Adab, Tatacara, dan Kekeliruan Ketika Umrah

Rabu, 01 Januari 2025

 بسم الله الرحمن الرحيم



Adab, Tatacara, dan Kekeliruan Ketika Umrah

Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:

Berikut pembahasan tentang adab, tatacara, dan kekeliruan ketika umrah, semoga Allah menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.

Adab Ketika Umrah

Ikhwah sekalian, bersyukurlah kita kepada Allah Azza wa Jalla ketika Dia memudahkan kita mengunjungi rumah-Nya. Ingatlah hal-hal berikut:

1. Niatkan dalam hatimu untuk umrah dengan ikhlas karena Allah Azza wa Jalla, bukan karena sum’ah, riya, atau agar dipuji dan dihormati manusia, serta bukan untuk berbangga-bangga.

2. Gunakanlah biaya yang halal untuk umrah dan hajimu.

3. Ingatlah bahwa dirimu dalam rihlah (perjalanan) yang diberkahi, engkau melakukannya dalam keadaan mentauhidkan Allah Azza wa Jalla, mengikhlaskan diri kepada-Nya, menyambut seruan-Nya dan menaati-Nya sambil mengharap ridha dan pahala-Nya, serta menaati Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa salllam.

4. Berhati-hatilah dari tergoda oleh setan, karena dia adalah musuh yang selalu mengintai, maka jauhilah perdebatan dan salinglah mencintai karena Allah Azza wa Jalla. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sampai ia menginginkan kebaikan didapatkan saudaranya sebagaimana dia menginginkan kebaikan didapatkan dirinya.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

5. Pelajarilah manasik umrah yang sesuai Sunnah Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam.

6. Bertanyalah kepada Ahli Ilmu dalam masalah-masalah yang masih musykil agar engkau berumrah di atas ilmu. Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (Qs. An Nahl: 43)

7. Hendaknya engkau ketahui, bahwa Allah Azza wa Jalla menetapkan yang fardhu dan yang sunah, namun sebagian orang yang umrah tidak faham masalah ini, mereka sampai mendahulukan yang sunah, tetpai sampai melakukan hal yang diharamkan; mereka ganggu kaum mukmin laki-laki atau perempuan dengan mendorongnya agar dirinya dapat mencium hajar aswad, atau jalan cepat dalam thawaf, atau shalat di belakang maqam Ibrahim, atau meminum air zam-zam, dan sebagainya–ini adalah kekeliruan-. Hal tadi adalah sunah, sedangkan menyakiti kaum mukmin adalah haram. Bagaimana kita melakukan yang haram agar dapat melakukan yang sunah, maka jauhilah mengganggu kaum mukmin, semoga Allah mencatat pahala dan membesarkan pahala bagimu.

8. Jagalah lisanmu dari dusta, ghibah (gosip), namimah (mengadu domba), dan menghina orang lain.

9. Tidak patut bagi seorang muslim shalat berdampingan dengan wanita, atau di belakang wanita baik di Masjidil Haram maupun di tempat lainnya padahal ia mampu shalat di depan mereka.

10. Hendaknya wanita shalat di belakang laki-laki.

11. Hendaknya tidak melakukan shalat di tempat lalu lalang orang di tanah haram dan di depan pintunya, karena yang demikian dapat mengganggu orang yang hendak lewat.

12. Hendaknya tidak menghalangi orang yang thawaf dengan duduk-duduk di sekitar ka’bah, atau shalat di dekatnya, atau berdiri di Hijr, atau di Maqam Ibrahim saat berdesakan, karena yang demikian sama saja mengganggu saudara kita.

13. Mencium hajar aswad adalah sunnah, sedangkan menjaga kehormatan seorang muslim adalah wajib, maka cukup bagimu ketika suasana berdesakan dengan isyarat ke hajar aswad lalu bertakbir, dan hendaknya engkau pelan-pelan ketika keluar thawaf.

14. Sunnahnya ketika di rukun yamani adalah mengusapnya tanpa menciumnya. Jika tidak memungkinkan karena berdesakan, maka tidak perlu berisyarat kepadanya, bahkan ia tetap melanjutkan terus thawafnya.

15. Dianjurkan ketika berada di antara rukun Yamani dan hajar aswad mengucapkan,

رَبَّنَا اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاخِرَةِ حَسَنَةً وَ ِقنَا عَذَابَ النَّارِ

"Wahai Rabb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka."

Tatacara Umrah singkat

1. Setelah engkau mandi dan bersih-bersih, maka pada saat engkau berada di miqat pakailah kain ihram yang terdiri dari dua helai kain, yang utama berwarna putih. Adapun bagi wanita, maka ia boleh memakai pakaian apa saja yang dia mau dengan syarat menutup aurat dan tidak bertabarruj (berdandan) serta tidak mengenakan pakaian yang menyerupai laki-laki atau wanita kafir.

2. Selanjutnya berniat ihram umrah dengan mengucapkan ‘Labbaikallahumma ‘umrah” (artinya: Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah untuk umrah). Ia boleh menambahkan dengan “Allahumma mahilliy haitsu habastani” (artinya: Ya Allah, tempat tahallulku adalah di mana saja Engkau tahan aku).

3. Kemudiian ia memperbanyak talbiyah, yaitu mengucapkan:

لَبَّيْكَ اللّهُـمَّ لَبَّيْكَ , لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ  إِنَّ اْلحَـمْدَ وَالنِّعْـمَةَ لَكَ وَاْلمـُلْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ  

"Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian dan nikmat serta kerajaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu."

Ucapan ini dijaharkan oleh laki-laki, namun tidak bagi wanita.

4. Ketika engkau telah sampai di Mekkah dan masuk ke masjid bacalah doa masuk masjid dan mendahulukan kaki kanan, kemudian lakukanlah thawaf di ka’bah tujuh kali putaran, diawali dari hajar aswad sambil bertakbir dan berakhir juga di sana.

Ingat, bahwa ketika thawaf hendaknya engkau dalam keadaan suci.

5. Saat akan memulai thawaf disunahkan bagimu melakukan idhthiba, yaitu dengan menjadikan bagian tengah kain di bawah ketiak kanan, sedangkan kedua ujungnya di atas pundak kiri.

6. Pada tiga putara pertama dianjurkan raml (yaitu jalan cepat dengan langkah pendek). Namun ini hanya bagi laki-laki.

7. Ketika engkau berada di antara rukun Yamani dan hajar aswad, engkau disunahkan membaca,

رَبَّنَا اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاخِرَةِ حَسَنَةً وَ ِقنَا عَذَابَ النَّارِ

"Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka."

8. Setelah ia menyelesaikan thawafnya, maka ia pergi menuju Maqam Ibrahim (tempat berdiri Nabi Ibrahim ketika membangun ka’bah) sambil membaca firman Allah Ta’ala,

وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

Artinya: ”Jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” (Qs. Al Baqarah: 125)

kemudian ia shalat di belakangnya dua rakaat dengan membaca surah Al Kafirun dan surah Al Ikhlas setelah Al Fatihah, dan tidak dalam keadaan beridhthiba’, bahkan ia tutup pundaknya. Jika tidak memungkinkan, maka bisa di bagian mana saja di area masjidil haram.

9. Selanjutnya, dianjurkan baginya meminum air Zamzam.

Dianjurkan berdoa seusai minum air zamzam. Misalnya berdoa dengan doa,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْألَكُ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ

Artinya: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang lapang, dan obat dari segala penyakit.

Ini adalah doa yang dibaca Mujahid murid Ibnu Abbas.

10. Setelah itu, ia pergi menuju Shafa dan dianjurkan baginya membaca ayat berikut ketika telah dekat dengan bukit Shafa,

{إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ}

Artinya: Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya  mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui." (Qs. Al-Baqarah: 158).

Kemudian ia mengucapkan, ”Nabda’u bimaa bada’allahu bih” (artinya: Kami memulai dengan apa yang Allah mulai dengannya).

Catatan: Dianjurkan bagi seorang muslim dalam keadaan suci ketika bersa’i.

11. Selanjutnya, dianjurkan baginya naik ke Shafa lalu menghadap ke kiblat dan mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan dengan jahar (keras) kalimat berikut:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ اَنْجَزَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ اْلاَحْزَابَ وَحْدَهُ

Artinya: Allah Mahabesar. Allah Mahabesar. Allah Mahabesar. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah saja. Dia telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan pasukan bersekutu sendiri saja."

Ia ulangi dzikir tersebut sebanyak tiga kali dan berdoa pada setiap selesai membacanya dengan doa-doa yang ia kehendaki, namun untuk yang ketiga, setelahnya tidak perlu berdoa.

12. Kemudian ia turun dan berjalan menuju Marwah, dan disunahkan baginya mempercepat jalannya ketika berada di antara dua tanda hijau.

13. Jika ia telah sampai di Marwah, maka dianjurkan naik ke atasnya dan menghadap ke Ka'bah, kemudian melakukan sebagaimana yang ia lakukan di Shafa. Demikianlah yang ia lakukan pada putaran berikutnya. Pergi (dari Shafa ke Marwah) dihitung satu kali putaran dan kembali (dari Marwah ke Shafa) juga dihitung satu kali putaran sehingga sempurna menjadi tujuh kali putaran. Oleh karena itu, putaran sa'i yang ketujuh berakhir di Marwah.

14. Tidak ada dzikir (doa) khusus untuk sa'i, akan tetapi seseorang bisa berdzikir dan berdoa, atau membaca Al-Qur'an.

15. Jika shalat berjamaah ditegakkan sedangkan ia dalam keadaan bersa’i, maka ia shalat berjamaah dahulu setelah itu melanjutkan sa’inya.

16. Setelah selesai sa’i, maka ia cukur rambutnya (habis) atau hanya memendekkan, namun lebih utama  mencukur habis, kecuali jika ia hendak melanjutkan dengan haji, maka memendekan lebih utama agar nanti ia mencukur habis ketika melaksanakan ibadah haji.

Hal-Hal yang harus diperhatikan oleh orang yang ihram

1. Hendaknya orang yang ihram melaksanakan kewajiban, seperti shalat berjamaah.

2. Hendaknya orang yang ihram menjauhi apa yang Allah Azza wa Jalla larang, seperti berkata kotor, berbuat maksiat, berdebat dan bertengkar.

3. Hendaknya ia menghindari diri dari mengganggu kaum muslimin dengan lisan maupun perbuatan.

4. Hendaknya ia menjauhi larangan ketika ihram, yaitu:

a. Tidak menggunting rambut yang ada di badan atau kepalanya atau menggunting kukunya. Jika ada yang gugur tanpa sengaja, maka dia tidak dikenakan apa-apa.

b. Tidak memakai wewangian baik pada badan maupun pakaian, dan tidak mengapa jika ada sisa wangi pada badannya yang dikenakan sebelum ihram.

c. Tidak berburu hewan darat, baik dengan membunuhnya, mengusirnya, atau membantu untuk hal tersebut selagi dia ihram.

d. Ia tidak boleh melamar wanita, melakukan akad nikah baik untuk dirinya atau orang lain.

e. Ia tidak berjima dengan istrinya dan tidak bercumbu dengannya.

Larangan di atas berlaku bagi laki-laki maupun wanita.

Di samping itu, ada larangan khusus bagi laki-laki, yaitu:

a. Tidak menutupi kepalanya dengan penutup yang menempel, seperti topi, peci, dsb. Adapun berteduh dengan payung, atap mobil, atau barang yang dipikul di atasnya, maka tidak mengapa.

b. Tidak mengenakan gamis atau pakaian yang dijahit membentuk tubuh seperti baju, kaos, dan celana.

 Catatan

·         Umrah dari anak kecil adalah sah, namun tidak mewakili umrah Islam ketika ia telah baligh, yakni ia harus umrah lagi ketika mampu.

·         Diharamkan bagi wanita saat ihram mengenakan kaus tangan, memakai penutup muka seperti cadar, namun jika berpapasan dengan laki-laki asing maka tidak mengapa ia tutup wajahnya dengan kain.

·         Jika seorang yang ihram mengenakan kain yang berjahit membentuk tubuh, maka ia harus lepaskan saat ingat atau mengetahui hukumnya dan tidak terkena kewajiban apa-apa. Demikian pula jika ia mengenakan wewangian, atau menggunting rambut atau menggunting kuku dalam keadaan lupa atau tidak tahu hukumnya, maka tidak dikenakan fidyah.

·         Diperbolehkan mengenakan sandal, cincin, kacamata, earphone, jam tangan, sabuk, dan membawa tas.

·         Diperbolehkan juga mengganti kain dan membersihkannya, mencuci kepala dan badan meskipun sampai gugur rambutnya tanpa sengaja, sebagaimana tidak mengapa juga ketika ada luka pada badannya.

·         Orang yang ihram juga boleh mandi, membasuh kepalanya dan menggaruknya jika perlu menggaruk.

Kekeliruan di saat Ihram

1. Melewati miqat tanpa ihram, baik melewati jalan darat, laut, maupun udara.

Oleh karena itu, ia harus kembali ke miqat dan ihram darinya jika mudah, namun jika tidak dilakukannya maka ia terkena fidyah, yaitu dengan menyembelih seekor kambing di Mekah dan membagikan dagingnya semuanya kepada fakir miskin.

Jika dia tidak melewati salah satu miqat yang lima yang sudah dikenal, maka ia bisa berihram ketika sejajar dengan miqat pertama yang dilalui.

2. Memulai thawaf sebelum sampai di hajar aswad.

3. Thawaf di dalam Hijr Ka’bah, karena hijr bagian dari ka’bah. Oleh karena itu, putarannya di dalam ka’bah tidak dihitung atau batal.

4. Melakukan raml (jalan cepat) pada semua putaran.

5. Memaksakan diri mencium hajar aswad sampai mendorong orang lain karena sama saja mengganggu saudara kita kaum muslimin.

6. Mengusap semua sisi ka’bah.

7. Mengkhususkan semua putaran dengan doa tertentu, karena doa yang ditentukan hanyalah ketika berada di antara rukun yamani dan hajar aswad.

8. Mengeraskan suara ketika thawaf.

9. Berdesakan untuk dapat shalat di belakang Maqam Ibrahim. Padahal ia bisa lakukan di bagian mana di Masjidil haram jika tidak bisa di belakang Maqam Ibrahim.

10. Berlari atau berjalan cepat ketika sa’i bukan pada dua lampu hijau.

Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam walhamdulillahi Rabbil alamin.

Marwan bin Musa

Maraji: Dalilul Mu’tamir (Hahi’ah At Tau’iyah Al Islamiyyah Fil Hajj), dll.

Khutbah Jum'at: Zaman Jahiliyah

Kamis, 05 Desember 2024

 

بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Zaman Jahiliyah

Oleh: Marwan Hadidi , M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama adalah nikmat Islam, Iman, Hidayah, Taufiq, Sehat wal Afiyat, dan nikmat-nikmat lainnya yang tidak terhitung oleh kita jumlahnya.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya sampai hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam manusia berada dalam kejahiliyahan. Mereka disebut ‘jahiliyah’ karena mereka tidak berpengetahuan atau berada dalam kebodohan. Namun dalam hal apa mereka jahil (tidak mengetahui)? Apakah dalam urusan dunia atau dalam urusan apa? Tentunya bukan dalam urusan dunia, karena dalam urusan dunia banyak di antara mereka yang pandai sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka lalai terhadap (kehidupan) akhirat.” (Qs. Ar Ruum: 7)

Ayat ini menunjukkan bahwa mereka pandai dalam urusan dunia namun jahil (bodoh) dalam urusan akhirat atau dalam urusan agama. Secara lebih rincinya, mereka jahil atau tidak mengenal Tuhan mereka dan siapa yang berhak mereka sembah, mereka juga tidak mengetahui untuk apa mereka diciptakan di dunia, dan jalan mana yang harus mereka tempuh dalam hidup di dunia.

Karena kejahilan atau tidak mengenalnya mereka kepada Tuhan yang berhak mereka sembah sehingga menyebabkan mereka serampangan dalam menyembah. Di antara mereka ada yang menyembah batu dan pepohonan, ada yang menyembah matahari, bulan atau benda-benda langit lainnya, ada yang menyembah patung dan berhala, ada yang menyembah jin, manusia, atau malaikat, dan ada pula yang menyembah api seperti halnya orang-orang Majusi. Betapa saking menyimpangnya mereka, mereka sampai menyembah sesuatu yang lebih lemah daripada diri mereka sendiri, dimana sesembahan itu tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri apalagi menyelamatkan para penyembahnya.

Demikian pula karena kejahilan mereka terhadap tujuan mereka diciptakan di dunia, sehingga mereka mengira bahwa tujuan mereka hidup di dunia hanyalah untuk makan, minum, memenuhi nafsunya, dan bersenang-senang menikmati kesenangan dunia seperti halnya hewan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

“Orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Neraka Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (Qs. Muhammad: 12)

Oleh karenanya, di benak mereka hanyalah fikiran bagaimana caranya meraih kesenangan dunia sebanyak-banyaknya, dan yang mereka kejar hanyalah dunia, waktu mereka habis untuknya; tidak ada kesempatan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla di sela-sela waktu mereka.

Demikian pula karena jahilnya mereka terhadap jalan yang seharusnya mereka tempuh dalam kehidupan dunia mengakibatkan mereka menempuh jalan mana saja, baik hak maupun batil, benar atau salah, mendatangkan keridhaan Allah atau mendatangkan kemurkaan-Nya. Yang penting bagi mereka adalah jalan itu sesuai dengan selera hawa nafsunya. Oleh karenanya kita dapat muamalah dan pergaulan mereka bermacam-macam, ada yang melakukan riba, ada yang melakukan gharar (tidak jelas dalam muamalah), ada yang melakukan perjudian, ada yang melakukan zina dengan beragam macamnya, dll.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala adalah Rabbul alamin, Dia yang menciptakan, yang menguasai, yang memberi rezeki, dan yang mengatur alam semesta. Maka sebagaimana Dia telah menciptakan manusia dan tidak membiarkan mereka dalam kelaparan dan kehausan, Dia berikan mereka rezeki agar mereka dapat melangsungkan kehidupan di dunia dan agar jasmani mereka dapat tumbuh dengan baik dan sehat. Ini adalah bukti perhatian-Nya dalam urusan jasmani mereka demikian pula menunjukkan rahmat(kasih sayang)-Nya. Jika urusan jasmani mereka saja diperhatikan-Nya, apalagi urusan rohani mereka. Tentu Dia memperhatikan pula. Oleh karena itu, Dia mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk membimbing manusia agar tidak tersesat dan sengsara. Dia berfirman,

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى

“Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Qs. Thaahaa: 123)

Sebaliknya,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta." (Qs. Thaahaa: 124)

Petunjuk dan peringatan-Nya ada dalam kitab yang diturunkan-Nya (Al Qur’an) dan pada sunnah yang dibawa Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam (As Sunnah). Maka barang siapa yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, jalannya adalah dengan berpegang dengan keduanya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam untuk mengeluarkan umat manusia dari berbagai kegelapan, baik dari gelapnya kebodohan (kejahiliyah), gelapnya kekafiran, maupun gelapnya kemaksiatan kepada cahaya pengetahuan, cahaya keimanan, dan cahaya ketaatan, Dia berfirman,

الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Alif, laam raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu agar kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya yang terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Qs. Ibrahim: 1)

Siapa saja yang menyambut seruan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, maka keluarlah dirinya dari belenggu kegelapan dan kejahiliyahan atau kebodohan. Sebaliknya siapa saja yang tidak mau menyambut seruan Rasul-Nya setelah diutusnya, seperti tetap menyembah selain Allah, tidak mengisi hidupnya dengan beribadah, atau memilih gaya hidup sesuai selera hawa nafsunya, maka berarti orang tersebut masih berada dalam kegelapan, kejahiliyahan, kebodohan, kerusakan, dan ketertinggalan seperti halnya kaum Jahiliyah terdahulu[i].

Di antara isi kitab yang diturunkan-Nya adalah surat Al Fatihah; yang merupakan surat paling agung dalam Al Qur’an karena muatannya yang begitu dalam, bijaksana, membimbing, indah dan memuat kandungan yang ada dalam Al Qur’an secara garis besar sehingga disebut Ummul Qur’an (Induk Al Qur’an). Surat ini dinamai juga As Sab’ul Matsani (lihat Qs. Al Hijr: 87) karena jumlah ayatnya ada tujuh dan karena dibaca berulang kali oleh seorang hamba dalam shalatnya, baik shalat fardhu maupun shalat sunah, dan di setiap rakaatnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan kita terus membacanya dalam shalat kita yang di antara hikmahnya adalah agar nilai-nilai yang terkandung dalam surat Al Fatihah senantiasa terngiang-ngiang dalam benak fikiran kita sehingga hidup kita tidak jauh dari nilai-nilai itu, di samping untuk menjalin hubungan kita dengan Allah agar hidup ini tetap berada dalam bimbingan dan arahan-Nya karena dalam hidup di dunia ini terdapat banyak fitnah atau godaan yang memalingkan seseorang dari agamannya sebagaimana ditunjukkan dalam surat Al Fatihah ini, yaitu pada ayat ihdinash shirathal mustaqim (artinya: Tunjukkanlah kami jalan yang lurus).  

Di dalam surah Al Fatihah kita diperkenalkan tentang siapa Tuhan kita dan siapa yang berhak kita sembah, demikian pula di surat ini kita diperkenalkan untuk apa kita diciptakan di dunia, dan diperkenalkan jalan mana yang seharusnya kita tempuh dalam kehidupan di dunia.

Di surah Al Fatihah, kita diperkenalkan siapa Tuhan kita, yang ditunjukkan oleh firman-Nya,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ -- الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ -- مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.--Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.-- Yang menguasai di hari Pembalasan.” (Qs. Al Fatihah: 2-4)

Dialah Allah Tuhan kita yang menciptakan, menguasai, memberi rezeki, dan mengatur alam semesta di atas rahmat-Nya; yang memiliki nama Ar Rahman Ar Rahim (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), dimana di dalamnya terdapat sifat rahmat (kasih-sayang)-Nya, dan Dia -di samping sebagai Penguasa alam semesta- juga yang menguasai hari pembalasan dimana ketika itu tidak ada makhluk yang berani berbicara kecuali dengan izin-Nya. Dialah Tuhan yang berhak disembah karena Dialah yang mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta. Dia berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika Dialah yang kamu hendak sembah.” (Qs. Fushshilat: 37)

Demikian di surah Al Fatihah, kita diperkenalkan siapa yang berhak kita sembah dan untuk apa kita diciptakan di dunia, yang ditunjukkan oleh firman-Nya,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.” (Qs. Al Fatihah: 5)

Allah-lah yang berhak kita sembah dan kita tujukan berbagai macam bentuk ibadah; tidak selain-Nya, dan bahwa kita diciptakan di dunia ini adalah untuk menyembah hanya kepada-Nya dan mengisi hidup di dunia dengan mengabdi dan beribadah kepada-Nya, sebagaimana diperjelas oleh firman Allah Ta’ala di surat Adz Dzariyat: 56,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.”

Demikian pula di surat Al Fatihah kita diperkenalkan jalan mana yang harus kita tempuh dalam hidup di dunia. Hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ -- صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus,--(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Qs. Al Fatihah: 6-7)

Jalan orang-orang yang Allah berikan kenikmatan dan kebahagiaan itulah yang seharusnya kita tempuh. Mereka ini terdiri dari para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh (lihat Qs. An Nisaa’: 69) dimana ciri jalan mereka adalah mengetahui yang hak (benar) dan mengamalkannya, bukan jalan orang-orang yang dimurkai seperti jalannya orang-orang Yahudi, dimana ciri jalan mereka adalah mengetahui kebenaran namun tidak mau mengikutinya, dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat seperti jalan orang-orang Nasrani, dimana ciri jalan mereka adalah tidak mengetahui yang hak, namun sudah berani beramal akhirnya tersesat.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ -- وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ – وَ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I


[i] Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata, “Jahiliyah adalah keadaan bangsa Arab sebelum Islam, berupa jahil atau tidak mengenal Allah dan Rasul-Nya, jahil terhadap syariat Islam, berbangga dengan nasab, bersikap sombong dan sewenang-wenang, dan sebagainya yang dinisbatkan kepada kejahilan atau tidak ada ilmu, atau tidak mengikuti ilmu.”

Ia juga berkata, “Singkatnya, bahwa jahiliyah itu nisbat kepada jahil, yakni tidak ada ilmu. Ia terbagi dua:

a.        Jahiliyah ammah (umum), yaitu keadaan sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan telah hilang setelah ditusnya Beliau.

b.        Jahiliyah khashshah (khusus), yaitu yang menimpa sebagian negara atau sebagian orang. Hal ini senantiasa ada. Dari sini diketahui kelirunya orang yang menyatakan secara umum bahwa zaman ini zaman jahiliyah, seperti mengatakan, “Jahiliyah abad ini” atau “Jahiliyah abad 20” dsb. Yang benar adalah mengatakan “Jahiliyah sebagian orang di abad ini” atau “Kahiliyah sebagian besar orang di abad ini”. Adapun menyatakan secara umum atau merata, maka tidak benar dan tidak boleh, karena setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam jahiliyah secara umum (merata) sudah hilang. (Aqidatut Tauhid hal. 90)

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger