Huru-Hara Hari Kiamat

Minggu, 08 Oktober 2017
بسم الله الرحمن الرحيم
Huru-Hara Hari Kiamat
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:
Berikut pembahasan huru-hara hari Kiamat sebagaimana yang diterangkan Ahli Ilmu yang mereka simpulkan dari Al Qur’an dan As Sunnah, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Pengantar
Imam Syathibi rahimahullah berkata, "Berbahagialah orang yang meninggal dunia dalam keadaan dosa-dosanya ikut wafat meninggalkannya,  dan kesengsaraan yang panjang bagi orang yang meninggal dunia, sedangkan dosa-dosanya masih tetap menemaninya. Oleh karena itu selama seratus atau dua ratus tahun dia disiksa di kubur dan terus diminta pertanggungjawaban hingga habis dosa-dosanya. Allah Ta'ala berfirman,
وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ
"Kami catat apa yang mereka kerjakan dan sisa-sisa peninggalan mereka." (Terj. Qs.  Yasin : 12)
Maksudnya Kami catat pula sisa-sisa peninggalan amal mereka sebagaimana Kami catat semua yang mereka kerjakan." (Al Muwafaqat 1/361)
Sebagian kaum salaf (generasi pertama Islam) berkata, “Kalau bukan karena musibah, tentu kita akan mendatangi hari Kiamat dalam keadaan bangkrut.” (Uddatush Shabirin karya Ibnul Qayyim hal. 147)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Seorang hamba tidak masuk ke dalam surga kecuali setelah dibersihkan dari dosa. Pembersihan dirinya ini jika di dunia terdiri dari empat perkara, yaitu: (1) taubat, (2) istighfar, (3) kebaikan yang dapat menghapuskan dosa, (4) musibah yang memang menghilangkan kesalahan. Jika keempat ini tidak membuatnya bersih dari dosa, maka ia dibersihkan di alam barzakh dengan tiga perkara ini, yaitu: (1) shalat kaum mukmin untuknya, permintaan ampunan dari mereka, serta syafaat mereka, (2) fitnah kubur, (3) hadiah amal dari kaum muslimin. Jika ketiga hal ini tidak juga membersihkannya dari dosa, maka ia dibersihkan di mauqif (tempat pemberhentian di padang mahsyar) dengan tiga hal, yaitu: (1) peristiwa menegangkan dan mengerikan pada hari Kiamat, (2) syafaat dari orang-orang yang dizinkan memberikan syafaat, (3) mendapatkan maaf dari Allah Azza wa Jalla. Jika ketiga hal ini juga tidak membersihannya dari dosa, maka neraka akan menjadi pembersihnya dari dosa dan kesalahannya. Dan tinggalnya dia di neraka sesuai banyaknya dosa dan sedikitnya, besar dan kecilnya, serta berdasarkan akumulasi(rata-rata)nya. Jika kesalahannya telah dibersihkan, maka ia pun menjadi bersih dan baik, lalu dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.” (Madarijus Salikin 1/463-467).
Kebenaran hari kebangkitan
Kebenaran hari kiamat atau hari kebangkitan didukung oleh dalil naqli (wahyu) maupun aqli (akal).
Dalil naqli yang menerangkan adanya hari Kiamat sangat banyak, bahkan seluruh kitab-kitab samawi (yang diturunkan Allah Azza wa Jalla) menyatakan adanya hari kebangkitan.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, "Bahkan, demi Tuhanku, kamu benar-benar akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. At Taghabun: 7)
Ayat ini menunjukkan, bahwa orang yang mengingkari hari kebangkitan adalah orang yang kafir.
Allah Azza wa Jalla juga berfirman,
إِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (Qs. Ghaafir: 59)
وَهُوَ الَّذِي يَبْدأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ
“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.” (Qs. Ar Ruum: 27)
Jika Allah sanggup menciptakan manusia pertama kali, sedangkan sebelumnya mereka tidak ada, tentu menghidupkan lagi setelah mereka mati lebih mudah bagi-Nya, karena sebelumnya mereka sudah ada.
Dia juga berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan di antara tanda-tanda-(kekuasaan)-Nya (adalah) bahwa engkau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya, pasti dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Fushshilat: 39)
Kita dapat menyaksikan, bagaimana sebutir biji yang kering dan telah mati, kemudian kita lempar ke tanah yang subur, maka lama-kelamaan biji itu hidup kembali, mengeluarkan tunas dan berkembang. Ini menunjukkan, bahwa kebangkitan itu sejalan dengan akal sehat dan bukan sesuatu yang mustahil.
Allah Azza wa Jalla juga berfirman,
لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. Ghaafir: 57)
Jika Allah sanggup menciptakan langit dan bumi yang sangat besar, apalagi menciptakan manusia.
Di samping itu, kebijaksanaan dan keadilan Allah menghendaki untuk megadakan hari Kiamat, agar diputuskan permasalahan yang diperselisihkan manusia, agar orang-orang yang zalim dan menganiaya manusia diberikan balasan, agar orang yang terzalimi mengambil haknya, agar orang-orang yang beriman dan beramal saleh diberi pahala, dsb. Jika tidak ada hari Kiamat atau hari pembalasan, sungguh kasihan sekali mereka yang terzalimi, dan sungguh nyaman sekali orang yang menzalimi, seperi Fir’aun dan pengikutnya yang tega menindas rakyatnya, bahkan sampai menyembelih anak-anak laki-laki Bani Israil.
Urutan Peristiwa Yang Terjadi Pada Hari Kiamat
Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullah menjelaskan, bahwa urutan peristiwa yang akan terjadi pada hari Kiamat yang ditetapkan Ahli Ilmu adalah sebagai berikut:
1. Apabila manusia dibangkitkan dari kubur, maka mereka mendatangi padang mahsyar dan berdiri di sana dalam waktu yang lama; dimana mereka merasakan penderitaan dan kahausan yang sangat, di samping hati mereka penuh ketakutan karena lamanya mereka di tempat itu dan mereka yakin akan dihisab, serta meyakini bahwa amal mereka akan segera diberikan pembalasan oleh Allah Azza wa Jalla.
2. Saat manusia berdiri lama di padang mahsyar, maka Allah Azza wa Jalla menampakkan kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telaganya yang akan didatangi manusia. Ketika itu, telaganya berada di tempat dihisabnya manusia saat mereka berdiri menghadap Allah Rabbul alamin dalam sehari yang lamanya 50.000 tahun.
Barang siapa yang meninggal dunia di atas sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam; tidak mengubahnya dan tidak mengada-ada, maka dia dapat mendatangi telaga Beliau dan diberi minum daripadanya, sehingga awal ia memperoleh keamanan adalah saat dirinya diberi minum dari telaga Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Setelah itu, telaga miliki masing-masing para nabi ditampakkan, lalu orang-orang yang saleh dari kalangan umatnya meminum airnya.
3. Manusia terus berdiri di padang mahsyar, hingga tiba saatnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mendapatkan izin untuk memberikan syafaat uzhma (agung); Beliau meminta kepada Allah agar hisab seluruh manusia disegerakan. Dalam hadits yang panjang dan masyhur disebutkan, bahwa manusia mendatangi Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, dst. Hingga akhirnya mereka mendatangi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan berkata kepada Beliau, “Wahai Muhammad…dst.” Mereka sebutkan keadaan mereka pada saat itu dan meminta Beliau menghadap Allah agar Dia mengangkat penderitaan yang menimpa manusia ketika itu dengan mempercepat hisab, maka Beliau menerangkan, bahwa dirinya yang berhak untuk melakukan hal itu, lalu Beliau datang ke dekat Arsyi (singgasana) Allah kemudian tersungkur sujud sambil memuji Allah dengan berbagai pujian yang diajarkan-Nya, lalu dikatakan kepada Beliau, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, engkau akan diberi, dan berilah syafaat, engkau akan diizinkan.” (Hr. Bukhari dan Muslim).
Demikianlah Syafaat Uzhma (agung) yang diberikan kepada Beliau agar disegerakan proses hisab.
4. Setelah itu diperlihatkan amal-amal manusia.
5. Seusai diperlihatkan amal-amal manusia, maka dilakukan proses hisab.
6. Setelah proses hisab pertama, maka catatan amal betebaran, dan hisab pertama ini bagian dari diperlihatkan amal-amal manusia, yang di dalamnya terdapat tanya-jawab dan pengajuan udzur, lalu catatan amal pun bertebaran. Kemudian golongan kanan (yang memperoleh kebahagiaan) menerima catatan amal dengan tangan kanannya, sedangkan golongan kiri (yang memperoleh kesengsaraan) menerima catatan amal dengan tangan kirinya, lalu dibacanya catatan amal itu.
7. Seusai membaca catatan amal, maka ada hisab lagi untuk membatalkan udzur yang diajukan serta penegakan hujjah dengan membaca langsung catatan amal itu.
8. Selanjutnya disiapkan timbangan, lalu ditimbanglah semua yang telah disebutkan tadi.
9. Setelah dilakukan penimbangan amal, maka manusia terbagi ke beberapa kelompok dan jenis; dimana setiap yang sejenis akan dikumpulkan bersama. Kemudian diangkat bendera para nabi; bendera Nabi Muhammad shallallahu alahi wa sallam, bendera Nabi Ibrahim alaihis salam, bendera Nabi Musa alaihis salam, dst. Ketika itu, manusia mengikuti bendera yang ada sesuai jenis dan amalnya.
Orang-orang zalim dan kafir akan dikumpulkan secara berpasang-pasangan sebagaimana firman Allah Ta’ala,
احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ (22) مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ (23)
(kepada Malaikat diperintahkan), "Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah,--selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (Terj. Qs. Ash Shaaffaat: 22-23)
Oleh karena itu, tokoh-tokoh kaum musyrk dikumpulkan bersama tokoh-tokohnya, orang-orang zalim bersama orang-orang zalim, orang-orang yang mengingkari kebangkitan bersama orang-orang yang mengingkari kebangkitan, dst.
10. Setelah itu, Allah Azza wa Jalla mengarahkan orang-orang zalim ke neraka Jahannam, wal iyadz billah, sedangkan manusia berjalan dengan cahaya yang diberikan kepada mereka, lalu umat ini berjalan, namun di tengah-tengah mereka ada kaum munafik. Ketika mereka berjalan dengan cahaya mereka, maka ditegakkan dinding pemisah. Hal ini sebagaimana firman Allah Azzaa wa Jalla,
يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ (13) يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (14)
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, "Tunggulah Kami supaya Kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu." dikatakan (kepada mereka), "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)." Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.--Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata, "Bukankah Kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" Mereka menjawab, "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran Kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang sangat penipu.” (Terj. Qs. Al Hadid: 13-14)
Allah memberikan cahaya kepada orang-orang mukmin sehingga mereka dapat melihat jalan ke shirath (jembatan yang dibentangkan di atas neraka Jahannam), tetapi kaum munafik tidak diberikan cahaya sehingga mereka bersama kaum kafir berjatuhan ke neraka; mereka terus berjalan padahal di hadapan mereka ada neraka Jahannam, wal ‘iyadz billah.
11. Selanjutnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam datang dan berada di atas shirath, Beliau meminta kepada Allah Azza wa Jallaa kebaikan untuk dirinya dan umatnya, Beliau berdoa, “Ya Allah, selamatanlah, selamatkanlah! Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah!”
Maka Beliau melewati shirath, demikian pula umatnya. Masing-masing melewati shirath sesuai amalnya, di samping itu cahayanya juga ikut bersamanya sesuai amalnya. Orang yang diampuni Allah Azza wa Jalla dapat melintasinya, ada pula yang terjatuh ke neraka padahal ia termasuk barisan muwahhid (orang yang mengesakan Allah) ketika Allah berkehendak untuk menyiksanya karena dosa-dosanya.
Seusai mereka melintasi neraka, maka mereka berkumpul di halaman surga, yakni tanah lapang yang sudah disediakan Allah Azza wa Jalla agar orang-orang beriman saling mengqishas satu sama lain dan untuk menyingkirkan rasa benci agar mereka masuk surga dalam keadaan tidak membenci satu sama lain.
12. Kemudian tibalah saatnya mereka masuk ke surga. Yang pertama memasukinya adalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, kemudian diikuti oleh kaum fakir dari kalangan Muhajirin, lalu kaum fakir dari kalangan Anshar, selanjutnya kaum fakir umat ini. Sedangkan orang-orang kaya ditunda karena hisab yang terjadi antara mereka dengan orang lain, dan karena dihisabnya mereka di atas hal itu.
Diterjemahkan dari kitab Syarh Ath Thahawiyyah hal. 542 (menggunakan penomoran Maktabah Syamilah) karya Syaikh Shalih Alusy Syaikh oleh Marwan Hadidi dengan sedikit penyesuaian.
Khatimah
Suatu ketika seseorang menuliskan surat kepada sahabat yang mulia, Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, "Tolong tuliskan wasiat kepadaku yang mencakup seluruh ilmu!" Ibnu Umar pun menulis, "Sesungguhnya ilmu itu banyak, akan tetapi jika engkau mampu menghadap Allah dalam keadaan tanpa membawa dosa menumpahkan darah manusia, perutmu kosong dari harta mereka (yang bukan hakmu), lisanmu bersih dari menodai kehormatan mereka, dan tetap di atas jamaah kaum muslimin, maka lakukanlah." Wassalam, (Siyar A'lamin Nubala 3/222)
Wallahu a’lam wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alaa alihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa

Terjemah Umdatul Ahkam (19)

Senin, 02 Oktober 2017
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫الإعتكاف في العشر الأواخر من رمضان‬‎
Terjemah Umdatul Ahkam (19)
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:
Berikut lanjutan terjemah Umdatul Ahkam karya Imam Abdul Ghani Al Maqdisi (541 H – 600 H) rahimahullah. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan kitab ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Bab Malam Lailatul Qadr 
211 - عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما: ((أَنَّ رِجَالاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم - أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ. فَقَالَ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم -: أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ. فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ)) .
211. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, bahwa beberapa orang sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam diperlihatkan malam Lailatul Qadr dalam mimpi yang terjadi pada tujuh malam terakhir, lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Aku mengetahui mimpi kalian yang bertepatan pada tujuh malam terakhir. Barang siapa yang mencarinya, maka carilah pada tujuh malam terakhir.”
212 - عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: ((تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ)) .
212. Dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Carilah malam Lailatul Qadr pada malam ganjil dari sepuluh terakhir (bulan Ramadhan).”
213 - عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ - رضي الله عنه -: ((أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الأَوْسَطِ مِنْ رَمَضَانَ. فَاعْتَكَفَ عَاماً , حَتَّى إذَا كَانَتْ لَيْلَةُ إحْدَى وَعِشْرِينَ - وَهِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي يَخْرُجُ مِنْ صَبِيحَتِهَا مِنْ اعْتِكَافِهِ - قَالَ: مَنْ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفْ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ فَقَدْ أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ. ثُمَّ أُنْسِيتُهَا , وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ مِنْ صَبِيحَتِهَا. فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ. وَالْتَمِسُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ. فَمَطَرَتِ السَّمَاءُ تِلْكَ اللَّيْلَةِ. وَكَانَ الْمَسْجِدُ عَلَى عَرِيشٍ. فَوَكَفَ الْمَسْجِدُ , فَأَبْصَرَتْ عَيْنَايَ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - وَعَلَى جَبْهَتِهِ أَثَرُ الْمَاءِ وَالطِّينِ مِنْ صُبْحِ إحْدَى وَعِشْرِينَ)) .
213. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh pertengahan dari bulan Ramadhan. Pada suatu ketika Beliau beri’tikaf, sehingga ketika tiba malam kedua puluh satu –yaitu malam dimana Beliau keluar dari I’tikafnya-, Beliau bersabda, “Barang siapa yang mau beri’tikaf bersamaku, maka beri’tikaflah pada sepuluh terakhir. Aku telah diperlihatkan malam Lailatul Qadr, lalu aku melupakannya. Ketika itu aku melihat diriku (dalam mimpi) sujud di tanah yang basah pada pagi harinya. Oleh karena itu, carilah malam Lailatul Qadr pada sepuluh terakhir (bulan Ramadhan) dan carilah ada setiap malam yang ganjil,” maka di malam hari hujan pun turun, saat itu masjid Beliau beratapkan pelepah kurma, dan masjid pun bocor. Aku pun memandang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedangkan di dahinya ada sisa air dan tanah di waktu pagi hari kedua puluh satu.”
Bab I’tikaf
214 - عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها: ((أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ , حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ. ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ بَعْدَهُ)). وَفِي لَفْظٍ ((كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ. فَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ جَاءَ مَكَانَهُ الَّذِي اعْتَكَفَ فِيهِ)) .
214. Dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan sampai Allah Azza wa Jalla mewafatkannya, lalu istri-istrinya beri’tikaf setelahnya.”
Dalam sebuah lafaz disebutkan, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beri’tikaf pada setiap bulan Ramadhan. Seusai shalat Subuh, maka Beliau mendatangi tempat I’tikafnya.”
215 - عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها: ((أَنَّهَا كَانَتْ تُرَجِّلُ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - وَهِيَ حَائِضٌ , وَهُوَ مُعْتَكِفٌ فِي الْمَسْجِدِ. وَهِيَ فِي حُجْرَتِهَا: يُنَاوِلُهَا رَأْسَهُ)) .
وَفِي رِوَايَةٍ: ((وَكَانَ لا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إلاَّ لِحَاجَةِ الإِنْسَانِ)) .
وَفِي رِوَايَةٍ أَنَّ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ «إنْ كُنْتُ لأَدْخُلُ الْبَيْتَ لِلْحَاجَةِ وَالْمَرِيضُ فِيهِ. فَمَا أَسْأَلُ عَنْهُ إلاَّ وَأَنَا مَارَّةٌ»
215. Dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa ia menyisirkan rambut Nabi shallallahu alaihi wa sallam saat Beliau ber’itikaf di masjid, sedangkan Aisyah di kamarnya. Ketika itu Beliau menyodorkan kepalanya kepada Aisyah.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Beliau tidaklah pulang ke rumah kecuali karena ada hajat seperti halnya manusia yang lain (buang air).”
Dalam sebuah riwayat juga disebutkan, bahwa Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Aku hanyalah masuk ke rumah karena suatu hajat, dan jika di jalan (yang  kulewati) ada seorang yang sakit (di rumahnya), maka aku tidak bertanya tentangnya kecuali ketika hendak kembali.”
216 - عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ - رضي الله عنه - قَالَ: قُلْتُ: ((يَا رَسُولَ اللَّهِ , إنِّي كُنْتُ نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً)) - وَفِي رِوَايَةٍ: ((يَوْماً - فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ. قَالَ فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ)) وَلَمْ يَذْكُرْ بَعْضُ الرُّوَاةِ يَوْماً ولا لَيْلَةً.
 216. Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, aku pernah bernadzar di zaman Jahiliyyah ntuk beri’tikaf semalam.” Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Sehari di Masjidil Haram.” Beliau menjawab, “Penuhilah nadzarmu.” Sebagian rawi ada yang tidak menyebut sehari-semalam.
217 - عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ رضي الله عنها قَالَتْ: ((كَانَ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - مُعْتَكِفًا. فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلاً. فَحَدَّثْتُهُ , ثُمَّ قُمْتُ لأَنْقَلِبَ , فَقَامَ مَعِي لِيَقْلِبَنِي - وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِي دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ - فَمَرَّ رَجُلانِ مِنْ الأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَسْرَعَا. فَقَالَ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم -: عَلَى رِسْلِكُمَا. إنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ. فَقَالا: سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ: إنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنْ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ. وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَرّاً- أَوْ قَالَ شَيْئاً)) .
وَفِي رِوَايَةٍ ((أَنَّهَا جَاءَتْ تَزُورُهُ فِي اعْتِكَافِهِ فِي الْمَسْجِدِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ. فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً. ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ. فَقَامَ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - مَعَهَا يَقْلِبُهَا , حَتَّى إذَا بَلَغَتْ بَابَ الْمَسْجِدِ عِنْدَ بَابِ أُمِّ سَلَمَةَ)) . ثُمَّ ذَكَرَهُ بِمَعْنَاهُ.

 217. Dari Shafiyyah binti Huyay radhiyallahu anha ia berkata, “Suatu ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam beri’tikaf, lalu aku mendatanginya di malam hari dan berbicara dengan Beliau, kemudian aku bangun untuk pulang, lalu Beliau ikut bangun untuk mengantarkanku pulang. Saat itu tempat tinggal Shafiyyah di perkampungan Usamah bin Zaid, lalu dua orang Anshar lewat, dan saat keduanya melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka keduanya pergi dengan segera, lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Pelan-pelan, sesungguhnya aku bersama Shafiyyah.” Maka keduanya berkata, “Subhaanallah, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya setan masuk melalui peredaraan darah anak cucu Adam, dan aku khawatir dia memasukkan keburukan ke dalam hati kalian berdua, atau menyampaikan sesuatu.”
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Shafiyyah mengunjungi Beliau pada saat Beliau beri’tikaf di masjid pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan, lalu berbicara sesaat di sisi Beliau, kemudian bangun untuk pulang, lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengantarnya pulang, sehingga ketika sampai di pintu masjid di dekat pintu Ummu Salamah…dst.”
KITAB HAJJI
Bab Miqat-Miqat (Tempat atau Waktu Memulai Ihram)
218 - عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما: ((أَنَّ رَسُولَ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - وَقَّتَ لأَهْلِ الْمَدِينَةِ: ذَا الْحُلَيْفَةِ. وَلأَهْلِ الشَّامِ: الْجُحْفَةَ. وَلأَهْلِ نَجْدٍ: قَرْنَ الْمَنَازِلِ. وَلأَهْلِ الْيَمَنِ: يَلَمْلَمَ. هُنَّ لَهُمْ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ , مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ أَوْ الْعُمْرَةَ. وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ: فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ , حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ)) .
218. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menentukan miqat penduduk Madinah di Dzulhulaifah, penduduk Syam di Juhfah, penduduk Nejed di Qarnul Manazil, penduduk Yaman di Yalamlam. Itu semua untuk mereka dan untuk orang-orang yang datang melewatinya yang bukan termasuk penduduknya bagi yang ingin haji atau umrah. Jika di bawah itu, maka dari tempat kediamannya, sehingga penduduk Mekkah dari Mekkah.
Catatan:
Dzulhulaifah adalah miqat penduduk Madinah, sekarang disebut Abyar Ali, jauhnya dari Mekkah kurang lebih 430 km.
Juhfah adalah miqat penduduk Mesir, Syam, dan Maghrib. Karena Juhfah sudah roboh, maka orang-orang berumrah dari sebelumnya, yaitu Rabigh, yang jauhnya dari Mekkah kurang lebih 201 km.
Yalamlam adalah miqat penduduk Yaman, Jawa, India, dan Cina, jauhnya dari Mekkah kurang lebih 80 km.
Qarnul Manazil adalah miqat penduduk Thaif, Nejed, Nejed Yaman, dan Nejed Hijaz, sekarang disebut As Sailul Kabir, jauhnya dari Mekkah kurang lebih 80 km.
Dzatu Irq adalah miqat penduduk Irak, Iran, dan mereka yang datang dari arah timur. Sekarang disebut Adh Dharibah, jauhnya dari Mekkah kurang lebih 80 km.
219 - عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: ((يُهِلُّ أَهْلُ الْمَدِينَةِ مِنْ ذِي الْحُلَيْفَةِ , وَأَهْلُ الشَّامِ مِنْ الْجُحْفَةِ , وَأَهْلُ نَجْدٍ مِنْ قَرْنٍ)) . قَالَ: وَبَلَغَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: ((وَيُهِلُّ أَهْلُ الْيَمَنِ مِنْ يَلَمْلَمَ)) .
219. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa salla bersabda, “Penduduk Madinah bertalbiyah (memulai ihram) dari Dzuhulaifah, penduduk Syam dari Juhfah, penduduk Nejed dari Qarn.” Ia juga berkata, “Sampai berita kepadaku, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Penduduk Yaman bertalbiyah dari Yalamlam.”
Bersambung…
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallam
Penerjemah:
Marwan bin Musa

Targhib dan Tarhib Ramadhan

Selasa, 26 September 2017
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫فضل صيام رمضان‬‎
Targhib dan Tarhib Ramadhan
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut hadits-hadits tentang keutamaan berpuasa Ramadhan, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Keutamaan Puasa
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُـ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، وَلاَ يَجْهَلْ ، فَإِنْ شَاتَمَهُ أَحَدٌ ، أَوْ قَاتَلَهُ ، فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، مَرَّتَيْنِ ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، وَ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ "
1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, “Semua amal anak Adam adalah untuknya selain puasa, puasa itu untuk-Ku[i] dan Aku-lah yang akan membalasanya[ii]." Puasa itu perisai[iii], maka jika kamu sedang berpuasa, janganlah berkata rafats[iv], berteriak-teriak dan bersikap bodoh. Jika ada yang memaki atau mengajak bertengkar, katakanlah, “Saya sedang puasa” 2 x, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi (Allah) yang nyawa Muhammad di Tangan-Nya, sungguh bau mulut  orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah pada hari Kiamat daripada aroma kesturi. Bagi orang  yang berpuasa itu ada dua kegembiraan; kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya dengan puasanya itu.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, dan Nasa’i, dan lain-lain yang maknanya sama namun lafaznya berbeda)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي " " لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ "
2. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Semua amal anak Adam akan dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas sepuluh semisalnya sampai tujuh ratus kali lipat.” Allah Azza wa Jalla berfirman, “Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku. Akulah yang akan membalasnya sendiri; dia meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bagi orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan; yaitu ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Tuhannya.” (Hr. Muslim)
عَنْ سَهْلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " إِنَّ فِي الجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُونَ؟ فَيَقُومُونَ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ "
3. Dari Sahl radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat pintu yang bernama Ar Rayyan, dimana melalui pintu itu orang-orang yang berpuasa akan masuk (ke surga) pada hari Kiamat, tidak ada yang masuk lewat pintu itu selain mereka, akan dikatakan, “Di mana orang-orang yang berpuasa?” Lalu mereka berdiri, hanya mereka saja yang masuk. Saat mereka telah memasukinya, maka pintu pun ditutup, sehingga tidak ada lagi yang memasukinya.” (Hr. Bukhari, Muslim, Nasa’i, dan Tirmidzi. Ia (Tirmidzi) menambahkan, “Barang siapa yang memasukinya, maka tidak akan haus selama-lamanya.”)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " الصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَحِصْنٌ حَصِينٌ مِنَ النَّارِ "
4. Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Puasa adalah perisai dan benteng yang melindungi seseorang dari neraka.” (Hr. Ahmad dengan isnad yang hasan, dan Baihaqi)
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ "، قَالَ: " فَيُشَفَّعَانِ "
5. Dari Abdullah bin Amr, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Puasa dan Al Qur’an akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari Kiamat. Puasa akan berkata, “Ya Rabbi, aku telah mencegahnya dari makan dan mendatangi syahwatnya di siang hari, maka izinkan aku memberikan syafaat. Al Qur’an juga berkata, “Aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka izinkan aku memberikan syafaat.” Maka keduanya pun diberi izin.” (Hr. Ahmad, Thabrani dalam Al Kabir, para perawinya adalah para perawi yang dipakai hujjah dalam kitab shahih. Ibnu Abi Dunya dan lainnya juga meriwayatkan dalam kitab Al Juw’ dengan isnad hasan, demikian pula Hakim, ia berkata, “Shahih sesuai syarat Muslim.” Dan dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani)
Keutamaan Berpuasa Ketika Berjihad Fi Sabilillah
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا»
6. Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah (atau karena Allah), maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ جَعَلَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ خَنْدَقًا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ»
7. Dari Abu Darda radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Barang siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, maka Allah akan mengadakan antara dia dengan neraka parit pemisah sebagaimana antara langit dan bumi.” (Hr. Thabrani dalam Al Awsath dan Ash Shaghir dengan isnad hasan, dan dinyatakan hasan lighairih oleh Al Albani).
Keutamaan Puasa Ramadhan
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
8. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: «الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ»
9. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Shalat yang lima waktu, shalat Jumat yang satu ke shalat Jumat berikutnya, dan puasa Ramadhan yang satu ke puasa Ramadhan berikutnya akan menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya apabila dia menjauhi dosa-dosa besar.” (Hr. Muslim)
عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «احْضَرُوا الْمِنْبَرَ» فَحَضَرْنَا فَلَمَّا ارْتَقَى دَرَجَةً قَالَ: «آمِينَ» ، فَلَمَّا ارْتَقَى الدَّرَجَةَ الثَّانِيَةَ قَالَ: «آمِينَ» فَلَمَّا ارْتَقَى الدَّرَجَةَ الثَّالِثَةَ قَالَ: «آمِينَ» ، فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدْ سَمِعْنَا مِنْكَ الْيَوْمَ شَيْئًا مَا كُنَّا نَسْمَعُهُ قَالَ: " إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَرَضَ لِي فَقَالَ: بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يَغْفَرْ لَهُ قُلْتُ: آمِينَ، فَلَمَّا رَقِيتُ الثَّانِيَةَ قَالَ: بُعْدًا لِمَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ قُلْتُ: آمِينَ، فَلَمَّا رَقِيتُ الثَّالِثَةَ قَالَ: بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ عِنْدَهُ أَوْ أَحَدُهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ قُلْتُ: آمِينَ
10. Dari Ka’ab bin Ujrah ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Siapkanlah mimbar!” Lalu Kami siapkan. Saat Beliau menaiki tangga, maka Beliau mengucapkan “Amin”, lalu naik tangga kedua Beliau juga mengucapkan “Amin”, dan ketika naik tangga yang ketiga, Beliau juga mengucapkan “Amin”. Saat Beliau turun, kami bertanya, “Wahai Rasulullah, pada hari ini kami mendengar darimu sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Jibril alaihis salam tampak ke hadapanku dan berkata, “Celakalah orang yang berjumpa bulan Ramadhan, namun dosa-dosanya tidak diampuni!” Aku menjawab, “Amin.” Saat aku menaiki tangga kedua, Jibril berkata, “Rugilah orang disebut namamu di sisinya, namun tidak bershalawat kepadamu!” Aku menjawab, “Amin.” Ketika aku naik tangga ketiga, ia berkata, “Celakalah orang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah satunya sudah tua, namun tidak membuatnya masuk surga.” Aku menjawab, “Amin.” (Hr. Hakim, ia berkata, “Shahih isnadnya,” dan disepakati oleh Adz Dzahabi. Syaikh Al Albani menyatakan “Shahih lighairih.”)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»
11. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah Azza wa Jalla mewajibkan kalian berpuasa. Pada bulan itu, pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan yang durhaka dibelenggu. Demi Allah, di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka sungguh ia orang yang malang.” (Hr. Nasa’i, dishahihkan oleh Al Albani)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ "
 12. Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jika tiba malam pertama bulan Ramadhan, maka setan-setan dan jin-jin durhaka dibelenggu (menurut Ibnu Khuzaimah kalimatnya “maka setan-setan durhaka dibelenggu”), pintu-pintu neraka ditutup sehingga tidak ada yang dibuka, dan pintu-pintu surga dibuka sehingga tidak ada yang ditutup. Ketika itu ada yang menyeru, “Wahai orang yang menginginkan kebaikan, datangilah!” Dan wahai orang yang menginginkan keburukan, berhentilah!” Banyak yang dibebaskan oleh Allah dari neraka, dan hal itu terjadi pada setiap malamnya (Hr. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَوْ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ - هُوَ شَكَّ، يَعْنِي الْأَعْمَشَ -، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ لِلَّهِ عُتَقَاءَ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ عَبْدٍ مِنْهُمْ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ "
13. Dari Abu Hurairah atau Abu Sa’id (Al A’masy rawi hadits ini ragu-ragu) ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan oleh-Nya (dari neraka) pada setiap siang dan malam (bulan Ramadhan), dan bagi setiap hamba memiliki doa mustajab.” (Hr. Ahmad, dinyatakan isnadnya shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim oleh pentahqiq Musnad Ahmad cet. Ar Risalah)
Ancaman meninggalkan puasa Ramadhan
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُـ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أَتَانِيْ رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبُعِيْ فَأَتَيَا بِي جَبَلًا وَعْرًا فَقَالاَ اِصْعَدْ فَقُلْتُ إِنِّيْ لاَ أُطِيْقُهُ فَقَالاَ إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِي سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا بِأَصْوَاتٍ شَدِيْدَةٍ قُلْتُ مَا هَذِهِ اْلأَصْوَاتُ قَالُوْا هَذَا عَوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ثُمَّ انْطَلَقَ بِيْ فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلِّقِيْنَ بِعَرَاقِيْبِهِمْ مُشَقَّقَّةً أَشْدَاقُهُمْ تَسِيْلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ مَنْ هَؤُلاَءِ قَالاَ الَّذِيْنَ يُفْطِرُوْنَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ
Abu Umamah Al Bahiliy radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba ada dua orang yang menghampiriku dan memegang  lenganku, kemudian membawaku ke sebuah gunung yang sulit didaki. Keduanya berkata, "Naiklah" aku berkata, "Aku tidak sanggup mendaki." Keduanya berkata, "Kami akan memudahkannya untukmu." Maka aku pun naik. Ketika aku telah berada di tengah gunung tiba-tiba terdengar suara keras. Aku bertanya, "Suara apa ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah jeritan penghuni neraka." Lalu aku diajak berjalan, tiba-tiba aku bertemu dengan beberapa orang yang tergantung dengan urat kakinya, sedangkan rahang mereka robek mengucurkan darah. Aku pun bertanya, "Siapakah mereka?" Keduanya menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum tiba waktunya." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kedua shahihnya, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihut Targhib no. 1005)
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Shahih At Targhib wat Tarhib lil Mundziri (M. Nashiruddin Al Albani), Tuhfatul Ahwadzi (Abul Alaa M. Abdurrahman Al Mubarakfuri), Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.


[i] Dihubungkan kepada Allah adalah idhafat tasyrif yakni menunjukkan kemuliaan puasa di atas amalan yang lain.
[ii] Sampai di sinilah hadits qudsinya, selebihnya hadits nabawi.
[iii] Yakni penghalangnya dari maksiat dan dari api neraka.
[iv] kata-kata jorok yang menjurus ke jima’ atau berkata-kata kotor.

Kiat Mendidik Anak Menjadi Saleh

Sabtu, 23 September 2017
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫كيف نربي أولادنا‬‎
Kiat Mendidik Anak Menjadi Saleh
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut beberapa kiat mendidik anak agar menjadi saleh, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Pengantar
Semua kita tentu menginginkan anaknya menjadi anak yang saleh; anak yang rajin beribadah kepada Allah, berbakti kepada orang tua, dan berakhlak mulia kepada sesama. Akan tetapi untuk mencapai ke arah sana, tidak cukup keinginan di hati tanpa ada usaha dari kita.
Banyak manfaat yang diperoleh orang tua ketika anaknya menjadi anak yang saleh, baik di dunia maupun di akhirat.
Di dunia, anak yang saleh akan berbakti kepada orang tuanya, meringankan bebannya, membahagiakannya, menyejukkan pandangan matanya, dan menafkahinya saat dirinya sudah tidak mampu bekerja dan berusaha, bahkan namanya pun menjadi harum karena kesalehan anaknya.
Adapun di akhirat, maka amal saleh dan doanya akan mengalir sampai kepadanya, permintaan ampunan anaknya juga akan sampai kepadanya sehingga dosa orang tuanya diampuni dan derajatnya semakin tinggi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan meninggikan derajat seorang hamba yang saleh di surga, lalu ia berkata, “Ya Rabbi, darimana aku memperoleh hal ini?” Allah berfirman, “Karena permohonan ampunan anakmu untukmu.” (Hr. Ahmad dari Abu Hurairah, dan dinyatakan hasan oleh pentahqiq Musnad Ahmad cet. Ar Risalah)
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.” (Hr. Muslim dari Abu Hurairah)
Bahkan, ia juga dapat berkumpul bersama anaknya di surga, dan tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagi keluarga muslim, daripada berkumpul bersama di surga yang kekal abadi.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ
“Orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka (di surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal mereka.” (Qs. Ath Thuur: 21)
Kiat Mendidik Anak Menjadi Saleh
Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, bahwa untuk mendidik anak menjadi saleh tidak cukup keinginan di hati, bahkan harus ada usaha dan upaya dari kita, maka berikut ini beberapa upaya yang bisa kita lakukan agar anak kita menjadi anak yang saleh. Usaha tersebut ada yang sebelum seseorang menikah dan ada pula setelah menikah.
Sebelum menikah misalnya ia mencari istri yang salehah, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
تُنْكَحُ المَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita dinikahi seseorang karena empat; karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah yang baik agamanya, niscaya kamu beruntung.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Hal itu, karena istri kita yang akan senantiasa menampingi anak kita. Jika istri kita salehah, maka anak kita insya Allah akan ikut menjadi saleh.
Jika kita mendapatkan istri kita kurang salehah, maka langkah kita adalah mendoakannya dan mendidiknya. Jika kita tidak mampu mendidiknya, maka ajaklah ia untuk menghadiri majlis-majlis ta’lim agar mendapatkan terus taushiyah sehingga ia merubah jalan hidupnya.
Adapun setelah menikah dan memiliki anak, maka kiatnya adalah sebagai berikut:
1. Mendoakannya
Doa memiliki peranan penting dalam mendidik anak menjadi saleh. Lihatlah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika ia berdoa,
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Yaa Rabbi, berikanlah kepadaku anak yang termasuk orang-orang yang saleh.”
Maka Allah mengabulkannya, Dia berfirman,
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang sangat sabar.” (Terj. Qs. Ash Shaaffaat: 101)
Allah memberikan kepadanya anak yang saleh, yaitu Ismail, bahkan dijadikan-Nya seorang nabi.
2. Mendidiknya di atas pendidikan Islam.
Tidak dapat tidak, orang tua harus mengajarkan dan mendidik anak dengan pendidikan Islam. Ia harus memperkenalkan kepada anaknya akidah yang benar, ibadah, adab dan akhlak, dsb. Hal ini sebagaimana Lukman mengajarkan hal itu kepada anaknya, lihat Qs. Luqman ayat 12-18.
Dan ingatlah  ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah  adalah benar-benar  kezaliman  yang besar" --Dan Kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada kedua orang orang tuanya;  ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah  kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. --Dan jika keduanya memaksamu untuk  mempersekutukan dengan  Aku  sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan  baik,  dan  ikutilah jalan   orang   yang  kembali  kepada-Ku,  kemudian  hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.---
Luqman melanjutkan kata-katanya lagi,
"Wahai anakku, sesungguhnya jika ada  seberat  biji  sawi,  dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan  mendatangkannya.  Sesungguhnya Allah Maha Halus  lagi Maha Mengetahui. ---Wahai anakku, dirikanlah shalat, suruhlah  mengerjakan yang   baik   dan cegahlah   dari  perbuatan yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya  yang  demikian itu  termasuk  hal-hal  yang diwajibkan .--Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia dan janganlah  kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Terj. Qs. Luqman: 12-18).
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah mencantumkan kisah Lukman itu melainkan agar dijadikan pelajaran oleh para orang tua, dan agar mereka mengajarkan pendidikan agama kepada anak-anaknya.
Oleh karena itu, kenalkanlah kepada anak-anak kita tentang Allah dan keberkahan-Nya untuk diibadahi, seperti yang tertera di surat Al Fatihah dan surat Al Ikhlas. Kenalkan pula kepada mereka makna Laailaahaillallah dan Muhammad Rasulullah, agama Islam dan tingkatannya (Islam, Iman, dan Ihsan) berikut rukunnya dan penjelasan masing-masingnya. Demikian pula kenalkan kepada mereka Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan ajarkanlah kepada mereka ibadah dan adab serta akhlak yang mulia (silahkan lihat di sini: http://wawasankeislaman.blogspot.co.id/2016/10/ajarkan-tauhid-sejak-dini.html )
Demikian pula hendaknya para orang tua menyuruh anaknya menutup aurat, seperti menyuruh puterinya menutup aurat dan memakai jilbab.
3. Memberikan teladan yang baik
Hendaknya orang tua memberikan teladan yang baik kepada anak-anaknya, karena anak memperhatikan perilaku orang tuanya. Jangan sampai ia memerintahkan anaknya berbuat baik, tetapi dirinya meninggalkannya, atau melarang anaknya berbuat buruk, tetapi dirinya malah mengerjakannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, Padahal kamu membaca kitab? Maka tidakkah kamu berpikir?” (Qs. Al Baqarah: 44)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الَّذِيْ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَ يَنْسَى نَفْسَهُ مَثَلُ الْفَتِيْلَةِ تُضِيء ُلِلنَّاسِ وَ تُحَرِّقُ نَفْسَهَا
“Perumpamaan orang yang mengajar kebaikan kepada manusia namun ia melupakan dirinya sendiri adalah seperti sebuah sumbu, ia menerangi manusia, sedangkan dirinya sendiri terbakar.” (HR. Thabrani dari Abu Barzah dan Jundab, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 5837)
4. Membiasakan anak beribadah kepada Allah Ta’ala
Misalnya adalah membiasakan anak shalat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
مُرُوْا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّلَاةِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي اْلمَضَاجِعِ
“Suruhlah anak-anakmu shalat ketika berumur tujuh tahun, pukullah mereka jika meninggalkannya setelah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya.“ (Hr. Ahmad dan Abu Dawud, dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani)
5. Melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar kepada mereka
Hendaknya seorang ayah tanggap dan tidak membiarkan prilaku buruk yang muncul pada diri anak dengan melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar secara sabar dan kontinyu.  Apalagi dia adalah seorang pemimpin, dan akan dimintai pertanggung jawaban terhadap mereka yang di bawah pimpinannya. Jika seorang ayah tidak tanggap terhadap perilaku buruk pada anak, maka nantinya anak akan terbiasa berprilaku buruk, dan jika sudah seperti ini sangat sulit diarahkan.
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Maktabah Syamilah versi 3.45, Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an (Penulis), Mendidik Anak Secara Islam (Penulis), dll.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger