Perjalanan Menuju Kematian

Sabtu, 12 Juli 2014
بسم الله الرحمن الرحيم
Perjalanan Menuju Kematian
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini pembahasan tentang perjalanan menuju kematian.  Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Terj. QS. Ali Imraan: 185)
Saudaraku, apa alasan anda untuk tidak beramal padahal setiap jiwa pasti akan merasakan mati?
Apakah karena melihat bahwa diri anda dapat meloloskan diri dari maut?
Tidakkah anda mendengar firman Allah:
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, meskipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (Terj. QS. An Nisaa’: 78)
Atau apakah karena anda merasa yakin bahwa kematian masih jauh?
Tidakkah anda menyaksikan bahwa maut datang tanpa melihat orang yang dijemput; masih muda atau sudah tua, anak kecil atau orang dewasa, orang yang sakit atau yang sehat!
Apakah termasuk hal yang mustahil jika ternyata besoknya atau lusanya atau pekan depan atau bulan depan maut datang menjemput anda?
Tentu tidak mustahil. Dan bukankah Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (Terj. QS. Luqman: 34)
Jika demikian, apa alasan anda untuk tidak beramal?
Inginkan anda -ketika maut datang menjemput- disambut oleh malaikat dengan kata-kata:
“Wahai jiwa yang tenang!--Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (Terj. QS. Al Fajr: 27-28)
Atau anda lebih memilih disambut oleh malaikat dengan kata-kata:
“Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya”
Itu terserah anda,
“Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah.” (Terj. QS. Al Baqarah: 256)
Jika anda memilih pilihan yang kedua, maka penyesalan yang harus anda terima,
“Sehingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)-- agar aku berbuat amal saleh yang telah aku tinggalkan.” (Terj. QS. Al Mu’minuun: 99-100)
Namun,
وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْساً إِذَا جَاء أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (Terj. QS. Al Munaafiquun: 11)
Seorang ahli hikmah berkata,
مَنْ أَرَادَ حُجَّةً فَالْقُرْآنُ يَكْفِيْهِ ، وَ مَنْ أَرَادَ مُغِيْثًا فَاللهُ يَكْفِيْهِ ، وَ مَنْ أَرَادَ وَاعِظًا فَالْمَوْتُ يَكْفِيْهِ ، وَ مَنْ لَمْ يَكْفِهِ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ فَإِنَّ النَّارَ تَكْفِيْهِ، قَالَ تَعَالَى :" أَلَيْسَ اللهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ"
“Barang siapa yang menginginkan hujjah (alasan) yang kuat, maka Al Qur’an sudah cukup baginya. Barang siapa yang hendak mencari pelindung, maka Allah sudah cukup baginya. Barang siapa yang hendak mencari penasihat, maka kematian sudah cukup baginya. Dan barang siapa yang merasa tidak cukup dengan semua itu, maka neraka sudah cukup baginya. Allah Ta’ala berfirman, “Bukankah Allah yang mencukupi hamba-hamba-Nya?” (Terj. QS. Az Zumar: 36)
Harta, keluarga, dan kedudukan akan ditinggalkan
Sebagian manusia terlalu berlebihan mencari dunia sampai tidak sempat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dari bangun tidur sampai tidur kembali tidak ada waktu untuk beribadah; shalat lima waktu ditinggalkan, membaca Al Qur’an dan berdzikr dilewatkan, zakat dan sedekah diabaikan, puasa Ramadhan dilalaikan, berbakti kepada orang tua disia-siakan, silaturrahim tidak dijalankan, padahal harta yang dicarinya selama ini akan ditinggalkan, dan ia akan masuk ke dalam kuburan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,--Sampai kamu masuk ke dalam kubur.--Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),--Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.” (Terj. QS. At Takatsur: 1-4).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Ada tiga yang akan mengantarkan seorang mayit; yang dua pulang kembali, sedangkan yang satu akan bersamanya; yang tiga itu adalah keluarganya, hartanya, dan amalnya. Keluarga dan hartanya akan kembali, dan yang akan tinggal menemaninya adalah amalnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Amalnya itulah yang akan menemaninya di alam kubur. Termasuk sedekah yang ia keluarkan selama di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
" يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي، مَالِي، قَالَ: وَهَلْ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟
“Anak Adam akan berkata, “Hartaku, Hartaku!” Lalu dikatakan, “Wahai Anak Adam! Bukankah hartamu yang telah kamu makan lalu habis atau yang kamu pakai lalu usang, atau yang kamu sedekahkan. Itulah yang kamu bawa.” (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i)
Pertanyaan di alam kubur
Seseorang yang telah meninggalkan dunia dan beralih ke alam kubur akan mendapat ujian di dalamnya. Ujian ini disebut fitnah kubur. Setiap kita akan diuji di dalamnya dengan pertanyaan tentang siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa nabinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya seorang hamba apabila diletakkan dalam kuburnya dan kawan-kawannya telah pergi meninggalkannya, maka ia mendengar suara sandal mereka." Dia akan didatangi oleh dua malaikat dan mendudukkannya sambil berkata, "Apa pendapatmu tentang orang ini?" Adapun orang mukmin, maka ia akan berkata, "Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya." Kemudian dikatakan kepadanya, "Lihatlah tempat dudukmu di neraka, Allah telah menggantinya dengan tempat duduk di surga." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya, "Maka ia melihat keduanya (surga dan neraka) bersamaan." Qatadah berkata, "Dan disebutkan kepada kami, bahwa dilapangkan kuburnya seluas tujuh puluh hasta serta dipenuhi dengan tumbuhan-tumbuhan segar berwarna hijau sampai hari manusia dibangkitkan." (HR.Muslim)
Amalan yang bermanfaat bagi orang yang telah meninggal dunia[i]
Ada beberapa amal yang bermanfaat bagi si mati, di antaranya:
1.    Doa orang muslim untuknya (lihat QS. Al Hasyr: 10).
2.    Penunaian terhadap nadzarnya yang belum sempat dikerjakan baik puasa atau lainnya.
3.    Sedekah jariyah/yang mengalir (seperti waqaf).
4.    Ilmu yang bermanfaat
5.    Doa anak saleh untuk orang tuanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
      “Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga; sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak shalih yang mendoakan (orang tua)nya.” (HR. Muslim)
6.    Peninggalannya yang baik. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَ حَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا نَشَرَهُ وَ وَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَ مُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيْلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَ حَيَاتِهِ تَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ  
"Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan yang akan sampai kepada seorang mukmin setelah wafatnya adalah ilmu yang disebarkannya, anak saleh yang ditinggalkanya, mushaf Al Qur'an yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk Ibnussabil yang didirikannya, sungai yang dialirkannya, sedekah yang dikeluarkan dari hartanya di waktu sehat dan sewaktu hidupnya. Semua itu akan sampai kepadanya setelah meninggalnya." (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi, lihat Shahihul Jaami' no. 2231)
7.    Menjaga perbatasan negeri yang dikhawatirkan adanya serangan musuh (Ribath).
8.    Tanaman yang ditanamnya.
9.    Menggali kubur untuk orang yang mati.
10.  Mencontohkan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mencontohkan dalam Islam contoh yang baik, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan setelahnya. Barang siapa yang mencontohkan sunnah yang buruk (seperti mencontohkan bid’ah), maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkan setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim: 2351)
Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji': Maktabah Syamilah versi 3.45, Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an (Penulis), Modul Fiqh SMP Islam (Penulis) dll.


[i] Sebagian dalilnya bisa dirujuk kepada Modul Fiqh SMP kelas 8 (pada bagian akhir) yang telah kami susun.

Beriman Kepada Takdir

Rabu, 09 Juli 2014
بسم الله الرحمن الرحيم
Beriman Kepada Takdir
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Semua Berjalan di Atas Takdir Allah
Kita meyakini bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini yang baik mapun yang buruk adalah dengan takdir Allah Azza wa Jalla. Semuanya telah diketahui Allah, telah ditulis, telah dikehendaki, dan diciptakan-Nya. Dia berfirman,
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Terj. QS. Al Hadid: 22)
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berbuat adil dalam takdir-Nya. Semua yang ditakdirkan-Nya adalah sesuai hikmah yang sempurna yang diketahui-Nya. Allah  tidaklah menciptakan keburukan tanpa adanya maslahat, namun keburukan dari sisi buruknya tidak bisa dinisbatkan kepada-Nya. Tetapi keburukan masuk ke dalam ciptaan-Nya. Jika dihubungkan kepada Allah Ta’ala, maka hal itu adalah keadilan, kebijaksanaan dan sebagai rahmat(kasih-sayang)-Nya.
Perlu diketahui, bahwa beriman kepada takdir termasuk tauhid rububiyyah, di mana dalam takdir terdapat dalil bahwa Allah yang mengatur alam semesta ini, di samping sebagai Penciptanya dan Pengusanya.
Takdir termasuk rahasia Allah yang tidak diketahui kecuali oleh-Nya saja, dan ia tertulis dalam Al Lauhul Mahfuzh. Kita tidaklah mengetahui takdir yang ditetapkan Allah bagi kita kecuali setelah terjadinya.
Sikap umat Islam dalam masalah takdir
Dalam masalah takdir, umat Islam terbagi menjadi tiga golongan:
Pertama, golongan yang ghuluw (berlebihan) dalam masalah takdir, dalam arti bahwa manusia sama sekali tidak memiliki kemampuan maupun pilihan. Menurut golongan ini, manusia ibarat sebuah pohon yang bergerak karena hembusan angin. Mereka yang berkeyakinan seperti ini terkenal dengan golongan Jabriyyah. Tampaknya, mereka tidak bisa membedakan antara perbuatan yang terjadi oleh kehendaknya dengan perbuatan yang terjadi tanpa kehendaknya. Tidak diragukan lagi, bahwa golongan ini tersesat, karena sudah kita maklumi bersama, bahwa manusia bisa membedakan antara perbuatan yang terjadi oleh kehendaknya dengan perbuatan yang terjadi tanpa kehendak darinya.
Kedua, golongan yang ghuluw dalam menetapkan adanya kemampuan dan pilihan dalam diri manusia, sampai-sampai mereka meniadakan kekuasaan Allah di sana. Golongan ini beranggapan, bahwa manusia berkuasa mutlak dalam tindakannya. Golongan ini dikenal dengan sebutan golongan Qadariyyah. Mereka juga tersesat sebagaimana golongan Jabriyyah. Terhadap golongan ini, Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma pernah berkata:
“Demi Allah yang nyawa Ibnu Umar di Tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu dia infakkan di jalan Allah, niscaya Allah tidak akan menerimanya sampai dia beriman kepada qadar.”
Ketiga, golongan yang beriman kepada takdir, di mana mereka menempuh jalan tengah antara Jabriyyah dan Qadariyyah, dan berjalan di atas dalil naqli (Al Qur'an dan As Sunnah) maupun dalil 'aqli (akal). Mereka inilah Ahlussunnah wal Jama'ah. Mereka berpandangan, bahwa perbuatan-perbuatan yang terjadi di alam semesta terbagi menjadi dua bagian:
1.    Perbuatan yang dilakukan oleh Allah Ta'ala pada makhluk-Nya. Maka dalam hal ini, tidak ada kehendak (pilihan) bagi makhluk-Nya. Misalnya diturunkan-Nya hujan, ditumbuhkan-Nya tanaman, ada makhluk yang dihidupkan-Nya dan ada yang dimatikan-Nya, ada yang ditimpakan penyakit dan ada yang diberi kesehatan dan lain sebagainya.
2.    Perbuatan yang dilakukan makhluk yang memiliki kehendak. Maka dalam hal ini, perbuatan tersebut terjadi oleh pilihan pelakunya dan kehendaknya, karena Allah Ta'ala telah mengadakan kehendak untuk mereka, seperti firman Allah Ta'ala,
"Bagi siapa saja di antara kamu yang ingin menempuh jalan yang lurus." (Terj. QS. At Takwir: 28)
"Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat." (Terj. QS. Ali Imran: 152)
Manusia bisa merasakan antara perbuatan yang terjadi dengan pilihannya dan perbuatan yang terjadi tanpa ada pilihan (kehendak)nya. Seseorang yang turun dari atas genting dengan tangga merasakan bahwa ia berbuat atas kehendaknya. Sedangkan seorang yang terjatuh dari atas genting merasakan bahwa dirinya tidak menghendaki demikian.
Kritik terhadap golongan Jabriyyah dan Qadariyyah
Jika kita mengikuti pendapat golongan Jabriyyah yang berlebihan dalam menetapkan qadar, tentu syari'at Islam ini percuma saja. Hal itu, karena menganggap bahwa manusia tidak memiliki pilihan menghendaki tidak perlu dipuji dan diberikan balasan kebaikan orang yang mengerjakan perbuatan baik, serta tidak perlu dicela dan diberikan siksaan orang yang mengerjakan keburukan, karena perbuatan itu bukan mereka yang melakukannya. Dan jika ternyata diberikan siksa, maka sama saja Allah menzalimi mereka, Mahasuci dan Maha Tinggi Dia dari keyakinan rusak seperti ini. Padahal Allah Subhaanahu wa Ta'aala Maha Adil dan tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya, Dia berfirman saat orang-orang zalim dimasukkan ke dalam neraka:
Allah berfirman, "Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala,--Yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu,-- Yang mempersekutukan Allah dengan tuhan lain, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang keras ".—(Setan) yang menyertainya berkata (pula), "Ya Tuhan Kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh".-- Allah berfirman, "Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu." -- Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menzalimi hamba-hamba-Ku." (Terj. Qaaf: 24-29)
Dalam ayat di atas, Allah Azza wa Jalla menerangkan bahwa hukuman tersebut bukanlah karena Dia menzalimi mereka, bahkan yang demikian merupakan keadilan-Nya, karena sebelumnya Dia telah memberikan ancaman, bahwa jika mereka menolak ajakan rasul, mereka akan ditimpa azab yang pedih. Allah telah menerangkan kepada mereka jalan yang benar dan jalan yang salah dengan mengutus para rasul, namun mereka lebih memilih jalan yang salah atas pilihan mereka sendiri tanpa dipaksa. Dari sini kita mengetahui batilnya orang yang beralasan dengan takdir ketika bermaksiat.
Adapun golongan Qadariyyah, yakni mereka yang beranggapan bahwa manusia berkuasa mutlak terhadap tindakannya dan bahwa Allah sama sekali tidak berkuasa. Maka pendapat ini tertolak berdasarkan nash-nash syar'i  dan waaqi' (realita). Dalam Al Qur'an disebutkan:
"(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.-- Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (Ter. QS. At Takwir: 28-29)
Sedangkan realita di lapangan menunjukan bahwa ketika seseorang berniat melakukan sesuatu, ternyata apa yang diniatkannya tidak terlaksana. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak menghendakinya.
Dengan demikian, jalan yang benar adalah jalan yang ditempuh Ahlussunnah wal jama'ah, di mana jalan tersebut merupakan jalan As Salafush Shalih, yakni bahwa manusia berbuat sesuai kehendak dan pilihannya, namun kehendak dan pilihannya mengikuti kehendak Allah Ta'ala, jika Dia menghendaki, maka akan terjadi perbuatan itu dan jika tidak menghendaki, maka tidak akan terjadi perbuatan itu.
Manfaat Beriman kepada takdir
Beriman kepada takdir memiliki banyak manfaat, di antaranya adalah:
1.       Beriman kepada takdir menunjukkan adanya keimanan dalam hati.
Yang demikian adalah karena iman tidaklah sah tanpa beriman kepada takdir, karena ia termasuk rukunnya.
2.       Membuat hati menjadi tenang.
Bagaimana hati seseorang tidak tenang, ketika seseorang merasakan bahwa betapa pun manusia semuanya berusaha mencelakakan dirinya, namun jika Allah tidak menghendakinya, maka mereka tidak akan sanggup melakukannya.
3.       Membantunya untuk bersikap sabar.
Dengan meyakini adanya takdir, seseorang akan menjadi lebih sabar terhadap musibah yang di hadapinya, karena semuanya terjadi atas keterapan Allah Azza wa Jalla. Ia ridha atau tidak, ketetapan itu tetap berjalan terhadapnya. Jika ridha ia akan mendapatkan pahala, dan jika tidak menerima, ia akan mendapatkan dosa.
4.       Membuatnya selalu mengembalikan urusan kepada Allah Azza wa Jalla.
Dengan beriman kepada takdir, ia akan selalu menyerahkan urusannya kepada Allah Azza wa Jalla; ia berharap kepada Allah agar ditetapkan takdir yang baik baginya.
5.       Dll.
Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa alaa aalhihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa

Kaum Salaf dan Sikap Zuhud Mereka Terhadap Dunia

Sabtu, 05 Juli 2014
بسم الله الرحمن الرحيم

Kaum Salaf dan Sikap Zuhud Mereka Terhadap Dunia
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini contoh keteladanan kaum Salaf dalam sikap zuhud mereka terhadap dunia yang kami ambil dari kitab Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf karya Abdul Aziz Al Julail dan Bahauddin Aqil, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.
Keteladanan kaum salaf dalam sikap zuhud mereka terhadap dunia
Disebutkan dalam kitab Az Zuhd karya Ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya, ia berkata, “Umar pernah datang ke Syam, lalu disambut oleh para gubernur dan kaum bangsawan, Beliau bertanya, “Di mana saudaraku Abu Ubaidah?” Mereka menjawab, “Sekarang ia akan datang.” Lalu Abu Ubaidah datang mengendarai unta yang bertali kekang sambil memberi salam, kemudian ia berkata kepada orang banyak, “Silahkan kalian meninggalkan kami.” Lalu Umar pergi bersama Abu Ubaidah hingga tiba di rumahnya dan tinggal di sana. Ternyata Umar hanya melihat di rumahnya pedang, perisai, dan pelana.” Umar berkata, “Seandainya saja engkau memiliki perabot atau sesuatu di rumahmu?” Abu Ubaidah menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, semua inilah yang mengantarkan kita ke tempat peristirahatan (kuburan).” (Siyar A’lamin Nubala 1/16).
Dari Nu’aim bin Hammad, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutharrif, telah menceritakan kepada kami Abu Hazim, dari Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’ dari Malik Ad Dar[i], bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mengambil uang 400 dinar dan berkata kepada pelayannya, “Berikanlah uang ini kepada Abu Ubaidah. Kemudian tunggulah beberapa saat di rumahnya agar kamu menyaksikan apa yang dia lakukan.”
Maka pelayannya segera membawa uang itu kepadanya dan berkata kepada Abu Ubaidah, “Amirul Mukminin memerintahkan agar Anda mengambil uang ini.” Abu Ubaidah menanggapi, “Semoga Allah menyambung hubungannya dan merahmatinya.” Lalu ia berkata kepada pelayannya, “Wahai Jariyah (budak wanita), kemarilah! Bawalah tujuh dinar ini untuk si fulan, lima dinar ini untuk si fulan,” dan seterusnya hingga uang itu habis. Kemudian pelayan itu kembali menemui Umar dan memberitahukan apa yang disaksikannya. Ternyata Umar juga telah menyiapkan uang sejumlah itu untuk Mu’adz bin Jabal. Pelayan itu kembali mengantarkan uang itu kepada Mu’adz. Mu’adz berkata, “Semoga Allah menyambung hubungannya. Wahai pelayan, tolong berikan uang ini ke rumah si fulan sekian, dan untuk rumah fulan sekian.” Lalu istri Mu’adz melihatnya dan berkata, “Demi Allah, kita juga orang miskin, maka sisihkanlah untuk kami.” Ternyata tidak tersisa di buntaian kain itu selain dua dinar, lalu Mu’adz melemparkan uang itu kepadanya. Kemudian pelayan Umar kembali dan menyampaikan kejadian itu, lalu Umar pun bergembira karenanya, ia berkata, “Mereka satu sama lain adalah bersaudara.” (Siyar A’lamin Nubala’ 1/456).
Kisah Abu Thalhah dan istrinya
Dari Abu Ismail At Tirmidzi, ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ayyub bin Isa bin Musa, telah menceritakan kepadaku ayahku dari kakekku, dari Musa, dari Thalhah, dari ayahnya, bahwa ia pernah mendapatkan harta dari Hadhramaut berjumlah 700.000 dirham. Maka, semalaman ia meriang tidak bisa tidur. Lalu istrinya berkata kepadanya, “Ada apa denganmu?” Ia menjawab, “Dari semalam aku berpikir terus, bagaimana kira-kira keadaan seorang hamba di hadapan Rabbnya, ketika ia tidur sedangkan harta ini masih ada di dalam rumahnya?” Si istri menjawab, “Lalu bagaimana dengan saudara-saudaramu? Jika pagi telah tiba, siapkanlah mangkuk dan nampan, lalu bagikanlah uang tersebut.” Maka Abu Thalhah berkata, “Semoga Allah merahmatimu. Sesungguhnya engkau adalah wanita yang mendapat taufiq puteri seorang yang mendapat taufiq.” Istrinya adalah Ummu Kultsum binti Ash Shiddiq. Saat pagi hari tiba, ia meminta disiapkan mangkuk lalu membagikannya kepada kaum Muhajirin dan Anshar dan mengirimkan semangkuk kepada Ali.
Istrinya berkata, “Wahai Abu Muhammad, apakah orang seperti kita tidak punya bagian?” Ia menjawab, “Lalu ke mana lagi kamu akan pergi mulai hari ini (tanpa uang)? Kamu punya bagian dari sisa uang itu.”
Si istri berkata, “Setiap buntel (uang yang dikirim) terdapat seribu dirham.” (Siyar A’lamin Nubala 1/31).
Dari Ats Tsauriy, dari Abu Qais, dari Huzail bin Syurahbil, dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Barang siapa yang menginginkan akhirat, ia akan mengorbankan dunianya. Dan barang siapa yang menginginkan dunia, dia akan mengorbankan akhiratnya. Wahai kaumku! Korbankanlah dunia yang fana ini untuk akhirat yang kekal abadi.” (Siyar A’lamin Nubala 1/496).
Dari Abdurrahman bin Yazid, dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Kalian lebih lama shalatnya dan lebih sungguh-sungguh ibadahnya daripada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun mereka lebih utama dibanding kalian.” Lalu Beliau ditanya, “Karena sebab apa demikian?” Ia menjawab, “Mereka (para sahabat) adalah orang-orang yang lebih zuhud (tidak berharap) terhadap dunia dan lebih berharap akhirat dibanding kalian.” (Sifatush Shofwah 1/420).
Dari Al Auza’i dari Bilal bin Sa’ad, bahwa Abu Darda berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari hati yang terpisah-pisah.” Lalu ia ditanya, “Apa maksud hati yang terpisah-pisah.” Ia menjawab, “Yaitu dijadikan harta untukku pada setiap lembah.” (Siyar A’lamin Nubala 2/348)
Hadiah tidak selalu berupa harta
Abu Ubaidah bin Ma’n meriwayatkan dari Al A’masy, dari Abul Bukhturi, ia berkata, “Al Asy’ats bin Qais dan Jarir bin Abdullah pernah datang menemui Salman di sebuah gubuk, lalu keduanya memberi salam dan mengucapkan selamat, kemudian berkata, “Bukankah engkau adalah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Salman menjawab, “Saya tidak tahu.” Maka keduanya pun menjadi bimbang. Kemudian Salman berkata, “Sesungguhnya sahabat Beliau adalah orang yang masuk surga bersamanya.” Keduanya pun berkata, “kami baru datang dari Abu Darda.” Salman berkata, “Di mana hadiah darinya?” Keduanya menjawab, “Kami tidak membawa hadiah.” Salman berkata, “Bertakwalah kalian berdua kepada Allah dan tunaikanlah amanah. Setiap orang yang menemuiku setelah menemuinya pasti membawa hadiah.” Keduanya menjawab, “Jangan engkau memperbesar masalah ini atas kami. Kami memiliki harta, maka silahkan kamu bertindak terhadapnya sesukamu.”
Salman berkata, “Aku tidak menginginkan selain hadiah.” Keduanya menjawab, “Demi Allah, ia tidak mengirimkan apa-apa kepada kami. Ia hanya mengatakan, “Sesungguhnya di antara kalian ada seorang laki-laki yang apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersama dengannya, ia tidak berharap yang lain. Jika kalian berdua menemuinya, maka sampaikan salamku kepadanya.”
Salman berkata, “Hadiah apa lagi yang aku inginkan dari kalian berdua selain ini? Hadiah apa lagi yang lebih utama daripada “ucapan salam” dari seorang teman?” (Siyar A’lamin Nubala 1/549)
Qatadah berkata, “Ketika ajal mendatangi Amir[ii], maka ia menangis. Ketika ia ditanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku menangis bukanlah karena takut mati dan cinta dunia. Akan tetapi, aku menangis karena meninggalkan haus di siang hari dan shalat di malam hari.” (Siyar A’lamin Nubala 4/19).
Musa At Tamimi ketika menceritakan sifat-sifat Abdurrahman bin Aban bin Utsman bin Affan berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang berhasil menyatukan antara agama, kekuasaan, dan kemuliaan daripada Beliau.” Disebutkan, bahwa Beliau membeli Ahlul Bait (yang menjadi budak), lalu memberikan pakaian dan memerdekakan mereka, ia berkata, “Dengan merekalah aku berharap dapat menghadapi sakratul maut.” Beliau meninggal dunia dalam keadaan tidur di masjidnya. Disebutkan pula, bahwa Beliau banyak beribadah dan melakukan ketaatan. Ali bin Abdullah bin Abbas pernah melihatnya. Ia kagum oleh ibadah dan jalan hidupnya, maka ia menjadikan Beliau sebagai teladan dalam kebaikan. (Siyar A’lamin Nubala 5/10).
Dari Abul Abbas As Siraj, ia pernah mendengar Ibrahim bin Basysyar, (katanya) telah menceritakan kepadaku Ali bin Al Fudhail, aku mendengar ayahku berkata kepada Ibnul Mubarak, “Engkau menyuruh kami bersikap zuhud dan hidup sederhana serta menerima apa adanya, tapi kami lihat engkau membawa banyak dagangan, bagaimana ini?” Ibnul Mubarak menjawab, “Wahai Abu Ali, aku melakukan hal ini untuk menjaga wajahku, menjaga kehormatanku, dan kugunakan dalam ketaatan kepada Rabbku.” Ayahku (Al Fudhail) menanggapi, “Wahai Ibnul Mubarak, alangkah baiknya apabila semua itu dilakukan dengan sempurna.” (Siyar A’lamin Nubala 8/387).
Dari Ziyad bin Mahik, Syaddad bin Aus berkata, “Sesungguhnya kalian hanya dapat melihat sebab musabbab adanya kebaikan, demikian pula sebab musabbab adanya kejahatan. Semua kebaikan hanyalah di surga, dan semua keburukan hanyalah di neraka. Dunia hanyalah harta benda sekarang yang akan dimakan oleh orang-orang yang baik dan orang-orang yang jahat, sedangkan akhirat adalah janji yang benar yang ditetapkan oleh Maha Raja dan Mahakuasa (Allah Azza wa Jalla). Masing-masing mempunyai anak. Jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia.” (Shifatush Shofwah 1/709).
Miskin tapi tidak tamak
Dari Abdullah bin Ukthi Muslim bin Sa’ad, ia berkata, “Aku ingin berhaji, lalu pamanku dari pihak ibu memberiku uang 10.000 dirham seraya berpesan, “Jika engkau tiba di Madinah, maka carilah keluarga yang paling fakir di Madinah, lalu berikanlah uang ini kepadanya.”
Ketika aku memasuki kota Madinah, aku bertanya tentang keluarga yang paling fakir di Madinah, lalu ditunjukkan kepadaku, kemudian aku mengetuk pintu (dan mengucapkan salam), lalu ada seorang wanita yang menjawab, “Siapa Anda?” Aku menjawab, “Saya seorang yang berasal dari Baghdad yang dititipi uang 10.000 dirham dan diminta untuk menyerahkannya kepada keluarga yang paling miskin di Madinah. Aku telah mendapatkan kriteria itu ada pada Anda, maka terimalah uang ini.”
Wanita itu berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya kawanmu memberi kriteria orang yang paling miskin. Mereka yang ada di hadapan kami ini lebih miskin di banding kami?” Lalu aku meninggalkannya dan mendatangi rumah-rumah di depannya, lalu aku ketuk pintu (dan mengucapkan salam) kemudian ada seorang wanita yang menjawab. Aku pun mengatakan kepadanya sebagaimana yang aku katakan kepada wanita sebelumnya, lalu ia menjawab, “Wahai hamba Allah, kami bersama para tetangga kami sama-sama miskin, maka bagi-bagikan saja uang itu antara kami dengan mereka.” (Sifatush Shofwah 2/206).
Harta merupakan petaka bagi orang saleh
Ibrahim bin Syabib bin Syaibah berkata, “Kami pernah duduk-duduk di hari Jum’at, lalu datang seorang laki-laki yang mengenakan sehelai kain yang menyelimuti dirinya. Lelaki itu duduk di dekat kami dan mengungkapkan satu persoalan, sementara kala itu kami sibuk membicarakan soal fiqh hingga kami bubar.
Pada hari Jum’at berikutnya, lelaki itu datang lagi, lalu kami jawab pertanyaannya. Setelah itu, kami menanyakan tempat tinggalnya, ia berkata, “Saya tinggal di Al Harbiyyah.” Kemudian kami tanyakan nama panggilannya, ia menjawab, “Abu Abdillah.” Kami pun merasa senang berada satu majlis dengannya karena kami memandang bahwa majlis kami adalah majlis fiqh. Keadaan ini berlangsung sampai beberapa waktu dimana lelaki itu tidak datang lagi ke majlis kami. Kami saling bertanya satu sama lain, “Bagaimana keadaan kita sekarang ini? Selama ini majlis kita meriah dengan kehadiran Abu Abdillah, tapi kini menjadi sepi.”
Masing-masing di antara kami berjanji untuk mendatangi Al Harbiyyah esok paginya dan menanyakan tentang Abu Abdillah. Kami pun tiba di Al Harbiyyah. Jumlah kami beberapa orang. Namun, tiba-tiba kami malu bertanya tentang Abu Abdillah. Saat itu, kami melihat beberapa anak kecil yang selesai belajar, kami pun bertanya tentang Abu Abdillah. Mereka balik bertanya, “Apakah yang kalian maksud adalah Abu Abdillah sang pemburu?” Kami menjawab, “Betul.” Mereka berkata, “Sekarang inilah waktunya dia pulang.”
Kami pun duduk menunggunya. Ternyata ia sudah datang dengan mengenakan secarik kain sedangkan di pundaknya juga terdapat secari kain lainnya, sementara ia juga membawa beberapa ekor burung yang sudah disembelih dan beberapa ekor lainnya masih hidup. Saat ia melihat kami, ia pun tersenyum dan berkata, “Apa yang membuat kalian datang kemari?” Kami menjawab, “Kami kehilangan kamu. Kamu telah memeriahkan majlis-majlis kami. Apa yang menyebabkan kamu tidak datang lagi bersama kami?”
Lelaki itu menjawab, “Kalau begitu, aku akan berbicara jujur kepada kalian. Kami di sini mempunyai tetangga yang setiap hari aku pinjam bajunya, untuk kugunakan menemui kalian. Ia adalah seorang perantau, dan sudah kembali ke kampung halamannya, sehingga aku tidak memiliki pakaian lagi untuk kugunakan mendatangi kalian. Sudikah kalian mampir ke rumahku untuk menyantap rezeki yang diberikan Allah Azza wa Jalla ini?”
Sebagian kami berkata kepada yang lain, “Mari kita masuk ke rumahnya.”
Ia segera mendatangi rumahnya terlebih dahulu, memberi salam, menunggu sebentar, lalu masuk, kemudian mengizinkan kami masuk, kami pun masuk. Ternyata ia telah menyiapkan sepotong kain dan membentangkannya. Kami duduk di atas kain itu.
Lelaki itu menemui istrinya dan menyerahkan burung-burung yang telah disembelih, lalu mengambil burung-burung yang masih hidup, ia berkata, “Tunggu sebentar, saya akan datang lagi insya Allah.”
Ia pun pergi ke pasar, menjual burung-burung itu dan membeli roti, sedangkan istrinya memasak burung-burung itu. Kemudian lelaki ini menghidangkan roti dan daging burung kepada kami, lalu kami makan. Lelaki itu ke belakang kemudian membawakan garam dan air kepada kami. Setiap kali ia ke belakang, sebagian kami berkata kepada sebagian yang lain, “Pernahkah kalian melihat semacam ini? Tidakkah kalian merubah keadaannya, sedangkan kalian adalah para pemuka penduduk Basrah?”
Lalu salah seorang di antara mereka berkata, “Saya menanggung lima ratus dirham.”
Yang lain menimpali, “Saya delapan ratus dirham.”
Yang lainnya sekian dan sekian. Sementara ada lagi yang menjanjikan akan mengambilkan dari orang lain sejumlah uang tertentu, sehingga dalam hitungan terkumpul lima ribu dirham.” Mereka berkata, “Mari sama-sama kita antarkan uang ini dan kita minta agar dia merubah sebagian keadaan ekonominya.”
Kami pun bangkit, lalu pulang berkendaraan dengan membawa kesepakatan itu. Kami melewati Al Mirbad[iii]. Ternyata ada Muhammad bin Sulaiman gubernur Basrah yang sedang duduk di beranda atas rumahnya, lalu ia berkata, “Wahai pelayan, panggilkan Ibrahim bin Syabib bin Syaibah dari tengah-tengah orang-orang yang datang itu.” Maka aku (Ibrahim) datang dan menemuinya, lalu ia menanyakan perihal kami dan dari mana kami datang. Aku pun menjawab sejujurnya, lalu ia berkata, “Biarkan aku yang lebih dahulu membantunya.”
Muhammad bin Sulaiman pun berkata, “Wahai pelayan, ambilkan kepadaku sebuntal uang dirham.” Lalu pelayan itu membawakannya, kemudian ia berkata, “Tolong panggilkan pelayan kamar.” Pelayan kamar pun datang. Maka ia memerintahkan kepadanya, “Tolong antarkan uang ini bersama laki-laki ini kepada seorang yang kami perintahkan (Abu Abdillah).”
Aku (Ibrahim) begitu gembira. Aku segera bangkit menuju rumahnya. ketika sampai di rumahnya, aku mengucapkan salam, lalu Abu Abdillah menjawab salamku dan keluar menemuiku. Saat ia melihat pelayan kamar dengan buntalan kain di lehernya, maka seolah-olah aku menaburkan debu ke wajahnya, ia menyambutku tidak seperti biasanya, lalu ia berkata, “Apa urusanku denganmu? Apakah engkau hendak mencelakakanku?” Aku pun menjawab, “Wahai hamba Allah, duduklah dahulu agar aku menceritakan kisahnya dari awal kenapa semua ini terjadi. Sebagaimana yang engkau ketahui, yang memberimu ini adalah salah seorang penguasa besar, Muhammad bin Sulaiman. Kalau seandainya ia memerintahkan kepadaku untuk memberikannya kepada siapa saja yang aku kehendaki, niscaya aku akan kembali kepadanya dan mengabarkan kepada siapa uang itu kuberikan. Dan ya Allah, aku memang akan memberikannya kepadamu.”
Bertambahlah kemarahan Abu Abdillah, lalu ia masuk ke rumahnya sambil menutup pintu di hadapanku, aku pun mondar-mandir ke sana ke mari, tidak tahu apa yang akan aku katakan kepada gubernur nanti, tetapi aku harus berkata apa adanya, maka aku pergi mendatanginya dan menyampaikan kejadian itu, lalu ia berkata, “Ia pasti seorang Haruri[iv]. Demi Allah, wahai pelayanku, aku harus menyelesaikannya dengan pedang.” Ia lalu berkata, “Bawalah pelayan ini menemui lelaki itu. Kalau ia menolak juga, pancung lehernya, dan bawa kepalanya ke sini.”
Ibrahim berkata,  “Semoga Allah memperbaiki Anda wahai gubernur. Bertakwalah kepada Allah. Bertakwalah kepada Allah. Demi Allah, kami telah mengenal laki-laki itu. Dia bukanlah seorang penganut khawarij. Tetapi saya akan tetap pergi dan membawanya kepadamu.” Dan maksudku adalah untuk membebaskannya. Maka Muhammad bin Sulaiman memberikan jaminan kepadaku, aku pun pergi hingga sampai di depan rumahnya, kemudian aku ucapkan salam. Kudengar istrinya merintih dan menangis, lalu ia membukakan pintu, bersembunyi dan mengizinkan aku masuk, lalu aku masuk, kemudian ia berkata, “Apa yang terjadi antara kalian dengan Abu Abdillah?” Aku balik bertanya, “Bagaimana keadaannya?” Istrinya menjawab, “Tadi dia masuk dan langsung menuju sumur, ia mengambil air lalu berwudhu, aku dengar ia berkata, “Ya Allah, wafatkanlah aku, dan jangan engkau timpakan bencana kepadaku,” ia terus mengucapkan itu. Setelah itu aku menemuinya, ternyata ia telah meninggal dunia.”
Aku segera berkata, “Wahai saudariku, sungguh ini kejadian yang besar, maka jangan ceritakan kepada siapa-siapa.” Lalu aku mendatangi Muhammad bin Sulaiman dan menceritakan kejadian itu, maka ia berkata, “Biarkan aku pergi ke sana untuk menyalatkan orang ini.”
Kemudian berita itu tersebar di Basrah, sehingga gubernur serta mayoritas penduduk Basrah melayat jenazahnya. Semoga Allah merahmatinya.” (Shifatush Shofwah 4/9-12).
Wallahu a’lam shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahabihi wa sallam.
Disarikan dari kitab  Aina Nahnu min Akhlaqis salaf  oleh Marwan bin Musa




[i] Malik Ad Daar adalah budak yang dimerdekakan Umar bin Khaththab, ia mengambil riwayat darinya dan dari Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhum. Lihat biografinya dalam Ath Thabaqat (5/8).
[ii] Beliau adalah Abu Abdillah Amir bin Abdi Qais At Tamimi Al Bashri, salah seorang ahli ibadah dari kalangan tabi’in. Ka’ab Al Ahbar pernah menjumpainya dan berkata, “Ini adalah rahib umat ini.” (As Siyar 4/15).
[iii] Salah satu pasar terkenal di kota Basrah.
[iv] Haruri adalah salah satu kelompok Khawarij. 

Hakikat Tawakkal

Selasa, 01 Juli 2014
بسم الله الرحمن الرحيم
Hakikat Tawakkal
(Menyerahkan Diri Kepada Allah Azza wa Jalla)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini pembahasan tentang tawakkal.  Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Tawakkal kepada Allah termasuk akidah Islam
Seorang muslim tidaklah memandang tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla dalam semua urusannya sebagai akhlak yang wajib dimilikinya saja, bahkan ia memandang, bahwa tawakkal merupakan kewajiban agama yang masuk ke dalam Akidahnya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Terj. QS. Al Ma’idah: 23)
وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكِّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (Terj. QS. Ali Imran: 122)
Oleh karena itu, tawakkal secara mutlak kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala merupakan bagian akidah seorang mukmin.

Hakikat tawakkal
Seorang muslim dalam bertawakkal kepada Allah Azza wa Jalla dan bersikap pasrah kepada-Nya tidaklah memahami tawakkal sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang yang jahil terhadap Islam, yaitu bahwa tawakkal adalah sekedar ucapan yang dilontarkan di lisan namun tidak masuk ke dalam hati, digerakkan di mulut namun tidak dicerna oleh akal, atau menyingkirkan sebab dan tidak beramal, serta ridha dengan kerendahan dan kehinaan. Tidak demikian, bahkan ia memandang, bahwa tawakkal merupakan bagian keimanan dan akidahnya serta sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla sambil menyiapkan segala sebab yang dibutuhkan untuk itu. Oleh karenanya, ia tidaklah mengharapkan hasil tanpa menyiapkan terlebih dahulu sebab-sebabnya, hanyasaja hasil dari sebab dan usaha itu ia serahkan kepada Allah Azza wa Jalla, karena Dia yang mampu melakukan semua itu; tidak selain-Nya.
Dengan demikian, tawakkal bagi seorang muslim adalah usaha dan harapan disertai rasa tenang dan rasa yakin bahwa apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, dan bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan orang yang telah memperbaiki amal usahanya.
Seorang muslim karena meyakini sunnatullah di alam semesta, maka ia menyiapkan segala sebab untuk suatu perkara, berusaha menghadirkan sebab itu dan melengkapinya, tetapi ia tidak meyakini bahwa sebab itulah satu-satunya yang dapat mewujudkan harapannya dan membuahkan hasil usahanya. Bahkan ia memandang, bahwa menjalankan sebab merupakan bentuk pelaksanaan terhadap perintah Allah yang harus dilaksanakan sebagaimana perintah-perintah-Nya yang lain. Adapun berhasil atau tidaknya, maka ia serahkan kepada Allah Azza wa Jalla, karena Dia mampu melakukan semua itu; tidak selain-Nya, dan bahwa apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi, sedangkan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Karena betapa banyak, usaha keras dilakukan, namun ia tidak mendapatkan hasilnya, dan betapa banyak orang menanam pohon, namun tidak memperoleh buahnya.
Pandangan seorang muslim terhadap sebab
Bagi seorang muslim, bersandar kepada sebab dan memandang bahwa sebab adalah satu-satunya yang dapat mewujudkan harapannya merupakan bentuk kekufuran dan kesyirkkan yang seorang muslim berlepas diri dari hal itu. Meskipun begitu, meninggalkan sebab terhadap suatu perkara dan meremehkannya padahal ia sanggup menyiapkannya merupakan bentuk kefasikan dan kemaksiatan yang diharamkan Allah Subhaanahu wa Ta’ala, dan ia meminta ampunan kepada Allah Azza wa Jalla daripadanya.
Pandangan demikian bagi seorang muslim diambil dari kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peperangan yang panjang yang dilaluinya tidaklah mengarunginya kecuali setelah menyiapkan perlengkapan untuknya dan menyiapkan berbagai sebab yang bisa disiapkan; beliau memilih tempat yang cocok dan waktu yang sesuai. Disebutkan dalam hadits, bahwa Beliau tidaklah melakukan penyerangan di tengah suasana yang panas sampai udara menjadi sejuk setelah sebelumnya menyusun perencanaan dan mengatur barisan pasukan. Setelah sebab Beliau kerahkan, Beliau mengangkat tangannya berdoa kepada Allah Azza wa Jalla,
«اللهُمَّ، مُنْزِلَ الْكِتَابِ، وَمُجْرِيَ السَّحَابِ، وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ، اهْزِمْهُمْ، وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ»
“Ya Allah yang menurunkan kitab, menjalankan awan, mengalahkan tentara bersekutu, kalahkanlah mereka dan menangkanlah kami atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Demikianlah praktek Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah menggabungkan antara sebab lahiriah dan batiniah, Beliau menggantungkan keberhasilannya kepada Allah Azza wa Jalla.
Contoh lainnya adalah saat Beliau menunggu perintah Allah Azza wa Jalla untuk berhijrah ke Madinah setelah sebagian besar para sahabatnya berhijrah ke sana, lalu ada izin berhijrah dari Allah Azza wa Jalla, maka langkah-langkah yang Beliau lakukan adalah sebagai berikut:
Pertama, menyiapkan teman terbaik untuk berhijrah, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu,
Kedua, menyiapkan perbekalan safar yang terdiri dari makanan dan minuman yang kemudian dibawa oleh Asma binti Abu Bakar,
Ketiga, menyiapkan kendaraan pilihan untuk dinaiki dalam safar yang panjang itu,
Keempat, menyiapkan seorang penunjuk jalan yang ahli,
Kelima, ketika Beliau hendak meninggalkan rumahnya yang telah dikepung musuh, maka Beliau menyuruh putera pamannya, yaitu Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidurnya untuk mengelabui musuh.
Keenam, ketika kaum musyrik mencari keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Beliau bersama Abu Bakar bersembunyi di gua Tsur,
Ketujuh, ketika Abu Bakar merasakan kondisi yang sangat mencemaskan di gua itu sampai-sampai ia berkata, “Kalau seandainya salah seorang di antara mereka melihat ke arah bawah kakinya, tentu mereka akan melihat kita wahai Rasulullah,” kemudian Beliau menenangkannya sambil bersabda, “Jangan sedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Beliau juga bersabda, “Bagaimana menurutmu wahai Abu Bakar terhadap dua orang yang ketiganya adalah Allah?” (HR. Bukhari)
Perhatikanlah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, semua sebab telah Beliau lakukan, kemudian Beliau bersandar kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Beliau tidak menolak sebab, namun Beliau tidak bersandar kepadanya, dan bahwa sebab terakhir bagi seorang muslim adalah pasrah di hadapan Allah Azza wa Jalla dan menyerahkan urusan kepada-Nya dengan rasa yakin dan tenang.
Dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas itulah seorang muslim mengambil pandangan dan sikapnya, dia tidak berbuat bid’ah di dalamnya dan tidak bersikap melampaui batas, bahkan dia menjadi pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bersandar kepada diri
Seorang muslim dalam hal ini, tidaklah memahaminya sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang yang terhalang dari memandang cermat karena maksiat yang dilakukannya, yaitu bahwa bersandar kepada diri maksudnya memutuskan hubungan kepada Allah Azza wa Jalla dan bahwa seorang hamba dialah yang berkuasa menciptakan amalnya serta mewujudkan harapannya, dan bahwa Allah tidak ada andil di dalamnya, Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari anggapan ini.
Bagi seorang muslim, maksud bersandar kepada diri adalah tidak menampakkan rasa butuh kepada selain Allah Azza wa Jalla dan tidak menampakkan fakirnya selain kepada-Nya. Oleh karena itu, ketika ia masih sanggup melakukannya sendiri, maka ia tidak bersandar kepada orang lain. Jika ia sanggup menutupi kebutuhannya sendiri, maka ia tidak memintanya kepada orang lain serta tidak meminta bantuan kepada seorang pun selain kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal itu, karena sikap demikian menunjukkan ketergantunagn hati kepada selain Allah padahal sikap ini tidak layak dilakukan seorang muslim.
Oleh karena itu, seorang muslim dalam hal ini menempuh jalan orang-orang saleh sebelumnya dan jalan para shiddiqin. Dahulu salah seorang di antara mereka apabila cemetinya jatuh dari tangannya sedangkan ia berada di atas kudanya, maka ia turun sendiri untuk mengambilnya dan tidak meminta orang lain mengambilkannya. Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaiat seorang muslim untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak meminta dipenuhi kebutuhannya kepada seorang pun selain kepada Allah Azza wa Jalla.
Seorang muslim yang tumbuh di atas akidah tawakkal yang benar ini serta sikap bersandar diri yang benar membina akidah dan akhlaknya dari ayat-ayat dan hadits berikut:
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ
“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati.’ (Terj. QS. Al Furqan: 58)
وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
"Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung.” (Terj. QS. Ali Imran: 173)
إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Terj. QS. Ali Imran: 159)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»
“Kalau seandainya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tentu kamu akan mendapatkan rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki, berangkat pagi dalam keadaan perutnya kosong, dan pulang sore hari dalam keadaan perutnya kenyang.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa keluar rumah, yaitu:
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, dan tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda tentang 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab,
«هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ، وَلاَ يَكْتَوُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ»
“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak merasa sial dengan sesuatu, tidak mengobati luka mereka dengan besi panas, dan mereka bertawakkal kepada Tuhan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Diterjemahkan dari kitab Minhajul Muslim oleh Marwan bin Musa
Maraji': Maktabah Syamilah versi 3.45, Minhajul Muslim (Abu Bakar Al Jaza’iriy), dll.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger