannya, dimana ia tidak menjual dan membeli kecuali bersumpah dengan nama-Nya.  Hal ini menunjukkan bahwa dirinya meremehkan nama Allah sehingga menjadikannya sebagai sarana melariskan barang dagangannya.
Dalam hadits di atas terdapat peringatan terhadap banyak bersumpah dalam jual-beli.
Kesimpulan:
1.       Peringatan agar tidak sering bersumpah dalam jual-beli.
2.       Dorongan memuliakan sumpah.
3.       Perintah memuliakan nama Allah Azza wa Jalla.
4.       Menetapkan sifat ‘kalam’ (berfirman) bagi Allah, dan bahwa Dia mengajak bicara orang yang taat dan memuliakan orang itu dengan diajak bicara.
5.       Peringatan terhadap dosa zina, apalagi dilakukan oleh orang yang sudah tua.
6.       Peringatan terhada dosa sombong, apalagi dilakukan oleh orang miskin.
**********
Dalam kitab Shahih dari Imran bin Hushain radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، - قَالَ عِمْرَانُ فَلاَ أَدْرِي: أَذَكَرَ بَعْدَ قَرْنِهِ قَرْنَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا - ثُمَّ إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَشْهَدُونَ وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ، وَيَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ، وَيَنْذُرُونَ وَلاَ يَفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ
“Sebaik-baik umatku adalah mereka yang hidup di masaku, kemudian generasi berikutnya, dan generasi berkutnya lagi.” Imran (perawi hadits ini berkata) berkata, “Aku tidak ingat lagi; apakah Beliau menyebut generasi setelah masa Beliau dua kali atau tiga kali.” Beliau juga bersabda, “Setelah kalian akan datang generasi yang memberikan kesaksian sebelum diminta, berkhianat dan tidak dapat dipercaya, bernadzar dan tidak memenuhi nadzarnya, dan badan mereka tampak gemuk-gemuk.”
Penjelasan:
Hadits di atas disebutkan dalam Shahih Bukhari no. 3650 dan Muslim no. 2534.
Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menerangkan bahwa generasi terbaik umat ini adalah tiga generasi pertama; para sahabat, tabi’in, dan tabiut tabiin karena Islam tegak ketika itu dan dekatnya mereka dengan masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Setelah berlalu tiga generasi utama ini, maka akan muncul keburukan di tengah umat ini, banyak perkara bid’ah, orang-orang meremehkan persaksian, meremehkan amanah dan nadzar, dan bersenang-senang dengan dunia serta lalai dari akhirat. Munculnya perbuatan-perbuatan buruk yang disebutkan di atas (bersaksi palsu, berkhianat, dan tidak memenuhi nadzar) menunjukkan lemahnya keislaman mereka.
Dalam hadits di atas terdapat celaan terhadap orang-orang yang meremehkan persaksian, sehingga berani bersaksi palsu; dimana persaksian adalah salah satu macam sumpah.
Kesimpulan:
1.       Keutamaan tiga atau empat generasi pertama Islam; para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabiin.
2.       Tercelanya segera memberikan kesaksian.
3.       Tercelanya meremehkan nadzar dan wajibnya memenuhi nadzar.
4.       Tercelanya khianat dan dorongan menunaikan amanah.
5.       Tercelanya berlebihan menikmati kesenangan dunia, cinta dunia, dan berpaling dari akhirat.
6.       Bukti kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam; dimana Beliau memberitahukan sesuatu yang akan terjadi setelah Beliau dan ternyata sesuai dengan kenyataan. Ini menunjukkan bahwa Beliau utusan Allah dan mendapatkan berita dari-Nya.
**********
Dalam kitab Shahih pula disebutkan, dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ
“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang hidup pada masaku, kemudian generasi setelahnya, dan generasi setelahnya, kemudian akan datang kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya atau sumpahnya mendahului persaksiannya.”
Ibrahim An Nakha’i berkata, “Dahulu mereka (para tabiin) memukuli kami karena persaksian dan sumpah yang kami lakukan ketika kami masih kecil (agar tidak meremehkan sumpah dan persaksian).”
Penjelasan:
Hadits di atas disebutkan dalam Shahih Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533.
Ibrahim An Nakha’i adalah Abu Imran Ibrahim bin Yazid An Nakha’i Al Kufi. Ia termasuk tabiin dan ahli fiqihnya di antara mereka. Ia wafat pada tahun 96 H.
Maksud ‘persaksiannya mendahului sumpahnya atau sumpahnya mendahului persaksiannya’ adalah memadukan antara sumpah dan bersaksi, terkadang salah satu lebih dulu daripada yang lain. Hal ini menunjukkan kesegeraan mereka memberikan kesaksian dan bersumpah, dan menunjukkan sikap remeh mereka terhadap keduanya. Hal ini juga menunjukkan kurang wara dan pedulinya mereka terhadap agama.
Dalam hadits di atas Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberitahukan bahwa generasi terbaik umat ini adalah tiga generasi pertama umat ini. Setelah itu akan ada generasi yang meremehkan persaksian dan sumpah karena lemahnya keimanan mereka dan kurangnya rasa takut mereka kepada Allah Azza wa Jalla.
Dari Az Zubair bin Addi ia berkata, “Kami pernah datang kepada Anas bin Malik dan mengeluhkan kepadanya tentang hal yang kami rasakan dari Hajjaj (bin Yusuf raja yang kejam), maka Anas berkata,
«اصْبِرُوا، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ»
 “Bersabarlah, sesungguhnya tidak berlalu masa bagi kalian melainkan setelahnya lebih buruk lagi sampai kalian berjumpa dengan Rabb kalian.”
Anas berkata, “Aku mendengar kata-kata ini dari Nabi kalian shallallahu alaihi wa sallam.” (Hr. Bukhari)
Kesimpulan
1.       Keutamaan tiga generasi pertama Islam (para sahabat, tabiin, dan tabi’ut tabiin).
2.       Tercelanya bersegera memberikan kesaksian dan bersumpah.
3.       Bukti kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
4.       Perhatian kaum salaf terhadap pendidikan anak-anaknya.
Bersambung…
Wallahu a’lam wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alaa alihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa
Maraaji’: Al Mulakhkhash fi Syarh Kitab At Tauhid  (Dr. Shalih Al Fauzan),  Maktabah Syamilah, dll.

Obat Hati

Senin, 12 Agustus 2019
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫شفاء القلوب‬‎
Obat Hati
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang obat hati, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
Urgensi Memperhatikan Hati
Allah Subhaanahu wa Ta'ala memuji mereka yang sibuk memperhatikan dirinya dan membersihkan hatinya dari noda-noda yang mengotorinya, Dia berfirman,
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu," (QS. Asy Syams: 9)
Dan keadaan hati adalah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
أَلَا وَإِنَّ فِي اَلْجَسَدِ مُضْغَةً, إِذَا صَلَحَتْ, صَلَحَ اَلْجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ اَلْجَسَدُ كُلُّهُ, أَلَا وَهِيَ اَلْقَلْبُ
"Ingatlah! Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging, apabila baik, maka akan baik pula seluruh jasad dan apabila rusak maka akan rusak pula seluruh jasad. Ingatlah! Itu adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim)
Hati bagi anggota badan yang lain ibarat raja bagi rakyatnya. Jika rajanya baik, maka rakyat pun akan baik, dan jika rajanya buruk, maka rakyat pun ikut buruk. Oleh karena itu, meluruskan hati dan memperbaikinya adalah hal yang sangat penting dan perlu mendapatkan perhatian yang dalam dari seseorang yang menginginkan kesalihan.
Pembagian hati
Hati terbagi menjadi tiga;
Pertama, hati yang sehat atau selamat. Hati inilah yang akan selamat pada hari Kiamat. Allah Ta’ala berfirman,
يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ - إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak berguna,--Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (Qs. Asy Syu’ara: 88-89)
Hati yang sehat adalah hati yang selamat dari semua hawa nafsu yang menyelisihi perintah Allah Ta’ala, serta dari syubhat yang menentang wahyu. Oleh karena itu, pemiliknya selamat dari beribadah kepada selain Allah Ta’ala dan selamat dari berhakim kepada selain Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Intinya, hati yang sehat atau bersih adalah hati yang bersih dari perkara syirik, bahkan hatinya dipenuhi pengabdian kepada Allah Ta’ala, baik dalam hal cinta, keinginan, tawakkal,  kembali, ketundukan, takut, dan berharap. Di samping amalnya juga ikhlas karena Allah. Jika ia cinta, maka ia akan cinta karena Allah, benci pun karena-Nya, memberi karena Allah dan menahan pemberian pun karena Allah, dan perhatiannya tertuju kepada Allah (Lihat Ighatsatul Lahfan karya Ibnul Qayyim).
Kedua, hati yang mati. Hati ini kebalikan hati yang pertama. Hati ini tidak mengenal Rabbnya, dan tidak mau beribadah kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan mengerjakan yang dicintai dan diridhai-Nya. Hati ini berjalan mengikuti hawa nafsu dan syahwatnya meskipun di dalamnya terdapat hal yang mendatangkan kemurkaan Allah Azza wa Jalla. Ia mengarahkan ibadah hati kepada selain Allah Ta’ala; ia arahkan cinta, benci, takut, harap, ridha, murka, pengagungan dan penghinaan diri kepada selain Allah Ta’ala. Jika ia benci, maka ia benci karena hawa nafsunya, jika ia mencintai, maka ia mencintai karena hawa nafsunya, jika memberi, maka ia memberi karena hawa nafsunya, demikian pula ketika menahan hartanya, maka ia menahannya karena hawa nafsunya. Hawa nafsu menjadi imamnya, syahwat yang menuntunnya, kejahilan yang menyetirnya, dan kelalaian sebagai kendaraannya. Kita berlindung kepada Allah dari hati seperti ini.
Ketiga, hati yang sakit. Hati ini masih hidup namun disertai sakit yang menimpanya. Dalam hati ini terdapat kecintaan kepada Allah Ta’ala, beriman kepada-Nya, ikhlas karena-Nya, dan bertawakkal kepada-Nya, namun di dalamnya juga terdapat kecintaan kepada hawa nafsu dan tamak untuk memuaskan nafsunya, demikian pula terdapat kedengkian, kesombongan, ujub, keinginan ditinggikan, serta kemunafikan dan riya, dan terdapat kebakhilan dan ketamakan yang merupakan penyebab binasa dan rusak hatinya. Kita juga berlindung kepada Allah Ta’ala dari hati seperti ini.
Tanda sakit dan sehatnya hati
Sebagian ulama menyebutkan beberapa tanda sakitnya hati, yaitu ketika hati pelakunya tidak merasa sakit karena berbuat maksiat, tidak sakit karena tidak mengetahui yang hak (kebenaran), berpaling dari gizi yang bermanfaat bagi hati dan obat yang bermanfaat. Gizi yang bermanfaat bagi hati adalah iman, sedangkan obat yang paling bermanfaat bagi hati adalah Al Qur'an. Tanda sakitnya hati juga adalah ketika hati itu lebih mengutamakan dunia daripada akhirat.
Adapun tanda sehatnya hati adalah ketika hati itu berpindah dari dunia ke akhirat, menetap di sana seakan-akan termasuk penghuninya. Ia datang ke dunia ini seperti orang asing yang hanya mengambil dari dunia ini sekedar untuk melanjutkan perjalanan menuju kampungnya yang hakiki (akhirat).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
"Jadilah kamu di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara.“ (HR. Bukhari)
مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
"Apa urusanku terhadap dunia. Aku di dunia ini tidak lain seperti orang yang menaiki kendaraan; yang berteduh di bawah sebuah pohon, beristirahat, kemudian pergi meninggalkannya." (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani)
Tanda sehatnya hati juga adalah ketika ibadah yang biasa dia lakukan tertinggal, maka hatinya merasa sakit seakan-akan dirinya kehilangan hartanya.
Tanda sehatnya hati juga adalah ketika perhatiannya satu, yaitu beribadah kepada Allah Ta'ala.
Tanda sehatnya hati juga adalah apabila dia masuk ke dalam shalat, maka hilanglah kepenatan dan kegelisahan yang diakibatkan oleh dunia dan ia mendapatkan ketenangan dan kenikmatan di dalam shalatnya; pandangan matanya sejuk, dan hatinya senang.
Tanda sehatnya hati juga adalah ketika ia tidak bosan mengingat Rabbnya, tidak bosan dari mengabdi kepada-Nya, dan tidak merasa nikmat dengan selain itu kecuali dengan hal yang membantu atau mengingatkan dirinya kepadanya.
Tanda sehatnya hati juga adalah ketika perhatiannya terhadap keabsahan amal lebih besar daripada amal itu sendiri. Oleh karena itu, ia berusaha ikhlas, bersikap tulus, mutaba'ah (mengikuti Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam), bersikap ihsan, melihat nikmat Allah kepadanya, dan melihat kekurangan dirinya dalam memenuhi hak Allah Ta'ala.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, " Perhatikanlah  diri Anda;  jika setiap kali membaca Al Qur’an, iman Anda bertambah, maka sesungguhnya ini adalah pertanda taufik dari Allah. Tetapi jika setelah membaca Al Qur’an ternyata Anda tidak merasakan pengaruhnya, maka Anda harus mengobati diri Anda. Saya tidak mengatakan pergilah ke rumah sakit untuk mendapatkan obat kapsul, sirup atau sejenisnya, tetapi maksud saya ialah, Anda harus segera membenahi hati Anda. Karena, jika hati ini tidak bermanfaat lagi baginya Al Qur`an, tidak dapat menerima nasehatnya, maka itu adalah hati yang keras dan sakit. -Kita mohon kesembuhan kepada Allah. Saudaraku, Anda adalah dokter diri Anda sendiri, oleh karenanya jangan pergi kepada orang lain! Bacalah Al Qur`an! Jika Anda dapatkan diri terpengaruh dengan bacaan itu baik pada keimanan,  keyakinan,  dan ketaatan Anda, maka selamat! Anda adalah seorang mukmin; Jika tidak maka Anda harus segera mengobati diri Anda sebelum datang kematian yang tidak ada lagi hidup sesudahnya,  yaitu matinya hati. Sedangkan matinya jasad, setelah itu hidup kembali, dibangkitkan untuk menerima balasan dan pehitungan. (Syarh Riyadhus Shalihin 1/545)
Obat Penyakit hati
Obat semua penyakit hati telah diterangkan dalam Al Qur’anul Karim. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Yunus: 57)
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Qs. Al Israa: 82)
Penyakit hati terbagi dua:
1. Penyakit yang tidak dirasakan pelakunya, seperti penyakit kebodohan, syubhat, keraguan.
2. Penyakit yang dirasakan pelakunya ketika itu, seperti kesedihan, kegundahan, kecemasan, dan kemarahan. Penyakit ini terkadang hilang dengan pengobatan alami, yaitu dengan menyingkirkan sebab-sebabnya dan sebagainya (Lihat Ighatsatul Lahfan 1/44).
Obat penyakit hati ada empat:
Pertama, mendatangi Al Qur’anul Karim, karena ia merupakan penawar bagi penyakit hati seperti keraguan, kemunafikan, kekufuran, kemusyrikan, syubhat, dan syahwat. Dengan Al Qur’an, maka hati yang mati dan yang sakit menjadi hidup dan sehat. Allah Ta’ala berfirman,
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون
“Dan apakah orang yang sudah mati (hatinya), kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al An’aam: 122)
Kedua, hati membutuhkan tiga hal; (1) yang menjaga kekuatannya, itulah iman dan amal saleh serta berbagai ketaatan, (2) menjaga hati dari hal yang membahayakannya, yaitu dengan menjauhi berbagai kemaksiatan dan penyimpangan, (3) menghilangkan zat membahayakan, yaitu dengan tobat dan istighfar.
Ketiga, mengobati penyakit ‘dikuasai hawa nafsu’. Cara mengobatinya ada dua: (1) memuhasabah (introspeksi) diri, dan (2) menyelisihi hawa nafsu.
Muhasabah ini ada dua: (a) sebelum beramal. Yaitu dengan memperhatikan, apakah amal yang akan dilakukannya karena Allah atau karena selain-Nya? Apakah amal yang dilakukannya ada contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam atau tidak? Jika amal itu mubah, apakah ia meniatkan ibadah di dalamnya sehingga menghasilkan pahala atau tidak meniatkan ibadah?
(b) setelah beramal. Yaitu memuhasabah dirinya terhadap ketaatan yang diremehkannya yang di sana terdapat hak Allah Ta’ala, dimana dirinya tidak mengerjakannya dengan cara yang diperintahkan. Di antara hak-hak Allah Ta’ala adalah ikhlas, tulus, mengikuti Nabi shallallahu alaihi wa sallam, menghadirkan perasaan ihsan, mengingat nikmat Allah kepadanya, dan melihat kekurangan yang dilakukannya dalam melakukan itu semua. Demikian pula dengan memuhasabah dirinya terhadap amal yang dikerjakannya yang lebih baik ditinggalkan, serta memuhasabah dirinya terhadap perkara yang mubah atau biasa; mengapa ia melakukannya, dan apakah dilakukan karena Allah dan mencari negeri akhirat sehingga ia memperoleh keberuntungan, atau maksudnya mencari dunia sehingga dirinya mendapatan kerugian.
Intinya hendaknya ia memuhasabah terhadap hal yang wajib, dan jika kurang maka ia sempurnakan, lalu ia memperhatikan larangan, jika ia mengerjakan hal itu, maka ia susul dengan tobat dan istighfar, kemudian ia memuhasabah terhadap amal yang dikerjakannya, lalu terhadap kelalaiannya.”
Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata, "Sepatutnya seorang yang berilmu ketika berbicara memiliki niat dan maksud yang baik. Jika ucapannya membuat dirinya takjub maka dia diam, dan jika diam membuat dirinya takjub, maka dia bicara.  Janganlah dia berhenti dari memuhasabah (introspeksi) dirinya karena diri memiliki kecintaan untuk ditampilkan dan disanjung." (As Siyar 4/494)
4. Mengobati hati dari dikuasai oleh setan.
Setan adalah musuh manusia, cara menghadapinya adalah dengan meminta perlindungan kepada Allah Azza wa Jalla (isti’adzah).
Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah memadukan antara memohon perlindungan dari keburukan nafsu dan keburukan setan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu saat ia bertanya tentang ucapan yang perlu dibacanya di pagi dan sore hari, Beliau bersabda, “Ucapkanlah,
اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ
“Ya Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Tuhan segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, setan dan balatentaranya, dan aku (berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau menyeretnya kepada seorang muslim.”(Hr. Tirmidzi dan Abu Dawud, Shahih At Tirmidzi 3/142)
Demikian pula dengan beristi’adzah (mengucapkan a’udzu billahi minasy syaithaanir rajim), berdzikir, bertawakkal, dan berbuat ikhlas. Ini semua dapat menghalangi setan untuk menguasai dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah.” (Qs. Al A’raaf: 200)
إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.”(Qs. An Nahl: 99)
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40)
Iblis berkata, "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,--Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (khlas) di antara mereka." (Qs. Al Hijr: 39-40)
Nasihat Ulama
Yahya bin Muadz dan Ibrahim Al Khawwash rahimahumullah berkata, "Obat hati itu ada lima perkara,  yaitu: (1) Membaca Al Quran sambil merenunginya, (2) Berpuasa, (3) Qiyamullail, (4) Berdoa sambil merendahkan diri di waktu sahur, (5) Bergaul dengan orang-orang saleh.” (Rasail Ibnu Rajab Al Hanbali hal. 263)
Di antara penyebab kerasnya hati adalah:
1. Banyak bicara yang bukan dzikrullah
2. Membatalkan perjanjian dengan Allah
3. Banyak tertawa
4. Banyak makan, apalagi jika berasal dari syubhat atau yang haram
5. Banyaknya dosa yang dilakukan
Obat kerasnya hati:
1. Banyak berdzikir sambil dihayati oleh hati
2. Berbuat baik kepada anak yatim dan orang miskin
3. Banyak mengingat kematian
4. Ziarah kubur sambil memperhatikan keadaan para penghuninya dan tempat kembali mereka
5. Memperhatikan negeri-negeri yang binasa dan mengambil pelajaran dari tempat-tempat kediaman orang-orang yang telah tiada
6. Makan makanan yang halal
(Majmu Rasail karya Ibnu Rajab rahimahullah)
Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji': Al Qur'anul Karim, Maktabah Syamilah versi 3.45, Al Ilaj bir Ruqaa minal Kitab was Sunnah (Dr. Sa’id bin Ali Al Qahthani), dll.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger