بسم الله الرحمن الرحيم
Khutbah
Jum'at
Hakikat
Dzikir, Keutamaan, dan Pembagiannya
Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I
Khutbah I
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ
اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ
رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي
تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا
بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ
وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Ma'asyiral
muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah
Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada
Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat,
terutama nikmat Islam dan nikmat taufiq, sehingga kita dapat melangkahkan kaki
kita menuju rumah-Nya melaksanakan salah satu perintah-Nya yaitu shalat Jumat
berjamaah.
Shalawat dan salam tidak lupa kita sampaikan kepada Nabi
kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para
sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat.
Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun
kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah
Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah
yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.
Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah
Di
antara amalan ringan yang menghasilkan pahala besar, memberatkan timbangan
kebaikan, dan dicintai Allah Ar Rahman adalah Dzikirullah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ
إِلَى اَلرَّحْمَنِ, خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ, ثَقِيلَتَانِ فِي
اَلْمِيزَانِ, سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ , سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ
“Ada dua kalimat yang dicintai Ar Rahman (Allah), ringan di
lisan dan berat di timbangan yaitu “Subhaanallah wa bihamdih-subhaanallahil
‘azhiim (artinya: Artinya:
Mahasuci Allah sambil memuji-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung). (Hr. Bukhari dan Muslim)
Berdzikir maksudnya
menyebut dan mengingat Allah 'Azza wa Jalla, yaitu membaca lafaz-lafaz tertentu
yang dianjurkan oleh syara’ untuk dibaca dan diperintahkan untuk banyak
membacanya, seperti ucapan tasbih (subhaanallah), tahmid (al
hamdulillah), tahlil (Laailaahaillallah) dan takbir (Allahu
akbar), hauqalah (Laa haula walaa quwwata illaa billah), basmalah
(bismillah), istighfar (Astaghfirullah), berdoa untuk kebaikan dunia dan
akhirat, dsb.
Kata "dzikir"
juga bisa dipakai untuk perbuatan yang dilakukan secara rutin, yaitu yang wajib
atau yang sunah, seperti membaca Al Qur’an, membaca hadits, mempelajari ilmu
dan melakukan shalat sunah.
Imam Nawawi rahimahullah
berkata dalam kitab Al Adzkar, "Ketahuilah, bahwa keutamaan dzikir
tidak terbatas pada tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan sebagainya, bahkan
setiap orang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah Ta'ala, maka dia berdzikir
kepada Allah Ta'ala, demikianlah yang dikatakan Sa'id bin Jubair radhiyallahu
'anhu dan para ulama lainnya."
Atha' rahimahullah
berkata, "Majlis dzikir adalah majlis halal dan haram, bagaimana anda
membeli dan menjual, shalat dan berpuasa, menikah dan mentalak, berhaji dan
semisalnya."
Dzikir bisa dilakukan oleh lisan, dan
orang yang membacanya akan diberi pahala, dan tidak disyaratkan harus menyelami
maknanya, akan tetapi disyaratkan agar maksud (hati)nya tidak keluar dari
maknanya. Jika di samping dibaca pada lisan diresapi pula oleh hati, maka itu
lebih utama, terlebih jika sampai menyelami makna dan kandungannya yang berupa
pengagungan terhadap Allah dan penafian dari kekurangan, maka akan bertambah
lebih sempurna lagi, dan jika dzikir yang dibaca bertepatan ketika sedang
melakukan amal saleh seperti shalat, jihad, dsb. maka akan bertambah lebih
sempurna.
Ma'asyiral
muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah
Dzikir
memiliki banyak keutamaan, di antaranya:
1.
Menenangkan hati.
Allah Subhaanahu
wa Ta'ala berfirman,
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (Terj. QS. Ar
Ra'd: 28)
2.
Allah akan ingat kepadanya.
Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ
نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ،
وَإِنْ ذَكَرَنِيْ
فِيْ مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ،
Allah Ta’ala
berfirman, "Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku
bersamanya (dengan ilmu dan rahmat) jika dia ingat Aku. Jika dia
mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia menyebut
nama-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih
baik dari mereka. (Hr. Bukhari dan Muslim. Lafazh hadits ini lafaz Bukhari)
3.
Mengusir setan dan menjadikan setan tidak mampu menguasai
dirinya.
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ
اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ:
يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ،
فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟
"Apabila
seseorang keluar dari rumahnya, lalu ia mengatakan, "Bismillah…dst.
sampai "Illaa billah," (artinya: Dengan nama Allah. Aku
bertawakkal kepada Allah. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan
Allah.") Maka dikatakan ketika itu, "Engkau ditunjuki, dicukupi, dan
dijaga." Setan pun akan menjauh darinya. Kemudian setan yang lain berkata
kepada kawannya, "Bagaimana kamu akan menguasai orang yang telah
ditunjuki, dicukupi dan dipelihara." (Hr. Abu Dawud, dishahihkan oleh
Syaikh Al Albani)
Ibnu Abbas
berkata ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala, "Dari kejahatan
(bisikan) setan yang biasa bersembunyi," (Terj. QS. An Naas: 4),
"Setan berada di dekat hati anak Adam. Ketika ia lupa dan lalai, maka setan
membisikinya, dan ketika ia ingat kepada Allah, maka ia akan menyingkir."
4.
Sebagai ibadah yang ringan.
Abdullah bin
Busr radhiyallahu 'anhu berkata, "Ada
seorang lelaki berkata, “Wahai, Rasulullah! Sesungguhnya syariat Islam begitu
banyak bagiku. Oleh karena itu, beritahulah aku sesuatu sebagai pegangan.”
Beliau bersabda,
لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ
رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ
اللهِ.
“Yaitu tidak
hentinya lisanmu basah karena menyebut nama Allah.” (Hr. At Tirmidzi 5/458,
Ibnu Majah 2/1246, lihat pula dalam Shahih At-Tirmidzi 3/139 dan Shahih
Ibnu Majah 2/317.)
5.
Memberatkan timbangan.
Dalilnya sudah
disebutkan sebelumnya.
6.
Menyelamatkannya dari kesulitan dan azab.
Allah Subhaanahu
wa Ta'ala berfirman tentang Nabi Yunus 'alaihis salam,
فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ
(143) لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (144)
"Maka
kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,--
Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." (Terj.
Qs. Ash Shaaffaat: 143-144)
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam,
تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ
فِي الشِّدَّةِ
"Kenalilah
Allah di waktu senggang, niscaya Dia akan mengenalimu di waktu susah."
(HR. Ahmad dan Abul Qasim bin Bisyran dalam Amaalinya, dan dishahihkan
oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 2961)
Mu'adz bin Jabal
berkata, "Tidak ada sesuatu yang paling menyelamatkan dari azab Allah
selain Dzikrullah."
7.
Sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala.
Allah Subhaanahu
wa Ta'ala berfirman,
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو
عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ
مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ (151) فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي
وَلَا تَكْفُرُونِ (152)
"Sebagaimana
(kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu
Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan
kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As Sunnah),
serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.--Karena itu, ingatlah
kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku,
dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (Terj. Qs. Al Baqarah: 151-152)
8.
Sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ
بِخَيْرِ
أَعْمَالِكُمْ،
وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِيْ دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ
إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ
فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ))؟
قَالُوْا بَلَى. قَالَ:
((ذِكْرُ
اللهِ تَعَالَى.
“Maukah kamu, aku
tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi Rajamu (Allah), dan
paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari menginfakkan emas dan
perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu, lalu kamu
memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?” Para sahabat yang hadir
berkata, “Mau (wahai Rasulullah)!” Beliau bersabda, “Dzikir kepada Allah Yang
Maha Tinggi”. (Hr. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al
Albani)
9.
Dll.
Ma'asyiral
muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah
Dzikir
terbagi dua; Dzikir Mutlak dan Dzikir Muqayyad. Dzikir Mutlak adalah dzikir yang tidak
ditentukan oleh syara’ (Al Qur’an dan As Sunnah) kapan dibacanya, maka boleh dibaca
kapan saja selama tidak pada waktu yang seharusnya dibaca dzikir muqayyad. Misalnya mengucapkan Subhaanallah
wal hamdulillah wa laailaahaillallah wallahu akbar, atau mengucapkan subhaanallah
wabihamdih-subhaanallahil 'azhiim, dsb.
Sedangkan Dzikir Muqayyad adalah dzikir yang ditentukan oleh
syara’ kapan dibacanya seperti dzikir setelah shalat, dzikir ketika masuk
masjid dan keluar masjid, dzikir memakai pakaian dan melepasnya, dzikir naik
kendaraan, dsb.
Termasuk kekeliruan yang sering dilakukan
orang adalah membaca dzikir mutlak pada waktu yang seharusnya dibaca adalah
dzikir muqayyad. Contohnya setelah shalat, kita sering mendengar mereka membaca
surat Al Fatihah atau membaca “Laailaaha illallah” 100, padahal
dzikir setelah shalat termasuk dzikir muqayyad yang sudah diajarkan bacaannya
secara khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita bukanlah
mengingkari ucapan dzikirnya, tetapi yang kita ingkari adalah penempatannya.
Bukan di sana tempatnya. Bagaimana menurut anda jika saya membaca Subhaanallah wal hamdulillah wa
laailaahaillallah wallahu akbar ketika keluar rumah, apakah hal ini dibenarkan? Tentu tidak
dibenarkan. Kita tidak menyalahkan dzikirnya, tetapi yang kita salahkan adalah
penempatannya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ
الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ
هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ
أَرَادَ أَنْ يَذَّكَرَ أَوْ أَرَادَ شُكُوْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، فَمَا أَعْظَمَهُ رَبَّا وَمَلِكًا قَدِيْرًا، وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَرْسَلَهُ إِلَى جَمِيْعِ الثَّقَلَيْنِ
بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ:
Ma'asyiral muslimin sidang shalat
Jum'at rahimakumullah
Kita diperintahkan
untuk banyak menyebut nama Allah 'Azza wa Jalla. Dia berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ
ذِكْرًا كَثِيرًا
"Wahai
orang-orang yang beriman! Berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir
yang sebanyak-banyaknya." (Terj. QS. Al Ahzaab: 41)
Tetapi apakah
prakteknya dengan mengucapkan "Allah, Allah, Allah" saja?
Jawab: Sesungguhnya tujuan Allah Subhaanahu wa
Ta'ala mengutus Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam untuk membacakan
kitab-Nya kepada manusia dan menerangkan maksudnya, Dia berfirman,
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ
مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
"Dan Kami
turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang
telah diturunkan kepada mereka."
(Terj. QS. An Nahl: 44)
Jika kita
melihat sunnah atau praktek Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam
berdzikr, tentu kita tidak akan menemukan bahwa Beliau dalam berdzikr hanya mengucapkan "Allah,
Allah, Allah" saja. Dengan demikian, maksud memperbanyak
dzikrullah adalah mengisi hidup di dunia ini dengan banyak berdzikr, dan
tentunya mengikuti yang dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
bukan menunjukkan bahwa cara berdzikr adalah mengucapkan "Allah, Allah, Allah" saja.
Adab Berdzikr
Allah Subhaanahu
wa ta'ala berfirman,
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً
وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
"Dan sebutlah
(nama) Tuhannmu dalam dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak
mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk
orang-orang yang lalai."
(Terj. QS. Al A'raaf: 205)
Maksud
firman-Nya, "dalam dirimu" adalah secara
ikhlas dan tersembunyi.
Maksud firman-Nya,
"Dengan rendah hati dan rasa takut," yakni takut jika amalmu
tidak diterima dan berharap agar diterima, yang tandanya adalah dengan berusaha
menyempurnakan amal dan memperbakinya serta melakukannya dengan serius.
Firman-Nya, "dan dengan tidak
mengeraskan suara," Yakni di atas sir (pelan) dan di bawah
jahr (keras) atau pertengahan antara keduanya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim
dari Abu Musa Al Asy'ariy radhiyallahu 'anhu ia berkata:
كُنَّا
مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَجَعَلَ النَّاسُ
يَجْهَرُونَ بِالتَّكْبِيرِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، إِنَّكُمْ لَيْسَ تَدْعُونَ
أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا، وَهُوَ مَعَكُمْ»
"Kami pernah
bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu safar, lalu orang-orang
mengeraskan suara takbir, maka Nabi shallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Wahai
manusia! Kasihanilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada yang
tuli lagi ghaib; sesungguhnya kalian berdoa kepada Allah Yang Maha Mendengar
lagi Mahadekat, dan Dia bersama kamu."
Dari keterangan
di atas, kita mengetahui, bahwa hendaknya dalam berdzikr kita tidak terlalu
keras suaranya.
Termasuk adab
yang perlu diperhatikan dalam berdzikr adalah sebagaimana yang dikatakan Imam
Nawawi berikut,
"Sepatutnya
orang yang berdzikr dalam keadaan yang paling sempurna, yaitu dalam keadaan
duduk di sebuah tempat dengan menghadap kiblat, dan duduknya dengan merendahkan
diri, khusyu' dan dengan tenang serta sopan, dan sambil menundukkan kepalanya.
Tetapi, jika ia berdzikr tidak seperti itu, maka boleh dan tidak makruh
baginya. Akan tetapi, jika tidak ada uzur, maka ia telah meninggalkan yang
utama. Dalil tidak makruhnya adalah firman Allah Ta'ala,
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ
اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ
اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(191)
"Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,--(yaitu) orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (sambil berkata), "Wahai
Tuhan Kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka." (Terj. QS. Ali Imran: 199-191)
Dan telah sah
dalam Shahihain dari Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkata,
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berbaring di pangkuanku
sedangkan aku dalam keadaan haidh, lalu Beliau membaca Al Qur'an."
Tempat
yang layak untuk berdzikr
Adapun tempat
yang baik untuk berdzikr adalah tempat yang sepi dan bersih, karena hal itu
lebih memuliakan dzikr. Oleh karena itu, dipuji berdzikr di masjid-masjid dan
tempat-tempat mulia. Adapun keadaan yang
tidak layak untuk berdzikr di antaranya adalah ketika buang air, ketika
berjima', ketika khatib berkhutbah, dan ketika mengantuk.
Sebagai penutup,
di sini khatib mengingatkan beberapa kekeliruan dalam berdzikir, di antaranya:
1.
Mengucapkan "Allah, Allah, Allah" saja.
2.
Menggoyang-goyang kepala saat berdzikr.
3.
Berdzikr dengan diiringi musik.
4.
Membaca dzikr secara jama'i.
5.
Membaca dzikr-dzikr yang tidak diajarkan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti membaca ratib Al Haddad,
membaca barzanji, manaqib, membaca shalawat badar dan nariyah, dsb.
Wirid
tersebut adalah wirid yang tidak diajarkan Rasulullah shallalahu 'alaihi wa
sallam. Oleh karena itu, jika seseorang mengamalkannya, maka tidak membuahkan
pahala, karena syarat diterimanya amal adalah harus ikhlas dan sesuai sunnah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal di dalam Sunnah Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam sudah terdapat kecukupan, tanpa perlu mencari
dzikr yang lain, dan sedikit di atas Sunnah masih lebih baik daripada banyak
namun diada-adakan. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata,
اِقْتِصَادٌ
فِي سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنِ اجْتْهَادٍ فِي بِدْعَةٍ
"Sederhana di
atas Sunnah lebih baik daripada banyak namun di atas bid'ah."
6.
Berdzikr sambil menaik-turunkan nafas.
7.
Berdoa dengan jaah (kedudukan) Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam.
8.
Dsb.
Kita
meminta kepada Allah agar Dia membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya,
memberi taufik kepada kita untuk dapat menempuhnya, memberikan kepada kita
istiqamah, dan mengaruniakan kepada kita husnul khatimah, aamin.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى
آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدُ
مَجِيْدٌ،
اَللَّهُمَّ بَارِكْ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِ
مُحَمَّدٍ
كَمَا
بَارَكْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى
آلِ
إِبْرَاهِيْمَ
إِنَّكَ
حَمِيْدُ
مَجِيْدٌ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا لَا
تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً
إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
عِبَادَ
اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي
الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ
اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.