Syarah Kitab Tauhid (15)

Jumat, 12 Februari 2016
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫النذر لغير الله‬‎
Syarah Kitab Tauhid (15)
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut lanjutan syarah (penjelasan) ringkas terhadap Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, yang kami rujuk kepada kitab Al Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At Tauhid karya Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah dan lainnya, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
**********
BAB : BERNADZAR UNTUK SELAIN ALLAH ADALAH SYIRIK
Firman Allah Ta’ala,
يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا
“Mereka menunaikan nazar dan takut terhadap suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al Insan: 7)
وَمَا أَنفَقْتُم مِّن نَّفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُم مِّن نَّذْرٍ فَإِنَّ اللهَ يَعْلَمُهُ
“Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah: 270)
**********
Penjelasan:
Pada bab ini, penyusun hendak menerangkan salah satu macam syirik yang dapat menafikan Tauhid, yaitu bernadzar untuk selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala agar kita berhati-hati terhadapnya dan menjauhinya.
Nadzar artinya mewajibkan kepada dirinya perkara yang secara syara’ tidak wajib sebagai bentuk ta’zhim (pengagungan) kepada sesuatu yang membuatnya bernadzar. Nadzar termasuk ibadah. Oleh karena itu, mengarahkannya kepada selain Allah adalah perbuatan syirik.
Dalam kedua ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji mereka yang beribadah kepada-Nya dalam bentuk nadzar, dimana mereka mewajibkan diri mereka mengerjakan ketaatan yang hukumnya sunah. Allah Subhaanahu wa Ta’ala  juga memberitahukan, bahwa Dia mengetahui sedekah yang mereka keluarkan dan ibadah yang mereka lazimi dalam bentuk nadzar, dan bahwa Dia akan memberikan balasan terhadapnya sesuai niat yang ada di hatinya.
Kesimpulan:
1.    Nadzar adalah ibadah, maka mengarahkannya kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah syirik.
2.    Menetapkan Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu.
3.    Menetapkan adanya pembalasan terhadap amal.
4.    Dorongan untuk menunaikan nadzar.
**********
Dalam kitab Shahih, dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ»
“Barang siapa yang bernadzar untuk menaati Allah, maka taatilah. Dan barang siapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada-Nya, maka jangan lakukan.”
**********
Penjelasan:
Hadits di atas diriwayatkan oleh Bukhari no. 6696, Abu Dawud no. 3289, Tirmidzi no. 1526, Ibnu Majah no. 2126, dan Ahmad 6/36, 41.
Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, puteri Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ia adalah wanita yang paling pandai dalam bidang fiqh dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling utama setelah Khadijah radhiyallahu ‘anha. Ia wafat pada tahun 57 H.
Hadits di atas menerangkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang bernadzar melakukan ketaatan agar memenuhinya, seperti bernadzar untuk melakukan shalat sunah atau sedekah sunah, dsb. Dan Beliau melarang orang yang bernadzar untuk melakukan kemaksiatan agar tidak memenuhinya, seperti nadzar untuk menyembelih kepada selain Allah, shalat di dekat kuburan, atau mengadakan safar ke makam tertentu, dan kemaksiatan lainnya.
Hadits di atas juga menjelaskan, bahwa nadzar bisa berupa ketaatan dan bisa berupa kemaksiatan, dan bahwa nadzar itu ibadah. Oleh karena itu, mengarahkannya kepada selain Allah adalah syirik.
Kesimpulan:
1.    Nadzar adalah ibadah, maka mengarahkannya kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah syirik.
2.    Wajibnya memenuhi nadzar.
3.    Larangan memenuhi nadzar yang mengandung maksiat.
**********
BAB : MEMINTA PERLINDUNGAN KEPADA SELAIN ALLAH ADALAH SYIRIK
Firman Allah Ta’ala,
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
“Dan bahwa ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin: 6)
**********
Penjelasan:
Pada bab ini pula, penyusun hendak menerangkan salah satu macam syirik yang dapat menafikan Tauhid, yaitu meminta perlindungan kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Dalam ayat di atas, Allah Subhaanahu wa Ta’ala menerangkan, bahwa ada sebagian manusia yang berlindung kepada jin, misalnya ketika mereka melintasi tempat yang sunyi, maka mereka minta perlindungan kepada jin yang mereka anggap berkuasa di tempat itu, maka jin-jin itu hanya menambah mereka ketakutan dan menambah dosa mereka.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Ayat tersebut menunjukkan, bahwa meminta perlindungan kepada jin adalah haram, karena mereka menginginkan keamanan darinya, namun ternyata jin-jin itu hanya menambah rasa takut dalam diri mereka, sehingga mereka dihukum dengan balasan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Ada pula yang berpendapat, bahwa maksud ayat itu adalah kebalikannya, yakni manusia (yang meminta perlindungan kepada jin), maka mereka hanya menambahkan kepada jin sikap sombong dan melampaui batas. Akan tetapi pendapat yang benar, bahwa pelaku (yang menambah dosa) adalah jin sebagaimana diterangkan sebelumnya.” (Al Qaulul Mufid hal. 252)
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ikrimah, ia berkata, “Dahulu jin-jin takut kepada manusia sebagaimana manusia takut kepada mereka atau lebih dari itu; ketika ada orang yang singgah di sebuah lembah, maka jin akan segera pergi. Tetapi ketika ada pemimpin sebuah kaum (dari kalangan manusia) berkata, “Kami berlindung kepada penghuni lembah ini,” maka jin berkata, “Kita melihat ternyata mereka takut kepada kita sebagaimana kita takut kepada mereka,” maka mereka pun mendekati manusia dan menimpakan kegilaan dan kesurupan kepada mereka. Itulah maksud firman Allah Ta’ala, “Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat,” yakni bertambah dosanya.
Dalam ayat di atas (lihat surat Al Jin secara keseluruhan), Allah Subhaanahu wa Ta’ala menyebutkan kisah jin-jin yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang selanjutnya mereka menyampaikan perbuatan syirik yang terjadi di kalangan manusia, di antaranya adalah meminta perlindungan kepada jin.
Kesimpulan:
1.    Meminta perlindungan kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala termasuk perbuatan syirik.
2.    Risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tertuju kepada jin dan manusia.
3.    Jin ada yang laki-laki dan ada yang wanita. Ada yang saleh dan ada pula yang fasik. Ada yang beriman dan ada pula yang kafir.
4.    Meminta perlindungan kepada selain Allah membuat pelakunya bertambah takut, lemah, dan berdosa.
5.    Meminta perlindungan kepada Allah membuat pelakunya mendapatkan keamanan, kekuatan, dan bertambah keimanannya.
**********
Dari Khaulah binti Hakim ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang singgah di sebuah tempat, lalu berdoa,
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Aku berlindung dengan kalimat Allah (Al Qur’an) Yang Sempurna dari keburukan makhluk-Nya,
maka tidak ada sesuatu pun yang dapat membahayakannya sampai ia beranjak dari tempat itu.” (HR. Muslim)
**********
Penjelasan:
Hadits di atas diriwayatkan oleh Muslim no. 2708, Tirmidzi no. 3433, Ibnu Majah no. 3547, dan Ahmad 6/377, 409.
Khaulah binti Hakim bin Umayyah As Sulamiyyah adalah seorang sahabiyah, istri Utsman bin Mazh’un radhiyallahu ‘anhu. Panggilannya Ummu Syuraik.
Sabda Beliau ‘Barang siapa yang singgah di sebuah tempat’ yakni baik untuk menetap maupun hanya sementara.
Tentang ‘kalimat Allah’ menurut Syaikh Ibnu Utsaimin berupa kalimat kauniyyah (firman Allah di alam semesta) dan kalimat syar’iyyah (firman Allah dalam syariat-Nya). Adapun maksud ‘yang sempurna’ maka karena dua hal, yaitu: benar pada beritanya dan adil dalam hukumnya.
Sabda Beliau, ‘dari keburukan makhluk-Nya,’ yakni dari keburukan ciptaan-Nya. Yang demikian adalah karena Allah yang menciptakan kebaikan dan keburukan, namun keburukan tidak dapat disandarkan kepada-Nya. Hal itu, karena Dia yang menciptakan keburukan itu disebabkan suatu hikmah, dan karena hikmah itu maka menjadi hal yang baik. Oleh karenanya, kita katakan, bahwa keburukan itu bukan pada perbuatan Allah, tetapi pada  makhluk ciptaan-Nya.
Dengan demikian, makhluk ciptaan Allah Azza wa Jalla ada tiga keadaan:
Pertama, yang murni buruk, seperti api dan Iblis, dengan melihat dzat (diri) keduanya. Adapun jika melihat kepada hikmah yang karenanya Allah ciptakan mereka, maka itu adalah kebaikan.
Kedua, yang murni baik, seperti surga dan para rasul.
Ketiga, yang di dalamnya terdapat kebaikan dan keburukan, seperti yang ada pada diri manusia pada umumnya.
Nah, yang kita memohon perlindungan kepada Allah Azza wa Jalla darinya adalah keburukan yang ada di dalamnya.
Sabda Beliau, ‘Maka tidak ada sesuatu pun yang dapat membahayakannya sampai ia beranjak dari tempat itu’ menunjukkan umum karena bentuk katanya nakirah (umum), sehingga dia tidak dapat ditimpakan bahaya baik oleh setan dari kalangan jin maupun manusia, bahkan selain keduanya seperti hewan.
Apa yang Beliau sabdakan di atas adalah benar.  Jika ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang Beliau sabdakan, maka karena adanya penghalang yang menghalanginya memperoleh keutamaan itu. Sama dalam hal ini semua sebab syar’i yang engkau lakukan, namun hasilnya tidak diperoleh, maka hal ini bukan karena ada cacat pada sebab itu, tetapi karena adanya penghalang. Misalnya membacakan surat Al Fatihah kepada orang yang sakit merupakan obat penawar, lalu ada sebagian manusia yang membacanya, tetapi tidak juga sembuh, maka bukan karena sebabnya, tetapi karena adanya penghalang. Maka hendaknya kita periksa apa penghalangnya?
Imam Al Qurthubi rahimahullah berkata, “Aku pun melakukan hal itu (membaca doa di atas), hingga tiba suatu hari aku lupa membacanya, lalu aku masuk ke rumah, tiba-tiba aku disengat kalajengking.”
Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya agar meminta perlindungan kepada Allah Azza wa Jalla agar terhindar dari marabahaya ketika singgah di sebuah tempat. Doa yang Beliau ajarkan di atas juga sebagai ganti permohonan perlindungan kepada selain Allah yang dilakukan kaum musyrik.
Catatan:
1. Jika seorang berkata, “Kenapa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab membuat bab bahwa meminta perlindungan kepada selain Allah adalah syirik, namun di sini disebutkan permintaan perlindungan kepada kalimat Allah; bukan kepada Allah?”
Jawab, “ Kalimat Allah termasuk sifat-sifat-Nya. Oleh karena itu, para ulama berdalih dengan hadits di atas, bahwa firman Allah termasuk sifat-Nya, dan bukan makhluk, karena meminta perlindungan kepada makhluk tidak boleh. Kalau sekiranya kalimat Allah itu makhluk, tentu Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menyuruh untuk meminta perlindungan kepadanya. (LIhat Al Qaulul Mufid hal. 255)
Oleh karenanya, dalam bersumpah, kita boleh menggunakan nama-nama Allah maupun sifat-Nya. Tetapi ketika bersumpah dengan ayat, jika maksudnya ayat syar’iyyah (Al Qur’an), maka boleh, tetapi jika maksudnya ayat kauniyyah (alam semesta), maka tidak boleh.
2. Bolehkah meminta perlindungan kepada makhluk?
Jawab: Dalam hal ini perlu perincian. Jika dalam hal yang makhluk mampu memenuhinya, maka boleh namun dengan syarat hatinya tidak boleh bergantung kepada makhluk dimana ia menaruh rasa harapannya kepada makhluk serta menjadikannya sebagai tempat perlindungannya. Tetapi jika meminta perlindungan dalam hal yang tidak disanggupi mereka, maka tidak boleh, bahkan termasuk syirik.
Kesimpulan:
1.    Memohon perlindungan termasuk ibadah. Oleh karena itu, tidak boleh mengarahkannya kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
2.    Permohonan perlindungan yang syar’i bisa dengan nama Allah atau nama-nama-Nya yang lain, atau dengan sifat-sifat-Nya.
3.    Firman Allah bukanlah makhluk, karena Allah mensyariatkan meminta perlindungan dengannya.
4.    Keutamaan doa di atas.
5.    Semua makhluk di bawah kekuasaan Allah Azza wa Jalla.
Bersambung...
Marwan bin Musa
Maraji’: Al Mulakhkhash fii Syarh Kitab At Tauhid (Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan), Al Ishabah fi Tamyizis Shahabah (Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani), Al Qaulul Mufid (Syaikh M. Bin Shalih Al Utsaimin), Maktabah Syamilah versi 3.45, Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an (Penulis), dll.

Fawaid Riyadhush Shalihin (12)

Senin, 08 Februari 2016
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫من كظم غيظا وهو يستطيع أن ينفذه دعاه الله يوم القيامة على رءوس الخلائق حتي يخيره في أي الحور شاء‬‎
Fawaid Riyadhush Shalihin (12)
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut Fawaid (Kandungan Hadits) Riyadhush Shalihin yang banyak kami rujuk dari kitab Syarh Riyadhush Shalihin karya Syaikh Faishal bin Abdul Aziz An Najdiy, kitab Bahjatun Nazhirin karya Syaikh Salim bin Ied Al Hilaliy,  dan lainnya. Hadits-hadits di dalamnya banyak merujuk kepada kitab Riyadhush Shalihin, akan tetapi kami mengambil matannya dari kitab-kitab hadits induk. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ»

(45) Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang kuat bukanlah orang yang selalu menang bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Fawaid:
1. Islam merubah pandangan Jahiliyyah kepada pandangan yang mulia lagi Islami yang mewujudkan pribadi muslim yang mulia dan tangguh, bahwa pada hakikatnya orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah. 
2. Perintah mengendalikan diri ketika marah dan tidak melampiaskannya.
3. Di antara adab yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika seseorang marah adalah beristi’adzah (mengucapkan a’udzu billahi minasy syaithanir rajim), diam, berpindah posisi dari berdiri ke duduk, dan dari duduk ke berbaring.
4. Pujian bagi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.
عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ، قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ " فَقَالُوا لَهُ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ،
(46) Dari Sulaiman bin Shurad ia berkata, “Aku pernah duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling mencaci-maki, yang satu mukanya merah dan urat lehernya membengkak, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat yang jika diucapkannya, tentu akan hilang marahnya. Kalau ia mengucapkan A’udzu billahi minasy syaithanirrajim (artinya: aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk), tentu akan hilang marahnya.” Maka orang-orang berkata kepadanya, “Berlindunglah kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Fawaid:
1. Setan yang mendorong manusia melampiaskan kemarahannya, dan bahwa untuk mengatasinya adalah dengan berta’awwudz (lihat pula QS. Al A’raaf: 200).
2. Kebijaksanaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah dan mengingatkan manusia kepada Allah, yaitu Beliau tidak mengarahkan nasihat langsung kepada orang yang kemungkinan menolak nasihat karena keadaan kondisinya.
3. Anjuran menyampaikan nasihat kepada orang lain meskipun orang lain tidak memintanya.
عَنْ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ»
(47) Dari Mu’adz bin Anas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang menahan marahnya, padahal ia sanggup melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan manusia pada hari Kiamat dan memberikan kesempatan kepadanya memilih bidadari bermata jeli yang ia suka.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan.”)
Fawaid:
1. Dorongan untuk menahan marah.
2. Keutamaan menahan marah ketika seseorang mampu melampiaskannya.
3. Nilai memaafkan semakin tinggi ketika mampu membalas.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: «لاَ تَغْضَبْ» فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: «لاَ تَغْضَبْ»
(48) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat,” maka Beliau bersabda, “Jangan engkau marah.” Beliau mengulangi kata-kata, “Jangan engkau marah.” (HR. Bukhari)
Fawaid:
1. Wasiat “Jangan engkau marah” merupakan wasiat yang menghimpun kebaikan di dunia dan akhirat.
2. Perintah memberikan nasihat kepada orang yang memintanya.
3. Besarnya mafsadat yang ditmbulkan dari marah, dan bahwa marah itu tidak mendatangkan selain kebaikan, kecuali jika dilakukan karena Allah.
4. Perintah menahan marah dan tidak melampiaskannya, karena seseorang ketika marah membuat sikapnya tidak terkendali.
5. Marah yang tercela adalah terkait urusan duniawi, sedangkan marah yang terpuji adalah marah karena Allah dan untuk membela agamanya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah marah kecuali ketika larangan Allah Azza wa Jalla dilanggar.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا يَزَالُ البَلَاءُ بِالمُؤْمِنِ وَالمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ»
(49) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cobaan senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah baik pada dirinya, anaknya, maupun hartanya sehingga ia menghadap Allah tanpa membawa dosa.” (HR. Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan shahih.”)
Fawaid:
1. Musibah dan cobaan yang menimpa seorang mukmin baik berupa penyakit, kefakiran, kematian sang kekasih, habisnya harta atau berkurangnya, semua itu menghapuskan dosa-dosanya sehingga ia berjalan di atas bumi tanpa dosa.
2. Orang mukmin merupakan objek ujian dan cobaan.
3. Rahmat Allah kepada hamba-Nya yang mukmin, bahwa musibah yang menimpa mereka meskipun kecil dapat menghapuskan dosa-dosanya.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «قَدِمَ عُيَيْنَةُ بْنُ حِصْنِ بْنِ حُذَيْفَةَ فَنَزَلَ عَلَى ابْنِ أَخِيهِ الحُرِّ بْنِ قَيْسٍ، وَكَانَ مِنَ النَّفَرِ الَّذِينَ يُدْنِيهِمْ عُمَرُ، وَكَانَ القُرَّاءُ أَصْحَابَ مَجَالِسِ عُمَرَ وَمُشَاوَرَتِهِ، كُهُولًا كَانُوا أَوْ شُبَّانًا» ، فَقَالَ عُيَيْنَةُ لِابْنِ أَخِيهِ: يَا ابْنَ أَخِي، هَلْ لَكَ وَجْهٌ عِنْدَ هَذَا الأَمِيرِ، فَاسْتَأْذِنْ لِي عَلَيْهِ، قَالَ: سَأَسْتَأْذِنُ لَكَ عَلَيْهِ، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: «فَاسْتَأْذَنَ الحُرُّ لِعُيَيْنَةَ فَأَذِنَ لَهُ عُمَرُ» ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ قَالَ: هِيْ يَا ابْنَ الخَطَّابِ، فَوَاللَّهِ مَا تُعْطِينَا الجَزْلَ وَلاَ تَحْكُمُ بَيْنَنَا بِالعَدْلِ، فَغَضِبَ عُمَرُ حَتَّى هَمَّ أَنْ يُوقِعَ بِهِ، فَقَالَ لَهُ الحُرُّ: يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {خُذِ العَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِينَ} [الأعراف: 199] ، وَإِنَّ هَذَا مِنَ الجَاهِلِينَ، «وَاللَّهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلاَهَا عَلَيْهِ، وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللَّهِ»
(50) Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Uyaynah bin Hishn bin Hudzaifah pernah datang (ke Madinah) dan menemui keponakannya, yaitu Al Hurr bin Qais. Al Hurr adalah salah seorang di antara sekian orang yang dekat dengan Umar. Ketika itu para penghapal Al Qur’an adalah orang-orang yang duduk di majlis Umar dan sebagai orang-orang yang diajak musyawarah olehnya, baik mereka orang tua maupun masih muda. Uyaynah berkata kepada keponakannya, “Wahai keponakanku, bukankah engkau memiliki kedudukan di hadapan sang pemimpin ini (Umar)? Maka mintalah izin untuk saya agar saya dapat menemuinya.” Al Hurr berkata, “Saya akan mintakan izin untukmu.” Ibnu Abbas berkata, “Maka Al Hurr meminta izin untuk Uyaynah, lalu Umar mengizinkannya.” Saat Uyaynah masuk menemui Umar, ia berkata, “Wahai Ibnul Khaththab! Demi Allah, engkau tidak memberikan pemberian yang banyak dan tidak memerintah secara adil.” Maka Umar pun marah sampai bermaksud menghukumnya, lalu Al Hurr berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al A’raaf: 199)
Dan orang ini termasuk orang-orang yang bodoh.” Demi Allah, Umar sama sekali tidak melampaui ayat itu (melanggarnya) saat dibacakan kepadanya, dan Beliau adalah seorang yang berhenti di hadapan Kitabullah.” (HR. Bukhari)
Fawaid:
1. Keutamaan para penghapal Al Qur’an dan para pemikulnya, yaitu para ulama yang mengamalkannya.
2. Hendaknya seorang pemimpin mengangkat Ahli Ilmu sebagai penasihatnya dan bermusyawarah dengan mereka.
3. Keutamaan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
4. Hendaknya seorang pemimpin bersabar terhadap sikap rakyatnya dan berusaha membimbingnya.
5. Bersikap santun terhadap orang jahil dan bersabar terhadap gangguannya.
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «سَتَكُونُ أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: «تُؤَدُّونَ الحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ، وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ»
(51) Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau bersabda, “Akan ada setelahku sikap mementingkan diri sendiri dan beberapa perkara yang kalian ingkari.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab, “Kalian tunaikan kewajiban kalian dan kalian meminta kepada Allah hak kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Fawaid:
1. Dorogan agar tetap mendengar dan taat dalam perintah yang bukan maksiat meskipun pemerintah seorang yang zalim.
2. Bersabar terhadap kezaliman pemerintah meskipun mereka lebih mengutamakan diri mereka sendiri, karena Allah akan meminta pertanggung jawaban dari mereka.
3. Dalam hadits ini terdapat bukti kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
4. Dorongan untuk bersatu dan tidak berpecah belah.
5. Menolak mafsadat (kerusakan dan bahaya) lebih didahulukan daripada menarik manfaat.
Bersambung…
Marwan bin Musa
Maraji': Tathriz Riyadh Ash Shalihin (Syaikh Faishal bin Abdul Aziz An Najdiy), Syarh Riyadh Ash Shalihin (Muhammad bin Shalih Al Utsaimin),  Bahjatun Nazhirin (Salim bin ’Ied Al Hilaliy), Al Maktabatusy Syamilah versi 3.45, dll.

Mengapa Kita Berputus Asa?

Sabtu, 06 Februari 2016
بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫لا تيأسوا من روح الله‬‎
Mengapa Kita Berputus Asa?
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Pada risalah ini kita akan membahas masalah dengan judul Mengapa Kita Berputus Asa. Semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Pengantar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengisahkan tentang seseorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, lalu ia ingin bertaubat dari sikapnya itu. Dia pun bertanya kepada manusia tentang orang yang paling mengerti agama, lalu diberitahukanlah kepadanya seorang ahli ibadah, maka didatanginya ahli ibadah itu dan diberitahukannya bahwa dirinya telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah masih bisa diterima taubatnya? Maka ahli ibadah itu menjawab, “Tidak bisa.” Lalu dibunuhlah ahli ibadah itu sehingga genap seratus orang yang telah dibunuhnya, namun dia masih ingin bertaubat dan tetap mencari tahu orang yang mengerti agama. Maka ditunjukkanlah kepadanya seorang yang alim (mengerti agama), ia pun memberitahukan kepada orang alim itu bahwa dirinya telah membunuh seratus orang, “Apakah masih diterima taubatnya?” Orang alim itu menjawab, “Ya, siapakah yang dapat menghalangi seseorang untuk bertaubat.” Kemudian orang alim itu menyarankan kepadanya untuk pergi ke kampung tertentu agar ia bisa beribadah kepada Allah bersama mereka, dan agar tidak  kembali ke kampung sebelumnya. Laki-laki ini pun pergi ke sana, di tengah perjalanan tiba-tiba maut datang, sehingga malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih; siapa di antara keduanya yang mencabut nyawanya, malaikat rahmat berkata, “Bukankah ia datang untuk bertaubat seraya menghadapkan hatinya kepada Allah?” Sedangkan malaikat azab berkata, “Tetapi dia belum sempat beramal saleh.” Maka datanglah kepada mereka seorang malaikat dalam bentuk manusia, dan ia pun dijadikan sebagai hakimnya, lalu ia berkata, “Ukur saja jarak antara kedua kampung itu, jika ternyata lebih dekat ke kampung salah satunya, maka yang mencabut adalah malaikat ini.” Kedua malaikat itu pun mengukur, ternyata lebih dekat ke kampung yang hendak ditujunya, maka dicabutlah nyawanya oleh malaikat rahmat.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Allah Ta’ala mewahyukan ke kampung yang satu, “Menjauhlah” dan ke kampung yang satu lagi,“Mendekatlah,” lalu dikatakan, “Ukurlah jarak antara keduanya,” maka mereka pun mendapatkan ternyata jaraknya lebih dekat sejengkal ke kampung yang dituju itu.”
Dari kisah di atas kita mengetahui, betapa orang tersebut tetap berusaha memperbaiki dirinya dan tidak berputus asa meskipun telah dipenuhi oleh dosa-dosa dan kesalahan, dan ternyata orang tersebut mendapatkan rahmat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dari hadits tersebut kita juga mengetahui keutamaan orang-orang yang berilmu dan batilnya orang yang menyatakan “Lebih baik tidak tahu daripada mengetahui.”
Mengapa kita berputus asa?
Terkadang ketika kita merencanakan sesuatu, lalu kita kerjakan segala sebab untuk meraihnya, namun apa yang kita rencanakan ternyata belum tercapai, kemudian kita pun berputus asa, lalu kita berhenti dan tidak meneruskan rencana kita. Ketahuilah wahai saudaraku, ini merupakan kelemahan.
Kalau pun belum tercapai rencana dan cita-cita kita, bukan berarti kita tidak akan berhasil lagi ketika kita mengusahakan kedua kalinya, ketiga kalinya, atau lebih. Sebenarnya di sana terdapat pelajaran yang banyak bagi kita kalau kita mau memperhatikannya, di antaranya:
-       Agar kita tidak bersandar kepada kemampuan diri kita, tetapi bersandar dan bertawakkal kepada Allah Yang Mahakuasa serta tetap terus berdoa kepada-Nya
-       Melatih kesabaran kita
-       Menghilangkan rasa ujub dan sombong dalam diri kita
-       Menunjukkan kelemahan diri kita sehingga kita mau berdoa dan meminta kepada Allah.
-       Dan pelajaran berharga lainnya.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.--(kami jelaskan yang demikian itu) agar kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan agar kamu tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (QS. Al Hadid: 22-23)
Kesabaran para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dan keadaan mereka yang tidak kenal putus asa
Para Nabi ‘alaihumush shalatu wa salam sebagai teladan umat manusia adalah manusia pilihan Allah, mereka adalah orang-orang sabar dan tidak kenal putus asa dalam mengajak manusia beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla, sehingga di antara mereka ada rasul-rasul yang terkenal dengan istilah para rasul Ulul Azmi, mereka adalah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad ‘alaihumush shalatu wa salam yang menjadi penutup para nabi.
Nabi Nuh ‘alaihis salam tetap berdakwah siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Bahkan setiap kali Beliau berdakwah, kaumnya menutup telinganya; tidak mau mendengar dan sampai menutup muka mereka dengan bajunya (lihat QS. Nuh: 5-9) Beliau terus mendakwahi mereka selama 950 tahun tanpa kenal putus asa. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh. Lalu mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al ‘Ankabut: 14)
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam terus berdakwah meskipun kaumnya mendustakan. Beliau berdakwah kepada penduduk Hiran yang menyembah bintang-bintang, dan berdakwah kepada penduduk Babil yang menyembah patung. Hingga ketika dakwah Beliau tidak dihiraukan, maka Beliau hancurkan patung-patung mereka dengan tangannya sendiri, akhirnya Beliau ditangkap dan dibakar hidup-hidup, namun Allah menyelamatkan Beliau dengan menjadikan api itu dingin dan memberikan keselamatan kepada Ibrahim ‘alaihi salam (lihat QS. Al Anbiya’: 69).
Nabi Musa alaihis salam adalah seorang nabi yang sering sekali disakiti, baik oleh musuh Beliau yaitu Fir’aun dan bala tentaranya, bahkan oleh umat Beliau, yaitu Bani Israil. Oleh karenanya, kisah Beliau sangat sering disebutkan dalam Al Qur’an agar dijadikan pelajaran dalam kesabaran ketika berdakwah dan agar kita tidak putus asa.
Nabi Isa ‘alaihis salam juga demikian, saat Bani Israil menyimpang dari ajaran yang lurus, maka Beliau mendakwahi mereka dan mengajak mereka beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla serta mengikuti syariat-Nya, hingga akhirnya Beliau hendak dibunuh, namun Allah menyelamatkan Beliau dengan mengangkatnya ke langit (lihat QS. An Nisaa’: 158).
Demikian pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau terus berdakwah meskipun kaumnya menyakiti Beliau baik dengan ucapan maupun tindakan. Beliau dituduh sebagai pesihir, pendusta (lihat QS. Shaad: 4), penyair, orang gila (lihat QS. Ash Shaaffat: 36), dukun (lihat QS. Ath Thuur: 29), dan sebagainya. Demikian pula Beliau disakiti dengan tindakan, dan para pengikutnya dianiaya. Saat Beliau shalat di dekat Ka’bah dan melakukan sujud, orang-orang musyrik meletakkan kulit ari ke atas punggung Beliau sambil mentertawakan Beliau (lihat Shahih Muslim no. 1794). Saat Beliau berjalan kaki menuju Thaif untuk mendakwahi penduduknya, Beliau dilempari batu. Dan pada saat Beliau berhijrah dari Mekkah ke Madinah, Beliau dicari-cari oleh orang-orang musyrik, bahkan rumah Beliau sempat dikepung kaum musyrik, namun Allah menyelamatkan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga para pengepungnya tidak melihat Beliau. Dalam perang Uhud, sebagian gigi Beliau pecah dan wajah Beliau berdarah. Meskipun begitu, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap sabar dan berdakwah tanpa kenal putus asa hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan untuk Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Terus berusaha dan tidak putus asa!
Perencanaan dan cita-cita yang orientasinya akhirat dan memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah hendaknya terus kita teruskan. Agar rencana dan cita-cita tercapai, seseorang tidak boleh meninggalkan Allah dan beralih kepada kemampuan dirinya, karena betapa banyak orang yang telah mengusahakan sesuatu namun tidak memperolehnya. Hal itu, karena Allah-lah yang berkuasa dan Dialah yang menetapkan, apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, maka tidak akan terjadi. Maka mintalah kepadanya agar rencana dan cita-cita kita tercapai, tentunya dengan terus mengusahakannya dan tidak  diam saja tanpa berbuat sama sekali.
Demikian juga dalam perencanaan dan cita-cita yang mubah selama tidak berlebihan dan tidak melupakan kita kepada akhirat, maka untuk meraihnya adalah dengan menjalankan sebab-sebabnya, kemudian menyerahkan urusannya kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan meyakini, bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang memperbagus amalan.
Oleh karena itu, seorang muslim memperhatikan, bahwa bersandar kepada sebab dan memandang bahwa sebab adalah yang bisa mendatangkan apa yang diharapkan adalah kekufuran. Sedangkan meninggalkan sebab, padahal ia mampu mendatangkannya adalah sebuah kemaksiatan yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lihatlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tidaklah Beliau berperang kecuali sebelumnya telah menyiapkan perlengkapan, menjalankan sebabnya, Beliau memilih waktu dan tempat yang tepat untuk berperang.
Disebutkan dalam riwayat bahwa Beliau  tidak memulai peperangan kecuali jika udaranya telah sejuk, setelah sebelumnya menyiapkan langkah-langkah dan membentuk barisan. Ketika sebab telah selesai Beliau lakukan, maka Beliau mengangkat kedua tangannya sambil berdoa,
اَللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ
“Ya Allah yang menurunkan kitab dan menjalankan awan, kalahkanlah mereka dan menangkanlah kami atas mereka.” (HR. Bukhari)
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Maktabah Syamilah versi 3.45, Ar Rahiqul Makhtum (Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri), Minhajul Muslim (Abu Bakar Al Jazairiy), dll.

Kasih Sayang Rasulullah Kepada Anak-Anak

بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫رحمة النبي بالأطفال‬‎
Kasih Sayang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam Kepada Anak-Anak
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut kami hadirkan hadits-hadits tentang kasih sayang teladan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap anak-anak dengan harapan tidak ada lagi tindakan kekerasan kepada anak-anak. Semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Ikhwani fillah, jika kita melihat diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita akan temukan, bahwa Beliau adalah manusia terbaik. Jika kita melihat Beliau dari sisi sebagai pendidik, maka kita akan temukan bahwa Beliau adalah pendidik terbaik, sehingga para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang merupakan hasil didikan Beliau sampai Allah sebut sebagai khairu ummah (sebaik-baik umat). Jika kita melihat Beliau dari sisi sebagai seorang suami, maka kita akan temukan bahwa Beliau adalah suami dan kepala rumah tangga terbaik. Jika kita melihat Beliau dari sisi sebagai mujahid, maka kita akan temukan bahwa Beliau adalah mujahid terbaik. Jika kita melihat Beliau dari sisi sebagai bapak, maka kita akan temukan bahwa Beliau adalah bapak terbaik. Beliaulah manusia terbaik dalam mendidik dan manusia paling sayang dan perhatian kepada anak di sela-sela kesibukan Beliau beribadah, berdakwah dan membimbing umat, berjihad, dsb. Sekarang, mari kita baca pergaulan Beliau terhadap anak-anak.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ وَكَانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَذْرِفَانِ فَقَالَ لَهُ عَبْدُالرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى فَقَالَ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Kami pernah masuk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menemui Abu Saif seorang pandai besi yang istrinya menyusukan Ibrahim (putera Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam), Beliau lalu mengambil Ibrahim dan menciumnya, Pada kesempatan yang lain kami masuk menemuinya, namun pada saat Ibrahim telah meninggal dunia, maka kedua mata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berlinangan air mata, lalu Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Mengapa engkau demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Wahai Ibnu ‘Auf! Sesungguhnya ini adalah rasa sayang, yang kemudian diiringi oleh sesuatu.” Kemudian  Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mata ini berlinangan air mata, hati bersedih, namun kami hanya mengucapkan kata-kata yang diridhai Rabb kami. Sungguh, kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 2315)
Dalam riwayat Muslim (no. 2316) disebutkan, bahwa Anas radhiyallahu anhu berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang paling sayang dengan keluarganya dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Ketika Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu terbunuh dalam perang Mu’tah, istrinya Asma binti Umais radhiyallahu 'anha berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu masuk menemuiku dan memanggil anak-anak Ja’far, aku melihat Beliau mencium mereka sambil menangis, kemudian aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah sampai berita kepadamu tentang Ja’far?” Beliau menjawab, “Ya, dia terbunuh pada hari ini.” Lalu kami pun berdiri menangis, (kemudian) beliau pulang dan bersabda kepada para sahabat,
اِصْنَعُوْا لِأَهْلِ جَعْفَرَ طَعَاماً فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَهُمْ مَا يُشْغِلُهُم.
“Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena mereka mendapatkan sesuatu yang menyibukkan mereka.” (HR. Ibnu Sa’ad, Tirmidzi no. 998, dan Ibnu Majah no. 1610. Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan.” Dan dihasankan pula oleh Syaikh Al Albani).
 عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِشَمْسٍ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا *
Dari Abu Qatadah Al Anshaariy, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat sambil menggendong Umamah binti Zainab cucu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang merupakan puteri Abul ‘Aaash bin Rabii’ah bin ‘Abdi Syams. Ketika Beliau sujud, maka Beliau menaruh Umamah, dan ketika bangkit beliau menggendong Umamah.” (HR. Bukhari no. 516)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ أَبْصَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ الْحَسَنَ فَقَالَ إِنَّ لِي عَشْرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ وَاحِدًا مِنْهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ *
Dari Abu Hurairah, bahwa Al ‘Aqra’ bin Habis pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencium Al Hasan (cucu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam), ia pun berkata, “Sesungguhnya aku memiliki sepuluh anak, namun aku tidak pernah mencium salah seorang pun di antara mereka,” maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang tidak menyayangi tidak akan di sayangi.” (HR. Muslim no. 2318)
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ شَدَّادٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْدَى صَلَاتَيِ الْعَشِيِّ، الظُّهْرِ - أَوِ الْعَصْرِ - وَهُوَ حَامِلٌ الْحَسَنَ - أَوِ الْحُسَيْنَ - فَتَقَدَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ، ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ، فَصَلَّى، فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ، سَجْدَةً أَطَالَهَا فَقَالَ: إِنِّي رَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَرَجَعْتُ فِي سُجُودِي، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ، قَالَ النَّاسُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ، هَذِهِ سَجْدَةً قَدْ أَطَلْتَهَا، فَظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ، أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ، قَالَ: " فَكُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ "
Dari Abdullah bin Syaddad dari ayahnya (Syaddad bin Al Haad), ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami di salah satu waktu petang; Zhuhur atau Ashar. Ketika itu, Beliau menggendong Al Hasan atau Al Husain, lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam maju dan meletakkan cucunya, kemudian Beliau shalat. Pada saat shalat, Beliau melakukan sujud yang lama.” Syaddad berkata, “Maka aku angkat kepalaku ternyata kulihat ada anak kecil di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan Beliau dalam keadaan sujud, lalu aku kembali sujud.” Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, maka para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau ketika shalat tadi melakukan sujud yang lama, kami mengira terjadi sesuatu atau engkau mendapatkan wahyu.” Beliau bersabda, “Semua itu tidak terjadi, akan tetapi cucuku menjadikanku sebagai hewan tunggangannya. Aku tidak ingin menyegerakannya agar ia selesai dengan kebutuhannya.” (HR. Ahmad no. 16033, dan dinyatakan isnadnya shahih oleh pentahqiq Musnad Ahmad cet. Ar Risalah).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ الدَّوْسِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طَائِفَةِ النَّهَارِ، لاَ يُكَلِّمُنِي وَلاَ أُكَلِّمُهُ، حَتَّى أَتَى سُوقَ بَنِي قَيْنُقَاعَ، فَجَلَسَ بِفِنَاءِ بَيْتِ فَاطِمَةَ، فَقَالَ «أَثَمَّ لُكَعُ، أَثَمَّ لُكَعُ» فَحَبَسَتْهُ شَيْئًا، فَظَنَنْتُ أَنَّهَا تُلْبِسُهُ سِخَابًا، أَوْ تُغَسِّلُهُ، فَجَاءَ يَشْتَدُّ حَتَّى عَانَقَهُ، وَقَبَّلَهُ وَقَالَ: «اللَّهُمَّ أَحْبِبْهُ وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُ» ،
Dari Abu Hurairah Ad Dausiy radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar rumah di siang hari. Beliau tidak berbicara kepadaku dan aku tidak berbicara kepadanya, sehingga Beiau tiba di pasar Bani Qainuqa, lalu Beliau duduk di halaman depan rumah Fathimah dan bersabda, “Adakah si kecil di dalam? Adakah si kecil di dalam?” –maksud Beliau adalah Al Hasan bin Ali- ketika itu Fathimah menahannya sebentar, sepertinya Fathimah sedang memakaikan kalung atau sedang memandikannya, lalu Al Hasan datang dengan segera, kemudian Beliau memeluknya dan menciumnya sambil berdoa, “Ya Allah, cintailah dia, dan cintailah orang yang mencintainya.” (HR. Bukhari no. 2122)
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: «وُلِدَ لِي غُلاَمٌ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ، فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ، وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ، وَدَفَعَهُ إِلَيَّ»
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Anakku lahir, lalu aku bawa ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Beliau menamainya dengan Ibrahim, lalu Beliau mentahniknya (mengolesi langit-langit mulutnya) dengan kurma, mendoakan keberkahan untuknya, kemudian menyerahkan kepadaku.” (HR. Bukhari no. 5467)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا، وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ: أَبُو عُمَيْرٍ، كَانَ فَطِيمًا، قَالَ: فَكَانَ إِذَا جَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَآهُ، قَالَ: «أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ» قَالَ: فَكَانَ يَلْعَبُ بِهِ
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Aku punya adik yang dipanggil dengan nama Abu Umair yang sudah disapih. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan melihatnya, maka Beliau bersabda, “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan Nughair,” yakni burung kecil yang dimainkannya. (HR. Bukhari no. 6203 dan Muslim no. 2150)
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَدَحٍ، فَشَرِبَ مِنْهُ، وَعَنْ يَمِينِهِ غُلاَمٌ أَصْغَرُ القَوْمِ، وَالأَشْيَاخُ عَنْ يَسَارِهِ، فَقَالَ: «يَا غُلاَمُ أَتَأْذَنُ لِي أَنْ أُعْطِيَهُ الأَشْيَاخَ» ، قَالَ: مَا كُنْتُ لِأُوثِرَ بِفَضْلِي مِنْكَ أَحَدًا يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ
Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu anhu ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diberi sebuah gelas, lalu Beliau meminum airnya. Ketika itu, di sebelah kanan Beliau ada anak kecil, sedangkan di sebelah kiri ada orang tua, maka Beliau bersabda, “Nak, apakah engkau mengizinkanku untuk memberikan minuman ini kepada para orang tua.” Anak kecil itu (Ibnu Abbas) menjawab, “Aku tidak akan memberikan kesempatan kepada orang lain sebelumku dari pemberianmu wahai Rasulullah.” Maka Beliau memberikan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2351 dan Muslim no. 2030)
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger