Khutbah Jumat: Makna Beriman Kepada Qadar

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jumat

Makna Beriman Kepada Qadar

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam, nikmat iman, nikmat hidayah, nikmat taufiq, nikmat sehat wa afiyat dan nikmat-nikmat lainnya yang sama-sama kita rasakan yang semuanya patut untuk kita syukuri.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Termasuk rukun iman adalah beriman kepada qadar atau takdir Allah Azza wa Jalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika ditanya tentang iman,

«أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»

 “Yaitu engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (Hr. Muslim)

Semua rukun iman tersebut wajib diimani, tidak sah hanya beriman kepada sebagiannya namun ingkar kepada sebagian lagi sebagaimana seorang yang shalat tidak sah shalatnya jika meninggalkan salah satu rukun shalat.

Di akhir periode sahabat setelah masa Khulafa Rasyidin muncul pemikiran Qadariyyah, yang diawali oleh seorang yang berasal dari Basrah di Irak bernama Sansuwaih (Susan) bin Yunus Al Aswari yang sebelumnya sebagai seorang Nasrani, lalu masuk Islam dan kembali menjadi Nasrani. Dari orang tersebut Ma’bad Al Juhanniy mengambil pemikiran Qadariyyah, dan kemudian diambil pemikiran ini dari Ma’bad Al Juhanniy oleh Ghailan bin Muslim Ad Dimasyqi.

Ketika pemikiran Qadariyyah ini dilaporkan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma oleh dua orang tabiin bernama Yahya bin Ya’mar dan Humaid bin Abdurrahman Al Himyari, maka ia (Ibnu Umar) berkata,

«فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي» ، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ «لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ»

 “Jika engkau bertemu mereka (yang berpemikiran Qadariyyah), maka sampaikan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka juga berlepas diri dariku. Demi Allah yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan nama-Nya, kalau sekiranya salah seorang di antara mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu ia infakkan emas itu, maka Allah tidak akan menerimanya sampai ia mau beriman kepada qadar.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Kita meyakini bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini yang baik mapun yang buruk adalah dengan takdir Allah Azza wa Jalla. Semuanya telah diketahui Allah, telah ditulis, telah dikehendaki, dan diciptakan-Nya. Dia berfirman,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Terj. QS. Al Hadid: 22)

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berbuat adil dalam takdir-Nya. Semua yang ditakdirkan-Nya adalah sesuai hikmah yang sempurna yang diketahui-Nya. Allah  tidaklah menciptakan keburukan tanpa adanya maslahat, namun keburukan dari sisi buruknya tidak bisa dinisbatkan kepada-Nya. Tetapi keburukan masuk ke dalam ciptaan-Nya. Jika dihubungkan kepada Allah Ta’ala, maka hal itu adalah keadilan, kebijaksanaan dan sebagai rahmat(kasih-sayang)-Nya.

Perlu diketahui, bahwa beriman kepada takdir termasuk tauhid rububiyyah, dimana dalam takdir terdapat dalil bahwa Allah yang mengatur alam semesta ini, di samping sebagai Penciptanya dan Pengusanya.

Takdir termasuk rahasia Allah yang tidak diketahui kecuali oleh-Nya saja, dan ia tertulis dalam Al Lauhul Mahfuzh. Kita tidaklah mengetahui takdir yang ditetapkan Allah bagi kita kecuali setelah terjadinya.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Beriman kepada qadar tidaklah sempurna kecuali dengan beriman kepada empat perkara:

Pertama, beriman bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala sesuatu baik secara garis besar maupun secara terperinci, Dia juga mengetahui semua makhluk-Nya sebelum menciptakan mereka, mengetahui rezki mereka, ajal, ucapan dan amal mereka, mengetahui rahasia dan yang terang-terangan dari mereka juga mengetahui siapa penghuni surga dan siapa penghuni neraka. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Qs. Ath Thalaq: 12).

Kedua, beriman bahwa Allah Ta’ala telah mencatat taqdir segala sesuatu dalam sebuah kitab (Al Lauhul Mahfuzh). Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalilnya di surat Al Hadid ayat 22. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (Hr. Muslim)

Ketiga, beriman bahwa semua yang terjadi adalah dengan kehendak (masyi’ah) Allah Ta’ala antara rahmat dan hikmah-Nya. Apa yang dikehendaki-Nya akan terjadi dan yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. At Takwir: 29).

Keempat, beriman bahwa Allah Ta’ala menciptakan segala sesuatu. Allah Ta’ala berfirman,

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

“Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”  (Qs. Al Furqan: 2),

termasuk Dia juga yang menciptakan perbuatan hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." (Qs. Ash Shaaffat: 96)

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Dalam masalah takdir, umat Islam terbagi menjadi tiga golongan:

Pertama, golongan yang ghuluw (berlebihan) dalam masalah takdir, dalam arti bahwa manusia sama sekali tidak memiliki kemampuan maupun pilihan. Menurut golongan ini, manusia ibarat sebuah pohon yang bergerak karena hembusan angin. Mereka yang berkeyakinan seperti ini terkenal dengan nama Jabriyyah. Tampaknya, mereka tidak bisa membedakan antara perbuatan yang terjadi oleh kehendaknya dengan perbuatan yang terjadi tanpa kehendaknya. Tidak diragukan lagi, bahwa golongan ini tersesat, karena sudah kita maklumi bersama, bahwa manusia bisa membedakan antara perbuatan yang terjadi oleh kehendaknya dengan perbuatan yang terjadi tanpa kehendak darinya.

Kedua, golongan yang ghuluw dalam menetapkan adanya kemampuan dan pilihan dalam diri manusia, sampai-sampai mereka meniadakan kekuasaan Allah di sana. Golongan ini beranggapan, bahwa manusia berkuasa mutlak dalam tindakannya. Golongan ini dikenal dengan sebutan golongan Qadariyyah. Mereka juga tersesat sebagaimana golongan Jabriyyah. Terhadap golongan ini, Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma pernah berkata:

“Demi Allah yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan nama-Nya, kalau sekiranya salah seorang di antara mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu ia infakkan emas itu, maka Allah tidak akan menerimanya sampai ia mau beriman kepada qadar.”

Ketiga, golongan yang beriman kepada takdir, dimana mereka menempuh jalan tengah antara Jabriyyah dan Qadariyyah, dan berjalan di atas dalil naqli (Al Qur'an dan As Sunnah) maupun dalil 'aqli (akal). Mereka inilah Ahlussunnah wal Jama'ah. Mereka berpandangan, bahwa perbuatan-perbuatan yang terjadi di alam semesta terbagi menjadi dua bagian:

1.     Perbuatan yang dilakukan oleh Allah Ta'ala pada makhluk-Nya. Maka dalam hal ini, tidak ada kehendak (pilihan) bagi makhluk-Nya. Misalnya diturunkan-Nya hujan, ditumbuhkan-Nya tanaman, ada makhluk yang dihidupkan-Nya dan ada yang dimatikan-Nya, ada yang ditimpakan penyakit dan ada yang diberi kesehatan dan lain sebagainya.

2.     Perbuatan yang dilakukan makhluk yang memiliki kehendak. Maka dalam hal ini, perbuatan tersebut terjadi oleh pilihan pelakunya dan kehendaknya, karena Allah Ta'ala telah mengadakan kehendak untuk mereka, seperti firman Allah Ta'ala,

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ

"Bagi siapa saja di antara kamu yang ingin menempuh jalan yang lurus." (QS. At Takwir: 28)

مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ

"Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat." (Terj. QS. Ali Imran: 152)

Manusia bisa merasakan antara perbuatan yang terjadi dengan pilihannya dan perbuatan yang terjadi tanpa ada pilihan (kehendak)nya.

Seorang yang turun dari atas genting dengan tangga merasakan bahwa ia berbuat atas kehendaknya. Sedangkan seorang yang terjatuh dari atas genting merasakan bahwa dirinya tidak menghendaki demikian.

Demikian makna beriman kepada takdir, semoga Allah membimbing kita ke jalan yang lurus, aamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ الْقَوِيِّ الْمَتِيْنِ، الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، فَإِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ الْمُرْسَلِيْنَ وَإِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى محمد، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pada kesempatan khutbah kedua ini, kita coba mengkritisi pemikiran  golongan Jabriyyah dan Qadariyyah

Jika kita mengikuti pendapat golongan Jabriyyah yang berlebihan dalam menetapkan qadar, tentu syariat Islam menjadi sia-sia. Hal itu, karena menganggap bahwa manusia tidak memiliki pilihan menghendaki tidak perlu dipuji dan diberikan balasan kebaikan orang yang mengerjakan perbuatan baik, serta tidak perlu dicela dan diberikan siksaan orang yang mengerjakan keburukan, karena perbuatan itu bukan mereka yang melakukannya. Dan jika ternyata diberikan siksa, maka sama saja Allah menzalimi mereka, Mahasuci dan Maha Tinggi Dia dari keyakinan rusak seperti ini. Padahal Allah Subhaanahu wa Ta'aala Maha Adil dan tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya, Dia berfirman saat orang-orang zalim dimasukkan ke dalam neraka, Allah Ta’ala  berfirman,

أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ (24) مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُرِيبٍ (25) الَّذِي جَعَلَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَأَلْقِيَاهُ فِي الْعَذَابِ الشَّدِيدِ (26) قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَكِنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ (27) قَالَ لَا تَخْتَصِمُوا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ إِلَيْكُمْ بِالْوَعِيدِ (28) مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ (29)

"Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala,--Yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu,-- Yang mempersekutukan Allah dengan tuhan lain, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang keras ".—(Setan) yang menyertainya berkata (pula), "Ya Tuhan Kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh".-- Allah berfirman, "Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu." -- Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menzalimi hamba-hamba-Ku." (Qs. Qaaf: 24-29)

Dalam ayat di atas, Allah Azza wa Jalla menerangkan bahwa hukuman tersebut bukanlah karena Dia menzalimi mereka, bahkan yang demikian merupakan keadilan-Nya, karena sebelumnya Dia telah memberikan ancaman, bahwa jika mereka menolak ajakan rasul, mereka akan ditimpa azab yang pedih. Allah telah menerangkan kepada mereka jalan yang benar dan jalan yang salah dengan mengutus para rasul, namun mereka lebih memilih jalan yang salah atas pilihan mereka sendiri tanpa dipaksa. Dari sini kita mengetahui batilnya orang yang beralasan dengan takdir ketika bermaksiat.

Adapun golongan Qadariyyah, yakni mereka yang beranggapan bahwa manusia berkuasa mutlak terhadap tindakannya dan bahwa Allah sama sekali tidak berkuasa. Maka pendapat ini tertolak berdasarkan nash-nash syar'i  dan waaqi' (realita). Dalam Al Qur'an disebutkan,

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ (28) وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (29)

"(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.-- Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. At Takwir: 28-29)

Sedangkan realita di lapangan menunjukan bahwa ketika seseorang berniat melakukan sesuatu, ternyata apa yang diniatkannya tidak terlaksana. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak menghendakinya.

Dengan demikian, jalan yang benar adalah jalan yang ditempuh Ahlussunnah wal jama'ah, dimana jalan tersebut merupakan jalan As Salafush Shalih, yakni bahwa manusia berbuat sesuai kehendak dan pilihannya, namun kehendak dan pilihannya mengikuti kehendak Allah Ta'ala, jika Dia menghendaki, maka akan terjadi perbuatan itu dan jika tidak menghendaki, maka tidak akan terjadi perbuatan itu.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Beriman kepada takdir memiliki banyak manfaat, di antaranya adalah:

1.       Beriman kepada takdir menunjukkan adanya keimanan dalam hati.

Yang demikian adalah karena iman tidaklah sah tanpa beriman kepada takdir, karena ia termasuk rukunnya.

2.       Membuat hati menjadi tenang.

Bagaimana hati seseorang tidak tenang, ketika seseorang merasakan bahwa betapa pun manusia semuanya berusaha mencelakakan dirinya, namun jika Allah tidak menghendakinya, maka mereka tidak akan sanggup melakukannya.

3.       Membantunya untuk bersikap sabar.

Dengan meyakini adanya takdir, seseorang akan menjadi lebih sabar terhadap musibah yang dihadapinya, karena semuanya terjadi atas keterapan Allah Azza wa Jalla. Ia ridha atau tidak, ketetapan itu tetap berjalan terhadapnya. Jika ridha ia akan mendapatkan pahala, dan jika tidak menerima, ia akan mendapatkan dosa.

4.       Membuatnya selalu mengembalikan urusan kepada Allah Azza wa Jalla.

Dengan beriman kepada takdir, ia akan selalu menyerahkan urusannya kepada Allah Azza wa Jalla; ia berharap kepada Allah agar ditetapkan takdir yang baik baginya.

Demikianlah kandungan beriman kepada takdir. Semoga Allah membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya, memberikan kita taufiq untuk dapat menempuhnya, serta memberikan kita istiqamah di atasnya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

0 komentar:

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger