Terjemah Bulughul Maram (3)

Selasa, 10 Oktober 2023

 

بسم الله الرحمن الرحيم



Terjemah Bulughul Maram (3)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut lanjutan terjemah Bulughul Maram karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan buku ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Dalam menyebutkan takhrijnya, kami banyak merujuk kepada dua kitab; Takhrij dari cetakan Darul ‘Aqidah yang banyak merujuk kepada kitab-kitab karya Syaikh M. Nashiruddin Al Albani rahimahullah, dan Buluughul Maram takhrij Syaikh Sumair Az Zuhairiy –hafizhahullah-.

بَابُ الْآنِيَةِ

Bab Tentang Bejana

18- عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ الْلَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ r : لَا تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ والْفِضَّةِ، وَلَا تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهَا، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا، وَلَكُمْ فِي الْآخِرَةِ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

18. Dari Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu minum dengan bejana emas dan perak, juga jangan makan dengan piring yang terbuat dari keduanya (emas dan perak), karena keduanya untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia sedang di akhirat untuk kamu.” (Muttafaq ‘alaih)[i]

19- وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ الْلَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ الْلَّهِ r : الَّذِي يَشْرَبُ فِي إِنَاءِ الْفِضَّةِ إِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِي بَطْنِهِ نَارَ جَهَنَّمَ  . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

19. Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang minum dengan bejana perak, sebenarnya ia sedang menuangkan ke dalam perutnya api neraka Jahannam.” (Muttafaq ‘alaih)[ii]

20- وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الْلَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ الْلَّهِ r , إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ -  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

20. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila disamak sebuah kulit maka jadilah suci.” (Diriwayatkan oleh Muslim)[iii]

21- وَعِنْدَ الْأَرْبَعَةِ: , أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ -

21. Sedangkan dalam riwayat empat orang “Kulit mana saja yang disamak.”[iv]

22- وَعَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْمُحَبِّقِ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ الْلَّهِ r : دِبَاغُ جُلُودِ الْمَيْتَةِ طُهُورُهاَ  . صَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

22. Dari Salamah bin Al Muhabbiq radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Disamaknya kulit bangkai adalah sebagai penyucian buatnya.” (Dishahihkan oleh Ibnu Hibban)[v]

23- وَعَنْ مَيْمُونَةَ رَضِيَ الْلَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: مَرَّ رَسُولُ الْلَّهِ r بِشَاةٍ يَجُرُّونَهَا، فَقَالَ: "لَوْ أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا؟" فَقَالُوا: إِنَّهَا مَيْتَةٌ، فَقَالَ: "يُطَهِّرُهَا الْمَاءُ وَالْقَرَظُ" .  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ

23. Dari Maimunah radhiyallahu ‘anhaa ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seekor kambing yang ditarik oleh orang-orang, maka Beliau bersabda, “Kalau seandainya kalian ambil kulitnya (tentu bermanfaat-pent)”, orang-orang pun berkata, “Sesungguhnya ia sudah menjadi bangkai.Maka Beliau bersabda, “Bisa suci oleh air dan daun salam.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)[vi]

24-وَعَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ t قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ الْلَّهِ، إِنَّا بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، أَفَنَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ؟]فـَ] قَالَ: "لَا تَأْكُلُوا فِيهَا، إِلَّا أَنْ لَا تَجِدُوا غَيْرَهَا، فَاغْسِلُوهَا، وَكُلُوا فِيهَا" .  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

24. Dari Abu Tsa’labah Al Khusyanni radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami berada di daerah sebuah kaum dari kalangan Ahli Kitab, bolehkah kami makan dengan bejana mereka?” Beliau menjawab, “Janganlah kamu makan dengannya, kecuali jika kamu tidak mendapati selainnya maka cucilah terlebih dahulu lalu makanlah dengannya”. (Muttafaq ‘alaih)[vii]

25- وَعَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ الْلَّهُ عَنْهُمَا؛ أَنَّ النَّبِيَّ r وَأَصْحَابَهُ تَوَضَّئُوا مِنْ مَزَادَةِ اِمْرَأَةٍ مُشْرِكَةٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ

25. Dari Imran bin Hushshain radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya pernah berwudhu’ dari tempat minum (dari kulit) milik wanita musyrik.” (Muttafaq ‘alaih dalam hadits yang panjang)[viii]

26- وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ t أَنَّ قَدَحَ النَّبِيِّ r اِنْكَسَرَ، فَاتَّخَذَ مَكَانَ الشَّعْبِ سِلْسِلَةً مِنْ فِضَّةٍ. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ

26. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa bejana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pecah, maka Beliau pun mengganti bagian yang pecah dengan sambungan yang terbuat dari perak.” (HR. Bukhari)[ix]

بَابُ إِزَالَةِ اَلنَّجَاسَةِ وَبَيَانِهَا

Bab Menghilangkan Najis dan Penjelasannya

27- عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ t قَالَ: , سُئِلَ رَسُولُ اَللَّهِ r عَنْ اَلْخَمْرِ تُتَّخَذُ خَلًّا? قَالَ: "لَا". -  أَخْرَجَهُ مُسْلِم ٌ

27. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang khamr (arak) dijadikan cuka?” Beliau menjawab, “Tidak boleh.” (Diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi, Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.”)[x]

28-وَعَنْهُ قَالَ: , لَمَّا كَانَ يَوْمُ خَيْبَرَ, أَمَرَ رَسُولُ اَللَّهِ r أَبَا طَلْحَةَ, فَنَادَى: "إِنَّ اَللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُومِ اَلْحُمُرِ]اَلْأَهْلِيَّةِ], فَإِنَّهَا رِجْسٌ" -  مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

28. Darinya (Anas bin Malik) ia berkata: “Ketika hari Khaibar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Thalhah menyeru “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah melarang kalian makan daging keledai negeri, karena ia kotor.” (Muttafaq ‘alaih)[xi]

29- وَعَنْ عَمْرِو بْنِ خَارِجَةَ t قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ اَللَّهِ r بِمِنًى, وَهُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ, وَلُعَابُهَا يَسِيلُ عَلَى كَتِفَيَّ. أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَه ُ

29. Dari ‘Amr bin Khaarijah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah kepada kami di Mina. Ketika itu Beliau berada di atas untanya, dimana air liur untanya mengalir di atas bahuku.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, ia (Tirmidzi) menshahihkannya)[xii]

Wa shallallahu 'alaa Nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Alih Bahasa:

Marwan bin Musa


[i] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (5426) dalam Al Ath’imah, Muslim (2067) . Dalam lafaz Bukhari disebutkan sebagai berikut,

عن عبد الرحمن بن أبي ليلى، قال: إنهم كانوا عند حذيفة، فاستسقى، فسقاه مجوسي، فلما وضع القدح في يده، رماه به، وقال: لولا أني نهيته غير مرة ولا مرتين! -كأنه يقول: لم أفعل هذا- لكني سمعت النبي صلى الله عليه وسلم، يقول: "لا تلبس الحرير ولا الديباج، ولا تشربوا" .. الحديث.

Dari Abdurrahman bin Abi Laila ia berkata, Mereka pernah di dekat Hudzaifah, ia (Hudzaifah) lalu meminta air, lalu diberilah oleh seorang majusi, ketika gelasnya ditaruh di tangannya, ia melemparnya dan berkata, “Kalau saja karena aku dilarang memakainya lebih dari sekali dan dua kali! –sepertinya ia mengatakan “Tentu aku tidak akan melakukannya,”- tetapi aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu memakai sutera tipis maupun tebal, dan janganlah minum…dst.” (Lihat hadits di atas)

Lafaz tersebut adalah lafaz Bukhari, di sana juga ada kata-kataولنا في الآخرة”, kalimat ini tidak ada dalam riwayat Muslim.

[ii] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (5634) dalam Al Asyribah, Muslim (2065) dalam Al Libas waz Ziinah, dan Ibnu Majah (3413) .

[iii] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (366) dalam Al Haidh.

[iv] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (4123) dalam Al Libas, Nasa’i (4241) bab Juluudul maitah, Tirmidzi (1728) dalam Al Libas, Ibnu Majah (3609) dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud (4123) .

Sumair Az Zuhairiy mengatakan, “Al Haafizh rahimahullah keliru mengatakan “dalam riwayat empat orang”, karena Abu Dawud tidak meriwayatkan hadits ini dengan lafaz tersebut, lafaz Abu Dawud adalah sama dengan lafaz Muslim.”

[v] Shahih, hadits Salamah bin Al Muhabbiq diriwayatkan oleh Abu Dawud (4125), Nasa’i (2/191), Daruquthni (hal. 17), Hakim (4/141), juga Ahmad (3/476) dari jalan Qatadah dari Al Hasan dari Jaun bin Qatadah, dari Salamah bin Al Muhabbiq bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam perang Tabuk pernah meminta sebuah air kepada seorang wanita, lalu ia berkata, “Saya tidak memilikinya selain tempat minum dari (kulit bangkai)”, Beliau pun bertanya, “Bukankah kamu telah menyamaknya?” Ia menjawab, “Ya”, maka Beliau bersabda, “Sesungguhnya menyamaknya adalah penyucinya.” Ini lafaz Nasa’i, Abu Dawud meriwayatkan “Dibaaghuhaa thahuuruhaa”, sedangkan Ahmad menambahkan “Aw dzakaatuhaa”. Dan dalam sebuah riwayatnya, “Dzaakaatul adiim dibaaghuhu”, sedangkan lafaz Daruquthni adalah “Dibaaghul adiim dzakaatuhu”, Hakim mengatakan “Shahih isnadnya“ dan disepakati oleh Adz Dzahabiy. Al Albani berkata, “Para perawinya adalah tsiqah; para perawi Bukhari-Muslim selain Jaun bin Qatadah, ia adalah majhul. Ahmad dan yang lain mengatakan “Tidak dikenal”. Namun hadits ini memiliki syahid (penguat) dari hadits Aisyah secara marfu’ dengan lafaz “Dzakaatul maitah dibaaghuhaa”. [Ghaayatul Maraam (26)]. Dan hadits Ibnu Hibban ada dalam Shahihnya dengan no. (2/291) dari Aisyah .

Sumair Az Zuhairiy mengatakan, “Shahih, meskipun Al Haafizh keliru, karena menghubungkan lafaz ini kepada Ibnu Hibban melalui riwayat Ibnul Muhabbiq tidak benar, sebenarnya itu adalah lafaz hadits Aisyah.”

[vi] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (4126) dalam Al Libaas, Nasa’i (4248) bab Maa yudbaghu min juluudil maitah, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud (4126).

[vii] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (5488), Muslim (1930) dalam Ash Shaid .

[viii] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (344) dalam At Tayammum, Muslim (682) dalam Al Masaajid wa mawaadhii’ush shalaah .

Menurut Sumair Az Zuhairiy, tidak ada dalam Bukhari dan Muslim lafaz yang disebutkan oleh Al Hafizh ini.

[ix] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (3109) dalam Fardhul khumus .

[x] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (1983), Tirmidzi (1294) dalam Al Buyuu’ .

[xi] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (5528), Muslim (1940) dalam Ash Shaid wadz dzabaa’ih .

[xii] Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (17211), Tirmidzi (2121) dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi (2121) .

Terjemah Bulughul Maram (2)

Kamis, 28 September 2023

 

بسم الله الرحمن الرحيم



Terjemah Bulughul Maram (2)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Berikut terjemah Bulughul Maram karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan penerjemahan buku ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Dalam menyebutkan takhrijnya, kami banyak merujuk kepada dua kitab; Takhrij dari cetakan Darul ‘Aqidah yang banyak merujuk kepada kitab-kitab karya Syaikh M. Nashiruddin Al Albani rahimahullah, dan Buluughul Maram takhrij Syaikh Sumair Az Zuhairiy –hafizhahullah-.

6- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r  لَا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي اَلْمَاءِ اَلدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ . أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kamu mandi di dalam air yang diam sedangkan dia junub.” (Hr. Muslim)[i]

7-وَلِلْبُخَارِيِّ: لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي اَلْمَاءِ اَلدَّائِمِ اَلَّذِي لَا يَجْرِي, ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ

7. Sedangkan dalam riwayat Bukhari disebutkan, “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kamu buang air kecil di dalam air yang diam yang tidak mengalir, kemudian ia mandi di situ.”[ii]

 -8وَلِمُسْلِمٍ: "مِنْهُ", وَلِأَبِي دَاوُدَ: وَلَا يَغْتَسِلُ فِيهِ مِنْ اَلْجَنَابَةِ

Dan dalam riwayat Muslim lafaznya adalah, “Dari air itu”. Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud lafaznya, “Dan janganlah ia mandi di sana karena junub.”[iii]

9-وَعَنْ رَجُلٍ صَحِبَ اَلنَّبِيَّ r قَالَ: نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ r "أَنْ تَغْتَسِلَ اَلْمَرْأَةُ بِفَضْلِ اَلرَّجُلِ, أَوْ اَلرَّجُلُ بِفَضْلِ اَلْمَرْأَةِ, وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيعًا.  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ. وَالنَّسَائِيُّ, وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ

9. Dari seorang yang telah menjadi sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang wanita mandi dengan bekas sisa laki-laki atau laki-laki mandi dengan bekas sisa wanita, dan hendaknya keduanya menciduk secara bersamaan.” (Hr. Abu Dawud dan Nasa’i, isnadnya shahih)[iv]

10-وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ r كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا. أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

10. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi bekas sisa Maimunah radhiiyallahu ‘anha. (HR. Muslim)[v]

11-وَلِأَصْحَابِ "اَلسُّنَنِ":  اِغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ اَلنَّبِيِّ r فِي جَفْنَةٍ, فَجَاءَ لِيَغْتَسِلَ مِنْهَا, فَقَالَتْ لَهُ: إِنِّي كُنْتُ جُنُبًا, فَقَالَ: "إِنَّ اَلْمَاءَ لَا يَجْنُبُ"   وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ خُزَيْمَةَ

11. Sedangkan dalam riwayat para penyusun kitab Sunan disebutkan, “Sebagian istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dalam sebuah jolang, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk mandi dari jolang itu, maka istrinya berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku junub,” lalu Beliau bersabda, “Sesungguhnya air itu tidak (menjadi) junub”. (Dishahihkan oleh Tirmidzi dan ibnu Khuzaimah)[vi]

12-وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r : طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذْ وَلَغَ فِيهِ اَلْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ, أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ. أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَفِي لَفْظٍ لَهُ: فَلْيُرِقْهُ . وَلِلتِّرْمِذِيِّ: أُخْرَاهُنَّ, أَوْ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ .

12. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sucinya bejana salah seorang di antara kamu apabila dijilati anjing adalah dengan dibasuh sebanyak tujuh kali, basuhan yang pertama (dicampur) dengan tanah.” (Hr. Muslim, dalam sebuah lafaz Muslim disebutkan, “Maka hendaknya ia tumpahkan airnya,” sedangkan dalam riwayat Tirmidzi dengan lafaz “Basuhan yang akhir atau awalnya (dicampur) dengan tanah”)[vii]

13-وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ t أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ r قَالَ -فِي اَلْهِرَّةِ-:  إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ, إِنَّمَا هِيَ مِنْ اَلطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ .  أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ. وَابْنُ خُزَيْمَةَ

13. Dari Abu Qatadah  radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang kucing, “Sesungguhnya ia (kucing) itu tidaklah najis, ia hanyalah biantang yang biasa berkeliling di dekatmu.“ (Hr. Empat Imam Ahli Hadits, dan dishahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)[viii]

14- وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ t قَالَ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ اَلْمَسْجِدِ, فَزَجَرَهُ اَلنَّاسُ, فَنَهَاهُمْ اَلنَّبِيُّ r فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ اَلنَّبِيُّ r بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ; فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

14. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu  ia berkata, “Datang seorang Arab baduwi lalu kencing di pojokan masjid, lalu dibentaklah oleh orang-orang, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melarang mereka (membentaknya), ketika orang baduwi itu selesai kencing, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh diambilkan seember air kemudian dituangkan ke atasnya.” (Muttafaq ‘alaih)[ix]

15-وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اَللَّهِ r : أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ, فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ: فَالْجَرَادُ وَالْحُوتُ, وَأَمَّا الدَّمَانُ: فَالطِّحَالُ وَالْكَبِدُ.   أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَهْ, وَفِيهِ ضَعْفٌ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah dihalalkan untuk kami dua bangkai dan dua buah darah, adapun dua bangkai itu adalah bangkai belalang dan ikan, sedangkan dua darah itu adalah hati dan limpa.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Dalam hadits ini ada kelemahan)[x]

16-وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r , إِذَا وَقَعَ اَلذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ, ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ, فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً, وَفِي اَلْآخَرِ شِفَاءً -  أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ وَأَبُو دَاوُدَ, وَزَادَ: , وَإِنَّهُ يَتَّقِي بِجَنَاحِهِ اَلَّذِي فِيهِ اَلدَّاءُ

Dari Abu  Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila lalat jatuh ke dalam minuman salah seorang di antara kamu maka tenggelamkanlah, kemudian tariklah karena pada salah satu sayapnya ada penyakit, sedangkan pada sayap yang lain ada obatnya.” (Hr. Bukhari dan Abu Dawud, ia (Abu Dawud) menambahkan “Sesungguhnya ia (lalat) menjaga dirinya dengan sayap yang di sana terdapat penyakit.”)[xi]

17-وَعَنْ أَبِي وَاقِدٍ اَللَّيْثِيِّ t قَالَ: قَالَ اَلنَّبِيُّ r : مَا قُطِعَ مِنْ اَلْبَهِيمَةِ -وَهِيَ حَيَّةٌ- فَهُوَ مَيِّتٌ . أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ, وَاللَّفْظُ لَهُ

Dari Abu Waqid Al Laitsi radhiyallahu’anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagian mana saja yang dipotong dari binatang yang hidup, maka bagian itu adalah bangkai.” (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia pun menghasankan, lafaz ini adalah lafaz Tirmidzi)[xii]

Wa shallallahu 'alaa Nabiyyinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Alih Bahasa:

Marwan bin Musa


[i] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (283) dalam Ath Thaharah, Nasa’i (220, 321, 396), Ibnu Majah (605).

[ii] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (239) dalam Al Wudhuu’.

[iii] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (282) dalam Ath Thaharah, Abu Dawud (70) dalam Ath Thaharah.

[iv] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (81) dalam Ath Thaharah, Nasa’i (238) dalam Ath Thaharah dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud (81).

Catatan:

a.     Mubhamnya (tidak diketahui nama) sahabat yang meriwayatkan tidaklah berpengaruh apa-apa bagi hadits ini, karena para sahabat semuanya adalah adil.

b.     Al Hafizh dalam Al Fat-h (1/300) berkata, "Para perawinya tsiqah, dan saya tidak mengetahui adanya hujjah yang kuat bagi orang yang mencacatkannya."

[v] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (323) dalam Al Haidh.

[vi] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (68) dalam Ath Thaharah, Tirmidzi (65), Ibnu Majah (370) dalam Ath Thaharah, Ibnu Khuzaimah (1/58) no. (84) dengan lafaz, “Al Maa’u laa yunajjisuhuu syaii’,” dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud (68).

Sumair Az Zuhairiy berkata, “Demikianlah hadits tersebut, meskipun melalui riwayat Samaak dari Ikrimah, dimana riwayat tersebut ma’lul (cacat).” Ia melanjutkan, “Catatan: Al Haafizh keliru menghubungkan hadits tersebut kepada para pemilik kitab Sunan, karena Nasa’i tidak meriwayatkannya, demikian juga (keliru) karena penshahihan Ibnu Khuzaimah terhadap selain lafaz ini.”

Dalam At Talkhish (1/15) Al Hafizh berkata, "Sebagian orang mencacatkan hadits ini karena Samaak bin Harb, dimana ia adalah seorang yang menerima talqin (pengajaran), akan tetapi Syu'bah meriwayatkan darinya, sedangkan Syu'bah tidaklah membawa hadits dari guru-gurunya selain hadits yang sahih saja."

[vii] Shahih, diriwayatkan oleh Muslim (279) dalam Ath Thaharah dari jalan Hisyam bin Hisan dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah, Tirmidzi (91). Lafaz “Falyuriqhu” ada pada Muslim (279) dari jalan Al A’masys dari Abu Razin dan Abu Shalih dari Abu Hurairah, juga diriwayatkan oleh Al A’masy dengan isnad ini yang sama seperti itu, namun tidak ada kata-kataفَلْيُرِقْهُ.” .

[viii] Hasan shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (75) dalam Ath Thaharah, Tirmidzi (92) dalam Ath Thaharah, Nasa’i (68) dalam Ath Thahahah, Ibnu Majah (367) dalam Ath Thaharah, Malik dalam Al Muwaththa’ (44) dalam Ath Thaharah, Ibnu Khuzaimah (1/55) no. 104, Al Albani berkata dalam Shahih Abu Dawud (75) “Hasan shahih” .

Lengkap hadits ini dari jalan Kabsyah binti Malik –ia adalah istri putera Abu Qatadah-,

أن أبا قتادة دخل عليها، فسكبت له وضوءا. قالت: فجاءت هرة تشرب، فأصغى لها الإناء حتى شربت، قالت كبشة: فرآني أنظر إليه! فقال: أتعجبين يا بنت أخي؟ فقلت: نعم . قال: إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:... فذكره.

Bahwa Abu Qatadah pernah masuk menemuinya, Kabsyah berkata, “Lalu aku menuangkan kepadanya air wudhu, kemudian datang seekor kucing hendak meminum airnya, lalu Abu Qatadah memiringkan (tempat air wudhu’) sehingga kucing itu bisa meminumnya, kemudian Kabsyah berkata, “Abu Qatadah lalu melihatku karena aku memperhatikannya, ia berkata, “Apa kamu heran, wahai puteri saudaraku?” Aku menjawab, “Ya”, ia pun berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,…dst. (lihat hadits di atas).

[ix] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (221) dalam Al Wudhuu’, Muslim (284) dalam Ath Thaharah .

[x] Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al Musnad (5690), Ibnu Majah (3314) dalam Al Ath’imah, Al Albani mengatakan, “Shahih, lihat Ash Shahiihah (1118).”

Catatan:

Hadits ini secara mauquf adalah shahih. Adapun secara marfu’, maka terdapat kelemahan karena melalui riwayat Abdurrahman dan dua saudaranya, yaitu dua putera Zaid bin Aslam, dari ayah mereka, dari Ibnu Umar, dan telah didhaifkan oleh Ibnu Ma’in.

Abu Zur’ah dan Abu Hatim menyatakan, bahwa hadits ini mauquf. Dan dishahihkan mauqufnya oleh Daruquthni, Hakim, Baihaqi, da Ibnul Qayyim.

Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini dihukumi marfu’, karena pernyataan seorang sahabat, “Telah dihalalkan bagi kami ini dan itu” atau “Telah diharamkan bagi kami ini dan itu” sama seperti pernyataan, “Telah diperintahkan kepada kami ini dan itu” atau “Telah dilarang bagi kami ini dan itu,” sehingga bisa berdalih dengan riwayat ini, karena mengandung hukum marfu’.”

[xi] Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (3320) dalam Bad’ul khalq, Abu Dawud (3844) dalam Al Ath’imah dengan tambahan darinya .

Dalam TSZ (Takhrij Sumair Az Zuhairiy)  disebutkan tentang tambahan Abu Dawud ini, “Isnadnya hasan.”

[xii] Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (2858), Tirmidzi (1480), Ahmad (21396) dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud.

Lengkap hadits tersebut adalah,

عن أبي واقد الليثي قال: قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة، والناس يجبون أسنمة الإبل، ويقطعون أليات الغنم، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:.... فذكر الحديث

Dari Abu Waaqid Al Laitsiy ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, saat itu orang-orang memotong punuk-punuk unta serta memotong ekor-ekor kambing, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:…dst. (lihat hadits di atas).”

 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger