Khutbah Jumat: Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Yang Kini Telah Ditinggalkan

Kamis, 22 Agustus 2024

 

بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam, nikmat iman, nikmat hidayah, nikmat taufiq, nikmat sehat wa afiyat dan nikmat-nikmat lainnya yang sama-sama kita rasakan yang semuanya patut untuk kita syukuri.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia di di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Saat ini di antara syariat Islam yang banyak ditinggalkan kaum muslimin adalah amar ma’ruf dan nahi munkar. Terbukti dibiarkannya orang yang meninggalkan shalat (tidak diingatkan) dan tidak diingkarinya wanita yang memamerkan aurat, maraknya judi online, diberikan tempat kepada peramal, dibangun patung dan dipajang di tempat umum, dijual bebasnya minuman keras, dan sebagainya.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar merupakan prinsip penting dalam Islam. Hal itu dikarenakan, baiknya kehidupan manusia tergantung sejauh mana ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, dan untuk mencapai ketaatan secara sempurna atau mendekati ke arahnya dibutuhkan saling mengingatkan, meluruskan dan memperbaiki atau dengan kata lain harus diadakan Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar. Dengan demikian, umat Islam menjadi umat terbaik. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (Terj. Qs. Ali Imraan: 110)

Apa itu amar ma’ruf dan nahi munkar?

Ma'ruf secara syara' artinya semua yang diperintahkan syara', dipujinya perbuatan itu dan dipuji juga pelakunya. Termasuk ke dalam ma'ruf adalah semua ketaatan. Contoh perkara ma'ruf adalah mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allah Ta'ala (tauhid), beriman kepada Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, berhajji bagi yang mampu, berbakti kepada orang tua, berkata jujur, memenuhi janji, menunaikan amanah, menghidupkan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, menyambung tali silaturrahim (hubungan kekerabatan), berbuat baik kepada keluarga, tetangga, anak yatim, orang miskin dan melakukan akhlak mulia lainnya.

Adapun munkar secara syara' artinya semua yang diingkari syara', dicelanya perbuatan itu dan pelakunya. Termasuk ke dalam munkar adalah semua kemaksiatan. Contoh perkara munkar adalah kufur kepada Allah dan berbuat syirk, meninggalkan shalat atau menundanya hingga lewat waktunya, meninggalkan shalat Jumat dan jamaah, durhaka kepada orang tua, memutuskan tali silaturrahim, berbuat jahat kepada tetangga, bermu'amalah dengan cara riba, berkata dusta, ghibah (menggunjing orang), namimah (mengadu domba), wanita membuka auratnya, pacaran, mengurangi takaran dan timbangan, mengadakan bid'ah dalam agama dan lain-lain.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Amar ma'ruf dan nahi munkar hukumnya wajib bagi setiap muslim yang mampu melakukannya. Wajibnya adalah wajib kifayah. Allah Ta’ala berfirman,

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali Imraan: 104),

Jika sudah ada yang melakukannya, maka yang lain tidak berdosa. Letak kewajibannya terletak di kemampuan, sehingga seseorang wajib melakukannya sesuai kemampuan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran di antara kamu, maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, itu adalah selemah-lemah iman.” (Hr. Muslim, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Saking pentingnya amar ma’ruf dan nahi munkar, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sampai membuat perumpamaan dalam sabdanya berikut:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا : لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِى نَصِيبِنَا خَرْقاً ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا . فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعاً ، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعاً

"Perumpamaan orang yang menjalankan perintah Allah dengan orang yang melanggarnya seperti beberapa orang yang hendak menaiki kapal, mereka melakukan undian untuk menaikinya, akhirnya sebagian mereka  menempati bagian atas dan yang lain pada bagian bawah. Penumpang yang berada di bawah ketika hendak mengambil air selalu melewati orang-orang yang berada di atas, lalu ada di antara mereka yang mengusulkan, "Apa tidak sebaiknya, kita lobangi tempat kita sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita." Jika mereka semua membiarkannya, maka mereka semua akan binasa, namun jika mereka mencegahnya, maka mereka akan selamat, selamat semuanya." (Hr. Bukhari, Tirmidzi, dan Ahmad)

Beliau juga bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوْشِكُنَّ اللهُ يَبْعَثُ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ

"Demi Allah yang jiwaku berada di Tangan-Nya. Kamu harus melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar, atau jika tidak, Allah bisa segera menimpakan azab dari sisi-Nya dan ketika kamu berdoa tidak dikabulkan-Nya." (Hr. Tirmidzi, ia berkata, "Hadits hasan.")

Bahkan meninggalkan amar ma'ruf dan nahi munkar adalah kebiasaan orang-orang yahudi sehingga mereka dilaknat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79)

“Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.--Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya sangat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Qs. Al Maa'idah: 78-79)

Kita lihat di zaman sekarang. Ketika wanita mengenakan pakaian minim dan tidak diingkari, akhirnya banyak wanita yang melakukannya dan hal itu menjadi biasa. Kita lihat remaja-remaja kita berpacaran, namun tidak diingkari, maka banyak remaja-remaja yang melakukan demikian. Ketika warung-warung menjual minuman keras namun tidak diingkari, maka minuman keras dijual di mana-mana. Jika sudah demikian, maka berarti penduduknya siap menerima sanksi atau hukuman dari Allah Azza wwa Jalla. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ، أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ»

“Sesungguhnya manusia apabila melihat ada orang yang melakukan kezaliman ((kemaksiatan) namun mereka tidak mencegahnya, hampir saja Allah meratakan siksa-Nya kepada mereka.” (Hr. Abu Dawud, Tirrmidzi, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani)

Dalam riwayat Abu Dawud juga disebutkan,

«مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا، ثُمَّ لَا يُغَيِّرُوا، إِلَّا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ»

“Tidaklah dikerjakan maksiat-maksiat di tengah suatu kaum, padahal mereka mampu merubahnya namun tidak dilakukan, melainkan Allah bisa menimpakan azab-Nya kepada mereka secara merata.”

Dan jika azab itu telah turun, maka yang menimpa bukan hanya orang-orang yang zalim atau pelaku maksiat saja, tetapi orang yang tidak melakukannya pun kena ketika mereka tidak melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

 “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (Qs. Al Anfaal: 25)

Ibnu Abbas berkata dalam menafsirkan ayat di atas, "Allah memerintahkan kami agar tidak mendiamkan kemungkaran yang terjadi di tengah-tengah manusia yang nantinya Allah akan meratakan azab-Nya kepada mereka."

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَيْقَظَ الْغَافِلِيْنَ، وَنَفَعَ بِالتَّذْكِرَةِ الْمُؤْمِنِيْنَ، فَلَمْ يَشْتَغِلُوْا بِالدُّنْيَا وَحْدَهَا، بَلْ جَمَعُوْا بَيْنَ الدُّنْياَ وَالدِّيْنِ، وَعَرَفُوْا مَا لِرَبِّهِمْ مِنَ الْحَقِ، فَقَامُوْا بِهِ قِيَامَ الصَّادِقِيْنَ، أَحْمَدُهُ حَمْدَ الْحَامِدِيْنَ، وَأشْكُرُهُ وَأَسْتَعِيْنُهُ، فَهُوَ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ الْمُعِيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْمُصْطَفَى الْأَمِيْنُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Setelah kita tahu akan pentingnya amar ma’ruf dan nahi munkar. Apa syarat perbuatan yang wajib diingkari, apa contoh kemungkaran di tengah-tengah kita yang masih berjalan, dan apa akibatnya jika tidak dilakukan amar ma’ruf dan nahi munkar?

Ulama menerangkan, bahwa Syarat perbuatan yang wajib diingkari (dilakukan nahi munkar) adalah:

1.  Perbuatan itu adalah munkar (maksiat), baik maksiat kecil maupun besar.

2.  Kemungkaran itu masih berjalan. Oleh karena itu, jika sudah berhenti, maka cukup dinasehati pelakunya.

3.  Kemungkaran itu tampak, tanpa dimata-matai, karena tidak boleh memata-matai seorang muslim.

4.  Perbuatan tersebut memang sudah diketahui munkar berdasarkan Al Qur'an, hadits, ijma' atau qiyas yang jaliy (jelas). Adapun masalah yang diperselisihkan (khilafiyyah), maka tidak berlaku nahi mungkar di sana, karena al ijtihaad laa yunqadhu bil ijtihad (ijtihad tidak dapat dibatalkan dengan ijtihad), namun bid'ah dalam agama bukanlah masalah khilafiyyah.

Apa contoh kemungkaran di tengah-tengah kita?

1.     Mendatangi dukun dan peramal

2.     Membuat sesaji, tumbal, dan kurban untuk selain Allah Azza wa Jalla

3.     Beribadah di dekat kuburan

4.     Berdoa dan meminta kepada penghuni kubur

5.     Memakai jimat

6.     Meninggalkan shalat

7.     Wanita memamerkan aurat

8.     Mengkonsumsi narkoba dan minuman keras

9.     Pacaran

10. Bermuamalah secara riba

11. Perzinaan

12. Membangun patung dan memajangnya

13.  Melakukan perjudian

14. Menyerupai lawan jenis

15. LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender)

16. Melakukan kecurangan dalam takaran dan timbangan

17. Enggan membayar zakat

18. Meninggalkan puasa Ramadhan

19. Dll.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Apa yang terjadi jika kemungkaran dibiarkan?

1. Kemaksiatan merajalela dan terbiasa

2. Mendatangkan kemurkaan Allah

Sebagian orang ada yang mengatakan, “Biarkanlah orang-orang yang berbuat maksiat, bukankah mereka yang bermaksiat; bukan kita. Mereka yang bermain judi, mereka yang mengkonsumsi minuman keras, mereka yang berzina, dsb. Itu urusan mereka dengan Allah Azza wa Jalla.”

Kita katakan, “Ya, memang mereka yang bermaksiat, mereka yang bermain judi, mereka yang berzina, dan mereka yang mengkonsumsi minuman keras, tetapi itu semua maksiat yang mengundang kemurkaan Allah Azza wa Jalla, dimana jika Dia murka dan menimpakan azab-Nya, maka yang kena bukan hanya para pelaku maksiat itu, tetapi orang yang tidak melakukannya pun kena jika  dia tidak melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.”

3. Menjadikan daerah tersebut siap diazab Allah Azza wa Jalla

4. Doa tidak dikabulkan

5. Mendapatkan laknat

6. Hancur dan rusaknya masyarakat.

Kita meminta kepada Allah agar Dia selalu membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya dan memberikan kita taufiq untuk dapat menempuhnya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Terjemah Bulughul Maram (11)

Kamis, 08 Agustus 2024

 

بسم  الله الرحمن الرحيم



Terjemah Bulughul Maram (11)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut lanjutan terjemah Bulughul Maram karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan buku ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Dalam menyebutkan takhrijnya, kami banyak merujuk kepada dua kitab; Takhrij dari cetakan Darul ‘Aqidah yang banyak merujuk kepada kitab-kitab karya Syaikh M. Nashiruddin Al Albani rahimahullah, dan Buluughul Maram takhrij Syaikh Sumair Az Zuhairiy –hafizhahullah- yang kami singkat dengan ‘TSZ’.

كِتَابُ اَلصَّلَاةِ

Kitab Shalat

بَابُ اَلْأَذَانِ

Bab Azan

190- عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ t قَالَ: , طَافَ بِي -وَأَنَا نَائِمٌ- رَجُلٌ فَقَالَ: تَقُولُ: "اَللَّهُ أَكْبَرَ اَللَّهِ أَكْبَرُ, فَذَكَرَ اَلْآذَانَ - بِتَرْبِيع اَلتَّكْبِيرِ بِغَيْرِ تَرْجِيعٍ, وَالْإِقَامَةَ فُرَادَى, إِلَّا قَدْ قَامَتِ اَلصَّلَاةُ - قَالَ: فَلَمَّا أَصْبَحْتُ أَتَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ r فَقَالَ: "إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٍّ..." -  اَلْحَدِيثَ. أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ خُزَيْمَةَ

190. Dari Abdulllah bin Zaid bin Abdi Rabbih radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Ada seseorang yang mengelilingiku ketika  aku sedang tidur, ia berkata (mengajarkan kalimat azan): “Kamu ucapkan “Allahu akbar, Allahu akbar -lalu disebutkan lafaz azan (seluruhnya)- yaitu dengan mengempat kalikan takbir tanpa tarji’ (mengulang lagi dengan suara tinggi setelah sebelumnya dengan suara rendah), sedangkan iqamah itu dengan mengucapkannya sekali-sekali kecuali “Qadqaamatish shalah”, ketika pagi harinya aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu Beliau bersabda, “Sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar…dst.” (Hr. Ahmad, Abu Dawud, dishahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)[i]

191- وَزَادَ أَحْمَدُ فِي آخِرِهِ قِصَّةَ قَوْلِ بِلَالٍ فِي آذَانِ اَلْفَجْرِ: , اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ -

191.          Ahmad menambahkan di akhir hadits tentang kisah ucapan Bilal di azan fajar “Ash Shalaatu khairum minan naum (artinya: Shalat itu lebih baik daripada tidur).”[ii]

192- وَلِابْنِ خُزَيْمَةَ: عَنْ أَنَسٍ قَالَ: , مِنْ اَلسُّنَّةِ إِذَا قَالَ اَلْمُؤَذِّنُ فِي اَلْفَجْرِ: حَيٌّ عَلَى اَلْفَلَاحِ, قَالَ: اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ - 

192. Sedangkan dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dari Anas ia berkata; “Termasuk Sunnah Apabila muazin mengucapkan di waktu fajar, “Hayya ‘alal falah”, ia mengucapkan juga “Ash Shalatu khiarum minan naum.”[iii]

193- عَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ t , أَنَّ اَلنَّبِيَّ r عَلَّمَهُ اَلْآذَانَ, فَذَكَرَ فِيهِ اَلتَّرْجِيعَ -  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. وَلَكِنْ ذَكَرَ اَلتَّكْبِيرَ فِي أَوَّلِهِ مَرَّتَيْنِ فَقَطْ وَرَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ فَذَكَرُوهُ مُرَبَّعًا

193. Dari Abu Mahdzurah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan azan kepadanya, disebutkan di sana tarji’.” (Diriwayatkan oleh Muslim, namun disebutkan takbir di awalnya hanya dua kali. Juga diriwayatkan oleh lima imam Ahli Hadits namun semuanya menyebutkan empat kali takbir)[iv]

194- وَعَنْ أَنَسِ]بْنِ مَالِكٍ] t قَالَ: , أُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ اَلْآذَانَ, وَيُوتِرَ اَلْإِقَامَةَ, إِلَّا اَلْإِقَامَةَ, يَعْنِي قَوْلَهُ: قَدْ قَامَتِ اَلصَّلَاةُ -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَلَمْ يَذْكُرْ مُسْلِمٌ اَلِاسْتِثْنَاءَ

194. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Bilal diperintahkan untuk menggenapkan azan dan mengganjilkan iqamat kecuali “iqamah”, yakni kalimat “Qadqamatist shalah.” (Muttafaq ‘alaih. Tetapi Muslim tidak menyebutkan pengecualian itu)[v]

195- وَلِلنَّسَائِيِّ: , أَمَرَ اَلنَّبِيُّ r بِلَالاً - 

195.            Dan dalam riwayat  Nasa’i (dengan lafaz), “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Bilal”.[vi]

196- وَعَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ t قَالَ: , رَأَيْتُ بِلَالاً يُؤَذِّنُ وَأَتَتَبَّعُ فَاهُ, هَاهُنَا وَهَاهُنَا, وَإِصْبَعَاهُ فِي أُذُنَيْهِ -  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ

196.          Dari Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku melihat Bilal ketika azan, kuperhatikan mulutnya ke sana dan ke sini, sedangkan kedua jarinya di dua (lubang) telinganya. (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi, ia menshahihkannya)[vii]

197- وَلِابْنِ مَاجَهْ: وَجَعَلَ إِصْبَعَيْهِ فِي أُذُنَيْهِ

197.            Sedangkan dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, “Dan ia jadikan dua jarinya di dua (lubang) telinga”.[viii]

198- وَلِأَبِي دَاوُدَ: , لَوَى عُنُقَهُ, لَمَّا بَلَغَ "حَيَّ عَلَى اَلصَّلَاةِ " يَمِينًا وَشِمَالاً وَلَمْ يَسْتَدِرْ -. وَأَصْلِهِ فِي اَلصَّحِيحَيْنِ

198.            Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud disebutkan “Ia (Bilal) memutar lehernya, ketika sampai pada kalimat “Hayya ‘alash shalah” ke kanan dan ke kiri, tetapi ia tidak memutar badannya.” Asal hadits ini terdapat dalam Shahihain.[ix]

199- وَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ t , أَنَّ اَلنَّبِيَّ r أَعْجَبَهُ صَوْتُهُ, فَعَلَّمَهُ اَلْآذَانَ -  رَوَاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

199.            Dari Abi Mahdzurah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibuat kagum oleh suaranya, lalu Beliau mengajarkan kepadanya azan. (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah)[x]

200- وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: , صَلَّيْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ r اَلْعِيدَيْنِ, غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ, بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ -  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

200.            Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku telah melakukan shalat dua hari raya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan itu tidak hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak dikumandangkan azan dan iqamat. (Diriwayatkan oleh Muslim)[xi]

201- وَنَحْوُهُ فِي اَلْمُتَّفَقِ: عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا, وَغَيْرُهُ

201.            Dan sama seperti itu juga dalam Hadits Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu Abbas serta yang lainnya.[xii]

202- وَعَنْ أَبِي قَتَادَةٌ فِي اَلْحَدِيثِ اَلطَّوِيلِ, , فِي نَوْمهُمْ عَنْ اَلصَّلَاةِ - ثُمَّ أَذَّنَ بِلَالٌ, فَصَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ r كَمَا كَانَ يَصْنَعُ كُلَّ يَوْمٍ -  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

202.            Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu -dalam hadits yang panjang tentang tertidurnya para shahabat sampai shalat di luar waktu-, kemudian Bilal azan lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat sebagaimana yang dilakukannya setiap hari.” (Diriwayatkan oleh Muslim)[xiii]

203- وَلَهُ عَنْ جَابِرٍ; , أَنَّ اَلنَّبِيَّ r أَتَى اَلْمُزْدَلِفَةَ فَصَلَّى بِهَا اَلْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ, بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتَيْنِ -

203.            Dalam riwayat Muslim juga dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sampai di Muzdalifah, shalat Maghrib dan isya di sana (dijama’) dengan satu azan dan dua iqamat.[xiv]

204- وَلَهُ عَنْ اِبْنِ عُمَرَ: , جَمَعَ بَيْنَ اَلْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِإِقَامَةٍ وَاحِدَةٍ - زَادَ أَبُو دَاوُدَ: , لِكُلِّ صَلَاةٍ - وَفِي رِوَايَةِ لَهُ: , وَلَمْ يُنَادِ فِي وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا -

204.            Dalam riwayat Muslim juga dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan, “Beliau menjama’ shalat Maghrib dan Isya dengan satu Iqamat,” sedangkan Abu Dawud menambahkan “Untuk masing-masing shalat” dan dalam sebuah riwayatnya disebutkan, “Beliau tidak menyuruh azan untuk salah satu dari keduanya.”[xv]

205- وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ, وَعَائِشَةَ قَالَا: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r , إِنَّ بِلَالاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ, فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُنَادِيَ اِبْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ", وَكَانَ رَجُلاً أَعْمَى لَا يُنَادِي, حَتَّى يُقَالَ لَهُ: أَصْبَحْتَ, أَصْبَحْتَ -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي آخِرِهِ إِدْرَاجٌ

205.            Dari Ibnu Umar dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum keduanya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan di waktu malam, maka tetaplah makan dan minum sampai Ibnu Ummi Maktum azan.” Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta yang tidak melakukan azan kecuali setelah dikatakan kepadanya, “Kamu sudah berada di waktu shubuh, kamu sudah berada di waktu Subuh.’” (Muttafaq ‘alaih, dan lafaz akhirnya adalah idraj/selipan)[xvi]

206- وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ; , إِنَّ بِلَالاً أَذَّنَ قَبْلَ اَلْفَجْرِ, فَأَمَرَهُ اَلنَّبِيُّ r أَنْ يَرْجِعَ, فَيُنَادِيَ: "أَلَا إِنَّ اَلْعَبْدَ نَامَ -  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَضَعَّفَهُ

206.            Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Bilal azan sebelum fajar, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya kembali ke tempat azan dan menyeru, “Ingatlah sesungguhnya seorang hamba tengah tidur.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan ia mendha’ifkannya)[xvii]

207- وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r , إِذَا سَمِعْتُمْ اَلنِّدَاءَ, فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ اَلْمُؤَذِّنُ -  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

207.            Dari Abi Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kamu mendengar azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan muazin.” (Muttafaq ‘alaih)[xviii]

208- وَلِلْبُخَارِيِّ: عَنْ مُعَاوِيَةَ

208.            Sedangkan dalam riwayat Bukhari dari jalan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu sama seperti itu.[xix]

209- وَلِمُسْلِمٍ: , عَنْ عُمَرَ فِي فَضْلِ اَلْقَوْلِ كَمَا يَقُولُ اَلْمُؤَذِّنُ كَلِمَةً كَلِمَةً, سِوَى اَلْحَيْعَلَتَيْنِ, فَيَقُولُ: "لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ" - 

209.            Dan dalam riwayat Muslim dari jalan Umar radhiyallahu ‘anhu tentang keutamaan mengucapkan kata-kata yang diucapkan oleh muazin disebutkan sekalimat sekalimat kecuali hai’alah (Hayya ‘alash shalaah & hayya ‘alal falaah), maka pendengar mengucap “La haula wa la quwwata illa billah.”[xx]

210- وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ t , أَنَّهُ قَالَ : يَا رَسُولَ اَللَّهِ اِجْعَلْنِي إِمَامَ قَوْمِي . قَالَ : "أَنْتَ إِمَامُهُمْ , وَاقْتَدِ بِأَضْعَفِهِمْ , وَاِتَّخِذْ مُؤَذِّنًا لَا يَأْخُذُ عَلَى أَذَانِهِ أَجْرًا -  أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ , وَحَسَّنَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ .

210.            Dari ‘Utsman bin Abil ‘Ash radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Wahai Rasulullah, jadikanlah saya imam bagi kaum saya,” maka Beliau bersabda, “Engkau imam bagi mereka, dan jadikanlah perhatianmu kepada orang yang paling lemah di antara mereka serta carilah muazin yang tidak mengambil upah dalam azannya.’” (Diriwayatkan oleh lima imam Ahli Hadits,  dihasankan oleh Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Hakim)[xxi]

211- وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ t قَالَ : قَالَ لَنَا اَلنَّبِيُّ r , وَإِذَا حَضَرَتِ اَلصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ . . . -  اَلْحَدِيثَ أَخْرَجَهُ اَلسَّبْعَةُ .

211.            Dari Malik bin Al Huwairits radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada kami, “Apabila tiba waktu shalat, hendaknya salah seorang di antara kamu azan buat kamu…dst.” (Diriwayatkan oleh tujuh imam Ahli Hasits)[xxii]

212- وَعَنْ جَابِرٍ t أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ r قَالَ لِبِلَالٍ : , إِذَا أَذَّنْتَ فَتَرَسَّلْ , وَإِذَا أَقَمْتُ فَاحْدُرْ , وَاجْعَلْ بَيْنَ أَذَانِكَ وَإِقَامَتِكَ قَدْرَ مَا يَفْرُغُ اَلْآكِلُ مِنْ أَكْلِهِ -  اَلْحَدِيثَ . رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَهُ .

212.            Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Bilal, “Apabila kamu azan maka perlambatlah dan apabila kamu iqamat maka percepatlah, berilah jarak antara azanmu dan iqamatmu sejarak selesainya orang yang makan dari makannya…dst.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi, dan didha’ifkannya)[xxiii]

213- وَلَهُ : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t أَنَّ اَلنَّبِيَّ r قَالَ : , لَا يُؤَذِّنُ إِلَّا مُتَوَضِّئٌ -  وَضَعَّفَهُ أَيْضًا فَالْحَدِيثُ ضَعِيفٌ مَرْفُوعًا وَمَوْقُوفًا .

213.            Dan dalam riwayat Tirmidzi juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tidak boleh azan kecuali orang yang wudhu’.” (Namun didhaifkannya juga, jadi hadits tersebut dha’if baik yang marfu’ maupun yang mauquf)[xxiv]

214- وَلَهُ : عَنْ زِيَادِ بْنِ اَلْحَارِثِ t قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r , وَمَنْ أَذَّنَ فَهُوَ يُقِيمُ -  وَضَعَّفَهُ أَيْضًا

214.            Dalam riwayat Tirmidzi juga dari Ziyad bin Al Harits ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan barang siapa yang azan maka dialah yang iqamat.” (namun didha’ifkannya juga)[xxv]

215- وَلِأَبِي دَاوُدَ: فِي حَدِيثِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ قَالَ : أَنَا رَأَيْتُهُ - يَعْنِي : اَلْأَذَانُ - وَأَنَا كُنْتُ أُرِيدُهُ . قَالَ : "فَأَقِمْ أَنْتَ " وَفِيهِ ضَعْفٌ أَيْضًا

215.            Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud dari hadits Abdullah bin Zaid, bahwa ia (Abdullah bin Zaid) berkata, “Akulah yang mimpi tentang itu –yakni azan-, aku juga sebenarnya yang mau”, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamulah kalau begitu yang iqamat.” (di dalamnya sama ada kelemahan)[xxvi]

216- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r , اَلْمُؤَذِّنُ أَمْلَكُ بِالْأَذَانِ , وَالْإِمَامُ أَمْلَكُ بِالْإِقَامَةِ -  رَوَاهُ اِبْنُ عَدِيٍّ وَضَعَّفَهُ .

216.            Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Muazin itu lebih berhak memegang azan, dan imam itu lebih berhak (mengendalikan) iqamat.” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Addiy, namun ia mendha’ifkannya)[xxvii]

217- وَلِلْبَيْهَقِيِّ نَحْوُهُ : عَنْ عَلِيٍّ مِنْ قَوْلِهِ

217.            Sedangkan dalam riwayat Baihaqi sama seperti itu namun dari jalan Ali dan termasuk ucapannya.[xxviii]

218- وَعَنْ أَنَسٍ t قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r , لَا يُرَدُّ اَلدُّعَاءُ بَيْنَ اَلْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ -  رَوَاهُ النَّسَائِيُّ , وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ .

218.            Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ditolak doa di antara azan dan iqamat.” (Diriwayatkan oleh Nasa’i, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)[xxix]

219-وَعَنْ جَابِرٍ- رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ- أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ r قَالَ : , مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ اَلنِّدَاءَ : اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ اَلدَّعْوَةِ اَلتَّامَّةِ , وَالصَّلَاةِ اَلْقَائِمَةِ , آتِ مُحَمَّدًا اَلْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ , وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا اَلَّذِي وَعَدْتَهُ , حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ -  أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ .

219. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang mengucapkan ketika telah mendengar azan, Allahumma Rabba Haadzihid da’watit Taammah…dst. sampai wa’attah. (artinya, “Ya Allah, pemilik seruan yang sempurna ini, pemilik shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah (kedudukan yang tinggi) dan keutamaan, bangkitkanlah dia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan”), maka syafaatku pasti ia dapatkan pada hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh empat imam Ahli Hadits)[xxx]

 

Bersambung….

Wa shallallahu 'alaa Nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Alih Bahasa:

Marwan bin Musa



[i] Hasan shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (499) dalam Ash Shalaah, Tirmidzi (189), Ahmad (16430), pentahqiqnya yaitu Ahmad Syakir berkata, “Isnadnya shahih”. Ada juga dalam Shahih Ibnu Khuzaimah dengan ta’liq Al Albani (382), Ibnu Majah (706), Baihaqi (1/391), Daruquthni (89) dari jalan Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ibrahim bin Al Haarits At Taimiy dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbih, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Zaid, Tirmidzi berkata, "Hadits hasan shahih.” Al Albani mengatakan, “Dan ini isnad yang hasan.” [Al Irwaa’ (246)] .

[ii] Isnadnya terputus, diriwayatkan oleh Ahmad dari jalan Ibnu ishaq, ia mengatakan, “Dan Muhammad bin Salim Az Zuhriy menyebutkan dari Sa’id bin Al Musayyib dari Muhammad bin Abdillah bin Zaid”, isnadnya terputus, karena Ibnu Ishaq apabila mengatakan, “Dan disebutkan”, maka ia tidak mendengar, hadits tersebut adalah maushul –dikatakan oleh Ahmad Syakir dalam ta’liqnya terhadap hadits tersebut, no. (16429) .

[iii] Isnadnya shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1/202 no. 386 dalam shahihnya), Daruquthni dalam Sunannya (1/243) dari jalan Abu Usamah, isnadnya shahih, lihat Ta’liq Al Albani terhadap Shahih Ibnu Khuzaimah no. (386).

[iv] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (379) bab Shifatul Adzan, Abu Dawud (502, 503) bab Kaifal adzaan, Nasa’i (629) bab Khafdhush shaut fit tarji’ fil adzaan, Shahih Ibnu Majah oleh Al Albani (588). Juga diriwayatkan oleh Tirmidzi (192) dan Ahmad (3/409 dan 6/401), Tirmidzi mengatakan, "Hadits hasan shahih."

[v] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (605) bab Al Adzaan matsnaa matsnaa, Muslim (378) bab Al Amru bisyaf’il adzaan wa iitaaril iqaamah.

[vi] Shahih, diriwayatkan oleh Nasa’i (627) dalam Tatsniyatul adzaan, Ibnu Majah (370) bab Ifraadul iqaamah, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih An Nasaa’i no. 626 .

[vii] Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (18284), Tirmidzi (197) dalam Ash Shalaah bab Maa jaa’a fii idkhaalil ishba’ fil udzun ‘indal adzaan, Tirmidzi mengatakan, "Hadits hasan shahih", Hakim (1/202) dari jalan Abdurrazzaaq. Kata Hakim, “Shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim”, dan disepakati oleh Adz Dzahabiy, serta dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, lihat Al Irwaa' (230) .

[viii] Dha’if, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (711) dalam Al Adzaan was Sunnatu fiihaa, bab As Sunnah fil adzaan dari jalan Sa’ad Al Qurzh, dan didha'ifkan oleh Al Albani dalam Dha’if Ibnu Majah no. 133, lihat Al Irwaa' ( 231), lafaznya adalah,

عن سعد القرظ: أن رَسُول اللَّه صَلَى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَم أمر بلال أن يجعل إصبعيه في إذنيه. وقال إنه أرفع لصوتك

Dari Sa’ad Al Qurzh: Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh Bilal menjadikan dua jarinya di kedua telinganya, kata Beliau, “Sesungguhnya hal itu dapat lebih meninggikan suaramu.”

[ix] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (520) bab Fil muazin yastadiiru fii adzaanih, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud (520), dalam riwayat Bukhari (634) bab Hal Yatatabba’ul muazin faahu haa hunaa wa haa hunaa, Muslim (503) bab Sutratul Mushalliy.

Sumair Az Zuhairiy menyebutkan riwayat Bukhari dan Muslim sbb:

عن ابن أبي جحيفة، عن أبيه؛ أنه رأى بلالا يؤذن. قال: فجعلت أتتبع فاه هاهنا وهاهنا.

Dari Ibnu Abi Juhaifah, dari bapaknya: bahwa ia melihat Bilal ketika adzan, lanjutnya, “Saya perhatikan mulutnya ke sana dan ke sini.”

[x] Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (1/195 no. 377), Darimiy (1/271) dari jalan Sa’id bin ‘Amir.

[xi] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (887) dalam Shalaatul ‘Iedain, Tirmidzi (532) dalam Al Jum’ah dan Abu Dawud (1148) .

[xii] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (960) dalam Al ‘Idain dan Muslim (886) dalam Shalaatul ‘Idain.

[xiii] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (681) dalam Al Masaajid wa mawaadhi’ush shalaah .

[xiv] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (1218) dalam Al Hajj.

Sumair Az Zuhairiy mengatakan, “Dalam Muslim setelah lafaz tersebut ada kata-kata “ولم يسبح بينهما شيئا “ (Beliau tidak melakukan shalat sunah di antara keduanya), lanjutnya, “Inilah yang benar yang seharusnya dilakukan di malam tersebut –yakni malam Muzdalifah-, adapun yang disebutkan sebagian orang bahwa yang Sunnah adalah melakukan shalat sunnah Maghrib (ba’diyyah Maghrib) bersandar dengan riwayat Ibnu Mas’ud dalam (Shahih) Bukhari ini adalah keliru.”

[xv] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (1288) dalam Al Hajj, Abu Dawud dalam Al Hajj bab Ash Shalaah bijam’ (1926, 1927, 1928), dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud.

Menurut Sumair Az Zuhairiy bahwa lafaz “وَلَمْ يُنَادِ فِي وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا “ (Beliau tidak menyuruh azan untuk salah satu dari keduanya) adalah syadz, wallahu a’lam.

[xvi] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (617) dalam Al Adzaan, Muslim (1092) dalam Ash Shiyaam .

Lafaz yang diselipkan ke dalam hadits adalah kalimat “Ibnu Ummi Maktum addalah seorang yang buta …dst.”, Sumair Az Zuhairiy menjelaskan bahwa kalimat ini adalah kata-kata Az Zuhriy sebagaimana diriwayatkan oleh Thahaawiy dalam Syarhul Ma’aaniy, juga yang lainnya dengan isnad yang shahih dari jalan Bukhari sendiri.

[xvii] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (532) bab Al Adzaan qabla dukhuulil waqt, hadits tersebut dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud (532).

Sumair Az Zuhairiy mengatakan, “Adapun pendha’ifan Abu Dawud, maka ini sama seperti yang dilakukan oleh Tirmidzi ketika mengatakan “Hadits ini tidak mahfuzh”, alasan mereka adalah karena Hammad bin Salamah keliru di situ”, Sumair melanjutkan, “Menyalahkan orang yang tsiqah tanpa bukti adalah tertolak sebagaimana yang mereka lakukan di sini.”

[xviii] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (611) dalam Al Adzaan, Muslim (383) dalam Ash Shalaah, Tirmidzi dalam Ash Shalaah, Ibnu Majah (720), Abu Dawud (522) dan Nasa’i (673) .

[xix] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (612) dan dalam sebuah riwayatnya (914) dari jalan Abu Umamah bin Sahl bin Hanif ia berkata:

سمعت معاوية بن أبي سفيان، وهو جالس على المنبر، أذن المؤذن قال: الله أكبر. الله أكبر. قال معاوية: الله أكبر. الله أكبر. قال: أشهد أن لا إله إلا الله. فقال معاوية: أنا فقال: أشهد أن محمدا رسول الله. فقال معاوية: وأنا. فلما قضى التأذين. قال: يا أيها الناس! إني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم على هذا المجلس -حين أذن المؤذن- يقول: ما سمعتم مني من مقالتي.

“Aku mendengar Mu’awiyah bin Abi Sufyan –ketika itu ia sedang duduk di atas mimbar- sedangkan muazin mengatakan “Allahu Akbar-Allahu Akbar”, ia mengucapkan “Allahu Akbar-Allahu Akbar”, Muazin lalu mengatakan “Asyhadu al laailaahaillallah”, Mu’awiyah mengatakan “Saya (juga)”, muazin lalu mengatakan “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, Mu’awiyah lalu mengatakan “Saya juga” setelah adzan selesai Mu’awiyah berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di atas majlis ini –ketika muazin berkumandang- mengucapkan seperti yang telah kamu dengar dariku” –TSZ-.

[xx] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (385) dalam Ash Shalaah, Abu Dawud (527) dalam Ash Shalaah bab Maa yaquulu idzaa sami’al mu’adzdzin . Dalam TSZ disebutkan Lafaz Muslim sbb:

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إذ قال المؤذن: الله أكبر. الله أكبر. فقال أحدكم: الله أكبر. الله أكبر. ثم قال: أشهد أن لا إله إلا الله. قال: أشهد أن لا إله إلا الله. ثم قال: أشهد أن محمدا رسول الله. قال: أشهد أن محمدا رسول الله. ثم قال: حي على الصلاة . قال: لا حول ولا قوة إلا بالله. ثم قال: حي على الفلاح. قال: لا حول ولا قوة إلا بالله. ثم قال: الله أكبر. الله أكبر. قال: الله أكبر . الله أكبر . ثم قال: لا إله إلا الله. قال: لا إله إلا الله. من قلبه دخل الجنة".

Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila muazin mengucapkan “Allahu akbar-Allahu akbar”, lalu salah seorang di antara kamu mengucapkan “Allahu akbar-Allahu akbar”, dan ketika diucapkan “Asyhadu allaailaahaillallah” ia juga ucapkan “Asyhadu allaailaahaillallah”. Ketika diucapkan “Asyhadu anna muhammadar rasuulullah” ia juga mengucapkan “Asyhadu anna muhammadar rasuulullah”. Ketika diucapkan “Hayya ‘alash shalaah” ia ucapkan “Laa haula wa alaa quwwata illaa baillah” dan ketika diucapkan “Hayya ‘alal falaah” ia ucapkan “Laa haula wa alaa quwwata illaa baillah”, dan ketika diucapkan “Allahu akbar-Allahu akbar, ia juga ucapkan “Allahu akbar-Allahu akbar”. Ketika diucapkan “Laailaahaillallah” ia juga mengucapkan “Laailaahaillallah” dengan ikhlas dari hatinya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Muslim)

[xxi] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (531) dalam Ash Shalaah, Tirmidzi (209) dalam Abwaabush shalaah, ia mengatakan, “Hasan shahih”, Nasa’i (672), Ibnu Majah (714) dalam Al Adzaan was sunnah fiihaa, Ahmad dalam Al Musnad (15636), dishahihkan oleh Hakim (1/201) dalam Al Mustadrak, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud (531) .

[xxii] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (628) dalam Al Adzaan, Muslim (674) dalam Al Masaajid wa mawaadhi’ush shalaah, Ibnu Majah (979), Abu Dawud (589), Darimiy (1253), Ahmad (15171) dan Nasaa’i (635) –TCDA-, juga diriwayatkan oleh Tirmidzi (205).

Dalam TSZ disebutkan, “Hadits tersebut dalam riwayat sebagiannya disebutkan secara panjang, namun di sebagian yang lain disebutkan secara ringkas, Bukhari menambahkan dalam sebagian riwayatnya, “"وصلوا كما رأيتموني أصلي “(shalatlah sebagaimana kalian lihat aku shalat). Sedangkan dalam riwayat Ahmad dengan lafaz “كما تروني أصلي” (sebagaimana kalian lihat aku shalat), namun tambahan ini tidak ada pada seorang pun dari pemilik kitab yang enam selain Bukhari.”

[xxiii] Dha’if jiddan (sangat dha’if), diriwayatkan oleh Tirmidzi (195) bab Maa jaa’a fit tarassul fil adzaan dari jalan Ibnu ‘Addiy dari Abdul Mun’im Al Bashriy, telah menceritakan kepada kami yahya bin Muslim dari Al Hasan dan ‘Athaa’ dari Jabir. Abu ‘Isa mengatakan, “Hadits ini tidak kami ketahui selain dari hadits Abdul Mun’im, ini adalah isnad yang majhul”, Al Albani berkata, “Bahkan isnadnya ma’ruf (terkenal) dengan kedha’ifan, dan kedha’ifan yang parah.” Abdul Mun’im ini adalah Ibnu Nu’aim Al Aswaariy pemilik As Siqaa’. Bukhari dan Abu Hatim mengatakan, “Mungkar haditsnya”, Nasa’i mengatakan “Tidak tsiqah”, dan Yahya bin Muslim adalah Al Bakaa’, ia adalah dha’if sebagaimana dalam At Taqrib, oleh karena itulah dalam Ad Diraayah (hal. 61) dipastikan tentang lemahnya isnad hadits tersebut. [lihat Al Irwaa' (228)] .

Dalam TSZ disebutkan lanjutan hadits di atas sbb,

والشارب من شربه ، والمعتصر إذا دخل لقضاء حاجته ، ولا تقوموا حتى تروني

Dan selesainya orang yang minum dari minumnya, yang umrah ketika mulai memenuhi hajatnya dan janganlah kalian berdiri sampai kalian melihat aku.”

Adapun kata-kata “ولا تقوموا حتى تروني” (janganlah kalian berdiri sampai kalian melihatku) adalah shahih, lihat Dha’if At Tirmidzi (195).

[xxiv] Dha’if, diriwayatkan oleh Tirmidzi (200) bab Maa jaa’a fii karaahiyyatil adzaan bighairi wudhu’, Baihaqi (1/397) dari Mu’awiyah bin Yahya  Ash Shidqiy dari Az Zuhriy dari Anu Hurairah secara marfu’, Baihaqi mengatakan, “Seperti inilah Mu’awiyah meriwayatkan dari Yahya Ash Shidqiy sedangkan ia adalah dha’if,” Al Albani berkata, “Disandarkan oleh Tirmidzi dari jalan Ibnu Wahb dari Yunus secara mauquf.” Hadits tersebut munqathi’ (terputus) sebagaimana dikatakan Al Albani, ia juga mendha’ifkan yang mauquf dan yang marfu’nya, lihat Dha’if At Tirmidzi (200) dan Al Irwaa’ (222) .

Dalam TSZ disebutkan, “Dha’if, diriwayatkan oleh Tirmidzi (200), ia juga mendha’ifkan karena terputusnya antara Az Zuhriy dan Abu Hurairah. Sumair Az Zuhairiy mengatakan, “Dia (Tirmidzi) juga meriwayatkan (201) secara mauquf dari Abu Hurairah, namun tidak shahih juga dengan lafaz “"لا ينادي بالصلاة إلا متوضئ”.

[xxv] Dha’if, diriwayatkan oleh Tirmidzi (199) dalam Abwaabush shalaah, Baihaqi (1/399), Ahmad, Abu Dawud (514), Ibnu Majah (717), Tirmidzi mengatakan, "Kami hanya mengetahui hadits tersebut dari hadits Al Afriqiy, ia adalah dha’if menurut Ahli Hadits,” didha'ifkan oleh Yahya bin Sa’id Al Qaththan dan lainnya. Ahmad mengatakan, “Aku tidak mencatat hadits Al Afriiqiy, hadits tersebut juga didha'ifkan oleh Al Baghawiy dan Baihaqi, juga diingkari oleh Sufyan Ats Tsauriy. Lihat Dha’if At Tirmidzi (199), Al Irwaa’ (237) dan Adh Dha’iifah (35).

[xxvi] Dha’if, diriwayatkan oleh Abu Dawud (512) dalam Ash Shalaah, dan didha'ifkan oleh Al Albani dalam Dha’if Abu Dawud (215) .

[xxvii] Dha’if, diriwayatkan oleh Al Baathirqaaniy dalam “Juz’ min hadiitsih” (156/2), Dailamiy (4/80) dari Ibnu Laal secara mu’allaq dari Syuraik dari Al A’masy dari Abu Shaalih dari Abu Hurairah secara marfu. Dari jalan ini juga Ibnu ‘Addiy (193/1) meriwayatkan, ia berkata, “Tidak diriwayatkan dengan lafaz ini selain dari Syuraik”, Al Albani mengatakan, “Dha’if, karena jeleknya hapalan”, Al Albani berkata, “Diriwayatkan juga oleh Abu Hafsh Al Kataaniy dalam haditsnya (133/2) dari Abu Hafsh Al Abaar –secara mauquf- pada ‘Ali, inilah yang shahih. [Adh Dha'iifah (4669).

[xxviii] Shahih Mauquf, diriwayatkan oleh Baihaqi (2/19), lafaznya adalah “"المؤذن أملك بالأذان ، والإمام أملك بالإقامة.” –TSZ-.

[xxix] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (521) dari Anas bin Malik bab Maa Jaa’a fid du’aa bainal adzaan wal iqaamah dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud (521), juga diriwayatkan oleh Nasa’i dalam ‘Amalul yaumi wal lailah dengan isnad yang jayyid, Ibnu Khuzaimah (1/222) no. (426), juga diriwayatkan oleh Tirmidzi (212) dari Anas bin Malik bab Maa jaa’a fii annad du’aa laa yuraddu bainal adzaan wal iqaamah, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi (212), Al Misykaat (671) dan Al Irwaa’ (244) .

Dalam TSZ disebutkan bahwa hadits tersebut ada tambahannya, yaitu:

فماذا نقول يا رسول الله ؟ قال : سلوا الله العافية في الدنيا والآخرة

“Lalu apa yang kami ucapkan wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Mintalah kepada Allah ‘afiyat (keselamatan) di dunia dan akhirat.”

Sumair Az Zuhairiy mengatakan, “Tambahan ini adalah dha’if, Yahya bin Yaman menyendiri dengan tambahan ini, dan dalam hafalannya ada kelemahan.”

[xxx] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (529) bab Maa jaa’a fid du’aa ‘indal adzaan, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud (529), juga diriwayatkan oleh Tirmidzi (211) dalam Abwaabush shalaah, Nasa’i (680) dalam Al Adzaan, Ibnu Majah (722) dalam Al Adzaan, hadits tersebut dalam Bukhari (614).

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger