Amalan Yang Menguntungkan di Dunia dan Akhirat

Senin, 24 November 2014
بسم الله الرحمن الرحيم

Amalan Yang Menguntungkan di Dunia dan Akhirat

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Bagi seorang muslim yang telah mempelajari agamanya, tidak ada istilah “nganggur” dalam hidupnya. Mengapa demikian? bukankah di hadapannya ada pekerjaan-pekerjaan yang menguntungkannya di dunia dan akhirat.
Sejak seorang bangun dari tidurnya hingga tidur kembali banyak sekali pekerjaan yang bisa dilakukan. Ada pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh hati, ada yang bisa dikerjakan oleh lisan dan ada juga oleh anggota badan. Bahkan ada pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh hati, lisan dan anggota badan secara bersamaan seperti shalat.
Contoh pekerjaan yang bisa dilakukan oleh hati adalah memiliki aqidah (keyakinan) yang benar –tentunya dengan mempelajari Aqidah Islam yang benar-, berniat ikhlas, memiliki niat untuk mengerjakan amal saleh, meniatkan perbuatan mubah untuk dapat menjalankan ibadah, dan adanya keinginan untuk memberikan hal yang terbaik buat saudaranya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sampai ia menginginkan kebaikan didapatkan saudaranya sebagaimana ia menginginkan kebaikan didapatkan oleh dirinya.” (HR. Bukhari)
Contoh pekerjaan yang bisa dilakukan oleh lisan adalah membaca Al Qur’an dan mengajarkannya, berdzikr, memberikan nasihat, dsb.
Sedangkan contoh pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh anggota badan adalah berbakti kepada kedua orang tua, membantu orang yang membutuhkan bantuan, bersilaturrahmi, menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di jalan, mencari rezeki dengan cara yang halal dll.
Imam Thabrani meriwayatkan dalam Mu'jam Kabirnya dari Ka'ab bin Ujrah ia berkata, "Pernah ada seseorang yang melewati Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat kemampuan dan semangatnya, lalu mereka berkata, "Kalau sekiranya orang ini berada di jalan Allah (tentu baik baginya)?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika ia keluar bekerja untuk anak-anaknya yang masih kecil, tentu dia berada di jalan Allah. Jika ia keluar bekerja untuk menafkahi dua ibu-bapaknya yang sudah tua, tentu ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk dirinya, yakni untuk menjaga kesucian diri, maka dia di jalan Allah, dan jika ia keluar bekerja untuk riya dan berbangga-bangga (di hadapan manusia), maka dia berada di jalan setan." (Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 1428).
Di antara pekerjaan-pekerjaan di atas, ada pekerjaan yang paling ringan namun memiliki keutamaan yang besar, yaitu Dzikrullah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ ؟" قَالُوْا بَلَى .قَالَ : ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى
“Maukah kalian aku beritahukan amalan yang paling baik, paling suci di sisi Tuhan kalian, lebih meninggikan derajat kalian dan lebih baik daripada menginfakkan emas dan perak serta lebih baik daripada kalian bertemu musuh, lalu kalian pancung leher mereka dan mereka pancung leher kalian?!” Para sahabat menjawab, “Ya.” Beliau menjawab, “Dzikrullah.” (Shahih At Tirmidzi 3/139 dan Shahih Ibnu Majah 2/316)
Ada seorang sahabat yang datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam begitu banyak bagiku, maka beritahukanlah kepadaku amalan yang mudah aku tekuni.” Beliau menjawab:
لاَيَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ
“(Yaitu) tetap terusnya lisanmu basah karena menyebut nama Allah.” (Shahih At Tirmidzi 3/139 dan Shahih Ibnu Majah 2/317)
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى اَلرَّحْمَنِ, خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ, ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ, سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ , سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang yang dicintai Allah Ar Rahman, ringan di lisan dan berat di timbangan, yaitu Subhaanallahi wa bihamdih, subhaanallahil ‘azhiim (artinya ”Mahasuci Allah sambil memuji-Nya, dan Mahasuci Allah Yang Maha Agung”).” (HR. Bukhari dan Muslim)
dan bersabda:
أَحَبُّ اَلْكَلَامِ إِلَى اَللَّهِ أَرْبَعٌ, لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ: سُبْحَانَ اَللَّهِ, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ, وَلَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ, وَاَللَّهُ أَكْبَرُ
“Ucapan yang paling dicintai Allah ada empat, tidak mengapa bagimu memulai dari yang mana saja, yaitu: Subhaanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallallah wallahu akbar.” (HR. Muslim)
Dzikr tersebut adalah Dzikr Mutlak, yakni dzikr yang dibaca kapan saja selama tidak bertepatan dengan Dzikr Muqayyad. Sedangkan Dzikr Muqayyad adalah dzikr yang ditentukan kapan dibacanya, misalnya dzikr setelah shalat, dzikr masuk atau keluar rumah, dzikr ketika makan, dsb. Tidak bisa Dzikr Mutlak ini dibaca pada Dzikr Muqayyad.
Amalan Yang Menguntungkan di Dunia dan Akhirat
1.     Membaca Al Qur’anul Karim,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif laam miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)
2.     Belajar Al Qur’an dan mengajarkannya,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
3.     Menyebarkan salam,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Kamu tidak akan masuk surga sampai kamu beriman, dan tidak sempurna iman kamu sampai kamu saling mencintai. Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian lakukan, niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
4.     Saling mencintai karena Allah,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي
Sesungguhnya Allah akan berfirman pada hari kiamat, “Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena kebesaran-Ku? Pada hari ini, Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku di mana ketika itu tidak ada naungan selain naungan-Ku.” (HR. Muslim)
5.     Menjenguk orang yang sakit,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ
“Tidak ada seorang muslim pun yang menjenguk orang muslim lainnya (yang sakit) di waktu pagi, kecuali 70.000 malaikat akan mendoakannya hingga sore hari. Jika menjenguknya di sore hari, maka 70.000 malaikat akan mendoakannya hingga pagi hari, dan untuknya kebun di surga.” (Shahih At Tirmidzi 1/286).
6.     Memudahkan orang yang kesulitan membayar hutang,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ وَكَانَ إِذَا رَأَى إِعْسَارَ الْمُعْسِرِ قَالَ لِفَتَاهُ تَجَاوَزْ عَنْهُ لَعَلَّ اللَّهَ تَعَالَى يَتَجَاوَزُ عَنَّا فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ
“Dahulu ada orang yang memberikan pinjaman kepada orang lain, ketika ia melihat orang yang meminjamnya kesulitan, iapun berkata kepada pelayannya, “Sudah, bebaskan saja ia dari hutang, mudah-mudahan Allah membebaskan kita dari dosa”, ketika ia menghadap Allah, maka Allah menghapuskan dosanya.” (HR. Nasa’i dan dishahihkan oleh Al Albani)
7.     Silaturrahim (menyambung hubungan kekerabatan)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أََحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ, وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ, فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka sambunglah tali silaturrahim.” (HR. Bukhari(
8.     Berakhlak mulia,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sebab yang paling banyak memasukkan orang ke surga, Beliau menjawab, “Yaitu takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)
9.     Berkata jujur
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Kamu harus berkata jujur, karena kejujuran menunjukkan seeorang kepada kebaikan dan kebaikan menunjukkan seseorang ke surga,” (HR. Muslim)
10.  Berbakti kepada orangtua,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ
“Sungguh rugi, rugi, dan rugilah dia”, lalu ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang mendapatkan bapak-ibunya telah tua; keduanya atau salah satunya, tetapi tidak membuatnya masuk surga.” (HR. Muslim)
11.  Menanggung janda dan orang miskin,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ الْقَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ
“Orang yang menanggung janda dan orang miskin seperti seorang mujahid fi sabiilillah atau seperti orang yang melakukan shalat malam di malam hari dan puasa di siang hari.” (HR. Bukhari)
12. Menolong orang lain
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Dan Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba-Nya mau menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
13.  Mengurus anak yatim,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَنَا وَكَافِلُ اْليَتِيْمِ فِي اْلجَنَّةِ هَكَذَا، وَقَالَ بِإِصْبِعَيْهِ السًّبَابَةِ وَاْلوُسْطَى
“Saya dengan pengurus anak yatim di surga nanti seperti ini –Beliau berisyarat dengan dua jarinya yaitu telunjuk dan jari tengah-.” (HR. Bukhari)
Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Jumat, 21 November 2014
بسم الله الرحمن الرحيم

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Saudaraku, di antara kebahagiaan yang besar yang diharapkan sekali oleh seorang hamba adalah ketika ia dapat berkumpul kembali dengan orang-orang yang dicintainya -terutama keluarganya- di surga; dengan ibu dan ayahnya, dengan istri dan anaknya, dengan saudara dan kawannya setelah sebelumnya berpisah.
Saudaraku, kita dapat berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai apabila kita dengan mereka sama-sama di atas keimanan atau di atas Islam. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Setiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath Thuur: 21)
Tetapi, jika kita dengan mereka berbeda akidahnya; kita di atas Islam, sedangkan mereka tidak di atas Islam, maka sesungguhnya kita tidak akan berkumpul lagi dengan mereka. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman mengisahkan tentang Nabi dan Rasul-Nya Nuh ‘alaihissalam, saat ia melihat anaknya yang akan tenggelam, ia mengajak anaknya naik ke kapal dan beriman kepadanya, namun anaknya menolak, lalu Nuh ‘alaihissalam berkata, “Ya Rabbi, Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya." (Terj. QS. Huud: 45), Allah berfirman,
يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu. Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Oleh karena itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya aku memperingatkan kepadamu agar kamu tidak termasuk orang-orang yang tidak berilmu." (QS. Huud: 46)
Perhatikanlah! Allah Subhaanahu wa Ta’ala memisahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam dengan anaknya, karena anaknya berada di atas kekafiran, sedangkan Nabi Nuh ‘alaihissalam berada di atas keimanan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala juga memisahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam dengan istrinya karena kekafiran istrinya (lihat QS. At Tahrim: 10), demikian pula memisahkan Nabi Luth ‘alaihissalam dengan istrinya karena kekafiran istrinya (lihat QS. At Tahrim: 10), memisahkan Asiyah ‘alaihassalam dengan suaminya, yaitu Fir’aun karena kekafiran suaminya (lihat QS. At Tahrim: 10), dan memisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan ayahnya, yaitu Azar (lihat QS. At Taubah: 114). Oleh karena itu, jika kita ingin berkumpul kembali bersama keluarga, maka jagalah keimanan keimanan kita dan keluarga kita; jangan sampai kita biarkan mereka memilih agama selain Islam. Demikian pula jika kita ingin keluarga kita dan orang-orang yang kita cintai tidak tersentuh api neraka, maka ajarkanlah mereka ilmu agama dan jangan biarkan mereka di atas kemaksiatan. Jangan biarkan mereka meninggalkan shalat, jangan biarkan istri dan puteri kita melepas jilbab, jangan biarkan mereka meninggalkan puasa Ramadhan, dan jangan biarkan mereka berakhlak tercela serta melakukan berbagai kemaksiatan. Ketahuilah! Mengingkari kemungkaran yang mereka lakukan adalah tanda engkau mencintai dan sayang kepada mereka.  Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)
Saudaraku, ketahuilah! Jika engkau tidak memperhatikan masalah ini, maka engkau akan berpisah dengan orang-orang yang engkau cintai; dengan ayah dan ibumu, dengan istri dan anak-anakmu, dengan saudara dan kawan-kawanmu sekalipun engkau akrab dengan mereka ketika di dunia. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67)
Ketahuilah wahai saudaraku! Orang-orang yang engkau jadikan teman akrabmu sewaktu di dunia, jika mereka tidak di atas keimanan dan amal saleh, kelak akan menjadi musuhmu, bahkan jika mereka biasa mengajakmu mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, lalu engkau mengikutinya, maka engkau akan menyesal berteman dengan mereka, dan engkau akan melaknat mereka habis-habisan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman menceritakan orang yang salah mengambil teman; ia mengambil teman orang-orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً-- يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً-- لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً
Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, "Wahai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul"--Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).--Sesungguhnya Dia telah menyesatkanku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia. (QS. Al Furqaan: 27-29)
قَالَ ادْخُلُواْ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّن الْجِنِّ وَالإِنسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّى إِذَا ادَّارَكُواْ فِيهَا جَمِيعاً قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لأُولاَهُمْ رَبَّنَا هَـؤُلاء أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَاباً ضِعْفاً مِّنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَـكِن لاَّ تَعْلَمُونَ-- وَقَالَتْ أُولاَهُمْ لأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ فَذُوقُواْ الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ
Allah berfirman, "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terlebih dahulu, "Wahai Tuhan Kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka." Allah berfirman, "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui".--Dan berkata orang-orang yang masuk lebih dulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian, "Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikitpun atas Kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan". (QS. Al A’raaf: 37-39)
Saudaraku, berpisah dengan orang-orang yang dicintai adalah penderitaan yang besar. Tidak mengaa berpisah dengan mereka beberapa lama –karena kita pasti akan berpisah-, namun yang penting adalah kita dapat berkumpul lagi dengan mereka di surga dan caranya telah diterangkan kepadamu. Malaikat Jibril ‘alaihissalam pernah berkata kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
«يَا مُحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ» ثُمَّ قَالَ: «يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ»
 "Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, namun engkau akan mati. Cintailah sesukamu, namun engkau akan berpisah dengannya. Berbuatlah sesukamu, namun kamu akan diberi balasan." Selanjutkan malaikat Jibril berkata, "Wahai Muhammad, kelebihan orang mukmin itu pada Qiyamullailnya, dan kemuliaannya ketika tidak butuh kepada manusia." (HR. Asy Syirazi dalam Al Alqaab, Hakim, Baihaqi dalam Asy Syu’ab dari Sahl bin Sa’ad, Baihaqi dalam Asy Syu’ab pula dari Jabir, dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dari Ali, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 73).
Nasihat Dr. Aidh Al Qarni
نَحْنُ لاَ نَمْلِكُ تَغْیِیْرَ الْمَاضِي
Kita tidak bisa merubah yang telah terjadi
وَ لاَ رَسْمَ الْمُسْتَقْبَل ..
Juga tidak bisa menggariskan masa depan
فَلِمَاذَا نَقْتُلُ أَنْفُسَنَا حَسْرَةً
Lalu mengapa kita bunuh diri kita dengan penyesalan?
عَلَى شَيْئٍ لاَ نَسْتَطِیْعُ تَغْیِیْرَهُ؟
Atas apa yang sudah tidak bisa kita rubah
الْحَیَاةُ قَصِیْرَةٌ وَأَهْدَافُهَا كَثِيْرَةٌ
Hidup itu singkat sementara targetnya banyak
فَانْظُرْ اِلَى السَّحَابِ وَ لاَ تَنْظُرْ اِلَى التُّرَابِ ..
Maka, tataplah awan dan jangan melihat ke tanah
اِذَا ضَاقَتْ بِكَ الدُّرُوْبُ  فَعَلَیْكَ بِعَلاَّمِ الْغُیُوْبِ
وَ قُلِ الْحَمْدُ للهِ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ
Kalau merasa jalan sudah sempit, kembalilah ke Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib! Dan ucapkan alhamdulillah atas apa saja.
سَفِيْنَةُ تَايْتَنِك بَنَاهَا مِئَاتُ الْأَشْخَاصِ
Kapal Titanic dibuat oleh ratusan orang
وَسَفِيْنَةُ  نُوْحٍ  بَنَاهَا شَخْصٌ وَاحِدٌ
Sedang kapal Nabi Nuh ‘alaihissalam dibuat hanya oleh satu orang
الْأُوْلَى غَرَقَتْ وَالثَّانِيَةُ حَمَلَتِ الْبَشَرِيَّةَ
Tetapi, Titanic tenggelam. Sedang kapal Nabi Nuh menyelamatkan umat manusia
اَلتَّوْفِيْقُ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Taufik hanya dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala
نَحْنُ لَسْنَا السُّكَانَ الْأَصْلِيِّيْنَ لِهَذَا الْكَوْكَبْ الْأَرْضِ !!
بَلْ نَحْنُ نَنْتَمِي إِلَى  الْجَنَّةِ
Kita bukanlah penduduk asli bumi, asal kita adalah surga
حَيْثُ كَانَ أَبُوْنَا آدَمُ يَسْكُنُ فِي الْبِدَايَةِ لَكِنَّنَا نَزَلْنَا هُنَا مُؤَقَّتاً لِكَيْ نُؤَدِّي اخْتِبَارًا قَصِيْرًا ثُمَّ نَرْجِعُ بِسُرْعَةٍ ..
Tempat, dimana nenek moyang kita, Adam, tinggal pertama kali. Kita tinggal di sini hanya untuk sementara, untuk mengikuti ujian lalu segera kembali.
فَحَاوِلْ أَنْ تَعْمَلَ مَا بِوُسْعِكَ لِتَلْحَقَ بِقَافِلَةِ الصَّالِحِيْنَ
الَّتِي سَتَعُوْدُ إِلَى وَطَنِنَا الْجَمِيْلِ الْوَاسِعِ
وَ لاَ تُضَيِّعْ وَقْتَكَ فِي هَذَا الْكَوْكَبِ الصَّغِيْرِ
Maka berusahalah semampumu,
Untuk mengejar kafilah orangg-orang yang salih, yang akan kembali ke tanah air yg sangat indah dan luas.
Jangan sia-siakan waktumu di planet kecil ini!
الْفِرَاقُ: لَيْسَ السَّفَرُ، وَلاَ فِرَاقُ الْحُبِّ، حَتَّى الْمَوْتُ لَيْسَ فِرَاقًا
سَنَجْتَمِعُ فِي الْآخِرَةِ. الْفِرَاقُ هُوَ: أَنْ يَكُوْنَ أَحَدُنَا فِي الْجَنَّةِ،
وَالْآخَرُ فِي النَّارِ جَعَلَنِي رَبَّي وَاِيَّاكُمْ مِنْ سُكَّانِ جَنَّتِهِ..
Perpisahan itu bukanlah karena perjalanan yg jauh,
Atau karena ditinggal orang tercinta,
Bahkan, kematian pun bukanlah perpisahan. Sebab, kita akan bertemu lagi di akhirat. Sesungguhnya perpisahan yang hakiki adalah jika salah seorang di antara kita di surga sedangkan yang lain di neraka. Semoga Allah menjadikan diriku dan dirimu sebagai penghuni surga-Nya, Allahumma amin.
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhamma wa ‘ala alihihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger