بسم الله الرحمن الرحيم
Islah (Perdamaian) Antara Para Penuntut Ilmu dan Pengaruhnya dalam
Persatuan
Oleh:
Syaikh
Prof. Dr. Ashim bin Abdullah Al-Qurayuti
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat
dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan seluruh
sahabatnya. Amma ba'du:
Sesungguhnya termasuk amalan yang paling mulia dan
paling besar kedekatannya kepada Allah Ta'ala adalah berusaha mendamaikan kaum
mukminin, terutama antara para penuntut ilmu dan para dai yang menyeru kepada
As-Sunnah. Karena baiknya mereka adalah kebaikan bagi orang lain, bersatunya
mereka adalah kekuatan bagi dakwah, dan perselisihan mereka menjadi sebab lemah
dan tercerai-berai.
Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ
بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ
شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ
لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ﴾
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama)
Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah
kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu,
lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu
telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat
petunjuk.” [Qs. Ali 'Imran: 103]
Allah Ta'ala juga berfirman,
﴿وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا
وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ
اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ﴾
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah
kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang
kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
[Qs. Al-Anfal: 46]
Dia juga berfirman,
﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ
أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.
Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah
supaya kamu mendapat rahmat.” [Qs. Al-Hujurat: 10]
Dia Yang Maha Agung juga berfirman,
﴿لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ
بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ
اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا﴾
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan
mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh bersedekah, atau
berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa
yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi
kepadanya pahala yang besar.” [Qs. An-Nisa: 114]
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ
وَالصَّدَقَةِ؟»
“Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu
yang lebih utama dari derajat puasa, shalat, dan sedekah?”
Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda,
«إِصْلَاحُ
ذَاتِ الْبَيْنِ، وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ الْحَالِقَةُ»
“Mendamaikan orang yang sedang berselisih” (Hr. Abu
Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan Al Albani)
Saya akan menyebutkan beberapa hal yang sepatutnya
diperhatikan oleh orang yang berselisih dan oleh para pendamai,
Pertama, mengingatkan orang yang berselisih tentang keagungan
Allah dan kecilnya dunia.
Termasuk yang paling membantu untuk perdamaian adalah
mengingatkan orang yang berselisih tentang keagungan Allah Ta'ala, bahwa
berdiri di hadapan-Nya sudah dekat, dan bahwa dunia ini singkat dan akan sirna.
Allah Ta'ala berfirman,
وَمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah
kesenangan yang memperdayakan.” (Qs. Ali
'Imran: 185)
Allah Ta'ala juga berfirman,
﴿يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ
سَلِيمٍ﴾
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak
berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
[Qs. Asy-Syu'ara: 88-89]
Maka jika Allah menjadi Maha Agung di dalam hati,
keinginan-keinginan hawa nafsu menjadi kecil, dan mudah untuk mengalah dan
memaafkan.
Kedua, menjelaskan pokok-pokok yang wajib disepakati.
Tugas pendamai adalah mengingatkan orang yang
berselisih dengan perkara-perkara besar yang menyatukan mereka,
- Mentauhidkan Allah Ta'ala.
- Mengikuti Al-Qur'an dan As-Sunnah.
- Mencintai para sahabat radhiyallahu 'anhum.
- Berpegang pada manhaj Salafush Shalih.
- Menyeru kepada kebaikan dan memerangi bid'ah.
- Berkeinginan menolong Islam dan kaum muslimin.
Jika mereka mengingat pokok-pokok besar ini, mereka
akan tahu bahwa apa yang menyatukan mereka lebih besar dari apa yang memecah
belah mereka, dan bahwa persaudaraan karena iman lebih agung daripada
sebab-sebab perselisihan dan pertikaian.
Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ
بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ
شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ
لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ﴾
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama)
Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah
kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu,
lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu
telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat
petunjuk.” [Qs. Ali 'Imran: 103]
Ketiga, sifat-sifat pendamai yang sukses.
Pendamai harus memiliki sifat-sifat agung, di
antaranya:
1. Ikhlas karena Allah Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ
الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ﴾
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang
lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang
demikian itulah agama yang lurus.” [Qs. Al-Bayyinah: 5]
Ia tidak mencari popularitas atau kemenangan untuk
dirinya, melainkan mengharap wajah Allah dan mewujudkan persatuan.
2. Takwa dan rasa takut kepada Allah
Allah Ta'ala berfirman,
﴿إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ﴾
“Dan aku tidak
berkehendak kecuali mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan
tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada
Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.”
[Qs. Hud: 88]
Maka orang yang diberi taufik dalam mendamaikan adalah
orang yang bertakwa kepada Allah dan menghadap kepada-Nya, serta menjadi
teladan dalam kejujuran, keadilan, dan sikap pertengahan.
3. Hikmah dan lemah lembut.
Allah Ta'ala berfirman,
﴿ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ
الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ
سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِينَ﴾
“Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
[Qs. An-Nahl: 125]
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ
مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ»
“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada
sesuatu kecuali akan menghiasinya.” (Hr. Muslim)
Karena hati lebih mudah dibuka dengan kelembutan
daripada dengan kekerasan.
Keempat, menanamkan cinta kepada Allah dan rasa kasih sayang
di dalam hati.
Termasuk sebab terbesar untuk keberhasilan islah
adalah menanamkan di dalam jiwa cinta kepada Allah dan mengagungkan-Nya, serta
cinta kepada kaum mukminin dan rasa kasih sayang kepada mereka.
Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا
يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ
الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ
الْعَذَابِ﴾
"Dan di antara manusia ada orang-orang yang
menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana
mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya
kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui
ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan
Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya.”
[Qs. Al-Baqarah: 165]
Nabi shallallahu
alaihi wa sallam bersabda,
«لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»
“Tidak beriman salah seorang di antara
kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya
sendiri." (Muttafaqun 'alaih)
Maka ia sebarkan di antara mereka ucapan-ucapan yang
baik, menyebutkan kebaikan sebagian mereka kepada sebagian yang lain,
menganjurkan mereka untuk mendoakan saudara-saudaranya, dan menutup pintu-pintu
ghibah dan buruk sangka.
Kelima, tolong-menolong dalam perdamaian.
Perdamaian adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya
pekerjaan individu.
Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا
عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ
شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras
siksa-Nya.” (Qs. Al-Maidah: 2)
Maka orang-orang yang baik, berilmu, dan bijaksana
wajib bekerja sama dalam menyatukan kata, memadamkan api fitnah, dan
mendekatkan hati.
Khatimah
Menyatukan hati para penuntut ilmu dan para dai
termasuk ibadah yang paling besar dan paling agung, dan itu adalah amalan para
Nabi dan orang-orang saleh. Hendaklah seorang pendamai bersemangat untuk
ikhlas, takwa, hikmah, dan lemah lembut. Hendaklah ia banyak mengingatkan
manusia kepada Allah dan hari akhir, serta menanamkan cinta dan kasih sayang di
antara mereka. Karena hati berada di tangan Allah, dan Dia Subhanahu wa Taala
berfirman,
﴿فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ
لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ
قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾
“Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka
(orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang
berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi
Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.”_ [Qs. Al-Anfal: 63]
Kita memohon kepada Allah agar Dia mempersatukan hati
kaum muslimin, memperbaiki hubungan di antara mereka, mengumpulkan mereka di
atas kebenaran dan As-Sunnah, dan menjadikan kita termasuk kunci-kunci kebaikan
dan penutup pintu keburukan.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita
Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya.
0 komentar:
Posting Komentar