Kisah-Kisah Shahih (1)

Jumat, 15 November 2013
بسم الله الرحمن الرحيم
Kisah-Kisah Shahih (1)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini kisah-kisah shahih yang disampaikan oleh Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam. semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
KISAH PENCIPTAAN ADAM 'ALAIHIS SALAM
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَنَفَخَ فِيهِ الرُّوحَ عَطَسَ فَقَالَ: الحَمْدُ لِلَّهِ، فَحَمِدَ اللَّهَ بِإِذْنِهِ، فَقَالَ لَهُ رَبُّهُ: رَحِمَكَ اللَّهُ يَا آدَمُ، اذْهَبْ إِلَى أُولَئِكَ المَلَائِكَةِ، إِلَى مَلَإٍ مِنْهُمْ جُلُوسٍ، فَقُلْ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، قَالُوا: وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى رَبِّهِ، فَقَالَ: إِنَّ هَذِهِ تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ بَنِيكَ، بَيْنَهُمْ، فَقَالَ اللَّهُ لَهُ وَيَدَاهُ مَقْبُوضَتَانِ: اخْتَرْ أَيَّهُمَا شِئْتَ، قَالَ: اخْتَرْتُ يَمِينَ رَبِّي وَكِلْتَا يَدَيْ رَبِّي يَمِينٌ مُبَارَكَةٌ ثُمَّ بَسَطَهَا فَإِذَا فِيهَا آدَمُ وَذُرِّيَّتُهُ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، مَا هَؤُلَاءِ؟ فَقَالَ: هَؤُلَاءِ ذُرِّيَّتُكَ، فَإِذَا كُلُّ إِنْسَانٍ مَكْتُوبٌ عُمْرُهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، فَإِذَا فِيهِمْ رَجُلٌ أَضْوَؤُهُمْ - أَوْ مِنْ أَضْوَئِهِمْ - قَالَ: يَا رَبِّ مَنْ هَذَا؟ قَالَ: هَذَا ابْنُكَ دَاوُدُ قَدْ كَتَبْتُ لَهُ عُمْرَ أَرْبَعِينَ سَنَةً. قَالَ: يَا رَبِّ زِدْهُ فِي عُمْرِهِ. قَالَ: ذَاكَ الَّذِي كُتِبَ لَهُ. قَالَ: أَيْ رَبِّ، فَإِنِّي قَدْ جَعَلْتُ لَهُ مِنْ عُمْرِي سِتِّينَ سَنَةً. قَالَ: أَنْتَ وَذَاكَ. قَالَ: ثُمَّ أُسْكِنَ الجَنَّةَ مَا شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ أُهْبِطَ مِنْهَا، فَكَانَ آدَمُ يَعُدُّ لِنَفْسِهِ، قَالَ: فَأَتَاهُ مَلَكُ المَوْتِ، فَقَالَ لَهُ آدَمُ: قَدْ عَجَّلْتَ، قَدْ كُتِبَ لِي أَلْفُ سَنَةٍ. قَالَ: بَلَى وَلَكِنَّكَ جَعَلْتَ لِابْنِكِ دَاوُدَ سِتِّينَ سَنَةً، فَجَحَدَ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ، وَنَسِيَ فَنَسِيَتْ ذُرِّيَّتُهُ. قَالَ: فَمِنْ يَوْمِئِذٍ أُمِرَ بِالكِتَابِ وَالشُّهُودِ
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ketika Allah menciptakan Adam dan meniupkan ruh kepadanya, maka Adam bersin, lalu ia mengucapkan "Al Hamdulillah", dia memuji Allah dengan izin-Nya, maka Tuhannya berkata kepadanya, "Semoga Allah merahmatimu wahai Adam. Pergilah kepada para malaikat itu, sebagian mereka sedang duduk. Katakanlah, "As Salaamu 'alaikum." Para malaikat menjawab, "Wa 'alaikas salam wa rahmatullah." Kemudian ia kembali kepada Tuhannya, maka Allah berfirman, "Ini adalah penghormatan untukmu dan penghormatan untuk anak cucumu antara sesama mereka." Lalu Allah berfirman kepadanya, sedangkan kedua tangan-Nya dikepal, "Pilihlah yang mana yang Engkau kehendaki." Adam berkata, "Aku memilih tangan kanan Tuhanku. Dan kedua tangan Tuhanku adalah tangan kanan yang diberkahi. Kemudian Allah membukanya, ternyata di sana terdapat Adam dan anak keturunannya, lalu Dia berfirman, "Wahai Tuhanku, siapa mereka?' Allah berfirman, "Mereka adalah keturunanmu." Ternyata setiap manusia sudah dicatat usianya di antara kedua matanya, dan di antara mereka terdapat orang yang paling mengkilau –atau di antara mereka yang mengkilau-, Adam pun berkata, "Wahai Tuhanku, siapakah ini?" Allah berfirman, "Ini adalah anak cucumu, yaitu Dawud. Aku telah menuliskan untuknya umurnya selama 40 tahun." Adam berkata, "Ya Rabbi, tambahkanlah kepadanya umurnya." Allah berfirman, "Itulah yang dituliskan baginya." Adam berkata, "Wahai Tuhanku, aku berikan kepadanya dari umurku sebanyak enam puluh tahun." Allah berfirman, "Itu urusanmu." Kemudian Allah menempatkan Adam di surga sesuai yang dikehendaki Allah, lalu diturunkan darinya." Selanjutnya Adam menghitung-hitung usianya, lalu malaikat maut datang kepadanya, maka Adam berkata kepadanya, "Kamu terburu-buru. Sesungguhnya telah dicatat untukku usia selama seribu tahun." Malaikat maut berkata, "Ya, tetapi engkau telah memberikan enam puluh tahun untuk cucumu, yaitu Dawud." Adam mengingkarinya, demikian pula keturunannya, ia lupa, demikian pula anak keturunannya." Maka sejak saat itulah diperintah untuk diadakan tulisan dan para saksi." (HR. Tirmidzi, ia berkata, "Hadits hasan gharib," Al Albani berkata, "Hasan shahih.")
KISAH PEMAKAMAN NABI ADAM 'ALAIHIS SALAM
عَنْ عُتَيٍّ قَالَ: رَأَيْتُ شَيْخًا بِالْمَدِينَةِ يَتَكَلَّمُ، فَسَأَلْتُ عَنْهُ فَقَالُوا: هَذَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ. فَقَالَ: " إِنَّ آدَمَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - حَضَرَهُ الْمَوْتُ فَقَالَ لِبَنِيهِ: أَيْ بَنِيَّ، إِنِّي أَشْتَهِي مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ. فَذَهَبُوا يَطْلُبُونَ لَهُ فَاسْتَقْبَلَتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ مَعَهُمْ أَكْفَانُهُ وَحَنُوطُهُ، وَمَعَهُمُ الْفُئُوسُ وَالْمَسَاحِي وَالْمَكَاتِلُ، فَقَالُوا: يَا بَنِي آدَمَ، مَا تُرِيدُونَ وَمَا تَطْلُبُونَ؟ أَوْ مَا تُرِيدُونَ وَأَيْنَ تَذْهَبُونَ؟ قَالُوا: أَبُونَا مَرِيضٌ فَاشْتَهَى مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ. قَالُوا لَهُمْ: ارْجِعُوا فَقَدْ قُضِيَ أَبُوكُمْ. فَجَاءُوا، فَلَمَّا رَأَتْهُمْ حَوَّاءُ عَرَفَتْهُمْ فَلَاذَتْ بِآدَمَ، فَقَالَ: إِلَيْكِ عَنِّي، فَإِنَّمَا أُتِيتُ مِنْ قِبَلِكَ، خَلِّي بَيْنِي وَبَيْنَ مَلَائِكَةِ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى. فَقَبَضُوهُ وَغَسَّلُوهُ وَكَفَّنُوهُ وَحَنَّطُوهُ، وَحَفَرُوا لَهُ وَلَحَدُوا لَهُ، فَصَلُّوا عَلَيْهِ، ثُمَّ دَخَلُوا قَبْرَهُ فَوَضَعُوهُ فِي قَبْرِهِ وَوَضَعُوا عَلَيْهِ اللَّبِنَ، ثُمَّ خَرَجُوا مِنَ الْقَبْرِ ثُمَّ حَثَوْا عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالُوا: يَا بَنِي آدَمَ هَذِهِ سُنَّتُكُمْ ".  قال الهيثمي:رَوَاهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ، غَيْرَ عُتَيِّ بْنِ ضَمْرَةَ وَهُوَ ثِقَةٌ.
Dari 'Utay ia berkata, “Aku melihat ada seorang syaikh di Madinah berbicara, lalu aku bertanya tentangnya, maka mereka menjawab, "Ini adalah Ubay bin Ka'ab." Ia (Ubay) berkata, "Sesungguhnya Adam –semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya- ketika kedatangan maut, maka ia berkata kepada anak-anaknya, "Wahai anak-anakku, sesungguhnya aku suka buah-buahan surga." Maka anak-anaknya pergi untuk mencarikan buah-buahan itu, lalu para malaikat menghadap mereka dengan membawa kafan dan hanuth (pengawet), demikian juga membawa kapak, sekop dan keranjang. Mereka berkata, "Wahai anak Adam, apa yang kalian inginkan dan apa yang kalian cari?" Atau mengatakan, "Apa yang kalian inginkan dan ke mana kalian pergi?" Mereka menjawab, "Bapak kami sakit, ia ingin buah-buahan surga." Maka para malaikat berkata, "Kembalilah, sesungguhnya ketetapan untuk bapak kalian telah tiba." Mereka pun datang. Saat Hawa melihat mereka, maka ia mengenalinya sehingga ia berlindung kepada Adam." Lalu Adam berkata, "Menjauhlah dariku, aku pernah melakukan kesalahan karenamu. Biarkanlah aku dengan para malaikat Tuhanku Tabaaraka wa Ta'aala. Maka mereka mencabut nyawanya, memandikannya, mengkafankannya dan memberinya pengawet. Mereka juga membuat galian untuknya dan membuatnya berbentuk lahad (adanya galian di pinggir kubur). Kemudian mereka menyalatkannya, masuk ke kuburnya dan meletakkan Adam di kuburnya, demikian juga menaruh bata di atasnya. Setelah itu mereka keluar dari kubur dan menuangkan pasir ke atasnya, selanjutnya mereka berkata, "Wahai anak Adam, ini adalah sunnah kalian." (Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad, para perawinya adalah para perawi hadits shahih selain 'Utay bin Dhamrah, namun ia tsiqah." Syaikh Umar Sulaiman Al Asyqar dalam Shahih Al Qashashin Nabawi menjelaskan, bahwa hadits ini meskipun mauquf (sampai kepada sahabat) pada Ubay bin Ka'ab, tetapi mempunyai hukum marfu', karena perkara seperti ini tidak membuka peluang bagi akal untuk mengakalinya.)
PEMBINASAAN KAUM TSAMUD
عَنْ جَابِرٍ قَالَ: لَمَّا مَرَّ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِالْحِجْرِ قَالَ: " «لَا تَسْأَلُوا الْآيَاتِ فَقَدْ سَأَلَهَا قَوْمُ صَالِحٍ، فَكَانَتْ تَرِدُ مِنْ هَذَا الْفَجِّ، فَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ فَعَقَرُوهَا [فَكَانَتْ تَشْرَبُ مَاءَهُمْ يَوْمًا، وَيَشْرَبُونَ لَبَنَهَا يَوْمًا، فَعَقَرُوهَا] ، فَأَخَذَتْهُمْ صَيْحَةٌ أَهَمَدَ اللَّهُ مَنْ تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ مِنْهُمْ إِلَّا رَجُلًا وَاحِدًا كَانَ فِي حَرَمِ اللَّهِ ". قِيلَ: مَنْ هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: " أَبُو رِغَالٍ، فَلَمَّا خَرَجَ مِنَ الْحَرَمِ أَصَابَهُ مَا أَصَابَ قَوْمَهُ» . قال الهيثمي: رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبَزَّارُ، وَالطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ أَتَمَّ مِنْهُ، وَتَقَدَّمَ فِي سُورَةِ هُودٍ، وَرِجَالُ أَحْمَدَ رِجَالُ الصَّحِيحِ.
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melewati Hijr, Beliau bersabda, "Janganlah kalian meminta ditunjukkan ayat-ayat (mukjizat). Sesungguhnya kaum Shalih telah memintanya, lalu keluarlah (unta itu) dari jalan ini, tetapi mereka melanggar perintah Tuhan mereka, mereka malah membunuh unta itu. {Unta itu biasa meminum air mereka di satu hari dan mereka meminum susunya di hari lain, lalu mereka membunuhnya}, kemudian mereka ditimpa oleh suara yang keras, maka Allah membinasakan semua yang ada di bawah kolong langit dari kalangan mereka selain satu orang yang berada di tanah haram milik Allah." Beliau ditanya, "Siapakah dia wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Abu Righal. Saat ia keluar dari tanah haram, maka ia ditimpa seperti yang menimpa kaumnya." (Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Ahmad, Al Bazzar, dan Thabrani dalam Al Awsath meriwayatkan lebih sempurna lagi, dan telah disebutkan pada bagian surah Huud. Para perawi Ahmad adalah para perawi kitab shahih.")
KISAH NABI IBRAHIM 'ALAIHIS SALAM DAN SARAH DENGAN RAJA YANG LALIM
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: " لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ إِلَّا ثَلاَثَ كَذَبَاتٍ، ثِنْتَيْنِ مِنْهُنَّ فِي ذَاتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَوْلُهُ {إِنِّي سَقِيمٌ} [الصافات: 89] . وَقَوْلُهُ: {بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا} [الأنبياء: 63] . وَقَالَ: بَيْنَا هُوَ ذَاتَ يَوْمٍ وَسَارَةُ، إِذْ أَتَى عَلَى جَبَّارٍ مِنَ الجَبَابِرَةِ، فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ هَا هُنَا رَجُلًا مَعَهُ امْرَأَةٌ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ، فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ فَسَأَلَهُ عَنْهَا، فَقَالَ: مَنْ هَذِهِ؟ قَالَ: أُخْتِي، فَأَتَى سَارَةَ قَالَ: يَا سَارَةُ: لَيْسَ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ مُؤْمِنٌ غَيْرِي وَغَيْرَكِ، وَإِنَّ هَذَا سَأَلَنِي فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّكِ أُخْتِي، فَلاَ تُكَذِّبِينِي، فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا فَلَمَّا دَخَلَتْ عَلَيْهِ ذَهَبَ يَتَنَاوَلُهَا بِيَدِهِ فَأُخِذَ، فَقَالَ: ادْعِي اللَّهَ لِي وَلاَ أَضُرُّكِ، فَدَعَتِ اللَّهَ فَأُطْلِقَ، ثُمَّ تَنَاوَلَهَا الثَّانِيَةَ فَأُخِذَ مِثْلَهَا أَوْ أَشَدَّ، فَقَالَ: ادْعِي اللَّهَ لِي وَلاَ أَضُرُّكِ، فَدَعَتْ فَأُطْلِقَ، فَدَعَا بَعْضَ حَجَبَتِهِ، فَقَالَ: إِنَّكُمْ لَمْ تَأْتُونِي بِإِنْسَانٍ، إِنَّمَا أَتَيْتُمُونِي بِشَيْطَانٍ، فَأَخْدَمَهَا هَاجَرَ، فَأَتَتْهُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي، فَأَوْمَأَ بِيَدِهِ: مَهْيَا، قَالَتْ: رَدَّ اللَّهُ كَيْدَ الكَافِرِ، أَوِ الفَاجِرِ، فِي نَحْرِهِ، وَأَخْدَمَ هَاجَرَ " قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ تِلْكَ أُمُّكُمْ يَا بَنِي مَاءِ السَّمَاءِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Nabi Ibrahim 'alaihis salam tidaklah berdusta selain tiga kali; dua kali dilakukan karena Allah 'Azza wa Jalla, yaitu ucapannya, "Sesungguhnya saya sakit." (QS. Ash Shaaffaat: 89) dan ucapannya, "Bahkan yang melakukannya adalah berhala yang besar ini." (QS. Al Anbiyaa': 63), ia juga berkata, "Maka pada saat Ibrahim bersama Sarah, tiba-tiba ia berhadapan dengan salah satu raja yang lalim." Lalu ada yang mengatakan kepadanya (raja yang lalim), "Sesungguhnya di sini ada laki-laki bersama seorang wanita yang paling cantik." Maka raja mengirim utusan menemui Ibrahim dan bertanya kepadanya tentang wanita yang bersamanya, "Siapa ini?" Nabi Ibrahim menjawab, "Dia saudariku." Maka Nabi Ibrahim mendatangi Sarah dan berkata, "Wahai Sarah, sesungguhnya tidak ada di muka bumi ini orang yang beriman selain aku dan kamu, dan sesungguhnya orang ini (raja tersebut) bertanya kepadaku, maka aku beritahukan, bahwa engkau adalah saudariku, maka dari itu, janganlah engkau dustakan aku." Kemudian raja mengirim orang kepada Sarah (memintanya hadir ke hadapannya). Saat Sarah masuk menemuinya, ia langsung pergi mendatanginya untuk menyentuhnya dengan tangannya, tetapi ia merasa tercekik[i], maka raja berkata, "Berdoalah kepada Allah untukku, dan aku tidak akan mengganggumu." Sarah pun berdoa kepada Allah, akhirnya si raja sembuh, hingga akhirnya raja mencoba melakukan hal itu sampai tiga kali, tetapi ia diberi hukuman yang sama atau lebih. Raja berkata lagi, "Berdoalah kepada Allah untukku, dan aku tidak akan mengganggumu." Maka raja memanggil sebagian pelayannya dan berkata, "Sesungguhnya kalian bukan membawa manusia kepadaku, tetapi membawa setan." Lalu raja memberikan pelayan kepadanya, yaitu Hajar. Kemudian Sarah datang kepada Ibrahim saat ia sedang shalat, lalu Ibrahim berisyarat dengan tangannya, yang maksudnya, "Bagaimana kabarmu?" Sarah berkata, "Allah menolak tipu daya orang kafir atau orang fasik ke lehernya dan memberikan pelayan, yaitu Hajar." Abu Hurairah berkata, "Itulah ibumu wahai Bani air langit[ii]." (HR. Bukhari)
Bersambung…
Wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa


[i] Dalam riwayat lain, tangannya tergenggam. Mungkin saja ia dihukum sesekali dengan dijadikan tangannya tergenggam dan sesekali dengan dijadikan lehernya tercekik, wallahu a'lam.
[ii] Yaitu orang-orang Arab, mereka disebut demikian karena mereka biasa mencari tempat curahan hujan di padang pasir untuk hewan ternak mereka.

Kisah Ali bin Abi Thalib (3)

بسم الله الرحمن الرحيم
Kisah Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu 'anhu (3)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini lanjutan kisah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat
Ali radhiyallahu ‘anhu selama hidupnya selalu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengambil ilmu Beliau, kezuhudan, dan akhlak Beliau yang begitu mulia hingga tiba saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat yang membuatnya sangat sedih.
Ali radhiyallahu ‘anhu adalah sebagai ksatria Islam dalam setiap peperangan, lalu menjadi duta Islam dalam mendakwahkan agama Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya ke Yaman untuk menyebarkan dakwah Islam dengan bijak di sana sekaligus sebagai gubernurnya, sehingga melalui jasanya kabilah Hamdan dan sebagian besar penduduk Yaman masuk ke dalam Islam.
Ali radhiyallahu ‘anhu terus membela Islam dan berjihad untuk menegakkan kalimatullah bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam hingga Beliau wafat.
Saat kaum muslimin berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah dan membaiat Abu Bakar sebagai khalifah pengganti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Ali sebagain tentara yang ikhlas di antara tentara Islam, membantu khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, memberikan nasihat dan menguatkannya. Ali membantu Abu Bakar dalam memerangi orang-orang yang murtad dan orang-orang yang enggan membayar zakat, hingga jazirah Islam kembali ke pangkuan Islam untuk yang kedua kalinya.
Abu Bakar dan para sahabat yang lain radhiyallahu ‘anhum mengakui kedudukan Ali radhiyallahu ‘anhu, ilmunya, fiqhnya, dan kecerdasannya. Oleh karena itu, ia termasuk tokoh mereka.
Setelah Abu Bakar wafat dan digantikan oleh Umar bin Khaththab, maka Ali termasuk orang yang dekat dengan Umar dan menguatkan sikap dan langkahnya dalam memimpin umat. Umar selalu bermusyawarah dengan Ali dalam semua urusan dan meminta pendapatnya meskipun usianya jauh lebih muda darinya. Bahkan Umar pernah berkata kepada Ali, “Aku berlindung kepada Allah dari hidup di tengah-tengah kaum yang engkau tidak ada di sana wahai Abul Hasan.” Oleh karenanya, Umar tidaklah meninggalkan Madinah, melainkan mengangkat Ali sebagai wakilnya.
Pada saat Umar bin Khaththab ditikam, dan sebelum ia wafat, maka Umar menyerahkan urusan khilafah  kepada enam orang yang diridhai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, dan Az Zubair bin Awam radhiyallahu ‘anhum.
Lalu tim tersebut berkumpul dan memilih Utsman bin Affan sebagai khalifah pengganti Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Ketika itu, Ali radhiyallahu ‘anhu adalah orang pertama yang membaiat Utsman dan mendampingi Utsman membantunya dalam memimpin kaum muslimin.
Pada saat muncul fitnah terhadap Utsman bin Affan, sehingga orang-orang yang termakan fitnah itu mengepung rumah Utsman bin Affan, maka Ali bin Abi Thalib bangkit membela Utsman bin Affan, Ali termasuk orang terdepan yang berusaha melindungi Utsman.
Berulang kali Ali radhiyallahu ‘anhu berusaha mengalihkan orang-orang yang termakan fitnah itu agar meninggalkan rumah Utsman, tetapi mereka menolak. Maka Ali meminta izin kepada Utsman untuk memerangi mereka, namun Utsman menolak karena khawatir akan menumpahkan darah para sahabat besar, lalu Ali memerintahkan anak-anaknya menjaga rumah Utsman radhiyallahu ‘anhu. Namun orang-orang yang termakan fitnah ini kemudian memanfaatkan kesempatan ketika sebagian besar para sahabat pergi haji dan menjaga perbatasan wilayah Islam, mereka kemudian membunuh Utsman radhiyallahu ‘anhu, sehingga selama tiga hari kaum muslimin tidak memiliki khalifah.
Setelah kejadian itu, kemudian kaum muslimin berfikir tentang siapa yang akan memimpin umat setelah Utsman bin Affan, dan ternyata mereka tidak menemukan orang yang lebih baik daripada Ali radhiyallahu ‘anhu, lalu mereka menawarkan kekhalifahan kepadanya, namun Ali menolaknya dan menyuruh mereka memilih Tim Ahli Syura yang lain, ia berkata, “Saya menjadi pembantu lebih baik daripada menjadi pemimpin.” Namun mereka terus mendesaknya, hingga akhirnya para sahabat masuk menemui Ali, demikian juga tim Ahli Syura, lalu mereka membaiatnya, kemudian diikuti oleh para tokoh dari kalangan kaum Muhajirin dan Anshar. Kemudian di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Ali dibaiat oleh kaum muslimin yang lain.
Saat menjadi khalifah
Kemudian Ali radhiyallahu ‘anhu mulai menjadi khalifah, ia bertindak sebagaimana para khalifah sebelumnya yang berjalan di atas Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah kemelut fitnah yang menimpa umat. Ia mulai mengangkat para gubernurnya dan para pembantunya dari kalangan kaum muslimin yang saleh, berkompeten, dan berilmu, seperti Abdullah bin Abbas, Abu Musa Al Asy’ari, dan lain-lain.
Ali radhiyallahu ‘anhu telah memberikan contoh dalam keadilan. Menurutnya, bahwa harta rakyat adalah amanah yang besar di pundaknya. Oleh karena itu, ia tidak boleh mengeluarkannya selain untuk hal yang bermanfaat bagi kaum muslimin. Oleh karena itu, ia menolak sesuatu untuk keluarga dan kerabatnya yang membedakan dengan rakyatnya. Ia juga memerintahkan para gubernurnya agar tidak mengadakan hijab dengan rakyatnya, agar para gubernur mengetahui keadaan manusia dan kebutuhan mereka.
Ali radhiyallahu ‘anhu berjalan di pasar Kufah, sedangkan ia sebagain khalifah, lalu ia mengarahkan orang yang tersesat, membantu orang yang lemah, menemui orang yang tua lalu membantunya dan tidak duduk di kursi pemerintahannya.
Ali radhiyallahu ‘anhu tidak membedakan dirinya dengan rakyatnya, dan tidak mengutamakan harta untuk dirinya. Telah diriwayatkan, bahwa pembantunya yang bernama Qunbur merasakan butuhnya Amirul Mukminin kepada harta, lalu Qunbur berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku simpan sebagian hadiah yang dikirim para gubernur dan para pedagang untukmu.” Namun Ali radhiyallahu ‘anhu tidak menerimanya, bahkan ia infakkan untuk kaum muslimin. Kemudian keduanya berangkat dan masuk ke dalam sebuah kamar yang penuh dengan hadiah. Saat Ali melihatnya, maka ia marah dengan kerasnya dan berkata kepada pembantunya, “Apakah engkau hendak memasukkan ke dalam rumahku api yang besar?” Lalu ia menimbang hadiah itu dan memberikannya kepada kaum fakir sambil berkata, “Janganlah menipuku wahai dunia, tipulah selainku.”
Suatu ketika Ali radhiyallahu ‘anhu berkhutbah di tengah-tengah kaum muslimin, lalu ia melihat kedua anaknya, yaitu Al Hasan dan Al Husain memakai baju yang baru, ia melihat dengan herannya. Belum lagi ia menyelesaikan khutbahnya, ia segera bertanya, “Baju apa ini?” Keduanya menjawab, “Hadiah dari salah seorang pedagang Persia.” Ali melihat, bahwa keduanya lebih mengutamakan hal itu di atas kaum muslimin, padahal tidak ada hak bagi keduanya dari baju itu, lalu Ali segera mengembalikannya dan menyerahkannya ke Baitulmal.
Disebutkan pula, bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu pernah membeli pakaian, lalu ia pergi ke pasar, tetapi para pedagang telah mengenali Ali, akhirnya mereka menolak mengambil pembayaran dari Ali. Tetapi Ali terus mencari penjual yang tidak kenal dengannya, hingga ia mendatangi seorang pemuda yang tidak mengenalinya dan membeli pakaian darinya, lalu pulang ke rumahnya, kemudian para pedagang memberitahukan kepada ayah si pemuda bahwa yang membeli tadi adalah Ali, maka ayahnya segera mengambil dirham-dirham itu dan pergi mendatangi Ali dalam keadaan malu dan meminta maaf, tetapi Ali berterima kasih kepadanya dan menolak mengambil dirham itu.
Demikian pula, meskipun harta Baitul mal banyak, namun Ali tetap dikenal kezhuhudannya. Oleh karena itu, ia tidak makan selain dari hasil usaha tangannya sendiri. Pernah suatu ketika, Ali membutuhkan harta untuk membeli pakaian, lalu ia pergi ke pasar untuk menjual pedangnya, ia pun berkata, “Siapa yang mau membeli pedang ini? Demi Allah yang membelah biji, dengan pedang ini aku sering menghilangkan derita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau seandainya saya punya uang senilai satu kain sarung, tentu saya tidak akan menjualnya.”.
Disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kehilangan baju besi, lalu ia menemukan baju besi miliknya ada pada seorang Nasrani, lalu Ali membawa orang itu ke hadapan Qadhi (hakim) bernama Syuraih. Ali berkata, “Baju besi ini adalah baju besiku, aku tidak menjualnya dan tidak menghibahkannya.” Lalu Syuraih berkata kepada orang Nasrani itu, “Apa pendapatmu tentang perkataan Amirul Mukminin?” Orang Nasrani itu menjawab, “Baju besi itu adalah milikku, dan menurutku Amirul Mukminin bukan seorang pendusta.” Kemudian Syuraih menoleh kepada Ali dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apakah kamu punya bukti?” Maka Ali tersenyum dan berkata, “Syuraih benar. Aku tidak punya bukti.” Lalu Syuraih menetapkan bahwa baju besi itu untuk orang Nasrani, kemudian orang Nasrani itu mengambilnya dan berjalan pergi beberapa langkah, kemudian ia kembali dan berkata, “Aku bersaksi bahwa ini adalah hukum (ketetapan) para nabi. Amirul mukminin mendekatkanku kepada hakimnya untuk meminta keputusan, namun ia yang disalahkan. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Baju besi tersebut adalah memang baju besimu wahai Amirul Mukminin, jatuh darimu ketika engkau berangkat ke Shiffin. Oleh karena aku telah masuk Islam, maka baju besi itu kembali kepadamu.”
Wafatnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu
Tidak lama setelah pengangkatan Ali sebagai khalifah terjadi fitnah yang besar yang membuat darah yang suci menjadi tumpah.
Ali bin Abi Thalib berselisih dengan sebagian sahabat, seperti Az Zubair bin Awam, Thalhah bin Ubaidillah, ‘Amr bin ‘Ash, dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan dalam masalah para pembunuh Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.
Sebagian sahabat itu berpendapat agar dilakukan qishas segera kepada para pembunuh Utsman, sedangkan Ali dan sebagian besar para sahabat berpendapat menunda terlebih dahulu agar tenang semua urusan dan masalah khilafah menjadi normal.
Hal ini membuat terjadi peperangan antara kedua belah pihak, akan tetapi tidak lama peperangan pun bisa diselesaikan.
Meskipun begitu, musuh-musuh Islam dari kalangan kaum kafir dan munafik tidak tenang melihat kenyataan seperti ini. Mereka melihat umat ini telah aman dan damai kembali, dan dakwah Islam kembali disebarkan. Kemudian berkumpullah tiga orang khawarij yang merasa dendam setelah Amirul Mukminin memporak-porandakan kesatuan mereka dan menghilangkan fitnah mereka. Mereka sepakat untuk membunuh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abi Sufyan gubernur Syam, dan ‘Amr bin ‘Ash gubernur Mesir agar umat tidak memiliki khalifah.
Pada hari Jum’at tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H, para pembuat makar ini coba merealisasikan rencana jahat tersebut. Hal ini terjadi ketika Ali radhiyallahu ‘anhu keluar mengajak manusia shalat Subuh, lalu Ibnu  Muljim memukul Ali dengan pedangnya, lantas Ali terus mengucapkan Laailaahaillallah dan berkata, “Saya berhasil, demi Allah Tuhan Pemilik Ka’bah.” (Al Khulafa’ur Rasyidun hal. 80-81).
Kemudian Ali dibawa ke rumahnya, lalu ia menyuruh orang-orang yang membawanya dan orang-orang yang berada di sekitarnya untuk pergi ke masjid melaksanakan shalat Fajar sebelum habis waktunya. Seusai mereka melaksanakan shalat, maka mereka segera kembali mendatanginya, sedangkan sebagian orang memegang Abdurrahman bin Muljim dan menunggu Ali membuka matanya. Saat Ali melihat pembunuhnya, ia berkata, “Apakah yang membunuhku adalah engkau. Sudah sekian lama aku berbuat baik kepadamu.”
Lalu Ali memandangi anak-anaknya, dilihatnya mereka sangat marah terhadap pembunuhnya, maka Ali berkata kepada mereka sedang ia merasa ajalnya tiba, “Perbaikilah tempatnya dan muliakan tempat kembalinya. Jika aku masih hidup, maka aku lebih berhak terhadap darahnya baik qishas atau memaafkan. Jika aku mati, maka pertemukanlah ia denganku, agar aku berdebat dengannya di hadapan Rabbul ‘alamin. Janganlah kalian membunuh karenaku selain dia. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat aniaya.”
Demikianlah perjalanan ksatria Islam yang agung Ali bin Abi Thalib, seorang yang dijamin surga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ayah dari dua pemimpin pemuda surga; Al Hasan dan Al Husan.
Selamat jalan wahai Ali bin Abi Thalib, semoga Allah membalas jasamu terhadap Islam dan kaum muslimin. Dan semoga Allah mengumpulkan kita dan Beliau di surga-Nya, Allahumma amin.
Wallahu a'lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji': As-habur Rasul lil Athfaal (Mahmud Al Mishri), Sirah Ibnu Hisyam, Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.

Kisah Ali bin Abi Thalib (2)

بسم الله الرحمن الرحيم
Kisah Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu 'anhu (2)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini lanjutan kisah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Jihad Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu
Pada perang Badar Ali bin Abi Thalib tampil sebagai mujahid pemberani di jalan Allah.
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kami pada perang Badar bertiga di atas unta; Abu Lubabah dan Ali bin Abi Thalib adalah teman bonceng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika tiba giliran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berjalan, maka keduanya berkata, “Biarkanlah kami yang berjalan menggantikan giliranmu.” Beliau pun bersabda, “Kamu berdua tidaklah lebih kuat dariku dan aku tidaklah lebih membutuhkan pahala daripada kalian.”
Di medan perang Badar, pahlawan kita ini memiliki peran yang besar. Pada awal perang Badar terjadi perang tanding, lalu dari kalangan kaum musyrikin tampil Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, dan Al Walid bin Utbah, mereka berkata, “Siapa yang siap perang tanding?” Maka keluarlah tiga orang pemuda Anshar, yaitu Auf, Mu’awwidz –keduanya putera Al Harits- sedangkan yang satu lagi -ada yang mengatakan, bahwa ia adalah Abdullah bin Rawahah,- lalu mereka (tiga orang dari kaum musyrik) ini berkata, “Siapa kalian?” Mereka menjawab, “Beberapa orang Anshar?” mereka (tiga orang dari kaum musyrik) berkata, “Kami tidak butuh kepada kalian.” Lalu salah seorang di antara mereka mereka, “Wahai Muhammad, keluarkanlah kepada kami kaum kami yang sepadan dengan kami.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bangkitlah wahai Ubadiah bin Harits, bangkitlah wahai Hamzah, dan bangkitlah wahai Ali.”
Lalu Ubaidah melakukan perang tanding dengan Utbah bin Rabi’ah, Hamzah melawan Syaibah bin Rabi’ah, sedangkan Ali melawan Al Walid bin Syaibah. Adapun Hamzah, maka ia segera membunuh Syaibah, Ali pun melakukan hal sama, dan tinggallah Ubaidah dengan Utbah saling bersilang pedang, lalu Ali dan Hamzah mengarahkan pedangnya kepada Utbah hingga akhirnya ia tewas. Kemudian Ali dan Hamzah membawa Ubaidah yang terkena serangan Utbah, ia kemudian wafat sebagai syahid.
Bahkan Allah menguatkan Ali bin Abi Thalib dengan malaikat-Nya. Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepaku dan kepada Abu Bakar pada perang Badar, “Pada salah seorang di antara kamu berdua ada malaikat Jibril, dan pada yang lain ada malaikat Mikail, sedangkan Israfil malaikat besar hadir dalam peperangan atau berada dalam barisan.”
Demikian pula pada perang Khandak, Ali bin Abi Thalib juga memiliki peran yang besar, dialah yang berhadapan dengan ksatria kaum kafir Quraisy, yaitu Amr bin Abdiwud, ia hadir dalam perang Badar dan terluka parah sehingga tidak hadir dalam perang Uhud, namun hadir dalam perang Khandaq. Pada perang tersebut ia datang untuk membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersama pasukan berkuda lainnya terjun ke parit untuk menyerang kaum muslimin, maka Ali bin Abi Thalib keluar untuk menghadapinya bersama kaum muslimin untuk mencegahnya agar tidak sampai ke tengah-tengah kaum muslimin. Ketika itu jumlah kaum musyrik yang mengepung Madinah berjumlah 10.000 orang, dan sudah menjadi tradisi perang orang Arab, sebelum perang dimulai diadakan terlebih dahulu perang tanding. Oleh karena itu, sebagian pasukan berkuda kaum musyrik mengajak perang tanding dengan kaum muslimin, maka Amr maju ke hadapan kaum muslimin dengan penuh kesombongan sambil berkata, “Siapa yang siap bertanding?” Ketika itu pasukan berkuda kaum muslimin menunggu perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau mengetahui bahwa Amr bin Abdiwud adalah penunggang kuda terkenal di jazirah Arab, dimana tidak ada seorang pun yang berhadapan dengannya kecuali berhasil dibunuhnya. Kemudian Amr berteriak lagi dengan sombongnya, “Di mana perisai kalian wahai kaum muslimin?”
Ketika itu tampil ksatria Islam dengan semangat yang membara dan yakin terhadap pertolongan Allah, yaitu Ali bin Abi Thalib sambil berkata, “Biarlah saya yang menghadapinya wahai Rasulullah.” Tetapi Beliau merasa khawatir kepada Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, Beliau tidak menjawabnya, lalu Ali berkata sampai ketiga kalinya, “Biarlah saya yang menghadapinya wahai Rasulullah!” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya. Kemudian Ali pun berhadapan dengan Amr, sehingga Amr pun heran dan berkata kepadanya, “Siapa kamu?” Ali menjawab, “Saya Ali.” Amr balik berkata, “Apakah putera Abdu Manaf?” Ia menjawab, “Saya Ali bin Abi Thalib.” Amr berkata, “Selainmu saja wahai putera saudaraku, yaitu dari kalangan paman-pamanmu yang lebih tua usianya darimu, karena aku tidak ingin menumpahkan darahmu.” Maka pahlawan Islam Ali bin Abi Thalib balik menjawab, “Akan tetapi, demi Allah, saya ingin menumpahkan darahmu.” Kemudian Amr pun marah dan melayangkan pedangnya kepada Ali, lalu Ali menangkisnya dengan perisainya hingga terbelah dan melukai kepalanya, kemudian Ali balik melayangkan pedangnya ke leher Amr sehingga ia pun tewas. Ketika itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin bertakbir.
Pemegang panji perang Khaibar
Dalam perang Khaibar Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tidak hadir bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sedang sakit mata, lalu ia berkata dalam hatinya, “Saya tidak hadir bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini tidak boleh terjadi.” Ia pun segera keluar hingga mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada sore hari, “Saya akan berikan panji ini besok kepada seorang yang Allah akan memberikan kemengan melalui tangannya, ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan dicintai Allah dan Rasul-Nya.” Maka para sahabat membicarakan siapa orang itu. Ketika pagi harinya, mereka mendatangi Rasulullah dan merasa ingin menerima panji itu, lalu Beliau bersabda, “Di mana Ali bin Abi Thalib?” Lalu ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, dia sedang sakit matanya.” Beliau pun bersabda, “Kirimkanlah orang kepadanya.” Kemudian Ali didatangkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meniup dengan air liurnya ke kedua matanya dan mendoakannya, sehingga Ali pun sembuh seakan-akan tidak ada sakit sebelumnya, lalu Beliau memberikan panji kepadanya, kemudian Ali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah saya akan memerangi mereka sampai mereka seperti kita?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Ali, jika engkau sampai di sana, maka ajaklah mereka kepada Islam, beritahukanlah kepada mereka hak Allah yang diwajibkan kepada mereka. Demi Allah, jika Alah memberikan hidayah kepada seorang saja melalui kamu, maka hal itu lebih baik daripada memperoleh unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Ishaq meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Salamah bin Amr bin Al Akwa’, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim Abu Bakar Ash Shiddiq dengan membawa panjinya yang berwarna putih ke beberapa benteng Khaibar, lalu ia berperang, kemudian pulang namun belum terjadi kemenangan, sedangkan ia telah berusaha, lalu besoknya Beliau mengirim Umar bin Khaththab, ia pun berperang, kemudian kembali namun belum terjadi kemenangan, sedangkan ia telah berusaha, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Besok saya akan serahkan kepada seorang yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, ia cinta kepada Allah dan tidak akan melarikan diri.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ali yang ketika itu sedang sakit mata, lalu Beliau meludah ke matanya dan bersabda, “Ambillah panji ini dan berangkatlah sampai Allah memberikan kemenangan kepadamu.”
Salamah berkata, “Lalu Ali berangkat, dan demi Allah nafasnya naik-turun, ia berlari kecil, dan kami di belakangnya mengikuti jejaknya sehingga ia menancapkan panjinya di sekumpulan batu di bawah benteng, lalu ada seorang Yahudi yang melihat dari atas benteng dan berkata, “Siapa kamu?” ia menjawab, “Saya Ali bin Abi Thalib.” Orang Yahudi itu berkata, “Demi kitab yang diturunkan kepada Musa, kamu telah memenangkan peperangan.” Ali tidaklah kembali kecuali sampai Allah memberikan kemenangan kepadanya.”
Ibnu Ishaq juga meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Rafi’, ia berkata, “Kami keluar bersama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya dengan membawa panjinya. Ketika ia telah dekat dengan benteng itu, maka penghuninya keluar memeranginya, lalu ia menyerang mereka, kemudian ada seorang Yahudi yang menyerangnya hingga perisainya lepas dari tangannya, kemudian Ali mengambil pintu (kecil) yang ada di benteng itu untuk melindungi dirinya. Pintu itu terus di tangannya sehingga Allah memberikan kemenangan kepadanya.”
Kemuliaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu
Setelah terjadi Fathu Makkah, datang berita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa bangsa Romawi sedang bersiap-siap menyerang kaum muslimin, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan untuk berangkat melawan mereka dan mengangkat Ali sebagai penggantinya untuk memimpin Madinah, lalu kaum munafik berkata, “Demi Allah, Nabi tidaklah meninggalkan dia melainkan karena dia merasa berat dan untuk meringankan beban darinya, lalu Ali mengambil senjatanya dan menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau meninggalkanku di tengah-tengah kaum wanita dan anak-anak?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidakkah engkau ridha, bahwa kedudukanmu denganku adalah seperti kedudukan Musa dan Harun, hanyasaja tidak ada nabi setelahku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka Ali bergembira mendengar ucapan tesebut dan tetap berada di Madinah sebagaimana yang diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bersambung...
Wallahu a'lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji': As-habur Rasul lil Athfaal (Mahmud Al Mishri), Sirah Ibnu Hisyam, Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger