Makna Beriman Kepada Allah

Selasa, 18 Oktober 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Makna Beriman Kepada Allah

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أما بعد: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam dan nikmat Taufiq sehingga dengan nikmat itu kita dapat melangkahkan kaki kita menuju rumah-Nya melaksanakan salah satu perintah-Nya yaitu shalat Jumat berjamaah.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan  di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Alhamdulillah dari sejak kecil kita diajarkan tentang pokok akidah Islam yaitu rukun iman yang enam yang terdiri dari beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Kiamat, dan beriman kepada qadar yang baik dan yang buruk.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya malaikat Jibril tentang iman, maka Beliau bersabda,

اْلِإيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاْليَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Iman itu engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan engkau beriman kepada qadar yang baik dan yang buruk.” (Hr. Muslim dari Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu)

Di antara rukun iman tersebut yang pertama dan yang paling agungnya adalah beriman kepada Allah Azza wa Jalla, dimana rukun-rukun yang lain mengikutinya.

Namun kebanyakan dari kita tidak mengetahui lebih lanjut kandungan beriman kepada Allah Azza wa Jalla, dalam arti mengetahui apa saja yang harus diimani dalam beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka pada kesempatan khutbah Jumat kali ini, khatib ingin menyampaikan kandungan beriman kepada Allah Azza wa Jalla.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Dalam beriman kepada Allah Azza wa Jalla, kita harus meyakini hal-hal di berikut ini:

Pertama, beriman kepada wujud Allah.

Adanya Allah Azza wa Jalla didukung oleh dalil naqli dan aqli (akal yang sehat).

Disebutkannya nama Allah Azza wa Jalla dalam semua kitab samawi seperti Taurat, Zabur, Injil, dan Al Qur’an menunjukkan adanya Allah Azza wa Jalla. Di samping itu, kitab-kitab tesebut adalah firman Allah Azza wa Jalla dan tidak mungkin ada firman atau ucapan tanpa ada yang berfirman atau yang mengucapkan.

Adanya makhluk (yang diciptakan) juga menunjukkan adanya Khaliq (yang menciptakan), sebagaimana adanya tulisan menunjukkan ada yang menulis, adanya yang dipukul menunjukkan adanya yang memukul. Ini adalah hal yang wajib dibenarkan secara akal.

Makhluk-makhluk yang kita lihat seperti langit, bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, lautan, pepohonan, manusia dan hewan, serta pemandangan yang kita saksikan dengan keadaannya yang indah dan rapi menunjukkan adanya Penciptanya dan menunjukkan kebijaksanaan-Nya. Akal yang sehat menolak, bahwa semua itu terwujud secara tiba-tiba, sebagaimana akal juga menolak ketika ada informasi yang disampaikan kepadanya bahwa ada pesawat jadi sendiri secara tiba-tiba, mobil jadi sendiri secara tiba-tiba, motor jadi sendiri secara tiba-tiba, laptop jadi sendiri secara tiba-tiba, hanphone jadi sendiri secara tiba-tiba dan barang-barang di sekitar kita lainnya. Pasti semua itu ada yang membuatnya. Bahkan jika ada yang berkata kepada kita bahwa dia melihat kapal jadi sendiri secara tiba-tiba, maka kita akan mengingkarinya dan mengatakan orang tersebut sudah gila. Demikianlah keadaan orang-orang atheis dan komunis, dimana mereka sejatinya adalah orang-orang yang tidak mau menggunakan akal sehatnya.

Jika seorang berkata, “Saya yakin bahwa langit, bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, dan sebagainya terwujud secara tiba-tiba karena saya tidak melihat proses penciptaannya dan sudah ada ketika saya lahir ke dunia.”

Kita jawab, “Lalu bagaimana dengan pesawat, mobil, motor, laptop, hanphone, kipas angin, dan sebagainya apakah bisa kita katakan itu semua terwujud secara tiba-tiba hanya karena kita tidak melihat proses pembuatannya?!” Tidak mesti ketika kita tidak melihat proses pembuatannya lalu kita katakan itu semua terwujud secara tiba-tiba. Begitu pula langit, bumi, matahari, bulan, bintang, gunung-gunung dan sebagainya, tidak bisa dijadikan alasan karena kita tidak melihat proses penciptaannya lalu kita katakan bahwa itu semua terwujud secara tiba-tiba. Hal ini jelas bertentangan dengan akal yang sehat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Dalam beriman kepada Allah Azza wa Jalla, di samping kita mengimani adanya Allah Azza wa Jalla, demikian juga kita mengimani hal berikut:

Kedua, beriman kepada rububiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maksud beriman kepada rububiyyah Allah Azza wa Jalla adalah beriman bahwa Allah adalah Pencipta, Penguasa, Pengatur alam semesta serta Pemberi rezekinya. Oleh karena itu, tidak ada Pencipta, Penguasa, Pengatur alam semesta selain Dia saja; tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (Qs. Al Fatihah: 2)

Dengan demikian, sangat batil apa yang diyakini oleh sebagian orang tentang adanya dewa-dewa, adanya penguasa pantai ini dan itu, dan sebagainya, semua itu batil dan dusta, dan dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka.” (Qs. An Najm: 23)

Bahkan mempercayainya sama saja tidak beriman kepada rububiyyah Allah Azza wa Jalla dan merupakan syirik akbar yang mengeluarkan dari Islam. 

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Demikian pula termasuk beriman kepada Allah Azza wa Jalla adalah beriman kepada hal berikut:

Ketiga, beriman kepada uluhiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maksudnya adalah kita beriman hanya Allah saja yang berhak disembah dan ditujukan berbagai macam ibadah, dan bahwa selain Allah tidak berhak disembah dan ditujukan ibadah. Hal itu adalah karena Allah Rabbul alamin (Pencipta, Penguasa, dan Pengatur alam semesta), maka hanya Dia yang berhak disembah. Di samping itu, selain Allah adalah makhluk ciptaan-Nya, maka tidak pantas bagi makhluk menyembah makhluk, bahkan yang pantas disembah adalah Penciptanya yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika Dialah yang kamu hendak sembah.” (Qs. Fushshilat: 37)

Oleh karena itu, matahari, bulan, bintang, jin, malaikat, manusia, rasul dan wali tidak berhak disembah dan ditujukan ibadah. Apalagi hewan, patung, dan berhala yang keadaannya lebih lemah daripada kita. Allah Azza wa Jalla berfirman tentang patung-patung dan berhala-berhala yang disembah oleh sebagian manusia,

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ -- أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا

“Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.--Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar?” (Qs. Al A’raaf: 194-195)

Oleh karena itu, doa kita, permohonan kita, pengharapan kita, tawakkal kita, kurban kita, ruku dan sujud kita, serta ibadah-ibadah lainnya hanya kita tujukan kepada Allah Azza wa Jalla.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ الرَّبِّ الْعَظِيْمِ، الرَّؤُوْفِ الرَّحِيْمِ، ذِي الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ، وَالْإِحْسَانِ الْعَمِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْكَرِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي قَالَ اللهُ فِيْهِ: {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ} [القلم: 4] اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ فِي هَدْيِهِمُ الْقَوِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Setelah kita mengetahui bagian yang dicakup dalam beriman kepada Allah Azza wa Jalla, selanjutnya yang termasuk beriman kepada Allah Azza wa Jalla juga adalah beriman kepada hal berikut:

Keempat, beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-Nya.

Maksudnya adalah kita mengimani bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat yang telah ditetapkan Allah dalam Al Qur’an dan Rasul-Nya dalam As Sunnah. Dalam mengimaninya, kita tidak boleh melakukan tamtsil (menyamakan dengan sifat makhluk), takyif (menanyakan “Bagaimana hakikat sifat Allah?”),  ta’thil (meniadakan) dan ta’wil (mengartikan lain, seperti mengartikan “Tangan” diartikan dengan “Kekuasaan”dan mengartikan ‘bersemayam’ dengan menguasai).

Bahkan kita mengimaninya apa adanya tanpa melakukan hal-hal tadi. Allah Azza wa Jalla berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (Qs. AsySyuuraa: 11)

Inilah akidah Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana yang dinukil oleh Abul Hasan Al Asy’ariy dalam kitabnya ’Al Maqalat ’an Ashabil Hadit wa Ahlissunnah’.

Al Walid bin Muslim rahimahullah berkata, ”Imam Malik, Auza’i, Laits bin Sa’ad, dan Sufyan Ats Tsauriy pernah ditanya tentang hadits-hadits yang menyebutkan sifat-sifat Allah, maka mereka berkata, ”Sebutkanlah apa adanya tanpa perlu menanyakan kaifa (bagaimana hakikatnya).”

Imam Al Auza’iy rahimahullah berkata, ”Kami bersama semua para tabiin menyatakan, ”Sesungguhnya Allah di atas Arsyi-Nya dan beriman kepada semua sifat Allah yang disebutkan dalam As Sunnah.”

Rabi’ah bin Abu Abdirrahman guru Imam Malik pernah ditanya tentang sifat istiwa (bersemayam) bagi Allah Azza wa Jalla, ”Istiwa itu jelas (maknanya), bagaimana kakikatnya tidak dapat difikirkan, dari Allah risalah berasal, dan kewajiban rasul adalah menyampaikan dengan jelas, sedangkan kewajiban kita adalah membenarkan.”

Imam Malik rahimmahullah berkata, “Istiwa itu jelas, bagaimananya tidak diketahui, beriman kepadanya wajib, sedangkan menanyakannya adalah bid’ah.”

Inilah yang bisa khatib sampaikan, semoga Allah membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya dan memberikan kita istiqamah di atasnya sampai kita berjumpa dengan-Nya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Khutbah Jumat: Huru-Hara di Alam Kubur

Minggu, 02 Oktober 2022

 بسم الله الرحمن الرحيم



Khutbah Jum'at

Huru-Hara di Alam Kubur

Oleh: Marwan Hadidi, M.Pd.I

Khutbah I

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا --يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فقَدْ فَازَ فوْزًا عَظِيمًا.

 أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاثُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Pertama-tama kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kepada kita berbagai nikmat, terutama nikmat Islam dan nikmat taufiq sehingga kita dapat melangkahkan kaki kita menuju rumah-Nya melaksanakan salah satu perintah-Nya yaitu shalat Jumat berjamaah.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya hingga hari Kiamat.

Khatib berwasiat baik kepada diri khatib sendiri maupun kepada para jamaah sekalian; marilah kita tingkatkan terus takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, karena orang-orang yang bertakwalah yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100)

“Sehingga apabila datang kematian kepada seseorang di antara mereka, ia berkata, "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia)--- Agar aku berbuat amal yang saleh yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja, dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (Qs. Al Mu’minun: 99-100)

Ya, setelah seseorang meninggal dunia, dia akan memasuki sebuah alam yang menjadi dinding atau pembatas antara dunia dan akhirat. Itulah alam barzakh atau alam kubur.

Di alam itu seseorang tidak bisa lagi kembali ke dunia dan ia akan terus menunggu tibanya hari Kiamat.

 

Di alam itu banyak orang yang menyesal sehingga ingin kembali ke dunia memperbaiki amalnya sebagaimana dalam ayat yang telah khatib sebutkan tadi.

Di alam itu ada orang yang mendapatkan nikmat dan ada orang yang mendapatkan azab sesuai dengan amal yang dikerjakannya di dunia.

Di alam itu, seseorang hanya membawa amal, adapun keluarga dan hartanya akan ditinggalkan. Rasulullah shallalllahu 'alaihi wa sallam bersabda,

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى - قَالَ - وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

“Anak Adam akan berkata, “Hartaku, hartaku”, lalu dikatakan, “Wahai anak Adam! Bukankah harta yang kamu miliki itu sudah kamu makan lalu habis atau kamu pakai lalu usang, dan yang kamu sedekahkan, itulah yang kamu bawa.” (Hr. Muslim)

Di alam itu penuh dengan peristiwa dahsyat dan mengerikan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ مَنْظَراً إِلاَّ وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ

“Aku belum pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada kubur.” (Hr. Ahmad dan Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)

Beliau juga bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ، لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ بَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا، أَيُّهَا النَّاسُ، اسْتَعِيذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، فَإِنَّ عَذَابَ الْقَبْرِ حَقٌّ "

“Wahai manusia! Jika kamu mengetahui seperti yang aku ketahui, tentu kamu akan banyak menangis dan sedikit tertawa. Wahai manusia! Berlindunglah dari azab kubur, karena azab kubur adalah hak (benar).” (Hr. Ahmad, dan dinyatakan isnadnya shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim oleh pentahqiq Musnad Ahmad cet. Ar Risalah)

Oleh karenanya, Utsman bin ‘Affan radhiyallahu 'anhu ketika berdiri di sisi sebuah kubur, ia menangis sampai air matanya membasahi janggutnya. Lalu ada yang bertanya, “Mengapa ketika engkau mengingat surga dan neraka tidak menangis, tetapi ketika mengingat hal ini (kubur) engkau menangis?” Utsman menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,

اَلْقَبْرُ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، فَإِنْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ

“Kubur adalah tempat persinggahan pertama kampung akhirat. Jika selamat di tempat itu, maka setelahnya akan lebih mudah. Namun jika tidak selamat di tempat itu, maka setelahnya akan lebih sulit.”  (Hr. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani)

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Tahukah kita apa yang akan terjadi setelah kita meninggal dunia dan ketika kita berada di kubur?

Berikut khatib sebutkan sebuah hadits yang menyebutkan tentang keadaan yang akan dialami seseorang ketika akan meninggal dunia dan ketika telah berada di kubur –semoga Allah melindungi kita dari malapetakanya-:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

«اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ»

“Berlindunglah kepada Allah dari azab kubur.” Beliau mengucapkannya sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ، نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ، كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الشَّمْسُ، مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ، وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ، حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ ". قَالَ: " فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ، فَيَأْخُذُهَا، فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا، فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ، وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ، وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ " قَالَ: " فَيَصْعَدُونَ بِهَا، فَلَا يَمُرُّونَ، يَعْنِي بِهَا، عَلَى مَلَإٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، إِلَّا قَالُوا: مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ؟ فَيَقُولُونَ: فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ، بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانُوا يُسَمُّونَهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا، حَتَّى يَنْتَهُوا بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَسْتَفْتِحُونَ لَهُ، فَيُفْتَحُ لَهُمْ فَيُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي تَلِيهَا، حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِي فِي عِلِّيِّينَ، وَأَعِيدُوهُ إِلَى الْأَرْضِ، فَإِنِّي مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ، وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ، وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى ". قَالَ: " فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ، فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ، فَيُجْلِسَانِهِ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللهُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَقُولَانِ لَهُ: وَمَا عِلْمُكَ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللهِ، فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ، فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي  السَّمَاءِ: أَنْ صَدَقَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ ". قَالَ: " فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا، وَطِيبِهَا، وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ ". قَالَ: " وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ، حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ، فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ  بِالْخَيْرِ، فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ، فَيَقُولُ: رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي، وَمَالِي ". قَالَ: " وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ، نَزَلَ إِلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ، مَعَهُمُ الْمُسُوحُ، فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ، حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ، اخْرُجِي إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللهِ وَغَضَبٍ ". قَالَ: " فَتُفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ، فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ، فَيَأْخُذُهَا، فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِي تِلْكَ الْمُسُوحِ، وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ، فَيَصْعَدُونَ بِهَا، فَلَا يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلَأٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، إِلَّا قَالُوا: مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ؟ فَيَقُولُونَ: فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانَ يُسَمَّى بِهَا فِي الدُّنْيَا، حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيُسْتَفْتَحُ لَهُ، فَلَا يُفْتَحُ لَهُ "، ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ} [الأعراف: 40] فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: " اكْتُبُوا كِتَابَهُ فِي سِجِّينٍ فِي الْأَرْضِ السُّفْلَى، فَتُطْرَحُ رُوحُهُ طَرْحًا ". ثُمَّ قَرَأَ: {وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ، فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ} [الحج: 31] " فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ، وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ، فَيُجْلِسَانِهِ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي، فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ، فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ، فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا، وَسَمُومِهَا، وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ، وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ، قَبِيحُ الثِّيَابِ، مُنْتِنُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ، فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ، فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ، فَيَقُولُ: رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ "

“Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin ketika berpisah dengan dunia menuju akhirat, maka malaikat dari langit akan turun mendatanginya dengan wajah yang putih bagaikan matahari, sambil membawa kain kafan dari kain kafan surga dan pengawet dari surga. Lalu para malaikat duduk di tempat yang jauh darinya sejauh jarak pandangan mata. Kemudian malaikat maut ‘alaihis salam mendekat dan duduk di dekat kepalanya sambil berkata, “Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju

 ampunan Allah dan keridhaan-Nya.” Maka keluarlah ruhnya dengan lembut seperti keluarnya tetesan air dari mulut tempat minum. Malaikat maut pun langsung memegangnya. Setelah dipegangnya, maka malaikat yang lain langsung memegangnya tanpa membiarkannya sekejap mata pun. Lalu mereka memasukkannya ke dalam kafan dan (diberikan) pengawet tersebut. Maka keluarlah aroma yang sangat wangi seperti kesturi yang paling wangi yang ada di muka bumi. Mereka semua mengangkatnya. Tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat kecuali sekumpulan malaikat itu bertanya, “Ruh siapakah yang wangi ini?” Para malaikat yang membawanya berkata, “Ruh si fulan bin fulan,” dengan menyebut nama yang paling indah yang biasa dipanggil di dunia. Ketika sampai ke langit dunia, para malaikat yang membawanya meminta dibukakan (pintu langit) untuknya, lalu dibukakan. Kemudian diikuti oleh para pengiringnya dari setiap langit menuju langit berikutnya, sehingga sampai ke langit ketujuh. Allah ‘Azza wa Jalla pun berfirman, “Tulislah kitab (catatan amal) hamba-Ku di ‘Illiyyiin (tempat tertinggi) dan kembalikanlah ia ke bumi, karena daripadanya Aku menciptakan, kepadanya Aku mengembalikan dan pada waktu yang lain akan Aku keluarkan darinya.” Maka ruhnya dikembalikan ke jasad, kemudian dua malaikat mendatanginya lalu mendudukkannya dan berkata, ‘Siapa Tuhanmu?’ Ia menjawab, “Tuhanku Allah”, lalu ditanya lagi, “Apa agamamu?’ Ia menjawab, “Agamaku Islam”, kemudian ditanya lagi, “Siapakah orang yang diutus kepadamu ini?” ia menjawab, “Dia adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam”, lalu ditanya lagi, “Dari mana kamu tahu?’ ia menjawab, “Aku membaca kitab Allah, lalu aku mengimani dan membenarkannya.” Maka terdengarlah suara dari langit yang isinya,  “Benarlah hamba-Ku, bentangkanlah permadani dari surga dan berikan pakaian dari surga serta bukakanlah pintu ke surge!’” Maka dirasakanlah olehnya angin surga dan wanginya, kuburannya pun diluaskan sejauh pandangan mata lalu datanglah seorang laki-laki yang rupawan, pakaiannya indah dan tercium wangi sambil berkata, “Bergembiralah dengan sesuatu yang menyenangkanmu. Ini adalah hari yang dijanjikan untukmu”. Lalu ia bertanya kepadanya “Siapa kamu? Wajahmu sepertinya wajah orang yang membawa kebaikan.” laki-laki itu menjawab “Aku adalah amalmu yang salih,” ia pun berkata, “Ya Rabbi, tegakkanlah hari Kiamat agar aku bisa pulang menemui keluargaku dan hartaku.”

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya, “Dan sesungguhnya seorang hamba yang kafir ketika telah berpisah dengan dunia menuju akhirat, maka para malaikat dari langit akan turun menemuinya dengan wajah hitam membawa kain kafan yang kasar. Para malaikat itu duduk di tempat yang jauh darinya sejauh pandangan mata. Kemudian malaikat maut datang dan duduk di dekat kepalanya sambil berkata,  “Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya”, ruhnya pun terpencar dalam jasad, lalu malaikat maut menarik ruhnya seperti ditariknya besi yang bercabang dari bulu yang basah. Dipeganglah ruhnya, Setelah dipegangnya, maka malaikat yang lain langsung memegangnya tanpa membiarkannya sekejap mata pun. Lalu Mereka memasukkannya ke dalam kafan yang kasar itu. Maka terciumlah bau seperti bau bangkai yang paling busuk yang ada di muka bumi. Kemudian mereka semua mengangkatnya. Dan tidaklah mereka (para malaikat) melewati sekumpulan malaikat, kecuali sekumpulan malaikat itu bertanya, “Ruh siapakah yang bau ini?” Para malaikat yang membawanya menjawab, “Ruh fulan bin fulan,” dengan menyebut nama yang paling jelek yang biasa dipanggil di dunia. Sehingga ketika sampai di langit dunia, para malaikat yang membawanya meminta dibukakan (pintu langit) untuknya, lalu tidak dibukakan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun membacakan ayat,

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

“Pintu-pintu langit sama sekali tidak akan dibukakan untuk mereka dan mereka tidak akan masuk surga sampai unta bisa masuk ke lubang jarum.”(Qs. Al A’raaf : 40)

Allah Azza wa Jalla kemudian berfirman, “Tulislah kitab hamba-Ku dalam Sijiin (tempat paling bawah)," maka dilemparlah ruhnya dengan keras, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun membacakan ayat,

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ، فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Dan barang siapa yang menyekutukan Allah maka seakan-akan ia terjatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” (Qs. Al Hajj: 31)

Maka ruhnya dikembalikan ke dalam jasad. Dua malaikat pun mendatanginya dan mendudukkannya sambil berkata kepadanya, “Siapa Tuhanmu?” Ia menjawab,  “Hah…, hah.., saya tidak tahu”, lalu bertanya, “Apa agamamu?” Ia menjawab, “Hah…,hah.., saya tidak tahu”, dan bertanya, “Siapakah orang yang diutus kepadamu ini?” ia menjawab, “Hah…, hah.., saya tidak tahu”. Kemudian terdengarlah suara dari langit yang isinya, “Dustalah ia, berikanlah permadani dari neraka dan bukakanlah pintu ke neraka’, maka dirasakannya panas dan angin neraka yang panas, kuburannya pun menyempit sampai tulang rusuknya bertabrakan. Kemudian datanglah seorang laki-laki yang buruk rupanya, pakaiannya jelek dan berbau busuk, lalu berkata,  “Bergembiralah dengan sesuatu yang membuatmu sedih! ini adalah hari yang telah diancamkan kepadamu”, ia pun bertanya, “Siapa kamu? Wajahmu adalah wajah orang yang datang membawa keburukan”, laki-laki itu menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk’, maka ia berkata, “Rabbi janganlah disegerakan hari kiamat.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Pentahqiq Musnad Ahmad berkata, "Isnadnya shahih. Para perawinya adalah para perawi kitab shahih.")

Dalam riwayat Abu Dawud ada tambahannya:

«ثُمَّ يُقَيَّضُ لَهُ أَعْمَى أَبْكَمُ مَعَهُ مِرْزَبَّةٌ مِنْ حَدِيدٍ لَوْ ضُرِبَ بِهَا جَبَلٌ لَصَارَ تُرَابًا» قَالَ: «فَيَضْرِبُهُ بِهَا ضَرْبَةً يَسْمَعُهَا مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ فَيَصِيرُ تُرَابًا» قَالَ: «ثُمَّ تُعَادُ فِيهِ الرُّوحُ»

“Kemudian dijadikan matanya buta, telinganya tuli dan mulutnya bisu. Di tangannya ditaruh palu besi, jika seandainya gunung dipukul dengannya niscaya akan menjadi tanah. Maka ia pun memukul (dirinya) sekali pukul (dan ia berteriak) yang terdengar oleh sesuatu yang berada di timur dan barat selain jin dan manusia, maka tubuhnya hancur menjadi tanah, kemudian ruhnya dikembalikan lagi.”

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ  لِيْ وَلَكُمْ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ الْقَوِيِّ الْمَتِيْنِ، الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، فَإِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَإِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

Ma'asyiral muslimin sidang shalat Jum'at rahimakumullah

Setelah kita mengetahui perstiwa yang akan terjadi setelah kita mati dan mengetahui apa yang terjadi di dalam kubur, maka bagaimanakah cara agar selamat dari azab kubur. Tentu jawabnya adalah istiqamah di atas Islam dan tauhid sampai akhir hayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami adalah Allah," kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih;” dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (Qs. Fushshilat: 30)

Mereka yang teguh di atas tauhid, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan teguhkan mereka di dunia dan di akhirat sebagaimana firman-Nya,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu (Laailaahaillallah) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim serta berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim: 27)

Abul Laits As Samarqandiy seorang Ahli Fiqh berkata, “Tatsbit (pemberian keteguhan di akhirat) bagi seorang mukmin yang ikhlas dan taat kepada Allah Ta’ala itu ada pada tiga hal:

Pertama, Ketika melihat langsung malaikat maut.

Kedua, Ketika ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir.

Ketiga, Ketika ditanya pada saat hisab di hari kiamat.

Adapun tatsbit ketika melihat langsung malaikat maut, ini pun terbagi tiga:

1.   Dijaga dari kekufuran dan diberi taufiq untuk istiqamah di atas tauhid, sehingga ruhnya keluar di atas Islam.

2.   Diberi kabar gembira oleh malaikat rahmat.

3.   Dilihat tempatnya di surga.

Sedangkan tatsbit ketika di kubur, ini pun terbagi tiga:

1. Allah mengajarkan jawaban yang benar, sehinggga dapat menjawab (pertanyaan) dua malaikat sesuai yang diridhai Allah.

2. Dihilangkan rasa takut, khawatir dan kaget.

3. Dilihat tempatnya di surga, sehingga kuburnya menjadi salah satu taman surga.

Sedangkan tatsbit ketika dihisab, juga terbagi menjadi tiga:

1.  Diajarkan hujjah (alasan) untuk menjawab pertanyaan.

2.  Dimudahkan hisabnya.

3.  Diampuni ketergelinciran dan dosa-dosanya.

Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya dan memberikan kita taufiq untuk menempuhnya, aamin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ -- وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ – وَ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I
 

ENSIKLOPEDI ISLAM Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger