Islam, Agama Yang Penuh Rahmat (Kasih-Sayang)

Senin, 09 Maret 2015
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫الإسلام دين الرحمة‬‎
Islam, Agama Yang Penuh Rahmat (Kasih-Sayang)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Sebagian manusia menyangka bahwa agama kita (Islam) adalah agama yang keras dan kasar. Hal ini karena mereka tidak mengenal ajaran Islam, dan hanya melihat kepada orang-perorang. Padahal keadaan kaum muslim di zaman sekarang tidaklah mewakili agama Islam, karena banyak di antara mereka yang meninggalkan ajaran-ajaran Islam dan mengerjakan larangan-larangannya.
Islam agama yang penuh rahmat
Agama Islam adalah agama yang penuh kasih sayang. Bagaimana tidak? Pemilik agama ini adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan Nabi yang diutus-Nya adalah Nabi yang memiliki sifat kasih dan sayang. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman menyifati Diri-Nya,
وَإِلَـهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 163)
Dia juga berfirman menyifati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, sangat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128)
Di surat yang biasa kita baca dalam shalat di setiap rakaat, yaitu surat Al Fatihah juga tertera ayat yang berbunyi Ar Rahmaanir Rahim. Di antara hikmah disebutkan firman-Nya ini dalam surat Al Fatihah adalah agar menancap dalam benak kita, bahwa Rabb kita adalah Rabb Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan sudah barang tentu syariat ditetapkan dalam agama-Nya itu adalah syariat yang penuh kasih sayang. Bahkan, Islam memerintahkan pemeluknya memiliki sifat sayang dan menjadikan sifat tersebut sebagai syarat mendapatkan rahmat Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Orang-orang yang menyayangi akan disayangi Ar Rahman. Sayangilah penduduk bumi, niscaya yang ada di atas langit (Allah) akan menyayangimu.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani).
Luasnya rahmat Allah Azza wa Jalla
Sifat rahmat yang dimiliki Allah Azza wa Jalla adalah sifat rahmat yang Mahaluas dan meliputi segala sesuatu; tidak dapat dijangkau oleh akal fikiran manusia. Perhatikanlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,
إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً، وَأَرْسَلَ فِي خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً
“Sesungguhnya Allah menciptakan rahmat pada hari Dia menciptakannya menjadi seratus rahmat. Dia menahan sembilan puluh sembilan rahmat di sisi-Nya dan melepas satu rahmat untuk semua makhluk-Nya.” (HR. Bukhari)
Maksud hadits ini adalah, bahwa berbagai bentuk kasih sayang yang engkau lihat di dunia, seperti sayangnya ibu kepada anaknya, sayangnya orang-orang kaya yang saleh kepada orang-orang miskin dan sebagainya adalah satu dari seratus bagian rahmat Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang meliputi segala sesuatu.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sebagai rahmat bagi alam semesta
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman menerangkan keadaan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya’: 107)
Oleh karenanya, aktifitas Beliau penuh dengan rahmat (kasih sayang). Beliau tidak suka memberatkan manusia dan menyusahkan mereka, bahkan selalu memudahkan mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
إِنَّ اللهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا، وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا
“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku untuk menyusahkan manusia dan mencari-cari kesalahan mereka. Dia mengutusku sebagai pendidik dan sebagai orang yang memberikan kemudahan.” (HR. Muslim)
Berikut ini contoh kasih sayang Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada semua pihak.
Kasih sayang Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum wanita
عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ يَزِيدَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهَا مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي الْبَيْتِ قَالَتْ كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا سَمِعَ الْأَذَانَ خَرَجَ
Dari Al Aswad bin Yazid ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah, “Apa yang biasa dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di rumahnya?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau biasa membantu pekerjaan istrinya. Ketika azan tiba, maka Beliau keluar (untuk shalat).” (HR. Bukhari)
عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ وَغُلَامٌ أَسْوَدُ يُقَالُ لَهُ أَنْجَشَةُ يَحْدُو فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَنْجَشَةُ رُوَيْدَكَ سَوْقًا بِالْقَوَارِيرِ *
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam safarnya. Saat itu ada budak hitam yang namanya Anjasyah, ia yang menghalau rombongan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Wahai Anjasyah! Berjalanlah pelan-pelan membawa kaca-kaca (kaum wanita).” (HR. Bukhari)
Demikian pula, ketika Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui istrinya di malam hari, Beliau masuk ke rumahnya mengucapkan salam dengan tidak mengeraskan suara salamnya agar tidak membangunkan istrinya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Miqdad, ia berkata, “Ketika Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang di malam hari, maka Beliau mengucapkan salam dengan suara yang tidak membangunkan orang yang tidur namun tedengar bagi orang yang sedang terjaga (tidak tidur).” (HR. Muslim)
Demikianlah keadaan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka pantaskah kita mengganggu saudara dan tetangga kita di malam atau siang hari dengan suara keras, seperti memperdengarkan suara lagu dan musik melalui tape atau radio dengan mengeraskan suaranya?
Kasih sayang Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ أَبْصَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ الْحَسَنَ فَقَالَ إِنَّ لِي عَشْرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ وَاحِدًا مِنْهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ *
Dari Abu Hurairah, “Bahwa Al ‘Aqra’ bin Habis pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencium Al Hasan (cucu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam), ia pun berkata, “Sesungguhnya saya mempunyai sepuluh anak, namun saya tidak pernah mencium salah seorang pun dari mereka,” maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mendorong umatnya mengurus anak yatim,
أَنَا وَكَافِلُ اليَتِيمِ فِي الجَنَّةِ هَكَذَا
“Saya dan pengurus anak yatim berada di surga seperti ini.”
Beliau berisyarat dengan telunjuk dan jari tengah, serta merenggangkannya sedikit.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ عَلَيْنَا وَلِي أَخٌ صَغِيرٌ يُكْنَى أَبَا عُمَيْرٍ وَكَانَ لَهُ نُغَرٌ يَلْعَبُ بِهِ فَمَاتَ فَدَخَلَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَرَآهُ حَزِينًا فَقَالَ مَا شَأْنُهُ قَالُوا مَاتَ نُغَرُهُ فَقَالَ يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ *
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasanya masuk menemui kami. Ketika itu, aku memiliki adik yang dipanggil Abu ‘Umair, ia memiliki burung yang sering dibuat mainan. Suatu hari burungnya mati, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam masuk menemuinya, dilihatnya Abu Umair bersedih, Beliau pun bertanya, “Ada apa dengan dirinya?” Keluarganya menjawab, “Burungnya mati,” Beliau pun berkata, “Wahai Abu Umair, apa yang terjadi pada si nughair (burung kecil).” (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Al Albani)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak hanya menyayangi anak-anak kaum muslimin, bahkan Beliau menyayangi anak-anak kaum kafir. Oleh karenanya, ketika Beliau mengirimkan pasukan perang, di antara wasiatnya adalah, “Jangan kalian mengkhianati janji, mencincang, dan membunuh anak-anak.”
Kasih sayang Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pemuda
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا، فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ وَقَالُوا: مَهْ. مَهْ. فَقَالَ: " ادْنُهْ، فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا ". قَالَ: فَجَلَسَ قَالَ: " أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟ " قَالَ: لَا. وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: " وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ ". قَالَ: " أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ؟ " قَالَ: لَا. وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ قَالَ: " وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ ". قَالَ: " أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ؟ " قَالَ: لَا. وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: " وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ ". قَالَ: " أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ؟ " قَالَ: لَا. وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: " وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ ". قَالَ: " أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ؟ " قَالَ: لَا. وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: " وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ ". قَالَ: فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ: " اللهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ " قَالَ : فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ.
Dari Abu Umamah, ia berkata, “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan saya berzina.” Maka para sahabat mendatanginya dan mencegahnya, mereka mengatakan, “Berhentilah dari sikap ini! Berhentilah dari sikap ini!” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dekatkanlah dia denganku.” Maka orang itu pun didekatkan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia duduk, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sukakah kamu jika zina itu menimpa pada ibumu?” ia menjawab, “Tidak. Demi Allah, biarlah Allah menjadikan diriku sebagai tebusan bagimu.” Beliau bersabda, “Manusia yang lain juga sama; tidak ingin perzinaan itu menimpa ibu mereka.” Beliau bersabda, “Sukakah kamu jika zina itu menimpa pada puterimu?” Ia menjawab, “Tidak. Demi Allah, biarlah Allah menjadikan diriku sebagai tebusan bagimu.” Beliau bersabda, “Manusia yang lain juga sama; tidak ingin perzinaan itu menimpa puteri mereka.” Beliau bersabda, “Sukakah kamu jika zina itu menimpa saudarimu?” Ia menjawab, “Tidak. Demi Allah, biarlah Allah menjadikan diriku sebagai tebusan bagimu.” Beliau bersabda, “Manusia yang lain juga sama; tidak ingin perzinaan itu menimpa saudari mereka.” Beliau bersabda, “Sukakah kamu jika zina itu menimpa pada bibimu?” Ia menjawab, “Tidak. Demi Allah, biarlah Allah menjadikan diriku sebagai tebusan bagimu.” Beliau bersabda, “Manusia yang lain juga sama; tidak ingin perzinaan itu menimpa bibi mereka.” Beliau bersabda, “Sukakah kamu jika zina itu menimpa pada saudari ibumu?” Ia menjawab, “Tidak. Demi Allah, biarlah Allah menjadikan diriku sebagai tebusan bagimu.” Beliau bersabda, “Manusia yang lain juga sama; tidak ingin perzinaan itu menimpa saudari ibu mereka.” Maka Beliau meletakkan tangannya ke (dada)nya dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kehormatannya.” Maka setelah itu, pemuda ini tidak memperhatikan hal itu lagi.” (HR. Ahmad, dan dinyatakan isnadnya shahih oleh Pentahqiq Musnad Ahmad cet. Ar Risalah).
Kasih sayang Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada musuh
Dalam Shahih Bukhari disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat shubuh bersama kaum muslimin di Hudaibiyah, tiba-tiba datang tujuh puluh atau delapan puluh orang dari Tan’im untuk menyerang kaum muslimin, mereka kemudian tertangkap lalu dibebaskan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tanpa hukuman apa-apa.
Dalam sejarah disebutkan, bahwa Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menerima tebusan para tawanan perang Badar.
Dalam sejarah pula disebutkan, bahwa pada saat penaklukkan Makkah, Beliau memaafkan orang-orang Quraisy dan penduduk Makkah yang sebelumnya menyakiti Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya sedangkan Beliau berkuasa menghukum mereka.
Kasih sayang Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada hewan
Suhail bin Al Hanzhaliyyah pernah berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melewati seekor unta yang punggung dan perutnya dekat (kurus), maka Beliau bersabda,
اتَّقُوا اللَّهَ فِي هَذِهِ الْبَهَائِمِ الْمُعْجَمَةِ فَارْكَبُوهَا صَالِحَةً وَكُلُوهَا صَالِحَةً *
“Bertakwalah kepada Allah terhadap binatang yang tidak bisa bicara ini, tunggangilah dengan cara yang baik dan makanlah dengan cara yang baik.” (HR. Abu Dawud dan dihasankan sanadnya oleh Al Arnaa’uth)
Kasih sayang Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pembantu
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sembilan tahun. Aku belum pernah mengetahui Beliau berkata kepadaku, “Kenapa engkau melakukan ini dan itu?” Dan Beliau tidak pernah mencelaku sedikit pun.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada umatnya untuk berbuat baik kepada pelayannya, Beliau bersabda,
«إِنَّ إِخْوَانَكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ، فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَلاَ تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَأَعِينُوهُمْ»
“Sesungguhnya saudara kalian menjadi pelayan kalian. Allah menjadikan mereka berada di bawah kekuasaan kalian. Barang siapa yang saudaranya berada di bawah kekuasaannya, maka hendaknya saudaranya itu makan seperti yang ia makan, memakai pakaian seperti yang ia pakai, dan jangan membebani mereka dengan sesuatu yang menyusahkan mereka. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah.” (HR. Bukhari)
Kasih sayang Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang yang tidak tahu
Mu’awiyah bin Hakam As Sulamiy radhiyallahu 'anhu berkata, “Pernah ketika aku shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba-tiba ada orang yang bersin, lalu aku katakan kepadanya “Yarhamukallah” (artinya: semoga Allah merahmatimu), maka orang-orang pun memandangiku, aku pun berkata (dalam shalat), “Celaka kalian, mengapa kalian memandangiku?” Maka orang-orang menepukkan tangannya ke pahanya (berisyarat agar Mu’awiyah tidak berbicara ketika shalat). Ketika aku melihat mereka menyuruh diam (dengan isyarat), maka aku pun diam. Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selesai shalat, maka biarlah bapak dan ibuku menjadi tebusannya. Sungguh, aku belum pernah melihat pendidik yang paling baik sebelumnya maupun sesudahnya daripada Beliau, Beliau tidak memarahiku, tidak memukulku dan tidak mencelaku, Beliau bersabda, “Sesungguhnya shalat ini tidak baik jika ada kata-kata manusia. Shalat itu isinya tasbih, takbir, dan bacaan Al Qur’an atau seperti yang dikatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Aku pun bertanya, “Wahai Rasulullah, saya ini seorang yang baru lepas dari kejahiliahan. Allah Ta’ala mendatangkan agama Islam, sedangkan di antara kami ada orang-orang yang mendatangi dukun (bolehkah kami mendatanginya)?” Beliau menjawab, “Jangan kamu datangi,” aku pun bertanya lagi, “Di antara kami ada orang yang merasa sial dengan sesuatu ?” Beliau pun menjawab, “Itu adalah sesuatu yang terelintas di hati mereka, maka jangan sampai hal itu menghalangi niat mereka.” Aku bertanya lagi, “Di antara kami ada orang yang membuat garis di tanah?” Beliaupun menjawab, “Dahulu salah seorang nabi di antara para nabi ada yang membuat garis, jika tepat begitulah.” (yakni untuk sekarang hal itu dilarang). Mu’awiyah melanjutkan kata-katanya, “Saya pernah punya budak wanita yang mengembala kambing-kambing saya di dekat Uhud dan Jawwaniyyah. Suatu hari, saya memperhatikan kambing itu, ternyata salah satunya dibawa oleh serigala, sayapun marah sebagaimana orang lain marah, maka saya pukul budak saya itu, kemudian saya mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (memberitahukan hal itu), Beliau menganggap perkara besar perkara itu bagiku, kemudian saya berkata, “Apakah saya perlu memerdekakan?” Beliau menjawab, “Bawalah ia kepadaku,” aku pun membawanya, lalu Beliau bertanya kepadanya, “Di mana Allah?” Ia menjawab, “Di atas langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapa saya?” Ia menjawab, “Engkau Rasulullah (utusan Allah).” Maka Beliau bersabda, “Bebaskanlah dia, karena dia seorang mukminah.” .(HR. Muslim)
عن أَبَي هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ *
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Pernah seorang baduwi berdiri lalu kencing di masjid, orang-orang pun bangun (untuk memarahinya), maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Biarkan dia! Siramkanlah kencingnya itu dengan setimba air atau seember air, karena kalian diutus untuk memudahkan bukan untuk menyusahkan.” (HR. Bukhari)
Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan Hadidi, M.Pd.I
Maraji’: Al Islam Dinur Rahmah (Syaikh Syadi Muhammad Salim An Nu’man), Maktabah Syamilah versi 3,45, dll.

Kaum Salaf dalam Berjihad Fi Sabilillah (3)

Sabtu, 07 Maret 2015
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫الجهاد في سبيل الله‬‎
Kaum Salaf dalam Berjihad Fi Sabilillah (3)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut ini lanjutan contoh keteladanan kaum Salaf dalam berjihad fii sabilillah yang kami ambil dari kitab Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf karya Abdul Aziz Al Julail dan Bahauddin Aqil, semoga Allah menjadikan penerjemahan ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.

Keteladanan kaum salaf dalam berjihad fi sabilillah

Muhammad bin Imran meriwayatkan dari Hatim Al Asham ia berkata, “Kami pernah bersama Syaqiq untuk menghadapi orang-orang Turki pada hari yang ketika itu tidak terlihat selain kepala-kepala berjatuhan, pedang-pedang menebas dan tombak-tombak patah, lalu ia berkata kepadaku, “Bagaimana engkau melihat dirimu, apapah ia seperti malam pengantimu?” Aku menjawab, “Tidak demi Allah,” Ia berkata lagi, “Tetapi aku melihatnya seperti itu,” lalu ia tidur di antara dua barisan di atas perisai kulitnya sehingga mendengkur, kemudian orang Turki menangkapku dan menidurkanku untuk menyembelihku. Saat ia mencari pisau dari sepatunya, tiba-tiba datang panah yang tidak ketahuan siapa yang memanah lalu membunuhnya.” (Siyar A’lamib Nubala 9/314).

*****

Adz Dzahabi berkata menyebutkan biografi Abu Bakar An Nabulisiy,

Abu Dzar Al Hafizh berkata, “Bani Ubaidiyyah memenjarakan Abu Bakar An Nabulisiy dan menyalibnya karena mempertahankan As Sunnah. Aku mendengar Daruquthni membicarakan dirinya sambil menangis, “Ketika dirinya dikuliti ia sempat membacakan firman Allah,

كَانَ ذَلِك فِي الْكِتَابِ مَسْطُوراً

“Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al Israa’: 58)

Abul Faraj Ibnul Jauziy berkata, “Suatu ketika, Jauhar -komandan perang bawahan Abu Tamim pemimpin Mesir- berhasil menemui Abu Bakar An Nabulisiy yang sedang mendatangi gubuk-gubuk (orang miskin), lalu Jauhar berkata kepadanya, “Telah sampai berita kepada kami, bahwa engkau berkata, “Jika seorang mempunyai 10 panah, maka ia harus melepaskannya kepada orang-orang Romawi satu panah dan kepada kami sembilan panah.” Abu Bakar berkata, “Aku tidak mengatakan demikian. Bahkan yang kukatakan adalah, jika seseorang mempunyai sepuluh panah, maka ia harus melepaskan sembilan panah kepada kalian, dan yang kesepuluh juga kepada kalian. Karena kalian telah merubah agama, membunuh orang-orang saleh, dan mengaku memiliki cahaya ketuhanan.” Lalu Jauhar mengarak dan memukulnya, kemudian memerintahkan seorang Yahudi untuk mengulitinya.” (Siyar A’lamin Nubala 16/148, 149)

*****

Al Khansa’, ibunda empat mujahid

Dari Abdurrahman bin Mugharra Ad Dausiy, dari seorang yang berasal dari suku Khuza’ah, ia berkata, “Ketika orang-orang berkumpul di Qadisiyyah, maka Khansa binti Amr An Nakha’iyyah memanggil empat puteranya, ia berkata, “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya kalian telah menjadi muslim-muslim yang taat dan telah berhijrah. Demi Allah, tidak ada tempat yang tidak menyenangkan kalian, dan kalian tidak disusahkan oleh paceklik dan tidak memiliki rasa tamak. Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya kalian adalah keturunan seorang laki-laki sebagaimana keturunan serorang perempuan. Aku tidak akan mengkhianati ayah kalian, aku tidak akan membuat malu paman kalian, serta tidak merubah nasab kalian, tidak merusak kehormatan kalian, serta tidak merampas milik kalian. Jika besok tiba insya Allah, maka seranglah musuh kalian sambil meminta pertolongan kepada Allah dan terus meminta petunjuk-Nya. Jika kalian melihat perang telah menampakkan tanda-tandanya, dan genderang perang telah ditabuh, maka majulah dengan semangat dan hantamlah pasukan musuh, kalian akan memperoleh ghanimah, keselamatan, kejayaan, dan kemuliaan di negeri yang kekal (akhirat) dan tempat singgah sementara (dunia).”

Maka para pemuda itu segera beranjak dari sisinya untuk menaati perintahnya dan menghayati nasihatnya. Ketika mereka telah menemui musuh, puteranya yang pertama bersiap-siap sambil melantunkan syair,

Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya wanita tua sang pemberi nasihat,

Telah mengobarkan semangat kita ketika ia memanggil kita tadi malam,

Sebuah nasihat yang jelas dan gamblang, maka bersiaplah menyambut perang yang bertaring tajam

Yang kalian jumpai dari rezim Sasan ketika perang berkecamuk hanyalah anjing-anjing yang menggonggong

Mereka telah yakin bahwa kalian akan memperoleh kesusahan, padahal kalian sebenarnya berada di antara kehidupan yang baik atau kematian yang mewariskan bagian yang menguntungkan

Puteranya yang kedua juga menyambutnya dengan mengatakan,

Demi Allah, kami tidak akan mendurhakai wanita tua sepatah kata pun, karena ia telah menyuruh kita dengan rasa cinta dan kasihnya

Juga dengan kebaikannya yang tulus dan penuh kelembutan, maka mari kita hadapi perang yang bertaring meskipun sambil merangkak

Sehingga kalian berhasil menghadap rezim Kisra dan memporak-porandakan mereka yang membuat kehormatan kita terjaga

Kita melihat bahwa teledor dalam menghadapi mereka adalah kelemahan, serta membunuh mereka adalah kemuliaan dan kebiasaan yang patut dijaga

Putera yang ketiga juga menyambutnya sambil berkata,

Engkau bukanlah milik Khnasa, Akhzam, dan Amr pemilik kehormatan yang paling awal

Kalau kalian tidak menyambut mereka, maka akan datang kaum ajam, mereka akan mengumpulkan kekuatan seperti  pimpinan Sasan dan Rustum

Dengan segala puji, pertempuran nanti bagaikan singa, berlangsung mencekam bagai lautan yang luas

Untuk memperoleh kemenangan yang dekat dan harta rampasan atau kehidupan yang paling mulia; kamu di sana akan memperoleh bagian yang paling agung

Selanjutnya puteranya yang keempat menyambutnya pula sambil berkata,

Sesungguhnya wanita tua berpendirian kuat dan tangguh, memiliki pandangan yang tajam dan pendapat yang benar

Ia telah menyuruh kita dengan benar dan di atas kebenaran sebagai bentuk nasihatnya dan berbuat baik kepada anaknya

Maka ayo segera datangi peperangan untuk memperbanyak generasi, baik untuk memperoleh kemenangan atau menguasai negeri

Atau mungkin untuk mati yang mewariskan keabadian, lalu masuk surga Firdaus untuk hidup bahagia selama-lamanya

Mereka lalu berperang sehingga Allah Azza wa Jalla memberikan kemenangan kepada kaum muslimin. Akhirnya mereka memperoleh dua ribu (dirham), mereka bawa dan kucurkan ke pangkuan sang ibu, untuk kemudian dibagikan kepada mereka secara sama rata. Tidak seorang pun yang terzalimi haknya meskipun satu dirham.” (Shifatush Shafwah 4/385-387)

Kisah Seorang Yang Syahid Menikah Dengan Seorang Bidadari

Dari Tsabit Al Bunani ia berkata, “Aku pernah berada di dekat Anas bin Malik, tiba-tiba datang anaknya dari peperangan yang bernama Abu bakar, lalu Anas bertanya kepadanya (perihal keadaannya), maka Abu Bakar menyampaikan sebuah kisah,

“Maukah aku beritahukan kepadamu tentang kawan kami si fulan? Yaitu ketika kami kami kembali dari perang, tiba-tiba ia terbangun kaget sambil berkata, “Oh istriku! Oh istriku!”

Lalu kami segera mendatanginya sambil mengira ada sesuatu yang menimpanya, kemudian kami bertanya, “Ada apa denganmu?”

Ia pun menjawab, “Aku berniat tidak menikah sampai aku mati syahid agar Allah menikahkanku degan bidadari bermata jeli, tetapi karena aku merasakan lama syahidku, maka dalam safarku ini aku berkata (dalam hati), “Jika aku pulang pada kesempatan ini, aku akan menikah saja.” 

Tiba-tiba ada yang mendatangiku dalam mimpi dan berkata, “Apakah engkau orang yang mengatakan, “Jika aku pulang, maka aku akan menikah?” Bangunlah, Allah akan menikahkanmu dengan bidadari bermata jeli,” maka ia mengajakku ke taman hijau yang berumput, di sana terdapat 10 orang gadis remaja yang di tangan mereka ada hasil karya yang dibuatnya, dimana aku belum pernah melihat wanita yang cantik dan indah seperti mereka, maka aku pun bertanya, “Apakah di antara kalian ada si bidadari bermata jeli?” Mereka menjawab, “Kami termasuk para pembantunya. Dia masih ada di hadapanmu.” Maka aku melanjutkan perjalananku, lalu aku lihat ada taman berumput yang lebih indah daripada sebelumnya, di sana terdapat 20 orang gadis remaja yang di tangan mereka ada hasil karya yang dibuatnya; berbeda dengan 10 gadis remaja yang sebelumnya, dimana mereka lebih cantik lagi dan lebih indah, aku pun bertanya, “Apakah di antara kalian ada si bidadari bermata jeli?”

Mereka menjawab, “Kami termasuk para pembantunya. Dia masih ada di hadapanmu.” 

Maka aku melanjutkan perjalananku, tiba-tiba aku berada di sebuah taman yang rumputnya lebih indah daripada yang pertama dan kedua, di sana terdapat terdapat 40 orang gadis remaja yang di tangan mereka ada hasil karya yang dibuatnya; berbeda dengan 10 dan 20 gadis remaja yang sebelumnya, dimana mereka lebih cantik lagi dan lebih indah, aku pun bertanya, “Apakah di antara kalian ada si bidadari bermata jeli?” Mereka menjawab, “Kami termasuk para pembantunya. Dia masih ada di hadapanmu.”

Maka aku melanjutkan perjalananku sehingga aku bertemu dengan sebuah batu yaqut yang berongga yang di dalamnya terdapat kasur sedangkan di atasnya terdapat seorang wanita yang sangat cantik, lalu aku bertanya, “Apakah engkau si bidadari bermata jeli?” Ia menjawab, “Ya. Selamat datang!” Maka aku hendak menaruh tangannya di atasnya namun ia berkata, “Tunggu! Engkau masih memiliki sisa ruh (usia)."

Tetapi nanti malam engkau akan berbuka bersama kami.” Maka aku pun terbangun.”

Ketika orang itu baru selesai menyampaikan kisahnya tiba-tiba ada seruan, “Wahai pasukan Allah, naikilah hewan tunggangan kalian!”

Maka kami pun menaiki hewan tunggangan kami dan berhadapan dengan musuh. Ketika itu aku melihat laki-laki itu dan memperhatikan pula matahari seraya mengingat kisah yang disampaikannya, namun aku tidak tahu mana yang lebih dulu jatuh; apakah kepala orang itu ataukah matahari (yang tenggelam).”

(Al Ghailaniyyat karya Abu Bakar Asy Syafi’iy 1/667, riwayat ini hasan)

Wallahu a’lam shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahabihi wa sallam.

Disarikan dari kitab  Aina Nahnu min Akhlaqis salaf  dan lainnya oleh Marwan bin Musa

Kaum Salaf dalam Berjihad Fi Sabilillah (2)

بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫الجهاد في سبيل الله‬‎
Kaum Salaf dalam Berjihad Fi Sabilillah (2)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini lanjutan contoh keteladanan kaum Salaf dalam berjihad fii sabilillah yang kami ambil dari kitab Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf karya Abdul Aziz Al Julail dan Bahauddin Aqil, semoga Allah menjadikan penerjemahan ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.
Keteladanan kaum salaf dalam berjihad fi sabilillah
Khalid bin Abdullah meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Amar bin Ash, ia berkata, “Pasukan kaum muslimin dengan saya sendiri sebagai ketuanya pernah keluar hingga sampai di Iskandariyyah, lalu salah seorang pembesar pasukan Romawi berseru, “Biarkanlah salah seorang seorang  di antara kalian maju untuk kuajak berbicara,” aku pun berkata, “Tidak ada yang maju mendatanginya selain aku.” Maka aku keluar bersama penerjemahku, dan ia juga membawa penerjemahnya, sehingga diletakkan kepada kami dua mimbar, lalu ia bertanya, “Siapa kalian?” Aku menjawab, “Kami adalah bangsa Arab penghuni wilayah yang terdapat pohon berduri dan pohon salam. Kami adalah penduduk di dekat Baitullah. Kami adalah manusia yang paling sempit tempat tinggalnya dan paling sengsara kehidupannya; kami memakan bangkai dan darah, dan sebagian kami memerangi sebagian yang lain. Keadaan kami sangat buruk, sehingga tampil di tengah-tengah kami seseorang yang ketika itu bukan sebagai orang yang paling terhormat dan bukan orang yang paling banyak hartanya, ia berkata, “Aku adalah utusan Allah kepada kalian.” Beliau menyuruh kami dengan perintah yang tidak kami kenal dan melarang kebiasaan yang kami lakukan. Kami membencinya, lalu kami mendustakannya dan membantahnya sehingga muncullah kaum selain golongan kami yang berkata, “Kami yang membenarkanmu dan siap berperang membelamu.” Beliau berhijrah mendatangi mereka dan kami pun pergi mendatanginya, kami memeranginya, namun ternyata Beliau menang terhadap kami dan berhasil memerangi bangsa Arab yang tinggal di dekatnya, Beliau juga menang terhadap mereka. Kalau sekiranya bangsa Arab yang berada di belakangku mengetahui kehidupan kalian, maka pasti mereka akan mendatangi kalian.” Pemimpin itu pun tertawa, lalu ia berkata, “Sesungguhnya Rasul kalian benar, dan para rasul biasa datang seperti itu. Kami berada di atas ajaran para rasul sampai muncul di tengah-tengah kami para raja yang bertindak sesuai keinginan mereka dan meninggalkan ajaran para nabi. Jika kalian mengikuti ajaran Nabi kalian, maka tidak ada seorang pun yang memerangi kalian kecuali kalianlah yang menang menghadapi mereka. Jika kalian meninggalkan ajaran Nabi kalian sebagaimana yang kami lakukan, maka jumlah kalian tidaklah lebih banyak daripada kami dan tidak lebih kuat daripada kami.” (Siyar A’lamin Nubala 3/70-71)
*****
Biografi Abu Aqil Abdurrahman bin Tsa’labah
Beliau adalah seorang yang hadir dalam perang Badar dan menghadiri semua peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ibnul Jauziy meriwayatkan dari Ja’far bin Abdullah bin Aslam ia berkata, “Pada saat terjadi perang Yamamah dan manusia sudah membuat barisan, maka orang yang pertama terluka adalah Abu Aqil. Ia terkena panah di antara kedua bahunya dan hatinya; bukan pada bagian yang paling vital, lalu ia menarik panahnya sehingga bagian tubuhnya sebelah kiri terasa lemah di pagi hari dan ia pun dibawa  ke tempatnya. Saat perang semakin memanas, kaum muslim terdesak dan meninggalkan tempat-tempatnya, sedangkan Abu Aqil tampak lemah karena lukanya, lalu terdengarlah suara Ma’an bin Addiy sambil berteriak, “Wahai kaum Anshar! Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah. Kembalilah untuk menyerang musuh.” Abdullah bin Umar berkata, “Lalu Abu Aqil bangun mendatangi kaumnya. Kemudian aku berkata kepadanya, “Kalimat itu tertuju kepada kaum Anshar,” yakni bukan tertuju kepada mereka yang terluka.” Abu Aqil menjawab, “Aku termasuk kaum Anshar dan aku akan menyambutnya meskipun sambil merangkak.” Maka Abu Aqil terus menghadapinya dan mengambil pedang dengan tangan kanannya, lalu ia memanggil, “Wahai kaum Anshar! Kembalilah seperti pada perang Hunain. Berkumpullah dan majulah! Semoga Allah merahmati kalian semua.“ Maka kaum muslimin maju menghadapi musuh mereka dan mendesak musuh ke perkebunan, mereka menyatu dan beradu pedang. Ibnu Umar berkata, “Aku melihat Ibnu Aqil yang ketika itu tangannya yang terluka putus dari pundaknya sampai jatuh ke tanah dan ia terluka hingga empat belas luka mengena kepada anggota badannya yang vital, namun dengan tebusan itu musuh Allah yaitu Musailamah tewas terbunuh. Ibnu Umar berkata, “Maka aku mendatangi Abu Aqil dalam kondisi lemah pada detik-detik terakhir nyawanya. Aku katakan kepadanya, “Wahai Abu Aqil!” Ia menjawab, “Kusambut panggilanmu –dengan suara yang berat-, siapa yang menang?”  Aku menjawab, “Bergembiralah! Sesungguhnya musuh Allah telah terbunuh.” Lalu ia mengangkat jarinya ke langit memuji Allah kemudian ia pun wafat, semoga Allah merahmatinya.”
Ibnu Umar berkata, “Setelah itu aku sampaikan kejadian itu kepada Umar, lalu ia berkata, “Semoga Allah merahmatinya. Ia senantiasa berusaha syahid dan mengejarnya meskipun yang kutahu ia termasuk sahabat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam terbaik dan orang yang lebih dulu keislamannya, semoga Allah meridhainya.” (Shifatush Shofwah 1/466, 467).
*****
Biografi Watsilah bin Al Asqa’ radhiyallahu ‘anhu
Dari Muhammad bin Sa’ad ia berkata, “Watsilah pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shalat Subuh bersamanya. Biasanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seusai shalat memperhatikan para sahabatnya. Saat Beliau berada dekat dengan Watsilah, Beliau bertanya, “Siapa engkau?” Lalu diberitahukan kepada Beliau, kemudian Beliau bertanya, “Apa maksud kedatanganmu?” Ia menjawab, “Aku datang untuk berbai’at,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah dalam hal yang kamu suka maupun yang kamu benci?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau menjawab, “Sebatas kesanggupanmu?” Ia menjawab, “Ya,” maka Watsilah masuk Islam dan berbaiat. (Ath Thabaqat Al Kubra karya Ibnu Sa’ad 1/232).
Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiap-siap berangkat ke Tabuk, lalu Watsilah keluar menemui keluarganya dan menemui ayahnya yaitu Al Asqa’. Saat ayahnya melihat keadaan Watsilah, maka ia bertanya, “Apakah kamu telah benar-benar masuk Islam?” Watsilah menjawab, “Ya.” Ayahnya berkata, “Demi Allah, aku tidak akan berbicara dengannmu selama-lamanya,” lalu Watsilah mendatangi pamannya dan mengucapkan salam kepadanya, kemudian pamannya bertanya, “Apakah kamu telah benar-benar masuk Islam?” Watsilah menjawab, “Ya.” Maka pamannya mencelanya namun lebih ringan daripada celaan ayahnya. Pamannya berkata, “Tidak patut bagimu mendahului kami dalam suatu urusan.” Ternyata saudari Watsilah mendengar ucapannya, kemudian keluar menemui Watsilah dan mengucapkan salam kepadanya dengan salam Islam. Watsilah berkata, “Dari mana kamu memperoleh salam ini wahai saudariku?” Saudarinya menjawab, “Aku mendengar ucapanmu dan ucapan pamanmu, sehingga aku masuk Islam.” Lalu Watsilah berkata, “Siapkanlah untukku perlengkapan perang, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkemas-kemas untuk berangkat perang,” lalu saudarinya menyiapkannya, kemudian ia menyusul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah berangkat menuju Tabuk. Ketika itu masih ada segolongan manusia yang masih berkemas-kemas. Kemudian Watsilah menyeru di pasar Bani Qainuqa, “Siapa yang mau membawaku, maka ia akan memperoleh bagian dariku?” Watsilah berkata, “Aku adalah seorang yang tidak memiliki hewan tunggangan,” lalu Ka’ab bin Ujrah memanggilku dan berkata, “Aku akan membawamu secara bergiliran malam dan siang. Tanganmu akan kutuntun, dan bagianmu untukku,” Watsilah menjawab, “Ya.” Watsilah berkata, “Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Ia yang membawaku, membekaliku, dan aku dapat makan bersamanya, bahkan dia yang membawakan makanan bagiku.” Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Khalid bin Al Walid ke Ukaidar bin Abdul Malik di Daumatul Jandal, maka Ka’ab keluar dalam pasukan Khalid dan aku keluar bersamanya sehingga kami mendapatkan harta fai yang banyak, lalu Khalid membagikannya di antara kami. Aku memperoleh enam unta muda. Aku datang menggiringnya dan membawanya ke kemah Ka’ab bin Ujrah, lalu aku katakan, “Keluarlah, semoga Allah merahmatimu, lihatlah unta-untamu, ambillah.” Maka Ka’ab keluar sambil tersenyum dan berkata, “Semoga Allah memberikan berkah kepadamu. Ketika aku membawamu, aku tidak ingin mengambil seuatu pun darimu.” (Shifatush Shafwah 1/674-676).
*****
Dari Abdullah bin Qais, bahwa Abu Umayyah Al Ghifari berkata, “Suatu hari kami berada dalam suatu peperangan, tiba-tiba musuh datang, kemudian disampaikanlah hal itu kepada manusia, maka mereka segera mengatur barisan. Ternyata di hadapanku ada seorang laki-laki yang kepala kudaku berada di belakang ekor kudanya, ia berkata kepada dirinya, “Wahai jiwa! Bukankah aku telah hadir dalam perang ini dan itu,” engkau berkata kepadaku, “Ingatlah istrimu. Ingatlah keluargamu, lalu engkau kuikuti dan aku kembali pulang?” Bukankah aku telah hadir dalam perang ini dan itu. Engkau pun mengatakan, “Ingatlah istrimu. Ingatlah keluargamu, lalu kamu kuikuti  dan aku kembali pulang? Demi Allah, hari ini kamu harus mempersembahkan jiwamu kepada Allah, baik Dia mengambil nyawamu atau tidak.” Abu Umayyah berkata, “Aku akan memperhatikan orang ini sekarang, maka aku lihat saat orang-orang menyerang musuh, ia berada di bagian terdepan, sedangkan musuh juga menyerang. Barisan kaum muslimin pun terdesak sedangkan ia sebagai pembela mereka. Lalu pasukan kembali menyerang musuh dan ia tetap berada di barisan depan mereka, lalu musuh menyerang pula sehingga barisan terdesak namun ia menjadi benteng mereka. Ia terus seperti itu keadaannya sampai aku lihat dirinya tewas, lalu aku hitung tikaman yang mengenai dirinya dan hewan kendaraannya ternyata lebih dari enam puluh tikaman.” (Shifatush Shafwah 4/421).
*****
Dari Ibnul Mubarak, dari Sirriy bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Al ‘Ala bin Hilal, bahwa ada seorang yang berkata kepada Shilah, “Wahai Abu Shahba! Aku bermimpi mendapatkan syahid, sedangkan engkau mendapatkan dua kali syahid, “ Abu Shahba berkata, “Kalau begitu engkau akan syahid, demikian pula diriku dan anakku.” Maka pada saat terjadi perang bersama Yazid bin Ziyad, dimana orang-orang Turki menyerang mereka di Sijistan dan mereka kalah di sana, Shilah berkata, “Wahai anakku! Pulanglah menemui ibumu,” anaknya menjawab, “Ayah, apakah ayah menginginkan kebaikan buat ayah saja dan menyuruhku pulang?” Shilah berkata, “Kalau begitu majulah!” Anak nya pun maju dan berperang hingga terkena serangan musuh, lalu Shilah memanah musuh agar mereka menjauhi jasad anaknya, ia pun datang dan berdiri di hadapan anaknya dan berdoa, lalu ia berperang juga hingga terbunuh, semoga Allah merahamtinya.” (Siyar A’lamin Nubala 3/449)
*****
Al Ashma’i berkata, “Ketika Qutaibah bin Muslim mengatur barisan untuk melawan bangsa Turki dan merasa gentar menghadapi mereka, maka ia bertanya tentang Muhammad bin Wasi’, lalu dikatakan, “Beliau berada di pasukan sayap kanan dan membentangkan busurnya, sambil mengangkat jarinya ke langit,” lalu Qutaibah berkata, “Jari-jari itu (yang digunakan untuk berdoa) lebih aku sukai daripada seratus ribu pedang yang terhunus dan pemuda yang gagah.” (Siyar A’lamin Nubala 6/121)
*****
Suatu ketika Haiwah berkata kepada sebagian wakil gubernur Mesir, “Wahai fulan! Jangan engkau bersihkan negeri kami dari senjata. Kami berada di antara orang-orang Qibth yang kami tidak ketahui kapan mereka mengingkari janji, dan di antara orang-orang Habasyah yang kami tidak mengetahui kapan mereka menyerang kami, serta di antara orang-orang Romawi yang kami tidak tahu kapan mereka menjajah wilayah kami, demikian pula di antara orang-orang Barbar yang kami tidak ketahui kapan mereka memberontak.” (Siyar A’lamin Nubala 6/405).
Bersambung...
Wallahu a’lam shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahabihi wa sallam.
Disarikan dari kitab  Aina Nahnu min Akhlaqis salaf  oleh Marwan bin Musa

Kaum Salaf dalam Berjihad Fi Sabilillah (1)

بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫الجهاد في سبيل الله‬‎
Kaum Salaf dalam Berjihad Fi Sabilillah (1)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini contoh keteladanan kaum Salaf dalam berjihad fii sabilillah yang kami ambil dari kitab Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf karya Abdul Aziz Al Julail dan Bahauddin Aqil, semoga Allah menjadikan penerjemahan ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.
Keteladanan kaum salaf dalam berjihad fi sabilillah
Dari Hammad bin Salamah, telah menceritakan kepada kami Ali bin Zaid dari Ibnul Musayyib, ia berkata, “Shuhaib pernah datang berhijrah, lalu dibuntuti oleh sekelompok orang. Shuhaib langsung turun dari kendaraannya dan mengeluarkan anak panahnya seraya berkata, “Kalian pasti tahu, bahwa aku adalah orang yang ahli memanah di antara kamu. Demi Allah, kalian tidak akan sampai kepadaku sampai aku panah dengan seluruh panah-panahku, kemudian aku tebas kalian dengan pedangku. Jika kalian mau, maka aku akan tunjukkan kepada kalian di mana harta bendaku, tetapi kalian harus membiarkan aku meneruskan perjalanan ini.” Mereka menjawab, “Kami akan melakukannya.” Saat Shuhaib tiba di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Beliau bersabda, “Sungguh beruntung perniagaanmu wahai Abu Yahya.” Selanjutnya turunlah firman Allah Ta’ala,
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ وَاللّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Baqarah: 207)
(Siyar A’lamin Nubala 2/23. Riwayat ini disebutkan oleh Hakim dalam Mustadraknya 3/397. Dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/171, dan diriwayatkan pula oleh Thabrani dalam Al Kabir 8/43 dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 1/151, 152).
*****
Dari Al Waqidi, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Nafi’ dari ayahnya, dari Ibnu Umar, ia berkata, “Aku melihat Ammar pada perang Yamamah berada di atas sebuah batu besar sambil berteriak, “Wahai kaumm muslimin, apakah kalian melarikan diri dari surga? Aku Ammar bin Yasir! Kemarilah kalian!” Ibnu Umar berkata, “Aku melihat telinganya terpotong dalam keadaan tergantung-gantung, namun Beliau berperang dengan sangat gigihnya.” (Siyar A’lamin Nubala 1/422). 
*****
Ibnul Jauziy menyebutkan biografi Sa’ad bin Khaitsamah yang panggilannya adalah Abu Abdillah. Ia adalah salah seorang dari dua belas pemimpin kaum Anshar, hadir dalam perjanjian Aqabah yang terakhir bersama tujuh puluh orang lainnya.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan manusia untuk ikut perang Badar, maka ayahnya yang bernama Khaitsamah berkata kepadanya, “Harus ada satu orang di antara kita yang tinggal di rumah. Biarkanlah aku pergi dan tinggallah engkau di sini bersama keluargamu.”
Sa’ad menolak, “Kalau bukan karena urusan surga, aku akan mengalah kepadamu. Sungguh, aku mengharapkan mati syahid yang kini ada di hadapanku.”
Mereka pun berdua berundi. Ternyata nama Sa’ad yang keluar. Ia pun berangkat ke medan tempur hingga terbunuh sebagai syuhada di perang Badar. (Shifatush Shofwah 1/468).
*****
Dari Tsabit Al Bunani, dari Ibnu Abi Laila, bahwa Ibnu Ummi Maktum berkata, “Wahai Rabbku, turunkanlah ayat sebagai dispensasi bagiku.” Maka turunlah firman-Nya, “...Ghairu ulidh dharar (artinya: yang tidak mempunyai udzur),” (QS. An Nisaa’: 95). Beberapa saat setelah ayat itu turun, Beliau ikut berperang, Beliau berkata, “Berikanlah kepadaku panji perang, karena aku tidak bisa mungkin bisa lari. Dirikanlah aku di antara dua dua kubu yang berperang.” (Siyar A’lamin Nubala 1/364).
Hammad bin Salamah meriwayatkan, Tsabit telah mengabarkan kepada kami, bahwa Shilah pernah mengikuti peperangan bersama anaknya, ia berkata, “Wahai anakku, majulah dan berperanglah hingga aku mendapat pahala dari Allah karena kesabaranku atas kehilanganmu.” Maka anaknya pun maju berperang hingga terbunuh. Sellanjutnya Shilah juga berperang hingga terbunuh. Melihat peristiwa itu, kaum wanita pun berkumpul di sisi istrinya, yaitu Muadzah. Namun si istri justru berkata, “Selamat datang kuucapkan kepada kalian jika kalian datang memberi selamat kepadaku. Tetapi jika kalian datang untuk tujuan lain (berbelasungkawa), maka pulanglah kalian semua.” (Siyar A’lamin Nubala 3/498).
*****
Dari Asma binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat dari Mekkah, maka Abu Bakar membawa seluruh hartanya kurang lebih lima atau enam ribu (dinar). Tiba-tiba kakekku, Abu Quhafah datang kepadaku yang pada saat itu matanya telah buta, ia berkata, “Sesungguhnya laki-laki ini telah menyusahkan kalian dengan harta dan jiwanya,” maka aku menanggapi, “Sama sekali tidak. Sesungguhnya ia telah meninggalkan kepada kami harta yang banyak.” Aku segera mengumpulkan batu-batuan  dan menaruhnya di lubang angin rumah yang kututupi dengan kain. Aku pegang tangannya, lalu aku letakkan pada kain itu,” Aku katakan, “Inilah yang ia tinggalkan untuk kami.” Kakekku berkata, “kalau ini semua yang dia tinggalkan untuk kalian, maka sungguh dia balik sekali.”  (Siyar A’lamin Nubala 2/290)
*****
Dari Ashim bin Bahdalah, dari Abu Wa’il, menurutku ia berkata, “Ketika kematian menghampiri Khalid, ia berkata, “Aku ingin sekali terbunuh pada saat yang telah kuperkirakan, namun takdir menentukan lain. Aku hanya mati di atas kasurku ini. Tidak ada amal yang paling kuharapkan setelah tauhid daripada yang terjadi pada suatu malam ketika aku berjaga-jaga dengan tameng di tangan sedangkan langit menyambutku sambil menunggu waktu Subuh tiba agar kami dapat menyerang orang-orang kafir.” Selanjutnya Khalid berkata, “Jika aku mati, maka perhatikanlah senjata dan kudaku. Jadikanlah ia sebagai perlengkapan jihad fii sabilillah.” Saat Khalid wafat, maka Umar keluar mendatangi jenazahnya, lalu ia berkata, “Keluarga Khalid tidak mengapa menangisi kepergian Khalid selama tidak sampai berteriak-teriak dan merobek baju.” (Siyar A’lamin Nubala 1/381).
Dari Ibnu Uyaynah, dari Ibnu Abi Khalid, dari maula (budak yang dimerdekakan) keluarga Khalid, bahwa Khalid berkata, “Malam yang di sana aku dianugerahi pengantin wanita yang kucintai, tidak lebih aku sukai daripada malam yang sangat dingin dan beku dalam pasukan yang pada paginya aku menyerang musuh.” (Siyar A’lamin Nubala 1/375)
*****
Dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas, bahwa Ummu Sulaim mengambil sebuah pisau pada perang Hunain, lalu Abu Thalhah berkata, “Wahai Rasulullah, lihatlah Ummu Sulaim, ia membawa sebuah pisau.” Maka Ummu Sulaim berkata, “Wahai Rasulullah, maksudku jika ada seorang musyrik yang coba mendekatiku, maka akan kurobek perutnya dengan pisau ini.” (Siyar A’lamin Nubala 2/304).
*****
Dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dari ayahnya, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku pada perang Uhud untuk mencari Sa’ad bin Ar Rabi’, Beliau bersabda kepadaku, “Jika engkau melihatnya, maka sampaikan salamku kepadanya. Dan katakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?” Maka aku mengelilingi para sahabat yang terbunuh, lalu aku temui Sa’ad dalam keadaan sekarat dengan mendapatkan tujuh puluh sayatan dan aku sampaikan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya, maka ia berkata, “Semoga salam dilimpahkan pula kepada Rasulullah dan kepada dirimu.” Katakan kepada Beliau, “Aku telah merasakan wanginya surga. Dan katakan kepada kaumku orang-orang Anshar, “Kalian tidak punya udzur di hadapan Allah jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai terluka sedangkan matamu masih berkedip,” lalu ia meninggal dunia, semoga Allah meridhainya.” (Siyar A’lamin Nubala 1/319)
*****
Keteguhan Abdullah bin Hudzafah
Abdullah bin Mu’awiyah Al Jumahiy meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Rafi’ ia berkata, “Saat Umar mengirimkan pasukannya ke Romawi, lalu tentara Romawi berhasil menawan Abdullah bin Hudzafah, maka mereka membawa Abdullah kepada raja mereka. Mereka berkata, “Orang ini termasuk salah seorang sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Raja bertanya, “Maukah kamu masuk ke dalam agama Nasrani, nanti aku akan berikan separuh kerajaanku kepadamu?” Beliau menjawab, “Kalau sekiranya engkau memberikan semua kerajaan yang kamu miliki, ditambah lagi dengan semua kerajaanmu (yang lain), dan ditambah semua kerajaan bangsa Arab, maka aku tidak akan keluar dari agama Nabi Muhammad sekejap mata pun.” Raja berkata, “Kalau begitu, aku akan membunuhmu.” Abdullah menjawab, “Itu terserah Anda.” Maka raja memerintahkan Ibnu Hudzafah disalib, lalu ia disalib, kemudian ia berkata kepada para pemanah, “Panahlah ke bagian yang dekat dengan badannya,” raja pun tetap menawarkan beberapa tawaran kepadanya, namun ia menolaknya. Kemudian Beliau diturunkan dari tempat penyaliban, lalu meminta disiapkan panci berisi air yang mendidih. Dua orang tawanan kaum muslimin didatangkan ke situ, kemudian salah seorang di antaranya diceburkan ke dalamnya. Raja tetap menawarkan agama Nasrani kepadanya, namun Abdullah tetap menolaknya. Abdullah bin Hudzafah menangis, lalu dikabarkan kepada raja, “Dia sekarang menangis.” Raja mengira bahwa ia telah berputus asa, ia berkata, “Bawalah ia kepadaku,” kemudian raja bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Abdullah menjawab, “Aku menangisi karena nyawaku yang Cuma satu ini, yang jika dilemparkan ke panci lalu tewas hanya sebentar. Aku ingin memiliki nyawa sejumlah rambut yang ada di kepalaku, lalu dilemparkan ke dalam api karena Allah.” Maka raja yang melampaui batas itu berkata, “Maukah kamu mencium kepalaku, dan aku akan melepaskan dirimu?” Lalu Abdullah berkata, “Apakah engkau akan melepaskan semua tawanan yang lain?” Raja berkata, “Ya.” Maka Abdullah mencium kepala raja dan berhasil membawa pulang para tawanan ke hadapan Umar dan diberitahukanlah berita yang terjadi, maka Umar berkata, “Sudah sepatutnya setiap muslim mencium kepala Ibnu Hudzafah. Dan aku yang akan memulainya,” maka Umar menciumnya.” (Siyar A’lamin Nubala 2/14).
*****
Dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit dan Ali bin Zaid, dari Anas, bahwa Abu Thalhah membacakan sebuah ayat,
انْفِرُواْ خِفَافاً وَثِقَالاً
“Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan ringan maupun berat,” (QS. At Taubah: 41)
Abu Thalhah berkata, “Allah menyuruh kita berangkat. Dia menyuruh kita baik yang tua maupun yang muda. Oleh karena itu, siapkan perlengkapanku!” Maka anak-anaknya berkata, “Semoga Allah merahmatimu! Sesungguhnya engkau telah berperang pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar. Sekarang kami akan menggantikanmu.” Namun Abu Thalhah tetap berangkat mengarungi lautan untuk berperang, ia pun akhirnya meninggal dunia, akhirnya orang-orang yang bersamanya tidak menemukan tempat untuk menguburkannya kecuali setelah tujuh hari, namun mayitnya tidak berubah membusuk.” (Siyar A’lamin Nubala 2/34)
Bersambung...
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahabihi wa sallam.
Disarikan dari kitab  Aina Nahnu min Akhlaqis salaf  oleh Marwan bin Musa
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger