Belajar Mudah Ilmu Tauhid (10)

Selasa, 07 Oktober 2014
بسم الله الرحمن الرحيم

Belajar Mudah Ilmu Tauhid (10)

(Tawassul, Hukum Menyembelih dan Bernadzar Kepada Selain Allah, dan Hukum Memohon Pertolongan Kepada Selain Allah)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:
Berikut ini pembahasan tentang tawassul, hukum menyembelih dan bernadzar Kepada selain Allah, dan hukum memohon pertolongan kepada selain Allah yang kami terjemahkan dari kitab At Tauhid Al Muyassar karya Syaikh Abdullah bin Ahmad Al Huwail; semoga Allah menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamiin.
KAJIAN TENTANG TAWASSUL
Ta’rif (definisi) Tawassul
Tawassul secara bahasa dari kata Al Wasilah (sarana) yang asalnya sesuatu yang dipakai untuk menghubungkan kepada sesuatu dan mendekatkan kepadanya. Adapun secara istllah, tawassul adalah menggunakan sebab yang disyariatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Pembagian Tawassul
Tawassul terbagi dua, yaitu:
1.  Tawassul yang masyru’ (disyariatkan)
2.  Tawassul yang mamnu’ (dilarang)
Tawassul yang masyru’ (disyariatkan)
Hal ini ada tiga macam, yaitu:
1.     Bertawassul dengan salah satu nama Allah Tabaaraka wa Ta’ala atau salah satu sifat-Nya[i].
2.     Bertawassul dengan amal saleh yang dilakukan oleh orang yang berdoa[ii].
3.     Bertawassul dengan doa orang saleh yang masih hidup[iii].
Tawassul yang mamnu’ (terlarang)
Yaitu bertawassul tidak menggunakan tiga hal yang disebutkan dalam tawassul yang masyru’, misalnya:
1.     Bertawassul kepada Allah Ta’ala dengan menggunakan hak atau kedudukan seseorang.
2.     Berdoa dan bernadzar kepada para wali dan orang-orang saleh.
3.     Menyembelih hewan untuk arwah para wali dan diam beribadah di sekitar kuburan.
KAJIAN TENTANG MENYEMBELIH UNTUK SELAIN ALLAH TA’ALA
Ta’rif dzabh (menyembelih)
Dzabh atau menyembelih secara bahasa artinya membelah atau yang menunjukkan seperti itu. Sedangkan secara istilah, dzabh adalah menghilangkan nyawa dan menumpahkan darah sebagai bentuk ta’zhim (pengagungan) dan pendekatan diri dengan cara tertentu.
Pembagian dzabh
Dzabh terbagi tiga, yaitu:
1.  Penyembelihan yang masyru’
2.  Penyembelihan yang mubah
3.  Penyembelihan yang syirk
Penyembelihan yang mayru’ (disyariatkan)
Contohnya adalah menyembelih udh-hiyyah (hewan kurban pada hari raya Idul Adh-ha), menyembelih hewan karena bernadzar kepada Allah, menyembelih hewan hadyu, menyembelih karena fidyah dalam ibadah haji dan umrah, menyembelih hewan aqiqah untuk bayi yang baru lahir, menyembelih hewan untuk bersedekah agar dapat mendekatkan diri kepada Allah, dan menyembelih hewan untuk memuliakan tamu.
Penyembelihan yang mubah
Contohnya adalah penyembelihan yang dilakukan oleh penjagal untuk dijual, atau menyembelih hewan untuk dimakan.
Penyembelihan yang syirk
Contohnya adalah menyembelih hewan untuk berhala, jin, kubah dan kuburan, menyembelih hewan sebelum menempati rumah yang baru dengan maksud mengusir jin, menyembelih pada saat pengantin baru masuk ke dalam rumah serta berjalan di atas darah hewan sembelihan, dan menyembelih untuk Allah namun dengan menyebut nama selain Allah.
Kesimpulan
1.     Menyembelih adalah ibadah, sehingga tidak boleh diarahkan kepada selain Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah; Tuhan semesta alam.” (QS. Al An’aam: 162)
2.     Menyembelih untuk selain Allah dipandang sebagai syirk akbar dan pelakunya dilaknat. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR. Muslim)
KAJIAN TENTANG BERNADZAR UNTUK SELAIN ALLAH TA’ALA
Ta’rif (definisi) Nadzar
Nadzar secara bahasa artinya mewajibkan. Nadzar secara syara’ adalah seorang mukallaf (akil-baligh) mewajibkan kepada dirinya sebuah ketaatan yang tidak wajib sebagai bentuk ta’zhim (pengagungan) kepada yang karenanya dia bernadzar.
Nadzar adalah ibadah
Ketahuilah! Nadzar adalah ibadah untuk Allah saja; tidak boleh diarahkan kepada selain-Nya. Barang siapa yang mengarahkannya kepada selain Allah, maka dia telah berbuat syirk dengan syirk yang besar. Allah Ta’ala berfirman,
يُوفُونَ بِالنَّذْرِ
“Mereka menunaikan nadzar.” (QS. Al Insaan: 7)
Oleh karena itu, barang siapa yang bernadzar untuk selain Allah, maka tidak boleh dipenuhi.
Kapankah nadzar menjadi syirk?
Nadzar menjadi syirk ketika seseorang mewajibkan kepada dirinya suatu perkara karena selain Allah sebagai bentuk pengagungannya dan pendekatan dirinya kepada selain Allah itu. Misalnya:
1.       Seseorang berkata, “Jika Allah menyembuhkan  orang yang sakit di tengah-tengahku, maka untuk kubur wali fulan akan saya sembelihkan hewan berupa kambing atau akan saya keluarkan sekian harta karenanya.”
2.       Seseorang berkata, “Jika saya mendapatkan seorang anak, maka saya akan menyembelih hewan untuk wali fulan di dekat kuburnya.”
3.       Seseorang berkata, “Saya bernadzar untuk menyembelih tiga hewan untuk wali fulan atau untuk jin anu.”
4.       Bernadzar untuk berhala.
5.       Bernadzar untuk matahari dan bulan.
KAJIAN TENTANG MEMOHON PERTOLONGAN KEPADA SELAIN ALLAH TA’ALA
Beberapa istilah dan maknanya
Isti’anah artinya meminta pertolongan.
Istighatsah artinya meminta bantuan agar dihilangkan dari derita.
Isti’adzah artinya meminta perlindungan.
Dalil yang menunjukkan bahwa tiga hal di atas (isti’anah, istighatsah, dan isti’adzah) adalah ibadah
Pertama, tentang isti’anah. Allah Ta’ala berfirman,
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al Fatihah: 5)
Kedua, tentang istighatsah. Allah Ta’ala berfirman,
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ
“(Ingatlah), ketika kamu memohon bantuan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (QS. Al Anfaal: 9)
Ketiga, tentang isti’adzah. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Katakanlah, "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.” (QS. An Naas: 1)
Hukum isti’anah, istighatsah, dan isti’adzah kepada selain Allah
Hal ini terbagi dua hukum, yaitu:
Pertama, boleh, yaitu ketika terpenuhi empat syarat berikut (dua syarat terkait dengan perkara yang dimohonkan, sedangkan dua syarat lagi terkait kepada siapa dimohonkan):
Dua syarat yang terkait dengan perkara yang dimohonkan adalah: (1) tidak termasuk perkara yang khusus bagi Allah, dan (2) makhluk mampu melakukannya.
Dua syarat yang terkait kepada siapa dimohonkan adalah: (1) makhluk tersebut masih hidup, dan (2) hadir di hadapan.
Kedua, syirk, yaitu ketika tidak ada salah satu syarat di atas[iv].
Bersambung...
Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.
Diterjemahkan dari kitab At Tauhid Al Muyassar oleh Marwan bin Musa



[i] Misalnya mengucapkan, “Yaa Razzaq urzuqnaa” (artinya: Wahai Yang Maha Pemberi rezeki, karuniakanlah kami rezeki) -pent.
[ii] Misalnya mengucapkan, “Ya Allah, jika sedekah yang aku lakukan ini ikhlas karena-Mu maka mudahkanlah urusan kami.” –pent,
[iii] Misalnya mengucapkan, “Ya Allah, jika sedekah yang aku lakukan ini ikhlas karena-Mu maka mudahkanlah urusan kami.” –pent.
[iv] Misalnya perkara yang dimohonkan termasuk perkara yang khusus bagi Allah, atau makhluk tidak mampu melakukannya, atau makhluk tersebut sudah mati, atau makhluk itu tidak ada di hadapan meskipun masih hidup -pent.

17 Tips Meraih Pahala Besar Pada Hari Arafah

Jumat, 03 Oktober 2014
بسم الله الرحمن الرحيم
17 Tips Meraih Pahala Besar Pada Hari Arafah (9 Dzulhijjah)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Hari Arafah termasuk hari-hari utama. Pada hari itu doa dikabulkan, kesalahan dimaafkan, dan pada hari itu Allah berbangga dengan mereka yang berada di Arafah di hadapan para malaikat-Nya. Hari Arafah adalah hari yang dimuliakan Allah dan diistimewakan-Nya di atas hari-hari yang lain. Pada hari itu pula agama Islam disempurnakan, nikmat dicukupkan. Hari itu adalah hari pengampunan dosa dan pembebasan dari neraka.

Berikut ini 17 tips meraih pahala besar pada hari Arafah, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Keutamaan Hari Arafah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ أَخَذَ الْمِيْثَاقَ مِنْ ظَهْرِ آدَمَ بِنَعْمَانَ يَوْمَ عَرَفَةَ وَ أَخْرَجَ مِنْ صُلْبِهِ كُلَّ ذُرِّيَّةٍ ذَرَأَهَا، فَنَثَرَهُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ كَالذَّرِّ، ثُمَّ كَلَّمَهُمْ قِبَلًا " قَالَ: أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ   . ‌

“Sesungguhnya Allah mengambil perjanjian dari punggung Nabi Adam di Na’man (Arafah) pada hari Arafah, dan mengeluarkan dari tulang punggung Adam setiap keturunannya yang Dia ciptakan, lalu Dia sebarkan di hadapan-Nya seperti semut, kemudian Dia berfirman secara langsung, “Bukankah Aku Tuhanmu?” (HR. Ahmad, Nasa’i, Hakim, dan Baihaqi dalam Al Asmaa’ dari Ibnu Abbas, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1701)

" إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي مَلَائِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ، فَيَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي أَتَوْنِي شُعْثًا غُبْرًا " 

“Sesungguhnya Allah Ta’ala membanggakan para pengunjung Arafah di hadapan para malaikat-Nya pada sore hari Arafah, Dia berfirman, “Lihatlah hamba-hamba-Ku! Mereka datang kepada-Ku dalam keadaan berambut kusut dan berdebu.” (HR. Ahmad dan Thabrani dalam Al Kabir, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1868)

Dari Aisyah radhiyallahu anha, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

" مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمِ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟ "

“Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hamba-Nya dari neraka daripada hari Arafah. Sesungguhnya pada hari itu Dia mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat-Nya sambil berkata, “Apa yang mereka inginkan?”

Sebagian Ahli Ilmu menerangkan, bahwa Allah turun pada sepertiga malam terakhir kecuali pada hari Arafah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia di siang hari untuk mendengar rintihan orang yang terzalimi, doa orang yang berhajat, menghilangkan kesedihan, dan menutupi hati yang menderita. Dahulu kaum salaf menyimpan hajat mereka untuk mereka panjatkan dalam doa hari Arafah. Salah seorang yang saleh berkata, “Demi Allah, aku tidaklah berdoa pada hari Arafah dan tidaklah berlalu setahun melainkan aku melihat pengabulan doa itu seperti tampaknya cahaya Subuh.”

Betapa banyak hajat dan harapan serta doa yang dikabulkan pada sore hari Arafah (dari bada Ashar sd. Maghrib). Jika pada bulan Ramadhan, samar bagi kita Lailatul Qadr sehingga kita tidak tahu kapan pastinya, sedangkan pada bulan Dzulhijjah Allah memberitahukan kita dengan hari Arafah. 

Dari Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي مَلَائِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ، فَيَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي أَتَوْنِي شُعْثًا غُبْرًا

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membanggakan orang-orang yang berada di Arafah di hadapan para malaikat-Nya di sore hari Arafah, Dia berfirman, “Lihatlah hamba-hamba-Ku! Mereka datang kepada-Ku dalam keadaan berambut kusut dan berdebu.” (Hr. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani. Pentahqiq Musnad Ahmad cet. Ar Risalah berkata, “Isnadnya tidak mengapa.”)

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu, bahwa ada salah seorang Yahudi yang berkata kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, ada sebuah ayat dalam kitab kalian (Al Qur’an) yang seandainya turun kepada kami kaum Yahudi tentu kami jadikan hari itu sebagai hari raya!” Umar bertanya, “Ayat apa itu?” Ia menjawab, “Ayat:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini Aku sempurnakan untukmu agamamu, Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (Qs. Al Maidah: 3)

Umar berkata, “Kami tahu hari dan tempat diturunkan ayat itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yaitu saat Beliau berdiri di Arafah pada hari Jumat.”

17 Tips Meraih Pahala Besar Pada Hari Arafah

1.     Lakukan tidur lebih pagi agar dapat menjalankan shalat malam dan kuat menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala pada pagi harinya.

Abu Barzah Al Aslami radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak suka tidur sebelum shalat Isya dan tidak suka berbincang-bincang setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2.     Sempatkanlah bersimpuh di hadapan-Nya setelah shalat malam sambil berdoa dan memohon ampunan kepada-Nya.

Yang demikian karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang melakukan hal tersebut, Dia berfirman,

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأَسْحَارِ

“(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Tuhan kita Tabaaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika masih tersisa sepertiga malam yang terakhir, Dia berfirman, “Barang siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan, barang siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan berikan, dan barang siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku akan ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3.     Sebelum Subuh tiba, lakukanlah makan sahur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ

“Makan sahurlah, karena pada makan sahur itu ada keberkahan.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Anas, Nasa’i dari Abu Hurairah dan Ibnu Mas’ud, serta Ahmad dari Abu Sa’id, Shahihul Jami’ no. 2843)

Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Bangunkanlah para pelayan kalian makan sahur untuk puasa Arafah.” (Hilyatul Auliya 4/281)

4.     Melakukan puasa Arafah bagi mereka yang tidak berada di Arafah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَ مُسْتَقْبِلَةً وَ صَوْمُ عَاشُوْرَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً

“Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun; yang lalu dan yang akan datang, sedangkan puasa Asyura (10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi)

Jangan lupa bahwa berdoa pada saat berpuasa adalah mustajab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ  : دَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَ دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Ada tiga doa yang mustajab, yaitu: doa orang yang berpuasa, doa orang yang teraniaya, dan doa musafir.” (HR. Al ‘Uqailiy dan Baihaqi dalam Asy syu’ab, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3030)

5.     Bersiap-siaplah untuk shalat Subuh, jawab panggilan muazin, dan hadirkan perasaan bahwa dosamu akan berguguran bersamaan jatuhnya air wudhu, dan jangan lupa membaca doa setelah berwudhu.

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa salam bersabda,

« إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ فَتَمَضْمَضَ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ فِيهِ وَإِذَا اسْتَنْثَرَ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ أَنْفِهِ فَإِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ وَجْهِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَشْفَارِ عَيْنَيْهِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ يَدَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ يَدَيْهِ فَإِذَا مَسَحَ بِرَأْسِهِ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ رَأْسِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ أُذُنَيْهِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ رِجْلَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ رِجْلَيْهِ - قَالَ - ثُمَّ كَانَ مَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ وَصَلاَتُهُ نَافِلَةً لَهُ » . 

“Apabila seorang hamba berwudhu lalu berkumur-kumur, maka akan keluar dosa-dosa dari mulutnya. Jika ia menghembuskan air dari hidung, maka akan keluar dosa-dosa dari hidungnya. Ketika ia membasuh mukanya, maka akan keluar dosa-dosa dari mukanya sampai keluar dari pinggir kelopak mata. Ketika ia membasuh kedua tangannya, maka akan keluar dosa-dosanya dari kedua tangannya sampai keluar dari bawah kuku tangannya. Ketika ia mengusap kepala, maka akan keluar dosa-dosa dari atas kepalanya sampai keluar dari kedua telinganya. Ketika ia membasuh kedua kakinya, maka akan keluar dosa-dosanya dari kedua kakinya sampai keluar dari bawah kuku kakinya. Kemudian dengan berjalannya menuju masjid dan shalat yang dilakukannya sebagai tambahan untuknya.” (HR. Malik, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 449)

6.     Lakukan shalat Subuh, lalu duduk di tempat shalatmu untuk berdzikr hingga terbit matahari setinggi satu tombak (kira-kira 15 menit setelah syuruq/terbit matahari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

“Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah, lalu duduk berdzikr kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian ia shalat dua rakaat, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah secara sempurna, sempurna, dan sempurna.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6346)

7.     Mulailah dengan takbiran secara langsung setelah salam.

Ikrimah berkata tentang firman Allah di surat Al Baqarah ayat 203, “Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya,” maksudnya bertakbir pada hari-hari tasyriq setelah shalat fardhu; yaitu mengucapkan Allahu akbar, Allahu akbar.”

Lafaznya,

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَاِالهَ اِلَّا اللهُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ اْلحَمْدُ

"Allah Mahabesar-Allah Mahabesar, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Allah Mahabesar, milik-Nyalah segala puji."

Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin, takbir ada dua macam, yaitu: takbir mutlak (kapan saja) dan takbir muqayyad (terikat). Takbir mutlak dimulai dari awal bulan Dzulhijjah dan dibaca pada setiap waktu, sedangkan takbir muqayyad dimulai dari Subuh hari Arafah sampai tenggelam matahari akhir hari tasyriq di samping dibaca pula secara mutlak. Oleh karena itu, jika seseorang selesai salam dari shalat fardhu, lalu beristighfar 3 kali dan mengucapkan “Allahumma antsas salam wa minkassalam tabaarakta yaa dzal jalaali wal Ikram, “ maka ia mulai bertakbir. (Diringkas dari Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, "Adapun takbir muqayyad, maka dimulai dari Subuh hari Arafah sampai tenggelamnya matahari hari tasyriq yang terakhir di samping tetap dilakukan takbir mutlak. Oleh karena itu, ketika seseorang selesai shalat fardhu, beristighfar tiga kali dan mengucapkan 'Allahumma antas Salam wa minkas salam Tabarakta yaa Dzal Jalali wal ikram', maka ia mulai bertakbir. Namun hal ini untuk selain jamaah haji. Adapun orang yang  haji, maka ia memulai bertakbir muqayyad dari seusai shalat Zhuhur hari Nahar (10 Dzulhijjah)." (Majmu Fatawa 13/17)

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut sambil mengumandangkan takbir, lalu orang-orang mengikuti takbirnya.

Imam Ahmad pernah ditanya, “Berdasarkan hadits apa anda berpendapat bahwa takbir diucapkan setelah shalat Subuh hari ‘Arafah sampai akhir hari tasyriq?” Ia menjawab, “Berdasarkan ijma’; yaitu dari Umar, Ali, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhum.”

8.     Jangan lupa membaca dzikr pagi serta membaca Al Qur’an.

Setelah bertakbir, berdzikr, dan membaca Al Qur’an, kemudian matahari pun telah terbit setinggi satu tombak, maka lakukanlah shalat sunah dua rakaat agar engkau memperoleh pahala haji dan umrah.

9.     Isilah hari-hari dengan dzikir dan doa, dan yakinlah doamu akan dikabulkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ»

“Berdoalah kepada Allah sedangkan kamu yakin akan dikabulkan. Ketahuilah! Bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati orang yang lalai lagi lengah.” (HR. Tirmidzi, dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 245)

10.  Jika engkau terpaksa harus tidur, maka niatkan dalam hatimu untuk bisa melakukan ketaatan lagi kepada Allah Ta’ala,

11.  Lakukan shalat Dhuha, minimal dua rakaat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى »

“Pada pagi hari setiap persendian kamu hendaklah bersedekah; setiap tasbih adalah sedekah. Setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan Laailaahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi mungkar juga sedekah dan hal itu bisa terpenuhi oleh dua rak’at yang dikerjakannya di waktu Dhuha.” (HR. Muslim: 1671).

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi,

«ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ»

“Wahai anak Adam! Lakukanlah shalat empat rakaat karena-Ku di awal siang, niscaya Kucukupkan kamu di akhirnya.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani)

12.  Perbanyaklah mengucapkan, “Laailaaha illallahu wahdahulaa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadir.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah “Laailahaillallahu wahdahu...dst.” (artinya: tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi, dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3274).

13.    Manfaatkan waktu yang ada dengan berdzikr, bertakbir, membaca Al Qur’an, dan berdoa. Jangan lupa mendoakan saudaramu kaum muslimin.

14.    Bacalah dzikr petang ketika engkau berada di sore hari.

15.    Berdoalah kepada Allah agar Dia tidak membenamkan matahari kecuali engkau salah seorang di antara mereka yang telah dibebaskan-Nya dari api neraka.

Atha Al Khurasani berkata, “Jika engkau mampu menyendiri di sore hari Arafah (untuk bermunajat), maka lakukanlah.” (Hilyatul Auliya 5/197)

Imam Al Auza’iy rahimahullah berkata, “Aku mendapati beberapa orang menyimpan hajat mereka untuk hari Arafah, untuk mereka mintakan kepada Allah (pada hari Arafah).”

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, “Aku datang kepada Ats Tsauriy pada sore hari Arafah saat itu ia sedang duduk berlutut dan matanya meneteskan air mata, lalu ia menoleh, maka aku berkata kepadanya, “Siapa yang lebih buruk keadaannya pada hari Arafah ini?” Ia menjawab, “Yaitu orang yang menyangka bahwa Allah tidak akan mengampuninya.”

Hakim bin Hizam radhiyallahu anhu pernah bersama 100 budak berwuquf di Arafah, lalu ia merdekakan mereka karena Allah Ta’ala, sehingga orang-orang yang berada di Arafah sampai gaduh dan menangis sambil berkata, “Wahai Tuhan kami, ini hamba-Mu, dia telah memerdekakan budak-budaknya, maka bebaskanlah kami dari neraka-Mu.”

Mutharrif bin Abdullah dan Bakar Al Muzzanniy rahimahumallah pernah wuquf di Arafah, lalu salah seorang di antara mereka berdua berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau tolak doa orang-orang yang berada di Arafah karena sebabku.”

Al Husain bin Ali radhiyallahu anhuma pernah bertemu para jamaah haji, lalu mereka berkata, “Kami hendak ke Mekkah,” Al Husain berkata, “Sesungguhnya kalian adalah para tamu Allah. Jika kalian telah berada di Mekkah maka kumpulkanlah semua hajat kalian untuk kalian mintakan kepada Allah Azza wa Jalla.”

Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam syarah Hadits Nuzul berkata, “Sudah menjadi maklum, bahwa jamaah haji pada sore hari Arafah merasakan keimanan, rahmat, cahaya, dan keberkahan yang tidak mungkin diungkapkan.”

Sebagian kaum salaf berkata, “Sejak lima puluh tahun aku selalu berdoa pada hari Arafah, namun tidak sampai setahun melainkan pengabulan itu terwujud seperti terbitnya fajar.” (Lihat risalah Ahwal fii Yaumi Arafah karya Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy)

16.    Ketika waktu Maghrib tiba, maka berbukalah. Awali dengan basmalah, makanlah dan minumlah dengan tangan kanan, dan awali dengan kurma dalam jumlah ganjil atau jika tidak ada dengan meneguk air minum.

Ketika berbuka, bacalah doa,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ اْبتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَ ثَبَتَ اْلاَ جْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ

“Telah hilang rasa haus, telah basah tenggorokan dan semoga pahala tetap didapat Insya Allah.”

17.    Mintalah taufiq kepada Allah agar dimudahkan beramal saleh dan bermohonlah kepada-Nya agar amalanmu diterima.

Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Mendahulukan Ilmu Sebelum Beramal

Rabu, 01 Oktober 2014
بسم الله الرحمن الرحيم

Mendahulukan Ilmu Sebelum Beramal

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, "Ketahuilah, -semoga Allah merahmatimu-, bahwa wajib bagi kita mendalami empat masalah:
1.    Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam, berdasarkan dalil.
2.    Mengamalkan ilmu tersebut.
3.    Berdakwah dan mengajak orang lain kepadanya.
4.    Bersabar menghadapi segala rintangan dalam hal tersebut.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
“Demi masa--Sesungguhnya setiap manusia benar-benar berada dalam kerugian,---kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh dan saling nasehat-menasehati untuk (menegakkan) yang haq, serta nasehat-menasehati untuk (berlaku) sabar”. (QS. Al-Ashr: 1-3).
Imam Bukhari membuat bab dalam kitab Shahihnya dengan judul Bab Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat, lalu ia membawakan firman Allah Ta’ala,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
„Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.“ (QS. Muhammad: 19)
Ayat yang disebutkan di atas menunjukkan, bahwa ilmu bagi seorang muslim harus didahulukan sebelum ia berkata-kata dan berbuat. Mengapa demikian?
Pertama, karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala memerintahkan demikian. Dalilnya adalah surat Muhammad ayat 19 di atas dan firman Allah Ta’ala,
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Israa’: 36)
Larangan mengikuti apa yang belum diketahui menunjukkan perintah untuk mengetahui terlebih dahulu sebelum mengikuti.
Kedua, Allah Subhaanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang memiliki ilmu. Dia berfirman,
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Katakanlah, "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar: 9)
Ketiga, mendahulukan kata-kata dan perbuatan sebelum berilmu membuat seseorang tergelincir dalam perkataannya dan perbuatannya. Ketika seseorang berkata tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, maka perkataan itu mengandung kemungkinan benar dan bisa salah. Ia jika benar, lalu bagaimana jika salah? Maka kadar kesalahannya tergantung yang dia bicarakan, jika yang dia bicarakan adalah Allah, maka sangat besar sekali dosanya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
Katakanlah, "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al A’raaf: 33)
Keempat, mendahulukan amal di atas ilmu membuat amal menjadi tertolak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang mengerjakan amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan itu terolak.” (HR. Muslim)
Kelima, mendahulukan amal di atas ilmu sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani sehingga mereka disebut adh dhaallin (orang-orang yang sesat).
Tiga golongan manusia dalam hal berilmu dan beramal
Dalam surat Al Faatihah disebutkan tiga golongan manusia dalam hal berilmu dan beramal. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ-صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“Tunjukilah  kami jalan yang lurus,--Jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka; bukan  mereka yang dimurkai dan bukan  mereka yang sesat.” (QS. Al Faatihah : 6-7)
Berdasarkan ayat ini, ada tiga golongan manusia dalam hal berilmu dan beramal, yaitu:
1)    Orang yang mendahulukan ilmu lalu mengamalkannya, merekalah orang yang ditunjuki Allah Subhaanahu wa Ta’ala ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberikan nikmat kepada mereka (para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh).
2)    Orang yang mempelajari ilmu namun tidak mau mengamalkannya. Ini adalah jalan orang-orang yang dimurkai, seperti orang-orang Yahudi dan orang-orang yang seperti mereka.
3)    Orang-orang yang mendahulukan  amal namun tidak memiliki ilmu. Ini adalah jalan orang-orang yang sesat seperti orang-orang Nasrani dan orang-orang yang seperti mereka.
Keutamaan Belajar Agama (Tafaqquh fid din)
Saudaraku, sesungguhnya mendalami agama Islam termasuk amalan utama. Ia merupakan bukti kebaikan pada seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي
“Barang siapa yang dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, maka Dia akan memahamkan orang itu terhadap agama. Saya hanya sekedar menyebarkan ilmu, dan Allah yang memberikan (ilmu dan pemahaman).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di samping itu, dengan mendalami ilmu agama seseorang akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat yang dengannya ia bisa beramal saleh. Allah Ta’ala berfirman,
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ
“Dia-lah (Allah) yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan dinul haq.” (QS. Ash Shaff : 9)
Petunjuk di ayat ini adalah ilmu yang bermanfaat (ilmu agama) dan dinul haq adalah amal yang saleh.
Dan Allah Ta’ala menyuruh Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta kepada-Nya penambahan ilmu sebagaimana firman-Nya,
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Dan katakanlah, “Yaa Rabbi, tambahkan kepadaku ilmu.” (QS. Thaaha: 114)
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Ini jelas sekali tentang tingginya ilmu, karena Allah tidaklah menyuruh Nabi-Nya meminta tambahan dalam sesuatu selain dalam hal ilmu.”
Dan sudah barang tentu kalau seseorang hendak mengerjakan suatu amalan, ia harus mengetahui cara pelaksanaannya agar amal itu dapat dilakukan dengan benar sehingga memperoleh hasil yang diharapkan. Maka bagaimana seseorang bisa melakukan ibadah tanpa ada ilmu? Tentu tidak bisa.
Sungguh aneh sekali, untuk mengerjakan urusan dunia seseorang menyempatkan mempelajari tatacaranya agar pekerjaan yang dilakukannya benar sehingga memperoleh hasil, namun untuk urusan akhirat ia tidak memperhatikannya padahal ia merupakan penentu surga dan nerakanya; ia tidak mempelajari bagaimana ibadah yang benar, bagaimana wudhu yang benar, shalat yang benar, puasa yang benar, haji yang benar, dan sebagainya?
Kemudian perlu diketahui bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bersandar kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafush shalih dan para ulama yang mengikuti jejak mereka, kemudian dibantu dengan melihat kita-kitab tafsir, syarah-syarah hadits, kitab-kitab fiqh, kitab-kitab bahasa Arab dan sebagainya. Semua ini adalah cara untuk memahami keduannya (Al Qur’an dan As Sunnah). Bacalah kitab-kitab yang bermanfaat, datangilah para ulama, dan bertanyalah kepada para ulama dalam hal-hal yang musykil atau belum jelas bagimu.
Dan ingat, semakin banyak kamu mengamalkan ilmu yang bermanfaat maka semakin bertambah pula ilmumu, ada kata-kata hikmah,
مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ ; أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Barang siapa yang mengamalkan ilmunya maka Allah akan mengaruniakan kepadanya ilmu yang sebelumnya tidak diketahuinya.”
Kata-kata hikmah ini diambil dari firman Allah Ta’ala,
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dan bertakwalah kepada Allah, Dia akan mengajarkan kamu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah: 282)
Saudaraku, ilmu adalah sesuatu yang lebih pantas diluangkan waktu untuk mencarinya dan dikejar oleh orang-orang yang berakal; karena dengan ilmu hati akan menjadi hidup dan amal menjadi baik. Allah Subhaanahu wa Ta’ala memuji mereka yang berilmu dan mengamalkan ilmunya, Dia berfirman,
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Katakanlah, "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar: 9)
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujadilah: 11)
Allah Subhaanahu wa Ta’ala menyebutkan keutamaan orang-orang yang berilmu, lalu Dia memberitahukan, bahwa Dia mengetahui apa yang kita kerjakan. Hal ini untuk menunjukkan, bahwa ilmu hendaknya disertai amal, dan hendaknya itu semua didasari iman dan pengawasan Allah Subhaanahu wa Ta’ala (Lihat bagian mukadimah kitab Al Mulakhkhash Al Fiqhi karya Syaikh Shalih Al Fauzan).
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Maktabah Syamilah versi 3.45, Al Ushul Ats Tsalatsah (M. Bin Abdul Wahhab), Al Mulakhkhash Al Fiqhi (Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan), Al Fiqhul Muyassar Fii Dhau’il Kitab was Sunnah (Tim Ahli Fiqh, KSA) dan lain-lain.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger