Mengenal Kelompok-Kelompok Sesat

Jumat, 18 Juni 2021

 بسم الله الرحمن الرحيم



Mengenal Kelompok-Kelompok Sesat

Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:

Berikut pembahasan singkat kelompok-kelompok sesat yang banyak merujuk kepada risalah Syaikh Zaid bin Muhammad Al Madkhali dan kami berikan tambahan, semoga Allah menghindarkan kita dari kelompok-kelompok tersebut, aamin.

Kelompok atau Ajaran Sesat

1. Watsaniyyah (Paganisme)

Kelompok ini adalah kelompok kaum musyrik yang mengarahkan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perbuatan yang dilakukan mereka adalah syirik yang merupakan dosa yang paling besar dan tidak diampuni Allah Azza wa Jalla.

2. Nasrani (Kristen)

Kelompok ini meyakini trinitas (tiga tuhan serangkai; ada tuhan bapak, ibu, dan anak). Kelompok dan ajaran ini telah dinyatakan kafir oleh Allah Azza wa jalla dalam firman-Nya,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, "Bahwa Allah salah seorang dari yang tiga," padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Qs. Al Maidah: 73)

3. Hululiyyah

Kelompok ini menyatakan bahwa ‘Allah berada di segenap tempat’, Mahatinggi Allah dari pernyataan mereka ini.

4. Ittihadiyyah

Kelompok ini menyatakan kesatuan wujud, yakni tidak ada perbedaan antara Khaliq (pencipta) dengan makhluk. Bahkan tokoh mereka –semoga Allah melaknatnya –menyatakan: anjing dan babi adalah tuhan kita, dan tuhan itu juga rahib yang ada di gereja.

5. Jahmiyyah

Kelompok ini mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa ta’ala.

Mereka sama saja menolak nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah yang menyebutkan nama-nama dan sifat-sifat Allah.

6. Musyabbihah

Kelompok ini menyerupakan mahkluk dengan Khaliq seperti kaum Nasrani. Mereka menetapkan untuk Allah Al Khaliq dengan sifat-sifat makhluk yang lemah.

Allah Ta’ala berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” (Qs. Asy Syuuraa: 11)

Dalam ayat ini terdapat bantahan kepada kaum musyabbihah, sekaligus terdapat bantahan kepada kaum Jahmiyyah dan Mu’aththilah (yang meniadakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala).

7. Qadariyyah

Kelompok ini menolak qadar atau taqdir Allah Azza wa Jalla. Mereka juga mengatakan bahwa ‘Allah tidak menciptakan kebaikan dan keburukan’ atau mengatakan bahwa ‘Allah menciptakan kebaikan dan tidak menciptakan keburukan’. Padahal beriman kepada qadar termasuk rukun iman yang enam.

8. Jabriyyah

Kelompok ini mengatakan bahwa hamba dipaksa dalam perbuatannya, seperti halnya pohon yang bergerak karena hembusan angin.

9. Murji’ah

Kelompok ini banyak cabangnya.

Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa ‘maksiat tidaklah membahayakan keimanan sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat jika di atas kekafiran’.

Ada pula di antara mereka yang mengatakan ‘iman hanyalah pengetahuan di hati saja’.

Ada pula yang mengatakan bahwa ‘iman itu hanyalah ucapan di lisan’.

Dan ada pula di antara mereka yang mengatakan bahwa ‘amal tidak termasuk bagian dari keimanan’.

10. Mu’tazilah

Kelompok ini mengatakan bahwa ‘Al Qur’an adalah makhluk’ dan bahwa ‘pelaku maksiat (dosa besar) dari kalangan Ahli Tauhid akan kekal di neraka jika mereka mati dan tidak bertobat’.

10. Khawarij

Kelompok ini mengkafirkan kaum muslimin yang melakukan dosa besar meskipun pelakunya masih di atas Tauhid, dan mereka juga menyatakan bahwa pelakunya akan kekal di neraka jika ia meninggal dunia di atas dosa itu.

11. Syi’ah Rafidhah   

Kelompok ini menyelisihi kaum muslimin dalam segala hal baik secara garis besar maupun secara rinci, baik dalam ushul (dasar) maupun furu (cabang).

12. Shufiyyah (Sufi)

Kelompok ini ada yang ekstrem dan ada yang tidak.

Yang ekstrem sampai menyatakan ‘wihdatul wujud’ (semua yang ada adalah tuhan). Mereka ini seperti para pengikut Ibnu Arabi, Ibnu Sab’in, dan semisalnya.

Dalam ibadahnya mereka banyak mengadakan cara sendiri dalam mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla tidak memperhatikan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

13. Asya’irah, Kullabiyyah, dan Maturidiyyah

Kelompok ini menyimpang dari manhaj Ahlissunnah wal jamaah dalam masalah asma wa shifat, membatasi sifat Allah dalam jumlah tertentu, mentakwil sifat-sifat Allah Azza wa Jalla. Demikian pula keliru dalam masalah iman, Kullabiyyah dan Maturidiyyah menyatakan bahwa iman tidak bertambah dan tidak berkurang. Sumber utama pengambil akidah mereka adalah ilmu kalam dan akal.

14. Waqifah

Kelompok ini mengatakan ‘kami tidak menyatakan Al Qur’an sebagai makhluk atau bukan makhluk’.

15. Bathiniyyah

Kelompok ini adalah kelompok Zindik munafik. Mereka tidak beriman kepada kebangkitan dan pembalasan.

16. Qaramithah

Kelompok ini cabang dari kelompok Bathiniyyah.

17. Al ‘Almaniyyah (Sekularisme)

Kelompok ini memisahkan antara agama dengan negara dan kehidupan sehari-hari.

18. Masuniyyah (Freemasonry)

Kelompok ini adalah kelompok yang terstruktur untuk merusak manusia demi kepentingan orang-orang Yahudi.

19. Wujudiyyah

Kelompok ini mengingkari tuhan sebagaimana mengingkari adanya kebangkitan.

20. Babiyyah

Kelompok ini adalah kelompok yang kafir atau mengingkari semua yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

21. Qadiyaniyyah (Ahmadiyyah)

Kelompok ini mengikuti nabi palsu Mirza Gulam Ahmad.

22. Qaumiyyah  

Kelompok ini tidak bisa membedakan antara iman dan kufur. Kelompok ini terlalu fanatik dengan bangsa sendiri, terkadang melupakan nasib bangsa lain dan tidak memperhatikan sisi agama.

23. Ra’sumaliyyah (Kapitalisme)

Kelompok ini menolak ajaran Islam dalam berekonomi dan tidak peduli terhadap ancaman Allah Azza wa Jalla. Kelompok ini berusaha memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dalam usaha tanpa memperhatikan aturan agama.

24. Isytirakiyyah (Sosialisme)

Kelompok ini juga meninggalkan agama dalam berekonomi dan mengedepankan hawa nafsu. Kelompok ini menolak kepemilikan secara perorangan secara mutlak.

25. Hadatsah

Kelompok ini di antara sikapnya adalah mencela akidah Islam, menyamarkan kebenaran kepada manusia, dan melakukan ilhad (penyimpangan) dalam agama Allah.

26. Ilhad (Atheisme)

Kelompok ini tidak mempercayai adanya tuhan, dimana mereka sama saja menolak dalil baik dalil naqli (wahyu) maupun dalil aqli (akal).

27. Liberaliyyah (Liberalisme)

Kelompok ini menginginkan kebebasan dalam hidupnya, menolak adanya aturan baik aturan agama maupun aturan negara. Kelompok ini membuat masyarakat tidak bedanya dengan hewan.

28. Ta’addudiyyah Diniyyah (Pluralisme)  

Kelompok ini membenarkan semua agama dan meninggalkan amar makruf dan nahi munkar.

29. ‘Aqlaniyyah (rasionalisme)

Kelompok ini hanya mengandalkan akal dalam mencapai maslahat dan meninggalkan agama, serta menyatakan bahwa akal adalah sumber pengetahuan, padahal akal manusia terbatas tidak menjangkau segalanya.

30. Syuyu’iyyah (komunisme)

Kelompok ini adalah kelompok yang tidak meyakini ajaran agama.

31. Dimaqrathiyyah (Demokrasi)

Kelompok ini menyatakan bahwa kekuasaan di tangan rakyat, dimana dalam roda pemerintahan rakyatlah yang berkuasa, sehingga jika suatu larangan dalam agama atau pemerintahan tidak sejalan dengan kehendak rakyat, maka larangan itu bisa dicabut.

32. Mutakallimin (Ahlul Kalam)

Kelompok ini menetapkan akidah berdasarkan akal dan filsafat. Disebut Kalam karena isinya perdebatan dan pendapat. Kalam dan filsafat inilah yang membuat akidah kaum muslimin menjadi rusak dan munculnya berbagai kelompok menyimpang.

Kelompok ini berusaha mencari kebenaran termasuk masalah akidah hanya bersandar kepada akal dan pendapat tanpa wahyu, sehingga hasilnya zhann (persangkaan).

Kelompok-Kelompok Sesat lainnya

Di negeri kita Indonesia juga banyak bermunculan kelompok sesat, di antaranya: Ahmadiyyah, Lia Eden atau Salamullah, Al Qiyadah Al Islamiyah, Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Tarekat Tajul Khalwatiyah, Kerajaan Ubur-Ubur, Islam Jamaah, NII, Isa Bugis, Inkar Sunnah, Lembaga Kerasulan, dll.

10 Ciri Aliran Sesat Menurut MUI

MUI dalam rapat kerja nasional tahun 2007 menyebutkan 10 kriteria sebuah aliran keagamaan dianggap menyimpang atau sesat, yaitu:

1. Mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam. 

2. Meyakini dan mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i . 

3. Meyakini turunnya wahyu sesudah Alquran. 

4. Mengingkari kebenaran Alquran. 

5. Menafsirkan Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir. 

6. Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam. 

7. Menghina, melecehkan, atau merendahkan nabi dan rasul.

8. Mengingkari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai utusan terakhir. 

9. Mengubah, menambah, dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan secara syar'i. 

10. Mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i.

Demikianlah pembahasan kelompok-kelompok sesat dan menyimpang agar kita dapat menjauhinya.

Nasihat

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Qs. Al An’aam: 116)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memberitahukan keadaan mayoritas manusia yang berada di atas kesesatan, dan mengingatkan agar tidak mengikuti kebanyakan manusia, karena yang mereka ikuti hanyalah persangkaan belaka.

Hal itu, karena agama mereka telah menyimpang, sebagaimana amal dan ilmu mereka pun ikut menyimpang.

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa banyaknya orang yang melakukan sesuatu bukanlah menjadi tolok ukur terhadap suatu kebenaran, dan menunjukkan bahwa sedikitnya orang yang menempuh tidaklah menunjukkan tidak berada di atas kebenaran, oleh karenanya para pengikut kebenaran adalah orang yang paling sedikit jumlahnya, namun paling tinggi kedudukan dan pahalanya di sisi Allah.

Dalam ayat ini juga terdapat bantahan terhadap beberapa pemikiran yang dibuat manusia, yang kemudian dianut oleh sebagian orang atas dasar ikut-ikutan, seperti liberalisme, sosialisme, komunisme, pluralisme, kapitalisme, sekularisme dan sebagainya.

Ikuti Kebenaran dan Jangan Lihat Banyaknya Orang Yang Melakukan

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Kita tidak tertipu dengan kebanyakan manusia melakukannya, karena perbuatan manusia terkadang di atas kejahilan. Yang dijadikan patokan adalah ada dalil dalam syariat bukan karena dilakukan oleh pada umumnya manusia." (Al Qaulul Mufid 1/204)

"Kami tidaklah melihat kebenaran dengan banyaknya orang yang mengikuti, akan tetapi kami melihat kebenaran ketika sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah." (Asy Syarhul Mumti 4/379)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat, bahwa apabila seseorang telah mengetahui kebenaran, maka tidak boleh baginya menyelisihinya karena mengikuti seseorang." (Majmu Fatawa 7/71)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, "Hendaklah setiap muslim waspada tidak tertipu dengan jumlah yang banyak sambil menyatakan, "Orang-orang berdatangan kepadanya dan biasa terhadap hal itu, maka aku ikut bersama mereka." Ini adalah musibah yang besar yang membuat binasa kebanyakan orang-orang terdahulu. Engkau wahai orang yang berakal, hendaknya memperhatikan dirimu dan menghisabnya, berpegang dengan kebenaran meskipun ditinggalkan manusia. Demikian pula berhati-hati terhadap apa yang dilarang Allah meskipun dikerjakan oleh manusia, karena  kebenaran itu lebih berhak diikuti. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Qs. Al An’aam: 116)

"Dan kebanyakan manusia tidak beriman, meskipun engkau menginginkannya." (Qs. Yusuf: 103)

Sebagian kaum salaf berkata, "Jangan menjauhi kebenaran karena sedikitnya orang yang mengikuti, dan jangan tertipu dengan kebatilan meskipun orang yang binasa itu banyak." (Majmu Fatawa 12/411-416)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, "Janganlah salah seorang di antara kamu menjadi imma'ah!"

Kawan-kawannya mengatakan "Apa itu Imma'ah wahai Abu Abdurrahman?"

Abdullah Bin Masud menjawab, "Yaitu orang yang mengatakan 'saya mengikuti orang-orang, jika mereka mendapatkan petunjuk, maka saya akan mendapatkan petunjuk, dan jika mereka sesat saya juga sesat'. Ingatlah! Hendaknya salah seorang di antara kalian menguatkan dirinya, yaitu ketika manusia kufur, namun dia tidak kufur." (Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al Kabir no. 8765)

Jalan Keluar dari Penyimpangan

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَاريةَ رَضي الله عنه قَالَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ   وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Dari Abu Najih Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan kami nasehat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat.” Beliau bersabda, “Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena barang siapa yang hidup di antara kalian (sepeninggalku), maka ia akan menyaksikan banyak perselisihan. Oleh karena itu, hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat.“ (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dia (Tirmidzi) berkata, “Hasan shahih”)

Syarh/penjelasan

Kalimat, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan kami nasehat (mau’izhah)”.

Mau’izhah artinya mengingatkan disertai targhib (dorongan) dan tarhib (ancaman). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam memberikan nasihat melihat waktu yang tepat dan tidak terlalu sering agar para sahabat tidak bosan. Dalam memberikan nasihat, Beliau juga tidak secara panjang lebar, dan kata-kata Beliau dalam nasihatnya menyentuh hati. Di samping itu, Beliau mengikuti Al Qur’an dalam memberikan nasihat, yaitu menyertakan targhib dengan tarhib, sehingga tidak membuat putus asa manusia dan tidak membuat manusia berani melakukan maksat. Sebagian kaum salaf berkata,

إنَّ الْفَقِيهَ كُلُّ الْفَقِيهِ الَّذِي لَا يُؤَيِّسُ النَّاسَ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ وَلَا يُجَرِّئُهُمْ عَلَى مَعَاصِي اللَّهِ

“Sesungguhnya orang yang betul-betul faqih adalah orang yang tidak membuat putus asa manusia dari rahmat Allah dan tidak membuat mereka berani mengerjakan maksiat kepada Allah.”

Sabda Beliau “bertakwa kepada Allah”, maksudnya adalah mencari perlindungan dari azab Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini merupakan hak Allah Azza wa Jalla. Dan tidak ada wasiat yang paling mulia dan paling lengkap melebihi wasiat untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla (lihat juga surat An Nisaa’: 131).

Sabda Beliau “tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian” maksudnya tunduk dan patuh kepada para pemimpin baik adil maupun zalim, yakni dengarkanlah apa yang mereka katakan dan jauhilah apa yang mereka larang, meskipun yang memimpin kalian seorang budak. Tentunya jika mereka tidak memerintahkan bermaksiat. jika ternyata memerintahkan bermaksiat, maka tidak boleh ditaati. Perintah menaati ulil amri disebutkan di surat An Nisaa’ ayat 59:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa’: 59)

Pada ayat tersebut, taat kepada ulil amri tidak diberi tambahan “taatilah” sebagaimana ketika memerintahkan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hal itu karena taat kepada ulil amri tidak mutlak.

Ibnu Rajab Al Hanbaliy berkata, “Adapun mendengar dan taat kepada pemerintah kaum muslimin, maka di dalamnya terdapat kebahagiaan di dunia. Dengannya, maslahat kehidupan hamba menjadi tertib, dan dengannya pula mereka bisa menampakkan agama mereka dan menaati Tuhan mereka.”

Sabda Beliau, “Karena barang siapa yang hidup di antara kalian (sepeninggalku), maka ia akan menyaksikan banyak perselisihan. Oleh karena itu, hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk” yakni siapa saja yang diberi umur panjang, maka ia akan melihat banyak perselisihan baik dalam masalah akidah, ibadah, manhaj (jalan hidup), dsb. yang membuat seseorang kebingungan untuk memilih mana jalan yang harus ia ikuti, terlebih karena masing-masing golongan yang ada seakan-akan di atas kebenaran, bahkan berdalil meskipun sebenarnya salah dalam berdalil.

Imam Syathibiy rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, wajib bagi orang yang memperhatikan dalil syar’i untuk melihat apa yang difahami generasi terdahulu, dan apa yang mereka kerjakan, karena hal itu lebih membuatnya dekat dengan kebenaran.” (Al Muwafaqat 3/77)

Ternyata apa yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sampaikan memang benar, yakni benar-benar terjadi perselisihan yang banyak di zaman para sahabat, terlebih di zaman setelahnya dst. Namun demikian, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak membiarkan begitu saja umatnya kebingungan, bahkan Beliau memberikan jalan keluar saat kita menghadapi kondisi tersebut, yaitu dengan berpegang dengan sunnah (jalan yang ditempuh) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat menyaksikan keadaan yang beraneka ragam tersebut; meskipun menyelisihi kebanyakan orang. Tidak sebatas itu, Beliau juga menyuruh kita mengikuti para khalifah (pengganti) Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam yang rasyidin (mendapat petunjuk), yang tidak lain adalah para sahabat Beliau, terutama khalifah yang empat; Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu 'anhum. Hal itu, karena bisa saja di antara golongan-golongan itu berdalih dengan ayat atau hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, namun dalam memahaminya tidak seperti yang dipahami Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menambahkan dengan sunnah (jalan yang ditempuh atau pemahaman) para sahabat, yakni apakah para sahabat memahami seperti itu ketika mendengar ayat atau hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, terutama pada ayat atau hadits-hadits yang membutuhkan penjelasan tambahan karena masih samar. Oleh karena itu Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam mukaddimah kitab tafsirnya:

“Apabila ada seseorang yang bertanya, “Apa cara terbaik dalam menafsirkan (Al Qur’an)?” Jawab, “Sesungguhnya cara terbaik dalam hal ini adalah menafsirkan Al Qur’an dengan (penjelasan) Al Quran, yang masih belum jelas di ayat ini mungkin dijelaskan di ayat lain. Jika kamu tidak menemukan (penjelasan di ayat lain), maka dengan melihat As Sunnah, karena ia adalah pensyarah Al Qur’an dan penjelasnya…dst.” Kemudian Ibnu Katsir melanjutkan, “Jika kita tidak menemukan (penjelasannya) dalam Al Qur’an dan As Sunnah, maka kita melihat pendapat para sahabat, karena mereka lebih tahu tentang hal itu…dst.” Ibnu Katsir berkata lagi, “Jika kamu tidak menemukan dalam Al Qur’an, As Sunnah juga dari para sahabat, maka dalam hal ini para imam melihat pendapat para taabi’iin…dst.”

Dengan cara seperti ini, yakni merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman generasi pertama Islam (As Salafush Shaalih), kita dapat selamat dari perselisihan. Dan oleh karena itu, seseorang harus memahami manhaj (cara beragama) generasi terdahulu yang merupakan manhaj Ahlussunnah wal jama’ah, silahkan lihat di sini: http://wawasankeislaman.blogspot.com/p/aqidah_5.html

Pada hadits di atas juga kita diperintahkan menjauhi bid’ah, yakni mengada-ada dalam agama yang dibawa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Hadits ini merupakan dalil terlarangnya berbuat bid’ah. Oleh karena itu, jika seorang yang berbuat bid’ah berkata, « Bukankah tidak ada larangannya saya mengerjakan ibadah ini ? » Maka jawablah dengan hadits ini, yakni Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang semua bid’ah dalam agama. Karena jika disebutkan satu persatu tidak mungkin, disebabkan banyaknya jumlah bid’ah.

Hadits di atas juga menerangkan bahwa bid’ah dalam agama semuanya sesat, tidak ada yang hasanah (baik).

Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Maraji’: Al Ajwibah Al Atsariyyah, Maktabah Syamilah versi 3.45, Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an (Marwan bin Musa), Firqah-Firqah Sesat (Ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat), Untaian Mutiara Hadits (Marwan bin Musa), dll.

Khutbah Shalat Gerhana 1442 H

Rabu, 26 Mei 2021

بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Shalat Gerhana 1442 H

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَأَجْرَاهُمَا بِقُدْرَتِهِ وَمَشِيئَتِهِ فِي السَّمَاءِ إِلَى الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ، فَسُبْحَانَهُ مِنْ إلَهٍ مَا أَعْظَمَهُ، خَضَعَتْ لَهُ جَمِيعُ مَخْلُوقَاتِهِ الْعُلْوِيَّةِ والسُّفْلِيَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، يُرْسِلُ الرِّياحَ مُبَشِّرَاتٍ، وَيُخَوِّفُ عِبَادَهُ بِالْآيَاتِ لِيَدْفَعَهُمْ إِلَى الْخَيْرَاتِ، ويَحْجُزَهُم عَنِ الْمُوبِقَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ؛ امْتَلَأَ قَلْبُهُ ِللهِ تَعَالَى مَحبَّةً وَتَعْظِيمًا ورَجَاءً وَخَوْفًا وتَبْجِيْلاً، فَكَانَ إِذَا تَغَيَّرَتْ أَحْوَالُ الْكَوْنِ خَرَجَ مَذْعُورًا، وَهَرَعَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَه دَاعِيًا وَمُسْتَغْفِرًا ومُصلِّيًا، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيه وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وأتباعِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ:

Jamaah shalat gerhana yang berbahagia

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Azza wa Jalla yang telah menciptakan matahari dan bulan dan mengatur keduanya untuk maslahat manusia. Dia berfirman,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللّهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui." (QS. Yunus: 5)

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia dan menjadi rahmat bagi alam semesta.

Khathib berwasiat -baik kepada diri khathib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian- untuk bertakwa kepada Allah kapan dan di mana saja, baik ketika sepi maupun terang-terangan, karena dengan bertakwa kepada Allah akan diraih kebaikan, keberkahan, kebahagiaan, dan berbagai kenikmatan, dan tidak ada sesuatu yang dapat menolak musibah dan bencana seperti halnya bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung. Allah Ta’ala berfirman,

وَيُنَجِّي اللَّهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tidak disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.” (Qs. Az Zumar: 61)

Jamaah shalat gerhana yang berbahagia

Pada bulan Syawwal tahun ke-10 Hijriyyah dan pada saat suasana sangat panas sekali putera Nabi shallallahu alaihi wa sallam bernama Ibrahim wafat, maka Beliau bersedih sekali terhadapnya hingga beliau berkata,

إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

“Sesungguhnya mata meneteskan air mata, hati bersedih, namun kami tidak mengucapkan selain kata-kata yang diridhai Rabb kami, dan kami dengan kepergianmu wahai Ibrahim benar-benar bersedih.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Pada saat yang sama pula terjadi peristiwa besar, yaitu gerhana matahari sehingga Beliau merasa takut dan khawatir kalau-kalau Kiamat telah tiba.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu anhu ia berkata, “Telah terjadi gerhana matahari, lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bangun dalam keadaan terkejut takut kalau-kalau tiba hari Kiamat, maka Beliau mendatangi masjid dan melakukan shalat dengan berdiri, ruku, dan sujud yang sangat panjang yang baru aku lihat.” Bahkan karena rasa takut Beliau –dimana Beliau adalah orang yang paling mengenal Allah- Beliau sampai salah mengenakan kain; Beliau pakai selendang salah seorang istrinya dan keluar dengan menyeret kainnya tanpa menunggu dipakai sampai Beliau tiba di masjid. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Asma radhiyallahu anha, “Beliau salah pakai hingga Beliau perbaiki setelahnya.” (Hr. Muslim)

Bahkan di antara sikap Beliau yang menunjukkan rasa takut yang dalam adalah Beliau memperpanjang shalat tidak seperti biasanya, padahal Beliau selalu menyuruh imam untuk meringankan shalat. Jabir radhiyallahu anhu berkata, “Maka Beliau memperlama berdiri sampai para sahabat tersungkur duduk karena keletihan.” (Hr. Muslim)

Saat Nabi shallallahu alaihi wa sallam sampai di masjid, maka Beliau memerintahkan seseorang untuk menyerukan ‘Ash Shalatu jami’ah’ (Ayo lakukan shalat dengan berjamaah), maka orang-orang pun berkumpul, kemudian Beliau shalat dengan shalat yang tidak biasanya sebagaimana yang dinyatakan Aisyah radhiyallahu anha ia berkata, “Pernah terjadi gerhana pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu Beliau mengirimkan seseorang untuk menyerukan ‘Ash Shalatu Jami’ah,’ maka orang-orang pun berkumpul, lalu Beliau maju dan bertakbir, kemudian shalat empat kali ruku dalam dua rakaat dan melakukan empat kali sujud (Hr. Muslim)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, dan dua makhluk di antara makhluk-makhluk Allah. Keduanya muncul dengan perintah Allah dan terjadi gerhana dengan perintah Allah dan rahmat-Nya. Jika Allah Ta’ala hendak menakut-nakuti hamba-hamba-Nya terhadap maksiat dan pelanggaran yang mereka kerjakan, maka Allah jadikan gerhana pada keduanya dengan menyembunyikan cahayanya baik seluruh maupun sebagiannya sebagai peringatan bagi hamba-hamba-Nya dan untuk mengingatkan mereka agar mereka bertaubat dan kemudian mengerjakan perintah yang diwajibkan Allah kepada mereka  dan menjauhi apa-apa yang Dia haramkan kepada mereka. Oleh karena itulah sering terjadi gerhana di zaman sekarang, sehingga tidak berlalu setahun melainkan terjadi beberapa gerhana baik gerhana matahari maupun gerhana bulan atau kedua-duanya. Yang demikian karena banyaknya kemaksiatan dan fitnah (godaan) di zaman ini. Banyak manusia yang tenggelam dalam syahwat dunia dan melupakan peristiwa dahsyat di akhirat; mereka jatuhkan diri mereka dalam maksiat dan merusak agama mereka, mereka mendatangi hal-hal yang bersifat materi namun berpaling dari hal-hal gaib yang dijanjikan yang merupakan tempat kembali yang pasti dan akhir yang pasti. Dan kebanyakan masyarakat di zaman ini meremehkan shalat gerhana, tidak memperhatikannya, dan tidak mendorongnya. Hal itu karena kelemahan iman mereka dan ketidaktahuan mereka terhadap sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan hanya melihat sebab-sebab lahir terjadinya gerhana, namun mereka lalai dari sebab-sebab syar’i dan hikmah yang dalam yang karenanya Allah mengadakan gerhana dengan adanya sebab-sebab tadi.” 

Jamaah shalat gerhana yang berbahagia

Gerhana matahari dan bulan bukanlah sebagai peristwa biasa yang kosong dari hikmah dan makna. Bahkan gerhana merupakan peristiwa besar yang hati orang-orang beriman merasakan ketakutan dan hati-hati orang-orang yang bertakwa bergetar karenanya, karena maksud terjadinya gerhana adalah untuk menakut-nakuti hamba, dan bukan sebagai peristiwa alam biasa seperti yang disangka sebagian orang, dimana hati mereka tidak takut terhadapnya dan tidak ada perhatian mereka terhadapnya, bahkan sebagian mereka malah bergembira dan senang karena peristiwa ini. Di antara mereka ada yang pergi ke puncak atau dataran-dataran tinggi untuk menyaksikannya dengan berbagai alat seperti teropong dan teleskop sambil bergembira dan lupa dari sebab hakiki dan hikmah dari terjadinya gerhana. Oleh karenanya mereka tidak segera shalat, tidak segera berdizikir, berdoa, beristighfar, dan bersedekah.

Oleh karena itu, tidak patut bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir menyatakan bahwa gerhana hanyalah peristiwa alam biasa seperti terbitnya matahari dan tenggelamnya yang tidak membuatnya takut dan khawatir. Bahkan menganggapnya biasa dan tidak mengambilnya sebagai pelajaran adalah menuru sikap orang-orang kafir sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ (105) وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ (106) أَفَأَمِنُوا أَنْ تَأْتِيَهُمْ غَاشِيَةٌ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ أَوْ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (107)

“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya.-Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)--Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan Kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?” (Qs. Yusuf: 105-107)

Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang jika diberi peringatan segera sadar, jika disampaikan pelajaran kita dapat mengambil pelajaran, jika diberi bersikap syukur, jika diuji dapat bersabar, jika jatuh ke dalam dosa segera istighfar, Aqulu qauli haadzaa wa astaghfirullah liy wa lakum.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَحْمُودِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، وَالصَّلاَةُ وَالسّلامُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ وَعَلَى الصَّحْبِ والآلِ، أَمَّا بَعْدُ:

Jamaah shalat gerhana yang berbahagia

Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa gerhana, di antaranya adalah:

1. Semakin jelas kesesatan orang-orang yang menyembah selain Allah Ta’ala, seperti mereka yang menyembah matahari dan bulan. Kalau seandainya keduanya adalah tuhan, tentu tidak akan mengalami kehilangan atau kekurangan cahayanya. Demikian pula terdapat bukti yang jelas bahwa matahari, bulan, bintang dan alam semesta ini diatur oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala, dan bahwa semua itu tidak berhak untuk disembah. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah menyembah matahari maupun bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika Dialah yang kamu sembah." (QS. Fushshilat: 37)

2. Sebagai salah satu tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah 'Azza wa Jalla. Jika yang demikian mudah bagi Allah, maka lebih mudah lagi bagi-Nya menghidupkan manusia yang telah mati untuk diberi-Nya pembalasan.

3. Untuk menakut-nakuti manusia agar mereka kembali kepada-Nya dan berhenti dari berbuat maksiat serta mengisi hidupnya di dunia dengan beramal saleh. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

"Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti." (Terj. QS. Al Israa': 59)

4. Sebagai permisalan terhadap hal yang akan terjadi pada hari kiamat, dan bahwa hal itu mudah bagi Allah Azza wa Jalla.

5. Menunjukkan kuasanya Allah menimpakan hukuman kepada orang-orang yang kufur kepada-Nya dan mendurhakai-Nya.

6. Menunjukkan sayang dan santun(hilm)nya Allah Azza wa Jalla kepada hamba-hamba-Nya, Dia tidak langsung menghukum mereka saat mereka berbuat maksiat, bahkan mengajak mereka bertobat dan memperingatkan mereka dengan semacam ini (gerhana) agar mereka tidak melakukan perbuatan yang membawa mereka kepada kesengsaraan baik di dunia maupun di akhirat.

7. Dan hikmah-hikmah yang lain.

Jamaah shalat gerhana yang berbahagia

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

« إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا » . 

"Sesungguhnya matahari dan bulan tidaklah terjadi gerhana karena kematian seseorang dan bukan pula karena lahirnya seseorang. Akan tetapi, keduanya merupakan dua tanda di antara tanda-tanda (kekuasaan) Allah. Apabila kalian melihatnya, maka laksanakanlah shalat." (HR. Bukhari)

Al Haafizh menjelaskan tentang maksud "tanda" di hadits tersebut, yaitu sebagai tanda keesaan Allah, tanda kekuasaan Allah sekaligus untuk menakuti hamba-hamba-Nya terhadap siksaan Allah dan azab-Nya.

Dengan demikian, maka jelaslah bahwa gerhana merupakan tanda kekuasaan Allah untuk menakuti hamba-hamba-Nya sebagaimana pada peristiwa alam yang lain seperti gempa bumi, angin kencang, terangnya suasana di malam hari, gelapnya suasana di siang hari, halilintar yang berbunyi keras, hujan yang tidak kunjung henti dan peristiwa alam lainnya yang mengkhawatirkan; agar manusia kembali kepada Allah, mau menaati-Nya, dan tidak lagi berbuat maksiat. Oleh karena itu, saat terjadi gerhana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan orang-orang ketika itu untuk melaksanakan shalat, berdoa, berdzikr, beristighfar (meminta ampunan), bersedekah dan melakukan amal saleh lainnya seperti memerdekakan budak dengan harapan agar mereka tidak ditimpa sesuatu yang tidak diinginkan.

Dalam hadits di atas juga, Beliau menjelaskan bahwa gerhana terjadi bukanlah karena ada seorang tokoh yang meninggal atau karena lahirnya seorang tokoh. Maksud Beliau berkata demikian adalah untuk menghilangkan anggapan yang menyebar di saat itu, dimana ketika itu Ibrahim putera Beliau wafat, lalu mereka pun mengaitkan terjadinya gerhana karena wafatnya putera Beliau, maka Beliau menghilangkan anggapan tersebut. Demikian pula tidak ada anggapan-anggapan dan keyakinan-keyakinan lainnya yang beredar di masyarakat kita ketika terjadi gerhana seperti anggapan bahwa ada raksasa atau yang disebut dengan ‘buto’ sedang memakan cahaya bulan atau ada raksasa yang disebut ‘batara kala’ yang memakan matahari, kemudian mereka memukul kentongan agar raksasa itu pergi, dsb. Semua anggapan itu tidak benar dan tidak boleh diyakini.

Jamaah shalat gerhana yang berbahagia

Sebagaimana telah diterangkan, bahwa hikmah dari terjadinya gerhana adalah agar kita berhenti dari maksiat dan kembali kepada Allah dengan isttighfar dan tobat, karena Dia tidak akan mengazab kaum yang beristighfar dan bertobat. Dia berfirman,

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Qs. Al Anfaal: 33)

Dan dengan istighfar dan tobat itu pula kita akan memperoleh keberuntungan, Dia berfrman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertobatlah kalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (Qs. An Nuur: 31)

Kita meminta kepada Allah agar Dia memberikan kepada kita taufik untuk mengisi hidup di dunia dengan berbagai amal saleh, membimbing kita kepada jalan yang diridhai-Nya, memasukkan kita ke dalam surga-Nya, dan menjauhkan kita dari neraka-Nya.

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ فَقَالَ جَلَّ وَعَلاَ:إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا مَحَبَّتَهُ وَاتِّبَاعَهُ ظَاهِراً وَبَاطِناً اَللَّهُمَّ تَوَفَّنَا عَلَى مِلَّتِهِ اَللَّهُمَ احْشُرْنَا فِي زُمْرَتِهِ اَللَّهُمَّ أَسْقِنَا مِنْ حَوْضِهِ اَللَّهُمَّ أَدْخِلْنَا فِي شَفَاعَتِهِ اَللَّهُمَّ اجْمَعْنَا بِهِ فِي جِوَارِكَ فِي جَنَّاتِ النَّعِيْمِ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ اَللَّهُمَّ ارْضَ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ اَللَّهُمَّ ارْضَ عَنْ أَوْلاَدِه الْغُرِّ الْمَيَامِيْنَ وَعَنْ زَوْجَاتِهِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَللَّهُمَّ ارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا كَمَا أَصْلَحْتَ أَحْوَالَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاجْعَلْ بَلَدَنَا هَذَا آمِنا ً وَ سَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِميْنَ اَللَّهُمَّ هَيِّئْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وُلاَةً صَالِحِيْنَ مُصْلِحِيْنَ يَقُوْدُوْنَهُمِ بِكِتَابِكَ وَسُنَّةِ نَبِيِّكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَآخِرُ دَعْوَانَا اَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan Hadidi bin Musa

Maraji: https://www.alukah.net/sharia/0/128274/, Maktabah Syamilah, dll.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger