Akhlak Syukur

Sabtu, 15 Agustus 2015

بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫الشكر لله‬‎
Akhlak Syukur
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini pembahasan tentang akhlak Syukur.  Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Pengantar
Disebutkan dalam hadits shahih, bahwa dahulu ada tiga orang di kalangan Bani Israil; orang yang sopak, orang yang berkepala botak, dan orang yang buta. Masing-masing dari mereka berdoa kepada Allah agar Dia menghilangkan penyakit yang menimpanya dan agar Dia memberikan rezeki kepadanya, maka Allah mengabulkan doa mereka dan mengirimkan malaikat kepada orang yang sopak, ia pun meletakkan tangannya ke atas kulitnya, maka jadilah orang itu berkulit indah, malaikat itu juga memberinya seekor unta bunting yang beranak, dan unta tersebut melahirkan banyak anaknya sehingga orang yang berkulit sopak pun menjadi orang yang kaya. Lalu malaikat itu pergi menemui orang yang berkepala botak, maka malaikat itu mengusap kepalanya, lalu Allah menyembuhkannya, malaikat itu juga memberikan kepadanya sapi yang bunting kemudian beranak, sehingga ia memiliki sejumlah sapi. Malaikat kemudian menemui orang yang buta, lalu ia meletakan tangannya ke matanya, maka Allah menyembuhkannya, ia juga memberinya seekor kambing dan kambing itu pun beranak, sehingga ia memiliki sejumlah kambing. Setelah sekian lama, malaikat itu pun datang kembali kepada mereka untuk menguji mereka, apakah mereka bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan mau bersedekah kepada kaum fakir atau tidak? Ia pun pergi menemui orang yang berkulit sopak, demikian pula menemui orang yang berkepala botak, tetapi mereka berdua tidak mau memberikan barang sedikit pun dan malah berkata kepada malaikat itu, “Sesungguhnya kami mewarisi harta ini dari nenek moyang kami,” maka keduanya pun kembali seperti dahulu dan jadilah keduanya sebagai orang yang miskin. Kemudian malaikat itu pergi menemui orang yang buta dan meminta sedekah kepadanya, maka orang yang buta ini bergembira dengannya dan berkata kepadanya, “Dahulu aku adalah seorang yang buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Oleh karena itu, ambillah apa yang kamu mau dan tinggalkan yang kamu mau.” Lalu malaikat itu berkata kepadanya, “Allah telah ridha kepadamu.” (Kisah ini diambil dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
Demikianlah, orang yang buta tersebut telah berhasil menjalani ujian, ia bersyukur kepada Allah dan mau menyedekahkan rezeki yang Allah berikan, maka Allah menambahkan lagi nikmat kepadanya dan memberkahinya, sementara orang yang berkepala botak dan yang berkulit sopak bersikap bakhil (pelit) dan tidak mau bersyukur kepada Allah, maka Allah mencabut nikmat dari keduanya.
Diriwayatkan, bahwa ada seorang yang pergi kepada salah seorang ulama dan mengeluhkan keadaan dirinya yang fakir, maka ulama itu berkata, “Sukakah kamu, jika kamu sebagai orang yang buta namun memiliki 10.000 dirham?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Ulama itu berkata lagi, “Sukakah kamu jika kamu sebagai orang yang bisu, namun kamu memiliki 10.000 dirham?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Ulama itu berkata lagi, “Sukakah kamu jika kamu sebagai orang yang gila, namun kamu memiliki 10.000 dirham?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Ulama itu berkata lagi, “Sukakah kamu jika kamu sebagai orang yang buntung kedua tangan dan kedua kakimu, namun kamu memiliki 20.000 dirham?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Ulama itu berkata, “Mengapa kamu tidak malu mengeluh kepada Tuhanmu, sedangkan kamu mendapatkan nikmat di sisi-Nya 50.000 dirham.”
Maka orang itu pun mengetahui betapa besar nikmat yang Allah limpahkan kepadanya, ia pun senantiasa bersyukur kepada Tuhannya, ridha dengan keadaannya dan tidak lagi mengeluh kepada seorang pun selama-lamanya,
Apakah syukur itu?
Syukur artinya membalas perbuatan ihsan serta memuji dengan pujian yang indah kepada yang membawakan kebaikan dan berbuat ihsan kepadanya.
Syukur para nabi
Syukur adalah akhlak yang melekat pada diri para nabi Allah –semoga shalawat Allah dan salam terlimpah kepada mereka -. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (120) شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (121) وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ (122) ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (123)
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah),--(lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (Terj. QS. An Nahl: 120-121)
Allah ‘Azza wa Jalla juga menyifati Nabi Nuh ‘alaihis salam bahwa ia adalah seorang yang bersyukur, Dia berfirman,
إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (Terj. QS. Al Israa’: 3)
Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Sulaiman ‘alaihis salam,
قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
“Ia pun berkata, "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (Terj. QS. An Naml: 40)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri juga banyak bersyukur kepada Tuhannya, Beliau mengajarkan kepada kita untuk mengucapkan pada akhir shalat,
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbaiki ibadah kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i, dan dishahihkan oleh Al Albani)
Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan qiyamullail, kedua kaki Beliau sempat pecah-pecah karena lamanya shalat dan berdirinya, lalu ia berkata kepadanya, “Mengapa engkau lakukan ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang dahulu dan yang akan datang?” Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab dengan mengatakan, “Tidak pantaskah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur.” (Muttafaq ‘alaih)
Macam-macam syukur
1.       Syukur kepada Allah.
Seorang muslim bersyukur kepada Rabbnya atas nikmat-nikmat-Nya yang banyak yang telah Dia limpahkan kepadanya, dan tidak ada yang mengingkari nikmat-nikmat Allah selain orang yang ingkar. Allah Ta’ala berfirman,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Terj. QS. Al Baqarah: 152)
Nikmat Allah kepada manusia tidak terhitung dan tidak terhingga. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.” (Terj. QS. Ibrahim: 34)
Allah Ta’ala juga berfirman,
قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
“Katakanlah, "Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati. (tetapi) sangat sedikit kamu bersyukur.” (Terj. QS. Al Mulk: 23)
Bersyukur kepada Allah terlaksana dengan mengakui nikmat-nimat-Nya, memuji-Nya, menyebutnya, menunjukkannya, dan menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (Adh Dhuha: 11)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنْ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
“Sesungguhnya Allah ridha dengan seorang hamba yang sekali makan, ia memuji Allah atau sekali minum, lalu ia memuji Allah.” (HR. Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ
“Sesungguhnya Allah senang melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Hakim, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1887)
Umar bin Abdul ‘Aziz berkata, “Sebutlah nikmat-nikmat itu, karena menyebutnya merupakan sikap syukur.”
Demikian pula ridha dengan taqdir Allah termasuk syukur. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ
“Apabila anak seorang hamba meninggal, maka Allah berfirman kepada para malaikat-Nya, “Apakah kamu telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Ya.” Allah berfirman, “Apakah kamu mencabut buah hatinya?” Mereka menjawab, “Ya.” Allah berfirman, “Apa yang diucapkan hamba-Ku?” Merekamenjawab, ”Dia memuji-Mu dan mengucapkan istirja’ (Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un), “ maka Allah berfirman, “Bangunkanlah untuk hamba-Ku rumah di surga dan namailah Baitul hamdi (rumah pujian).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahiihah (1408)).
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita untuk bersujud kepada Allah dengan sujud syukur ketika kita memperoleh sesuatu yang yang menyenangkan atau ketika Allah melindungi kita dari musibah.
2.       Bersyukur kepada kedua orang tua
Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk bersyukur kepada kedua orang tua dan berbuat baik kepada mereka berdua, Dia berfirman,
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Terj. QS. Luqman: 14)
Seorang muslim bersyukur kepada kedua orang tuanya dengan menaati keduanya, berbakti kepada keduanya, berkata lembut, berbuat baik, berusaha mencari keridhaan keduanya, dan tidak membuat keduanya marah.
3.       Bersyukur kepada manusia
Seorang muslim menghargai perbuatan baik manusia dan mengetahui hak-hak mereka, ia pun berterima kasih kepada mereka karena kebaikan yang mereka berikan kepadanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ
“Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7719)
Dan manusia yang berhak engkau berikan sikap syukur pula adalah pendidikmu karena ia memiliki jasa terhadapmu, dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri mendorong kita untuk menyampaikan ungkapan syukur kepada orang yang telah memberikan sesuatu yang baik kepada kita, sehingga kita ucapkan kepadanya, “Jazaakallahu khairaa” (artinya: semoga Allah membalasmu dengan kebaikan). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ
“Barang siapa yang telah diberikan kebaikan, lalu ia berkata kepada orang yang memberikan itu, “Jazaakallahu khairaa” maka sesungguhnya ia telah benar-benar memuji.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6368)
Keutamaan sikap syukur
Apabila seorang muslim menghiasi dirinya dengan akhlak syukur dan memuji Tuhannya, maka sesungguhnya hal itu akan menjadikannya mendapatkan tambahan nikmat Allah di dunia, memperoleh keridhaan-Nya, dan surga-Nya serta aman dari azab-Nya di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sungguh, jika kamu bersyukur, maka akan Aku tambahkan (nikmat-Ku) kepadamu.” (Terj. QS. Ibrahim: 7)
Al Hasan berkata, “Setiap kali kamu mensyukuri nikmat, maka ada nikmat baru untukmu yang lebih besar lagi karena syukur itu.”
Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji': http://islam.aljayyash.net/, Maktabah Syamilah versi 3.45, Modul Akhlak kelas 8 (Penulis), dll.

Kaum Salaf Dalam Menghadapi Fitnah (Pertikaian)

Kamis, 13 Agustus 2015

بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫خير الناس قرني‬‎
Kaum Salaf Dalam Menghadapi Fitnah (Pertikaian) di Tengah-Tengah Kaum Muslimin
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini keteladanan kaum Salaf dalam menghadapi fitnah yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin yang kami ambil dari kitab Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf dan lainnya, semoga Allah menjadikan penerjemahan ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.
Keteladanan kaum salaf dalam menghadapi fitnah di tengah-tengah kaum muslimin
Abu Nu’aim berkata, “Telah menceritakan kepada kami Ahmad Al Hakim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Khuzaimah, telah menceritakan kepada kami Imran bin Musa, telah menceritakan kepada kami Abdul Warits, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Juhadah, dari Nu’aim bin Abi Hind, dari Abu Hazim, dari Husain bin Kharijah Al Asyja’iy ia berkata,
“Ketika Utsman terbunuh, pertikaian di tengah kaum muslimin semakin rumit bagiku, maka aku berdoa, “Ya Allah, perlihatkanlah kepadaku kebenaran yang dapat kupegang teguh.” Tiba-tiba pada waktu tidur aku bermimpi melihat dunia dan akhirat yang dibatasi oleh suatu dinding, lalu aku memanjat dinding itu ternyata kudapati banyak makhluk. Kemudian mereka berkata, “Kami adalah para malaikat.” Aku bertanya, “Kalau begitu, mana para saksinya?” Mereka menjawab, “Naikilah anak-anak tangga!” Kemudian aku menaiki tangga demi tangga. Ternyata ada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Ketika itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, “Mintakanlah ampunan untuk umatku!” Nabi Ibrahim menjawab, “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelahmu. Mereka saling menumpahkan darah dan membunuh pemimpin mereka. Mengapa mereka tidak melakukan seperti yang dilakukan kekasihku, yaitu Sa’ad (bin Abi Waqqash).”
Husain Al Asyja’i berkata, “Aku telah bermimpi. Akan kuceritakan mimpiku ini kepada Sa’ad. Aku pun menceritakan kepadanya. Dengan cerita itu, tidak ada hal lain yang lebih membuatnya gembira daripadanya.”
Sa’ad berkata, “Sungguh rugi orang yang tidak menjadi  menjadi kekasih Nabi Ibrahim alaihis salam.”
Aku bertanya, “Lalu Anda bersama kelompok yang mana?” Ia menjawab, “Aku tidak bersama seorang pun di antara mereka.”
“Kalau begitu, apa yang engkau perintahkan kepadaku?” Tanyaku.
Ia menjawab, “Apakah kamu punya kambing?”
Aku menjawab, “tidak.”
Saa’d berkata, “Kalau begitu, belilah seekor kambing   . Peliharalah kambing itu, sampai kebenaran menjadi jelas bagimu.” (Siyar A’lamin Nubala 1/120)
Abu Mu’awiyah meriwayatkan dari Al A’masy, dari Zaid bin Wahb, ia berkata, “Ketika Utsman memerintahkan Ibnu Mas’ud untuk datang ke kota Madinah, orang-orang pun berkumpul dan berkata kepadanya, “Tinggallah di sini, dan jangan pergi! Kami akan melindungimu dari sesuatu yang tidak engkau sukai.” Ibnu Mas’ud berkata, “Sudah merupakan hak beliau untuk saya taati. Memang akan terjadi pertikaian dan banyak fitnah, namun aku tidak ingin menjadi orang yang pertama membukanya.” Ia menolak tawaran orang-orang lalu berangkat pergi (menemui Utsman).”   (Siyar A’lamin Nubala 1/489).
Dari Abdullah bin Amir bin Rabi’ah, ia berkata, “Ketika mereka (para pemberontak) menikam Utsman, ayahku shalat di malam hari dan berdoa, “Ya Allah, lindungilah aku dari fitnah sebagaimana Engkau lindungi hamba-hamba-Mu yang saleh.” Keesokan harinya, saat aku keluar, ternyata Utsman telah wafat.” (Siyar A’lamin Nubala 1/335).
Ibnu Uyaynah menceritakan dari Umar bin Nafi’, dari ayahnya, dari Ibnu Umar, ia berkata, “Ali pernah mengirimkan seorang utusan kepadaku dan memberi pesan, “Wahai Abu Abdirrahman, engkau adalah seorang yang ditaati oleh penduduk Syam. Pergilah (ke Syam), sesungguhnya aku telah menjadikan dirimu pemimpin bagi mereka.” Aku (Ibnu Umar) menjawab, “Aku ingatkan engkau kepada Allah, dan juga karena kedekatan dan persahabatanku dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya engkau memberikanku keleluasaan (untuk tidak menerima jabatan)?” Ali pun menolak, maka aku meminta pertolongan kepada Hafshah untuk membujuk Ali, namun Ali tetap menolak. Maka pada malam hari aku pergi ke Mekkah, lalu ada yang memberitahukan kepadanya, bahwa aku telah pergi ke Syam. Maka diutuslah seseorang untuk mencariku. Utusan itu sampai ke Al Marbid dan memacu unta tunggangannya dengan memecutnya dengan kain sorbannya agar bisa mengejarku. Hafshah segera mengirim kabar, bahwa aku tidak pergi ke Syam, melainkan pergi ke Mekah, maka keadaan pun menjadi tenang.” (Siyar A’lamin Nubala 3/224).
Dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, dari Ibnu Umar, ia berkata, “Sesungguhnya permisalan kita menghadapi pertikaian ini adalah seperti kaum yang meniti jalan yang diketahuinya. Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba awan dan kegelapan menyelimuti mereka, lalu sebagian mereka ada yang mengambil jalan ke kanan dan ada yang mengambil jalan ke kiri, sehingga salah mengambil jalan. Kita pun berhenti di sana menunggu sampai Allah memberikan titik terang kepada kita, akhirnya kita bisa melihat jalan kita kembali, kita mengenalnya dan kembali mengambil jalan itu. Mereka semua adalah para pemuda Quraisy yang saling berperang demi kekuasaan dan demi kehidupan dunia ini. Aku tidak peduli, untuk tidak mendapatkan kekuasaan yang mereka saling memperebutkannya dengan hanya memiliki sepasang sandalku tanpa tali.” (Siyar A’lamin Nubala 3/237)
Dari Sallam bin Miskin, aku mendengar Al Hasan bercerita, “Ketika Utsman terbunuh, mereka berkata kepada Ibnu Umar, “Engkau adalah orang terhormat, dan anak dari orang terhormat. Keluarlah, agar orang-orang membaiatmu.” Ibnu Umar menjawab, “Jika aku mampu, aku tidak ingin ada darah yang tertumpah karena ulahku walaupun sebotol darah.” Mereka berkata, “Keluarlah, atau engkau akan terbunuh di atas kasurmu.” Ibnu Umar terus mengulangi kata-kata itu. Al Hasan berkata, “Mereka terus membujuknya dan menakut-nakutinya, tetapi mereka tidak sanggup merubah pendiriannya.” (Siyar A’lamin Nubala 3/239)
Imam Adz Dzahabi rahimahullah dalam menuliskan biografi Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan,
“Di belakang Mu’awiyah ada ada banyak orang yang mencintainya, bahkan mengkultuskannya, dan mengutamakannya. Bisa jadi Mu’awiyah telah menguasai jiwa mereka dengan kemuliaan, sikap santun, dan kedermawanannya, atau karena mereka lahir di Syam dalam keadaan mencintainya, dimana anak-anak mereka tumbuh di atas sikap demikian. Di tengah-tengah mereka juga ada beberapa orang sahabat, sejumlah besar tabi’in dan orang-orang mulia, dimana mereka ikut bersamanya memerangi penduduk Irak, yang tumbuh besar di atas sikap memusuhi (Mu’awiyah), kita berlindung kepada Allah dari hawa nafsu. Sebagaimana tentara Ali radhiyallahu ‘anhu dan rakyatnya –selain orang-orang Khawarij- tumbuh di atas mencintainya, membantunya, membenci orang yang memberontak terhadapnya serta berlepas diri dari mereka, namun sebagian lagi ada yang berlebihan dalam memberikan dukungan kepadanya (seperti yang dilakukan kaum Syi’ah padahal Ali berlepas diri dari mereka). Demi Allah, bagaimana mungkin bisa bersikap adil dan bijaksana, sementara mereka dibesarkan di sebuah tempat yang tidak dilihat selain sikap berlebihan dalam mencintai atau berlebihan dalam membenci lawan? Kita memuji Allah atas keselamatan kita, karena Dia telah menghidupkan kita di zaman dimana kebenaran telah jelas, dan kedua pihak yang bertikai pun telah jelas kedudukannya. Kita juga mengetahui dalil-dalil yang dipergunakan oleh masing-masing pihak. Akhirnya masalahnya semakin jelas bagi kita, kita pun bisa memaafkan dan memintakan ampunan untuk mereka, serta mencintai dengan batasan yang layak. Kita juga memohonkan rahmat untuk mereka yang memberontak karena alasan yang bisa diterima secara garis besar atau karena keliru yang dapat diampuni insya Allah. Kita hanya mengatakan sebagaimana yang Allah ajarkan kepada kita,
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, "Ya Rabb Kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Hasyr: 10)
Kita juga mendoakan ridha Allah untuk mereka yang memisahkan diri dari dua kelompok yang bertikai, seperti Sa’ad bin Abi Waqqash, Ibnu Umar, Muhammad bin Maslamah, dan Sa’id bin Zaid. Dan kita berlepas diri dari orang-orang Khawarij yang lepas dari Islam yang memerangi Ali dan mengkafirkan kedua belah pihak. Oleh karena itu, kaum Khawarij adalah anjing-anjing neraka, telah lepas dari agama ini. Meskipun begitu, kita tidak menyatakan bahwa mereka kekal di neraka seperti halnya para penyembah patung  dan salib.” (Siyar A’lamin Nubala 3/128).
Dari Amr bin Murrah, dari Asy Sya’biy, ia menceritakan, bahwa jika ada yang berkata kepada Masruq, “Mengapa engkau tertinggal dalam mengikuti berbagai peperangan bersama Ali?” Ia menjawab, “Bagaimana pendapatmu, jika kalian semua sedang berbaris rapi, kemudian tiba-tiba malaikat turun dan membacakan ayat kepada kalian, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An Nisaa’: 29) apakah ayat ini akan mencegah kalian?” Mereka menjawab, “Ya.” Maka Masruq berkata, “Demi Allah, sesungguhnya malaikat yang mulia telah turun menyampaikan ayat itu melalui lisan Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayatnya jelas dan tidak dimansukh (dihapus) oleh sesuatu pun.” (Siyar A’lamin Nubala 4/68)
Dari Ats Tsauriy, dari Harits Al Azdiy, ia berkata, “Ibnul Hanafiyyah berkata, “Semoga Allah merahmati seseorang yang menjaga kehormatan dirinya, menahan tangannya, menahan lisannya, dan duduk di rumahnya. Ia akan memperoleh pahala sesuai niatnya, dan akan dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintainya. Ingatlah! Sesungguhnya amal perbuatan Bani Umayyah lebih cepat gerakannya daripada pedang-pedang kaum muslimin. Ingatlah! Sesungguhnya pemegang kebenaran akan memiliki kekuasaan suatu saat nanti jika Allah menghendaki. Barang siapa yang mendapatkannya pada masanya nanti, maka menurut kami ia mendapatkan bagiannya yang tertinggi. Dan barang siapa yang mati sebelum itu, maka sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik dan lebih kekal.” (Siyar A’lamin Nubala 4/123)
Abu ‘Aqil Basyir bin Uqbah berkata, “Aku pernah bertanya kepada Yazid bin Asy Syikhkhir, “Apa yang dilakukan Mutharrif ketika orang-orang membuat huru-hara?” Ia menjawab, “Beliau diam di rumahnya; tidak menghadiri shalat Jum’at dan jamaah sampai persoalannya jelas.” (Siyar A’lamin Nubala 4/191)
Ayyub berkata, “Mutharrif berkata, “Duduk-duduk dengan orang yang terpercaya lebih aku sukai daripada mencari keutamaan jihad dengan membuat tipu daya.” (Siyar A’lamin Nubala 4/191)
Humaid bin Hilal berkata, “Orang-orang Haruri (Khawarij) datang kepada Mutharrif bin Abdullah untuk mengajaknya mengikuti pendapat mereka, maka Mutharrif berkata, “Wahai orang-orang Haruri! Kalau aku punya dua nyawa, dimana salah satunya kugunakan untuk membaiat kalian, sedangkan yang satu lagi kutahan. Jika pendapat kalian merupakan petunjuk, maka nyawa yang satu akan mengikutinya. Tetapi jika tenyata pendapatmu adalah sebuah kesesatan, maka jika yang satu binasa, masih ada nyawa yang lain. Tetapi sayangnya aku hanya memiliki satu nyawa, dan aku tidak mau diperdaya begitu saja.” (Siyar A’lamin Nubala 4/191)
Wallahu a’lam shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahabihi wa sallam.
Marwan bin Musa

Syarah Kitab Tauhid (3)

Minggu, 09 Agustus 2015

بسم الله الرحمن الرحيم

Hasil gambar untuk ‫التوحيد حق الله على العباد‬‎

Syarah Kitab Tauhid (3)

(Hak Allah Yang Wajib Dipenuhi Hamba)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:
Berikut ini lanjutan syarah ringkas terhadap Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, yang kami rujuk kepada kitab Al Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At Tauhid karya Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
**********
وَعَنْ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ فَقَالَ لِيْ: «يَا مُعَاذُ، أَ تَدْرِي مَا حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ، وَمَا حَقُّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟» ، قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «حَقُّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا» ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ أُبَشِّرُ النَّاسَ؟ قَالَ: «لاَ تُبَشِّرْهُمْ، فَيَتَّكِلُوا»
Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku pernah dibonceng oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai, lalu Beliau bersabda, “Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi hamba-hamba-Nya, dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Hak Allah yang wajib dipenuhi para hamba adalah hendaknya mereka menyembah-Nya saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah, bahwa Dia tidak akan mengazab orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia.” Beliau bersabda, “Jangan sampaikan kepada mereka karena akan membuat mereka bersandar (sehingga tidak mau beramal).” (HR. Bukhari dan Muslim)
**********
Penjelasan:
Hadits di atas dalam Shahih Bukhari no. 2856 dan Shahih Muslim no. 30. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Mu’adz menyampaikan kabar gembira ini menjelang wafatnya dalam keadaan merasa berdosa (HR. Bukhari no. 128 dan Muslim no. 32).
Menurut Al Wazir Abul Muzhaffar, bahwa Mu’adz tidaklah menyembunyikan kabar gembira itu kecuali kepada orang yang jahil (tidak mengerti) yang membuatnya kurang adab sehingga meninggalkan ketaatan. Fathul Majid hal. 28.
Mu’adz bin Jabal bin ‘Amr bin Aus bin Ka’ab bin Amr Al Khazraji Al Anshari adalah seorang sahabat mulia dan sudah masyhur, serta termasuk tokoh di kalangan sahabat. Ia seorang yang dalam ilmunya, mengetahui hukum (fiqh) dan Al Qur’an. Ia hadir dalam perang Badar dan perang-perang setelahnya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah mengangkatnya sebagai gubernur penduduk Makkah pada saat Fathu Makkah untuk mengajarkan kepada mereka agama, kemudian Beliau mengirimnya ke Yaman menjadi hakim dan pengajar di sana. Ia wafat di Syam tahun 18 H dalam usia 38 tahun.
Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang wajibnya tauhid atas hamba dan keutamaannya. Beliau menyampaikan demikian dalam bentuk pertanyaan agar lebih menancap dalam jiwa dan benar-benar dipahaminya. Saat Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam telah menyampaikan keutamaan tauhid kepada Mu’adz, maka Mu’adz meminta izin untuk memberitahukan kepada manusia tentang hal itu agar mereka bergembira, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegahnya agar manusia tidak bersandar dengannya sehingga mereka sedikit melakukan amal saleh.
Kesimpulan:
1.     Tawadhu (rendah hatinya) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak segan menaiki keledai dan membonceng orang lain di belakangnya; tidak seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang sombong.
2.     Bolehnya membonceng orang lain ke atas hewan kendaraan jika hewan itu sanggup membawanya.
3.     Salah satu model pengajaran adalah dengan tanya-jawab.
4.     Hendaknya seseorang ketika ditanya sedangkan dirinya tidak mengetahui mengucapkan, “Walahu a’lam” (artinya: Allah lebih tahu).
5.     Mengetahui hak Allah yang wajib dipenuhi para hamba, yaitu beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu.
6.     Keutamaan tauhid dan keutamaan orang yang berpegang dengannya.
7.     Tafsir tauhid, bahwa maksudnya adalah beribadah hanya kepada Allah saja dan meninggalkan syirk.
8.     Anjuran menyampaikan kabar gembira kepada seorang muslim.
9.     Bolehnya menyembunyikan ilmu jika ada maslahatnya.
10. Adab murid kepada guru.
**********
BAB KEUTAMAAN TAUHID DAN DOSA-DOSA MENJADI TERHAPUS KARENANYA
Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al An’aam: 82)
**********
Penjelasan:
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika turun ayat, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman,” maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang tidak melakukan kezaliman terhadap dirinya?” Beliau menjawab, “Yang demikian bukanlah seperti yang kalian katakan, tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, maksudnya dengan kemusyrikan. Tidakkah kalian mendengar perkataan Lukman kepada anaknya, “Wahai anakku! Janganlah kamu menyekutukan Allah. Sesungguhnya menyekutukan Allah adalah kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13) (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam ayat di atas Allah Subhaanahu wa Ta’ala menjelaskan, bahwa orang-orang yang beriman, yakni dengan hati mereka, mereka ucapkan dengan lisan mereka, dan mengamalkan dengan anggota badan, terutama tauhid, lalu mereka tidak mencampurkan tauhid mereka dengan kezaliman, yakni syirk, maka mereka akan memperoleh keamanan dari hal-hal yang ditakuti dan mengkhawatirkan pada hari Kiamat, dan mereka akan mendapat petunjuk dalam meniti hidup di dunia ke jalan yang lurus.
Syirk dikatakan zalim, karena zalim adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, sedangkan syirk adalah mengarahkan ibadah bukan kepada yang berhak.
Kesimpulan:
1.     Keutamaan tauhid dan buah yang diperolehnya di dunia dan akhirat.
2.     Syirk merupakan kezaliman, bahkan kezaliman yang paling besar.
3.     Syirk membatalkan keimanan kepada Allah jika besar, atau menguranginya jika kecil.
4.     Dosa syirk tidak diampuni.
5.     Syirk mengakibatkan kekhawatiran dan rasa takut di dunia dan akhirat.
**********
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ العَمَلِ»
Dari Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja; tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya, serta kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam, dan ruh ciptaan-Nya, demikian pula bersaksi bahwa surga benar-benar ada, dan neraka benar-benar ada, maka Allah akan memasukkan dia ke surga bagaimana pun amal yang dikerjakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
**********
Penjelasan:
Ubadah bin Ash Shamit bin Qais Al Anshari Al Khazraji adalah salah satu pimpinan Anshar. Hadir dalam perang Badar dan sahabat yang masyhur. Ia wafat pada tahun 72 H.
Maksud ‘bersaksi’ adalah mengetahui kandungan kalimat yang dia ucapkan dan mengamalkan konsekwensinya baik lahir maupun batin.
Maksud ‘kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam’ adalah bahwa Dia menciptkan Nabi Isa ‘alaihis salam dengan kalimat “kun” (jadilah!) yang Dia sampaikan melalui malaikat Jibril kepada Maryam, lalu Jibril meniupkan kepada diri Maryam ruh ciptaan Allah dengan izin-Nya.
Maksud ‘ruh ciptaan-Nya’ adalah bahwa Nabi Isa ‘aaihis salam adalah salah satu ruh di antara ruh-ruh ciptaan Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya,
وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ
“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya ciptaan-Nya.” (QS. Al Jatsiyah: 13)
Maksud ‘bagaimana pun amal yang dikerjakannya’  adalah bahwa Allah akan memasukkannya ke surga karena persaksiannya itu meskipun ia mempunyai dosa-dosa, karena orang yang bertauhid pasti masuk surga. Atau maksudnya Allah akan memasukkannya ke surga dimana kedudukannya di surga sesuai amal yang dilakukannya.
Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan tauhid, bahwa barang siapa yang bersaksi dua kalimat syahadat, dimana ia mengetahui kandungannya dan mengamalkan konsekwesinya lahir maupun batin, dan menjauhi sikap ifrath (berlebihan) dan tafrith (meremehkan) terhadap dua nabi yang mulia, yaitu Nabi Isa dan Nabi Muhammad ‘alaihimash shalatu was salam, dimana ia mengakui kerasulan keduanya dan mengakui sebagai hamba-Nya; tidak memiliki sedikit pun sifat ketuhanan, ia juga meyakini bahwa surga dan neraka ada, maka ia akan masuk surga meskipun ia melakukan kemaksiatan yang bukan syirk.
Kesimpulan:
1.     Keutamaan tauhid dan bahwa Allah akan menghapuskan dosa-dosa karenanya.
2.     Luasnya karunia Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
3.     Wajibnya menjauhi sikap ifrath dan tafrith terhadap para nabi, sehingga sikap kita adalah tidak berlebihan sampai menuhankan dan tidak meremehkan mereka sehingga perintah dan larangannya diremehkan.
4.     Para pelaku maksiat dari kalangan Ahli Tauhid tidak kekal di neraka.
5.     Akidah Tauhid (Islam) menyelisihi semua agama yang kufur, seperti Yahudi, Nasrani, Majusi, kaum musyrik, atheis, dan sebagainya.
Bersambung...
Marwan bin Musa
Maraji’: Al Mulakhkhash fii Syarh Kitab At Tauhid (Dr. Shalih bin Fauzan Al fauzan), Al Maktabatusy Syamilah versi 3.45, dll.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger