Di Antara Kandungan Surat Al Fatihah

Kamis, 10 Mei 2018
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫اعظم سورة في القران الكريم‬‎
Di Antara Kandungan Surat Al Fatihah
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut pembahasan tentang sebagian kandungan surat Al Fatihah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Pengantar
Sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam manusia berada dalam kejahiliyahan. Mereka disebut ‘jahiliyah’ karena mereka tidak berpengetahuan atau berada dalam kebodohan. Namun dalam hal apa mereka jahil (tidak mengetahui)? Apakah dalam urusan dunia atau dalam urusan apa? Tentunya bukan dalam urusan dunia, karena dalam urusan dunia banyak di antara mereka yang pandai sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala,
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka lalai terhadap (kehidupan) akhirat.” (Qs. Ar Ruum: 7)
Ayat ini menunjukkan bahwa mereka pandai dalam urusan dunia namun jahil (bodoh) dalam urusan akhirat atau dalam urusan agama. Secara lebih rincinya, mereka jahil atau tidak mengenal Tuhan mereka dan siapa yang berhak mereka sembah, mereka juga tidak mengetahui untuk apa mereka diciptakan di dunia, dan jalan mana yang harus mereka tempuh dalam hidup di dunia.
Karena kejahilan atau tidak mengenal Tuhan mereka sehingga menyebabkan mereka serampangan dalam menyembah. Di antara mereka ada yang menyembah batu dan pepohonan, ada yang menyembah matahari, bulan atau benda-benda langit lainnya, ada yang menyembah patung dan berhala, ada yang menyembah jin, manusia, atau malaikat, dan ada pula yang menyembah api seperti halnya orang-orang Majusi. Saking menyimpangnya, mereka sampai menyembah sesuatu yang lebih lemah daripada diri mereka sendiri, dimana sesembahan itu tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri apalagi menyelamatkan para penyembahnya.
Demikian pula karena kejahilan mereka terhadap tujuan mereka diciptakan di dunia, sehingga mereka mengira bahwa tujuan mereka hidup di dunia hanyalah untuk makan, minum, memenuhi nafsunya, dan bersenang-senang menikmati kesenangan dunia seperti halnya hewan. Oleh karenanya, di benak mereka hanyalah fikiran bagaimana caranya meraih kesenangan dunia sebanyak-banyaknya, dan yang mereka kejar hanyalah dunia, waktu mereka habis untuknya; tidak ada kesempatan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.
Demikian pula karena jahilnya mereka terhadap jalan yang seharusnya mereka tempuh dalam kehidupan dunia mengakibatkan mereka menempuh jalan mana saja, baik hak maupun batil, benar atau salah, mendatangkan keridhaan Allah atau mendatangkan kemurkaan-Nya. Yang penting bagi mereka adalah jalan itu sesuai dengan selera hawa nafsunya.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala adalah Rabbul alamin, Dia yang menciptakan, yang menguasai, yang memberi rezeki, dan yang mengatur alam semesta. Maka sebagaimana Dia telah menciptakan manusia dan tidak membiarkan mereka dalam kelaparan dan kehausan, Dia berikan mereka rezeki agar mereka dapat melangsungkan kehidupan di dunia dan jasmani mereka dapat tumbuh dengan baik dan sehat. Ini adalah bukti perhatian-Nya dalam urusan jasmani mereka demikian pula menunjukkan rahmat(kasih sayang)-Nya. Jika urusan jasmani mereka saja diperhatikan-Nya, apalagi urusan rohani mereka. Tentu Dia memperhatikan pula. Oleh karena itu, Dia mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk membimbing manusia agar tidak tersesat dan sengsara. Dia berfirman,
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
“Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Qs. Thaahaa: 123)
Sebaliknya,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta." (Qs. Thaahaa: 124)
Petunjuk dan peringatan-Nya ada dalam kitab yang diturunkan-Nya dan pada sunnah yang dibawa Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam untuk mengeluarkan umat manusia dari berbagai kegelapan, baik dari gelapnya kebodohan (kejahiliyah), gelapnya kekafiran, maupun gelapnya kemaksiatan kepada cahaya pengetahuan, cahaya keimanan, dan cahaya ketaatan, Dia berfirman,
الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“Alif, laam raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu agar kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya yang terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Qs. Ibrahim: 1)
Siapa saja yang menyambut seruan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, maka keluarlah dirinya dari belenggu kegelapan dan kejahiliyahan atau kebodohan. Sebaliknya siapa saja yang tidak mau menyambut seruan Rasul-Nya setelah diutusnya, seperti tetap menyembah selain Allah, tidak mengisi hidupnya dengan beribadah, atau memilih gaya hidup sesuai selera hawa nafsunya, maka berarti orang tersebut masih berada dalam kegelapan, kejahiliyahan, kebodohan, kerusakan, dan ketertinggalan seperti halnya kaum Jahiliyah terdahulu[i].
Abu Bakar bin Iyasy rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penduduk bumi sedangkan mereka berada dalam kerusakan, maka Allah memperbaiki kondisi mereka dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, barang siapa yang mengajak untuk mengikuti selain petunjuk yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang mengadakan kerusakan.”
Di antara kandungan surat Al Fatihah
Di antara isi kitab yang diturunkan-Nya adalah surat Al Fatihah; yang merupakan surat paling agung dalam Al Qur’an karena muatannya yang begitu dalam, bijaksana, membimbing, indah dan memuat kandungan yang ada dalam Al Qur’an secara garis besar sehingga disebut Ummul Qur’an (Induk Al Qur’an). Surat ini dinamai juga As Sab’ul Matsani (lihat Qs. Al Hijr: 87) karena jumlah ayatnya ada tujuh dan karena dibaca berulang kali oleh seorang hamba dalam shalatnya, baik shalat fardhu maupun shalat sunah, dan di setiap rakaatnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan kita terus membacanya dalam shalat kita di antara hikmahnya adalah agar nilai-nilai yang terkandung dalam surat Al Fatihah tetap terngiang-ngiang dalam benak fikiran kita sehingga hidup kita tidak jauh dari nilai-nilai itu, di samping untuk menjalin hubungan kita dengan Allah agar hidup ini tetap berada dalam bimbingan dan arahan-Nya meskipun di hadapannya terdapat banyak fitnah atau godaan sebagaimana dalam permintaan kita yang ada dalam surat Al Fatihah ini, yaitu pada ayat ihdinash shirathal mustaqim (artinya: Tunjukkanlah kami jalan yang lurus).  
Di dalam surat Al Fatihah kita diperkenalkan tentang siapa Tuhan kita dan siapa yang berhak kita sembah, demikian pula di surat ini kita diperkenalkan untuk apa kita diciptakan di dunia, dan diperkenalkan jalan mana yang seharusnya kita dalam kehidupan dunia.
Di surat Al Fatihah, kita diperkenalkan siapa Tuhan kita, yang ditunjukkan oleh firman-Nya,
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ -- الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ -- مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.--Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.-- Yang menguasai di hari Pembalasan.” (Qs. Al Fatihah: 2-4)
Dialah Allah Tuhan kita yang menciptakan, menguasai, memberi rezeki, dan mengatur alam semesta yang memiliki nama Ar Rahman Ar Rahim (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), dimana di dalamnya terdapat sifat rahmat (kasih-sayang)-Nya, dan Dia -di samping sebagai Penguasa alam semesta- juga yang menguasai hari pembalasan dimana ketika itu tidak ada makhluk yang berani berbicara kecuali dengan izin-Nya. Dialah Tuhan yang berhak disembah karena Dialah yang mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta. Dia berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika Dialah yang kamu hendak sembah.” (Qs. Fushshilat: 37)
Di surat Al Fatihah, kita diperkenalkan siapa yang berhak kita sembah dan untuk apa kita diciptakan di dunia, yang ditunjukkan oleh firman-Nya,
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.” (Qs. Al Fatihah: 5)
Allah-lah yang berhak kita sembah dan kita tujukan berbagai macam bentuk ibadah; tidak selain-Nya, dan bahwa kita diciptakan di dunia ini adalah untuk menyembah hanya kepada-Nya dan mengisi hidup di dunia dengan mengabdi dan beribadah kepada-Nya, sebagaimana diperjelas oleh firman Allah Ta’ala di surat Adz Dzariyat: 56,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.”
Demikian pula di surat Al Fatihah kita diperkenalkan jalan mana yang harus kita tempuh dalam hidup di dunia. Hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ -- صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus,--(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Qs. Al Fatihah: 6-7)
Jalan orang-orang yang Allah berikan kenikmatan dan kebahagiaan itulah yang seharusnya kita tempuh. Mereka ini terdiri dari para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh (lihat Qs. An Nisaa’: 69) dimana ciri jalan mereka adalah mengetahui yang hak (benar) dan mengamalkannya, bukan jalan orang-orang yang dimurkai seperti jalannya orang-orang Yahudi, dimana ciri jalan mereka adalah mengetahui kebenaran namun tidak mau mengikutinya, dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat seperti jalan orang-orang Nasrani, dimana ciri jalan mereka adalah tidak mengetahui yang hak, namun sudah berani beramal akhirnya tersesat.
Inilah beberapa kandungan dari surat Al Fatihah yang sebenarnya masih banyak lagi kandungannya sebagaimana telah diterangkan secara panjang lebar oleh para ulama dalam kitab-kitab tafsir mereka.
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an (Penulis), Aqidatut Tauhid (Dr. Shalih Al Fauzan), Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.


[i] Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata, “Jahiliyah adalah keadaan bangsa Arab sebelum Islam, berupa jahil atau tidak mengenal Allah dan Rasul-Nya, jahil terhadap syariat Islam, berbangga dengan nasab, bersikap sombong dan sewenang-wenang, dan sebagainya yang dinisbatkan kepada kejahilan atau tidak ada ilmu, atau tidak mengikuti ilmu.”
Ia juga berkata, “Singkatnya, bahwa jahiliyah itu nisbat kepada jahil, yakni tidak ada ilmu. Ia terbagi dua:
a.       Jahiliyah ammah (umum), yaitu keadaan sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan telah hilang setelah ditusnya Beliau.
b.      Jahiliyah khashshah (khusus), yaitu yang menimpa sebagian negara atau sebagian orang. Hal ini senantiasa ada. Dari sini diketahui kelirunya orang yang menyatakan secara umum bahwa zaman ini zaman jahiliyah, seperti mengatakan, “Jahiliyah abad ini” atau “Jahiliyah abad 20” dsb. Yang benar adalah mengatakan “Jahiliyah sebagian orang di abad ini” atau “Kahiliyah sebagian besar orang di abad ini”. Adapun menyatakan secara umum atau merata, maka tidak benar dan tidak boleh, karena setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam jahiliyah secara umum (merata) sudah hilang. (Aqidatut Tauhid hal. 90)

Kiat Istiqamah di Jalan Allah (4)

Senin, 07 Mei 2018
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك‬‎
Kiat Istiqamah di Jalan Allah (4)
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut lanjutan pembahasan tentang kiat istiqamah di jalan Allah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
15. Memperhatikan kenikmatan surga, azab neraka, dan mengingat kematian
Surga adalah tempat yang penuh kenikmatan, hiburan bagi orang-orang yang bersedih, tempat pijakan akhir perjalanan kaum mukmin. Di samping itu, jiwa biasanya tidak mau berkorban dan beramal serta istiqamah di atasnya kecuali dengan balasan yang menghilangkan semua kelelahan, sehingga semua rintangan itu terasa mudah.
Orang yang mengetahui pahala yang Allah siapkan akan terasa ringan memikul beratnya beban, ia tahu bahwa jika ia tidak istiqamah maka dirinya akan kehilangan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, di samping itu jiwa manusia butuh sesuatu yang mengangkat dirinya dari tanah ke alam yang berada di atas yang lebih baik dan lebih utama.
Inilah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, Beliau mengingatkan surga untuk meneguhkan hati para sahabatnya. Disebutkan dalam hadits hasan shahih, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah melewati Yasir, Ammar, dan Ummu Ammar (Sumayyah) yang disiksa di jalan Allah, maka Beliau bersabda,
صَبْراً آلَ يَاسِرٍ صَبْراً آلَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir! Bersabarlah wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat yang dijanjikan kepadamu adalah surga.” (Hr. Hakim, lihat takhrij Fiqhus Sirah oleh Syaikh Al Albani)
Demikian pula sabda Beliau kepada kaum Anshar,
«فَإِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً، فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الحَوْضِ»
“Sesungguhnya kalian akan melihat setelahku keadaan mengutamakan diri sendiri, maka bersabarlah sampai kalian menemuiku di haudh (telaga).” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Demikian pula dengan mengingat keadaan nanti di kubur, di padang mahsyar, saat dihisab, saat amal ditimbang, saat melintasi shirath, dan peristiwa-peristiwa di akhirat membantu seseorang untuk istiqamah di atas agama Allah.
Termasuk pula mengingat kematian yang bisa saja menjemputnya tiba-tiba. Hal ini juga dapat membantunya untuk istiqamah. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ»
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan dunia (maut).” (Hr. Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah, dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani)
Posisi-Posisi Yang Butuh Tetap Istiqamah dan Sabar
1.      Di saat terdapat fitnah
Fitnah atau godaan ini bisa berupa harta, kedudukan, istri, anak, dsb.
Tentang fitnah harta, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ (75) فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (76) فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (77)
“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada Kami, pastilah Kami akan bersedekah dan pastilah Kami termasuk orang-orang yang saleh.--Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling. Mereka memang orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).--Maka Allah menimbulkan kemunafikan kepada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.” (Qs. At Taubah: 75-77)
Tentang fitnah kedudukan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya itu melewati batas.” (Qs. Al Kahf: 28)
Tentang bahaya kedua fitnah di atas, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»
“Kedua srigala yang lapar yang dilepas di tengah-tengah kambing tidaklah lebih berbahaya daripada rakusnya seseorang terhadap harta dan kedudukan yang membahayakan agamanya.” (Hr. Tirmidzi dan Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani)
Tentang fitnah istri dan anak, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (Qs. At Taghabun: 14)
Maksud ayat di atas adalah bahwa kadang-kadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
اَلْوَلَدُ مَجْبَنَةٌ مَبْخَلَةٌ مَحْزَنَةٌ
“Anak itu dapat membuat orang tua menjadi pengecut, bakhil, dan membuatnya sedih.” (Hr. Abu Ya’la, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 7160)
Di samping fitnah di atas, termasuk pula fitnah penindasan dan kezaliman, lihat misalnya di surat Al Buruj ayat 4-9 tentang As-habul Ukhdud.
Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Khabbab radhiyallahu anhu, ia berkata, “Kami pernah mengeluh kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat Beliau berbantalkan kain selimut di bawah naungan Ka’bah, “Tidakkah engkau memohon pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami? Maka Beliau bersabda,
قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ، يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ، فَيُجْعَلُ فِيهَا، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الحَدِيدِ، مَا دُونَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ، فَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ
“Sesungguhnya sebelum kalian ada orang yang ditangkap lalu dibuat galian untuknya, kemudian ia dimasukkan ke dalamnya, lalu disiapkan geregaji dan diletakkan di kepalanya, kemudian ia dibelah menjadi dua bagian. Ada pula yang disisir dengan sisir besi antara tulang dan dagingnya, namun hal itu tidak memalingkannya dari agamanya.” (Hr. Bukhari)
Demikian pula ada fitnah Dajjal yang merupakan fitnah dunia yang sangat besar. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda tentangnya,
إِنَّهُ لَمْ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ، مُنْذُ ذَرَأَ اللَّهُ ذُرِّيَّةَ آدَمَ، أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ
“Sesungguhnya tidak ada fitnah di muka bumi sejak Allah ciptakan keturunan Adam yang lebih besar daripada fitnah Dajjal.” (Hr. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Hakim, dan Adh Dhiya, Shahihul Jami no. 2970)
Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda tentang keadaan hati ketika menghadapi fitnah,
«تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ، عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ، مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ»
“Fitnah dihadapkan kepada hati seperti tikar yang menempel di rusuk sehelai demi sehelai. Hati siapa saja yang menerimanya, maka akan ditempeli titik hitam, sedangkan hati yang mengingkarinya, maka akan ditempeli titik putih sehingga keadaan hatinya terbagi dua; dalam keadaan putih seperti batu yang licin yang tidak dibahayakan oleh fitnah selama masih ada langit dan bumi, sedangkan hati yang satu lagi hitam legam seperti cangkir cubung yang miring yang tidak mengenal lagi yang ma’ruf serta tidak mengingkari yang munkar, kecuali hanya menurutkan hawa nafsunya.” (Hr. Muslim)
2.      Di saat jihad
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu.” (Qs. Al Anfaal: 45)
Oleh karenanya, termasuk dosa besar adalah pergi meninggalkan pertempuran.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sempat membawa tanah di punggungnya dalam perang Khandaq sambil melantunkan kalimat ini bersama kaum mukmin,
وَثَبِّتِ الْأَقْدَامَ إِنْ لاَقَيْنَا
“Dan teguhkanlah pendirian kami saat bertemu musuh.” (Hr. Bukhari)
3.      Teguh di atas manhaj
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu sedang mereka tidak merubah (janjinya),” (Qs. Al Ahzaab: 23)
4.      Teguh saat akan meninggal dunia
Orang-orang kafir dan fasik dihalangi dari keteguhan saat akan meninggal dunia, sehingga mereka tidak sanggup mengucapkan dua kalimat syahadat saat sekarat, padahal yang demikian merupakan tanda su’ul khatimah.
Ada seorang yang saat disuruh mengucapkan Laailaahaillallah, namun ia malah menggelengkan kepalanya tanda menolaknya, ada juga yang saat disuruh mengucapkan kalimat tauhid, ia malah mengucapkan kata-kata yang biasa diucapkannya terkait dunia, dan ada pula yang malah menyebutkan berbagai permainan yang biasa dimainkannya, dan ada yang malah menyanyikan lagu yang biasa dia nyanyikan wal iyadz billah.  Bahkan tanda-tanda su’ul khatimah itu terkadang tampak dalam diri mereka, seperti hitamnya wajah atau terciumnya bau busuk, wa laa haula walaa quwwata illa billah.
Adapun orang saleh atau Ahlussunnah, maka Allah memberi mereka taufik dengan keteguhan di saat akan meninggal dunia, sehingga sanggup mengucapkan kalimat syahadat. Terkadang tampak dari mereka wajah yang berseri, aroma yang harum, atau kebahagiaan saat hendak keluar ruhnya.
Berikut contoh seorang yang diberi taufik oleh Allah untuk tetap istiqamah di saat akan meninggal dunia. Dialah Imam Abu Zur’ah Ar Razi, salah seorang ulama Ahli Hadits.
Abu Ja’far Muhammad bin Ali sekretaris Abu Zur’ah berkata, “Kami menghadiri Abu Zur’ah di Masyahran sebuah kampung di Ray saat ia akan meninggal dunia. Ketika itu di hadapannya ada Abu Hatim, Ibnu Warrah, Mundzir bin Syadzan, dan lainnya. Ketika itu mereka menyebut hadits tentang talqin “Ajarilah orang akan meninggal di antara kalian dengan Laailaahaillah” mereka malu mentalqin Abu Zur’ah, lalu mereka berkata, “Ayo kita sebut haditsnya!” Ibnu Warrah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih. Saat itu Ibnu Abi hendak melanjutkan namun tidak ia lanjutkan, maka Abu Hatim berkata, “Telah menceritakan kepada kami Bundar, telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, dari Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih, namun ia juga tidak melanjutkan. Yang lain pun diam, maka Abu Zur’ah saat akan meninggal dunia dengan mata terbuka berkata, “Telah menceritakan kepada kami Bundar, telah menceritakan kepada kami Abu Ashim, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid, dari Shalih bin Abi Gharib, dari Katsir bin Murrah, dari Mu’adz bin Jabal ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»
“Barang siapa yang akhir ucapannya adalah Laailaahaillallah, maka ia akan masuk surga.”
Lalu ruhnya pun keluar. (Siyar A’lamin Nubala 13/76-85)
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji: Wasa’iluts Tsabat ala Dinillah (Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid), Maktabah Syamilah versi 3.35, dll.

Kiat Istiqamah di Jalan Allah (3)

بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫الثبات على الحق‬‎
Kiat Istiqamah di Jalan Allah (3)
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut lanjutan pembahasan tentang kiat istiqamah di jalan Allah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
9. Terjun di medan dakwah
Jiwa jika tidak bergerak akan melemah, maka agar jiwa semakin kuat dan mulia hendaknya ia terjun di medan dakwah yang merupakan tugas para rasul. Allah bersama para da’i, Dia meneguhkan dan mengarahkan langkah mereka. Seorang da’i seperti dokter yang memerangi penyakit dengan pengalaman dan ilmunya, sehingga dia lebih jauh daripada yang lain dari jatuh ke dalam penyakit itu.
10. Memperhatikan sarana-sarana istiqamah lainnya
Sarana istiqamah itu adalah dekat dengan para ulama, orang-orang saleh, dan para da’i. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ»
“Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Ada pula yang menjadi kunci-kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Sungguh bahagia orang yang Allah jadikan kunci kebaikan pada kedua tangannya, dan sungguh rugi orang yang Allah jadikan kunci keburukan pada kedua tangannya.” (Hr. Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani)
Dalam sejaram Islam telah terjadi berbagai fitnah, namun Allah teguhkan kaum muslimin melalui beberapa orang.
Ali bin Al Madini rahimahullah berkata, “Allah memuliakan agama ini melalui Abu Bakar Ash Shiddiq pada hari terjadinya kemurtadan, dan melalui Imam Ahmad pada hari mihnah (terjadinya cobaan).”
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Saat kami berada dalam kekhawatiran, bersangka buruk terhadap diri kami, dan bumi yang kami datangi terasa sempit, maka kami menjumpai beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) dan menyimak ucapannya, lalu semua kerisauan itu hilang, dan dada kami berubah menjadi lapang, kuat, yakin, dan tenang. Maka Mahasuci Allah yang telah menghadirkan surga-Nya kepada hamba-hamba-Nya sebelum berjumpa dengan-Nya, membukakan untuk mereka pintu-pintunya di tempat beramal ini. Dia juga memberikan kepada mereka rasa nyaman surga itu, anginnya, dan kebaikannya, yang membuat mereka mencurahkan kemampuannya untuk mengejar surga dan berlomba-lomba kepadanya.” (Al Wabilush Shayyib hal. 97)
11. Yakin terhadap pertolongan Allah dan bahwa kemenangan itu untuk Islam
Di saat-saat pertolongan terasa lama, kita butuh keteguhan yang kuat lagi agar kaki ini tidak tergelincir setelah kokohnya. Allah Ta’ala berfirman,
وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (146) وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148)
“Berapa banyak Nabi yang berperang bersama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.--Tidak ada doa mereka selain ucapan, "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.”-- Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Qs. Ali Imran: 146-148)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika hendak meneguhkan hati para sahabat yang ditindas menyampaikan kepada mereka bahwa masa depan milik Islam. Disebutkan dalam hadits Khabbab bin Art, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ أَوْ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ
 “Demi Allah, Dia akan menyempurnakan agama ini sehingga orang yang berkendaraan melakukan perjalanan dari Shan’a ke Hadhramaut tidak takut selain kepada Allah, atau khawatir srigala terhadap kambingnya.” (Hr. Bukhari) 
12. Mengetahui hakikat kebatilan dan tidak tertipu olehnya
Di dalam firman Allah Azza wa Jalla,
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ
“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri.” (Qs. Ali Imran: 196)
Terdapat hiburan bagi kaum mukmin dan peneguhan untuk mereka. Dan dalam firman Allah Azza wa Jalla,
كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَال
“Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (Qs. Ar Ra’d: 17)
Terdapat pelajaran agar tidak takut terhadap kebatilan serta menyerah kepadanya.
13. Memiliki akhlak yang dapat membantu untuk tetap istiqamah
Di antara akhlak itu, pokoknya adalah sabar. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyatakan, bahwa tidak ada pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran. Dan kesabaran yang paling kuat adalah pada benturan pertama.
Ibnul Jauziy rahimahullah berkata, “Aku melihat ada orang tua yang usianya mendekati delapan puluh tahun, dimana sebelumnya ia biasa menjaga shalat berjamaah, namun kemudian cucunya meninggal dunia, tetapi ia malah berkata, “Tidak patut bagi seseorang berdoa lagi, karena Dia tidak akan mengabulkan.” Na’udzubillah min dzalik.
Saat kaum muslimin tertimpa musibah dalam perang Uhud, Allah memberikan pengajaran kepada mereka dengan firman-Nya,
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (165)
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah, "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri," sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Ali Imran: 165)
Kesalahan mereka ketika itu adalah lemahnya mereka, berselisihnya mereka, serta mendurhakai perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah mereka melihat harta di hadapan mereka.
14.  Wasiat orang yang saleh
Saat seorang muslim mendapat ujian untuk membersihkan dirinya atau mengangkat derajatnya termasuk hal yang membantu seseorang tetap istiqamah adalah Allah mengadakan untuknya seorang laki-laki saleh yang menasihatinya dan menguatkannya, sehingga Allah memberikan manfaat dengan nasihat itu dan mengarahkan langkahnya. Nasihat itu biasanya mengandung mengingatkannya kepada Allah, mengingatkan terhadap hari pertemuan dengan-Nya, mengingatkan surga dan neraka-Nya.
Imam Ahmad pernah dibawa kepada Al Ma’mum dalam keadaan terbelenggu, dimana sebelumnya ia telah diancam dengan ancaman yang keras, sehingga seorang pelayan berkata kepada Imam Ahmad, “Wahai Abu Abdillah, terasa berat bagiku ketika Al Ma’mum telah menghunus pedangnya yang sebelumnya tidak ia hunus, bahkan ia bersumpah dengan kerabatnya yang bersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bahwa jika engkau tidak memenuhi permintaannya mengatakan Al Qur’an makhluk, maka dia akan membunuhmu dengan pedang itu.” (Al Bidayah wan Nihayah 1/332).
Di saat seperti ini orang-orang yang berpandangan tajam tentu segera mengambil kesempatan menemui imam mereka untuk menguatkannya. Dalam As Siyar karya Imam Adz Dzahabi (11/238) disebutkan, dari Abu Ja’far Al Anbari ia berkata, “Aku diberitahukan saat Imam Ahmad dibawa menghadap Al Ma’mun, maka aku menyeberangi sungai Eufrat, ternyata beliau dalam keadaan duduk di sebuah tempat penginapan, lalu aku memberinya salam, ia berkata, “Wahai Abu Ja’far, engkau tampak kelelahan?” Aku menjawab, “Wahai imam, engkau sekarang adalah pemimpin. Orang-orang ikut kepadamu. Demi Allah, jika engkau memenuhi permintaannya mengatakan Al Qur’an adalah makhluk, maka orang-orang akan menyatakan demikian. Namun jika engkau tidak memenuhi permintaannya, maka orang-orang tidak akan menyatakan demikian. Meskipun begitu, jika orang itu tidak membunuhmu, maka engkau akan mati, dan itu adalah hal yang pasti. Maka bertakwalah kepada Allah dan jangan penuhi permintaannya.” Imam Ahmad pun menangis dan berkata, “Masya Allah.” Lalu berkata, “Wahai Abu Ja’far, ulangi lagi kata-kata itu.” Aku pun mengulangi lagi, dan ia hanya berkata, “Masya Allah.”
Dalam Al Bidayah wan Nihayah disebutkan, “Seorang Arab badui berkata kepada Imam Ahmad, “Wahai fulan, engkau adalah delegasi manusia, maka jangan mengecewakan mereka. Hari ini engkau adalah imam, maka hindarilah memenuhi permintaan mereka sehingga engkau menanggung dosa mereka pada hari Kiamat. Jika engkau cinta kepada Allah, maka bersabarlah di atas keadaanmu ini, karena tidak ada penghalang antara dirimu dengan surga selain terbunuh.”
Imam Ahmad berkata, “Ucapannya termasuk yang menguatkan pendirianku sehingga aku tidak memenuhi permintaan mereka.” (Al Bidayah wan Nihayah 1/332).
Imam Ahmad pernah berkata tentang seorang pemuda yang ikut merasakan cobaan seperti yang dialaminya, yaitu Muhammad bin Nuh, “Aku tidak pernah melihat seorang yang usianya muda dan muda pula ilmunya namun lebih sabar memegang perintah Allah seperti halnya Muhammad bin Nuh. Aku berharap Allah menutup kehidupannya dengan kebaikan. Suatu hari ia berkata kepadaku, “Wahai Abu Abdillah, bertakwalah kepada Allah! bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya engkat tidak seperti diriku. Engkau adalah orang yang diikuti. Manusia melihat dirimu karena keadaanmu, maka bertakwalah kepada Allah dan tetaplah di atas perintah Allah.” Ia kemudian meninggal dunia, aku pun menyalatkannya dan menguburkannya.” (Siyar A’lamin Nubala 11/242).
Maka carilah wasiat orang saleh! Carilah wasiat itu sebelum engkau berangkat safar! Carilah wasiat itu di saat engkau mendapat cobaan. Carilah wasiat itu di saat engkau mendapat jabatan atau mendapatkan harta dan kekayaan.
Bersambung…
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji: Wasa’iluts Tsabat ala Dinillah (Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid), Maktabah Syamilah versi 3.35, dll.

Kiat Istiqamah di Jalan Allah (2)

بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫الثبات على الحق‬‎
Kiat Istiqamah di Jalan Allah (2)
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut lanjutan pembahasan tentang kiat istiqamah di jalan Allah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
3. Mempelajari kisah para nabi agar dapat meneladani dan mengikuti jejak mereka
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan semua kisah rasul-rasul yang Kami ceritakan kepadamu adalah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Huud: 120)
Perhatikan firman Allah Ta’ala berikut,
فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ (61) قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (62) فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ (63) وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ (64) وَأَنْجَيْنَا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ (65) ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ (66) إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (67) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (68)
“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul"--Musa menjawab, "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku."--Lalu Kami wahyukan kepada Musa, "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu." Maka terbelahlah lautan itu dan setiap belahan seperti gunung yang besar.--Di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain--Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya.--Lalu Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.--Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda yang besar (mukjizat), akan tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.--Dan sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (Qs. Asy Syu’ara: 61-68)
Demikian juga coba perhatikan firman Allah Ta’ala mengisahkan tentang para pesihir Fir’aun yang beriman,
قَالَ آمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَى (71) قَالُوا لَنْ نُؤْثِرَكَ عَلَى مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِي هَذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (72)
Fir'aun berkata, "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Maka aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, dan aku akan menyalibmu pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya."--Mereka berkata, "Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada Kami dan dari Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.” (Qs. Thaahaa: 71-72)
Bukankah semua kisah itu meneguhkan hati dan pendirian seorang mukmin di hadapan badai fitnah dan cobaan?!
Belum lagi kisah orang yang beriman di surat Yasin, orang mukmin dari keluarga fir’aun di surat Al Mu’min, dan kisah kaum mukmin yang dimasukkan ke dalam parit yang berisi api yang menyala di surat Al Buruj.
4. Berdoa meminta kepada Allah Azza wa Jalla keteguhan dari-Nya
Hati manusia di antara dua jari dari jari-jari Allah, dimana Dia mudah membalikkannya jika Dia kehendaki. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ»
“Sesungguhnya hati anak Adam semuanya di antara dua jari dari jari-jari Allah Ar Rahman seperti satu hati, Dia mengarahkannya kepada yang Dia kehendaki.”
Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdoa,
«اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ»
“Ya Allah yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hati kami untuk berada di atas ketaatan kepada-Mu.” (Hr. Ahmad dan Muslim)
Ummu Salamah pernah berkata, “Doa yang paling sering dipanjatkan Beliau adalah, “Yaa Muqallibal quluub tsabbit qalbii ‘alaa diinik” (artinya: Wahai Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu), maka aku berkata, “Wahai Rasullah, alangkah seringnya engkau berdoa “Yaa Muqallibal quluub tsabbit qalbii ‘alaa diinik”? Beliau menjawab,
يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ
“Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada satu pun manusia kecuali hatinya di antara dua jari di antara jari-jari Allah. Barang siapa yang Dia kehendaki, maka Dia meluruskannya dan barang siapa yang Dia kehendaki, maka Dia menyimpangkannya.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 4801)
Orang-orang yang diteguhkan hatinya oleh Allah dan dijaga dari fitnah senantiasa bersandar dan memohon kepada Allah agar terjaga dari fitnah dan kesesatan, dan mereka tidak bersandar kepada diri mereka. Oleh karenanya, doa mereka sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 8 adalah,
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
"Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)."
5. Berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Qs. Al Anfaal: 45)
Dalam ayat di atas, Allah menjadikan dzikrullah termasuk faktor terbesar yang membantu seseorang tetap sabar di atas jihad.
Coba perhatikan kisah yusuf alaihis salam saat ia digoda oleh wanita yang berkedudukan dan cantik, lalu Yusuf berdzikr mengucapkan ‘Ma’adzallah’ (artinya: Aku berlindung kepada Allah) lihat Qs. Yusuf ayat 23, maka gelombang syhawat pun reda di hadapan benteng dzikir yang kokoh.
Demikianlah faidah dari berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla.
6. Berusaha menempuh jalan yang hak (benar)
Jalan yang hak adalah jalan Ahlussunnah wal Jamaah, jalan golongan yang selamat; yang akidah dan manhaj(cara beragama)nya lurus sesuai akidah dan manhaj Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Qs. An Nisaa’: 115)
Jalan orang-orang mukmin terdepannya adalah para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Oleh karena itu, hendaknya seseorang mempelajari akidah dan manhaj (cara beragama) Rasul shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu anhum. Silahkan baca akidah dan manhaj mereka di sini: http://wawasankeislaman.blogspot.co.id/p/aqidah_5.html
7. Menghadiri majlis-majlis ilmu
Di majlis ilmu disampaikan kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang merupakan sarana terbesar untuk istiqamah (lihat Qs. Ali Imran: 101), diingatkan, disadarkan, dan dapat berkumpul dengan orang-orang saleh yang membantu kita untuk istiqamah.
8. Yakin terhadap jalan yang kita tempuh (jalan yang lurus; yang terdiri dari ilmu dan amal)  
Semakin yakin terhadap jalan yang kita tempuh, maka keistiqamahan semakin kuat. Agar rasa yakin kita semakin kuat perhatikanlah hal-hal berikut:
Pertama, jalan yang kita lalui ini, bukanlah jalan yang baru, bahkan merupakan jalan yang sudah lama yang ditempuh oleh para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.
Kedua, orang yang menempuh jalan itu adalah orang-orang plihan. Sebagaimana Allah telah memilih para nabi, maka orang-orang saleh mendapat bagian daripadanya, karena mereka yang mewarisi ilmu dan amal para nabi. Allah Azza wa Jalla berfirman,
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى
"Segala puji bagi Allah dan Kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.” (Qs. An Naml: 59)
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا
“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami,” (Qs. Fathir: 32)
Ketiga, coba hadirkan perasaan, bagaimana jadinya jika engkau sebagai sebuah batu, hewan, orang kafir, penyeru kesesatan, dan sebagainya? Maka bersyukurlah atas nikmat yang besar ini, yakni Allah menjadikanmu sebagai da’i Ahlussunnah yang menyeru kepada kebaikan.
Bersambung…
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji: Wasa’iluts Tsabat ala Dinillah (Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid), Maktabah Syamilah versi 3.35, dll.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger