Waktu-Waktu Shalat (1)

Sabtu, 18 Oktober 2014
بسم الله الرحمن الرحيم
Waktu-Waktu Shalat (1)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini pembahasan mengenai waktu-waktu shalat. Semoga Allah menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.
Waktu-waktu shalat
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisaa’: 103)
Waktu-waktu tersebut telah diisyaratkan dalam ayat yang lain,
وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفاً مِّنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّـيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud: 114)
Al Hasan berkata tentang maksud kedua tepi siang, “Yaitu shalat Subuh dan Ashar.” Sedangkan maksud “pada bagian permulaan daripada malam,” adalah shalat Maghrib dan Isya.
أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوداً
“Dirikanlah shalat dari setelah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Israa’: 78)
Maksud “setelah matahari tergelincir sampai gelap malam” adalah shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Sedangkan maksud “Qur’anul Fajr” adalah shalat Subuh. Shalat Subuh disebut “qur’anul fajr” (bacaan Al Qur’an di waktu Fajar) karena dianjurkan bacaannya agak panjang, wallahu a’lam. Adapun maksud “disaksikan malaikat” yakni disaksikan oleh para malaikat baik malaikat malam maupun siang.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala juga berfirman,
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاء اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى
“Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, agar kamu merasa senang,” (QS. Thaahaa: 130)
Maksud bertasbih sebelum terbit matahari adalah shalat Subuh, sedangkan maksud bertasbih sebelum tenggelam adalah shalat Ashar. Hal ini berdasarkan hadits dalam Shahihain dari Jarir bin Abdullah Al Bajalliy, ia berkata, “Kami pernah duduk-duduk di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Beliau melihat ke bulan malam purnama, Beliau kemudian bersabda,
«إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا»
“Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian dapat melihat bulan ini, dimana kalian tidak kesulitan melihatnya. Oleh karena itu, jika kalian sanggup terus menjaga shalat sebelum matahari terbit dan sebelum tenggelamnya, maka lakukanlah.” Selanjutnya Beliau membacakan ayat ini.
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الغُرُوبِ
“Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).” (QS. Qaaf: 39)
Demikianlah waktu-waktu shalat yang diisyaratkan dalam Al Qur’an. Adapun dalam As Sunnah, maka berikut hadits-haditsnya,
Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ، مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ، وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ، وَوَقْتُ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ، وَوَقْتُ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ، وَوَقْتُ صَلَاةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ، فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَأَمْسِكْ عَنِ الصَّلَاةِ، فَإِنَّهَا تَطْلُعْ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ»
“Waktu Zhuhur masuk ketika matahari telah bergeser hingga bayangan seseorang sama dengan panjang orang itu selama belum tiba waktu Ashar. Waktu Ashar sudah masuk selama matahari belum menguning. Waktu shalat Maghrib sudah masuk selama syafaq (cahaya merah di ufuk langit) belum hilang, waktu shalat Isya terus berlanjut hingga pertengahan malam, sedangkan waktu Subuh dimulai dari terbit fajar selama matahari belum terbit. Ketika matahari terbit, maka tahanlah dari melakukan shalat, karena ia terbit di antara dua tanduk setan.” (HR. Muslim)
Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah didatangi malaikat Jibril ‘alaihissalam, lalu ia berkata kepada Beliau, “Bangunlah, dirikanlah shalat!” Maka Beliau shalat Zhuhur ketika matahari telah tergelincir, lalu malaikat Jibril datang lagi pada waktu Ashar dan berkata, “Bangunlah, dirikanlah shalat!” Maka Beliau melakukan shalat Ashar pada saat bayangan sesuatu sama panjang dengan sesuatu itu. Kemudian malaikat Jibril datang lagi pada waktu Maghrib dan berkata, “Bangunlah, dirikanlah shalat!” Maka Beliau melakukan shalat ketika matahari telah tenggelam. Lalu malaikat Jibril datang lagi pada waktu Isya dan berkata, “Bangunlah, dirikanlah shalat!” Maka Beliau melakukan shalat Isya pada saat syafaq (warna merah di ufuk langit) telah hilang. Kemudian malaikat Jibril datang lagi pada waktu fajar dan berkata, “Bangunlah, dirikanlah shalat!” Maka Beliau melakukan shalat Subuh pada saat fajar telah menyingsing. Keesokan harinya, malaikat Jibril datang lagi di waktu Zhuhur dan berkata, “Bangunlah, dirikanlah shalat!” Maka Beliau melakukan shalat Zhuhur pada saat bayang segala sesuatu sama panjang dengan sesuatu itu, lalu malaikat Jibril datang lagi pada waktu Ashar dan berkata, “Bangunlah, dirikanlah shalat!” Maka Beliau melakukan shalat Ashar pada saat bayang sesuatu panjangnya dua kali lipat dari sesuatu itu, lalu malaikat Jibril datang lagi pada waktu Maghrib dan berkata, “Bangunlah, dirikanlah shalat!” Maka Beliau melakukan shalat Maghrib pada saat yang sama tidak bergeser dari waktunya (yang kemarin), lalu malaikat Jibril datang lagi pada waktu Isya ketika telah hilang separuh malam atau sepertiganya dan berkata, “Bangunlah, dirikanlah shalat!” Maka Beliau melakukan shalat Isya. Kemudian malaikat Jibril datang lagi pada waktu pagi begitu terang dan berkata, “Bangunlah, dirikanlah shalat!” Maka Beliau melakukan shalat Subuh. Selanjutnya malaikat Jibril berkata, “Shalat itu waktunya antara dua waktu ini.” (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Tirmidzi. Imam Bukhari berkata, “Hadits tersebut adalah hadits paling shahih tentang waktu-waktu shalat, yakni hadits tentang pengimaman malaikat Jibril.”)
Waktu Zhuhur
Hadits di atas menunjukkan, bahwa waktu Zhuhur dimulai dari bergesernya matahari dari bagian tengah langit ke arah barat dan terus berlangsung waktunya sampai bayangan seseorang atau benda sama panjang dengan orang atau bendanya. Dan dianjurkan pelaksanaannya di awal waktu kecuali jika kondisi sangat panas sekali, maka dianjurkan ditunda hingga kondisi agak sejuk agar lebih khusyu melakukannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
«إِذَا اشْتَدَّ الحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلاَةِ، فَإِنَّ شِدَّةَ الحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ»
“Jika suasana sangat panas, maka tundalah shalat hingga suasananya sejuk, karena kondisi yang sangat panas tersebut berasal dari luapan neraka Jahannam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika suasana sangat dingin, maka Beliau menyegerakan shalat, dan ketika suasana sangat panas, maka Beliau tunda shalat.”
Maksud “ibrad” (menunda ketika panas hingga sejuk) ada beberapa pendapat ulama. Di antara mereka ada yang berpendapat, bahwa maksudnya menunda hingga bayangan sehasta setelah tiba bayangan zawal (matahari tergelincir). Ada yang berpendapat, maksudnya ¼ dari postur tubuh. Ada yang berpendapat 1/3 postur tubuh, dan ada yang berpendapat ½ postur tubuh. Namun yang berjalan di atas kaedah adalah bahwa hal itu berbeda-beda sesuai keadaan, namun dengan syarat tidak menunda hingga akhir waktu.
Waktu Ashar
Waktu Ashar dimulai dari habisnya waktu Zhuhur –berakhirnya bayangan seseorang atau benda sama panjang dengan orang atau bendanya- dan terus berlangsung hingga tenggelam matahari, yakni akhir matahari menguning. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«مَنْ أَدْرَكَ مِنَ الصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ، فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ، وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ العَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَقَدْ أَدْرَكَ العَصْرَ»
“Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat shalat Subuh sebelum terbit matahari, maka ia mendapatkana shalat Subuh, dan barang siapa yang mendapatkan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari tengelam, maka ia telah mendapatkan shalat Ashar.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, dan empat orang Ahli Hadits dari Abu Hurairah, dan diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Aisyah dan Ibnu Abbas).
Dan dianjurkan dilaksanakan di awal waktu. Shalat Ashar ini disebut juga shalat Wustha sebagaimana yang disebutkan Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya,
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.” (QS. Al Baqarah: 238)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda pada hari perang Ahzab,
«مَلَأَ اللَّهُ بُيُوتَهُمْ وَقُبُورَهُمْ نَارًا، شَغَلُونَا عَنِ الصَّلاَةِ الوُسْطَى حَتَّى غَابَتِ الشَّمْسُ»
“Allah memenuhi rumah dan kubur mereka dengan api, karena mereka membuat kita sibuk sehingga terlambat shalat wustha sampai matahari tenggelam.” (HR. Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud disebutkan, “Mereka menyibukkan kita (sehingga terlambat) mengerjakan shalat wustha, yaitu shalat Ashar.”)
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Orang-orang musyrik menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Ashar sehingga matahari menjadi merah dan menguning, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
شَغَلُونَا عَنِ الصَّلَاةِ الْوُسْطَى، صَلَاةِ الْعَصْرِ، مَلَأَ اللهُ أَجْوَافَهُمْ، وَقُبُورَهُمْ نَارًا أَوْ قَالَ: «حَشَا اللهُ أَجْوَافَهُمْ وَقُبُورَهُمْ نَارًا»
“Mereka membuat kita sibuk sehingga terlambat shalat wustha; yaitu shalat Ashar. Allah akan memenuhi perut dan kubur mereka dengan api,” atau Beliau bersabda, “Allah akan mengisi perut dan kubur mereka dengan api.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Ibnu Majah)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«مَنْ فَاتَتْهُ الْعَصْرُ، فَكَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ»
“Barang siapa yang tertinggal dari melaksanakan shalat Ashar, maka seakan-akan ia kehilangan keluarga dan hartanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
«مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ العَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ»
“Barang siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka akan hapus amalnya.” (HR. Bukhari)
Ibnul Qayyim berkata, “Meninggalkan shalat ada dua macam; meninggalkan secara keseluruhan dalam arti tidak melakukan shalat Ashar selamanya, maka hal ini akan menghapuskan semua amalnya, dan ada meninggalkan secara tertentu pada hari tertentu, maka hal ini akan amal pada hari itu.”
Catatan:
Waktu pilihan dan utama pelaksanaan shalat Ashar berakhir sampai matahari menguning. Adapun menunda shalat hingga lewat menguningnya matahari meskipun boleh, namun makruh jika tidak ada udzur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,
«تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ، قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا، لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا»
“Itu adalah shalat orang munafik. Ia duduk memperhatikan matahari; sehingga ketika matahari tengah berada di antara dua tanduk setan, maka ia bangun, lalu shalat empat rakaat dengan cepatnya. Ia tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (HR. Jamaah Ahli Hadits selain Bukhari dan Ibnu Majah)
Imam Nawawi berkata, “Kawan-kawan kami (yang semadzhab) berkata, “Waktu Ashar itu ada lima waktu, yaitu: (1) waktu utama, (2) waktu pilihan, (3) waktu boleh dan tidak makruh hukumnya, (4) waktu boleh namun makruh, dan (5) waktu udzur. Waktu utama adalah di awal waktunya, waktu pilihan memanjang hingga bayangan sesuatu dua kali lipat dari sesuatu itu, waktu boleh sampai matahari menguning, waktu boleh namun makruh adalah ketika matahari menguning hingga tenggelam matahari, sedangkan waktu udzur adalah waktu Zhuhur bagi orang yang menjama’ antara Ashar dan Zhuhur karena safar atau hujan. Dengan demikian, pelaksanaan shalat Ashar pada waktu yang lima disebut adaa’, dan jika luput semuanya karena tenggelam matahari, maka disebut qadha’.
Bersambung...
Wallahu a'lam, wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam, wa akhiru da’wana anil hamdulillahi Rabbil ’alamin.
Marwan bin Musa

Maraji’: Fiqhussunnah (S. Sabiq), Al Fiqhul Muyassar fii Dhauil Kitab was Sunnah (Tim Ahli Fiqh, KSA), Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Seorang Pendidik

Selasa, 14 Oktober 2014
بسم الله الرحمن الرحيم

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Seorang Pendidik

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:
Risalah ini ditulis untuk menerangkan, bahwa Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang pendidik; bahkan pendidik terbaik secara mutlak, sekaligus menerangkan beberapa contoh praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendidik dan mengajar. Semoga Allah menjadikan risalah ini ditulis ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamiin. 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut Allah Azza wa jalla sebagai pendidik
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ
"Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu), Kami juga telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al Baqarah: 151)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا، وَلَا مُتَعَنِّتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا
"Sesungguhnya Allah tidak mengutusku untuk memberatkan dan tidak sebagai orang yang memberatkan diri, akan tetapi Dia mengutusku sebagai pendidik dan pemberi kemudahan." (HR. Muslim)
Ayat dan hadits di atas di antara sekian dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang pendidik, dan di antara kelebihan pendidikan serta pengajaran Beliau adalah, Beliau tidak hanya memperhatikan aspek pengetahuan (kognitif), tetapi memperhatikan pula aspek sikap (afektif). Oleh karenanya para sahabat sebagai peserta didik Beliau menjadi generasi terbaik karena baiknya lahiriah dan batiniah mereka. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ
"Kalian adalah sebaik-baik umat" (QS. Ali Imran: 110)
Beliau menanamkan kepada para sahabatnya sifat-sifat terpuji. Coba perhatikan salah seorang murid hasil didikan Beliau yang kemudian menjadi gubernur Basrah, yaitu Utbah bin Ghazwan radhiyallahu ‘anhu, ia pernah berkhutbah setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, “Amma ba’du, sesungguhnya dunia telah memberitahukan akan kefanaannya dan akan pergi dengan segera, dan tidak tersisa kecuali seperti sisa air dari wadah yang dikumpulkan pemiliknya. Sesungguhnya kalian akan berpindah dari dunia ke tempat yang tidak akan binasa, maka pindahlah dengan membawa amal yang terbaik yang bisa kalian siapkan. Sesungguhnya telah diberitahukan kepada kami, bahwa batu jika dijatuhkan dari tepi neraka Jahannam akan jatuh selama tujuh puluh tahun, namun belum sampai ke dasarnya. Demi Allah, neraka itu akan dipenuhi. Apakah kalian heran? Sesungguhnya telah disampaikan kepada kami bahwa jarak antara dua daun pintu surga sejauh jarak perjalanan 40 tahun. Pada suatu saat akan tiba hari ia didatangi oleh banyak orang dengan berdesakan. Sungguh, aku melihat diriku adalah salah seorang dari tujuh orang yang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu, kami tidak mempunyai makanan selain dedaunan pohon sehingga rahang kami terluka. Aku pernah menemukan kain selimut, lalu aku belah menjadi dua bagian; untukku dan untuk Sa’ad bin Malik; aku pakai separuhnya, sedangkan Sa’ad bin Malik memakai separuhnya lagi. Namun pada hari ini, tidak ada seorang pun dari kami kecuali telah menjadi salah seorang gubernur di beberapa negeri. Aku berlindung kepada Allah merasa besar dalam diriku, namun hina di sisi Allah.” (Diriwayatkan oleh Muslim)
Pendidik harus berakhlak mulia
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai seorang pendidik adalah seorang yang berakhlak mulia. Oleh karena kemuliaan akhlak Beliau, Allah Azza wa Jalla sampai memujinya dalam kitab-Nya,
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
„Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.“ (QS. Al Qalam: 4)
Demikian juga menyuruh umat Beliau untuk meneladani Beliau shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana firman-Nya,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
„Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.“ (QS. Al Ahzaab: 21)
Mengapa seorang pendidik harus berakhlak mulia dan berbudi pekerti yang luhur? Jawabanya adalah, karena pendidik itu adalah seorang figur yang akan ditiru oleh murid-muridnya, bagaimana murid-muridnya akan berakhlak mulia ketika gurunya berakhlak buruk?
Dan perlu diperhatikan oleh setiap pendidik, bahwa ketika ia mencontohkan perbuatan buruk kepada murid-muridnya, maka dia harus siap menerima dosa dirinya dan dosa murid-muridnya yang mengikuti jejaknya. Sebaliknya, ketika ia mencontohkan perbuatan baik kepada murid-muridnya, maka dia mendapatkan pahala dirinya dan pahala murid-muridnya yang mengikuti jejaknya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ
“Barang siapa mencontohkan dalam Islam contoh yang baik, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan setelahnya. Barang siapa yang mencontohkan sunnah yang buruk, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkan setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim)
Beberapa akhlak yang perlu dimiliki pendidik
Kepribadian dan akhlak Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia dan agung sangat banyak. Di sini, kami sebutkan beberapa akhlak Beliau yang dibutuhkan oleh setiap pendidik.
1.       Hirsh (perhatian)
Allah Azza wa Jalla berfirman,
لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, sangat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS. At Taubah: 128)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, "Wahai Abu Dzar, sesungguhnya saya melihat dirimu lemah dan saya menginginkan untukmu sesuatu yang sama untukku." (HR. Muslim)
«إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ أُمَّتِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا، فَجَعَلَتِ الدَّوَابُّ وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيهِ، فَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ وَأَنْتُمْ تَقَحَّمُونَ فِيهِ»
"Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan umatku adalah seperti seorang yang menyalakan api. Ketika itu binatang dan laron berjatuhan ke dalamnya. Aku menahan kalian, namun kalian malah melemparkan diri ke dalamnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
2.       Lembut dalam memberikan pengarahan
Di antara kelembutan Beliau lainnya adalah memperlihatkan kecintaan kepada para sahabatnya sampai masing-masing di antara mereka mengira bahwa dirinyalah yang dipilih Beliau. Amr bin 'Ash pernah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa menghadapkan muka dan pembicaraannya kepada orang yang bersikap buruk untuk melembutkan hatinya. Beliau pernah menghadapkan muka dan mengarahkan pembicaraannya kepadaku sehingga aku mengira bahwa diriku adalah orang yang paling baik. Aku pun berkata, "Wahai Rasulullah, aku lebih baik ataukah Abu Bakar?" Beliau menjawab, "Abu Bakar." Aku bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, aku lebih baik ataukah Umar?"....dst.(HR. Tirmidzi dalam Asy Syama’il, dan dihasankan oleh Al Albani).
Jarir bin Abdullah Al Bajalliy pernah berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah menutup dirinya dariku sejak aku masuk Islam, dan tidaklah Beliau melihatku kecuali selalu bersenyum di hadapanku." (HR. Bukhari)
Anas berkata, "Demi Allah, aku telah melayani Beliau selama sembilan tahun. Aku belum pernah melihat Beliau mengatakan terhadap perbuatan yang aku lakukan, "Mengapa kamu melakukan perbuatan ini dan itu?" Atau mengatakan terhadap perbuatan yang tidak aku lakukan, "Mengapa kamu tidak melakukan perbuatan ini dan itu? " (HR. Muslim. Dalam sebuah riwayat Ahmad disebutkan, "Beliau tidak mengatakan kepadaku kata-kata "ah").
3.       Tawadhu'
Termasuk akhlak yang patut dimiliki pendidik adalah bersikap tawadhu' dengan murid-muridnya. Oleh karena itu, ia memperhatikan keadaan muridnya yang lemah, terhadap murid tersebut ia perlu memberikan tambahan penjelasan, penjabaran, dan tambahan waktu.
Abu Rifa'ah pernah berkata, "Saya pernah datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di saat Beliau sedang berkhutbah, lalu saya berkata, "Wahai Rasulullah, ada orang asing yang datang untuk bertanya tentang agamanya; ia tidak mengetahui apa agamanya?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang menghampiriku dan meninggalkan khutbahnya. Ketika telah sampai di dekatku, Beliau siapkan kursi yang sepertinya kaki-kaki kursi tersebut terbuat dari besi, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk di atasnya dan mengajarkan kepadaku ilmu yang diajarkan Allah kepadanya. Setelah itu, Beliau mendatangi khutbahnya dan melanjutkan kembali." (HR. Muslm)
Praktek Mengajar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dalam mengajar, banyak cara yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah:
a.     Membuatkan perumpamaan
Contohnya sangat banyak. Terkadang Beliau  mengumpamakan orang mukmin dengan pohon kurma (HR. Bukhari), pengumpamaan kawan yang buruk dengan tukang besi (HR. Bukhari), dll.
b.     Mengajukan pertanyaan
Contohnya pun banyak. Misalnya sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Tahukah kalian siapakah orang bangkrut?" (HR. Muslim), sabda Beliau, "Tahukah kalian apa ghibah itu?" (HR. Muslim) dan sabda Beliau, "Tahukah kalian hari apa ini?" (HR. Bukhari)
c.      Menyebutkan sesuatu tiba-tiba atau memberitakan sesuatu tiba-tiba tanpa diawali pengantar dahulu (dengan maksud agar seseorang lebih serius menyimak)
Contoh dalam hal ini juga banyak. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, "Rugilah seseorang, rugilah seseorang dan rugilah seseorang. Lalu ada yang bertanya, "Siapakah wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Yaitu orang yang mendapatkan kedua orang tuanya sudah tua atau salah satunya, namun tidak memasukkannya ke surga." (HR. Muslim)
d.     Sedikit kata-kata, pelan-pelan, dan mengadakan pengulangan agar benar-benar menancap di hati pendengar
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam jika  menyampaikan hadits, jika seandainya ada orang yang mau menghitung kata-katanya tentu bisa menghitung." (HR. Abu Dawud)
Anas radhiyallahu 'anhu berkata, "Beliau apabila mengucapkan salam, mengucapkannya sebanyak tiga kali dan bila mengucapkan kata-kata, mengulanginya tiga kali." (HR. Bukhari. Dalam sebuah riwayat Bukhari ada tambahan, "Sampai dapat dipahami.").
Wa shallallahu ‚alaa Nabiyyinaa Muhammad wa alaa alihi wa shahbihi wa sallam wal hamdulillahi Rabbil alamin.
Marwan bin Musa
Maraji‘: Maktabah Syamilah versi 3.45, An Nabi Mu’alliman (Dr. Munqidz As Saqqar), dll.

Khutbah Shalat Gerhana 1435 H

Rabu, 08 Oktober 2014
بسم الله الرحمن الرحيم
Khutbah Shalat Gerhana 1435 H
اَلْحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الْقَهَّارِ الْعَظِيْمِ الْجَبَّارِ خَلَقَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَسَخَّرَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَأَجْرَى بِقُدْرَتِهِ السَّحَابَ يَحْمِلُ بِحَارَ  الْأَمْطَارِ فَسُبْحَانَهُ مَنْ إِلَهٌ عَظِيْمٌ خَضَعَتْ لَهُ الرِّقَابُ وَلاَنَتْ لِقُوَّتِهِ الصِّعَابُ تَوَعَّدَ بِالْعُقُوْبَةِ مَنْ خَرَجَ عَنْ طَاعَتِهِ وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِن دَابَّةٍ وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَيُجَازِيْهِمْ يَوْمَ الْحِسَابِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوم الْمَآبِ أَمَّا بَعْدُ:
Kaum muslimin dan muslimat; jamaah shalat gerhana yang berbahagia!
Hendaklah kita bertakwa kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dan bersyukur kepada-Nya, karena Dia telah menundukan apa yang ada di langit dan di bumi buat kita, Dia menciptakan apa saja yang ada di bumi; seperti hewan dan tumbuhannya untuk kita. Dia berfirman,
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
“Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi.” (QS. Luqman: 20)
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً
“Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al Baqarah: 29)
Dia juga menundukkan matahari dan bulan, malam dan siang, demikian pula menundukkan bahtera untuk kita sehingga dapat berlayar di lautan, Dia juga memberikan apa saja yang kita minta, bahkan saking banyaknya nikmat dan karunia yang Dia berikan, kalau sekiranya kita mau menghitung nikmat-nikmat-Nya, niscaya kita tidak akan sanggup menghitungnya. Oleh karena itu, pantaskah bagi kita melupakan semua nikmat itu dan tidak bersyukur kepada Allah, ketika Dia memerintah lalu kita tinggalkan, dan ketika Dia melarang malah kita kerjakan? Tentu sangat tidak pantas.
Tetapi kenyataannya manusia -pada umumnya- seperti ini sikapnya. Perintah Allah untuk beribadah hanya kepada-Nya ditinggalkan, shalat fadhu ditinggalkan, shalat berjamaah ditinggalkan, zakat ditinggalkan, berpuasa ditinggalkan, berbakti kepada orang tua ditinggalkan, menyambung tali silaturrahim ditinggalkan, menutup aurat ditinggalkan, berkata jujur ditinggalkan, menepati janji ditinggalkan, menunaikan amanah ditinggalkan, berbuat baik kepada orang lain ditinggalkan, dan amar ma’ruf-nahi munkar ditinggalkan? Sedangkan larangan-larangan Allah malah dikerjakan; berbuat syirk dan menyembah selain-Nya dilakukan, durhaka kepada orang tua dilakukan, berzina dilakukan, riba dilakukan, bermain judi dilakukan, meminum khamr (termasuk narkoba) dilakukan, memutuskan tali silaturrahim dilakukan, memamerkan aurat seperti melepas jilbab dan memamerkan keindahan tubuhnya dilakukan, berkata dusta dilakukan, mengingkari janji dilakukan, berkhianat dilakukan, bersikap curang dalam mu’amalah dengan mengurangi takaran dan timbangan dilakukan, mengangkat orang non muslim sebagai pemimpin atau wakilnya dilakukan, mengganggu kenyamanan tetangga seperti dengan suara tipe yang keras, berbuat zalim dilakukan, serta dosa-dosa besar lainnya dilakukan? Bukankah demikian?
Kaum muslimin dan muslimat; jamaah shalat gerhana yang berbahagia!
Mengerjakan larangan Allah dan meninggalkan perintah-Nya inilah yang membuat negeri kita tidak berkah lagi, sehingga Dia memberikan peringatan-peringatan-Nya kepada kita baik dengan berbagai macam musibah maupun bencana, termasuk dengan mengadakan kemarau panjang dan gerhana, Dia berfirman,
وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al A’raaf: 168)
وَمَا نُرْسِلُ بِالآيَاتِ إِلاَّ تَخْوِيفاً
“Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (QS. Al Israa’: 59)
Jalan keluar dari berbagai macam musibah dan bencana yang melanda kita, serta agar bumi yang kita tempati ini kembali berkah adalah dengan dengan bertakwa kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala; yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al A’raaf: 96)
Kaum muslimin dan muslimat; jamaah shalat gerhana yang berbahagia!
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
« إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا » . 
"Sesungguhnya matahari dan bulan tidaklah terjadi gerhana karena kematian seseorang dan bukan pula karena lahirnya seseorang. Akan tetapi, keduanya merupakan dua tanda di antara tanda-tanda (kekuasaan) Allah. Apabila kalian melihatnya, maka laksanakanlah shalat." (HR. Bukhari)
Ya, benar. Gerhana matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah sekaligus untuk menakuti hamba-hamba-Nya terhadap siksaan Allah dan azab-Nya agar mereka berhenti dari kemaksiatan yang selama ini mereka kerjakan. Oleh karena itu, saat terjadi gerhana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan orang-orang ketika itu untuk melaksanakan shalat, berdoa, berdzikr, beristighfar (memohon ampunan), bersedekah, dan melakukan amal saleh lainnya seperti memerdekakan budak dengan harapan agar mereka tidak ditimpa sesuatu yang tidak diinginkan.
Dalam hadits di atas juga Beliau menjelaskan, bahwa gerhana terjadi bukanlah karena ada seorang tokoh yang meninggal atau karena lahirnya seorang tokoh. Maksud Beliau bersabda demikian adalah untuk menghilangkan anggapan yang menyebar di saat itu, di mana ketika itu Ibrahim putera Beliau wafat, lalu mereka pun mengaitkan terjadinya gerhana karena wafatnya putera Beliau, maka Beliau menghilangkan anggapan tersebut. Demikian pula tidak ada anggapan-anggapan dan keyakinan-keyakinan lainnya yang beredar di masyarakat kita ketika terjadi gerhana. Semua anggapan itu tidak benar dan tidak boleh diyakini.
Kaum muslimin dan muslimat; jamaah shalat gerhana yang berbahagia!
Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang menciptakan matahari dan bulan, dan Dia mengatur keduanya untuk maslahat atau kepentingan manusia. Dia berfirman,
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللّهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan menetapkan manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui." (QS. Yunus: 5)
Oleh karena keduanya adalah makhluk ciptaan-Nya dan di bawah pengaturan-Nya, maka keduanya tidak berhak untuk disembah; demikian pula makhluk-makhluk-Nya yang lain tidak berhak pula disembah, Dia berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah menyembah matahari maupun bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika Dialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fushshilat: 37)
Dia juga menjadikan keduanya sebagai sebab terjadinya malam dan siang, serta gelap dan terang. Dan Allah Ta'ala menjadikan malam dan siang itu sebagai kenikmatan bagi manusia agar mereka dapat bekerja dan beristirahat, demikian pula agar mereka dapat mengisi hidupnya di dunia ini dengan beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala sebagai bentuk syukur kepada-Nya. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُوراً
"Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. (Terj. QS. Al Furqan: 62)
Di sela-sela pergantian malam dan siang itu serta bergantinya hari, Allah Subhaanahu wa Ta'ala menentukan waktu-waktu untuk terjadinya gerhana karena hikmah yang dalam sebagaimana yang telah disebutkan sebagian hikmahnya di awal pembicaraan tadi.
Kaum muslimin dan muslimat; jamaah shalat gerhana yang berbahagia!
Ketika terjadi gerhana ada beberapa sikap yang perlu dilakukan, di antaranya adalah:
1.       Memiliki rasa takut kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala.
2.       Memikirkan siksaan Allah kepada orang-orang yang berbuat maksiat.
Dalam hadits Aisyah radhiyallahu 'anha disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam khutbahnya seusai shalat kusuf bersabda,
« مَا مِنْ شَىْءٍ كُنْتُ لَمْ أَرَهُ إِلاَّ قَدْ رَأَيْتُهُ فِى مَقَامِى هَذَا حَتَّى الْجَنَّةَ وَالنَّارَ ، وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِى الْقُبُورِ ...."
"Tidak ada satu pun yang aku belum pernah melihatnya kecuali sekarang aku melihatnya di tempatku ini sampai surga dan neraka. Telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan diuji ketika berada di kubur…dst." (HR. Bukhari)
Pada saat itu diperlihatkan kepada Beliau surga dan neraka. Beliau juga diperlihatkan siksaan yang menimpa penghuni neraka, dilihatnya seorang wanita yang disiksa karena mengurung seekor kucing tanpa memberinya makan dan minum, dilihatnya 'Amr bin Malik bin Luhay menarik ususnya di neraka, dimana dia adalah orang pertama yang merubah agama Nabi Ibrahim 'alaihis salam; dia yang membawa berhala kepada orang-orang Arab sehingga mereka menyembahnya. Dilihatnya penghuni neraka yang terbanyak, yaitu kaum wanita karena sikap kufur mereka kepada suami; mereka tidak berterima kasih terhadap kebaikan suami, dan diperlihatkan kepada Beliau siksaan orang yang mencuri barang bawaan jama'ah hajji. Ketika itu juga, Beliau memerintahkan kaum muslimin untuk berlindung dari azab kubur, Beliau bersabda:
وَاللهِ لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا
"Demi Allah, kalau sekiranya kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis."
3.       Melakukan shalat Gerhana
4.       Bersegera untuk berdzikr, berdoa, beristighfar, bertakbir, melakukan berbagai amal saleh, melakukan shalat, dan berlindung dari azab kubur dan azab neraka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ، فَاذْكُرُوا اللهَ، وَكَبِّرُوْا، وَصَلُّوْا، وَتَصَدَّقُوْا
"Apabila kalian melihatnya, maka segeralah dzikrullah, bertakbir, shalat, dan bersedekah." (HR. Malik, Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Nasa'i)
Demikianlah adab-adab yang diajarkan Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ketika terjadi gerhana, maka lakukanlah. Dan inilah sunnah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika terjadi gerhana.
Kaum muslimin dan muslimat; jamaah shalat gerhana yang berbahagia!
Kembalilah kalian kepada agama kalian, ikutilah tuntunan Allah dalam Al Qur’an dan tuntunan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam As Sunnah, pelajarilah keduanya dan amalkanlah dalam keseharian, niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk dalam meniti hidup di dunia dan akan memperoleh keselamatan di akhirat. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
“Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaahaa: 123)
Jadikanlah kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pedoman hidup kalian dalam semua aspek kehidupan; dalam berakidah, beribadah, berakhlak, berhukum, bermuamalah, dan memutuskan masalah.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ فَقَالَ جَلَّ وَعَلاَ:إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا مَحَبَّتَهُ وَاتِّبَاعَهُ ظَاهِراً وَبَاطِناً اَللَّهُمَّ تَوَفَّنَا عَلَى مِلَّتِهِ اَللَّهُمَ احْشُرْنَا فِي زُمْرَتِهِ اَللَّهُمَّ أَسْقِنَا مِنْ حَوْضِهِ اَللَّهُمَّ أَدْخِلْنَا فِي شَفَاعَتِهِ اَللَّهُمَّ اجْمَعْنَا بِهِ فِي جِوَارِكَ فِي جَنَّاتِ النَّعِيْمِ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ اَللَّهُمَّ ارْضَ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ اَللَّهُمَّ ارْضَ عَنْ أَوْلاَدِه الْغُرِّ الْمَيَامِيْنَ وَعَنْ زَوْجَاتِهِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَللَّهُمَّ ارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا كَمَا أَصْلَحْتَ أَحْوَالَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاجْعَلْ بَلَدَنَا هَذَا آمِنا ً وَ سَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِميْنَ اَللَّهُمَّ هَيِّئْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وُلاَةً صَالِحِيْنَ مُصْلِحِيْنَ يَقُوْدُوْنَهُمِ بِكِتَابِكَ وَسُنَّةِ نَبِيِّكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَآخِرُ دَعْوَانَا اَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Marwan bin Musa
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger