Syarah Kitab Tauhid (53)

Jumat, 05 Juli 2019
بسم الله الرحمن الرحيم
نتيجة بحث الصور عن في منكرى القدر
Syarah Kitab Tauhid (53)
Tentang Orang-Orang Yang Mengingkari Takdir
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:
Berikut lanjutan syarah (penjelasan) ringkas terhadap Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah, yang banyak merujuk kepada kitab Al Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At Tauhid karya Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
**********
Bab: Tentang Orang-Orang Yang Mengingkari Takdir
Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata, “Demi Allah yang nyawa Ibnu Umar di Tangan-Nya, kalau sekiranya salah seorang di antara mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu ia menginfakkannya di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerimanya sampai dia mau beriman kepada qadar (takdir).” Selanjutnya Ibnu Umar berdalih dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” (Hr. Muslim)
Penjelasan:
Atsar (riwayat dari sahabat) di atas disebutkan dalam Shahih Muslim no. 8, Abu Dawud no. 4696, Tirmidzi no. 2613, dan Ibnu Majah no. 63.
Penyusun (Syaikh M. At Tamimi) memasukkan masalah ini ‘beriman kepada takdir’ dalam kitab Tauhidnya karena tauhid tidak sempurna kecuali dengan menetapkan adanya takdir Allah Azza wa Jalla dan beriman kepadanya.
Penyusun menyebutkan ancaman mengingkari takdir untuk menerangkan akan wajibnya beriman kepada takdir.
Dalam atsar di atas diterangkan, bahwa Ibnu Umar mendapatkan berita tentang orang-orang yang mengingkari takdir, maka Beliau menerangkan bahwa akidah ini akan merusak imannya karena telah mengingkari salah satu ushul(dasar)nya, lalu beliau berdalih dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang rukun iman yang enam yang semuanya wajib diimani.
Kesimpulan:
1.       Mengingkari takdir merupakan kekufuran.
2.       Amal saleh tidak diterima kecuali dari orang beriman. Dan seseorang tidak dikatakan beriman sampai beriman kepada takdir.
3.       Pentingnya berdalih dengan Al Qur’an dan As Sunnah
**********
Dari Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu anhu, bahwa ia pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, engkau tidak akan merasakan manisnya iman sampai engkau mengetahui bahwa apa saja yang ditakdirkan akan menimpamu, maka tidak akan meleset darimu, dan apa saja yang ditakdirkan tidak menimpamu, maka tidak akan menimpamu. Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
"إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ:اكْتُبْ، فَقَالَ: رَبِّ، وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيْرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ"
“Sesungguhnya makhluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah qalam (pena), lalu Dia berfirman kepadanya, “Catatlah!” Pena berkata, “Ya rabbi, apa yang aku catat?” Allah berfirman, “Catatlah takdir segala sesuatu sampai tibanya hari Kiamat.”
Ubadah melanjutkan, “Wahai anakku, aku juga mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّيْ
“Barang siapa yang meninggal dunia tidak di atas keyakinan ini, maka dia bukan termasuk golongaku.”
Dalam riwayat Ahmad disebutkan,
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ:اكْتُبْ ، فَجَرَى فِي تِلْكَ السَّاعَةِ ِبمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya makhluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah qalam (pena), maka Dia berfirman kepadanya, “Catatlah!” maka dicatatlah semua yang akan terjadi sampai hari Kiamat.”
Dalam riwayat Ibnu Wahb disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
فَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ؛ أَحْرَقَهُ اللهُ بِالنَّارِ
“Barang siapa yang tidak beriman kepada qadar (takdir), maka Allah akan membakarnya dengan api neraka.”
Penjelasan:
Hadits Ubadah bin Ash Shamit diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 2100 dan Abu Dawud no. 4700, dishahihkan oleh Al Albani dalam Zhilalul Jannah no. 103.
Riwayat Ahmad di atas disebutkan dalam Musnad Ahmad no. 22705 dan dishahihkan oleh Pentahqiq Musnad Ahmad cet. Ar Risalah.
Adapun hadits Ibnu Wahb disebutkan oleh Ibnu Wahb dalam kitab Al Qadar hal. 121 dan dinyatakan hasan lighairih oleh Dr. Abdul Aziz Al Utsaim dalam tahqiqnya terhadap kitab Al Qadar.
Anak Ubadah bin Ash Shamit bernama Al Walid bin Ubadah, ia lahir di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan termasuk tabi’in senior, wafat setelah tahun 70 H.
Ibnu Wahb bernama Abdullah bin Wahb bin Muslim Al Mishri. Beliau sseorang yang tsiqah dan ahli fiqih, lahir pada tahun 125 H dan wafat pada tahun 197 H. Beliau membagi waktunya dalam setahun, sepertiganya untuk ribath (menjaga perbatasan dalam jihad fi sabilillah), sepertiga untuk mengajarkan ilmu, dan sepertiga lagi untuk berhaji. Imam Malik menyebutnya sebagai mufti penduduk Mesir.
Riwayat di atas menerangkan, bahwa Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu anhu berpesan kepada anaknya bernama Al Walid agar beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk, demikian pula menerangkan buah dan hasilnya yang baik ketika beriman kepada takdir baik di dunia maupun di akhirat, serta menerangkan akibat buruk ketika ingkar kepada takdir baik di dunia maupun di akhirat. Ubadah juga berdalih dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menetapkan bahwa bagian dari iman juga adalah beriman kepada takdir. Oleh karena itu, tidak ada sesuatu yang terjadi di alam semesta sampai hari Kiamat melainkan dengan qadha dan qadar Allah Azza wa Jalla.
Dalam riwayat-riwayat tersebut terdapat perintah beriman kepada takdir, peringatan dari mengingkarinya, dan menerangkan akibat mengingkari takdir.
Kesimpulan:
1.       Wajibnya beriman kepada takdir.
2.       Ancaman keras terhadap sikap mengingkari takdir.
3.       Menetapkan adanya qalam (pena) dan pencatatan segala sesuatu yang akan terjadi sampai hari Kiamat.
   **********
Dalam kitab Musnad dan Sunan dari Ibnud Dailami disebutkan, “Aku datang kepada Ubay bin Ka’ab dan berkata, “Dalam diriku ada sesuatu yang mengganjal terkait dengan takdir, maka sampaikanlah kepadaku suatu hadits yang semoga Allah menghilangkan hal itu dari hatiku.” Ubay bin Ka’ab berkata, “Jika engkau menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka Allah tidak akan menerimanya sampai engkau mau beriman kepada takdir, serta mengetahui bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu maka tidak akan meleset, sedangkan yang ditakdirkan tidak akan menimpamu, maka tidak akan menimpamu. jika engkau meninggal dunia tidak di atas keyakinan ini, maka engkau termasuk penghuni neraka.”
Ibnud Dailami berkata, “Aku pun mendatangi Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah ibnul Yaman, dan Zaid bin Tsabit, ternyata mereka menyampaikan hadits yang sama dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Hakim dalam Shahihnya)
Penjelasan:
Hadits di atas disebutkan oleh Abu Dawud no. 4699, Ibnu Majah no. 77, Ahmad dalam Al Musnad 5/182, 183, 185, 189, dan Ibnu Hibban dalam Mawarid Azh Zham’an no. 1817. Hadits di atas dishahihkan oleh Al Albani.
Ibnud Dailami dalam hadits di atas bernama Abdullah bin Fairuz Ad Dailami, seorang yang tsiqah dan termasuk tabi’in senior, adapun ayahnya Fairuz adalah seorang yang berhasil membunuh nabi palsu bernama Al Aswad Al Insiy.
Dalam hadits di atas, Abdullah bin Fairuz menyatakan akan keganjalan dalam hatinya terkait masalah qadar, ia khawatir jika sampai mengingkarinya, maka ia pun mendatangi Ahli Ilmu dari kalangan para sahabat radhiyallahu anhum dengan harapan hilangnya keraguan ini. Demikianlah yang seharusnya dilakukan seorang mukmin, yakni bertanya kepada para ulama untuk menyingkirkan syubhat dan keganjalan dalam hatinya sebagaimana firman Allah Ta’ala,
فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada Ahli Ilmu jika kamu tidak mengetahui.” (Qs. An Nahl: 43)
Kemudian para sahabat itu berfatwa menyatakan kewajiban beriman kepada takdir, dan bahwa mengingkarinya dapat menjadikan pelakunya sebagai Ahli Neraka.
Kesimpulan:
1.       Ancaman keras bagi orang yang mengingkari takdir.
2.       Bertanya kepada Ahli Ilmu dalam urusan yang mengganjal di hati atau masalah syubhat.
3.       Kewajiban Ahli Ilmu adalah memberikan jawaban dan menyingkirkan syubhat, serta menyebarkan ilmu ke tengah-tengah umat.
Bersambung…
Wallahu a’lam wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alaa alihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa
Maraaji’: Al Mulakhkhash fi Syarh Kitab At Tauhid  (Dr. Shalih Al Fauzan), Tahqiq At Tajrid fi Syarh Kitab At Tauhid (Abdul Hadiy Al Bakri, takhrij Abu Usamah Hasan Al ‘Awaji), Maktabah Syamilah, dll.

Syair Taubat, Zuhud, dan Hakikat Kehidupan Dunia

Selasa, 02 Juli 2019

بسم الله الرحمن الرحيم
نتيجة بحث الصور عن التوبة الى الله
Syair Taubat, Zuhud, dan Hakikat Kehidupan Dunia
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut syair tentang taubat, zuhud, dan hakikat kehidupan dunia, semoga Allah menjadikan penerjemahan syair ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
Syair kembali kepada Allah[i]
سَأُقْبِلُ يَا خَالِقِيْ مِنْ جَدِيْد
كَمَا أَنْتَ مِنِّي إِلَهِيْ تُرِيْد
Aku datang lagi kepada-Mu (untuk bertobat) wahai Rabbku
Sebagaimana Yang Engkau inginkan terhadapku
وَأَرْجُوْ إِذَا أَنْتَ تَقْبَلُنِي
جِنَانَ الْخُلُوْدِ وَمِنْكَ الْمَزِيْد
Jika engkau menerima tobatku
Aku berharap surga dan tambahan-Nya dari-Mu
عَصَيْتُكَ رَبِّي فَأَمْهَلْتَنِي
وَتَسْتُرُنِي رَغْمَ أَنِّي عَنِيْد
Aku telah durhaka kepada-Mu wahai Rabbku namun Engkau tangguhkan aku
Engkau juga menutupi aibku padahal aku orang yang durhaka kepada-Mu
لِأَنَّكَ رَبِّي غَفُوْرٌ وَدُوْد
رَحِيْمٌ بِكُلِّ الْوَرَى وَالْعَبِيْد
Karena Engkau wahai Rabbku Maha Pengampun, Mencintai
Dan menyangi semua makhluk dan hamba
أَتَيْتُكَ يَا خَالِقِي بَاكِيًا
وَدَمْعُ الْأَسَى كُلَّ حِيْنٍ يَزِيْد
Aku datang kepada-Mu wahai Rabbku dalam keadaan menangis
Air mata sedih terus mengalir setiap waktu
فَقَدْ قُلْتَ فِي الْآيِ لاَ تَقْنَطُوْا
فَإنْ تَعْفُوْا عَنِّي فَذَا يَوْمُ عِيْد
Sedangkan Engkau telah berfirman ‘Jangan Berputus Asa’ dalam kitab-Mu
Jika Engkau ampuni aku, maka itu adalah hari kemenangan bagiku
Silahkan simak pembacaan syair tersebut di sini: https://youtu.be/8-Rxtz0NnZ4  
Syair Renungan Tentang Hakikat Kehidupan Dunia
لَقَدْ فَنُوْا وَمَا بَقَي مِنْهُمْ خَبَر
أَلَيْسَ فِي فَنَاءِهِمْ مِنْ مُعْتَبِر
Kini mereka telah tiada tanpa berita lagi
Pada kepergian mereka terdapat pelajaran bagi kami
قَدْ فَارَقُوْا هَذِهِ الْحَيَاةَ لِلْأَبَد
فَهَلْ تُحِسُّ أَوْ تَرَى مِنْهُمْ أَحَد
Mereka telah meninggalkan dunia ini
Coba lihat dan saksikan, adakah di antara mereka yang masih hidup di sini
إِلَى الْقُبُوْرِ يُحْمَلُوْنَ فِي عَجَل
غَيْبُ الْمَنُوْنِ بَغْتَةً فِيْهِمْ نَزَل
Mereka diantar ke kubur dengan segera
Karena maut datang secara tiba-tiba
مَضَوْا إِلَى حَيْثُ الْحِسَابِ يُحْرَزُوا
هُنَاكَ حَيْثُ وَعْدِ رَبِّي يُنْجَزُوا
Kini mereka berangkat untuk dihisab dan diperiksa
Memenuhi janji Tuhan kami yang pasti terlaksana
إِمَّا إِلَى جَنَّاتٍ عَدْنٍ وَارِفًا
أَوْ قَعْرِ نَارٍ بِاللَّهِيْبِ عَاصِفًا
Yang akhirnya bisa ke surga yang membentang
Atau ke jurang neraka yang apinya membara
فَكُلُّ مَا فِي الْكَوْنِ ذَا سَيَنْتَهِي
فَلاَ تَكُنْ عَنْ كُلِّ هَذَا مُلْتَهِي
Semua yang ada di alam semesta ini akan sirna
Maka janganlah engkau terlena olehnya
أَكْفَانُنَا بِالْغَيْبِ صَارَتْ تُنْسَجُوا
وَعَنْ قَرِيْبٍ فَاللُّحُوْدُ نُدْرَجُ
Kafan kita telah siap dililitkan ke badan
Dalam waktu dekat kita akan dimasukkan ke liang kuburan
الْكُلُّ يَبْلَى وَالْغَنِيُّ وَالْفَقِيْر
وَكُلُّنَا حَيْثُ الْأُلَي صَارُوْا نَسِيْر
Semua akan binasa, baik yang kaya maupun yang kekurangan harta
Semua kita akan pergi seperti mereka
أَلَمْ يَكُنْ لَنَا بِحَالِ مَنْ غَبَر
مِنَ الْقُرُوْنِ عِبْرَةٌ وَمُذَّكَر
Bukankah pada generasi terdahulu sudah cukup
Sebagai pelajaran bagi kita yang hidup
فَإِنَّهَا ذِكْرَى لِكُلِّ مُؤْمِنِ
يَرْجُو رِضَى رَبِّ جَلِيْلٍ مُحْسِنِ
Itu merupakan peringatan untuk setiap orang beriman
Yang mengharapkan keridhaan Allah Yang Maha Mulia lagi berbuat ihsan
نَعْصِى الْإِلَهَ فِي صَبَاحٍ وَمَسَاء
وَنَرْتَجِي التَّوْبَةَ بِالْقَوْلِ عَسَى
Kita selalu mendurhakai Allah di pagi dan petang
Namun tetap berharap agar Dia mengampuni diri kita yang malang
أَلَيْسَ قَدْ آنَ لَنَا أُخَيَّ أَنْ
نَتُوْبُ مِنْ ذَنْبِ الْخَفَاءِ وَالْعَلَن
Bukankah sekarang waktunya wahai saudara
Untuk bertaubat dari dosa yang tersembunyi maupun yang tampak terasa
 أَلَيْسَ قَدْ آنَ أُخَيَّ أَنْ نَدَع
سُلُوْكَ دَرْبِ الْمُلْهِيَاتِ وَالْبِدَع
Bukankah sekarang wahai saudara waktunya bagi kita
Untuk meninggalkan hal yang melalaikan dan perkara yang diada-adakan dalam agama
إِلَى مَتَى التَّسْوِيْفُ هَذَا يَا فَتَى
بِاللهِ قُلْ لِي يَا أَخِي إِلَى مَتَى
Sampai kapan kelalaian ini berakhir wahai pemuda
Demi Allah, katakanlah kepadaku sampai kapan ini semua akan berakhir wahai pemuda
فَكَيْفَ نَنْسَى فَضْلَ رَبٍّ مُنْعِمِ
فَهَلْ هُنَاكَ غَيْرَهُ مِنْ مُكْرِمِ
Mengapa kita melupakan nikmat yang diberikan Rabb kita yang Maha Pemurah
Adakah selain-Nya yang juga pemurah?!
طَاعَتُهُ عَلَى الْأَنَامِ وَاجِبَا
لِمَا قَضَاهُ رَبُّنَا وَأَوْجَبَا
Menaati-Nya adalah kewajiban bagi manusia
Karena Allah telah memerintahkan dan mewajibkan demikian bagi kita
اَللهُ جَلَّ قَدْ قَضَى أَنْ نَتَّبِع
بِكُلِّ حُكْمٍ فِى الْكِتَابِ قَدْ شُرِع
Allah telah memerintahkan kita untuk mengikuti
Semua ketetapan-Nya yang diterangkan dalam kitab-Nya yang suci
كَانَ حَلاَلٌ ذَاكَ أَوْ مُحَرَّمَا
أَوْ كَانَ نَدْبًا فِعْلُهُ أَوْ لاَزِمَا
Di sana ada yang halal dan yang diharamkan
Ada pula yang dianjurkan dan yang mesti dilakukan
فَوَاجِبٌ أَنْ نَقْتَفِي لِأَمْرِهِ
سُبْحَانَهُ فِي نَهْيِهِ وَزَجْرِهِ
Maka wajib bagi kita mengikuti perintah-Nya
Demikian pula menjauhi larangan-Nya
فَمَا قَضَى الرَّحْمَنُ لِلْعِبَادِ
قَدْ صَارَ دَيْنًا لاَزِمَ السَّدَادِ
Apa saja yang diwajibkan Allah kepada hamba
Menjadi utang atas hamba yang mesti dipenuhinya
إِنْ كُنْتَ تَبْغِي يَا فَتَى مِنْهُ الرِّضَى
فَلاَ تَحِلْ لَوْ لَحْظَةً عَمَّا قَضَى
Jika engkau menginginkan keridhaan-Nya wahai pemuda
Janganlah engkau keluar dari ketetapan-Nya meskipun sesaat saja
أَحْمَدُهُ حَمْدَ مَنْ أَنَابَ وَاعْتَبَر
وَتَابَ ِللهِ مُقِرًّا وَازْدَجَر
Aku memuji-Nya dengan pujian orang yang kembali dan mengambil pelajaran
Bertobat kepada Allah sambil mengakui dosa dan sadar akan kesalahan
Syair Terkait Zuhud di Dunia
إِنَّ ِللهِ عِبَادًا فُطَنَا        
طَلَّقُوا الدُّنْيَا وَخَافُو اْلفِتَنَا
Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas,
Mereka melepaskan dunia dan takut akan terfitnah,
نَظَرُوْا فِيْهَا عَلِمُوْا      
اَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنًا
Mereka melihat dunia itu dengan sesungguhnya
Maka sadarlah mereka bahwa ia tidak pantas dijadikan tempat tujuan
جَعَلُوْهَا لُجَّةً وَاتَّخَذُوْا   
صَالِحَ اْلاَعْمَالِ فِيْهاَ سُفُنًا
Mereka pun menjadikan dunia sebagai samudera
dan menjadikan amal yang saleh sebagai bahtera.
Syair Taubat[ii]
إِذَا مَا قَالَ لِيْ رَبِّي أَمَا اسْتَحْيَيْتَ تَعْصِيْنِي ؟
وَتُـخْفِي الذَّنْبَ عَنْ خَلْقِيْ وَبِالْعِصْيَانِ تَأْتِيْنِي
Bagaimana keadaan diriku saat Rabbku bertanya kepadaku, “Tidakkah Engkau malu bermaksiat kepada-Ku?”
Engkau sembunyikan dosa dari manusia, namun Engkau datang bermaksiat kepada-Ku
فَكَيْفَ أُجِيْبُ يَا وَيْحِيْ
وَمَنْ ذَا سَوْفَ يَحْمِيْنِي؟
Apa jawabanku wahai diriku yang malang
dan siapa yang dapat memberikan perlindungan
 أُسَلِّي النَّفْسَ بِالْآمَالِ مِنْ حِيْنٍ اِلَى حِيْنِي.
 وَأَنْسَى مَا وَرَاءَ الْمَوْتِ مَاذَا سَوْفَ تَكْفِيْنِي
Aku hibur diriku dengan angan-angan dari hari ke hari
Namun aku lupa setelah aku dikafankan apa yang akan kualami setelah mati
 كَأَنِّيْ قَدْ ضَمِنْتُ الْعَيْشَ لَيْسَ الْمَوْتُ يَأْتِيْنِي!
 وَجَائَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ الشَّدِيْدَةِ مَنْ سَيَحْمِيْنِي؟؟
Seakan-akan aku dapat menjamin akan hidup terus selama ini
Namun ternyata datang sakratul maut, maka siapa yang dapat melindungi 
نَظَرْتُ إِلَى الْوُجُوْهِ أَلَيْـَس مِنْهُمْ سَيَفْدِيْنِـــي؟
 سَأُسْأَلُ مَا الَّّذِي قَدَّمْتُ فِي دُنْيَايَ يُنْجِيْنِي
Aku lihat wajah-wajah manusia, namun ternyata tidak ada yang mau menebus diri  ini
Aku akan ditanya terhadap perbuatan yang aku lakukan di dunia ini
فَكَيْفَ إِجَابَتِي مِنْ بَعْدِ مَا فَرَّطْتُ فِي دِيْنِي
 وَيَا وَيْحِيْ أَلَــمْ أَسْمَعْ كَلاَمَ اللهِ يَدْعُوْنِي؟؟
Apa jawabanku nantinya jika aku melalaikan kewajiban agamaku
Wahai sedihnya diri ini, tidakkah aku mendengar firman Allah menyeruku
أَلَــمْ أَسْمَعْ بِمَا قَدْ جَاءَ فِي قَافٍ وَيسِ
 أَلَــمْ أَسْمَعْ مُنَادِي الْمَوْتِ يَدْعُوْنِي يُنَادِيْنِي
Bukankah aku mendengar berita yang disampaikan di surah Qaaf dan Yasin
Bukankah aku mendengar penyeru maut menyampaikan panggilan dan seruan
أَلَــمْ أَسْمَعْ بِيَوْمِ الْحَشْرِ يَوْمِ الْجَمْعِ وَالدِّيْنِ
أَلَــمْ أَسْمَعْ مُنَادِي الْمَوْتِ يَدْعُوْنِي يُنَادِيْنِي
Bukankah aku mendengar tentang hari dikumpulkan manusia dan diberikan balasan
Bukankah aku mendengar penyeru maut menyampaikan panggilan dan seruan
فَيَا رَبـَّاهُ عَبْدٌ تـَائِبٌ مَنْ ذَا سَيُؤْوِيْهِ ؟
سِوَى رَبٍّ غَفُوْرٍ وَاسِعٍ لِلْحَقِّ يَهْدِيْنِيْ
Ya Allah inilah hamba-Mu yang kembali bertaubat, siapa lagi yang dapat melindungi
Selain Engkau yang Maha Pengampun lagi Mahaluas karunia-Nya dan yang menunjuki kepada kebenaran yang hakiki
 أَتَيْتُ إِلَيْكَ فَارْحَمْنِي وَثَقِّلْ فِي مَوَازِيْنِي
 وَخَفِّفْ فِي جَزَائِي أَنْتَ أَرْجَـى مَنْ يُجَازِيْنِي
Aku datang kepada-Mu, maka rahmatilah diri ini dan beratkanlah timbangan kebaikan
Ringankanlah hisabku ini karena Engkau yang terbaik memberikan pembalasan
Silahkan simak pembacaan syair tersebut di sini: https://youtu.be/rO_WG25T8tU  atau di sini http://iswy.co/e145k5
Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Alih Bahasa: Marwan bin Musa
Maraji’: Idza’ah Al Abyar As Salafiyyah, http://iswy.co/e145k5, dll.




[i]  Membacakan syair di masjid apabila isi syairnya untuk memuji Islam, mendorong jihad atau melakukan keutamaan hukumnya boleh. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, bahwa Umar radhiyallahu anhu pernah melewati Hassan bin Tsabit yang sedang bersyair di masjid, lalu Umar meliriknya, maka Hassan berkata, “Aku pernah membacakan syair di masjid sedangkan di dalamnya ada orang yang lebih baik daripada dirimu.” Maksudnya adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Akan tetapi apabila syairnya mengakibatkan kebisingan dan suara keras di masjid, maka hal itu terlarang, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wa Iyyakum wa haisyatil aswaq” (Jauhilah oleh kalian suara gaduh di pasar (ketika di masjid)) (Hr. Muslim). Adapun hadits Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya tentang larangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jual-beli di masjid, mencari barang hilang, membacakan syair di dalamnya, serta mengadakan halaqah sebelum shalat Jumat (dihasankan oleh Al Albani), maka maksudnya adalah syair yang dimaksudkan berbangga-bangga dengannya, isinya terkait dunia, dan mendukung kemaksiatan, sedangkan alasan mengapa makruh mengadakan halaqah kajian sebelum shalat Jumat adalah karena dapat memutuskan barisan atau shaf orang-orang yang datang lebih lebih awal untuk shalat Jumat, wallahu a’lam.  
[ii] Syair ini pernah membuat Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menangis

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger